Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Wahyu Wijayanti;1402408260 Oktober 19, 2008

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 3:52 pm

Nama : Wahyu Wijayanti

NIM : 1402408260

BAB III

OBJEK LINGUISTIK : BAHASA

1. Pengertian Bahasa

Menurut seperti Sapir (1221:8). Badudu (1989:3), dan Keraf (1984:16) definisi bahasa menonjolkan segi fungsinya. Definisi bahasa yang tetapi menonjolkan fungsi tetapi menonjolkan “sosok” bahasa dikemukakan oleh Kridalaksana (1983, dan juga dalam Djoko Kentjono 1982): “Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri”. Definisi tersebut sejalan dengan definisi dari Barber (1964:21), Wardhaugh (1977:3), Trager (1949:18), de Saussure (196b:ib), dan Bolinger (1975:15).

2. Hakikat Bahasa

Definisi bahasa dari beberapa pakar, jika dibutiri akan didapatkan beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa antara lain

v Bahasa Sebagai Sistem

Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan lainnya berhubunga secara fungsional.

Sebagai sistem, bahasa sekaligus bersifat sitematis dan sistemis.

§ Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak, secara sembarangan.

§ Sistemis artiya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-subsistem; atau sistem bahawan.

Subsistem bahasa tersusun secarea hierarkial artinya subsistem yang satu terletak di bawah subsistem yang lain; lalu subsistem yang lain terletak pula dibawah susbsistem lainnya lagi.

v Bahasa Sebagai Lambang

Lambang dikaji di dalam kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa. Dalam semiotika atau semiologi (di Amerika ditokohi oleh Charles Sanders Peirce dan di Eropa oleh Fendinand de Saussure) dibedakan adanya beberapa jenis tanda, yaitu, antara lain tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon.

Lambang sering disebut sering disebut bersifat arbitrer adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya.

§ Gerak isyarat atau gesture adalah tanda yang dilakukan dengan gerakan anggota badan, dan tidak bersifat imperatif seperti pada sinyal.

§ Gejala atau symptom adalah suatu tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan tanpa maksud, tetapi alamiah untuk menunjukkan atau mengungkapkan bahwa sesuatu akan terjadi

§ Ikon adalah tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripannya dengan sesuatu yang diwakili. Karena itu, ikon sering juga disebut gambar dari wujud yang diwakilinya.

§ Sinyal atau isyarat adalah tanda yang disengaja yang dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu. Jadi, sinyal ini dapat dikatakan bersifat imperatif.

§ Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukkan adanya api.

§ Ciri kode sebagai tanda adalah adanya sistem, baik yang berupa simbol, sinyal, maupun gerak isyarat yang dapat mewakili pikiran, perasaan, ide, benda, dan tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu. Bahasa adalah suatu sistem lambang dalam wujud bunyi-bahasa, bukan dalam wujud yang lain.

v Bahasa Adalah Bunyi

Kridalaksana (1983:27) bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena per­ubahan-perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa atau bunyi ujaran (speech sound) adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam fonemik sebagai “fonem”.

v Bahasa Itu Bermakna

Makna yang berkenaan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal. Makna yang berkenaan dengan frase. klausa, dan kalimat disebut makna gramatikal. Makna yang berkenaan dengan wacana disebut makna pragmatik (makna konteks).

Bahasa yang bermakna di dalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Semua satuan itu memiliki makna, dan memiliki perbedaan tingkatan yang telah diuraikan diatas.

v Bahasa Itu Arbitrer

Istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

Perbedaan Significant (Inggris : Signifier) dan signifie (Inggris : signified) menurut Ferdinand de Saussure (1966:67) dalam dikotominya adalah :

§ Signifiant adalah lambang bunyi itu. Dalam istilah bahasa adalah penanda untuk lambang bunyi.

§ signifie adalah konsep yang dikandung oleh signifiant. Dalam istilah bahasa Indonesia adalah istilah pertanda untuk konsep yang dikandungnya, atau diwakili oleh pananda tersebut.

