Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Rizal Listyo Mahardhika;1402408125 Oktober 19, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 3:23 pm

Nama : Rizal Listyo Mahardhika

NIM : 1402408125

BAB V

Tataran Linguistik (2)

Morfologi

1) Morfem

Morfem merupakan satuan fungsional yang berupa gramatikal terkecil yang mempunyai makna.

  • Identifikasi Morfem

~ Morfem memiliki kesamaan bentuk dan arti

Contoh pada bentuk di bawah ini :

[Kedua]

[Ketiga]

[Keempat]

Bentuk ke pada bentuk tersebut dapat dipilah dan dinyatakan sebagai satuan tersendiri dan menyatakan makna yang sama, yaitu tingkat/derajat sehingga dapat dinyatakan sebagai morfem.yang dimana bentuk dari kata diatas memiliki kesamaan bentuk begitu juga arti.

Contoh lainnya adalah :

Meninggalkan

Ditinggal

Peninggalan

Dalam bentuk ini, semua memiliki makna yang sama, namun sekilas bentuk penulisannya berbeda. Dalam hal ini terjadi perubahan bunyi. Secara dasar bentuk itu adalah sama. Sehingga bentuk tinggal dikatakan sebagai morfem.

· Morf dan Alomorf

Morfem mempunyai bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem-morfem yang sama. Bentu tersebut disebut alomorf. Alomorf merupakan perwujudan tutur kata secara nyata dari morfem.

Perhatikan contoh berikut ini

Melihat

Membau

Mendengar

Semua itu adalah morfem, walaupun jika ditinjau secara langsung bentuknya berbeda. Bentuk itu merupakan distribusi dari (me-). Maka disimpulkan bahwa bentuk itu adalah morfem. Bentuk-bentuk itu dinamakan alomorf. Selain alomorf ada juga yang disebut Morf. Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui status morfemnya. Sedangkan Alomorf adalah nama untuk bentuk yang sudah diketahui status morfemnya.

· Klasifikasi morfem

Morfem diklasifikasikan berbagai macam kriteria.

a. Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang dapat muncul tanpa adanya morfem lain dalam pertuturan.

Contoh : pulang, makan, bagus.

Morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat muncul jika tidak ada morfem lain yang mengikatnya.

Contoh : juang, henti, gaul.

b. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh adalah morfem dasar yang merupakan satu kesatuan utuh.

Contoh : Meja, kursi, kecil, laut.

Morfem terbagi adalah morfem yang merupakan dua buah bagian terpisah atau terbagi. Morfem ini terdiri dari morfem utuh dan konfiks yang merupakan morfem terbagi.

Contoh : kesatuan, perbuatan.

c. Morfem Segmental dan Morfem Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental. Berupa morfem-morfem yang berbentuk bunyi.

Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsu-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya.

d. Morfem Beralomorf Zero

Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa unsur suprasegmental.

Contoh pada kalimat

I have a book (Tunggal)

I have two books (Jamak)

I have a sheep (Tunggal)

I have two sheep (Jamak)

Morfem {book} dalam bentuk tunggal. Morfem {book}+ morfem {-s} dalam bentuk jamak, terdiri dari dari dua buah morfem yaitu {book} dan {-s}. Sedangkan untuk sheep, morfem bentuk tunggal adalah {sheep}, sedangkan untuk jamak adalah morfem {sheep}+morfem {0}

e. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal.

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang memiliki makna pada dirinya sendiri dan kedudukan secara otonom tanpa perlu adanya proses dengan morfem lain.

Misalnya {kuda}, {pergi}, {lari}, {merah}.

Morfem tidak bermakna leksikal adalah morfem yang tidak memiliki makna apa-apa pada dirinya sendiri. Morfem ini baru akan mempunyai makna dalam gabungannya dengan morfem lain.Yang dimaksud morfem tidak bermakna leksikal adalah morfem afiks, seperti {ber-},{ter-},{me-}.

· Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)

Morfem dasar adalah sebuah bentuk dasar atau dasar dalam proses morfologi, dimana bentuk yang dapat diberi afiks dalam afiksasi, dapat diulang dalam proses reduplikasi, atau bisa digabung dalam morfem lain dalam proses komposisi.Bentuk ini dapat berupa morfem tunggal atau dapat juga berupa gabungan morfem.

Misalnya ;

Berbicara maka bentuk dasarnya adalah bicara

Dimengerti maka bentuk dasarnya adalah mengerti.

