Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

DIAN FATMASARI_1402408248_BAB 7 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 7:06 pm

DIAN FATMASARI

1402408248

KEL 6

BAB 7

Tataran Linguistik ( 4 )

SEMANTIK

Seorang Tokoh strukturalis Hockett ( 1954 ) menyatakan bahwa bahasan adalah sistem yang kompleks dari kebiasaan – kebiasaan dan terdiri dari subsistem gramatika, subsistem fonologi, subsistem morfofonemik, subsistem semantic dan subsistem fonotik. Subsistem semantic disebut peripheral karena makna yang menjadi obyek semantic sangat tidak jelas., tidak dapat diamati secara empiris. Bapak Lingustik Transformasi Chomsky dalam bukunya yang kedua ( 1965 ) menyatakan bahwa semantic merupakan salah satu komponen dari tata bahasa dan makna kalimat sangat di tentukan oleh komponen semantic ini.

7.1. HAKIKAT MAKNA

` Menurut de Saussure setiap tanda lingustik / tanda bahasa terdiri dari 2 komponen, yaitu komponen signifian ( yang mengartikan ) yang wujudnya berupa runtutan bunyi, dan komponen signifie ( yang diartikan ) yang wujudnya berupa pengertian / konsep. Ricahrd dan Ogden ( 1923 ) menampilkan bagan dalam bentuk segitiga yang disebut segitiga makna / segitiga Richat Ogden.

Contoh : Tanda linguistic ( meja ) terdiri dari komponen signifian yakni fonem /m/,/el,/,/j/,a/ dan komponen signifienya yaknim “ sejenis perabot kanotr / rumah tangga.

Ustiknya : meja luar bahasa bisa digambarkan gambar meja

Dengan demikian Ferdiand de Saussure mengembangkan pandangan bahwa makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistic.

Banyak pakar yang menyatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada pada konteks kalimatnya dan berada di dalam konteks wacana atau konteks situasinya.

Contoh : a) Dia jatuh dalam ujian yang lalu c) Dasar buaya ibunya sendiri ditipunya

b) Dia jatuh cinta pada adikku d) Sudah hamper pukul dua belas !

kalimat ( d ) apabila diucapkan ibu asrama putrid terhadap pemuda yang masih bertandang di asrama padahal jam sudah hamper pukul dua belas malam. Berarti pengusiran secara halus sedangkan apabila diucapkan oleh guru agama, berarti pemberitahuan bahwa sebentar lagi waktu sembahyang Zuhur yang perlu diingat, karena bahasa itu bersifat arbiter maka hubungan antara kata dan maknanya juga bersifat aribiter.

7.2 JENIS MAKNA

7.2..1 Makna Leksikal, Gramatikal dan Kontekstual

Makna Leksikal adalah makna yang dimiliki / ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. Missal kuda memiliki makna Leksikal sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai. Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, sesuai hasil observasi indra kita, dan apa adanya.

Makna Gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi / kalimatisasi. Contoh prefiks ber – dengan baju melahirkan makan gramatikal memakai baju. Adik menendang bola. Melahirkan makna gramatikal : adik bermakna pelaku, menendang bermakna aktif dan bola bermakna sasaran.

Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem / kata yang berada di dalam satu konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, lingkungan penggunaan bahasa. contoh :

a. Tiga kali empat berapa ?

Apabila dilontarkan anak SD, akan dijawab “ dua belas “ kalau dilontarkan tukang foto, jawabannya dua ratus “ atau “ tiga ratus “

7.2.2 Makna Referensial dan Non – Refensial

Makna referensial adalah sebuah kata yang ada referensinya / acuannya. Kata kuda, merah, gambar adalah kata referensial karena acuannya dalam dunia nyata. Kata dan atau, karena adalah kata yang tidak refensial karena tidak mempunyai referens.

7.2.3 Makna denotative dan makna Konotatif

Makna denotative adalah makna asli, makna asal dan makna sebenarnya yang dimiliki oleh leksem. Makna denotatitf sama dengan makna leksial. Kata babi bermakna denotative tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contoh : babi, didalam masyarakat Islam mempunyai konotasi negative. Kata kursus, ramping, kerempeng dapat disimpulkan ketiga kata itu secara denotative mempunyai makna yang sama / bersinonim, tetapi ketiganya memiliki konotasi yang tidak sama. Kurus berkonotasi netral, ramping positif dan krempeng negative.

7.2.4 Makna Konseptual dan makna Asosiatif

Leech ( 1976 ) membagi makna menjadi makna konseptual dan Asosiatif. Makna konseptual makna leksikal, denotative dan referensial. Contoh : kata luda, makna konseptual sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai.

Makna asosiatif adalah yang dimiliki sebuah leksem / kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa, sama juga dengan lambing / pralambang. Contoh melati berasosiasi dengan suci atau kesucian.

