Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

HENGKI FIRMANSYAH_1402408324_BAB 6 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 7:28 pm

Nama : Hengki Firmansyah

Nim : 1402408324

BAB 6

TATARAN LINGUISTIK (3): SINTAKSIS

Sebelumnya kita membahas istilah morfosintaksis . morfosintaksis adalah gabungan kata dari morfologi dan sintaksis . morfologi pengertiannya membicarakan sruktur internal kata , sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain . morfosintaksis sangat penting karena untuk menyebut kedua bidang itu sebagai satu bidang pembahasan , sebab morfologi Dan sintaksis terkadang dianggap satu pengertian .

6.(1) bahasan selanjutnya adalah struktur sintaksis .stuktur yang didalamnya ada :

(a) fungsi sintaksis

yang termasuk ini adalah subjek, predict, objek, dan keterangan.

(b) kategori sintaksis

yang termasuk istilah ini adalah nomina, verba, adjektif, dan numerial.

(c) peran sintaksis

yang termasuk istilah ini adalah pelaku, penderita, dan penerima.

Contoh kalimat

“Nenek melirik kakek tadi pagi”.

Dari kalimat di atas kita analisis sebagai berikut:

Kata nenek berfungsi sebagai “subjek”, berkategori “nomina”, dan berperan sebagai “pelaku”.

Kata melirik berfungsi sebagai “predikat”, berkategori “verba” dan berperan aktif.

Kata kakek berpungsi sebagai “objek”, berkategori “nomina” dan berperan sebagai “sasaran”.

Kata tadi pagi berfungsi sebagai “keterangan”, berkategori “nomina” dan berperan “waktu”.

Mengenai pertanyaan apakah keempat fungsi itu harus selalu muncul dalam setiap struktur, banyak pakar mengatakan bahwa dalam setiap struktur sintaksis minimal harus memiliki subjek dan predikat. Namun, Verhaar (1978) mencatat dalam kalimat

“dia tinggal di jakarta”.

Dari kalimat tersebut frase di Jakarta menempati fungsi keterangan yang tidak dpat dihilangkan sebab konstruksi dia tinggal tidak berterima. Kemudian ada pakar lain yaitu Chafe (1970) mengatakan bahwa yan paling penting dalam struktur sintaksis adalah fungsi predikat. Unculnya fungsi-fungsi lain sangat tergantung pada jenis verba yang digunakan. Perhatikan contoh kalimat berikut:

1. rambut nenek belum memutih

2. nenek membersihkan kamarnya

3. matahari terbit dari sebelah timur

dari kalimat tersebut verba “memutih” adalah verba intransitif, maka tidak perlu memunculkan objek. Verba membersihkan adalah verba transitif, maka perlu memunculkan objek. Lalu verba terbit adalah verba intransitive yang menyatakan lokasi, maka perlu adanya fingsi keterangan yang berpperan lokatif. Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah verba transitif yang objeknya tidak perlu muncul. Verba ini adalah verba yang meyatakan kebiasaan atau verba yang mengenai orang tunggal atau orang banyak secara umum.

Contoh : sekretaris itu sedang mengetik.

Dari kalimat tersebut verba “mengetik” adalah verba yang menyatakan kebiasaan yang dilakukan oleh seorang sekretaris.

Eksistensi strukture sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata, bentuk kata dan intonasi:

(a) Urutan kata adalah posisi kata yang satu dengan yang lain dalam suatu konsttruksi sintaksis contoh kontruksi tiga jam bermakna masa waktu yang lama 3x 60 menit . berbeda dengan konstrusi jam tiga bermakna menyatakan saat waktu .

(b) Bentuk kata dalam baasa latin sangat penting begitu juga dengan bahasa Indonesia . contoh kalimat :

1 Heni melirik Tery, maka yang melakukan perbuatan adalah Heni.

2 Heni dilirik Tery, maka yang melakukan perbuatan adalah Tery.

(c) Intonasi , sangat panting dalam bahasa Indonesia. bisaanya batas antara subjek dan predikat ditandai dengan nada naik dan tekanan. contoh : Kucing/ makan tikus mati, Kucing makan tikus / mati.

Selain itu batas frase dalam bahasa Indonesia juga dibatasi tekanan pada kata terakhir . contoh : buku/ sejarah baru , buku/ sejarah/ baru.

(d) Konektor , yang biasanya sebuah morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas tertutup . bertugas menghubungkan satu konstituen dengan konstituen lain, baik yang berada dalam kalimat maupun diluar kalimat.

