Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Khairulia Lutfiyani;1402408332 Oktober 19, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 3:34 pm

Nama : Khairulia Lutfiyani

NIM : 1402408332

BAB II

LINGUISTIK SEBAGAI BAHASA

1. Keilmiahan Linguistik

Pada dasarnya setiap ilmu termasuk juga ilmu linguistik, telah mengalami tiga tahap perkembangan sebagai berikut.

Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Dalam tahap ini, pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan di­ lakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan, prosedur-prosedur tertentu.

Tahap kedua, adalah observasi dan klasifikasi, Pada tahap ini para ahli dibidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

Tahap ketiga, adalah tahap adanya perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dalam disiplin itu dirumuskan hipotesis atau hipotesis-hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Ketidakspekulatifan dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu ciri keilmiahan. Tindakan tidak spekulatif dalam kegiatan ilmiah berarti tindakan itu dalam menarik kesimpulan atau teori harus didasarkan pada data empiris, yakni data yang nyata ada, yang didapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi.

Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan fata empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifrkasikan. Lalu, titarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu. esimpulan ini biasanya disebut kesimpulan induktif. Kemudian kesimpulan ini ”diuji” lagi pada data empiris yang diperluas. Bila dengan data empiris baru ini kesimpulan itu tetap berlaku, maka kesimpulan itu berarti semakin kuat kedudukannya. Apabila data baru itu tidak cocok dengan kesimpulan itu, maka berarti kesimputan itu menjadi goyah kedudukanya. Jadi, perlu diwaspadai dan direvisi.

Secara deduktif adalah kebalikannya Artinya, suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasar­kan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum yang lazim disebut premis mayor, yang dipakai untuk menarik kesimpulan deduktif itu.

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik sering juga disebut sebagai ilmu nomotetik.

Bahwa linguistik mendekati bahasa, yang menjadi objek kajiannya, bukan sebagai apa-apa, melainkan hanya sebagai bahasa. Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini, sejaian dengan ciri-ciri hakiki bahasa seperti yang akan diuraikan dan dapat dijabarkan dalam sejurriiah konsep sebagai berikut :

Pertama, karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya bagi linguistik bahasa lisan adalah yang primer sedangkan bahasa tulis hanya sekunder.

Kedua, karena bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada, bahasa lain.

Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik men­dekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya mempunyai jaring­an hubungan.

Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan, atau sebagai sistem itu, disebut pendekatan struktural. Lawannya, disebut pendekatan atomistis, yaitu yang melihat ”Bahasa sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, yang berdiri sendiri-sendiri.

Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Lalu, karena itu pula, linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronik dan secara diakronik. Secara sinkronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada masa waktu atau kurun waktu yang tertentu atau terbatas. Studi sinkronik ini bersifat deskriptif karena tinguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pada kurun wakiu yang terbatas itu. Secara diakronik, artinya, mempelajari bahasa dengan pelbagai aspeknya dan perkem­bangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu. Studi bahasa secara diakronik lazim juga disebut studi historis komparatif. Dengan memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang tidak statis, maka linguistik mempunyai pandangan bahwa apa yang telah dirumuskan oieh para ahli terdahulu tentang bahasa belum tentu berlaku untuk masa sekarang atau masa yang akan datang.

Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif dan tidak secara preskriptif.

1. Subdisiplin Linguistik

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin) atau cabang-cabang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah-masalah lain.

Demikian puia dengan linguistik. Mengingat bahwa objek lingu­istik yaitu bahasa merupakan fenomena yang tidak dapat dileoaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat, sedangkan kegiatan itu, sangat luas, maka subdisiplin atau cabang linguistik itu pun menjadi sangat banyak.

a. Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannyas dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro (dalam kepustakaan lain disebut mikrolinguistik dan makrolinguistik)

Liguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya. Sejalan dengan adanya subsistem bahasa, maka dalam linguistik mikro ada subdisiplin linguistik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Fonologi menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa cara terjadinya, dan fungsinya dalam sistem kebahasaan secara keseluruhan. Morfologi menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya. Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain di atas kata hubungan satu dengan lainnya, serta cara penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran

Semantik menye­lidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal gramatikal maupun kontekstual. Sedangkan leksikologi menyelidiki leksikon atau kosa kata suatu bahasa dari berbagai aspeknya.

