Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

HERMAWAN PA (1402408032) BAB 6 TATARAN LINGUISTIK(3); SINTAKSIS Oktober 18, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 7:32 pm

BAB 6

TATARAN LINGUISTIK (3):SINTAKTIS

Morfologi dan sintaksis adalah bidang tataran linguistik yang secara tradisional disebut tata bahasa atau gramatika. Perbedaan keduanya tidak jelas menjadikan pembicaraan bidang keduanya tidak dapat dilepaskan, sehingga mucul istilah morfosintaksis yang merupakan gabungan dari morfologi dan sintaksis. Morfologi membicarakan struktur internal kata sedangkan sintaksis membicarakan kata dalam hubungan dengan kata lain.

Beberapa hal yang dibicarakan dalam sintaksis :

1. Struktur sintaksis mencakup masalah fungsi, kategori dan peran sintaksis;

2. Satuan sintaksis yang berupa kata frase klausa, kalimat dan wacana;dan

3. Hal-hal lain yang berkenaan dengan sintaksis seperti masalah modus dan aspek.

6.1 STUKTUR SINTAKSIS

Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O) dan keterangan (K). Menurut Verhaar (1978) fungsi sintaksis terdiri dari unsur S,P,O dan K. Fungsi sintaksis tidak harus selalu berurutan S,P,O dan K namun urutan P,O harus selalu tetap.Struktur sintaksis minimal harus memiliki fungsi subjek dan fungsi predikat.Dari bebeprapa ahli yang megemukakan pendapat makna gramatikal dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur leksikal yang mengisi fungsi-fungsi sintaksis tergantung pada tipe atau jenis kategori kata yang mengisi fungsi predikat dan struktur sintaksis.

6.2 KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS

Dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil, yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis. Terdapat dua macam kata yaitu :

  1. kata penuh (fullword) yaitu kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat berdiri sendiri sebagai sebuah satuan tuturan. Kata penuh termasuk kategori nomina, verba, ajektifa, adverbia, dan numeralia;dan
  2. kata tugas (functionword) yaitu kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup. Kata tugas termasuk kata berkategori preposisi dan konjungsi.

6.3 FRASE

6.3.1 Pengertian frase

Frase didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.

6.3.2 Jenis Frase

1. Frase Eksosentrik

Yaitu frase yang komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan.

Frase eksosentris dibedakan menjadi dua yaitu :

1. Frase eksosentris yang direktif yaitu komponen pertamanya berupa preposisi di, ke dan dari dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata yang biasanya berkategori nominal;

Contoh : di rumah, dari kayu

2. Frase eksosentrik yang nondirektif komponen pertamanya berupa antikulus

Contoh : si cantik, sang pahlawan

2. Frase Endosentrik

Yaitu frase yang salah satu unsurnya atau komponenya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhanya.

Dilihat dari kategori intinya frase endosentrik dapat di bedakan menjadi empat yaitu :

1. Frase nominal yaitu frase endosentrik yang intinya berupa nomina atau pronominal;

2. Frase verbal yaitu frase yang intinya berupa kata verba;

3. frase ajektiva yaitu frase endosentrik yang intinya berupa kata ajektiva;

4. frase numeralia yaitu frase endosentrik yang intinya berupa kata numeral.

3. Frase koordinatif

Yaitu frase yang komponene pembentukanya terdiri dari dua komponen pembentukanya terdiri dari dua komponen atu lebih yang sama dan sederajat, dan secara potensia dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif.

4. Frase Apositif

Yaitu rase koordinatif yang kedua komponeneya saling merujuk sesamanya dan urutan komponeneya dapat dipertukarkan.

6.3.3 Perluasan Frase

Frase dapat diperluas artinya dapat di beri tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan.

Faktor yang menyebabkan perluasan frase antara lain :

1. untuk menyatakan konsp-konsp khusus atau sangat khusus sekali;

2. pengungkapan konsep data, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar dan pembatas tidak dinyatakan dengan afiks melainkan dengan unsur leksikal;

3. keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci.

6.4 KLAUSA

6.4.1 Pengertian klausa

Yaitu satuan sintasis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif, Artinya konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek dan keterangan.

