Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Tegar Arenanda M; 1402408199 Oktober 16, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 9:32 am

Nama : Tegar Arenanda M.

NIM : 1402408199

BAB 5

TATARAN
LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

5.1 MORFEM

Morfem merupakan satuan gramatikal terkecil yang masih
mempunyai makna.

5.1.1 Identifikasi
Morfem

Untuk menentukan sebuah satuan bentuk termasuk morfem
atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya
dengan bentuk lain. Jika bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara
berulang-ulang dengan betuk lain, maka bentuk tersebut termasuk morfem. Contoh
: bentuk “ ke- “ pada kata kedua, ketiga, keempat, dst. Selain dengan menggunakan
metode di atas, kita dapat juga menentukan bentuk suatu morfem dengan
mengetahui makna kata tersebut.

Dalam studi morfologi, suatu satuan bentuk morfem
biasanya dilambangkan dengan mengapitnya di antara kurung kurawal.

5.1.2 Morf
dan Almorof

Almorof adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan)
dari sebuah morfem. Atau disebut juga almorof adalah suatu bentuk-bentuk
realisasi yang berlainan dari morfem yang sama. Selain itu bisa juga dikatakan
morf dan almorof adalah dua buah nama yang berbeda untuk sebuah bentuk yang
sama. Morf adalah nama untuk sebuah bentuk yang belum diketahui statusnya.
Sedangkan almorof adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui
status morfemnya.

5.1.3 Klasifikasi
Morfem

Morfem-morfem dalam suatu bahasa dapat diklasifikasikan
berdasarkan beberapa kriteria, antara lain : kebebasannya, keutuhannya,
maknanya, dsb.

5.1.3.1 Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas merupakan
morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.
Misalnya bentuk pulang, makan, rumah, dan bagus. Sedangkan yang dimaksud morfem
terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat
muncul dalam pertuturan. Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem
terikat.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh merupakan semua morfem dasar yang bebas
misalnya {meja},{kursi},dsb. Termasuk juga dengan sebagian morfem terikat
misalnya {ter-}, {ber-},dsb. Perbedaan morfem utuh dan morfem terbagi adalah
berdasarkan bentuk formal yang dimiliki morfem tersebut, apakah merupakan suatu
kesatuan yang utuh atau merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi karena
disisipi morfem lain.

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh
fenom-fenom segmental misalnya {lihat},{lah},dan {ber}. Jadi semua morfem yang
berwujud bunnyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah
morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental seperti tekanan, nada,
durasi, dsb.

5.1.3.4 Morfem Beralmorof Zero

Morfem beralmorof zero atau nol dilambangkan dengan ø, adalah
morfem yang salah satu almorofnya tidak berwujud bunyi atau segmental maupun
berupa prasodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa “ kekosongan“. Misalnya
bentuk jamak dari kata sheep, terdiri
dari morfem {sheep} dan morfem {
ø}.

5.1.3.5 Morfem Bermakna Leksial dan Morfem Tidak Bermakna Leksial.

Morfem bermakna leksial adalah morfem yang sudah memiliki
makna sendiri, tanpa perlu diproses dulu dengan morfem lain. Misalnya
morfem-morfem seperti {kuda},{makan},dan{lari}. Sedangkan morfem tidak bermakna
leksial merupakan morfem yang baru mempunyai makna setelah digabungkan dengan
morfem lain dalam suatu proses morfologi. Misalnya morfem-morfem afiks seperti
{ber-},{me-},{ter-},dsb.

5.1.3.6 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)

Morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan
morfem afiks. Suatu morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar melalui
proses morfologi. Bentuk dasar (base) biasanya digunakan untuk menyebut sebuah
bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Misalnya kata
berbicara, bentuk dasarnya adalah bicara, setelah mendapat tambahan morfem
{ber-}. Pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses
infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif. Sedangkan akar (root) digunakan
untuk mnyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya akar
adalah bentuk setelah semua afiksnya dihilangkan.

Dari subbab ini dapat kita ketahui adanya 3 macam morfem
dasar yaitu :

1. Morfem dasar bebas

2. Morfem dasar yang kebebasannya dipersoalkan.

3. Morfem dasar terikat.

5.2 KATA

Dalam tata bahasa tradisional, istilah morfem dikenal
sebagai kata. Jadi kata memiliki pengertian yang sama dengan morfem.

