Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

sarianti;1402408179 Oktober 17, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 3:40 pm

BAB 7

Wacana terbentuk dari kalimat, kalimat dari klausa, klausa terdiri dari beberapa frase, frase terdiri dari kata, kata terdiri dari morferm yang terdiri dari fenom yang terdapat beberapa font/bunyi

Hocket berpendapat tentang bahasa, yaitu system yang komplek dari kebiasaan – kebiasan. Yang terdiri dari beberapa subsistem antara lain subsistem gramatikal, subsistem fonologi, subsistem morfofonemik, subsistem semantic, subsistem fonetik.linguistik/bahasa ( signe lingustique) terdiri dari signifian dan signifie

7.1 Hakikat Makna

Menurut Ferdinand De Sausure, tanda linguistic terdiri dar signifian ( yang mengartikan) dan signifie ( yang mengartikan)

Contohnya: meja. Signifian dari meja(tanda linguistik) : /m/,/e/,/j/,/a/ . sedangkan signife yaitu : sejenis perabotan rumah tangga/ kantor

Menurut Richard & Ogdent

(b) konsep sejenis peralatan rumah tangga

(c) referan

(a) tanda linguistic < m.e.j.a>

menurut Ferdinand De Saussere, makna sama dengan pengertian / konsep yang dimiliki oleh setiap kata / leksem; kalau hal tersebut / tanda linguistic itu disamakan identitasnya dengan kata / leksem. Tapi apabila hal tersebut disamakan identitasnya dengan morfem afiks. Missal penanda ( mengacu pada sesuatu yang ditandai) karena merupakan penanda maka mempunyai petanda. Tidak semuakata / leksem itu mempuntai acuan kongkret didunia nyata, kadang kata / leksem sering kali lepas dari pengertianya. Missal buaya, “ dasar buaya isbunya sendiri ditipunya” kita bias mengartikan sebuah kata apabila sudah berada dalam konteks wacana/situasi. Kita tiadak bias menjelaskan hubungan kata – kata itu dengan makna yang dimiliki.

7.2 Jenis Makna

Karena bahasa digunakan untuk berbagai kegiatan dalam keperluan dalam kehidupan bermasyarakat, maka makna bahasa itu pun menjadi bermacam – macam

7.2.1 Jenis Leksikal, gramatikal dan kontekstual

Makna Leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun( makna sebenarnya), missal: kuda: binatang berkaki empat

Makna Gramatikal adalah baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi / kalimatisasi, missal ber+ baju : berarti mengenakan/memakai baju

Makna Kontekstual adalah makna sebuah leksem / kata yang berada didalam satu konteks, juga dapat berkenaan dengan situasi, tempat,waktu, lingkungan.

7.2.2 Makna Refernsial dan Non referensial

Sebuah kata / leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya/ acuanya.

7.2.3 Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif : makna asli, makna asal / makna sebenarnya yang memiliki sebuah leksem

Makna Konotatif : makna lain yang “ ditambahkan “ pada makna denotative

7.2.4 Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna Koseptual : makna leksikal, makna denotatif dan makna referensial ( makna yang sebenarnya)

Makna Asosiatif : perkembangan yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan konsep lain. ,akna asosiatif terdiri dari :

1. makna konotatif : makna tidak sebenarnya

2. makna statistika : pembedaan penggunaan kata

3. makna efektif : perasaan pembicara terhadap lawan bicara

4. makna kolokatif : ciri – cirri makna tertentu yang dimiliki sebuah dari kata – kata yang bersinonim

7.2.5 Makna Kata dan Makna Istilah

Istilah : hanya digunakan pada bidang ke ilmuan / kegiatan tertentu

Makna kata : setiap kata yang memiliki makna

7.2.6 Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom : satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “ diramalkan” dari makna unsure-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal

Peribahasa : makna yang masih dapat ditelusuri dari makna unsur – unsurnya

7.3 Kelasi Makna

hubungan semantic yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lain. Yang dibicarakan sinonim, antonym, polisemi, homonym, hiponim, ambiguity, redundansi.

