Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Dewi Antasari_1402408255_BAB 7 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 6:40 pm

Nama : Dewi Antasari

NIM : 1402408255

TATARAN LINGUISTIK (4) :

SEMANTIK

Obyek semantik yaitu makna. Makna benda di dalam tataran fonologi, morfologi dan sintaksis. oleh karena itu penamaan tataran semantik agak kurang tepat, sebab dia bukan tataran dalam arti unsur pembangun satuan lain yang lebih besar melainkan merupakan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun sifat kehadirannya pada tiap tataran itu tidak sama. Chomsky dalam bukunya yang kedua (1965) menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa (dua komponen lain adalah sintaksis dan fonologi), dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen semantik.

7.1. HAKIKAT MAKNA

Menurut teori yang dikembangan dari pandangan Ferdinand de Saussure bahwa makna adalah “pengertian” atau “konsep” yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Di dalam penggunaan dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali , dan mungkin bisa juga biasanya, terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga dari acuannya. Oleh karena itu, banyak pakar mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. Para pakar juga menyatakan bahwa makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya.

7.2. JENIS MAKNA

7.2.1. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun. Misalnya, leksem kuda memiliki makna leksikal ‘binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’. Dengan demikian makna leksikal bisa berarti makna yang sebenarnya, warna yang sesuai hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.

Berbeda dengan makna leksikal, makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya, dalam proses afiksasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikan ‘mengenakan atau memakai baju’.

Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.

7.2.2. Makna Referensial dan Non Referensial

Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya, atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata-kata seperti dan, atau, dan karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna ferensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referens. Sedangkan yang acuannya tidak menetap pada satu maujud disebut kata-kata deiktik. Yang termasuk kata-kata deiktik ini adalah kata-kata yang termasuk pronomina, seperti dia, saya dan kami.

7.2.3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi makna denotatis ini sebenarnya sama dengan makna leksikal. Umpamanya, kata babi bermakna denotatif ‘sejenis binatang yang biasa diternakkan untuk dimanfaatkan dagingnya’.

Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif kata tersebut. umpamanya kata babi pada orang beragama islam atau di dalam masyarakat islam mempunyai konotasi negatif, ada rasa atau perasaan yang tidak enak bila mendengar kata itu.

7.2.4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Leech (1976) membagi makna menjadi makna konseptual dan asosiatif. Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Kata kuda memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi makna konseptual sama dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian; kata merah berasosiasi dengan “berani” atau juga “paham komunis”.

Oleh Leech (1976) ke dalam makna asosiasi ini dimasukkan juga yang disebut makna konotatif, makna statistika, makna efektif dan makna kolokatif.

7.2.5. Makna Kata dan Makna Istilah

Dalam penggunaan makna kata baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Makna kata masih bersifat umum, kasar, dan tidak jelas. Berbeda dengan kata, maka yang disebut istilah mempunyai makna yang pasti yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.

7.2.6. Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Umpamanya, secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna ‘yang menjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya’, tetapi dalam bahasa Indonesia bentuk menjual gigi maknanya tidak seperti itu, melainkan bermakna “tertawa keras-keras”. Jadi makna seperti yang dimiliki bentuk menjual gigi itu disebut makna idiomatikal.

7.3. RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya.

7.3.1. Sinonim

Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya: kata betul dengan kata benar.

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena berbagai faktor, antara lain:

Pertama, faktor waktu. Umpamanya kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan.

Kedua, faktor tempat atau wilayah. Misalnya, kata saya dan beta.

Ketiga, faktor keformalan. Misalnya, kata uang dan duit.

Keempat, faktor sosial. Umpamanya, kata saya dan aku.

Kelima, bidang kegiatan. Umpamanya kata matahari dan surya.

Keenam, faktor nuansa makna. Umpamanya kata-kata melihat, melirik, menonton, dll.

Dari keenam faktor di atas bisa disimpulkan, bahwa dua buah kata yang bersinonim tidak akan selalu dapat dipertukarkan atau disubstitusikan.

7.3.2. Antonim

Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain.

