Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

sidiq pratista hadi;1402408252 Oktober 19, 2008

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 4:00 pm

Tugas bahasa indonesia

Nama:sidiq pratista hadi

Nim:1402408252

BAB III

OBJEK LINGUSTIK BAHASA

3.1 PENGERTIAN BAHASA

Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian, sehingga seringkali membingungkan.

(1) Dika belajar bahasa Inggris, Nita belajar bahasa Jepang.

(2) Manusia mempunyai bahasa, sedangkan binatang tidak.

(3) Katakanlah dengan bahasa bunga.

(4) Kalau dia memberi kuliah, bahasanya penuh dengan kata dari pada dan akhiran ken.

Kata bahasa pada kalimat (1) jelas menunjuk pada bahasa tertentu, hal itu merupakan sebuah language. Pada kalimat (2) tata bahasa menunjuk pada bahasa pada umumnya, yaitu sebuah lagage. Pada kalimat (4) kata bahasa berarti ujarannyam, yang sama dengan parole. Bisa disimpulkan hanya pada kalimat (1), (2), (4) saja kata bahasa sebagai harfiah.

Sebagai objek linguistik, parole merupakan objek konkret karena berwujud ujaran nyata yang di ucapkan para bahasawan dari suatu masyarakat bahasa.

Language merupakan objek yang abstrak karena berwujud sistem suatu bahan tertentu secara keseluruhan.

Lagage merupakan objek yang paling abstrak karena berwujud sistem bahasa secara universal.

Definisi bahasa dari Kridalaksana : Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang abitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri.

3.2 HAKIKAT BAHASA

Ciri atau alat yang hakiki dari bahasa :

(1) bahasa itu adalah sebuah sistem.

(2) bahasa itu berwujud lambang.

(3) bahasa itu berupa bunyi.

(4) bersifat abitrer.

(5) bermakna.

(6) bersifat konvensional.

(7) unik.

(8) bersifat universal.

(9) bersifat produktif.

(10) bervariasi.

(11) dinamis.

(12) berfungsi sebagai alat interaksi sosial.

(13) merupakan identitas penuturnya.

3.2.1 Bahasa sebagai sistem

Dalam kaitan keilmuan sisitem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bemakna atau berfungsi.

Sebagai sebuah sistem bahwa sistematis artinya bahasa tersusun menurut suatu pola; tidak tersusun secara acak, secara sembarangan.

3.2.2 Bahasa sebagai lambang

Kata lambang sering di padankan dengan symbol dengan pengertian yang sam. Lambang atau symbol tidak brsifat langsung dan alamiah.

Gerak syarat atau gesture adalah tanda yang dilakukan gerakan badan, dan tidak bersifat imperasif seperti pada sinyal.

Gejala atau symptom adalah suatu tanda yang tidak disengaja yang dihasilkan tanpa maksud. Tatapi alamiah untuk menunjukan atau mengungkapkan sesuatu akan terjadi.

Ikon adalah tanda yang paling murah dipahami karena kemiripannya dengan sesuatu yang di wakili. Karena itu ikon sering juga disebut gambar dari wujud yang diwakilinya misalnya denah jalan.

3.2.3 Bahasa adalah bunyi

Secara teknis menurut Kridalaksana (1983 : 27) bunyi adalah kesan pada pusat syaraf sebagai akibat dari getaran dari gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Jadi bunyi yang tidak dihasilkan oleh alat ucap manusia bukan termasuk bunyi bahasa. Tetapi juga tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia merupakan bunyi bahasa.

3.2.4 Bahasa itu bermakna

Dalam studi sistematik memang teori makna yang mengatakan bahwa makna isi sama dengan bendanya; tetapi ada juga yang mengatakan makana itu adalah konsepnya. Sebab tidak semua lambang bahasa yang berwujud bunyi itu mempunyai hubungan dengan benda-benda konkret di alam nyata.

Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunai makana dapat disebut bahasa.

3.2.5 Bahasa itu arbitrer

Kata arbidrer bisa diartikan sewenang-wenang, berubah-ubah tidak tetap mana suka yang dimaksud istilah arbiter itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

misal : antara [kuda] dengan yang di lambangkannya yaitu “sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai”.

3.2.6 Bahasa itu konvensional

artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang di wakilinya.

3.2.7 Bahasa itu produktif

Kata produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda produksi. Arti produktif adalah “banyak hasilnya”. atau lebih tepat “terus menerus menghasilkan”.

Bahasa di katakana produktif artinya meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat di buat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

3.2.8 Bahasa itu unik

Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya.

3.2.9 Bahasa itu universal

Selain bersifat unik, yakni mempunyai sifat atau ciri masing-masing, bahasa itu juga bersifat universal. Artinya, ada ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia.

Ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal da konsonan.

3.2.10 Bahasa itu dinamis

Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makluk yang berbudaya dan bermasyarakat.

3.2.11 Bahasa itu bervariasi

Mengenai variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu di ketahui, yaitu idiolek, dialek dan ragam.

Ø idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan.

Ø dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.

Ø ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu.

3.2.12 Bahasa itu manusaiwi

Artinya alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia dan digunakan oleh manusia.

3.3 BAHASA DAN FAKTOR BAHASA

3.3.1 Masyarakat Bahasa

Masyarakat bahasa artinya sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Contoh : masyarakat bahasa sunda sama-sama menggunakan bahasa sunda.

