Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

M. Aris Asofi;1402408165 Oktober 19, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 3:47 pm

Nama : M. Aris Asofi

NIM : 1402408165

BAB VII

TATARAN LINGUISTIK (4) : SEMANTIK

Sematnik dengan objeknya yakni makna, berada di seluruh atau semua tataran yang bangun membangun ini : makna berada di dalam tataran fonologi, morfologi dan sintaksis. Oleh karena itu penamaan tataran untuk semantik agak kurang tapat, sebab semantik bukan satu tataran dalam arti unsur pembangun satuan lain yang lebih besar melainkan merupakan unsur yang berada semua tataran itu.

Semantik tidak lagi menjadi objek periferal, melainkan menjadi objek yang setaraf dengan bidang-bidang studi linguistic lainnya.

1. Hakikat Makna

Menurut de Saussure setiap tanda linguistic atau tanda bahasa terdiri dari 2 komponen yaitu:

§ Komponen signifian (yang mengartikan)

Wujudnya berupa runtunan bunyi.

§ Komponen signifie (yang diartikan)

Wujudnya berupa pengertian atau konsep.

Ferdinand de Saussure mengembangkan bahwa makna adalah ‘pengertian’ atau ‘konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistic. Hal ini berarti bahwa makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya.

Contoh:

§ Adik jatuh dari sepeda.

§ Dia jatuh dalam ujian yang lalu.

§ Kalau harganya jatuh lagi, kita akan bangkrut

§ Dia jatuh cinta pada adikku.

2. Jenis Makna

A. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. Dengan kata lain, makna lesikal adalah makna ya sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.

Contoh:

§ kuda memiliki makna leksikal ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’

§ pinsil bermakna leksikal ‘sejenis alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang’

Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi. Misalnya, dalam proses afiksasi prefk ber-

§ dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal ‘mengenakan atau memakai baju’

§ dengan dasar kuda melahirkan makna gramatikal ‘mengendarai kuda’

Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada didalam satu konteks. Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu.

Contoh:

§ Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.

§ Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.

§ tiga kali empat berapa?

§ Apabila dilontarkan pada anak SD,tentu dijawab “dua belas”. Kalau dijawab lain, maka jawaban itu pasti salah.

§ Kalau dilontarkan pada tukang foto di tokonya,maka akan dijawab “lima ratus”, mungkin juga “ tujuh ratus”. Mengapa bisa begitu, sebab pertanyaan itu mengacu pada biaya pembuatan pasfoto yang berukuran tiga kali empat centimeter.

B. Makna Refensial dan Non-refensial

Makna refensial adalah makna sebuah kata atau leksem kalau ada refernsnya, atau acuannya. Sebaliknya kalau tidak ada refernsnya atau acuannya, berarti Non-refensial.

Berkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata diektik, yaitu kata yang acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu keada maujd yang lain.

Yang termasuk kata-kata deiktik yaitu: dia, saya, kamu, di sini, di sana, di situ, sekarang, besok, nanti, ini, itu.

C. Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi, makna denotatif ini sebenarnya sama dengan makna leksikal.

Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.

Contoh:

Kata kurus, ramping, dan kerempeng itu dapat disimpulkan, bahwa ketiga kata itu secara denotatif mempunyai maknayang sama atau bersinonim, tetapi ketiganya memiliki konotasi yang tidak sama; kurus berkonotasi netral, ramping berkonotasi positif, dan kerempeng berkonotasi negatif.

D. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna refensial, yaitu makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun.

Misalnya, kata rumah memiliki makna konseptual ‘bangunan tempat tinggal manusia.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenan dengan adanya hubungan kata itu dengan suatu yang berada diluar bahasa.

Contoh:

§ Kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.

§ Kata merah berasosiasi dengan ‘berani’

Makna asosiatif ini sebenarnya sama dengan lambang atau perlambang yang digunakanoleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan konsep lain, yang mempunyai kemiripan dengan sifat, keadaan, atau ciri yang ada pada konsep asal kata atau laksem tersebut.

E. Makna Kata dan Makna Istilah

Dalam pengunaan makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Oleh karana itu dapat dikatakan bahwa makna kata masih bersifat umum, kasar, dan tidak jelas.

Kata tangan dan lengan sebagai kata, maknanya lazimdianggap sama, seperti pada contoh berikut:

§ Tangannya luka kena pecahan kaca.

§ Lengannya luka kena pecahan kaca.

Jadi, kata tangan dan lengan pada kedua kalimat diatas adalah bersinonim, atau bermakna sama.

Berbeda dengan kata, Istilah mempunyai makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks, sedangkan kata tidak bebas konteks. Istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.

Misalnya, kata tangan dan lengan itu dalam bidang kedokteran mempunyai makna yang berbeda.

§ Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan.

§ Lengan bermakna bagian dari pergelangan sampai ke pangkal bahu.

Jadi, kata tangan dan lengan sebagai istilah dalam ilmu kedokteran tidak bersinonim, karena maknanya berbeda.

F. Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ‘diramalkan’ dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Idiom dibedakan menjadi dua macam, yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Yang dimaksud idiom penuh adalah idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga maknanya berasal dari seluruh kesatuan itu. Contohnya, membanting tulang, menjual gigi, dan meja hijau. Sedangkan idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya, daftar hitam yang bermakna ‘daftar yang memuat nama-nama orang yang diduga atau dicurigai berbuat kejahatan’.