6(2) KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS

Morfologi kata adalah satuan terbesar(satuan terkecil adalah morfem) tetapi dalam sintaksis. Kata merupakan satuan terkecil pembentyuk satuan sintaksis . kata berperan sebagai pengisi fungsi sintasis dalam hal ini kata dibagi menjadi dua 1. kata penuh adalah kata yang memiliki makna 2. kata tugas adlah kata yang btidak memiliki makna . contoh kata penuh: kata yang termasuk kategori nomina, verba, adjektifa, adverbial dan numeria, contoh kata tugas: kata yang berkategori preposisi.

6(3)1 FRASE

Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif . Frase berbeda dengan kata frase dapat diselipi kata-kata sedangkan

kata tidak . contoh “Nenek saya “ ditambah “ dari “ mejadi “Nenek dari saya “.

6(3)2 JENIS FRASE

1. frase eksosentrik adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluhannya contoh : frase “di pasar” terdri dari komponen “di “ dan “pasar “ keduanya tidak dapat berdiri sendiri

2. farse indosentrik adalah frase yang salah satu uunsurnya memiliki prilaku sintaksis yang sama contoh : frase”sedang membaca “ terdiri dari unsure “sedang”dan unsur “membaca “ keduanya dapat berdirisendiri

6(3)3 PERLUASAN FRASE

Frase dapat diperluas dengan cara diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep yang diinginkan contoh : Frase “di kamar tidur” diperluas menjadi “di kamar tidur saya “

6(4)1 KLAUSA

Klausa adalah satuan sintaksis yang berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif. contoh : Nenek mandi.

Fungsi-fungsi sintaksis

1 subjek adalah dasar bahasan

2 predikat adalah pernyataan mengenai subjek

3 objek, ada dua :

a. objek langsung adalah objek yang menjadi sasaran predikat

b. objek tak langsung adalah objek yang memperoleh manfaat

dari predikat

4.Keterangan adalah bagian dari klausa yang memberi informasi tambahan.

6(4)2 JENIS-JENIS KLAUSA

Menurut strukturnya ada dua :

1. klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsure subjek dan predikat

2. klausa terikat adalah klausa yang hanya memiliki subjek saja , objek saja , maupun

keterangan saja .

Menurut kategori unsure segmental yang menjadi predikat ada 5 :

  1. klausa verbal adalah klausa yang predikatnya berkategori verba.
  2. klausa nominal adalah klausa yang predikatnya berkategori nomina
  3. klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berkategori adverbial.
  4. klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berkategori numeralia .
  5. klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berkategori preposisi .

6(5)1 KALIMAT

Adalah satuan sintaksis dari konstituen dasar barupa klausa dilengkapi dengan konjungsi serta intonasi final.

6(5)2 JENIS-JENIS KALIMAT

A. Kalimat inti adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti .

B. Kalimat non inti adalah kalimat inti yang diubah dengan proses transformasi

C. Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa .

D. Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari beberapa klausa .

Kalimat majemuk ada 2 :

a. kalimat majemuk koordinatif (setara ) adalah kalimat majemuk yang klausanya

sama atau setara.

b. kalimat majemuk subkoordinatif adalah kalimat majemuk yang klausanya tidak

setara.

E. Kalimat mayor adalah kalimat yang memiliki unsure subjek dan predikat. F. Kalimat minor adalah kalimat yang hanya terdiri dari subjek saja, predikat saja objek saja maupun keterangan saja .

G. Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal .

H. Kalimat non verbal adlah kalimat yang dibentuk bukan dari klausa verbal .

I. Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja aktif .

J. Kalimat dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis

menyatakan tindakan.

K. Kalimat statis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis

tidak menyatakan tindakan

L. Kalimat bebas adalah kalimat yang dapat memulai sebuah paragraf tanpa bantuan

kalimat lain.

6(5)2 MODUS ,ASPEK,KALA,MODALITAS, FOKUS, DAN DIATESIS

Modus adalah pengungkapan suasana psikologis perbuatan menurut tatsiran si pembicara.

Macam-macam modus : a. modus deklaratif(modus menunjukkan sikap objektif )

b.modus optatif (modus yang menunjukan harapan)

c.modus imperative (modus yang menunjukkan perintah)

d. modus interogatif ( modus yang menunjukkan pertanyaan)

e. modus obligatf ( modus yang menunjukkan keharusan)

f. modus desideratif ( modus yang menunjukkan keinginan )

g. modus kondisional ( modus yang menunjukkan persyaratan )

6(5)3 Aspek

aspek adalah cara untuk me,andang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, dan proses. Jenis aspek :

  1. aspek kontinuatif, yaitu menyatakan perbuatan terus langsung
  2. aspek inseptis, yaitu yang menyatakan peristiwa atau kejkadian yang baru mulai
  3. aspek progresif, yaitu aspek yang menyatakan yang sedang berlangsung
  4. aspek repretitif, yaitu aspek yang menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang
  5. aspek perfektif, yaitu yang menyatakan perbuatan itu sudah selesai
  6. aspek imperfektif, yaitu yang menytakan perbuatan itu berlangsung sebentar
  7. aspek sesatif, yaitu menyatakan perbuatan berakhir

6(5)4 Kala

kala atau tensis adal;ah informasi dalam kalimat ynag menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan, atau pengalaman yang disebutkan di adalm predikat.

