Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Diah Anggraeni;1402408210 Oktober 17, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 3:01 pm

Nama :Diah Anggraeni

Nim :1402408210

Rombel:2

BAB IV

  1. FONETIK

Seperti sudah disebutkan di muka, fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya 3 jenis fonetik yaitu fonetik artikulatonis, fonetik akustik, dan fonetik auditonis.

Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis/fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya dan timbrenya. Sedangkan fonetik auditonis mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dari ketiga jenis fonetik ini, yang paling berurutan dengan dunia linguitik adalah fonetik artikuloris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika dan fonetik auditoris lebih berkenaan dengan bidang kedokteran, yaitu neurologi, meskipun tidak tertutup kemungkinan linguistik juga bekerja dalam kedua bidang fonetik itu.

  • Alat Ucap

Bunyi bahasa mempunyai fungsi utama yang bersifat biologis, misalnya paru-paru untuk bernapas, lidah untuk mengecap dan gigi untuk mengunyah. Secara kebetulan alat-alat itu digunakan juga berbicara. Kita perlu mengenal nama-nama alat-alat itu untuk bisa memahami bagaimana bunyi bahasa itu diproduksi. Nama alat-alat ucap/alat-alat yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut:

  1. Paru-paru (lung)

  2. Batang tenggorok (trachea)

  3. Pangkal tenggorok (larynx)

  4. Pita suara (vocal card)

  5. Krikoid (cricoid)

  6. Tiroid (thyroid atau lekum)

  7. Anak tekak (uvula)

  8. Langit-langit lunak (soft palate, velem)

  9. Langit-langit keras (hard palate, palatum)

  10. Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)

  11. Aritenoid (arythenoid)

  12. Dinding rongga kerongkongan (wall pf pharynx)

  13. Epiglotis (epiglottis)

  14. Akar lidah (root of the tongue)

  15. Pangkal lidah (back of the tongue, dorsum)

  16. Tengah lidah (middle of the tongue, medium)

  17. Daun lidah (blade of tongue, laminum)

  18. Ujung lidah (tip of the tongue, apex)

  19. Gigi atas (upper teeth, dentum)

  20. Gigi bawah (lower teeth, dentum)

  21. Bibir atas (upper lip, labilum)

  22. Bibir bawah (lower lip, labilum)

  23. Mulut (mouth)

  24. Rongga mulut (oral cavity)

  25. Rongga hidung (nasal cavity)

  • Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara Latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf Latin itu. Bahasa itu banyak sekali, melebihi jumlah huruf yang ada itu, misalnya saja abjad vokal yakni a, i, e, o, dan u. Padahal bahasa Indonesia hanya mempunyai 6 buah fonem vokal dengan sekian banyak alofonnya. Bergitupun bahasa Inggris dan bahasa Perancis memiliki lebih dari 10 buah vokal.

Bandingkan dengan sistem ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sekarang, misalnya huruf e digunakan untuk melambangkan lebih dari satu bunyi. Samakan bunyi huruf e pada kata keras, monyet dan sate? Samakan huruf u pada kata-kata but, put, dan hurt? Tentu saja tidak sebab huruf e dan huruf u dalam bahasa Indonesia dan bahas Inggris tersebut tidak digunakan secara fonetis.

  • Klasifikasi Bunyi

Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit agak lebar, diteruskan ke rongga mulut/rongga hidung dengan mendapat hambatan-hambatan di tempat artikulasi tertentu. Jadi, beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adlaah arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa sedangkan dalam menentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan/gangguan.

  • Klasifikasi Vokal

Posisi lidah bisa bersifat horisontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya [i] dan [u]; vokal tengah, misalnya bunyi [e] dan [o] dan vokal rendah, misalnya bunyi [a]. Secara horisontal dibedakan adanya vokal depan, misalnya bunyi [i] dan [e]; vokal, misalnya bunyi [d] dan vokal belakang, misalnya bunyi [u] dan [o]. Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar. Disebut vokal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya vokal [o] dan vokal [u]. Disebut vokal tak bundar karena bentuk mulut tidak bundar, melainkan melebar pada waktu mengucapkan vokal tersebut, vokal [i] dan vokal [e].

  • Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan dibedakan berdasarkan 3 patokan atau kriteria yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. dengan ketiga kriteria itu juga orang memberi nama akan konsonan itu.

  • Bilabial yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi [b], [r], dan [m].

  • Labiodental, yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental: /f/ dan /v/.

  • Laminoalveolar yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, dalam hal ini daun lidah menempel pada gusi. Yang termasuk konsonan laminoalvelar adalah bunyi /t/ dan /d/.

  • Dorsovelar yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum/langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi /k/ dan /g/.

  • Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi suprasegmental atau prosodi.

Nama:Hayyu widya pratiwi

Nim : 1402408190

Rombel : 2

BAB 8

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

  1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur/ciri formal yang ada pada suatu bahasa tertentu.

  1. LINGUISTIK ZAMAN YUNANI

Studi bahasa pada zaman Yunani mempunyai sejarah yang sangat panjang, kurang lebih sekitar 600 tahun. Bahasa bersifat alami atau fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri. Kaum konvensional, berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi. Artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang kemungkinan bisa berubah. Beberapa kaum/tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa pada zaman Yunani:

  1. Kaum Sophis (5 SM)

Dikenal dalam studi bahasa, antara lain karena:

  1. Mereka melakukan kerja secara empiris,

  2. Melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran tertentu,

  3. Mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa,

  4. Membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna.

  1. Plato (429 – 347 SM)

Dalam studi bahasa terkenal, antara lain karena:

      1. Dia memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya Dialoog juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan konvensional.

      2. Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perencanaan anomata dan rhemata.

      3. Dialah orang yang pertamakali membedakan kata anoma dan rhema.

  1. Aristoteles (384 – 322 SM)

Dalam studi bahasa dia terkenal, antara lain karena:

  1. Menurut Aristoteles ada tiga macam kelas kata, yaitu anoma, rhema, dan syndesmoi (kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis).

  2. Membedakan jenis kelamin kata (gender) menjadi 3 yaitu maskulin, feminin, dan neutrum.

  1. Kaum Stoik ( 4 SM)

Kaum Stoik terkenal, antara lain karena:

  1. Membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa.

  2. Menciptakan istilah khusus dalam studi bahasa.

  3. Membedakan 3 komponen utama dari studi bahasa, yaitu 1) tanda, simbol, sign, atau semainon, 2) makna, apa yang disebut smainomen/lekton, 3) hal-hal di luar bahasa yakni benda-benda/situasi.

  4. Mereka membedakan legein, yaitu bunyi yang merupakan bagian fonologi tetapi tidak bermakna dan propheretal yaitu ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna.

  5. Mereka membagi jenis kata menjadi empat yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi, dan arthoron yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah.

  6. Membedakan kata kerja komplek dan kata kerja tak komplek. Serta kata kerja aktif dan pasif.

  1. Kaum Alexandrian

Kaum ini menganut paham analogi dalam studi bahasa. Tata Bahasa Dionysius Thrax sebagai hasi kereguleran bahasa Yunani. Buku Dionysius Thrax lahir lebih lebih kurang tahun 100 SM. Buku ini deterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Remmius Palaemon dengan judul Ars Grammatika.

  1. ZAMAN ROMAWI

Tokoh pada jaman Romawi yang terkenal antara lain, Varro (116 – 27 SM) dengan karyanya, De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.

  1. Varro dan “De Lingua Latina”

Dalam buku De Lingua Latina terdiri dari 25 jilid. Buku ini dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi, dan sintaksis.

  1. Etimologi, adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal usul kata beserta artinya. Varro mencatat adanya perubahan bunyi yang terjadi dari zaman dan perubahan makna kata. Perubahan bunyi misalnya dari akta dvellum menjadi belum yang artinya perang.

