Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

IDA NUR CAHYAWATI_BAB 3 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 7:34 pm

Dalam pembicaraan mengenai bahasa tulis kita menemukan istilah:

· Huruf: istilah umum untuk graf dan grafem

· Abjad/alfabet: urutan huruf dalam suatu sistem aksara

· Graf: satuan terkecil untuk aksara yang belum ditentukan statusnya.

· Grafem: satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku kata, atau morfem

· Alograf: varian dari grafem

· Kaligrafi: seni menulis indah

· Grafiti: corat-coret di dinding, tembok, pagar, dsb dengan huruf-huruf dan kata-kata tertentu.

Ada pendapat umum yang mengatakan bahwa ejaan yang ideal adalah ejaan yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya. Ejaan bahasa Indonesia belum seratus persen ideal sebab masih ada digunakan gabungan huruf untuk melambangkan sebuah fonem.

3. 2. 1. Bahasa sebagai Lambang

Kata lambang dikaji orang dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa. Cara mengenal lambang bahasa yang berupa bunyi adalah yang dipelajari. Dalam konsep bahasa Indonesia “binatang berkaki empat yang biasa dikendarai” dilambangkan [kuda], dalam bahasa Jawa lambangnya berupa bunyi [jaran] dalam bahasa Inggris berupa bunyi [horse].

3. 2. 2. Bahasa adalah Bunyi

Yang dimaksud bunyi pada bahasa adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bunyi bahasa/bunyi ujaran adalah satuan bunyi yang dihasil oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “kau” dan di dalam fonemik sebagai fonem.

3. 2. 3. Bahasa itu Bermakna

Lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam bahasa berupa satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Makna yang berkenaan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal; yang berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat disebut gramatikal; dan yang berkenaan dengan wacana disebut makna pragmatik atau makna konteks. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa.

3. 2. 4. Bahasa itu Arbitrer

Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Misalnya antara [kuda] dengan yang dilambangkannya, yaitu “sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai”. Kita tidak dapat menjelaskan mengapa binatang tersebut dilambangkan dengan bunyi [kuda].

3. 2. 5. Bahasa itu Konvensional

Artinya semua anggota masyarakat bahasa ini mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Kalau, misalnya binatang berkaki 4 yang biasa dikendarai dilambangkan dengan bunyi [kuda] maka anggota masyarakat Indonesia, semuanya, harus mematuhinya. Kalau tidak dipatuhi dan menggantikannya dengan bahasa lain maka komunikasi akan terhambat, bahasanya menjadi tidak bisa dipahami oleh penutur bahasa Indonesia lainnya, dan berarti pula dia telah keluar dari konvensi itu.

3. 2. 6. Bahasa itu Produktif

Meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu. Umpamanya kita ambil fonem bahasa Indonesia /a/, /i/, /k/, dan /t/ maka dapat kita hasilkan satuan-satuan bahasa

/i/ – /k/ – /a/ – /t/

/k/ – /i/ – /t/ – /a/

/k/ – /i/ – /a/ – /t/

/k/ -/a/ – /t/ – /i/

3. 2. 7. Bahasa itu Unik

Setiap bahasa mempunyai ciri khas spesifik yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas itu bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat atau sistem-sistem lainnya. Jika keunikan terjadi pada sekelompok bahasa yang berada dalam satu rumpun lebih baik jangan disebut keunikan, melainkan ciri dari rumpun/golongan bahasa itu.

3. 2. 8. Bahasa itu Universal

Bahasa bersifat universal artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Hal yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan. Bahasa Indonesia mempunyai 6 vokal dan 22 konsonan, bahasa Arab mempunyai 3 vokal pendek dan 3 vokal panjang serta 28 konsonan, bahasa Inggris mempunyai 16 vokal dan 24 konsonan.

3. 2. 9. Bahasa itu Dinamis

Karena keterikatan dan keterkaitan manusia itu dengan bahasa, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis.

3. 2. 10. Bahasa itu Bervariasi

Dalam bahasa terdapat istilah idialek, dialek, dan ragam. Idialek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Contohnya ciri khas bahasa Hamka, Sutan Takdir Alisjahbana, Haming Way, atau Mark Twain. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu tertentu. Misalnya bahasa Jawa dialek Banyumas, Tegal, Surabaya, dsb. Ragam adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu. Contohnya ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa jurnalistik, ragam bahasa sastra, ragam bahasa militer, ragam bahasa hukum.

3. 2. 11. Bahasa itu Manusiawi

Artinya adalah bahasa itu hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

3. 1. Bahasa dan Faktor Luar Bahasa

3. 3. 1. Masyarakat Bahasa

Masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Secara linguistik bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia adalah bahasa yang sama, karena kedua bahasa itu banyak sekali persamaannya, sehingga orang Malaysia dapat mengerti dengan baik bahasa Indonesia, juga sebaliknya. Namun orang Indonesia tidak merasa berbahasa Malaysia, dan orang Malaysia tidak pula merasa berbahasa Indonesia.

