Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Sarwo Edi Prasojo;1402408073 Oktober 16, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 6:32 pm

Nama : Sarwo Edi Prasojo

NIM : 1402408073

Rombel : 4

BAB 7

7 TATARAN LINGUISTIK (4) : SEMANTIK

Bidang studi linguistik yang objek penelitiannya makna bahasa merupakan satu tataran linguistik. Kalau istilah ini tidak dipakai tentu harus diingat bahwa status tataran semantik dengan tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis tidak sama. Penamaan tataran untuk semantik sebenarnya agak kurang tepat, sebab semantik bukan satu tataran (unsur pembangun bahasa), melainkan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun mempunyai makna yang berbeda pada tiap-tiap tataran.

Mungkin karena itu para linguis strukturalis tidak begitu peduli dengan makna ini karena dianggap tidak termasuk menjadi salah satu tataran yang membangun itu.

Studi semantik menjadi semarak saat Chomsky, Bapak linguistik transformasi mengeluarkan bukunya yang ke-2 pada tahun 1965, beliau menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen semantik ini. Sebab semantik tidak lagi menjadi objek periferal (objek semantik tidak jelas dan tidak dapat diamati secara nyata) melainkan menjadi objek yang setaraf dengan bidang studi linguistik lainnya.

7.1. HAKIKAT MAKNA

Kalau tanda linguistik itu disamakan identitasnya dengan kata atau leksem, maka makna adalah pengertian/konsep yang dimiliki oleh setiap kata/ leksem, tetapi kalau disamakan identitasnya disamakan dengan morfem maka makna adalah pengertian/konsep yang dimiliki suatu morfem.

Ex: kata meja berupa runtutan fonem m-e-j dan a dan komponen berupa konsep berupa konsep/makna sejenis perabot kantor atau rumah tangga dan mengacu pada sebuah referen di luar bahasa, yaitu “sebuah meja”.

7.2. Jenis Makna

7.2.1. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna sebenarnya, sesuai dengan hasil observasi indra kita, makna apa adanya dan makna yang ada dalam kamus. Maksud makna dalam kamus adalah makna dasar atau makna yang konret.

Makna gramatikal adalah makna yang terjadi setelah proses gramatikal (afikasi, reduplikasi, kalimatisasi).

Perbedaan dari makna leksikal dan gramatikal adalah :

Makna leksikal adalah makna dasar/makna dari kata per kata, sedangkan makna gramatikal adalah makna baru yang muncul ketika kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat.

Contoh: kata kuda bermakna leksikal binatang, sedangkan makna gramatikalnya bisa menjadi alat transportasi atau sejenis.

Makna kontekstual adalah makna kata yang berada dalam satu konteks (dalam suatu keadaan tertentu), tergantung dalam kalimat masing-masing.

Contoh: 1. Kepala sekolah sedang menegur murid itu

2. Kepala nenek sedang sakit

7.2.2. Makna Referensial dan Non-referensial

Makna referensial adalah sebuah kata yang memiliki referensnya/acuannya, sedangkan non referensial kebalikannya tidak semua kata memiliki makna referensial karena ada beberapa kata yang tidak mempunyai acuannya dalam dunia nyata.

Contoh : dan, atau, karena.

Kata deiktik adalah kata yang acuannya tidak menetap dalam satu wujud saja.

Contoh: – Pronomian (dia, saya, kamu)

– Kata yang menunjukkan ruang dan waktu (di sana, sekarang, besok)

7.2.3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah leksikal (makna asal/asli), sedangkan makna konotatif adalah makna yang lain yang ditambahkan. Contoh makna denotatif babi adalah binatang ternak, babi mempunyai makna konotatif, najis. Kata yang kurang sopan. Konotasi pada sebuah kata tidak tetap karena konotasi kata berbeda antara seseorang dengan orang lain, daerah satu dengan daerah lain, masa satu dengan masa lain. Contoh kata babi berkonotasi negatif bagi orang Islam tetapi tidak bagi orang non Islam. Makna konotasi berbeda dengan makna kias karena makna kias menurut sapa bertujuan memerintah kata.

7.2.4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna kata yang terlepas dari konteks/ asosiasi apa pun dan bisa dibilang sama dengan makna denotatif dan leksikal karena makna tersebut asli dan konkret. Sedangkan makna asosiasi adalah makna kata yang berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Contoh: kata merah berasosiasi berani.

