Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

SYAFAATUN NIKMAH;1402408319 Oktober 17, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 3:21 pm

NAMA : SYAFAATUN NIKMAH

NIM : 1402408319

KELAS : E

BAB 4. TATARAN LINGUISTIK: FONOLOGI

Pembicaraan merupakan runtutan bunyi bahasa yang terus-menerus, kadang terdengar suara naik dan turun, hentian sejenak atau agak lama, tekanan keras atau lembut dan kadang suara pemanjangan atau biasa. Runtutan bunyi bahasa dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkatan kesatuannya ditandai dengan hentian atau jeda dalam runtutan bunyi.

Pada tahap pertama, dapat disegmentasikan berdasarakan jeda yang paling besar kemudian pada tahap berikutnya dapat disegmentasikan lagi sampai pada kesatuan runtutan bunyi yang disebut silabel atau suku kata. Jadi, silabel merupakan satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring. Untuk menentukan ada berapa silabel pada sebuah kesatuan runtutan bunyi bisa dilihat dari jumlah vokal yang terdapat di dalamnya.

Bidang linguistik yang mempelajari runtuatan bahasa disebut fonologi.

Menurut hierarki satuan bunyi bahasa yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi dua, sebagai berikut:

  • fonetik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

  • fonemik yitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa denagn memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

4.1. FONETIK

Menurt proses terjadinya, bunyi bahasa dibedakan menjadi tiga jenis, sebagai berikut:

  1. Fonetik artikulatoris yaitu mempelajari bagaimana mekanisme alat bicara manusia dalam menghasilkan bunyi bahasa.

  2. Fonetik akustik yaitu mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam, misal frekuensi getaran, amplitudo, intensitas, dan timbrenya.

  3. Fonetik auditoris yaitu mempelajari mekanisme penerimaan bunyi bahasa oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Dalam fonetik artikulatoris yang dibicarakan adala alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Misalnya nama-nama alat ucap itu sebagai berikut:

  1. pangkal tenggorok (larynx)-laringal

  2. rongga kerongkongan (pharynx)-faringal

  3. pangkal lidah (dorsum)-doral

  4. tengah lidah (medium)-medial

  5. daun lidah (laminum)-laminal

  6. ujung lidah (apex)-apikal

  7. anak tekak (uvula)-uvulas

  8. langit-langit lunak (velum)-velas

  9. langit-langit keras (palatum)-palatal

  10. gusi (alveolum)-alveolar

  11. gigi (dentum)-dental

  12. bibir (labium)-labial

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok yang didalamnya terdapat pita suara. Agar dapat didengar suara bunyi yang keluar harus terdapat hambatan.

Berkenaan dengan hambatan pada pita suara, terdapat empat macam posisis pita suara yaitu:

  1. pita suara terbuka yaitu tidak terjadi bunyi bahasa

  2. pita suara terbuka agak lebar yaitu terjadi bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara (viceless)

  3. pita suara terbuka sedikit yaitu terjadi bnyi bahasa yang disebut bunyi bersuara (voice)

  4. pita suara tertutup rapat-rapat yaitu terjadi bunyi hamzah atau global stop.

sesudah melewati pita suara, tempat asal awal terjadinya bunyi bahsa, arus udara diteruskan ke alat ucap tertentu yang terdapat dirongga mulut atau rongga hidung. Tempat bunyi bahasa dihasilkan disebut tempat artikulasi, proses terjadinya disebut proses artikulasi dan alat-alat yang digunakan disebut artikulator. Terdapat dua artikulator yaitu artikulator aktif yaitu alat ucap yang bergerak dan artikulator pasif yaitu alat ucap ynag tidak bergerak.

Keadaan atau posisis bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif disebut stikur.

Selain bunyi-bunyi tunggal di atas juga dijumpai bunyi ganda. Artinya ada dua bunyi yang lahir dalam dua proses artikulasi yang berangkaian yaitu setelah artikulasi pertama segera disusul oleh artikulasi kedua. Pada artikulasi kedua itu terdapat beberapa proses yang disebut sebagai berikut:

  • labialisasi yaitu dengan membulatkan bentul mulut.

  • patalisasi yaitu dengan menaikkan bagian depan lidah

  • velarisasi yaitu dengan menaikkan belakang lidah ke langit-langit lunak

  • faringalisasi yaitu dengan menarik lidah ke arah didnding faring.

4.1.3. Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf dari akasara Latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan modifikasi terhadap huruf Latin itu. Dalam tulisan fonetik tiap huruf digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Setiap bunyi dilambangkan secara akurat, artinya setiap bunnyi mempunyai lambang-lambang sendiri. Dalam studi linguistik telah dikenalkan tulisan fonetik dari International Phonetic Alphabet (IPA) pada tahu 1886.

4.1.4. Klasifikasi Bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atau vokal dan konsonan. Perbedaan bunyi vokal dengan bunyi konsonan yaitu ada tidaknya hambatan pada arus udara setelah melewati pita suara.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Vokal diklasifikasikan berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah vertikal dibedakan menjadi vokal tinggi, vokal tengah dan vokal rendah. Sedangkan posisis horizontal dibedakan menjadi vokal depan, vokal pusat dan vokal belakang. Menurut bentuk mulut dibedakan menjadi vokal bundar (mulut membundar saat mengucap vokal itu) dan vokal tak bundar.

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut vokal rangkap karena posisi lidah ketika menghasilkan bunyi pada awal dan akhir tidak sama dalam hal tinggi rendahnya lidah tetapi dihasilkan hanya satu buah bunyi dalam satu silabel. Diftong dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, yaitu:

    • diftong naik (bunyi pertama posisisnya lebih rendah dari posisi kedua)

    • diftong turun (posisi pertama lebih tinggi dari posisi kedua)

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Konsonan dibedakan berdasarkan posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.

