Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Hayyu Widya P;1402408190 Oktober 17, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 3:08 pm

Nama : Hayyu Widya P

NIM : 1402408190

Rombel : 2

BAB 8

8. SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

8.1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu.

8.1.1. LINGUISTIK ZAMAN YUNANI

Studi bahasa pada zaman Yunani mempunyai sejarah yang sangat panjang, kurang lebih sekitar 600 tahun. Bahasa bersifat alami atau fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri. Kaum konvensional, berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi. Artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang kemungkinan bisa berubah.

Beberapa kaum / tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa pada zaman Yunani

8.1.1.1. Kaum Sophis ( 5 SM )

Dikenal dalam studi bahasa, antara lain karena :

    1. Mereka melakukan kerja secara empiris.

    2. Mereka melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu.

    3. Mereka sangat mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa.

    4. Mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna.

8.1.1.2. Plato ( 429 – 347 SM )

Dalam studi bahasa terkenal, antara lain karena :

  1. Dia memperdebatkan analogi dan anomaly dalam bukunya Dialoog juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konvensional.

  2. Dia menyodorkan batasan bahasa yaitu pernyataan pikiran manusia dengan peranteraan anomata dan rhemata.

  3. Dialah orang yang pertama kali membedakan kata dalam bahasa anoma dan rhema.

8.1.1.3. Aristoteles ( 384 – 322 SM )

Dalam studi bahasa dia terkenal, antara lain karena :

  1. Menurut Aristoteles ada tiga macam kelas kata, yaitu anoma, rhema dan syndesmoi (kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis)

  2. Dia membedakan jenis kelamin kata (atau gender) menjadi tiga, yaitu maskulin, feminin, dan neutrum.

8.1.1.4. Kaum Stoik ( 4 SM )

Kaum Stoik terkenal, antara lain karena :

  1. Mereka membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa.

  2. Mereka menciptakan istilah-istilah khusus untuk studi bahasa.

  3. Mereka membedakan tiga komponen utama studi bahasa yaitu (1) tanda, simbol, sign atau semainon, (2) makna, apa yang disebut, semainomen, atau lekton, (3) hal-hal di luar bahasa, yakni benda atau situasi.

  4. Mereka membedakan legein, yaitu bunyi yang merupakan bagian dari fanologi tetapi tidak bermakna, dan propheretal yaitu ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna.

  5. Mereka membagi jenis kata menjadi empat, yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi, dan arthorom.

  6. Mereka membedakan kata kerja komplet dan kata kerja tak komplet, serta kata kerja aktif dan kata kerja pasif.

8.1.1.5. Kaum Alexandrian

Kaum Alexandrian menganut paham analogi dalam studi bahasa. Tata bahasa Dionysius Thrax sebagai hasil kereguleran bahasa Yunani. Buku Dionysius Thrax lahir lebih kurang tahun 100 SM. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Remmius Palaemon dengan judul Ars Grammatika.

8.1.2. Zaman Romawi

Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal, antara lain, Varno (116-27 SM) dengan karyanya de Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.

8.1.2.1. Varro dan “De Lingua Latina”

Dalam buku De Lingua Latina terdiri dari 25 jilid. Buku ini dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi, dan sintaksis.

  1. Etimologi, adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal-usul kata beserta isinya. Varro mencatat adanya perubahan bunyi yang terjadi dari zaman ke zaman, dan perubahan makna kata. Misalnya dari kata duellum menjadi belum yang artinya ‘perang’.

  2. Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya, yaitu kata benda, kata kerja, partisipel, adverbium.

8.1.2.2. Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Dianggap sangat penting, karena :

  1. Merupakan buku tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya.

  2. Teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Beberapa segi yang patut dibicarakan mengenai buku ini, antara lain :

  1. Fonologi. Dalam bidang fonologi pertama-tama dibicarakan tulisan atau huruf yang disebut literrae, yaitu bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. Bunyi itu dibedakan empat macam, yaitu :

    1. Vox artikulata, bunyi yang diucapkan untuk membedakan makna;

    2. Vox martikulata, yaitu bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukkan makna;

    3. Vox litterata, bunyi yang dapat dituliskan baik yang artikulata maupun yang martikulata; dan

    4. Vox illiterate, bunyi yang tidak dapat dituliskan.

  2. Morfologi. Dalam bidang ini dibicarakan mengenai dictio atau kata. Kata dibedakan delapan jenis yang disebut partes orationis. Kedelapan jenis kata itu adalah :

    1. nomen; (5) adverbium;

    2. verbum; (6) praepositio;

    3. participium; (7) interjectio;

    4. pronomen; (8) conjunction.

