Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Ulfa Dewi R_1402408116_BAB 2 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 6:48 pm

BAB 2

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Atau lebih tepat seperti dikatakan Martinet (1987 : 19) telaah ilmiah tentang bahasa manusia.

1.1. Keilmiahan Linguistik

Sebelum membicarakan keilmiahan linguistik ada baiknya dibicarakan dulu tahap-tahap perkembangan yang pernah terjadi dalam setiap disiplin ilmu, agar kita bisa memahami dari suatu kegiatan yang disebut ilmiah.

Tahap Pertama, yakni tahap spekulasi. Ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.

Tahap Kedua, tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

Tahap ketiga, tahap adanya perumusan teori. Setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan, lalu dirumuskan hipotesis yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Disiplin linguistik dewasa ini sudah mengalami ketiga tahap di atas. Artinya disiplin linguistik itu sekarang ini sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah, bisa dikatakan tidak spekulatif dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu ciri keilmiahan, dan penarikan secara tidak spekulatif dalam kegiatan ini harus didasarkan pada data empiris, yakni data yang nyata, dan dapat diobservasikan.

Linguistik sangat mengutamakan data empiris dalam melaksankan penelitiannya, sebabnya bidang semantik tidak atau kurang mendapat perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna yang menjadi objek semantik tidak dapat diamati secara empiris.

Dalam ilmu logika secara induktif ada juga penalaran secara deduktif. Secara induktif, mula-mula dikumpulkan data-data khusus lalu dari data-data khusus ditarik kesimpulan umum. Secara deduktif, suatu kesimpulan mengenai data-data khusus namun kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum.

Ciri-ciri hakiki bahasa :

1. Karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi, artinya bagi linguistik bahasa lisan adalah yang primer, sedangkan bahasa tulisan hanya sekunder. Dalam studi bahasa secara tradisional, yang tidak mendekati bahasa seperti linguistik moderen, biasa kita dapati pernyataan-pernyataan seperti “kalimat adalah susunan kata-kata yang dimulai dengan huruf besar dan diakhiri dengan titik”.

2. Karena bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain. Pendekatan terhadap bahasa yang dilakukan oleh para peneliti dahulu tidak melihat bahwa setiap bahasa memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing.

3. Karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya. Linguistik dapat dipelajari bahasa secara sinkronik dan secara diakronik. Secara sinkronik artinya mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada masa dan kurun waktu yang tertentu atau terbatas, memiliki sifat deskriptif karena linguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pada kurun waktu yang terbatas.

Secara diakronik artinya mempelajari bahasa dengan pelbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu sepanjang kehidupan bahasa itu sendiri.

4. Karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif dan tidak secara preskriptif. Artinya yang penting dalam ling adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang dan bukan apa yang menurut si peneliti seharusnya diungkapkan.

1.2. Subdisiplin Linguistik

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan atau cabang-cabang yang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah-masalah lain.

Demikian pula pada linguistik mengingat bahwa obyek linguistik adalah bahasa, merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat.

Dalam berbagai buku teks linguistik mungkin akan kita dapati nama-nama subdisiplin linguistik seperti lingkungan umum, linguistik deskriptif, linguistik komparatif, dan sebagainya. Kita akan coba mengelompokkan nama-nama subdisiplin linguistik berdasarkan :

a. Objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu.

b. Obyek kajiannya adalah bahasa masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa.

c. Obyek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannya dengan berbagai faktor di luar bahasa.

d. Tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori belaka atau untuk tujuan terapan.

e. Teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

1.2.1. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus.

Ÿ Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum.

Ÿ Linguistik khusus adalah berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu/juga terhadap 1 rumpun atau sub rumpun bahasa.

1.2.2. Berdasarkan obyek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik.

Ÿ Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Maka studi linguistik sinkronik bisa disebut juga linguistik deskriptif, karena berupaya mendeskripsikan apa adanya pada suatu masa tertentu.

Ÿ Linguistik diakronik mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas, bersifat historis dan komparatif, oleh karena itu dikenal juga adanya linguistik historis komparatif. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa beserta dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya.

1.2.3. Berdasarkan obyek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro (dalam kepustakaan lain disebut mikrolinguistik dan makrolinguistik).

Morfologi menyelidiki struktur kata,bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya. Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan katanya di atas kata, hubungan satu dengan lainnya, serta penyusunan katanya sehingga menjadi satu ujaran.

Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Dibahas tentang tata cara pemakaian bahasa, berbagai akibat adanya kontak dua bahasa atau lebih, ragam serta pemakaian ragam bahasa itu.

Psikolinguistik subdisiplin linguistik yang mempelajari tentang hubungan bahasa dan perilaku, akal budi manusia.

Antropolinguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya.

Stilistika adalah mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra, ilmu interdisipliner antar linguistik dan ilmu susastra.

Filologi mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Filsafat bahasa subdisiplin linguistik mempelajari tentang kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik.

Dealektologi subdisiplin linguistik yang mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

1.2.4. Berdasarkan penyelidikannya linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoritis dan linguistik terapan.

Linguistik teori berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa / juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajian. Maka linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat.

1.2.5. Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional dan linguistik sistematik.

Di luar bidang atau cabang yang sudah dibicarakan di atas masih ada bidang lain, yaitu yang menggeluti sejarah linguistik. Bidang sejarah linguistik ini berusaha menyelidiki perkembangan seluk beluk ilmu linguistik itu sendiri dari masa ke masa serta mempelajari pengaruh ilmu-ilmu lain dan pengaruh pelbagai pranata masyarakat terhadap linguistik sepanjang masa.

1.3. Analisis Linguistik

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tatanan tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis dan semantik.

1.3.1. Struktur, Sistem dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1875 – 1913) dalam bukunya “Course de Linguistique Generale” membedakan adanya 2 jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa.

1.3.2. Analisis Bawahan Langsung

Analisis bawahan langsung sering disebut juga analisis unsur langsung adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur/konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa. Meskipun memiliki banyak kelemahan tapi analisis ini cukup memberi manfaat dalam memahami suatu satuan-satuan bahasa, dan menghindai keambiguan.

1.3.3. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Ÿ Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain.

Ÿ Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan.

1.4. Manfaat Linguistik

Seperti yang sudah disinggung linguistik akan memberikan manfaat langsung pada mereka yang berkecimpung di dunia yang berhubungan dengan bahasa. Bagi linguis sendiri pengetahuan yang luas mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam memahami karya-karya sasta dengan lebih baik. objek penelitian linguistik itu merupakan wadah pelahiran karya sastra.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s