  2. Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya, yaitu kata benda, kata kerja, partisipel, adverbium.

  1. Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Dianggap sangat penting karena:

  1. Merupakan buku tata bahasa Latin paling lengkap yang dituturkan pembicara aslinya.

  2. Teori-teori tata bahasa yang merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Beberapa segi yang patut dibicarakan mengenai buku itu yaitu:

  1. Fonologi. Dalam bidang fonologi pertama-tama dibicarakan huruf atau tulisan atau huruf yang disebut literae, yaitu bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. Bunyi dibedakan empat macam, yaitu:

  1. Vox artikulata, yaitu bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukkan makna;

  2. Vox martikulata, yaitu bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukkan makna;

  3. Vox litterata, bunyi yang dapat dituliskan baik yang artikulata maupun yang martikulata; dan

  4. Vox illiterate, bunyi yang tidak dapat dituliskan.

  1. Morfologi. Dalam bidang ini dibicarakan mengenai dictio atau kata. Kata dibedakan delapan jenis yang disebut partes orationes. Kedelapan jenis kata itu adalah:

  1. Nomen;

  2. Verbum;

  3. Participum;

  4. Pronomen;

  5. Adverbum;

  6. Praepositio;

  7. Interjectio;

  8. Conjunctio.

  1. Sintaksis. Bidang sintaksis membicarakan mengenai hal yang disebut oratio, yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai

  1. ZAMAN PERTENGAHAN

Dari zaman pertengahan ini yang patut di bicarakan dalam studi bahasa, antara lain, peranan kaum Modiste, Tata Bahasa Spekulativa, dan Petrus HIspanus.

Kaum Modistae membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomali.

Tata Bahasa Spekulativa, menyatakan kata tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuk.

Petrus Hispanus, dengan bukunya yang berjudul Summulae Logicales. Peranannya antara lain:

      1. Dia telah memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa.

      2. Dia telah membedakan nomen atas dua macam yaitu nomen substantivum dan nomen edjektivum.

      3. Dia telah membedakan prates orationes atas categorematik dan syntategorematik.

  1. ZAMAN RENAISANS

  1. Bahasa Ibrani dan bahasa Arab banyak dipelajari orang pada akhir abad pertengahan. Beberapa buku tata bahasa Ibrani telah ditulis orang pada zaman Renaisans, antara lain Roger Bacon, Reuchlin, dan N. Clenard. Buku tata bahasa yang ditulis Reuchlin berjudul De Rudimentis Hebraicis.

  2. Linguistik Arab. Studi bahasa Arab mencapai puncaknya pada abad ke-8 dengan terbitnya buku tata bahasa Arab berjudul Al-Kitab, atau yang lebih dikenal dengan nama Kitab Al Ayn, karya Si Bawaihi dari kelompok linguistik Basra.

  3. Bahasa-bahasa Eropa. Dante menulis buku berjudul De Vulgari Eloquentia pada permulaan abad ke-14.

  4. Bahasa-bahasa di luar Eropa.

  1. LINGUISTIK STRUKTURALIS

Tokoh-tokoh linguistik strukturalis antara lain:

  1. Ferdinand de Saussure

Dianggap sebagai Bapak Linguistik modern, dalam bukunya Course de Linguistique Generale diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay pada tahun 1915. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep: 1) telaah sinkronik dan diakronik, 2) perbedaan language dan parae, 3) perbedaan signifiant dan signifie, 4) hubungan sintagmatik dan paradigmatik.

  1. Aliran Praha (1926)

Salah satu tokohnya, yaitu Vilem Mathesius (1882 – 1945). Tokoh-tokoh lainnya adalah Nikalai S. Trubetskoy, Roman Jakob dan Morris Halle. Aliran Praha membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. Dalam bidang fonologi aliran praha memperkenalkan dan mengembangkan morfologi, bidang yang meneliti perubahan-perubahan fonologis yang terjadi sebagai akibat hubungan morfem dengan morfem. Misalnya, jawab X jawap: abad X abat.

