Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Mei Susanti_1402408103_BAB 8 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 7:54 pm

Nama : Mei Susanti

NIM : 1402408103

SEJARAH DAN ALIRAN

LINGUISTIK

Studi linguistik telah mengalami tiga tahap perkembangan, yaitu dari tahap pertama yang disebut tahap spekulasi, tahap kedua yang disebut tahap observasi dan klasifikasi dan tahap ketiga yang disebut tahap teori.

8.1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Istilah tradisional dalam linguistik sering dipertentangkan dengan istilah struktural sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu. Dalam merumuskan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian.

8.1.1. Linguistik Zaman Yunani

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis pada waktu itu (1) pertentangan antara fisis dan nomos, (2) pertentangan antara analogi dan anomali.

8.1.1.1. Kaum Sophis

Kaum atau kelompok Sophis ini muncul pada abad ke-5 SM. Mereka dikenal dalam studi bahasa, antara lain karena:

a) Mereka melakukan kerja secara empiris

b) Mereka melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu

c) Mereka sangat mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa

d) Mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna

Salah seorang tokoh sophis, yaitu Protogoras, membagi kalimat menjadi kalimat narasi, kalimat tanya, kalimat jawab, kalimat perintah, kalimat laporan, doa dan undangan. Tokoh lain, Geogias membicarakan gaya bahasa seperti yang kita kenal sekarang.

8.1.1.2. Plato (429 – 347 SM)

Plato yang hidup sebelum abad Masehi itu, dalam studi bahasa terkenal, antara lain karena :

a) Dia memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya dialog. Juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konvensional.

b) Dia menyodor batasan bahasa yang bunyinya kira-kira : bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara anomata dan rhemata.

c) Dialah orang pertama kali membedakan kata dalam anoma dan rhema.

Anoma (bentuk tunggalnya anomata) dapat berarti 1) nama dalam bahasa sehari-hari, 2) nomina, nominal dalam istilah tata bahasa, (3) subjek, dalam hubungan subjek logis.

8.1.1.3. Aristoteles (384 – 322 SM)

Aristoteles adalah salah seorang murid Plato. Dalam studi bahasa dia terkenal antara lain, karena:

a) Dia menambahkan satu kelas kata lagi atas pembagian yang dibuat gurunya, Plato yaitu dengan Syndemoi. Jadi menurut Aristoteles ada 3 macam kata, yaitu anoma, rhema, dan syndesmoi. Syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis.

b) Dia membedakan jenis kelamin kata (gender) menjadi tiga yaitu maskulin, feminin dan neutrum.

8.1.1.4. Kaum Stoik

Kaum Stoik adalah kelompok ahli filsafat yang berkembang pada permulaan abad ke 14 SM.

a. Mereka membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa tata bahasa.

b. Mereka menciptakan istilah-istilah khusus untuk studi bahasa.

c. Mereka membedakan tiga komponen utama dari studi bahasa yaitu 1) tanda, simbol, sign, semainon, 2) makna, apa yang disebut, semainomen atau lekton, 3) hal-hal di luar bahasa, yakni benda atau situasi.

8.1.1.5. Kaum Alexandrian

Kaum Alexandrian menganut paham analog dalam studi bahasa. Oleh karena itulah dari mereka kita mewarisi sebuah buku tata bahasa yang disebut tata bahasa Dionysius thrax sebagai hasil menyelidik kereguleran bahasa Yunani.

8.1.2. Zaman Romawi

Studi bahasa pada zaman romawi, dapat dianggap kelanjutan dari zaman Yunani. Sejalan dengan jatuhnya Yunani dan munculnya kerajaan Romawi.

8.1.2.1. Varro dan “De Lingua Latina”

Dalam buku De Lingua Latina yang terdiri dari 25 jilid, Varro masih juga memperdebatkan masalah analogi dan anomali seperti pada zaman Stoik di Yunani.

a) Etimologi, adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal-usul kata beserta artinya.

b) Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya.

Tentang kasus kalau dalam bahasa yunani ada lima buah, maka dalam bahasa Latin menurut Varro ada 6 buah yaitu 1) nominativus, yaitu bentuk primer atau pokok, 2) genetivus yaitu bentuk yang menyatakan kepunyaan, 3) dativus yaitu bentuk yang menyatakan menerima, 4) akusativus, yaitu bentuk yang menyatakan objek, 5) vokativus yaitu bentuk sebagai sapaan atau panggilan, 6) ablativus yaitu bentuk yang menyatakan asal.

Mengenai deklinasi, yaitu perubahan bentuk kata berkenaan dengan kategori, kasus, jumlah dan jenis, Varro membedakan adanya dua macam deklinasi, yaitu deklinasi naturalis dan deklinasi voluntaris.

