Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

KRISTINA MURTI ANISSA_1402408188_BAB 4 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 7:44 pm

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1) : FONOLOGI

A. Pengertian

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa.

Fonologi dibentuk dari Fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu.

Rututan bunyi bahasa dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkat-tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-hentian atau jeda yang terdapat pada runtutan bunyi tersebut.

Misal:

(1) [kedua orang itu meninggalkan ruang sidang meskipun rapat belum selesai].

Tahap pertama, runtutan bunyi disegmentasikan berdasarkan adanya jeda yang paling besar.

(1a) [kedua orang itu meninggalkan sidang] (1b) [meskipun rapat belum selesai]

Tahap kedua, segmen (1a) dan (1b) dapat disegmenkan lagi.

(1a1) [kedua orang] (1b1) [meskipun]

(1a2) [meninggalkan ruang sidang] (1b2) [rapat belum selesai]

Tahap ketiga,segmen (1a1) dan (1ba) dapat disegmenkan lagi.

(1a11) [kedua orang] (1b11) [meski]

(1a12) [itu] (1b12) [pun]

(1a21) [meninggalkan] (1b21) [rapat]

(1a22) [ruang sidang] (1b22) [belum selesai]

Tahap keempat, segmen (1a21) dapat menghadilkan silabel.

[meninggalkan] = [me], [ning], [gal], [kan]

Silabel adalah satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring.

Silabel sering disebut juga dengan suku kata.

Adanya puncak kenyaringan (sonoritas) inilah yang menandai silabel, yang biasanya ditandai dengan vokal.

B. Objek Studi Fonologi

Fonetik : yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut memiliki fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Contoh : bunyi [i] yang terdapat kata [intan], [angin], dan [batik] tidaklah sama

Fenomik : mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi tersebut sebagai pembeda makna.

Contoh : perbedaab bunyi [p] dan [b] yang terdapat pada kata [paru] dan [baru]

1. Fonetik

Ada 3 jenis fonetik, yaitu:

a) Fonetik artikulatoris/fonetik organ/fonetik fisiologis

Mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklarifikasikan.

b) Fenotik akuistik

Mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam.

c) Fenotik auditoris

Mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

a. Alat ucap

Alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa (pada fenotik artikulatoris)


Dorsal : pangkal lidah

Medial : tengah lidah

Laminal : daun lidah

Apikal : ujung lidah

Uvular : anak tekak

Dental gigi

Bibir : labial



b. Proses fonasi

Agar tercipta bunyi maka pita harus berada dalam posisi terbuka. 4 macam posisi pita suara:

Terbuka lebar : tidak akan terjadi bunyi bahasa.

Terbuka agak lebar : terjadi bunyi bahasa yaitu bunyi tak berusara (voiceless).

Terbuka sedikit : terjadi bunyi bahasa yaitu bunyi bersuara (voice).

Tertutup rapat : terjadi bunyi hamzah atau global stop.

Tempat bunyi bahasa terjadi disebut tempat artikulasi (artikulator)

Artikulator aktif : alat ucap bergerak.

Artikulator pasif : alat ucap tak bergerak

c. Tulisan fonetik

Dalam tulisan fenotik, lambang atau huruf digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Dalam tulisan fenotik, setiap bunyi, baik yang segmental maupun suprasegmental, dilambangkan secara akurat, meskipun perbedaan hanya sedikit.

d. Klarifikasi bunyi

Bunyi vokal, semuanya adalah bersuara, sebab dihasilkan dengan pita suara terbuka sekikit.

v Klasifikasi vokal.

§ Posisi lidah secara vertikal:

Vokal tinggi: (i) dan (u)

Vokal tengah: (e) dan (^)

Vokal rendah: (a)

§ Posisi lidah horizontal

Vokal depan: (i) dan (e)

Vokal pusat: (^)

Vokal belakang: (u) dan (o)

§ Bentuk mulut

Vokal bundar: (o) dan (u)

Vokal belakang: (i) dan (e)

v Diftong atau vokal rangkap

Disebut demikian karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama.

Diftong ada 2, yaitu :

a) Diftong naik: bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua.

b) Diftong turun: bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi pertama.

v Klarifikasi konsonan

Bunyi-bunyi konsonan diibedakan berdasarkan 3 patokan, yaitu: posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.

Berdasarkan tempat artikulasinya kita mengenal, antara lain, konsonan:

1) Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah, merapat pada biar atas. Antara lain (b), (p) dan (m).

2) Labiodental, yaitu konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi merapat pada bibir atas. Antara lain (f) dan (v).

3) Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi antara lain (t) dan (d).

4) Darsovelar, yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan volum atau langit-langit lunak. Antara lain (k) dan (g).

Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana hambatan yang dilakukan terhadap arus udara itu, dapat kita bedakan adanya konsonan.

1) Hambatan ( letupan, plosif, stop ) : bunyi p, b,t,d,k, dan g.

2) Geseran atau frikatif : bunyi f, s, dan z.