Pangkal (stem) adalah dasar dalam proses pembubuhan afiks inflektif. Dalam bahasa Indonesia contohnya adalah menangisi, yaitu berupa

~ Bentuk pangkal tangisi; dan morfem {me-} adalah sebagai afiks inflektif.

Akar (root) digunakan sebagai penyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya akar itu bentuk yang tersisisa setelah semua afiksnya. Misalnya dalam bahasa inggris

~ Untouchables maka bentuk akarnya berupa touch

Dalam proses gramatika terdapat tiga macam morfem dasar ;

1. Morfem dasar bebas, yakni morfem dasar yang secara potensial dapat langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat dipergunakan dalam ujaran. Misalnya morfem {meja}, {kursi}, dan {kuning}.

2. Morfem dasar yang kebebasannya dipersoalkan. Yang termasuk dalam morfem ini adalah sejumlah morfem yang berakar verba, yang dalam kalimat imperative atau kalimat sisipan tidak perlu imbuhan, dan kalimat deklaratif imbuhannya yang dapat ditanggalkan.

3. Morfem dasar terikat, adalah morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi.

2) Kata

Dalam tata bahasa tradisional, kata adalah satuan lingual yang selalu dibicarakan.

· Hakikat Kata

Para tata bahasawan tradisional memberi pengertian bahwa kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti.

Sedangkan para tata bahasawan structural, terutama penganut aliran Bloomfield, kata tidak lagi dikatakam sebagai satuan lingual, tetapi sebagi satuan yang disebut morfem.. Menurut mereka, kata adalah satuan bebas terkecil yang tidak pernah diulas atau dikomentari, seolah-olah batasan itu sudah bersifat akhir. Hakikat kata tidak dibahas khusu oleh mereka karena mereka melihat hierarki bahasa sebagai: fonem, morfem, dan kalimat. Sedangkan tata bahasa tradisional melihat hierarki bahasa sebagai: fonem, kata, dan kalimat.

· Klasifikasi Kata

Klasifikasi kata atau penggolongan kata, dalam hal ini klasifikasi kata sesuai tata bahasawan tradisional, mereka menggunakan criteria makna dan criteria fungsi. Yang dimana criteria makna digunakan untuk mengidentifikasi kelas verba, nomina, dan ajektifa. Sedangkan criteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasi preposisi, adverbial, pronominal, dan lain-lainnya. Hal tersebut menyatakan beberapa aspek, yakni verba merupakan kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan, nomina kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan, dan konjungsi adalah kata yang bertugas sebagai penghubung kata atau penghubung kalimat dengan bagian lain.

Sedangkan tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan kontribusi kata itu dalam suatu struktur atau kontruksi. Misalnya nomina adalah kata yang dapat berdistribusi dibelakang kata bukan. Verba merupakan kata yang dapat berdistribusi di belakang kata tidak. Sedangkan ajektifa adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata sangat. Sehingga yang sering diganakan dalam kehidupan sehari-hari adalah criteria para tata bahasawan strukturalis.

Ada juga kelompok linguis yang menggunakan criteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata. Secara umum subjek diisi oleh nomina, predikat diisi oleh verba atau ajektifa, sedangkan objek diisi oleh nomina, lau fungsi keterangan oleh adverbia.

Semua itu merupakan landasan-landasan pembagian kriteria kata, oleh karena itu hal itu sangat perlu agar dapat mebagi dan menggolongkan kata. Dengan mengenal kata maka akan tahu identifikasinya dan ciri-cirinya.

· Pembentukan Kata

Untuk dapat digunakan di dalam kalimat atau pertuturan tertentu, maka setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutunasi, harus dibentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi.

Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat, yaitu pertama membentuk kata-kata yang bersifat inflektif, dan kedua yang bersifat derivatif.

  • Inflektif

Alat yang digunakan untul penyesuaian bentuk itu biasanya berupa afiks, yang mungkin berupa prefiks, infiks, dan sufiks; atau juga berupa modifikasi internal, yakn perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasar itu.

Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba disebut konyugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektif disebut deklinasi. Konyugasi pada verba biasanya berkenaan dengan kala (tense), aspek, modus, diatesis, persona, jumlah, dan jenis Sedangkan deklinasi biasanya berkenaan dengan jumlah, jenis, dai kasus.

Dalam sebuah kata yang sama, apabila terjadi perubahan bentuk yang disesuaikan dengan kategori gramatikalnya, bentuk tersebut dalam morfologi infleksional dinamakan paradigma infleksional.