Makna konotatif termasuk dalam makna asosiatif karena kata tersebut berasosiasi dengna nilai rasa terhadap kata itu. Misalnya babi berasosiasi dengan rasa jijik, haram dan kotor

7.2.5 Makna kata dan Makna istilah

Makna kata masih berisfat umum, kasar dan tidak jelas. Missal kata tangan dan lengan, lazim di anggap sama ( bermakna sama )

Istilah mempunyai makna yang sama pasti, yang jelas, yang tidak menggunakan, meskipun tanpa konsteks kalimat. Bebas konteks. Missal kata tangan dan lengan, sebagai istilah dalam kedokteran berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai jari. Sedangkan lengan bagian dari pergelangan samapai pangkal bahu.

7.2.6 Makna Idiom dan peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang bermakna tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal, maupun gramatikal contoh : menjual gigi, artinya tertawa sepuas-puasnya. Membanting tulang bekerja keras, meja hijau pengadilan. Ada dua macam idiom yaitu Idiom penuh dan sebagian. Idiom penuh adalah Idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Contoh : membanting tulang, menjual gigi. Idiom sebagian adalah Idiom yang salah satu unsurnya, masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Missal : buku putih bermakna buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus.

7.3 Relasi makna

Relasi makna adalah hubungan semantic yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan yang lainnya.

7.3.1 Sinonim

Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantic yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujarnya dengan satuan ujar lainnya, relasi sinonim ini bersifat dua arah

Dua buah ujarnya bersinonim maknanya tidak akan persis sama,

karena factor :

1. Faktor waktu

Contoh, kata hulubang dan komandan. Hulubang memiliki pengertian klasik, sedangkan komandan tidak cocok konteks klasik itu.

2. Fakotor tempat / wilayah

Contoh, kata saya dan beta. Saya dapat digunakan dimana aja, sedangkan beta hanya digunakan / cocok diwilayah Indonesia bagian timur.

3. Faktor keformalan

Contoh, kata uang dan duit, uang dapat digunakan dalam ragam formal dan tak formal, tetapi duit hanya cocok untuk ragam tak formal

4. Faktor social

Contoh kata saya dan aku. Sangat dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, tetapi aku hanya digunakan terhadap orang sebaya

5. Faktor bidang kegiatan

Contoh, kata matahari dan surya. Matahari bisa digunakan dalam kegiatan apa saja atau digunakan secara umum. Tetapi surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus ( sastra )

6. Faktor nuansa makna

Contoh : melihat, melirik, menonten, meninjau dan mengintip adalah kata yang bersinonim tetapi antara satu dengan yang lainnya tidak selalu dapat ditukarkan.

Dua buah kata yang bersinonim tidak akan selalu dapat dipertukarkan / disubtitusikan

7.3.2 Antonim

Antonim atau antonym adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentandan atau kontras antara satu dengan yang lain. Antonim ini juga bersifat dua arah

Antonym dibedakan atas beberapa jenis :

1. Antonim yang bersifat mutlak

Contoh kata hidup dan mati, sebab hidup tentunya belum mati, tentunya tak hidup.

2. Antonim yang bersifat relative atau bergradisasi, karena vatas satu dengan lainnya tidak dapat ditentukan secara jelas, batasnya dapat bergerak menjadi lebih atau kurang. Contoh : besar, kecil. Suatu obyek dikatakan besar atau kecil karena diperbandingkan antara yang satu dengan yang lain. Kambing terlihat kecil jika disamping gajah. Tetapi kambing menjadi besar bila disamping kucing.

3. Antonim yang bersifat relasional, karena munculnya yang satu harus disertai yang lain contoh : kata suami dan istri, adanya suami karena adanya istri.

4. Antonimi yang bersifat hirearkial, karena kedua satuan ujarnya yang berantonim berada dalam satu garis jenjang atau hierarki. Contoh : gram dan kilogram berada dalam satu garis jenjang ukuran timbangan

Satuan ujarnya yang memiliki pasangan antonym lebih dari stu disebut Antonym Majemuk.

Contoh : kata berdiri >< duduk, tidur, tiarap, jongkok, bersila

Kata diam >< berbicara, bergerak, bekerja, bertindak

7.3.3 Polisemi

Adalah kata yang mempunyai makna lebihd ari satu. Biasanya makna pertama adalah makna sebenarnya, makna leksikal, makna denotatifnya atau makna konseptualnya.

Contoh :

· Kepalanya luka, kepala artinya bagian bagian tubuh manusia

· Kepala kantor yang pendiam. Kepala artinya ketua atau pemimpin

· Kepala surat itu salah. Kepala artinya sesuatu yang berada disebelah atas

· Kepala jarum terbuat dari plastik, kepala yang sesuatu yang berbentuk bulat

· Yang duduk di kepala meja adalah orang penting. Kepala artinya bagian yang pening

7.3.4 Homonim

Adalah dua buah atau satuan ujarnya yang bentuknya “ kebetulan sama maknanya tentu berbeda karena berlainan. Contoh kata bisa yang berarti racun ular dan kata bisa yang berarti sanggup.

Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi ( fon ) antara dua satuan ujaran, tanpa memperhatikan ejaannya. Contoh : Bank (lembaga keuangan), Bang (singkatan abang)

Homografi adalah bentuk ujaran yang sama ortografinya / ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Dalam Bahasa Indonesia homografi terjadi karena ortografi untuk fonem / e / dan fonem /a/ sama lambangnya yaitu huruf ( e ). Cotoh : teras / taras / maknanya inti. Kata teras / teras/maknanya bagian serambi rumah

Homonim adalah dua buah bentuk ujarnya atau lebih yang kebetulan bentuknya sama, dan maknanya berbeda. Polisemi adalah sebuah bentuk ujarnya yang memiliki makna lebih dari satu.

7.3.5 Hiponim

Adalah hubungan semantic antara sebuah bentuk ujarnya yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujarnya yang lain. Relasi hiponim bersifat searah, sebab kalau merpati berhiponim dengan burung bukan berhiponim dengan merpati, melainkan berhipernim

7.3.6 Ambigu atau ketaksaan

Adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Contoh :

1. Anak Dosen yang nakal. Bermakna ganda (1) “ anak itu yang nakal” atau (2) “dosen itu yang nakal”

2. Mereka bertemu paus

Maknanya (1) bertemu ikan besar, atau (2) bertemu pemimpin Agama Katolik yang berada di Roma

Ambiguity yaitu sebuah bentuk dengan dua tafsiran atau lebih. Homonim adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan bentuknya sama.

7.3.7 Rerundasi

Adalah berlebih – lebihnya penggunaan unsur sagmental dalam suatu bentuk ujaran.

Contoh : – Bola itu ditendang oleh Dika

Bola itu ditendang Dika

Penggunaan kata “oleh” yang dianggap rerundans. Kedua kalimat itu maknanya sama, namun berbeda kata

7.4 Perubahan Makna

Secara sinkoronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah, tetapi secara diakronis kemungkinan dapat berubah, factor-faktornya antara lain :

1. Perkembangan dalam bidang Ilmu dan Teknologi

Contoh : kata ‘ sastra ‘. Pada mulanya bermakna “tulisan”, huruf “, lalu berubah menjadi bacaan kemudian berubah lagi buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya selanjutnya menjadi karya bahasan yang bersifat imaginative dan kreatif.

2. Perkembangan social budaya

Contoh : kata saudara pada mulanya berarti “separut “ atau orang yang lahir dari kandungan yang sama. Tettapi kini, digunakan untuk menyebut orang lain. Sebagai kata sapaan yang sederajat, usia, manupun kedudukan.

3. Perkembangan pemakaian kata

Kosakata digunakan juga dalam bidang-bidang lain, dengan makna yangbaru. Contoh : kata menggarap di bidang pertanian. Digunakan juga di bidang lain dengan makna mengerjakan, membuat, seperti dalam menggarap skripsi, menggarap naskah drama.

4. Pertukaran tanggapan indra

Contoh : Rasa pedas yang seharusnya ditanggap oleh indra perasa lidah, menjadi ditanggap oleh alat pendengar telinga, dalam ujaran “kata-katanya sangat pedas” perubahan tanggapan indra ini disebut dengan istilah sinestesia.

5. Adanya Asosiasi

Adalah adanya hubungan antara sebuah bentuk ujarn dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran itu, sehingga dengan demikian sesuatu yang lain yang berkenaan.

Dengan ujaran itu contoh : kata amplop, makna sebenarnya adalah sampul surat. Tetapi dalam kalimat “supaya urusan cepat beres, beri saja amplop yang bermakna uang sogok.

Perbuahan makna kata atau satuan ujaran itu ada beberapa macam, yaitu perubahan meluas dan menyempit. Perubahan meluas artinya kalau tadinya sebuah kata bermakna A, maka kemudian bermakna B, Contoh : Baju, mulanya bermakna pakaian sebelah atas dari pinggah sampai bahu, tetapi dalam kalimat “ murid –murid itu memakai baju seragam yang maknanya bukan hanya baju, tetapi juga celana, sepatu, dasi, dan topi.

Perubahan makna yang menyempit artinya kalau tadinya sebuah kata atau satuan ujaran itu memiliki makna yang sangat umum tetapi kini maknanya menjadi khusus. Contoh : kata sarjana, tadinya artinya orang cerdik pandai, tapi kini bermakna lulusan perguruan tinggi saja. Contoh lain pendeta, tadinya bermakna orang yang berilmu, kini hanya guru agama Kristen.

