Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

DIANA HARTAMI;1402408009 Oktober 19, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 3:27 pm

NAMA : DIANA HARTAMI

NIM : 1402408009

BAB 7

TATARAN LINGUISTIK (4)

SEMANTIK

Semantik dengan objeknya yakni makna yang beraa di suatu system bahasa. Apa sebenarnya makna itu, sebagai objek linguistic dan bagaimana persoalannya akan dibhas secara singkat berikut ini.

1. HAKIKAT MAKNA

Menurut Ferdinand de Saussure setiap tanda linguistic atau tanda bahasa

terdiri dari dua komponen yaitu :

a. Komponen signifian atau “yang mengartikan”

Wujudnya berupa runtutan bunyi. Misalnya tanda linguistic meja yakni berupa runtunan fonem /m/, /e/, /j/, dan /a/.

b. Komponen signifie atau “yang diartikn”

Wujudnya berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki signifian). Misalnya tanda linguistic meja signifienya berupa konsep atau makna ‘sejenis perabot kantor atau rumah tangga’.

Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau

leksem seringkali dan mungkin terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga dari acuannya. Oleh karena itu kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila sudah berada dalam konteks kalimat. Selanjutnya makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu sudah berada dalam konteks wacana atau konteks situasi.

2. JENIS MAKNA

a. Makna Leksikal, Gramatikal dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun atau makna yang ada di dalam kamus. Misalnya leksem kuda memiliki makna leksikal ‘sejenis binatang berkaki empat yang bias dikendarai’.

Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Misalnya proses afiksasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna mengenakan atau memakai baju, proses komposisi dasar sate dengan dasar ayam melahirkan makna ‘bahan’.

Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks dan situasi tertentu. Contoh :

1. Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.

2. Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.

3. Beras kepala harganya lebih mahal dari bers biasa.

4. kepala paku dan kapala jarum tidak sama bentuknya.

b. Makna Referensial dan Non-referensial

Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensinya dalam dunia nyata. Contoh kuda, merah dan gambar. Sedangkan kata-kata seperti dan, atau, dan karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna referensial karena tidak memiliki referens.

Kata deiktik adalah kata yang acuannya tidak menetap pada satu wujud. Yang termasuk kata deiktik adalah :

1. Pronomina, seperti dia, saya, dan kamu.

2. Kata-kata yang menyatakan ruang, seperti di sini, di sana dan di situ.

3. Kata-kata yang menyatakan waktu, seperti sekarang, besok dan nanti.

4. KAta penunjk, seperti ini dan itu.

c. Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotative adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem, jadi sama dengan makna leksikal. Misalnya kata kurus bermkna denotative ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal.

Makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotasi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau sekelompak orang. Kata kurus berkonotasi netral, tetapi ramping yang bersinonim denagn kurus memiliki konotasi positif, nilai rasa yang mengenakkan. Sebaliknya kerempeng berkonotasi negative.

d. Makan Konseptual dan Makna Asosiatif (Leech 1976).

Makna konseptual adalah makana yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Sama dengan makna leksikal, denotative dan referensial.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesutu yang berada di luar bahasa. Misalnya kata melati berasosiasi dengan sesuatu yan suci atau kesucian.

Makna silitika berkenaan dengan pembedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedan social atau bidang kegiatan. Misalnya kata rumh, pondok, kediaman, kondomium, istana, vila, dan wisma semuanya memberi asosiasi berbeda pada penghuninya.

Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan jenis.

Makna kolokatif berkenaan dendgan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim, sehingga kata tersebut hanya cocok untuk dipasangkan dengan kata tertentu. Misalnya tampan bersinonim dengan cantik dan indah, tetapi hanya cocok berkolokasi dengan kata yang memiliki cirri pria.

e. Makna Kata dan Makna Istilah

Makna yang dimiliki sebuah kata adalah leksikal, denotative atau konseptual. Namun dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimat atau situasinya.

Berbeda dengan kata, maka yang disebut astilah mempunyai makna yang pasti, yang jelas, tidak meragukan. Sehingga sering disebut bahwa istilah itu bebas konteks.

f. Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah suatu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun gramatikal. Contoh idiom penuh meja hijau, membanting tulang dan menjual gigi. Contoh idiom sebagian buku putih, daftar hitam dan koran kuning.