8.1.2.2. Institutiones Grammaticae atau tata bahasa Priscia

Beberapa segi yang patut dibicarakan mengenai buku itu, antara lain adalah:

a) Fonologi pertama-tama dibicarakan tulisan-tulisan atau huruf yang disebut litterau ini adalah bagian terkecil dari bunyi yang dituliskan.

b) Morfologi dalam bidang ini dibicarakan, antara lain mengenai dictio atau kata. Dictio adalah bagian yang minimum dari sebuah ujaran dan harus diartikan terpisah dalam makna sebagai satu keseluruhan.

c) Sintaksis, bidang sintaksis membicarakan hal yang disebut oratio, yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai.

8.1.3. Zaman Pertengahan

Dari zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi bahasa, antara lain adalah peranan kaum kaum modistae, tata bahasa spekulativa, Petrus Hispanus.

Tata bahasa spekulativa merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa Latin (seperti yang dirumuskan oleh Priscia) ke dalam filsafat skolastik.

8.1.4. Zaman Renaisans

Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern, dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman Renaisans ini yang menonjol yang patut dicatat. 1) Selain menguasai bahasa Latin sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani, dan bahasa Arab. 2) selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani, dan Arab bahasa-bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusulan tata bahasa dan malah juga perbandingan.

8.1.5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Bila kita simpulkan pembicaran mengenai linguistik tradisional, maka secara singkat dapat dikatakan:

a) Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan tulisan.

b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa Latin.

c) Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara prespektif, yaitu benar atau salah.

d) Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika.

e) Penemuan-penemuan kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.

8.2. LINGUISTIK STRUKTURALIS

8.2.1. Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure dianggap sebagai Bapak Linguistik modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale.

Lalangue dan La Parole Ferdinand de Saussure membedakan adanya apa yang disebut la langue dan la parole. La langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakjat bahasak, sifatnya abstrak. La Parole adalah pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa konkret.

8.2.2. Aliran Praha

Aliran Praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah seorang tokohnya yaitu Vilem Prokofsa salah seorang tokjohnya yaitu Vilem Mathesius (1882 – 1945). Dalam bidang fonologi aliran Praha inilah yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi.

8.2.3. Aliran Glosematik

Aliran Glose matik lahir di Denmark tokohnya antara lain, Louis Hjemslev (1899 – 1965) yang meneruskan ajaran Ferdinand de Saussure. Namanya terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain dengan peralatan, metodologis dan terminologis.

8.2.4. Aliran Firthian

Nama John F. Firth (1890 – 1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal dengan teorinya mengenai fonologi prosodi. Fonologi prosodi adalah suatu cara menentukan arti pada tataran fonetis.

8.2.5. Linguistik Sistemik

Dalam bahasa Indonesia mungkin namanya yang tepat adalah linguistik semantik. Pokok-pokok pandangan sistematika linguistik (SL) adalah:

Pertama, SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa

Kedua, SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”

Ketiga, SL mengutamakan pemberian ciri-ciri bahasa tertentu variasi-variasinya tidak atau kurang tertarik pada semestaan bahasa.

Keempat, SL mengenal adanya gradasi atau kontinum.

8.2.6. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Nama Leonard Bloomfield (1877-1949) sangat terkenal karena bukunya yang berjudul Language (terbit pertama kali tahun 1933), dan selalu dikaitkan dengan aliran struktural Amerika.

8.2.7. Aliran Tagmemik

Aliran Tagmemik dipelopoti oleh Kenneth L. Pike, seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics, yang mewariskan pandangan Bloomfield, sehingga aliran ini juga bersifat strukturalis, tetapi juga antopologis. Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem (kata ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti susunan).

Tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut.

8.3. LINGUISTIK TRANSFORMAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

Perubahan total terjadi dengan lahirnya linguistik transformasional yang mempunyai pendekatan dan cara yang berbeda dengan linguistik struktural.

8.3.1. Tata Bahasa Transformasi

Dapat dikatakan tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky berjudul Syntactic Structure pada tahun 1957, yang kemudian diperkembangkan karena adanya kritik dan saran dari beberapa pihak.

8.3.2. Semantik Generatif

Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur bersifat homogen dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja.

8.3.3. Tata Bahasa Kasus

Dalam karangannya Charles J. Fillmore yang terbit tahun 1968 itu Fillmore membagi kalimat atas (1) modalitas, berupa unsur negasi, kala, aspek, adverbia, (2) proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina.

8.3.4. Tata Bahasa Relasional

Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi.

8.4. TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Hingga saat ini studi linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap, meskipun setudi linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak.

8.4.1. Sebagai negeri yang sangat luas yang dihuni oleh berbagai suku bangsa dengan berbagai bahasa daerah yang berbeda pula, maka Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik.

8.4.2. Konsep linguistik modern yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure sudah bergema sejak awal abad xx.

8.4.3. Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya studi linguistik, yang tentu saja dibarengi dengan bermunculan linguis-linguis Indonesia.

8.4.4 Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa Indonesia banyak pula dilakukan orang di luar Indonesia.

8.4.5. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan dan bahasa negara.

Dalam kajian bahasa Indonesia di Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Dardjowidjojo, dan Soedarjanto yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai pelbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s