  1. Aliran Glosematik

Aliran Glosematik lahir di Denmark, tokohnya Louis Hjemslev (1899 – 1965). Namanya menjadi terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis, dan terminologis sendiri. Hjemslev menganggap bahasa mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi (menurut desaussure isignifiant) dan segi isi (menurut desaussure signifie). Sehingga diperoleh (1) forma ekspresi, (2) substansi ekspresi, (3) forma isi dan (4) substansi isi.

  1. Aliran Firthian

Nama John R. Firth terkenal karena teorinya mengenai fonolofi prosodi. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada tiga macam pokok prosodi , yaitu (1) prosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan dan gabungan vokal. (2) prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda, (3) prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar dari pada fonem-fonem suprasegmental.

  1. Linguistik Sistemik

Pokok-pokok pandangan systemic linguistic (SL) adalah: pertama, SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa, kedua SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”, ketiga SL mengutamakan pemberian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya, keempat SL mengenal adanya gradasi/kontinum, dan kelima SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa sebagai substansi

.

  1. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika (1877 – 1949)

Leonard Bloomfield terkenal karna bukunya yang berjudul Language. Strukturalisme lebih dikenal dan menyatu kepada nama aliran linguistik yang dikembangkan oleh Bloomfield dan kawan-kawannya di Amerika. Faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran linguistik: pertama, banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diberikan. Kedua, karena adanya The Linguitics Sosiety of Amerika yang menerbitkan majalah Language.

  1. Aliran Tagtemik

Dipelopori oleh Kenneth L. Pike, seorang tokoh dari Summer Institure of Linguistics. Tagmen adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Misalnya, dalam kalimat pena itu berada di atasnya meja, bentuk itu mengisi fungsi subjek, dan tagmen subjeknya dinyatakan dengan pena itu.

  1. LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

  1. Tata Bahasa Transformasi

Tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Structure. Menurut Chomsky tata bahasa harus memenuhi 2 syarat yaitu:

Pertama, Kalimat yang dihasilkan dari tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat, kedua tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja.

  1. Sematik Generatif

Menurut teori generatif semantik, argument adalah segala sesuatu yang dibicarakan, sedangkan predikat itu semua yang menunjukkan hubungan, perbuatan, sifat, keanggotaan, dsb. Dalam menganalisis sebuah kalimat, teori ini berusaha mengabstraksikan predikatnya dan menentukan argumen-argumennya. Dalam mengabstraksikan predikat, teori ini berusaha untuk menguraikannya lebih jauh sampai memperoleh predikat yang tidak dapat diuraikan lagi.

  1. Tata Bahasa Kasus

Teori bahasa kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Cese for Case” tahun 1968. Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu Fillmore membagi kalimat atas (1) Modalitas, yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia; dan (2) Proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus, yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan verba dengan nomina. Verba di sini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argumen dalam terori semantik generatif.

  1. Tata Bahasa Relasional

Muncul pada tahun 1970-an. Menurut teori bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam maujud (entry), yaitu:

  1. Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur;

  2. Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain;

  3. Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tatara yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain.

  1. TENTANG LINGUITIK DI INDONESIA

Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya, untuk kepentingan pemerintahan kolonial.

Konsep-konsep linguistik modern seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure sudah bergema sejak awal abad XX (buku de Saussure terbit 1913). Konsep linguitik modern melihat bahasa secara deskriptif sukar diterima oleh para guru bahasa dan pakar bahasa Indonesia, yang melihat bahasa secara preskriptif/normatif.

Pada tanggal 15 November tahun 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia.

Berbagai segi dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak pakar dengan menggunakan pelbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis.

 

One Response to “Diah Anggraeni;1402408210”

  1. tyas primasari (1402408265) Says:

    dalam nada atau pitch, bila diucapkan dengan frekuensi getaran tinggi, tentu akan disertai nada tinggi, begitu juga sebaliknya, maka nada-nada ini dalam bahasa tertentu bersifat ? ? ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s