Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Lulut Ulfatin;1402408085 Oktober 16, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 6:29 pm

Nama : Lulut Ulfatin

NIM : 1402408085

Rombel : 4

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

Morfologi adalah salah satu cabang linguistik yang menjadikan morfem sebagai kajiannya juga memiliki satuan gramatikal dan satuan semantik.

5.1. MORFEM

Morfem adalah suatu kajian morfologi dan bisa berupa satuan gramatik terikat dan satuan gramatik bebas. Morfem ini merupakan satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna.

5.1.1. Identifikasi Morfem

Untuk mengetahui bentuk morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut dengan bentuk yang lain dan mengenal maknanya. Sebuah kata bisa disebut morfem karena merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang dan mempunyai makna sama.

5.1.2. Morf dan Alomorf

Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui status atau maknanya. Alomorf adalah nama untuk semua bentuk yang sudah diketahui maknanya.

5.1.3. Klasifikasi Morfem

Morfem dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria, diantaranya adalah :

5.1.3.1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

5.1.3.2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh adalah (satu) dan satu morfem terbagi

Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari 2 bagian yang terpisah.

5.1.3.3. Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental. Morfem Suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental.

5.1.3.4. Morfem Beralomorf Zero

Morfem beralomorf zero atau nol (Ø) yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental) melainkan berupa “kekosongan”.

5.1.3.5. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.

Morfem tidak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri. morfem ini baru mempunyai makna dalam gabungannya dengan morfem lain dalam suatu proses morfologi.

5.1.4. Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)

Bentuk dasar atau dasar (base) digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi.

Pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi atau proses pembubuhan afik inflektif.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.

5.2. KATA

Kata adalah satuan gramatik bebas, bisa berupa bentuk tunggal atau kompleks yang memiliki arti leksikal.

5.2.1. Hakikat Kata

Menurut para tata bahasawan tradisional kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian/kata adalah deretan huruf yang diapit oleh 2 buah spasi dan mempunyai satu artian. Batasan kata yang dibuat Bloomfield yaitu kata adalah satuan bebas terkecil (a minimal free form) tidak pernah diulas/dikomentari seolah-olah batasan itu sudah bersifat final dan pembatasan kata yang umum kita jumlai dalam berbagai buku linguistik eropa adalah bahwa kata merupakan bentuk yang ke dalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berubah dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat.

5.2.2. Klasifikasi Kata

Klasifikasi kata adalah penggolongan kata/penjelasan kaa dalam peristilahan bahasa Inggris disebut part of speech. Para tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi. Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasi kelas verba, nomina, dan adjectiva. Sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasi preposisi, konjungsi, adverbia, pronomia, dll.

5.2.3. Pembentukan Kata

Untuk digunakan di dalam kalimat/pertuturan tertentu, maka setiap bentuk dasar terutama dalam bahasa fleksi dan aqulturasi harus dibentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi maupun proses komposisi.

5.2.3.1. Inflektif

Pembentukan kata secara inflektif tidak membentuk kata baru/kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya.

5.2.3.2. Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru/kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

5.3. PROSES MORFEMIS

Proses-proses morfemis diantaranya adalah:

5.3.1. Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar/ bentuk dasar. Unsur-unsur yang terlibat adalah (1) dasar/bentuk dasar, (2) afiks, dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan.

Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya, dibedakan ada 2 jenis afiks yaitu afiks inflektif dan afiks derivatif. Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar yang biasanya dibedakan adanya prefiks, infiks, sufiks, konfiks, interfiks dan tranfiks.

5.3.2. Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfem yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsial) maupun dengan perubahan bunyi. Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional) dan dapat pula bersifat derivasional.

5.3.3. Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses pengabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda/yang baru.

5.3.4. Konversi, Modifikasi internal dan Suplesi

Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental. Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (biasanya berupa konsonan)

Suplesi perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

5.3.5. Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya. Hasil pemendekan biasanya dibedakan atas penggalan, singkatan dan akronim.

5.3.6. Produktivitas Proses Morfemis

Produktivitas dalam proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi digunakan berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

5.4. Morfofonemik

Morfofonemik disebut juga morfonemik, morfologi atau morfonologi atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud:

1. Pemunculan fonem 3. Peluluhan fonem 5. Pergeseran fonem

2. Pelepasan fonem 4. Perubahan fonem, dan

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s