Hubungan antara significant dengan signifie itulah yang disebut bersifat arbitrer, sewenang-wenang, atau tidak ada hubungan wajib diantara keduanya.

v Bahasa Itu Konvensional

Penggunaan lambang suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

v Bahasa Itu Produktif

Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif adalah “banyak hasilnya”, atau lebih tepat “terus-menerus menghasilkan”.

Bahasa dikatakan maksudnya, meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

Keproduktifan yang berlaku dalam bahasa itu.

§ Keterbatasan pada tingkat parole adalah pada ketidaklaziman atau kebelumlaziman bentuk­-bentuk yang dihasilkan.

§ Keterbatasan pada tingkat langue dibatasi karena kaidah atau sistem yang berlaku.

v Bahasa Itu Unik

Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Bahasa dikatakan bersifat unik, maka artinya, setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis.

v Bahasa Itu Universal

Bahasa itu bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri universal dari ba­hasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.

Bukti lain dari keuniversalan bahasa adalah bahwa setiap bahasa mempunyai satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah satuan yang namanya kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana.

v Bahasa Itu Dinamis

Bahasa disebut dinamis karna keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis.

v Bahasa Itu Bervariasi

Yang termasuk dalam satu masyarakat bahasa adalah mereka yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Variasi bahasa ada 3 istilah yaitu :

§ Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan.

§ Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota.

Dialek regional, areal, atau dialek geografi. Adalah variasi bahasa berdasarkan tempat.

Dialek temporal (kronolek) adalah variasi bahasa yang digunakan pada masa tertentu.

Dialek sosial (sosialek) adalah variasi bahasa yang digunakan sekelompok anggota masyarakat dengan status sosial tertentu.

§ Ragam adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu.

v Bahasa Itu Manusiasi

Membuat alat komunikasi manusia itu, yaitu bahasa, produktif dan dinamis, dalam arti dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru.

Alat komunikasi yang namanya bahasa dalah bersifat manusiawi, dal am arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

  1. Bahasa dan Faktor Luar Biasa

Yang dimaksud dengan faktor-faktor di luar bahasa itu tidak lain daripada segala hal yang berkaitan dengan kegiatan manusia di dalam masyarakat, sebab tidak ada kegiatan yang tanpa berbubungan dengan bahasa.

Objek kajian linguistik makro itu sangat luas dan beragam. Mulai dari kegiatan yang betul-betul merupakan kegiatan berbahasa, seperti penerjemahan, penyusunan kamus, pendidikan bahasa, sampai yang hanya berkaitan dengan bahasa seperti pengobatan dan pembangunan.

v Masyarakat Bahasa

Masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Akibat lain dari konsep ”merasa menggunakan bahasa yang sama”, maka patokan linguistik umum mengenai bahasa menjadi langgar.

v Variasi dan Status Sosial Bahasa

Ada dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakaiannya. Yang pertama adalah variasi bahasa tinggi (biasa disingkat variasi bahasa T). Variasi T digunakan dalam situasi-­situasi resmi. Variasi T dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah. Yang kedu adalah varasi bahasa rendah (disingkat R). Variasi R digunakan dalam situasi yang tidak formal. Variasi R dipelajari langsung dalam masyarakat umum dan tidak pernah dalam pendidikan formal.

Adanya pembedaan variasi bahasa t dan bahasa R disebut dengan Istilah diglosia (Fergusoa, 1964). Masyarakat yang mengadakan pembedaan ini disebut masyarakat diglosis. Variasi bahasa Yunani T disebut Katherevusa, variasi bahasa Yunani R disebut dhimotiki. Variasi bahasa Arab T disebut al-fusha, variasi bahasa Arab R disebut ad-darij. Variasi bahasa Jerman Swiss T disebut Schrifsdrache, variasi bahasa Jerman Swiss R disebut Scheizerdeutsch. Dalam bahasa Indonesia variasi bahasa T, barangkali sama dengan ragam bahasa Indonesia baku. Variasi bahwa R sama dengan ragam bahasa Indonesia non baku.

v Penggunaan Bahasa

Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan, bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur, yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni:

1. Setting and Scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

2. Participants, yaitu orang-orang yang terlibat dalam per­cakapan.

3. Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan.