Sedangkan bahasa Indonesia bukanlah tipe bahasa berfleksi. Verhaar (1978), menyatakan bentuk-bentuk seperti membaca, dibaca, terbaca, kaubaca, dan bacalah adalah paradigma infleksional. Dengan kata lain, bentuk-bentuk tersebut merupakan kata yang sama, yang berarti juga mempunyai identitas jeksikal yang sama. Perbedaan bentuknya adalah berkenaan dengan modus kalimatnya.

  • Derivatif

Pembentukan kata secara infektif, tidak membentuk kata baru, atau kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya. Hal ini berbeda dengan pembentukan kata secara derivatif atau derivasional. Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas teksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya. Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna. Sebab meskipun kelasnya sama tetapi memiliki makna yang berbeda. Contohnya makanan dengan pemakan.

· Proses Morfemis

Proses morfemis, atau proses morfologis, atau juga proses gramatikal, khususnya pembentukan dengan afiks, telah disinggung dalam pembicaraan di atas. Namun, afiksnya itu sendiri belum dibicarakan. Oleh karena itu, berikut ini akan dibicarakan proses-proses morfemis yang berkenaan dengan afiksasi, reduplikasi, konposisi, dan juga sedikit tentang konversi dan modifikasi intem. Kiranya perlu juga dibicarakan produktifitas proses-proses morfemis itu.

  • Afiksasi

Afiksasi adalah proses penambahan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur (1) dasar atau bentuk dasar, (2) afiks, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan. Proses ini dapat bersifat inflektif dan dapat pula bersifat derivatif. Namun, proses ini tidak berlaku untuk semua bahasa. Ada sejumlah bahasa yang tidak mengenal proses afiksasi ini.

Bentuk dasar atau dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmen­tasikan lagi, misalnya meja, beli, makan, dan sikat dalam bahasa Indonesia; atau go; write, sing, dan like dalam bahasa Inggris.

    1. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya, dibedakan adanya dua jenis afiks, yaitu afiks inflektif dan afiks derivatif. Yang dimaksud dengan afiks inflektif adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional.
    2. Prefiks adalah afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar, seperti (me-) pada kata menghibur dan (un-) pada kata Inggris unhappy.
    3. Infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia, misalnya infiks (-el-) pada kata telunjuk, dan (-er-) pada kata seruling, dalam bahasa Sunda -ar- pada kata barudak dan tarahu. Dalam bahasa Sunda infiks ini cukup produktif, tetapi dalam bahasa Indonesia tidak produktif.
    4. Sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar. Umpamanya, dalam babasa Indonesia, sufiks (-an) pada kata bagian, dan sufiks (-kan) pada kata bagikan.
    5. Konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar.

Contoh Konfiks : – (per-/-an) seperti terdapat pada kata pertemuan

– (ke-/-an) seperti pada kata keterangan

– (ber-/-an) seperti terdapat pada kata berciuman.

    1. Interfiks adalah sejenis infiks atau ele­men penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur.

  • Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi. seperti meja-meja (dari dasar meja), reduplikasi sebagian seperti lelaki (dari dasar laki), dan reduplikasi denga perubahan bunyi, seperti bolak-balik (dari dasar balik). Reduplikasi semu, seperti mondar-mandir, yaitu sejenis bentuk kata yang tampaknya sebagai hasil reduplikasi, tetapi tidak jelas bentuk dasarnya yang diulang.

Bahasa Jawa dan bahas Sunda. Istilah-istilah itu adalah (a) dwilingga, yakni pengulangan morfem dasar, seperti meja-meja, aki-aki dan mlaku-mlaku ”berjalan-jalan”, (b) dwilingga salin suara, yakni pengulangan morfem dasa dengan perubahan vokal dan fonem lainnya, seperti bolak-balik, langak longok, dan mondar-mandir; (c) dwipurwa, yakni pengulangan silabel pertama, seperti lelaki, peparu, dan pepatah; (d) dwiwasana, yakn pengulangan pada akhir kata, seperti cengengesan ”selalu tertawa” yang terbentuk dari cenges ”tertawa”, dan (e) trilingga, yakni pengulangan morfem dasar sampai dua kali, seperti dag-dig-dug, cas-cis-cus, dan ngak-ngik-ngok.

Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional) dan dapat pula bersifat derivasional. Reduplikasi yang paradigmatis tidak mengubah identitas leksikal, melainkan hanya memberi makna gramatikal. Misalnya, meja-meja berarti ”banyak meja” dan kecil-kecil yang berarti ”banyak yang kecil”. Yang bersifat derivasional membentuk kata baru atau kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya. Dalam bahasa Indonesia bentuk laba-laba dari dasar laba dan pura-pura dari dasar pura.