6(5)5 Modalitas

modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, yaitu mengenai perbuatan, keadaan, dan peristiwa; atau juga sikap terhadap lawan bicaranya. Contoh : Barangkali dia tidak akan hadir. Jenis modalitas :

  1. Modalitas intensional, yaitu modfalitas yang menyatakan keinginan, harapan, permintaan, dan ajakan.
  2. Modalitas epistemic, yaitu modalitas yang menyatakan kemungkinan, kepastian, dan keharusan.
  3. Modalitas deontik, yaitu modalitas yang menyatakan keizinan atau keperkenaan.
  4. Modalitas dinamik, yaitu modalitas yang menyatakan kemampuan.

6(5)6 Fokus

focus adalah unsure yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar atau pembicara tertuju pada bagian itu. Dalam bahasa Indonesia focus kalimat dapat dilakukan dengan berbagai cara; anatar lain:

  1. Pertama, dengan memberi tekanan pada bagian kalimat yang difokuskan.
  2. Kedua, dengan mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan.
  3. Ketiga, dengan cara memakai partikel pun, yang, tentang, dan adalah.
  4. Keempat, dengan mengontraskan dua bagian kalimat.
  5. Kelima, dengan menggunakan konstruksi posesif anaforis beranteseden.

6(5)7 Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu. Jenis-jenis diatesis:

  1. Diatesis aktif, yaitu jika subjek yang berbuat atau melakukan suatu perbuatan.
  2. Diatesis pasif, yaitu jika subjek menjadi sasaran perbuatan.
  3. Diatesis refleksif, yaitu jika subjek berbuat atau melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri.
  4. Diatesis resiprokal, yaitu jika subjek terdiri dari dua pihak berbuat tindakan berbalasan.
  5. Diatesis kausatif, yaitu jiaka subjek menjadi penyebab atas terjadinya sesuatu.

6(6) Wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Sebagai satuan bahasa yang lengkap, maka dalam wacana itu terdxapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh. Sehingga dapat dipahami oleh pembaca atau pendengar tanpa keraguan apapun. Se3bagai satuan gramatikal tertinggi atau terbesar, maka dalam wacana itu kalimat-kalimat memenuhi persyaratan gramatikal, dan persyaratan kewacanaan lainnya. Persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi kalau dalam wacana itusudah terbina yang disebut kekohesian, yaitu adanya keserasian hubungan antara unsure-unsur dalam wacana tersebut.

6(6)1 Alat Wacana

Alat wacana dapat berupa aspek gramatikal atau aspek semantic. Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif, antara lain:

  1. Konjungsi, yaitu alat yang menghubungkan bagian-bagian kalimat atau paragraph.
  2. Menggunakan kata ganti, kata ganti tersebut seperti: dia, nya, mereka, ini dan itu.
  3. Ellipsis, yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama antara kalimat yang lain.

Selain dengan alat-alat gramatikal juga debgan alat-alat semantic. Caranya antara lain:

  1. Menggunakan hubungan pertentangan antar kalimat dalam wacana.
  2. Menggunakan hubungan generic-spesific atau sebaliknya.
  3. Menggunakan hubungan perbandingan antar kalimat dalam wacana.
  4. Menggunakan hubungan sebab akibat antara isi kedua bagian kalimat dalam wacana.
  5. Menggunakan hubungan tujuan di dalam isi sebuah wacana.
  6. Menggunakan hubungan rujukan pada dua kalimat dalam wacana.

6(6)2 Jenis Wacana

Ditentukan dari sudut pandang dari mana wacana itu dilihat, ada wacana lisan dan wacana tulis yang berkenaan dengan sasarannya, yaitu bahasa lisan atau bahasa tulis. Kemudian ada pembagian wacana prosa dan wacana puisi. Wacana prosa dilihat dari penyampaian isinya dibedakan menjadi :

  1. Wacana narasi, bersifat menceritakan suatu topic.
  2. Wacana eksposisi, bersifat memaparkan suatu topic dan fakta.
  3. Wacana persuasi bersifat mengajak dan menganjurkan atau melarang.
  4. Wacan argumentasi bersifat memberi alas an terhadap suatu hal.

6(6)3 Sub Satuan Wacana

Dalam suatu wacana biasanya akan dibagi dalam beberapa bab; tiap bab akan dibagi lagi dalam beberapa sub bab; setiap sub bab disajikan dalam beberapa paragraph, atau sub paragraph. Setiap paragraph biasanya berisi gagasan yang disertai dengan beberapa penjelas.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s