4. Act Sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.

5. Key, yaitu yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.

6. Instrumentalities, yaiiu yang menunjuk pada jalur percakapan; apakah secara lisan atau bukan.

7. Norms, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peseria percakapan.

8. Genres, yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

Kedelapan unsur di atas, dalam formulasi lain bisa dikatakan dalam berkomunikasi lewat bahasa harus diperhatikan faktor-faktor siapa lawan atau mitra bicara kita, tentang atau topiknya apa, situasinya bagaimana, tujuannya apa, jaiumya apa (lisan atau tulisan), dan ragam bahasa yang digunakanyang mana.

v Kontak Bahasa

Dalam bahasa yang terbuka, artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakait, akan terjadilah apa yang disebut kontak bahasa. Orang yang hanya menguasai satu bahasa disebut monolingual, unilingual, atau monoglot; yang menguasai dua bahasa disebut bilingual; menguasai dua bahasa disebut multilingual, plurilingual, atau poliglot.

Bloomfield mengartikan bilingual ini sebagai penguasaan yang sama baiknya oleh seseorang terhadap dua bahasa. Uriel Weinrich (1968) mengartikan sebagai pemakaian dua bahasa oleh seseorang secara bergantian. Einar Haugen (1966) mengartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan tuturan yang lengkap dan bermakna dalam bahasa lain, yang bukan bahasa ibunya.

Dalam masyarakat yang bilingual atau multilingual sebagai akibat adanya kontak bahasa (dan juga kontak budaya), dapat terjadi peristiwa atau kasus yang disebut inrerferensi, integrasi, alihkode (code-switch­ing), dan campunkode (code-nixing). Keempat peristiwa ini gejalanya sama, yaitu adanya unsur bahasa lain dalam bahasa yang digunakan; namun, konsep masalahnya tidak sama.

§ Interferensi adalah terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan, sehingga tampak adanya penyimpang­an kaidah dari bahasa yang sedang digunakan itu.

§ Dalam integrasi unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk itu, sudah dianggap, diperlakukan, dan dipakai sebagai bagian dari bahasa yang meneri­manya atau yang dimasukinya.

§ Alih kode yaitu beralihnya penggunaan suatu kode (entah bahasa ataupun ragam bahasa tertentu) ke dalam kode yang lain (bahasa atau ragam bahasa lain)

§ Campur kode terjadi tanpa sebab. Dalam campur kode ini dua kode atau lebih digunakan bersama tanpa alasan dan biasanya taerjadi dalam situasi santai.

v Bahasa dan Budaya

Hipotesis yang sangat terkenal mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan ini. dikeluarkan oleh dua orang pakar, yaitu Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf (dan oleh karena itu disebut hipotesis Sapir-Whort) yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya.

Karena eratnya hubungan antara bahasa dengan kebudayaan ini, maka ada pakar yang menyamakan hubungan keduanya itu sebagai bayi kembar siam, dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

4. Klasifikasi Bahasa

Klasifkasi dilakukan dengan melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bahasa. Menurut Greenberg (1957:bb) suatu klasifikasi yang baik harus memenuhi persyaratan nonarbitrer, ekshaustik, dan unik.

§ Nonarbitrer adalah bahwa kriteria klasifikasi itu tidak boleh semaunya, hanya harus ada satu kriteria.

§ Ekshaustik artinya, setelah klasifikasi dilakukan tidak ada lagi sisanya; semua bahasa yang ada dapat masuk ke dalam salah satu kelompok..

§ Bersifat unik maksudnya, kalau suatu bahasa sudah masuk ke dalam salah satu kelompok, dia tidak bisa masuk lagi dalam kelompok yang lain.