5.2.1 Hakikat
Kata

Menurut tata bahasawan tradisional, kata merupakan satuan
bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang
diapit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti.

5.2.2 Klasifikasi
Kata

Para tata bahasawan tradisional mengklasifikasikan kata
menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi. Kriteria makna digunakan untuk
mengidentifikasikan kelas verba, nomina, dan ajektifa. Sedangkan kriteria
fungsi digunakan untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, adverbia,
pronomia, dll.

Sedangkan para tata bahasawan strukturalis
mengklasifikasikan kata berdasarkan distribusi kata tersebut dalam suatu
struktur atau konstruksi.

5.2.3 Pembentukan
Kata

Untuk dapat digunakan dalam kalimat atau pertuturan
tertentu, maka setiap bentuk dasar harus dibentuk terlebih dahulu menjadi
sebuah kata gramatikal. Suatu pembentukan kata ini mempunyai 2 sifat, yaitu
pembentukan yang bersifat inflektif dan derivatif.

5.2.3.1 Inflektif

Pembentukan kata inflektif dapat dibagi menjadi 2 yaitu
konyugasi, yauitu perubahan bentuk pada verba. Dan deklinase, yaitu perubahan
atau penyesuaian pada nomina dan ajektifa.

5.2.3.2 Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif yaitu membentuk kata
baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya. Misalnya
dari bahasa inggris, dari kata sing
yang berarti menyanyi terbentuk singer
yang artinya penyanyi.

5.3 PROSES
MORFEMIS

Proses morfemis antara lain adalah proses afiksasi,
reduplikasi, komposisi, dan sedikit tentang konversi dan modifikasi intern.

5.3.1 Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar
atau bentuk dasar. Sedangkan afiks sendiri adalah bentuk, biasanya berupa
morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan
kata. Namun proses ini tidak berlaku untuk semua bahasa.

Dilihat dari posisi melekatnya, afiks dibedakan menjadi
prefiks (depan), infiks (tengah), sufiks (akhir), konfiks (depan dan belakang),
transfiks (berwujud vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan kata dasar, dapat
ditemukan dibahasa arab dan ibrani).

5.3.2 Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk
dasar, baik secara keseluruhan, bagian, maupun dengan perubahan bunyi.

5.3.3 Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabugan morfem
dasar dengan morfem dasar lain, baik yang bebas maupun yang terikat sehingga
terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksial yang berbeda, atau
yang baru. Misalnya lalu intas, daya juang, rumah sakit, dsb.

5.3.4 Konversi,
Modifikasi Internal, dan Suplesi

Konversi, sering juga disebut derivasi zero, transmutasi,
dan transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata
lain tanpa perubahan unsur segmental. Contoh kata cangkul adalah nomina dalam kalimat ayah membeli cangkul baru; sedangkan dalam kalimat Cangkul dulu tanah itu adalah sebuah
verba.

Modifikasi internal, sering juga disebut penambahan
internal atau perubahan internal merupakan proses pembentukan kata dengan
penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang
berkerangka tetap (yang biasanya berupa konsonan). Dalam modifikasi internal,
dikenal juga istilah suplesi. Dalam proses suplesi, perubahannya sangat ekstren
karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidal tampak lagi.

5.3.5 Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian kata
atau gabungan kata sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya
tetap sama dengan bentuk utuhnya. Misalnya hlm
(utuhnya halaman), SD (utuhnya sekolah dasar).

5.3.6 Produktivitas
Proses Morfemis

Yang dimaksud produktivitas proses morfemis adalah ada tidaknya
proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi,
digunakan berulang-ulang yang secara relati terbatas; artinya ada kemungkinan
menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

5.4 MORFOFONEMIK

Morfofonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi,
atau morfonologi adalah peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses
morfologi, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

Seperti tampak
dari namanya, bidang kajian morfofonemik/morfofonologi merupakan gabungan dari
bidang studi morfologi dengan morfonemik atau fonologi. Masalah morfofonemik
ini terdapat hampir pada semua bahasa yang mengenal proses-proses morfologis.

 

One Response to “Tegar Arenanda M; 1402408199”

  1. Titis Aizah (1402408143) Says:

    Pak Tegar, tolong jelaskan apa yang dimaksud dengan morfem dasar:
    1. bebas
    2. yang kebebasanya terikat
    3. terikat

    Terima Kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s