Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Donny Setyo P;1402408196 Oktober 19, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 3:30 pm

Nama : Donny Setyo P

NIM : 1402408196

BAB VIII

SEJARAH ALIRAN LINGUISTIK

1.1. Linguistik Tradisional

Dalam pendidikan formal ada istilah kata tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural. Kedua jenis tata bahasa ini banyak dibicarakan orang sebagai 2 hal yang bertentangan.Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantic sedangkan tata bahasa structural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu.

Berikut ini akan dijelaskan bagaimana terbentuknya tata bahasa tradisional dari zaman per zaman, mulai zaman Yunani sampai masa menjelang munculnya linguistic modern di sekitar akhir abad ke-19.

8.1.1. Liguistik Zaman Yunani

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis waktu itu adalah pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomaly.

Para filsuf Yunani mempertanyakan, apakah bahasa itu bersifat alami (fisis) atau bersifat konvensi (nomos). Bersifat alami maksudnya bahasa itu mempunyai asal – usul, sumber dalam prinsip – prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri.

Bahasa bersifat konvensi maksudnya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

Pertentangan analogi dan anomaly menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur dan tidak teratur. Kaum analogi antara lain, Plato dan Aristoteles, berpendapar bahwa bahasa itu bersifat teratur, karena itulah orang dapat menyusun tata bahasa. Sebaliknya, kelompok anomaly berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur.

Dari studi bahasa pada zaman Yunani ini kita mengenal nama beberapa kaum atau tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahas ini.

8.1.1.1. Kaum Sophis

Salah seorang kaum Sophis, yaitu Protogores, membagi kalimat menjadi kalimat narasi, kalimat Tanya, kalimat jawab, kalimat perintah, kalimat laporan, doa, dan undangan.

8.1.1.2. Plato (429 – 347 S.M.)

Plato yang hidup sebelum abad masehi itu dalam study bahasa terkenal, antara lain, karena :

§ Dia memperdebatkan analogi da anomaly dalam bukunya Dialoog.

§ Dia menyodorkan batasan bahasa.

§ Dialah orang yang pertama kali membedakan kata dalam onoma dan rhema.

8.1.1.3. Aristoteles ( 384 – 322 S.M. )

Aristoteles adalah seorang murid plato. Dalam study bahasa dia terkenal, antara lain, karena :

§ Dia menambahkan satu kelas kata lagi yang dibuat gurunya, Plato, yaitu dengan syndesmoi.

§ Dia membedakan jenis kelamin kata ( atau gender ) menjadi tiga, yaitu maskulin, feminin, dan neutrum.

8.1.1.4. Kaum Stoik

Kaum Stoik terkenal, antara lain, karena :

§ Mereka membedakan study bahasa secara logika dan study bahasa secara tata bahasa.

§ Mereka menciptakan istilah – istilah khusus untuk study bahasa.

§ Mereka membedakan 3 komponen utama dari study bahasa.

§ Mereka membedakan legein.

§ Mereka membagi jenis kata menjadi 4, yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi, dan arthoron.

§ Mereka membedakan adanya kata kerja komplit dan kata kerja tak komplit, srta kata kerja aktif dan kata kerja pasif.

8.1.1.5. Kaum Alexandrian

Kaum Alexandrian menganut paham analogi dalam study bahasa. Dari mereka kita mewarisi sebuah buku tata bahasa yang disebut Tata Bahasa Dionysius Thrax. Buku inilah yang kemudian dijadikan model dalam penyusunan buku tata bahasa Eropa lainnya.

8.1.2. Zaman Romawi

Studi bahasa pada zaman Romawi dapat dianggap kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal, antara lain, Varro ( 116 – 27 S.M. ) dengan karyanya De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.

8.1.2.1. Varro dan De Lingua Latina

Dalam buku De Lingua Latina masih juga memperdbatkan masalah analogi dan anomaly seperti pada zaman Stoik di Yunani. Buku ini dibagi dalam bidang – bidang etimologi dan morfologi..