Berbeda dengan idiom yang maknanya tidak dapat diramalkan, maka yang disebut peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditrlusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Misalnya, peribahasa seperti anjing dengan kucing yang bermakna ‘dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’. Makna ini berasosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersua memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.

3. Relasi Makna

Yang dimaksud dengan relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lainnya. Relasi makna ini biasanya membicarakan tentang sinonim, antonim, polisemi, homonimi, hiponimi, ambiguiti, dan redundasi.

A.Sinonim

Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantic yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar. Relasi sinonimi ini bersifat dua arah. Maksudnya, kalau satu satuan ujaran A bersinonim dengan satuan ujaran B, maka satuan ujaran B itu bersinonim dengan satuan ujaran A.

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama.ketidaksamaan itu terjadi karena berbagai faktor, antara lain: faktor waktu, faktor tempat atau wilayah, faktor keformalan, faktor sosial, bidang kegiatan, faktor nuansa makna.

B. Antonim

Antonim atau antinimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran

yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonimi itu dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain:

§ -Antonimi yang bersifat mutlak, ~ kata hidup dan mati berantonimi secara mutlak.

§ -Antonimi yang bersifat relatif atau bergradasi, ~ kata besar dan kecil.

§ -Antonimi yang bersifat relasional, ~ kata suami dan istri.

§ -Antonimi yang bersifat hierarkial, ~ kata tamtama dan bintara.

Antonimi majemuk yaitu satuan ujaran yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu. Misalnya, kata berdiri dapat berantonim dengan kata duduk, tidur, tiarap, jongko, dan bersila.

C. Polisemi

Sebuah kata disebut polisemi kalau kata itu mempunyai makna lebih dari satu, biasanya makna pertama (yang didaftarkan di dalam kamus) adalah makna sebenarnya,. Yang lain adalah makna-makna yang dikembangkan berdasarkan salah satu komponen makna yang dimiliki kata satuan ujaran itu.

Contoh:

§ Kepalanya luka kena pecahan kaca.

§ Kepala surat biasanya berisi nama dan alamat kantor.

§ Kepala kantor itu paman saya.

§ Kepala jarum itu terbuat dari plastic.

D. Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya kebetulan sama, maknanya berbeda karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan, dan tidak berhubungan seperti polisemi. Misalnya, antara kata bisa yang berarti ‘racun ular’ dan kata bisa yang berarti ‘sanggup’.

Pada homonimi ini ada istilah homofoni dan homografi. Yang dimaksud homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaannya, apakah ejaannya sama ataukah berbeda. Contoh, bisa berarti ‘racun’ dan bisa berarti ‘sanggup’. Bank ‘lembaga keuangan’ dan bang ‘kakak laki-laki’.

Sedangkan istilah homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Misalnya, memerah yang berarti ‘melakukan perah’ dan memerah yang artinya ‘menjadi merah’.

E. Hiponimi

Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Misalnya, antara kata merpati dan kata burung, makna kata merpati tercakup dalam makna burung, dapat dikatakan merpati adalah burung, tetapi burung bukan hanya merpati, bisa saja perkutut, beo, dan cendrawasih.

Relasi hiponimi bersifat searah, bukan dua arah, sebab kalau merpati berhiponim dengan burung, maka burung bukan berhiponim dengan merpati, melainkan berhipernim. Dengan kata lain, kalau merpati adalah hiponim dari burung, maka burung adalah hipernim dari merpati.

F. Ambiguiti atau Ketaksaan

Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tafsiran gramatikal yang berbeda ini umumnya terjadi pada bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis unsur suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat. Misalnya, buku sejarah baru dapat ditafsirkan menjadi:

§ Buku sejarah itu baru terbit.

§ Buku itu memuat sejarah zaman baru.

Kemungkinan makna 1 dan 2 itu terjadi karena kata baru yang ada dalam konstruksi itu, dapat dianggap menerangkan frase buku sejarah,dapat juga dianggap hanya menerangkan kata sejarah.

G. Redundasi

Redundasi biasa diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya kalimat Bola itu ditedang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila Bola itu ditendang Dika. Jadi, tanpa mengguanakan preposisi oleh, penggunaan kata oleh inilah yang dianggap redundans.

  1. Perubahan Makna

Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak dapat berubah, tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa yang relatife singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah, tetapi dalam waktu yang relatife lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:

Perkembangan dalam ilmu dan teknologi.

Perkembangan social budaya

Perkembangan pemakaian kata.

Pertukaran tanggapan indra.

Adanya asosiasi.

  1. Medan Makna dan Komponen Makna

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata-kata yang berada dalam satu medan makna atau satu medan leksikal. Sedangkan usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsur-unsur makna yang dimilikinya disebut analisis komponen makna.

A. Medan Makna

Yang dimaksud dengan medan makna adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Misalnya, nama-nama warna, nama-nama perabot rumah tangga, atau nama-nama perkerabatan.


H. Komponen Makna

Yang dimaksud dengan komponen makna yaitu makna yang dimiliki oleh setiap kata itu yang terdiri dari sejumlah komponen, yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Misalnya, kata ayah memiliki komponen makna /+manusia/, /+dewasa/, /+jantan/, /+kawin/, dan /+punya anak/

I. Kesesuaian Semantik dan Sintatik

Analisis persesuaian semantik dan sintaktik ini tentu saja harus memperhitungkan komponen makna kata secara lebih terperinci, agar dalam membuat kalimat, kalimat tersebut sama-sama dapat diterima.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s