3.3.2 Variasi dan Status Sosial Bahasa

Bahasa itu bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu sangat beragam, dan bahasa itu sendiri di gunakan untuk keperluan yang beragam.

3.3.3 Penggunaan Bahasa

Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu konumikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur :

1. Setting dan scene : unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

2. Participants : orang-orang yang terlibat dalam percakapan.

3. Ends : maksud dan hasil percakapan.

4. Act sequences : hal yang menujuk pada bentuk dan isi percakapan.

5. Key : menunjuk pada cara atau semangat dalam percakapan.

6. Instrumentalities : menunjuk pada jalur percakapan.

7. Norms : yang menunjuk pada norma perilaku.

8. Genres : menunjuk pada kategori yang digunakan.

3.3.4 Kontak Bahasa

Dalam masyarakat yang bilingual atau sebagai akibat adanya kontak bahasa, dapat terjadi peristiwa yang disebut interferensi, integrasi, ahlikode dan campur kode.

Interferensi : terbawa unsur bahasa asing dalam bahasa yang sedang di gunakan. Contoh : kata Bogor oleh penutur bahasa jawa di bilang mbogor.

3.3.5 Bahasa dan Budaya

Kalau bahasa merupakan bagian kebudayaan, lalu wujud hubungannya itu merupakan bagian kebudayaan.

Lee Whort (dan oleh karena itu disebut hipotesis Sapir-whort) menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan.

3.4 KLASIFIKASI BUDAYA

Ada 4 pendekatan yaitu :

(1) pendekatan genetis

(2) pendekatan tipologis

(3) pendekatan areal

(4) pendekatan sosiolinguistik

3.4.1 Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis disebut juga klasifikasi geneologis, di lakukan berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa proto (bahasa tua) akan pecah atau diturunkan dua bahasa atau lebih.

Klasifikasi genetis ini menunjukkan bahwa perbedaan bahasa-bahasa di dunia bersifat divergensif yakni memecah dan menyebar menjadi banyak.

3.4.2 Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang dalam suatu bahasa. Klasifikasi ii dapat di lakukan pada semua tatanan bahasa. Maka, karena itu pula hasil klasifikasinya bermacam-macam.

3.4.3 Klasifikasi Areal

Klasifikasi Areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain didalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak.

Klasifikasi ini bersifat arbitrer karena dalam kontak sejarah bahasa-bahasa itu memberikan pengaruh timbale balik dalam hal-hal tertentu yang terbatas. Klasifikasi ini pun bersifat nonekshaustik. Sebab masih banyak bahasa-bahasa di dunia ini yang masih tertutup. Selain itu juga bersifat nonunik sebab ada kemungkinan sebuah bahasa dapat masuk dalam kelompok tertentu.

3.4.4 Klasifikasi Sosiolinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasar hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat yaitu status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu.

Klasifikasi ini di lakukan berdasarkan empat ciri atau criteria, yaitu historisitas, standarisasi, vitalitas, dan homogenesitas. Historisitas berkenaan dengan perkembangan bahasa. Standarisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku atau tidak. Vitalitas berkenaan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari secara aktif atau tidak. Homogenitas berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu di turunkan.

3.5 BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

Bagi linguistik bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tulis adalah sekunder. Meskipun dikatakan bahwa bahasa lisan adalah bahasa primer dan bahasa tulis adalah sekunder, tapi peranan atau fungsi bahasa tulis di dalam kehidupan modern sangat besar sekali. Bahasa tulis dapat menembus waktu dan ruang, padahal bahwa bahasa lisan begitu diucapkan segera hilang tak berbekas. bahasa tulis dapat disimpan lama sampai waktu tak terbatas.

Para ahli memperkirakan tulisan berawal dan tumbuh dari gambar-gambar yang terdapat di gua-gua di Atramira di Spanyol Utara dan di tempat lain. Gambar-gambar itu dengan bentuknya yang sederhana secara langsung menyatakan maksud atau konsep yang ingin disampaikan. Gambar-gambar ini disebut piktogram.

Dalam pembicaraan mengenai bahasa tulis dan tulisan kita menemukan istilah huruf, abjad, alphabet, aksara, grat, gratem, alograt dan juga kaligrafi dan grafiti.

Huruf adalah istilah umum untuk grat dan gratem.

Abjad atau alphabet adalah huruf-huruf dalam suatu sistem aksara.

Aksara adalah keseluruhan sistem tulisan, misalnya aksara latin.

Grat adalah satuan terkecil dalam aksara yang belum di tentukan statusnya.

Gratem adalah satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku kata, atau mortem, tergantung dari sistem aksara yang bersangkutan.

Alograt adalah varian dari gratem.

Grafiti adalah corat-coret di dinding tembok, pagar, dsb dengan huruf-huruf dan kata-kata tertentu.

 

One Response to “sidiq pratista hadi;1402408252”

  1. wahyu Prihatini Says:

    Dalam masyarakat bilingual sebagai akibat adanya kontak bahasa ,terjadi peristiwa disebut interferensi,integrasi,alihkode dan campur kode? sebutkn maksud dari masing-masing !dan contoh penerapan dalam kehidupan nyata !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s