Khusus mengenai reduplikasi dalam bahasa Indonesia ada beberapa catatan yang perlu dikemukakan, yakni :

Pertama, bentuk dasar reduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat berupa morfem dasar seperti meja yang menjadi meja-meja, bentuk berimbuhan seperti pembangunan yang menjadi pembangunan­-pembangunan, dan bisa juga berupa bentuk gabungan kata seperi surat kabar yang menjadi surat-surat kabar atau surat kabar-surat kabar.

Kedua, bentuk reduplikasi yang disertai afiks prosesnya mungkin: (1) proses reduplikasi dan proses afiksasi itu terjadi bersamaan seperti pada bentuk berton-ton dan bermeter-meter; (2) proses reduplikasi terjadi lebih dahulu, baru disusul oleh proses afiksasi, seperti pada berlari-lari dan mengingat-ingat (dasarnya lari-lari dan ingat-ingat); (3) proses afiksasi terjadi lebih dahulu, baru kemudian diikuti oleh proses reduplikasi, seperti pada kesatuan-kesatuan dan memukul-­memukul (dasamya kesatuan dan memukul.

Ketiga, pada dasar yang berupa gabungan kata, proses reduplikasi mungkin harus berupa reduplikasi penuh, tetapi mungkin juga hanya berupa reduplikasi parsial. Misalnya, ayam itik -ayam itik dan sawah ladang-sawah ladang (dasamya ayam itik dan sawah la­dang) contoh yang reduplikasi penuh, dan surat-surat kabar serta rumah-rumah sakit (dasamya surat kabar dan rumah sakit) contoh untuk reduplikasi persial.

Keempat, banyak orang menyangka bahwa reduplikasi dalam bahasa Indonesia hanya bersifat paradigmatis dan hanya memberi makna jamak atau kevariasian. Namun, sebenamya reduplikasi dalam bahasa Indonesia juga bersifat derivasional. Oleh karena itu, munculnya bentuk-bentuk seperti mereka-mereka, kita-kita, kamu-kamu, dan dia-­dia tidak dapat dianggap menyalahi kaidah bahasa Indonesia.

Kelima, ada pakar yang menambahkan adanya reduplikasi semantis, yakni dua buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal. Misalnya, ilmu pengetahuan, hancur, luluh, dan alim ulama.

Keenam, dalam bahasa Indonesia ada bentuk-bentuk seperti kering kerontang, tua renta, dan segar bugar di satu pihak; pada pihak lain ada bentuk-bentuk seperti mondar-mandir, tunggang-langgang, dan komat-kamit, yang wujud bentulrnya perlu dipersoalkan. Kelompok pertama, yang salah satu komponennya berupa morfem bebas dan komponen yang lain berupa morfem unik, apakah merupakan bentuk reduplikasi berubah bunyi, ataukah berupa bentuk komposisi ? Kelompok kedua, yang kedua komponennya bempa morfem terikat, apakah merupakan bentuk reduplikasi atau bukan, sebab masing-masing komponennya tidak dapat ditentukan sebagai bentuk dasamya. Jadi, manakah yang diulang? Begitu juga dengan bentuk rama-rama, sema-­sema, ani-ani, dan tupai-tupai; serta bentuk-bentuk seperti pipi, kuku, sisi, dan titi, perlu dan bisa dipersoalkan apakah hasil proses reduplikasi ataukah bukan.

· Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru.

Dalam bahasa Indonesia proses komposisi ini sangat produktif. Hal ini dapat dipahami, karena dalam perkembangannya bahasa jndonesia banyak sekali memerlukan kosakata untuk menampung konsep-konsep yang belum ada kosakatanya atau istilahnya dalam bahasa Indonesia.

Produktifnya proses komposisi itu dalam bahasa Indonesia menimbulkan berbagai masalah dan berbagai pendapat karena komposisi itu memiliki jenis dan makna yang berbeda-beda. Masalah­-masalah itu antara lain masalah kata majemuk aneksl, dan frase.

Para ahli tata bahasa tradisional, seperti Sutan Takdir Alisjahbana (1953), yang berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan makna unsur-unsumya.

Kelompok linguis lain, yang berpijak pada tata bahasa struktural menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk, kalau di antara unsur-unsur pembentuknya tidak dapat disisipkan apa-apa tanpa merusak kom­posisi itu. Bisa juga suatu komposisi disebut kata majemuk kalau unsur-­unsurnya tidak dapat dipertukarkan tempatnya.