§ Etimologi, adalah cabang Linguistik yang menyelidiki asal – usul kata beserta artinya.

§ Morfologi, adalah cabang linguistic yang mempelajari kata dan pembentukannya.

§ Mengenai deklinasi, yaitu perubahan bentuk kata, Varro membedakan adanya 2 macam deklinasi, yaitu deklinasi naturalis dan deklinasi voluntaris.

§ Deklinasi naturalis, adalah perubahan yang bersifa alamiah, sebab perubahan itu dengan sendirinya dan sudah berpola.

§ Deklinasi voluntaris, adalah perubahan yang terjadi secara morfologis, bersifat selektif dan manasuka.

8.1.2.2. Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Beberapa segi yang patut dibicarakan dalam buku ini antara lain :

§ Fonologi

§ Morfologi

§ Sintaksis

8.1.3. Zaman Pertengahan

Dari zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi bahasa antara lain:

§ Kaum Modistae,masih membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos dan pertentangan antara analogi dan anomaly.

§ Tata Bahasa Spekulstiva, merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin ke dalam filsafat skolastik.

§ Petrus Hispanus, bukunya berjudul Summulae Logicales.

8.1.4. Zaman Renaisans

Dianggap sebagai pembukaan abad pemikiran abad modern. Ada 2 hal yang perlu dicatat : (1) Selain menguasai bahasa Latin, sarjana – sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani dan bahasa Arab. (2) Selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani dan Arab, bahasa –bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa, dan malah j8ga perbandingan.

8.1.5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Ferdinand de Saussure dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. Masa antara lahirnya Linguistik Modern dengan masa berakhirnya zaman renainsans ada satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi bahasa. Mengenai Linguistik tradisional di atas, maka scara singkat dapat dikatakan, bahwa :

§ Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan.

§ Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain.

§ Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara preskriptif, yakni benar atau salah.

§ Persoalan kebahasaan sering kali dideskripsikan dengan melibatkan logika.

§ Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.

1.2. Linguistik Strukturalis

1.2.1. Ferdinand de Saussure

Dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale. Buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep :

a) Telaah sinkronik dan diakronik. Telaah sinkronik adalah mempelajari suatu bahasa dalam kurun waktu tertentu saja. Sedangkan telaah diakronik adalah telaah bahasa sepanjang masa, atau sepanjang bahasa itu digunakan oleh para penuturnya.

b) La Langue dan La Parole. Yang dimaksud La Langue adalah keseluruhan system tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak. Sedangkan La Parole adalah pemakaian atau realisasi Langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa.

c) Signifiant dan Signifie. Significant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita. Sedangkan Signifie adalah pebgertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita.

d) Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik. Hubungan Sintagmatik adalah hubungan diantara unsure-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear. Sedangkan hubungan paradigmatic adalah hubungan antara unsure-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsure-unsur sejenis yang tidak uerdapat dalam tuturan yang bersangkutan.

1.2.2. Aliran Praha

Aliran Praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah sorang tokohnya, yaitu Vilem mathesius (1882-1945).Dalam bidang Fonologi aliran Praha inilah yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Aliran Praha ini juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut morfonologi, bidang yang meneliti struktur fonologis morfem. Dalam bidang sintaksis, Vilem Mathesius mencoba menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional. Menurut pendekatan ini kalimat dapat dilihat dari struktur formalnya dan juga dari stuktur informasinya yang terdapat dalam kalimat yang bersangkutan. Struktur informasi menyangkut unsure tema dan rema. Tema adalah apa yang dibicarakan, sedangkan rema adalah apa yang dikatakan mengenai tema.

1.2.3. Aliran Glosematik

Aliran Glosematik lahir di Denmark. Tokohnya, antara lain, Louis Hjemslef (1899-1965), yang meneruskan ajaran Ferdinand de Sausure. Menurut Hjemslev teori bahasa haruslah bersifat sembarang saja, artinya harus merupakan suatu system deduktif semata-mata. Teori itu harus dapat dipakai secara tersendiri untuk dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang timbul dari premis-premisnya. Hjemslev menganggap bahasa itu mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi dan segi isi.