  3. Sintaksis. Bidang sintaksis membicarakan hal yang disebut oratio, yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai.

8.1.3. Zaman Pertengahan

Dari zaman pertengahan yang patut dibicarakan dalam studi bahasa, antara lain, peranan kaum Modistae, Tata Bahasa Spekulativa, dan Petrus Hispanus.

Kaum Modistae membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomaly.

Tata Bahasa Spekulativa, menyatakan kata tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuk.

Petrus Hispanus, dengan bukunya yang berjudul Summulae Logicales. Peranannya antara lain :

  1. Dia telah memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa.

  2. Dia telah membedakan nomen atas dua macam, yaitu nomen substantivium dan nomen adjectivum.

  3. Dia membedakan partes orations atas categorematik dan syntategorematik.

8.1.4. Zaman Renaisans

1. Bahasa Ibrani dan Bahasa Arab banyak dipelajari orang pada akhir abad pertengahan. Beberapa buku tata bahasa Ibrani telah ditulis orang pada zaman Renaisans, antara lain oleh Roger Bacon, Reuchlin, dan N. Clenard. Buku tata bahasa yang ditulis Reuchlin berjudul De Rudimentis Hebraicis.

2. Linguistik Arab. Studi bahasa Arab mencapai puncaknya pada abad ke-8 dengan terbitnya buku tata bahasa Arab berjudul Al-Kitab, atau yang lebih dikenal dengan naka Kitab Al Ayn, karya Si Bawaihi dari kelompok linguistik Basra.

3. Bahasa-bahasa Eropa. Dante menulis buku berjudul De Vulgari Eloquentia pada permulaan abad ke-14.

4. Bahasa-bahasa di luar Eropa.

8.1.5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

8.2. LINGUISTIK STRUKTURALIS

Tokoh-tokoh linguistik strukturalis antara lain :

8.2.1. Ferdinand de Saussure ( 1897 – 1913 )

Dianggap sebagai bapak Linguistik modern, dalam bukunya Course de Linguistique Gererale diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay tahun 1915. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep :

(1) Telaah sinkronik dan diakronik, (2) perbedaan langue dan parole, (3) perbedaan significant dan signifie, (4) hubungan sintagmetik dan paradigmatik.

      1. Aliran Praha ( 1926 )

Salah seorang tokohnya, yaitu Vilem Mathesius ( 1882 – 1945). Tokoh-tokoh lainnya adalah Nikalai S. Trubetskoy, Roman Jakob dan Morris Halle. Aliran praha membedakan akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bungi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi di dalam suatu sistem. Dalam bidang fonologi aliran praha memperkenalkan dan mengembangkan morfologi, bidang yang meneliti perubahan-perubahan fonologis yang terjadi sebagai akibat hubungan morfem dengan morfem. Misalnya, jawab X jawap: abad X abat.

      1. Aliran Glosematik

Aliran glosematik lahir di Denmark, tokohnya antara lain Louis Hyemslev ( 1899 – 1965 ). Namanya menjadi terkenal karena membuat ilmu bahasa menjadi ilmu terminologis sendiri., Hjemslev menganggap bahasa mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi (menurut desaussureisignifiant) dan segi isi (menurut desaussure signifie). Sehingga diperoleh (1) forma ekspresi, (2) substansi ekspresi, (3) forma isi dan (4) substansi isi.

      1. Aliran Firthian

Nama John Firth (1890 – 1960) sangat terkenal karena mengenal fonologi prosodi, adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada tiga macam pokok prosodi, yaitu (1) prosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan dan gabungan vokal, (2) prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda ; dan (3) prosodi yug realisasi fonetisnya melampui yang lebih besar daripada fonem-fonem supra segmental.