7.2.5. Makna Kata dan Makna Istilah

Makna kata adalah makna yang bersifat umum, kasar dan tidak jelas. Sedangkan makna istilah adalah makna yang pasti, jelas, tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat dan perlu diingat bahwa makna istilah hamfa dipakai pada bidang keilmuan/kegiatan tertentu saja.

7.2.6. Makna Idiom dan Peribahasa

Makna idiom adalah makna yang tidak dapat diramalkan secara leksikal maupun gramatikal. Contoh kata meja hijau bukan meja yang berwarna hijau melainkan kata lain dari pengadilan. Idiom terdiri dari dua macam yaitu idiom penuh dan idiom sebagian.

Contoh idiom penuh : meja hijau, membanting tulang

Idiom sebagian : daftar hitam, koran kuning.

7.3. Relasi Makna

7.3.1. Sinonim

Adalah kesamaan makna antara satu ujaran dengan satu ujaran lainnya, tetapi makna dari dua buah kata itu tidak sama persis karena masing-masing kata memiliki nuansa makna yang tidak sama. Contoh : melirik, melihat, mengintip.

7.3.2. Antonim

Adalah lawan makna, bahwa hubungan antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, bertentangan, atau kontras.

Macam-macam antonim, antara lain:

 Antonim yang bersifat mutlak

Ex: hidup mati

 Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi

Ex: besar kecil

 Antonim yang bersifat relasional

Ex: suami istri.

 Antonim yang bersifat hierarkial

Ex: tamtama bintara.

7.3.3. Polisemi

Adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu, tetapi makna tersebut relatif sama.

Contoh : kepalanya luka kena pecahan kaca

Kepala kantor itu bukan paman saya

Kata “kepala” pada kalimat di atas mempunyai makna yang berbeda tetapi sama-sama berada di atas.

7.3.4. Homonimi

Adalah dua buah kata yang bentuknya “kebetulan” sama tetepi makna tentu jauh berbeda.

Contoh kata “bisa” ada yang bermakna racun ular dan berarti sanggup

Homofon : kesamaan bunyi antara dua kata tanpa memperhatikan ejaannya.

Contoh: kata “bank” yang berarti lembaga keuangan dengan kata “bang” yang berarti bentuk singkat dari abang

Homograf : bentuk dari dua kata yang sama tulisan atau ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.

Contoh : meréka dengan kata mereka

Meréka artinya dia bersama-sama

Mereka artinya merancang

Dalam hal ini perlu diperhatikan perbedaan antara homonim dan polisemi. Homonim adalah dua kata yang kebetulan sama dan maknanya jauh berbeda. Sedangkan polisemi adalah kata yang memiliki makna lebih dari satu dan maknanya pun masih ada kaitannya.

Bahasa inggris bersumber dariu macam-macam bahasa dari seluruh dunia, mungkin hal itu menjadikan kita sering menemukan homograf/homonimi di dalamnya.

7.3.5. Hiponimi

Hiponimi adalah hubungan antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.

Hipernim : makna yang tercakup dalam makna bentuk ujaran lain

Contoh : burung berhipernim dengan tekukur, podangm balam.

Kohiponim : hubungan dari makna-makna hipernim

Contoh : tekukur kohiponim dengan podang, jalak, balam, dll.

7.3.6. Ambiquiti atau Ketaksaan

Adalah makna ganda yang terjadi akibat tafsiran gramatikal yang berbeda yang umumnya terjadi pada bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis unsur suprasegmental tidak dapat digambarkan dengan akurat. Dan perlu diingat bahwa ambiquiti adalah sebuah bentuk dengan ditafiran makna atau lebih sedangkan homonimi adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan sama.

7.3.7 Redundansi

Adalah berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.

Contoh: bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya dengan bola ditendang Dika. Jadi kata oleh dianggap redundans, namun apabila kita libat secara semantik, menurut saya redundans itu ada karena akan menonjolkan salah satu peran yang ada dalam unsur kalimat tersebut.

7.4. Perubahan Makna

Dalam masa yang relatif singkat makna sebuah kata akan tetap sama atau tidak berubah, tetapi walam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :

– Perkembangan dalam bidang IPTEK, Ex: kata layar.

– Perkembangan sosial budaya, Ex : kata saudara

– Perkembangan pemakaian kata, Ex : kata menggarap

– Pertukaran tanggapan indra, Ex : kata manis

– Adanya asosiasi (hubungan dengan ujaran lain), Ex : amplop bisa bermakna sampul surat dan suap.