1.2.4. Aliran Firthian

Nama John R. firth (1890-1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Fonologi Prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada tiga macam pokok prosodi:

a) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem,

b) Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda,

c) Prosodiyang realisasi fonetinya melampaui satuan yang lebih besar daripada fonem – fonem suprasegmental.

Firth juga terkenal dengan pandangannya mengenai bahasa. Firth berpendapat bahwa bahasa harus memperhatikan komponen sosiologis.

1.2.5. Linguistic Sistemik

Nama aliran linguistic sistemik tidak dapat dilepaskan dari nama M.A.K. Halliday yaitu salah seorang murid firth yag mengembangkan teori firth mengenai bahasa, khususnya yang berkenaan denga segi kemasyarakatan bahasa.

Pokok-pokok pandangan sistemik linguistic adalah

a. SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyrakatan bahasa.

b. SL memandang bahasa sebagai pelaksana

c. SL lebuh mengutamakan pemerian cirri-ciri bahasa tertentu beserta fariasi-fariasi

d. SL mengenal adanyagradasi atau kontinum.

e. SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa. Yaitu :

ü Substansi adalah bunyi yang kita ucapkan waktu kita berbicara, dan lambang yang kita gunakan waktu kita menulis.

ü Forma adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna.

ü Situasi meliputi tesis, situasi langsung, dan situasi luas.

1.2.6. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Nama Leonard Bloomfield (1877 – 1949) terkenal karena bukunya yang berjudul languange (1933). Nama struktural lebih dikenal kepada aliran linguistik yang dikembangkan Bloomfield dan kawan-kawannya di Amerika. Ada beberapa faktor yang menyebankan aliran ini berkembang pesat yaitu :

Ø Pertama, banyaknya bahasa indian yang belum diperikan, mereka ingin memerikan bahasa indian itu dengan cara baru, yaitu secara kronik, karena cara lama kurang efektif.

Ø Kedua, Bloomfield menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat pada masa itu, yaitu Behaviorisme. Oleh karena itu, dalam memerikan bahasa aliran strukturalisme selalu mendasarkan diri pada fakta-fakta objektif yang dapat dicocokkan dengan kenyataan-kenyataan yang dapat diamati.

Ø Ketiga, diantara linguis-linguis itu ada hubungan baik, karena adanya The Linguistics Society of America, yang menerbitkan majalah Languange, sebagai wafah tempat melaporkan hasil kerja mereka.

1.2.7. Aliran Tagmentik

Dipelopori oleh Kenneth L. Pike, tokoh dari Summer of Linguistics. Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah Tagmem (berasal dari bahasa yunani yang berarti susunan).

Tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut.

1.3. Linguistic Transformational Dan Aliran – Aliran Sesudahnya

1.3.1. Tata bahasa transformasi

Dalam buku Noam Chomsky yang berjudul Syntatic Structure pada tahun 1957, dan dalam buku Chomsky yang kedua yang berjudul Aspect of the Theory of Syntax pada tahun 1965. mengembangkan model tata bahasa yaitu transformational generative grammar, dalam bahasa Indonesia dsebut tata bahasa transformasi atau bahasa generatif. Tujuan penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Bahasa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang mempunyai makna maka haruslah dapat menggambarkan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah – kaidah yang tepat dan jelas. Syarat untuk memenuhi teori dari bahasa dan tata bahasa yaitu :

1. kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat – buat.

2. tata bahasa tersebut terus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistic tertentu.