Ada lagi kelompok lain yang membandingkan dengan kata majemuk dalam bahasa-bahasa Barat. Dalam bahasa Inggris, misalnya, kata majemuk dan bukan kata majemuk berbeda dalam hal adanya tekanan.

Linguis kelompok lain, ada juga yang menyatakan sebuah komposisi adalah kata majemuk kalau identitas leksikal komposisi itu sudah berubah dari identitas leksikal unsur-unsurnya.

Verhar (1978) menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaksis.

Kridalaksana (1985) menyatakan kata majemuk haruslah tetap berstatus kata, kata majemukj harus dibedakan dari idiom sebab kata majemuk adalah konsep sintaksi,s edangkan idiom adalah konsep semantis.

· Konversi, Modifikasi, Internal dan Suplesi

Konversi, sering juga disebut derivasi zero, transmutasi dan transposisi, adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lian tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internal (sering disebut juga penam bahan internal atau perubahan internal) adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap.

· Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya Hasil proses pemendekan ini kita sebut kependekan Misalnya bentuk lab (utuhnya laboratorium), hlm (utuhnya halaman) l (utuhnya liter), hankam (utuhnya pertahanan dan keamanan), dan SD (utuhnya Sekolah Dasar).

Penggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang dipendekkan itu Mi­salnya, lab, atau labo dari laboratorium dok dari bentuk utuh dokter, dan perpus dan bentuk utuh perpustakaan Yang dimaksud dengan smgkatan adalah hasil proses pemendekan

a. Pengekalan huruf awal dari sebuah leksem, atau huruf-huruf awal dari gabungan (eksem. Misalnya: I (liter), R (radius), H. (haji), kg (kilogram), km (kilometer), DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), dan UI (Universitas Indonesia).

b. Pengekatan beberapa huruf dari sebuah leksem. Misalnya: hlm (halaman), dng (dengan), rhs (rahasia), dan bhs (bahasa).

c. Pengekalan hurut pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk penggauti huruf yang sama. Misalnya: P3 (partai persatuan pembangunan), P4 (pedoman penghayatan pengamalan Pancasila), Lp2P {laporan pajak-pajak pribadi, dan P3AB (proyek percepatan pengadaan air bersih).

d. Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem. Misalnya: As (asisten), Ny. (Nyonya), Okt (Oktober), Abd (Abdul), dan pum (pumawirawan).

e. Pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir dari sebuah leksem. Misalnya: Ir (insinyur), Fa (Firma), Jo (juncto), dan Pa (perwira).

Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata. Wujud pemendekannya dapat berupa penge­kalan huruf huruf pertama berupa pengekalan suku-suku kata dari gabungan leksem, atau bisa juga secara tak beraturan.

Pemendekan merupakan proses yang cukup produktif, dan terdapat hampir pada semua bahasa. Produktifnya proses pemendekan ini adalah karena keinginan untuk menghemat tempat (tulisan), tentu juga ucapan.

Dalam bahasa Indonesia pemendekan ini menjadi sangat produktif adalah karena bahasa Indonesia seringkali tidak mempunyai kata untuk menyatakan suatu konsep yang agak pelik atau sangat pelik.

Keproduktifan pemendekan ini dalam Bahasa Indonesia tampak juga dari adanya bentuk yang sudah merupakan hasil pemendekan dipendekkan lagi karena bentuk yang sudah merupakan kependekan itu diberi deskripsi lagi, sehingga menjadi bentuk yang cukup panjang, dan karena itu pedu dipendekkan lagi.

· Produktivitas Proses Morfemis

Yang dimaksud dengan produktivitas dalam proses morfemis ini adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi digunakan berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas; artinya, ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut. Proses inflektif atau paradigmatis karena tidak membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasamya, trdak dapat dikatakan proses yang produktif. Proses inflektif bersifat tertutup.

Proses derivasi bersifat terbuka. Artinya penutur suatu bahasa dapat membuat kata kata baru dengan aroses tersebut. Proses derivasi adalah produktif, sedangkan proses infleksi tidak produktif.

Namun, perlu diketahui ke produktifan proses derivasi ini, dan penambahan alternan –alternan baru pada daftar derivasional, dibatasi oleh kaidah-kaidah yang sudah ada. Misalnya pembentukan kata baru dengan prefiks memper- terbatas pada dasar ajektival dan dasar nu­meral; dan tidak dapat ada dasar verbal

Selain itu perlu juga di perhatian, meskipun kaidah mengizinkan untuik terbentuknya suatu kata, namun dalam kenyataan berbahasa bentuk-bentuk tersebut tidak terdapat.