 Macam-macam perubahan makna

– Perubahan meluas

Kalau tadinya makna itu hanya bermakna A kemudian bermakna B juga.

Ex: kata saudara dulu hanya untuk saudara sekandung tapi sekarang meluas menjadi sesama manusia.

– Perubahan menyempit

Kalau tadinya kata itu memiliki makna yang sangat umum tetapi kini maknanya menjadi khusus/sangat khusus.

Ex : kata sarana dulu semua orang cerdik adalah sarjana, tapi sekarang bermakna lulusan perguruan tinggi saja.

– Perubahan total

Makna yang dimiliki sekarang jauh berbeda dengan makna aslinya.

Ex : kata ceramah dulu bermakna cerewet, banyak cakap tapi sekarang bermakna uraian mengenai suatu hal di muka orang banyak.

7.5. Medan Makna dan Komponen Makna

7.5.1. Medan Makna

Medan makna adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan /realitas dalam alam semesta tertentu.

Contoh: nama-nama warna, yang termasuk medan warna antara lain :

– merah – hijau

– coklat – kuning

– biru – abu-abu

Kata-kata yang mengelompok dalam satu medan makna, berdasarkan sifat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set.

 Medan kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata-kata itu.

Contoh : cabe, bawang, terasi, garam, merica. Kata-kata tersebut berada dalam satu kolokasi yaitu berkenaan dengan bumbu dapur.

 Medan set menunjuk pada hubungan paradigmatik, karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu saling bisa disubstitusikan, biasanya mempunyai kelas yang sama dan merupakan satu kesatuan.

Contoh : remaja, kanak-kanak, dewasa. Remaja merupakan perkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa.

Semua ini bermanfaat bagi kita dalam memahami konsep-konsep budaya yang ada dalam suatu masyarakat bahasa.

7.5.2. Komponen Makna

Komponen makna adalah komponen-komponen yang dimiliki oleh setiap kata yang membentuk keseluruhan makna kata itu.

Contoh : kata ayah dan ibu, apabila kita buat bagannya adalah seperti ini

Komponen Makna

Ayah

Ibu

Manusia

Dewasa

Jantan

Kawin

Punya anak

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Tanda + : berarti memiliki komponen makna tersebut

Tanda – : berarti tidak memiliki komponen makna itu

Analisis komponen makna ini dapat dimanfaatkan untuk mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim, dapat juga digunakan untuk meramalkan makna gramatikal. Ada juga yang dinamakan analisis biner yaitu analisis makna dengan mempertentangkan ada (+) atau tidak adanya (-) komponen makna pada sebuah butir kata.

7.5.3. Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Kesesuaian semantik adalah persesuaian konstituen-konstituen yang membangun kalimat itu.

Contoh ketidaksesuaian semantik : segelas kambing, karena dua kata tersebut tidak ada satupun yang cocok antara komponen makna yang satu dengan yang satunya. Yang sesuai segelas air.

Kesesuaian sintaktik adalah penempatan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.

Contoh ketidaksesuaian sintaktik : kambing membaca, karena kata kambing + membaca tidak merupakan satu kelompok kata. Yang sesuai saya (manusia) membaca.

Apabila kata-kata yang tidak sesuai semantik + sintaktiknya dibuat sebuah kalimat maka kalimat tersebut akan tidak berterima.

Contoh:

– Si Udin makan rumput, karena Si Udin dan rumput tidak mempunyai komponen makna yang sama, maka apabila kedua kata itu digabungkan akan menjadi tidak berterima.

Kalimat yang benar adalah : Sapi (hewan) makan rumput.

 

2 Responses to “Sarwo Edi Prasojo;1402408073”

  1. dina rahayu r 1402408027 Says:

    Mengapa tataran linguistik yaitu semantik mempunyai kedudukan yang berbeda dengan tataran lingustik yang lain yakni fonologi,morfologi dan sintaksis?

  2. pgsdunnes2008 Says:

    Untuk : Dina Rahayu R 1402408027
    Dari : Sarwo Edi Prasojo 1402408073

    Jawaban
    Karena semantik bukan satu tataran pembangun kata satuan lain yang lebih besar melainkan unsur yang berada dalam semua tataran itu ( fonologi,morfologi,dan sintaksis)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s