      1. Sinonim

Hubungan simantik yang menyatakan adanya kesamaan makna. 2 buah ujaran yang bersinonim tidak akan persis sama terjadi karena

  1. factor waktu

  2. factor tempat dan wilayah

  3. factor keformalan

  4. factor social

  5. bidang kegiatan

  6. factor nuansa makna

      1. Antonim

Hubungan semantic antara 2 buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kenalikan, pertentangan, kontras. Dilihat dari sifat hubungannya dibedakan atas beberapa jenis

1. Antonym yang bersifat mutlaik hidup x mati

2. Antonym yang bersifat relative/ bergradasi besae x kecil

3. Antonim yang bersifat relasional membeli x menjual

4. Antonim yang bersifat hierarki tamtama x bintara

antonym majemuk : sataan ujaran yang memiliki pasangan antonym lebih dari Satu

      1. Polisemi

Kata yang mempunyai makna lebih dari Satu

Misal :

Kepala : 1. bagian tubuh manusia

2. ketua / pimpinan

3. sesuatu yang disebelah atas

4. sesuatu yang berbentuk bulat

5. sesuatu yang sangat penting

      1. Homonim

2 kata / satuan ujaran yang bentuknya kebetulan sama maknya berbeda

contoh : bias; racun ular/sanggup

  1. Homofon

Adanya kesamaan bunyi ( fon), ejaan, tulisan beda

Contoh : bang : abang , bank : lembaga keuangan

  1. Homograf

Ejaan sama, ucapan dan makna tidak sama

      1. Hiponim

Hubungan semantic antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujara yang lain.

Contoh : merpati dan burung

      1. Ambiguiti / Ketaksaan

Gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda, biasanya terdapat pada bahasa tulisan

      1. Redundasi

Berlebih-lebihannya penggunaan unsure sagmental dalam suatu bentuk ujaran

Contoh : bola itu di tentang oleh dika

    1. Perubahan Makna

Dalam masa yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tak berubah tetapi dalam waktu yang relative lama ada kemungkinan akan berubah yang hanya terjadi pada sejumlah kata saja, yang disebabkan

  1. perkembangan konsep ke ilmian dan teknologi

  2. perkembangan social budaya

  3. perkembangan pemakaian kata

  4. pertukaran tanggapan indra

  5. adanya asosiasi ( hubungan antara sebuah bentuk ucapan)

    1. meluas

    2. menyempit

    3. total

    4. eufemisme

    5. aisfemisme

    1. Medan Makna dan Komponen Makna

Pengelompokan kata berdasarkan cirri semantic yang dimiliki kata – kata itu

Analisis komponen : usaha untuk menganalisis kata / leksem atas unsur – unsur yang dimiliki.

      1. Medan Makna (Semantic domain, semantic field )

Makna leksikal : seperangkat unsure leksikal yang maknnya saling berhubungan kerena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan/ realitas dalam alam semesta tertentu.

      1. Komponen Makna

Makna yang dimiliki setiap kata yang terdiri dari sejumlah komponen yang dapat di analisis, dibutiri / disebutkan satu –satu.

Komponen makna ini dapat dimanfaatkan untuk mencari perbedaan dari bentuk – bentuk yang bersinonim

Untuk membuat prediksi makna – makna gramatikal afiksasi, reduplikasi dan komposisi dalam bahasa Indonesia

      1. Kesesuaian semantic dan sintatik

Diterima tidaknya kalimat bukan hanya masalah gramatikal tetapi juga masalah semantik

 

One Response to “sarianti;1402408179”

  1. uswatul hasanah Says:

    Rangkumannya sudah baik, namun akan lebih baik lagi apabila ditambah penjelasan agar rangkuman tersebut lebih mudah dipahami. kalau perlu ditambah contoh-contoh yang mendukung penjelasannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s