3. RELASI MAKNA

Yaitu hubungan semantic yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lain.

a. Sinonim

Yaitu hubungan semantic yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran yang lain. Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sma, karena berbagai factor, antara lain :

1. Faktor waktu, misal hulubalang dan komandan.

2. Faktor tempat dan wilayah, misal saya dan beta.

3. Faktor keformalan, misal uang dan duit.

4. Faktor social, misal saya dan aku.

5. Faktor kegiatan, misal matahari dan surya.

6. Faktor nuansa makna, misal melihat, melirik, menonton, dan mengintip.

b. Antonim atau Antonimi

Yaitu hubungan semantic antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan. Dilihat dari sifat hubungannya, antonym dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain :

1. Antonim bersifat mutlak, misal hidup dengan mati.

2. Antonim bersifat relative atau bergradasi, misal besar dengan kecil, jauh

dengan dekat.

3. Antonim bersifat relasional, munculnya yang satu diikuti yang lain.

Misal suami dan istri, penjual dan pembeli.

4. Antonim bersifat hierarkial, ujaran berada dalam satu garis jenjang.

Misal tamtama dan bintara, penjual dan pembeli.

Mungkin juga suatu ujaran memiliki pasangan antonym lebih dari satu

disebut antonym majemuk. Misal berdiri berantonim dengan duduk, tidur,

tiarap, jongkok dan bersila.

c. Polisemi

Yaitu ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu. Contoh :

1. Kepalanya luka kena pecahan kaca.

2. Kepala kantor itu bukan paman saya.

3. Kepala surat biasanya berisi nama dan alamat kantor.

d. Homonim

Yaitu dua buah kata yang bentuknya kebetulan sama tapi maknanya

berbeda.

1. Homofon

Yaitu adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran, tanpa memperhatikan ejaan. Contoh : bang dan bank, sangsi dan sanksi.

2. Homograf

Yaitu bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya, tetapi ucapan dan makna tidak sama. Contoh : teras, memerah dan mereka.

e. Hiponim

Yaitu hubungan semantic antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Contoh : burung dan merpati. Merpati termasuk burung, sedangkan burung tidak hanya merpati. Merpati berhiponim dengan burung dan burung berhipernim dengan merpati.

f. Ambiguiti atau Ketaksamaan

Yaitu gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal berbeda. Contoh :

1. buku sejarah baru ditafsirkan buku sejarah itu baru terbit atau buku itu

memuat sejarah zaman baru.

2. anak dosen yang nakal ditafsirkan anak itu yang nakal atau dosen itu

yang nakal.

4. PERUBAHAN MAKNA

Dalam masa yang relative singkat makna sebuah kata akan tetap sama, tetapi dalam waktu yang relative lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Hal ini disebabkan beberapa factor, yaitu

1. Perkembangan iptek, missal berlayar dngan makna ‘melakukan

perjalanan dengan kapal atau perahu yang digerakkan dengan tenaga layar. Namun meskipun tenaga penggeraknya diganti mesin uap kata berlayar masih tetap digunakan untuk menyebut parjalanan di air.

2. Perkembangan social budaya, missal kata saudara berartiorang yang

lahir dari kandungan yang sama. Tetapi kini digunakan sebagai kata sapaan yang diperkirakan sederajad.

3. Perkembangan pemakaian kata, misalnya dalam bidang pertanian

dikenal kata menggarap sekarang kata itu digunakan juga dalam bidang lain seperti menggarap skripsi, menggarap naskah drama.

4. Pertukaran tanggapan indra, misalnya kata pedas seharusnya dirasakan

lidah menjadi ditanggapi oleh indra pendengar seperti kata-katanya sangat pedas. Sering disebut sinestesia.

5. Adanya asosiasi, yaitu hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan

sesuatu yang lain sehingga bila disebut ujaran tersebut maka yang dimaksud adalah sesuatu yang lain yang berkenaan dengan ujaran itu. Misal makna amplop sebenarnya adalah ‘sampul surat’ tetapi bias diartikan ‘uang sogok’.

5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

a. Medan Makna

Yaitu seperangkat unsure leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Misal medan warna merah, coklat, biru, hijau, kuning, abu-abu, putih dan hitam.

b. Komponen Makna

Makna yang dimiliki setiap kata terdiri dari sejumlah komponen yang membentuk keseluruhan makna . Misal kata ayah memiliki komponen makna /+manusia/, /+dewasa/, /+jantan/, /+kawin/, /+punya anak/.

c. Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Diterima tidaknya sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal, tetapi juga semantic.

1. Kambing yang Pak Udin terlepas lagi.

Ketidakberterimaan kalimat karena kesalahan gramatikal yaitu adanya konjungsi yang antara kambing da Pak Udin.

2. Segelas kambing minum stumpuk air.

Ketidakberterimaan karena kesalahan persuasi leksikal, seharusnya seekor kambing dan segelas air.

3. Kambing itu membaca komik.

Ketidakberterimaan Karena antara kata membaca dan kambing tidak ada persesuaian semantis.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s