Tidak adanya sebuah bentuk yang seharusnya ada. Fenomena ini terjadi karena adanya bentuk lain yang menyebabkan tidak adanya betnuk yang dianggap seharusnya ada.

Dalam bahasa Indonesia yang ada tampaknya bukan kasus bloking, melainkan ”persaingan” antara kata derivatif dengan bentuk atau konstruksi frase yang menyatakan bentuk dasar dengan maknanya.

Bentuk-bentuk yang menurut kaidah gramatikal dimungkinkan keberadaannya, tetapi ternyata tidak pernah ada, seperti mencatikan dan memisau di atas disebut bentuk yang potensial yang pada suatu saat kelak mungkin dapat muncul Sedangkan bentuk-bentuk yang nyata ada, seperti bentuk menjelekkan dan bersepeda disebut bentuk-bentuk aktual.

· Morfofonemik

Morfofonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi, atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi maupun komposisi.

Perubahan fonem dalam proses merfofonemik ini dapat ber­wujud: (1) pemunculan fonem (2) pelesapan fonem (3) peluluhan fonem, (4) perubahan fonem, dan (5) pergeseran fonem. Pemunculan fonem dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan prefiks me- dengan bentuk dasar baca yang menjadi membaca; di mana terlihat muncul konsonan sengau /m/ Juga dalam proses pengimbuhan sufiks -an dengan bentuk dasar hari yang menjadi /hariyan / di mana terlihat ­muncul konsonan /y/ yang semula tidak ada. Pelesapan fonem dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan akhiran wan pada kata sejarah di mana fonem /h/ pada kata sejarah itu menjadi hilang; juga dalam proses penggabungan kataanak dan partikel -nda di mana fonem /k/ pada kata anak menjadi hilang dan juga dalam pengimbuhan dengan prefiks ber- pada kata renang di mana fonem /r/ dan prefiks itu dihilangkan.

Proses peluluhan fonem dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me- pada kata sikat di mana fonem /s/ pada kata sikat itu diluluhkan dan desenyawakan dengan bunyi nasal /ny/ dan prefiks tersebut.

Proses perubahan fonem dapat kita lihat pada proses pengimbuhan prefiks ber- pada kata ajar di mana fonem /r/ dari prefiks itu berubah menjadi fonem /l/.

Proses pergeseran fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel yang lam biasanya ke silabel berikutnya dalam prose pengimbuhan sufiks /an/ pada kata jawab di mana-fonem /b/ yang semula berada pada silabel /wab/ pindah kesilabel /ban/.

Seperti tampak dari namanya, yang merupakan gabungan dari dua bidang studi yaitu morfologi dan fonologi, atau morfoiogi dan fonemik, bidang kajian morfonologi atau morfofonemik ini, meskipun biasanya dibahas dalam tataran morfologi, tetapi sebenamya lebih banyak menyangkut masalah fonologi. Kajian ini tidak dibicarakan dalam tataran fonologi karena masalahnya baru muncul dalam kajian morfologi terutama dalam proses afiksasi reduplikasi dan komposisi. Masalah morfofonemik ini terdapat hampir pada semua bahasa yang mengenal proses-proses morfologis.

Iklan
 

2 Responses to “Rizal Listyo Mahardhika;1402408125”

  1. Santi Widi Astuti Says:

    Menurut pendapat saya hasil tulisan dari Anda sudah baik, karena mudah untuk dipahami. Namun, saya ada beberapa pertanyaan untuk Anda:
    1. Jelaskan dan sebutkan perbedaan morf dan alomorf !
    2. Bagaimana proses pembentuka kata, menurut penjelasn Anda?
    3. Jelaskan pengertian morfem menurut bahasa Anda sehari-hari!

  2. Santi Widi Astuti Says:

    Menurut pendapat saya Anda sudah meresum dengan baik sehingga mudah untuk dipelajari. Ada beberapa hal yang ingin saya ketahui dari Anda, maka saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk Anda:
    1. Jelaskan pengertian dari morfem menurut bahasa Anda sendiri!
    2. Coba Anda jelaskan tentang proses pembentukan kata secara terperinci!
    3. Menurut Anda adakah perbedaan antara morf dan alomorf? Apabila ada tolong sebutkan dan jelaskan!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s