      1. Linguistik Sistemik

Pokok-pokok pandangan systemic linguistics (SL) adalah pertama, SL memberikan pwerhatian poenuh pada segi kemasyarakatan bahasa Kedua SL mamandang bahasa sebagai “pelaksana”. Ketiga, SL lebih mengutamakan pemberian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya. Keempat, SL mengenal adanya gradasi atau kontinum. Kelima, SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa sebagai substansi.

      1. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika ( 1877 – 1949 )

Leonard Bloomfield terkenal karena bukunya yang berjudul Language. Strukturalisme lebih dikenal dan menyatu kepada nama aliran linguistik yang dikembangkan oleh Bloomfield dan kawan-kawannnya di Amerika.

Faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran linguistik.

Pertama, banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diberikan.

Kedua, sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yaitu filsafat behaviorisme. Ketiga, karena adanya The Linguistics Sosiety of Amerika yang menerbitkan majalah Language.

      1. Aliran Tagmemik

Dipelopori oleh Kenneth L. Pike, seorang tokoh dari summer Institute of Linguistics. Tagmen adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk menmgisi slot tersebut. Misalnya, dalam kalimat pena itu berada di atasnya meja, bentuk itu mengisi fungsi subjek, dan tagmen subjeknya dinyatakan dengan pena itu.

    1. LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

8.3.1. Tata Bahasa Transformasi

Tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky berjudul syntactic structure. Menurut Chomsky tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu :

Pertama, kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, kedua tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa sehingga istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja.

      1. Sematik Generatif

Menurut teori semantik generatif, argument adalah segala sesuatu yang dibicarakan, sedangkan predikat itu semua yang menunjukkan hubungan, perbuatan, sifat, keanggotaan dsb. Dalam menganalisis sebuah kalimat, teori ini berusaha mengabstraksikan predikatnya dan menentukan argument-argumennya. Dalam mengabstraksikan predikat, teori ini berusaha untuk menguraikannya lebih jauh sampai diperoleh predikat yang tidak dapat diuraikan lagi.

      1. Tata Bahasa Kasus

Teori bahasa kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fill more dalam karangannya berjudul “The Case for Case” tahun 1968. Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 Fill more membagi kalimat atas (1) modalitas, berupa unsur negasi, kata aspek, dan adverbia, (2) proposisi, terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasusu, yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan verba dengan nomina. Verba di sini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argument dalam teori semantik generatif.

      1. Tata Bahasa Relasional

Muncul tahun 1970-an. Menurut teori tata bahasa relasional setiap struktur klausa terdiri dari jaringan rewlasional (relational netwok) yang melibatkan tiga macam maujud (entity), yaitu :

  1. seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur.

  2. Seperangkat tanda relasional (relasional sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain.

  3. Seperangkat “coordinates” dipakai untuk menunjukkan pada tataran manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal terhadap elemen lain.

    1. TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. Penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya, untuk kepentingan pemerintahan kolonial.

Konsep-konsep linguistik modern seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure sudah bergema sejak awal abad XX. (buku de Saussure terbit 1913). Konsep linguistik modern melihat bahasa secara deskriptif sukar diterima oleh para guru bahasa dan pakar bahasa Indonesia, yang melihat bahasa secara preskriptif / normatif.

Pada tanggal 15 November 1975, atas prakarsa sejumlah linguistik senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yaitu Masyarakat Linguistik Indonesia.

Berbagai segi dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak pakar dengan menggunakan berbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis.

BAB IV

    1. FONETIK

Seperti sudah disebutkan di muka, fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu artikulatoris, fonetik akustik dan fonetik auditoris.

Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Fonetik akustik mempelajri bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselediki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya dan timbrenya. Sedangkan fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dari ketiga jenis fonetik ini, yang paling berurutan dengan dunia linguistik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika dan fonetik auditoris lebih berkenaan dengan bidang kedokteran, yaitu neurologi, meskipun tidak tertutup kemungkinan linguistik juga bekerja dalam kedua bidang fonetik itu.