3) Paduan atau frikatif : bunyi c, dan j.

4) Sengauan atau nasal : bunyi m, dan n.

5) Getaran atau trill : bunyi r.

6) Sampingan atau lateral : bunyi l.

7) Hampiran atau aproksimal : bunyi w, dan y.

v Unsur Suprasegmental

Adalah bunyi yang dapat disegmentasikan di dalam arus ujaran.

1) Tekanan atau stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi, suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, asti dibarengi dengan tekanan keras, begitu juga sebaliknya.

2) Nada atau Pitch.

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi

Macam-macam nada yaitu :


a. Nada naik /

Nada datar –

Nada turun \

Nada turun naik ^

Nada turun v


b. Nada paling tinggi, angka 4

Nada tinggi, angka 3

Nada sedang, angka 3

Nada rendah, angka 1

3) Jeda atau persendian

Berkenan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.

Macam-macam sendi:

a. Sendi dalam (internal juncture)

Menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel lain. Biasanya diberi tanda (+).

b. Sendi luar (open juncture)

Menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel.

Antara lain: jeda antar kata (/)

Jeda antar frase dalam klausa (//)

Jeda antar kalimat dalam wacana (#)

v Silabel

Adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Bunyi vokal selalu menjadi puncak silabis atau kenyaringan dalam suatu silabel.

2. Fonemik

a. Identifikasi fonem

Identitas sebuah fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu saja.

· Alofon

Alofon-alofon dari sebuah fonem memiliki banyak kesamaan dalam pengucapannnya. Dimana alofon adalah rediasi dari fonem, yang konkret dalam bahasa.

Contoh: fonem (i) setidaknya memiliki 4 buah alofon, yaitu:

§ Bunyi (i) dalam kata cita

§ Bunyi (I) dalam kata tarik

§ Bunyi (i) dalam kata ingkar

§ Bunyi (i:) dalam kata kali

· Klasifikasi fenom

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut segmental. Dan fonem supra segmental atau fonem non segmental adalah fonem yang berupa unsur supra segmental.

Yang membedakan suatu konstruksi adalahkata majemuk atau bukan adalah pada tekanan itu. Kalau tekanan dijatuhkan pada unsur pertama, maka kontruksi itu adalah kata majemuk,kalau dijatuhkan pada unsur kedua maka itu bukan majemuk.

Dalam bahasa Indonesia unsur supra segmental tampaknya tidak bersifat fenomis maupun morfemis, namun intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis.

· Khazanah fenom

Adalah banyaknya fenom yang terdapat dalam satu bangsa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bangsa tidak sama jumlahnya dengan ynag dimiliki bangsa lain.

Jumlah fonem bahasa Indonesia adalah 24 buah, dimana:

6 buah fonem vokal: a, i, u, e, …. dan o

18 buah fonemkonsonan: p,t,c,k,b,d,j,g,m,n, ….s,h,r,l,w dan y

· Perubahan fenom

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya.

Macam-macam kasus perubahan fonem, antara lain:

1) Asimilasi dan disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya. Sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Kalau perubahan itu menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka perubahan itu disebut asimilasi fenomis. Jika tidak menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka disebut asimilasi fonetid atau asimilasi alomorfemis.

Macam-macam asimilasi.

a) Asimilasi progresif: bunyi yang diubah itu terletak di belakang bunyi yang mempengaruhinya.

b) Asimilasi regresif: bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang mempengaruhinya.

c) Asimilasi resipokal: perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi.

Proses disimilasi perubahan menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

2) Netralisasi dan arkifonem

Contoh dalam bahasa Belanda ada kata yang dieja “hard” keras dilafalkan /hart/. Adanya bunyi /t/ pada posisi akhir kata yang dieja hard itu adalah hasil netralisasi.

Fenom /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam peristilahan linguistik disebut arkifonem.

3) Umlaut, ablaut, dan harmoni vokal

Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo-Jerman. Untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki. Contohnya kata at ‘kuda’ bentuk jamaknya adalah atlar’kuda-kuda’. Dalam bahasa Turki harmoni vokal berlangsung dari kiri ke kanan, atau dari silabel yang mendahului ke arah silabel yang menyusul.

4) Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi informal, seringkali penutur memperpendek ujarnya. Misal tidak tahu diucapkan ndak tahu. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih ada yang berupa kontrkasi. Dalam kontrkasi, pendekatan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

5) Metatesis dan Epentesis

Metatesis mengubah urutan fenom yang terdapat dalam suatu kata. Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat dalam bahasa tersebut sebagai variasi.

Dalam proses epentesis sebuah fonem tert3entu, biasanya yang homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata.

6) Fonem dan grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda. Sedangkan yang lainnya sama.

Iklan
 

One Response to “KRISTINA MURTI ANISSA_1402408188_BAB 4”

  1. titin indrawati-1402408194 Says:

    jelaskan lebih lanjut tentang silabel dan berikan contohnya.mkasih banyak misssssss


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s