  • berdasarkan posisi pita suara dibedakan adanya bunyi bersuara dan bunyi tidak bersuara.

  • berdasarkan artikulasi, dibedakan menjadi:

  1. bilabial yaitu konsonan terjadi pada kedua belah bibir.

  2. labiodental yaitu konsonan terjadi pada gigi bawah dan bibir atas.

  3. laminoalveolar yaitu konsonan terjadi pada daun lidah yang menempel pada gusi.

  4. dorsovelar yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak.

  • berdasarkan cara artikulasinya dibedakan menjdai konsonan hambat (plosif), geseran (frikatif), paduan, sengauan (nasal), getaran (trill), sampingan (lateral) serta hampiran (aproksiman).

4.1.5 Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran, bunyi yang dapat disegmentasikan disebut bunyi segmental sedangkan bunyi yang tidak dapat disegmentasikan disebut bunyi suprasegmental.

        1. Tekanan atau Stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Bunyi yang diucapkan denag arus udara kuat akan dihasilkan tekanan yang keras, begitu juga sebaliknya.

        1. Nada atau Piteh

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Suatu bunyi yang diucapkan dengan frekuensi getaran tinggi akan dihasilkan nada tinggi, begitu juga sebaliknya.

        1. Jeda atau Persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Persendian dibedakan menjadi:

sendi dalam yang menunjuk batas antara satu silabel denagn silabel lain

sendi luar yang menunjuk batas lebih besar dari segmen silabel yang terdiri atas jeda antarkata dalam frase, jeda antar frase dalam klausa serta jeda antarkalimat dalam wacana.

        1. Silabel

Silabel yaitu satuan ritmis terkecil dalam arus ujaran atau runtutan bunyi. Satu silabel meliputi satu vokal atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Bunyi silabis atau puncak kenyaringan juga terdiri pada sebuah vokal. Bunyi yang sekaligus dapat menjadi aset dan koda pada dua buah silabel yang berurutan disebut interlude. Sedangkan pengertian onset yaitu bunyi pertama pada sebuah silabel dan koda yaitu bunyi akhir pada sebuah silabel.

4.2 FONEMIK

Objek penelitian yaitu fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat berfungsi untuk membedakan makna kata.

4.2.1 Indentifikasi Fonem

Untuk mengetahui sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa lalu membandingkan denagn satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. Kalau kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, maka bunyi tersebut adalah sebuah fonem. Misalnya kata laba dan raba.

Indentitas sebuah fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu saja.

4.2.2 Alofon

Alofon mempunyai kemipripan fonetis artinya banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Dalam distribusinya alofon memiliki 2 sifat yaitu:

  1. distribusi komplementer yaitu distribusi yang tidak bisa dipertukarkan

  2. distribusi bebas yaitu alofon bolh digunakan tanpaa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

Alofon adalah realisasi dari fonem sehingga dapat dikatakan bahwa fonem bersifat abstrka.

4.2.3 Klasifkasi Fonem

Klasifikasi fonem sama dengan klasifikasi bunyi yaitu vokal dan konsonan. Bedanya jika bunyi itu banyak sekali, sedangkan fonem agak terbatas sebab hanya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem.

4.2.4 Khazanah Fonem

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidaklah sama dengan bahasa lain.

4.2.5 Perubahan Fonem

Ucapan fonem dapat berubah atau berbeda tergantung pada lingkungnnya. Kasus perubahan itu sebagai berikut:

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya suatu bunyi menjadi sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Perubahan yang menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem disebut asimilasi fonemis sedangkan perubahan yang tidak menyebabkan berubahnya identitas suatu fonem dinamakan asimilasi fonetis.

Asimilasi dibedakan menjadi asimilasi progresif (bunyi yang ada dibelakang bunyi yang mempengaruhinya), asimilasi regresif (bunyi yang diubah ada didepan bunyi yang mempengaruhinya) dan asimilasi resiprokal (perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi)

Disimilasi adalah perubahan yang menyebabkan dua fonem yang sama menjadi berbeda.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Pelafalan kedua kata yang dieja berbeda itu menjadi sama merupakan suatu hasil penetralan. Apabila dalam linguistik, perubahan itu disebut arkifonem.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Umlaut yaitu perubahan vokal menjadi vokal yang lebih tinggi. Ablaut yaitu perubahan vokal dalam bahasa Indo Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal sedangkan untuk perubahan bunyi, harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turjki.

4.2.5.4 Kontraksi

Pemendekan berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih disebut kontraksasi. Pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesia dan Epentesis

Proses metatesis yaitu mengubah urtutan fonem yang terdapat dalam suatu kata sedangkan proses epentesis yaitu sebuah fonem tertentu biasanya yang homorgan dengan lingkungannya disisipkan ke dalam sebuah kata

4.2.6 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang dapat membedakan

makna / fungsional.

Iklan
 

One Response to “SYAFAATUN NIKMAH;1402408319”

  1. Nur Zuafah Says:

    Menurut saya hasil resume Anda sudah baik dan mudah dipahami. Saya ingin bertanya pada Anda,
    1 fonologi adalah ilmu yang mempelajari tentng bunyi , bunyi yang keluar dari mulut penutur entah itu sampai ke telinga kita atau tidak, pasti memerlukan suatu prosessehingga menghasilkan suatu bunyi, bahasa, tolong jelaskan proses terjadinya bunyi bahasa!
    2. objek fonologi adalah fonetikdan fonemik. menurut Anda apakah yang menjadi dasar perbedaan antara fonetik dan fonemik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s