Sedangkan linigustik makro, yang menyelidiki bahasa dalam kaitan­nya dengan faktor-faktor di luar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar-bahasanya itu daripada struktur internal bahasa.

Dalam berbagai buku teks biasanya kita dapati subdisiplin seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, antro­polinguistik, etnolinguistik, stilistika, filologi, dialektologi, fitsafat ba­hasa, dan neurolonguistik. Semua subdisiplin itu bisa bersifat teoretis maupun bersifaf terapan.

Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Sosiolinguistik ini merupakan ilmu interdisipliner antara sosiologi dan linguistik.

Antropolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasadengan budaya dan pranata budaya manusia. Stilistika adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra.

Filologi adalah subdisiplin linguistik yang, mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat daiam bahan-bahan tertulis.

Filsafat bahasa merupakan subdisiplin linguistik yang mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Dalam filsafat bahasa ini terlibat ilmu linguistik dan ilmu filsafat.

Dialektologi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

b. Berdasarkan tujuan, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori atauhkah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakanadanya linguistik teoretis dan linguistik terapan.

Linguistik teoretis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu, Jadi, kegiat­annya hanya untuk kepentingan teori belaka. Berbeda dengan linguistik teoretis, maka linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor­-faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat.

2. Analisis Linguistik

a. Struktur, Sistem dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dalam bukunya Course de Linguistique Generale (terbit pertama kali 1916, terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit 1988) membe­dakan adanya dua jenis hubungan arau relasi yang terdapat antara satuan­-satuan bahasa yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiatif. Yang dimaksud dengan relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkret tertentu; sedangkan relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat

Firth seorang linguis Inggris, menyebut hubungan yang bersifat sintagmatik itu dengan istilah struktur, dan hubungan paradigmatik itu dengan istilah sistem. Menurut Verhaar (1978) istilah struktur dan sistem ini lebih tepat untuk digunakan. Mengapa? Karena istilah tersebut dapat digunakan atau diterapkan pada semua tataran bahasa, yaitu tataran fonetik, fonologi, morfologi sintaksis juga pada tataran leksikon.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear. Hubungan antara bagian­bagian kalimat tertentu dengan kalimat lainnya kita sebut sistem.

Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis menurut susunan alofonis, menurut susunan morfemis, dan menurut susunan sintaksis.

Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi, yang merupakan istilah utama dalam analisis bahasa menurut model strukturalis Leonard Bloomfield (tokoh linguis Amerika de­ngan bukunya Language, terbit 1933), adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu. konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.

b. Analis Bawahan Langsung

Analisis bawahan langsung, sering disebut juga analisis unsur langsung, atau analisis bawahan terdekat (Inggrisnya Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur­-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa. Entah satuan kata, satuan frase satuan klausa maupan satuan kalimat.

3. Manfaat Linguistik

Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karva-karya sastra dengan lebih baik sebab bahasa yang menjadi objek penelitian linguistik itu merupakan wadah pelahiran karya sastra.

Bagi guru terutama guru bahasa, pengetahuan linguistik sangat penting, mulai dari subdisiplin fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi, sampai dengan pengetahuan mengenai hubungan bahasa dengan kemasyarakatan dan kebudayaan.

Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik saja, tetapi juga yang berkenaan dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik.

Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperlukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya.

Pe ngetahuan linguistik juga memberi manfaat bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks. Pengetahuan linguistik akan memberi tuntunan bagi penyusun buku teks dalam menyusun kalimat yang tepat, memilih kosa kata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku tersebut.

Adakah manfaat linguistik bagi para negarawan atau politikus? Ya tentu saja ada. Pertama, sebagai negarawan atau politikus yang harus memperjuangkan ideologi dan konsep-konsep kenegaraan atau pemerintahan, secara lisan dia harus menguasai bahasa dengan baik. Kedua, kalau politikus atau negarawan itu menguasai masalah linguisiik dan sosiolinguistik, khususnya, dalam kaitannya dengan kemasyara­katan, maka tentu dia akan dapat meredam dan menyelesaikan gejolak sosial yang terjadi dalam masyarakat akibat dari perbedaan dan perten­tangan bahasa. Di beberapa negara yang multilingual, seperti India dan Belgia, pemah terjadi bentrokan fisik akibat masalah pertentangan bahasa. Sayang sekali, kalau hanya masalah bahasa, orang harus bentrok secara fisik.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s