3. 3. 2. Variasi dan Status Sosial Bahasa

Ada dua macam variasi bahasa: variasi bahasa tinggi (variasi bahasa T) dan variasi bahasa rendah (variasi bahasa R). Variasi T perlu dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah dan digunakan dalam situasi-situasi resmi, seperti pidato kenegaraan, bahasa pengantar dalam pendidikan, khotbah dsb. Variasi R dipelajari langsung dari masyarakat umum, dan tidak pernah dalam pendidikan formal. Variasi R digunakan dalam situasi yang tidak formal seperti di rumah, warung, catatan sendiri, dsb.

Contoh: uang duit

tidak nggak, kagak

istri bini

3. 3. 3. Pengguna Bahasa

Suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan faktor-faktor siapa lawan bicara kita, topik apa, situasinya bagaimana, tujuannya apa, jalurnya apa (lisan atau tulisan) dan ragam bahasa yang digunakan yang mana.

3. 3. 4. Kontak Bahasa

Bahasa dari masyarakat yang menerima kedatangan anggota masyarakat lain akan saling berpengaruh. Hal ini akan menyebabkan terjadinya bilingualisme dan multilingualisme bahasa. Orang yang menguasai satu bahasa disebut monolingual, unilingual, atau monoglot. Yang menguasai dua bahasa disebut bilingual, sedangkan yang menguasai lebih dari 2 disebut multilingual, plurilingual, dan poliglot.

3. 3. 5. Bahasa dan Budaya

Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf (dan oleh karena itu disebut hipotesis Sapir – Whorf) yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan. Jadi bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Misalnya dalam bahasa yang mempunyai kategori waktu, masyarakat penuturnya akan menghargai dan sangat terikat oleh waktu. Tetapi dalam bahasa-bahasa yang tidak mempunyai kategori waktu masyarakatnya sangat tidak menghargai waktu. Kebalikan dari teori ini adalah bahwa kebudayaanlah yang mempengaruhi bahasa. Contohnya, karena di Inggris tidak berbudaya makan nasi, maka dalam bahasa Inggris tidak ada kara untuk menyataka padi, gabah, beras, dan nasi. Yang ada hanya kata rice untuk keempat konsep itu.

3. 2. Klasifikasi Bahasa

3. 4. 1. Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua.

3. 4. 2. Klasifikasi Tipologi

Dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Klasifikasi tipologi pada unsur morfologi dibagi menjadi:

· Kelompok yang semata-mata menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi

· Menggunakan akar kata

· Menggunakan bentuk sintaksis

3. 4. 3. Klasifikasi Areal

Klasifikasi dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan yang lain di dalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Klasifikasi ini bersifat nonunik, sebab ada kemungkinan sebuah bahasa dapat masuk dalam kelompok tertentu dan dapat pula masuk ke kelompok lainnya lagi.

3. 4. 4. Klasifikasi Sosiolinguistik

Dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu.

3. 3. Bahasa Tulis dan Sistem Aksara

Bahasa tulis merupakan rekaman bahasa lisan sebagai usaha manusia untuk menyimpan bahasanya untuk disampaikan kepada orang lain yang berada dalam ruang dan waktu berbeda. Para ahli memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambar-gambar yang terdapat dari gua-gua Altamira di Spanyol Utara, dan beberapa tempat lain. Gambar-gambar tersebut disebut piktoram, sedangkan sistem tulisannya disebut piktograf.

Orang Yunani mengembangkan tulisan yang bersifat alfabetis, yaitu dengan menggambarkan setiap konsonan dan vokal dengan satu huruf.

Jauh sebelum tulisan Romawi tiba di Indonesia, berbagai bahasa di Indonesia telah mengenal aksara, seperti yang dikenal dalam bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Inggris, bahasa Makasar, bahasa Lampung, bahasa Batak. Djoko Kentjono mengungkapkan silsilah aksara seperti berikut:

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK : BAHASA

3. 4. Pengertian Bahasa

Menurut kridalaksana bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Dua buah tuturan bisa disebut 2 bahasa yang berbeda berdasarkan 2 patokan, yaitu patokan linguistik dan patokan politis. Secara linguistik 2 buah tuturan dianggap sebagai 2 buah bahasa yang berbeda kalau anggota dari 2 masyarakat tuturan tidak saling mengerti. Misalnya, seorang penduduk asli dari lereng gunung Slamet Jawa Tengah tidak akan mengerti tuturan penduduk asli yang datang dari lereng gunung Galunggung Jawa Barat karena bahasa yang digunakan sangat berbeda, baik kosakata maupun sistem fonologinya.

3. 5. Hakikat Bahasa

3. 2. 12. Bahasa sebagai Sistem

Sebagai sebuah sistem, bahasa bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak, secara sembarangan. Sedangkan sistemis artinya bahasa bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari subsistem-subsistem yang tersusun secara hierarkial (subsistem yang satu terletak pula dibawah subsistem lainnya lagi). Bagan hierarkial subsistem bahasa:

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s