6.4.2 Jenis klausa

Berdasarkan strukturnya klausa :

1. klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap sekurang- kurangnya mempunyai subjek dan predikat;

2. klausa terikat adalah klausa yang memiliki struktur yang tidak lengkap.

Berdasarkan kategori unsur sagmental yang menjadi predikatnya :

1. klausa verbal yaitu klausa yang predikatnya berkategori verba;

Sesuai dengan tipe verba, klausa verba terbagi menjadi empat yaitu :

1. klausa transitif yaitu klausa yang predikatnya berupa verba transitif

2. klausa transitif yaitu klausa yang predikatnya berupa verba intransitive

3. klausa refleksif yaitu klausa yang predikatnya berupa verba refleksif

4. klausa resiprokal yaitu klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal.

2. klausa nomina yaitu kalausa yang predikatnya berupa nomina atau frase nominal;

3. klausa adjektifal yaitu klausa yang predikatnya berkategori ajektif;

4. klausa adverbial yaitu klausa yang predikatnya berupa adverbial;

5. klausa preposisional yaitu klausa yang predikatnya berupa frase yang berkategori preposisi;

6. klausa numeral yaitu adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase numeralia.

6.5 KALIMAT

6.5.1 Pengertian kalimat

Kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya beruapa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan serta disertai intonasi final.

6.5.2 Jenis Kalimat

1.Kalimat inti dan Kalimat Non-inti

Kalimat inti adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, atau netral, dan afirmatif.

Kalimat non-inti adalah kalimat inti yang sudah mengalami proses transformasi.

2.Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa.

Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih.

Kalimat majemuk dibagi menjadi tiga yaitu :

1. Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat majemuk yang klausanya memiliki status yang sama.

2. Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang hubungan klausanya tidak setara.

3. Kalimat majemuk kompleks kalimat majemuk yang merupakan campuran kalimat majemuk koordinatif dan kalimat majemuk subordinatif.

3.Kalimat Mayor dan Kalimat Minor

Kalimat mayor adalah kalimat yang klausanya sekurang-kurangnya memiliki unsure subyek dan predikat.

Kalimat minor adalah alimat yang klausanya hanya terdiri dari satu subjek saja, predikat,obyek saja, ataukah keterangan.

4.Kalimat Verbal dan Kalimat non-Verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verba.

Kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal;bisa nominal,ajektifal,adverbial, atau juga numeralia.

5.Kalimat bebas dan kalimat terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap, atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskanya.

Kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap, atau menjadi peembuka paragraf atau wacana tanpa bantuan konteks.

6.5.3 Intonasi Kalimat

Tekanan, nada, dan tempo yang ketiga unsur suprasegmental itu dapat membedakan makna kata karena berlaku sebagai fonem. Dalam bahasa Indonesia tampaknya intonasi yang beruapa tekanan, nada, atau tempo tidak berlaku pada tataran fonologi dan morfologi melainkan hanya berlaku pada tataran sintaksis.Intonasi merupakan cirri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa.

6.5.4 Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis

1. Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara atau sikap si pembicara tentang apa yang diucapkan.

Beberapa macam moodus, antara lain :

1. modus indikatif atau modus deklaratif, yaitu modus yang menunjukan sikap objektif atau netral;

2. modus optatif, yaitu modus yang menunjukan harapan atau keinginan;

3. modus imperatif, yaitu modus yang menyatakan perintah, larangan, atau tegahan;

4. modus interogatif, yaitu modus yang menyatakan pertanyaan;

5. modus obligatif, yaitu modus yang menyatakan keharusan;

6. modus desideratif, yaitu modus yang menyatakan keinginan;dan

7. modus kondisional, yaitu modus yang menyatakan persyaratan.

2. Aspek

Aspek adalah cara untuk memenadang pembentukan waktu secara internal di dalam situasi, keadaan. Atau proses.