Pendekatan untuk membuat klasihkasi tidak hanya satu, antara lain :

1. Pendekatan genetis

2. Pendekatan tipologis

3. Pendekatan areal

4. Pendekatan sosiolinguistik.

v Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis, disebut juga klasifikasi geneologis, artinya suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Keadaan dari sebuah bahasa menjadi sejumlah bahasa lain dengan cabang-cabang dan ranting-rantingnya memberi gambaran seperti batang pohon yang terbalik.

Teori ini ditemukan oleh A.Schieicher, menamakannya teori batang pohon (bahasa Jerman: Stammbaumtheorie), pada tahun 1866. Kemudian pada tahun 1872 dilengkapi oleh J. Schmidth dengan teori gelombang (bahasa Jerman: Wellentheorie). Maksud teori gelombang ini adalah bahwa perkembangan atau perpecahan bahasa itu dapat diumpamakan seperti gelombang yang disebabkan oleh sebuah batu yang dijatuhkan ke tengah kolam.

Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti, yaitu atas kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Yang di­lakukan dalam klasifikasi genetis ini sebenamya sama dengan teknik yang dilakukan dalam linguistik historis komparatif, yaitu adanya ko­respondensi bentuk (bunyi) dan makna. Hasil klasifikasi yang telah dilakukan dan banyak diterima orang secara umum, adalah bahwa bahasa-bahasa yang ada di dunia ini terbagi dalam sebelas rumpun besar.

1) Rumpun Indo

2) Rumpun Hamito-Semit atau Afro-Asiatik

3) Rumpun Chari-

4) Rumpun Dravida

5) Rumpun Austronesia

6) Rumpun Kaukasus.

7) Rumpun finno-Ugris

8) Rumpun Paleo Asiatis atau Hiperbolis

9) Rumpun Ural-Altai

10) Rumpun Sino-Tibet

11) Rumpun bahasa-bahasa Indian

Klasifikasi genetis ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa-bahasa di dunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan menyebar menjadi banyak; tetapi pada rnasa mendatang karena siiuasi politik dan perkembangan teknologi koniunikasi yang semakin canggih, perkembangan yang konvergensif tampaknya akan lebih mungkin dapat terjadi.

v Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Klasifikasi ini menjadi bersifat arbitrer, karena tidak terikat oleh tipe tertentu, melainkan bebas menggunakan tipe yang mana saja, atau menggunakan berbagai macam tipe. Namun hasilnya itu masih tetap ekshaustik dan unik. Klasifikasi pada tataran morfologi yang telah dilakukan pada abad XIX secara garus besar dapat dibagi tiga ketompok :

§ Kelompok pertama, adalah yang semata-mata menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi. Yang mengusulkan adalah Fredrich Von Schlegel (1808), diperluas oleh kakaknya, August Von Schlegel, pada tahun (1818).

§ Kelompok kedua, adalah yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi. Tokohnya, antara lain, Franz Bopp, Max Muller.

§ Kelompok ketiga, adalah yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi. Pakarnya, antara lain, H. Steinthal, Frans Misteli

Pada abad XX dibuat pakar klasifikasi morfologi dengan prinsip yang berbeda, misalnya, yang dibuat Sapir (1921) dan J. Greenberg (1954) Edward Sapir menggunakan tiga parameter :

§ Konsep-konsep gramatikal

§ Proses-proses gramatikal

§ Tingkat penggabungan morfem dalam kata

J. Greenberg mengembangkan gagasan Sapir dengan mengajukan lima parameter :

§ Menyangkut jumlah morfem yang ada dalam sebuah kalimat;

§ Menyangkut jumlah sendi (juncture) yang terdapat dalam sebuah konstruksi

§ Menyangkut kelas-kelas morfem yang membentuk sebuah kata (akar, derivasi, infleksi);

§ Mempersoalkan jumiah afiks yang ada dalam sebuah konstruksi

§ Memper­soalkan hubungan kata dengan kata di dalam kalimat.