Sejalan dengan konsep language dan paroleh dari de sausure, Chomsky membedakan adanya kemampuan (kompeten) dan perbuatan berbahasa (performance). kemampuan adalah pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa mengenai bahasanya, sedangkan perbuatan berbahasa adalah pemaiakan bahasa itu sendiri dalam keadaan yang sebenarnya. Jadi objeknya adalah kemampuan. Seorang peneliti bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian besar, barangkali, belum pernah didengarnya atau dilihatnya. Kemampuan membuat kalimat – kalimat baru disebut aspek kreatif bahasa. Dengan kata lain sebuah tata bahasa hendaknya terdiri dari sekelompok kaidah yang tertentu jumlahnya, tetapi dapat menghasilkan kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.

Dalam buku Tata Bahasa Transformasi lahur bersamaan dengan terbitnya buku Syntatic Structure tahun 1957. buku ini sering disebut “ Tata Bahasa Transformasi Klasik “.Kemudian disusul aspect of the theory of syntax dalam buku ini Chomsky menyempurnakan teorinya mengenai sintaksis dengan mengadakan beberapa perubahan yang prinsipil. Tahun 1965 dikenal dengan standar teori, kemudian tahun 1972 diberi nama Extended Standard Theory, tahun 1975 diberi nama Revised Extended Standard Theory. Terakhir buku ini direvisi dengan nama Government and Binding Theory. Tata bahasa dari setiap bahasa terdiri dari 3 komponen :

1. komponen sintetik

2. komponen semantik

3. komponen fologis

Hubungan antara ketiganya adalah input pada komponen simantik adalah output dari sub komponen sintaktis yang disebut subkomponen dasar. Sedangkan input pada komponen fonologi merupakan output dari sub komponen sintaksis yang disebut subkomponen transformasi. Komponen sistaksis merupakan “sentral” dari tata bahasa,karena a)komponen inilah yang menentukan arti kalimat,dan b) komponen ini pulalah yang menggambarkan aspek kreatifitas bahasa.

1.3.2. Semantik generatif

Menjelang dasawarsa tujuh puluhan beberapa murid dan pengikut Chomsky, antara lain Postal, Lakoff, Mc. Cawly, dan Kiparsky, sebagai reak si terhadap Chomsky, memisahkan diri dari kelompok Chomsky dan membentuk aliran sendiri. Mereka kemudian dikenal dengan kaum semantik generatif. Mereka memisahkan diri karena ketidakpuasan terhadap guru mereka Chomsky. Bahwa semantik mempunyai eksistensi yang lain dari sintaksis, dan bahwa struktur batin tidak sama dengan struktur semantis. Menurut teori ini, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen, dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja.

1.3.3. Tata Bahasa Kasus

Tata bahasa kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Case for Case” tahun 1968 yang dimuat dalam buku Bach E. dan R. Harms Universal in Linguistic Theory, selain itu J. Anderson dalam bukunya The Grammar of Case (1971) dan W.L.Chafe dalam bukunya Meaning and the Structure of Languange (1970) memperkenalkan pula teori kasus yang agak berbeda. Yang dimaksud kasus dalam teori ini adalah verba dan nomina, verba sebagai predikat dan nomina sebagai argumen. Hanya saja argumen dalam teori ini disebut kasus.

Tahun 1971 Fillmore merevisi kasus menjadi :

Ø Agent, adalah pelaku perbuatan yang melakukan suatu perbuatan,

Ø Experiencer, adalah yang mengalami peristiwa psikologis,

Ø Object, adalah sesuatu yang dikenai perbuatan atau mengalami proses,

Ø Source, adalah keadaan, tempat dan waktu yang sudah,

Ø Goal, adalah keadaan, tempat dan waktu kemudian,

Ø Referential, adalah acuan.

1.3.4. Tata Bahasa Relasional

Tata bahasa ini muncul tahun 1970-an dengan tokoh-tokohnya yaitu David M. Perlmutter dan Paul M. Postal, dalam karangan mereka antara lain, Lectures on Relational Grammar (1974), “Relational Grammar” dalam Syntax and Semantics Vol. 13 (1980), dan Studies in Relational Grammar I (1983).