7.3.3. Polisemi

Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi kalau kata itu mempunyai makna lebih dari satu. Umpamanya kepala.

7.3.4. Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satu ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, kata bisa, mengurus.

Homonimi ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan, yaitu homofoni dan homografi. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatian ejaannya, apakah ejaannya sama ataukah berbeda, misalnya kata bisa, bank dan bang.

7.3.5. Hiponimi

Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.

7.3.6. Ambiquiti atau Ketaksaan

Ambiquiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Umpamanya anak dosen yang nakal maknanya mungkin anak itu yang nakal atau dosen itu yang nakal.

7.3.7. Redundansi

Istilah redundansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.

7.4. PERUBAHAN MAKNA

Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah; tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Ada kemungkinan ini bukan berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sebuah bahasa, melainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja, yang disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:

Pertama, perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi. Misalnya sastra tulisan, huruf ð bacaanð buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya ð karya bahasa yang bersifat imajinatif.

Kedua, perkembangan sosial budaya. Misalnya sarjana dulu bermakna orang cerdik tapi sekarang bermakna orang yang telah lulus dari perguruan tinggi.

Ketiga, perkembangan pemakaian kata.

Keempat, pertukaran tanggapan indra.

Kelima, adanya asosiasi.

Perubahan makna kata atau satuan ujaran itu ada beberapa macam. Ada perubahan yang meluas, ada yang menyempit dan berubah total. Perubahan yang meluas, umpamanya kata baju pada mulanya hanya bermakna pakaian sebelah atas dari pinggang sampai ke bahu, seperti pada ungkapan baju batik tetapi dalam kalimat murid-murid itu memakai baju seragam, yang dimaksud bukan hanya baju, tetapi juga celana, sepatu, dasi dan topi.

7.5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata-kata yang berada dalam satu medan makna atau satu medal leksikal. Sedangkan usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsur-unsur makna yang dimiliki disebut analisis komponen makna atau analisis ciri-ciri makna, atau juga nalisis ciri-ciri leksikal.

7.5.1. Medan Makna (semantik domain, semantik field) atau Medan Leksikal

Medan makna adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Dalam setudi medan makna, seperti yang telah dilakukan Nida (1974 dan 1975) kata-kata biasanya dibagi atas empat kelompok, yaitu kelompok bendaan (entiti), kelompok kejadian/peristiwa (event), kelompok abstrak, dan kelompok relasi.

Kata-kata atau leksem-leksem yang mengelompokkan dalam satu medan makna, bedasarkan sifat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set.

7.5.2. Komponen Makna

Setiap kata, leksem atau butir leksikal tentu mempunyai makna. Makna yang dimiliki oleh setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen (yang disebut komponen makna) yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Komponen makna ini dapat dianalisis, dibutiri, atau disebutkan satu per satu, berdasarkan “pengertian-pengertian” yang dimilikinya. Umpamanya, kata ayah memiliki komponen makna /+manusia/, /+dewasa/, /+kawin/, dan /+punya anak. Analisis komponen makna ini dapat dimanfaatkan untuk mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim, karena dua buah kata yang bersinonim maknanya tidak persis sama.

Kegunaan analisis komponen yang lain ialah untuk membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam bahasa Indonesia. Analisis makna dengan mempertentangkan ada atau tidak adanya komponen makna pada sebuah butir leksikal disebut analitik biner, analisis dua-dua. Analisis ini berasal dari studi fonologi yang dilakukan Roman Jakobson dan Moiris Halle. Dalam laporan penelitiannya yang berjudul Preliminaries to Apeech Analysis : the Distinctive Features and then Correlatives (1951)

7.5.3. Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Berterima tidaknya sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal, tetapi juga masalah semantik.

Iklan
 

One Response to “Dewi Antasari_1402408255_BAB 7”

  1. Rina Utami (1402408062) Says:

    1.Jelaskan perbedaan antara kolokasi dan pengelompokan set,berilah contohnya?
    2.secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah,tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah.apa maksudnya?
    3.apa yang kamu ketahui tentang hipernim?apa hipernim dari gajah, monyet, ikan paus,dan singa laut?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s