Perubahan makna secara total artinya makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. Contoh : kata ceramah dulu bermakna cerewt, banyak cakap, sekarang bermakna uraian mengenai suatu hal di muka orang banyak.

Usaha untuk menghaluskan dikenal dengan nama eufemina atau eufemisme. Contoh kata korupsi diganti ungkapan menyalahgunakan jabatan. Kata pemecatan diganti pemutusan hubungan kerja.

Usaha mengkasaran atau difemia sengaja dilakukan untuk mencapai efek pembicaraanmenjadi tegas. Contoh & kata kalah diganti masuk kotak, mengambil dengan seenaknya diganti mencaplok.

7.5 Medan Makna dan Komponen Makna

Kata – kata yang berbeda dalam satu kelompok lazim dinamai kata-kata yang berada dalam satu medan makna atau medan leksikal.

Usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsur-unsur makna yang dimiliknya disebut analisis komponen makna atau anlaisis ciri-ciri makna atau analisis ciri-ciri leksikal

7.5.1 Medan makna (semantic dominant, semantic field, medan leksikal )

Yaitu seperangkat unsur leksikal yang makanya saling berhubungan dkarena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan. Contoh : nama – nama warna, nama perabot rumah tangga. Medan warna dalam bahasa Indonesia mengenal nama merah, coklat, biru, hijau, kuning, abu-abu, putih, hitam

Kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmatik karena sifatnya yang linier, maka kelompok set menunjuk pada hubungan paradigmatic karena kata yang berada dalam satu kelompok itu saling bisa disubtitusikan. Contoh kata remaja, merupakan perkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa.

7.5.2 Komponen makna

Yaitu makna yang dimiliki oleh setiap kata terdiri dari sejumlah komponen contoh :

Komponen makna

Ayah

Keterangan :

Tanda + berarti memiliki

Tanda – berarti tidak memiliki

Ibu

  1. Manusia
  2. Dewasa
  3. Jantan
  4. Kawin
  5. Punya anak

+

+

+

+

+

+

+

+

Analisis komponen dapat digunakan utuk :

1. Mencari perbedaan dari bentuk yang bersinonim

Contoh : kata bapak dan ayah, kata bapak untuk sapaan kepada orang yang dihormati, sehingga tidak dapat ditukar dengan ayah.

2. Membuat prediksi makna – makna gramatikal afiksasi, reduplikasi dan komposisi dalam bahasa Indonesia

Contoh : membeo, mematung, membaca, membantu. Porses afikasi dengan Prefiks me – pada nomina yang memiliki komponen makna / + hasil olahan / akan memiliki makna grametikal membuat yang disebut kata dasarnya.

3. Proses Reduplikasi

Yang terjadi pada dasar verba yang memiliki komponen makna / + sesaat / memberi makna gramatikal berulang-ulang seperti memotong-motong, memukul-mukul sedangkan pada verba yang memiliki komponen makan + bersaat / memberi makna gramatikal dilakukan tanpa tujuan : seperti membaca-baca, mandi-mandi

Analisa makna dengan mempertentangkan ada (+) atau tidak adanya (-) komponen makna sebuah butir reksikal disebut Analisis biner, analisis dua-dua.

7.5.3 Keseuaian Simantik sintatik

Berterima tidaknya sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal tetapi masalah semantic, contoh : kambing yang Pak Udin terlepas lagi. Tidak berterimaan kalimat itu adalah karena kesalahan grametikal, yaitu adanya konjungsi “yang “ . karena konsjungsi “yang” tidak dapat menggabungkan nominal dengan nomina

Menurut Chafe (1970) inti sebuah kalimat pada predikat atau serba. Analisis penyesuaian semantik dan sintantik ini tentu saja memperhitungkan komponen makna kata secara lebih terperinci. Contoh : kambing itu makan rumput. Disini tampak pula bahwa keterperincian analisis lebih diperlukan lagi, sebab ternyata rumput bukan makanan untuk manusia tetapi merupakan makanan kambing. Selain keterperincian analisis, masalah metafora tampaknya harus disingkirkan, sebab kalimat metaforsis adalah berterima contoh : bangunan itu menelan biaya seratus juta rupiah.

Iklan
 

One Response to “DIAN FATMASARI_1402408248_BAB 7”

  1. DIANA HARTAMI Says:

    Menurut saya ringkasan yang anda buat sudah cukup baik.
    Anda telah menuliskan bahwa bahasan adalah sistem yang kompleks dari kebiasaan – kebiasaan dan terdiri dari subsistem gramatika, subsistem fonologi, subsistem morfofonemik, subsistem semantic dan subsistem fonotik. Yang ingin saya tanyakan adalah apakah yang dimaksud subsistem-subsistem tersebut?
    Terima kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s