Berbagai macam aspek, antara lain :

1. aspek kontinuatif, yaitu yang menyatakan perbuatan terus berlangsung;

2. aspek inseptif, yaitu yang menyatakan kejadian baru mulai;

3. aspek progesif, yaitu aspek yang menyatakan perbuatan sedang berlangsung;

4. aspek repetitif, yaitu yang menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang;

5. aspek perfektif, yaitu yang menyatakan perbuatan sudah selesai;

6. aspek imperfektif, yaitu yang menyatakan perbuatan berlangsung sebentar; dan

7. aspek sesatif, yaitu yang menyatakan perbuatan terakhir.

3. Kala

Kala adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan, atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat.

4. Modalitas

Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yangmenyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, yaitu mengenai perbuatan, keadaan, dan peristiwa; atau juga sikap terhadap lawan bicaranya.

Beberapa jenis modalitas; antara lain :

1. modalitas intensional, yaitu modalitas yang menyatakan keinginan, harapan, permintaan, atau juga ajakan;

2. modalitas epistemik, yaitu modalitas yang menyatakan kemungkinan, kepastian, dan keharusan;

3. modalita deontik, yaitu modalitas yang menyatakan keizinan atau keperkenanan; dan

4. modalitas dinamik, yaitu modalitas yang menyatakan kemampuan.

5. Fokus

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar atau pembaca tertuju pada bagian itu.

Berbagai cara untuk memfokuskan kalimat, antara lain :

1. memberi tekanan pada bagian kalimat yang difokuskan;

2. mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan.;

3. memakai partikel pun, yang, tentang, dan, adalah pada bagian kalimat yang difokuskan;

4. mengontraskan dua bagian kalimat;dan

5. menggunakan konstruksi posesif anaforis beranteseden.

6. Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan atara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang di kemukakan dalam kalimat itu.

Macam-macam diatesis, antara lain :

1. diatesis aktif, yaitu jika subjek yang melakukan suatu perbuatan;

2. diatesis pasif, yaitu jika subjek menjadi sasaran perbuatan;

3. diatesis refleksif, yaitu jika subjek melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri;

4. diatesis resiprokal, yakni jika subjek yang terdiri dari dua pihak berbuat tindakan berbalasan;dan

5. diatesis kausatif, yakni jika subjek menjadi penyebab atas terjadinya sesuatu.

6.6 WACANA

6.6.1 Penegertian wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi.

6.6.2 Alat Wacana

Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif antara lain :

1. Konjungsi yaitu alat untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat atau paragraf.

2. menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini dan itu;dan

3. menggunakan elipsiss yaitu menghilangkan bagian kalimat yang sama yang terdapat dalam kalimat yang lain.

Selain dengan upaya gramatika sebuah wacana yang kohesif dan koheren dapat juga dibuat dengan bantuan berbagai aspek semantik antara lain :

1. menggunakan hubungan pertentangan pada kedua kalimat yang terdapat dalam wacana itu.

2. menggunakan hubungan generik-spesifik atau sebaliknya

3. menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat

4. menggunakan hubungan sebab akibat

5. menggunakan hubungan tujuan di dalam isi sebuah wacana

6. menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat atau pada dua kalimat dalam satu wacana

6.6.3 Jenis wacana

Jenis wacana berkenaan sarananya :

1. wacana lisan;dan

2. wacana tulis.

Jenis wacana dari penggunaan bahasa :

1. wacana prosa;dan

2. wacana puisi.

Jenis wacana prosa dilihat dari penyampaian isinya :

1. wacana narasi yaitu bersifat menceritakan sesuatu topik atau hal;

2. wacana eksposisi yaitu bersifat memeparkan topik atau fakta;

3. wacana persuasi yaitu bersifat mengajak menajurkan atau melarang;dan

4. wacana argumentasi bersifat memberi argument.

6.6.4 Subsatuan Wacana

Wacana dibangun oleh subsatuan atau sub-subsatuan wacana yang disebut bab, subbab, parafraf atau juga sub paragraf.

6.7 CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN

Dalam praktek berbahasa banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan urutan, antara lain :

  1. pelompatan tingkat;
  2. pelapisan tingkat;dan
  3. penurunan tingkat.

Urutan hierarki satuan

Wacana

Kalimat

Klausa

Frase

Kata

Morfem

HERMAWAN PURNOMO AJI

1402408032

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s