Menurut teori tata bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (Relational Network) yang melibatkan tiga macam maujud (entity), yaitu :

v Seperangkat simpai (nodes),

v Seperangkat tanda relasional (relational sign), dan

v Seperangkat “coordinates”.

1.4. Tentang Linguistik Di Indonesia

Pada awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa dengan tujuan untuk kepentingan melancarkan jalannya pemerintahan kolonial di Indonesia. Sesuai dengan masanya penelitian bahasa-bahasa daerah itu baru sampai pada tahap deskripsi sederhana mengenai sistem fonologi, morfologi, sintaksis serta pencatatan butir-butir leksikal beserta terjemahan maknanya dalam bahasa belanda atau bahasa eropa lainnya dalam bentuk kamus. Hasil dari para peneliti barat itu tertuang dalam buku Bibliograpgical Series terbitan KITLV Belanda yang disusun oleh Teeuw (1961), Uhlenbeck, Voorhove (1958), dan Cense (1965).

Sejak kepulangan sejumlah linguis Indonesia dari Amerika, seperti Anton M. Moeliono dan T.W.Kamil, konsep linguistik modern mulai diperkenalkan pada dunia pendidikan formal linguistik oleh kedua beliau. Namun konsep linguistik modern yang melihat bahasa secara deskriptf sukar diterima oleh para guru bahasa dan pakar bahasa Indonesia, yang tetap melihat bashasa secara prespektif atau normatif. Malah, muncul anggapan bahwa konsep linguistik modern merusak bahasa dan pendidikan bahasa. Namun awal 70-an dengan terbitnya buku Tata Bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf dan Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia karangan Sutan Takdir Ali Sjahbana yang memuat kekurangan-kekurangan tata bahasa tradisional dan kelebihan-kelebihan analisis bahasa secara struktural, mulai digunakan dalam pendidikan formal, pandangan terhadap linguistik modern juga mulai berubah.

Pada tangggal 15 November 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) yang anggotanya para linguis yang bekerja sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri maupun swasta dan lembaga kebahasaan. Tiga tahun sekali MLI mengadakan Seminar Nasional, dan banyak seminar kedaerahan yang diselenggarakan oleh pengurus komisariat di daerah. Sejak 1983 MLI menerbitkan jurnal Linguistik Indonesia. Sebelum MLI juga sudah ada majalah NUSA yang dirintis Prof. Dr. J.W.M. Verhaar SJ ada pula majalah Bahasa dan sastra serta pengajaran Bagasa dan Sastra, dan juga majalah Pembinaan Bahasa Indonesia oleh Organisasi Profesi HPBI sejak 1980.

Penelitian bahasa Indonesia juga dilakukan di luar negeri seperti di Universitas Leiden di Belanda. Di sana ada Uhlenbeck dengan kajian bahasa jawa, Voorhove, Teeuw, Rolvink, dan Grijns dengan dialek Jakartanya. Di London ada Robbins dengan kajian bahasa Sunda, begitu pula di Amerika, Jerman, Italia, Russia dan Australia.

Sebagai bahasa persatuan, Bahasa Indonesia menduduki sentral kajian Linguistik dewasa ini. Dengan banyak pakar yang menggunakan pelbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis. Secara nasional bahasa Indonesia telah mempunyai sebuah buku tata bahasa baku dan sebuah kamus besar yang disusun oleh para pakar handal. Tercatat nama Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Dardjowidjojo dan Soerdjanto yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai pelbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

Iklan
 

2 Responses to “Donny Setyo P;1402408196”

  1. pgsdunnes2008 Says:

    dari : Jayanti Werdi Nastiti ( 1402408082 )

    Mengapa pada zaman pertengahan di Eropa studi bahasa mendapat perhatian penuh terutama oleh para filsuf skolastik ?

  2. pgsdunnes2008 Says:

    Untuk : Jayanti Werdi Nastiti ( 1402408082 )

    Karena pada zaman pertengahan di Eropa bahasa Latin dipakai sebagai bahasa gereja, diplomasi, dan bahasa ilmu pengetahuan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s