v Klasifikasi Areal

Klasifikasi areat dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Klasifikasi ni nonekshaustik dan nonunik. Usaha klasifikasi berdasarkan areal pernah dilakukan oleh Wilhelm Schmidt (1868-1954) dengan bukunya Die Sprachfamilien und Sprachenkreise der Ende, yang dilampiri dengan peta.

v Klasifikasi Sosilinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat; tepatnya, berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat tefiadap bahasa itu. William A. Stuart iahun 1962 yang dapat irriaca dalam ar­tikelnya “An Outline of Linguistic Typology for Describing Multit­ingualism”. Kiasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat irri, yaitu

§ Historisitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau sejarah pemakaian bahasa itu.

§ Kriteria standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku atau tidak baku, atau statusnya dalam pemakaian formal atau tidak formal.

§ Vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari­ hari secara aktif, atau tidak.

§ Homogenesitas berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.

Hasil klasifikasi dari keempat ciri diatas bisa ekshaustik, namun tidak unik.

5. Bahasa Tulis dan Sistem Aksara

Bagi linguistik bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tulis adalah sekunder. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti yang terjadi dengan kalau kita merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman. Bahasa tulis sudah dibuat orang dengan pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati-hati, tanpa pertimbangan dan pemikiran, peluang untuk terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tulis sangat besar.

Para ahli dewasa ini memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambar-gambar yang terdapat di gua-gua di Altamira di Spanyol utara, dan tempat lain. Gambar dengan bentuk yang sedehana secara langsung menyatakan maksud atau konsep yang ingin disampaikan disebut piktogram. Sebagai sistem tulisan disebut piktograf. Pada zaman modern, sesudah Perang Dunia II, Karel Johnson, seorang Jumalis Belanda, dan Andre Eckard, seorang sarjana Jerman, mencoba mengembangkan sistem tulisan piktografik ini, yang disebut Pikto. Piktograf yang menggambarkan gagasan, ide, atau konsep ini disebut ideograf.

Perkembangan selanjutnya piktograf atau ideograf ini berubah menjadi lebih sedefiana, sehingga tidak tampak lagi hubungan langsung antara gambar dengan hal yang dimaksud. Salah satu contoh adalah tulisan paku yang dipakai oleh bangsa Sumaria pada lebih kurang 4.000 SM. Aksara paku ini kemudian diambil oleh orang Persia, yakni pada zaman Darius I (522 – 468 SM), tetapi tidak untuk menyatakan gambar, gagasan, atau kata, melainkan untuk menyatakan suku kata. Sistem tersebut disebut aksara silabis.

Dalam aksara Fenesia setiap aksara melambangkan satu konsonan yang diikuti oleh satu vokal. Aksara Arab yang digunakan kini di Malaysia disebut aksara Jawi, yang dipakai untuk bahasa Indonesia (waktu dulu) disebut aksara Arab Melayu atau Arab Indonesia, untuk bahasa Jawa disebut aksara Pegon.

§ Huruf adalah istilah umum untuk graf dan grafem.

§ Abjad atau alfabet adalah urutan huruf huruf dalam suatu sistem aksara.

§ Aksara adalah keselunihan sistem tulisan

§ Graf adalah satuan terkecil dalam aksara yang belum ditentukan statusnya.

§ Grafem adalah satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku kata, atau morfem, tergantung dari sistem aksara yang bersangkutan.

§ Alograf adalah varian dari grafem.

§ Kaligrafi secara diartikan sebagai seni menulis indah.

§ Grafiti adalah corat-coret di dinding, tembok, pagar, dan sebagainya dengan huruf-huruf dan kata-kata tertentu.

§ Aksara Latin adalah aksara yang tidak bersifat silabis.

§ Ejaan yang ideal adalah ejaan yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya setiap huruf hanya dipakai untuk melambangkan satu fonem.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s