  • Alat Ucap

Bunyi bahasa mempunyai fungsi utama yang bersifat biologis, misalnya paru-paru untuk bernapas, lidah untuk mengecap dan gigi untuk mengunyah. Secara kebetulan alat – alat itu digunakan juga berbicara. Kita perlu mengenal nama-nama alat-alat itu untuk bisa memahami bagaimana bunyi bahasa itu diproduksi. Nama alat-alat ucap / alat-alat yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut :

1. Paru-paru (lung)

2. Batang tenggorok (trachea)

3. Pangkal tenggorok (larynx)

4. Pita suara (vocal card)

5. Krikoid (Cricoid)

6. Tiroid (thyroid atau lekum)

7. Aritenoid (arythenoid)

8. Dinding rongga kerongkongan

(wall of pharynx)

  1. Epiglotis (epiglottis)

  2. Akar lidah (root of the tongue)

  3. Pangkal lidah (Back of the tangue, dorsum

  4. Tengah lidah (middle of the tongue, medium)

  5. Daun lidah (blade of tangue, laminum)

  6. Ujung lidah (tip of the tongue, apex)

  1. Anak tekak (uvula)

  2. Langit-langit lunak (soft palate, velem)

  3. langit-langit keras (hard palate, palatum)

  4. Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)

  5. gigi atas (upper teeth, dentum)

  6. gigi bawah (lower teth, dentum)

  7. bibir atas (upper lip, labium)

  8. bibir bawah (lower lip, labium)

  9. mulut (mouth)

  10. rongga mulut (oral cavity)

  11. rongga hidung (nasal cavity)

  • Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin yang ditambah dengan jumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf latin itu. Bunyi bahasa itu banyak sekali, melebihi jumlah huruf yang ada itu, misalnya saja abjad vocal yakni a, i, e, o dan u. Padahal bahasa Indonesia saja mempunyai 6 buah fonem vokal dengan sekian banyak alofonnya. Begitupun bahasa Inggris dan bahasa Prancis memiliki lebih dari 10 buah vokal.

Bandingkanm dengan sistem ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sekarang, misalnya huruf e digunakan untuk melambangkan lebih dari satu bunyi. Samakan bunyi huruf e pada kata keras, monyet dan sate ? samakan huruf u pada kata-kata Inggris but, put, dan hurt ? Tentu saja tidak, sebab huruf e dan huruf u dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tersebut tidak digunakan secara fonetis.

  • Klasifikasi Bunyi

Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung yang mendapat hambatan di tempat-tempat artikulasi tertentu. Jadi, beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adalah arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa sedangkan dalam menentukan bunyi konsonan arus udara udara itu masih mendapat hambatan / gangguan.

  • Klasifikasi Vokal

Posisi lidah bisa bersifat vertikal bisa bersifat horizontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya [i] dan [u]; vokal tengah, misalnya bunyi [e] dan [o] dan vokal rendah, misalnya bunyi [a]. Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan, misalnya bunyi [i] dan [e]; vokal, misalnya bunyi [d] dan vokal belakang, misalnya bunyi [u] dan [o]. Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar. Disebut vokal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya vokal [o] dan vokal [u]. Disebut vokal tak bundar karena bentuk mulut tidak bundar, melainkan melebar pada waktu mengucapkan vokal tersebut, vokal [i] dan vokal [e].

  • Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan tiga patokan atau kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi. Dengan ketiga kriteria itu juga orang memberi nama akan konsonan itu.

    • Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi [b], [r] dan [m].

    • Labiodental, yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental adalah bunyi [f] dan [v].

    • Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, dalam hal ini daun lidah menempel pada gusi. Yang termasuk konsonan laminoalveolar adalah bunyi [t] dan [d].

    • Dorsovelar, yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi [k] dan [g].

  • Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran ada bunyi yang dapat disegmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek dan jeda bunyi suprasegmental atau prosodi.

Iklan
 

One Response to “Hayyu Widya P;1402408190”

  1. kurniawati_rahayu Says:

    Apakah yang dimaksud dengan verbum?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s