Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Suyoto_ 1402908216_bab VI Oktober 23, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 2:01 pm

Disusun oleh

S U Y O T O

NIM : 1402908216

Rombel : 5

BAB VI

TATARAN LINGUISTIK (3)

SINTAKSIS

A. Struktur Sintaksis

Secara umum struktur sintaksis terdiri dari Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), dan Keterangan (K). Misal:

Ari memukul Adi tadi siang.

Dalam kalimat tersebut, Ari memiliki kedudukan sebagai subyek, berkategori nomina, dan memiliki peran sebagai pelaku. Memukul memiliki kedudukan sebagai predikat, berkategori verba, dan memiliki peran aktif. Adi memiliki kedudukan sebagai objek, berkategori nomina, dan memiliki peran sasaran. Sedangkan tadi siang memiliki kedudukan sebagai keterangan, berkategori nomina, dan memiliki peran waktu.

Seecara singkat struktur sintaksis dapat digambarkan sebagai berikut:

Subjek

Predikat

Objek

Keterangan

Fungsi

Sintaksis

Kategori

Sintaksis

Peran

Sintaksis

Dalam Bahasa Indonesia, semua struktur di atas tidak harus semua muncul, tetapi yang harus selalu muncul adalah Subjek dan predikat, adapun objek dan keterangannya bias ada atau tidak tergantung verabnya.

Eksistensi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh alat sintaksis, yaitu urutan kata, bentuk kata, intonasi, dan konektor.

Ø urutan kata adalah posisi kata yang satu dengan yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis.

Ø Bentuk kata merupakam susunan kata-kata yang menyatakan fungsi, peran, dan kategori sintaksis.

Ø Intonasi dalam pembacaan sangat berpengaruh terhadap makna suatu struktur sintaksis.

Ø Konektor biasanya berupa morfem atau gabungan morfem secara kuantitas. Konektor bertugas menghubungkan kontituen satu dengan yang lain. Konektor dibagi dua, yaitu: 1. Konektor koordinatif yaitu konektor yang menghubungkan 2 kontituen yang sederajat, missal: dan, atau, tetapi. 2. konektor subordinatif adalah konektor yang menghubungkan 2 buah kontituen yang tidak sederajat, missal:kalau, meskipun, karena.

B. Kata Sebagai Satuan Sintaksis

Jika kita membicarakan kata sebagai satuan sintaksis terlebih dahulu kita harus membedakan dulu adanya dua macam kata, yaitu:

Ø kata penuh (fullword) adalah kata yang secara leksikalmemiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, dan dapat berdiri sendiri sebagai satuan tuturan.yang termasuk kata penuh adalah: kata yang termasuk kategori nomina, verba, ajektiva, adverba, dan numeria.

Ø kata tugas (functionword) adalah kata yang secara leksikal tidak mengalami proses morfologi dan dalam pertuturan tidak dapat berdiri sendiri. Yang termasuk adalah kata yang berkategori preposisi dan konjungsi.

C. Frase

Frase adalah satuan gramatikal berupa gabungan akta yang bersifat non predikatif, atau lazim disebut gabungan kata yang mengisi fungsi sintaksis.

Jenis-jenis frase:

Ø Frase Eksosentris aalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Jenis frase ini dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Frase Eksosentris Direktif (Preposisional)yaitu frase yang komponen pertama berbentuk preposisi dan komponen kedua berupa kata atau kelompok kata biasanya berkategori nomina.. 2. Frase Eksosentris Non direktif yaitu fraase yang komponen pertama berupa artikulas (sang, si) dan komponen kedua berupa kata atau kelompok kata yang berkategori nomina, adjektiv,dan verba.

Ø Frsa Endosentris adalah frase yang salah satu unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan. Missal: sedang membaca.

Ø Frase Koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensi dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif. Misal: sehat dan kuat, makin terang makin baik.

Ø Frase Opositifa adalah frase yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya. Dan oleh karena itu urutan komponennya dapat dipertukarkan. Misal: Pak Ali,guru saya, sangat baik bias di tukar Guru saya, Pak Ali, sangat baik.

Perluasan Frase

Perluasan frase dalam Bahasa Indonesia tampak sangat produktif, karena:

· Untuk menyatakan konsep khusus atau sangat khusus, bisanya diterangkan secara leksikal.

· Pengungkapan konsep tidak dinyatakan dengan afiks seperti dalam bahasa fleksi melainkan dinyatakan dalam bentuk leksiakl.

· Keperluan untuk memberi deskripsi secara rinci terhadap suatu konsep.

D. Klausa

Adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif. Klausa berpotensi menjadi sebuah kalimat tunggal karena di dalamnya sudah ada fungsi sintaksis wajib yaitu subjek dan predikat. Klausa berfungsi menjadi “pengisi” kalimat, baik kalimat tunggal maupun majemuk.

Jenis-jenis Klausa:

· berdasarkan strukturnya: 1. klausa bebas yaitu klausa yang mempunyai unsure lengkap yang berpotensi menjadi kalimat. 2. klausa terikat yaitu klausa yang mempunyai dtruktur tidak lengkap.

· Berdasarkan Kategori segmental:

- Klausa bebas yaitu klausa yang predikatnya berkategori verba.

- Klausa Nominal yaitu klausa yang predikatnya berupa nomina

- Klausa Ajektiva yaitu klausa yang predikatnya berkategori ajektif.

- Klausa Adverbal yaitu klausa yang predikatnya berkategori adverbial.

- Klausa Preposisional yaitu klausa yang predikatnya berkategori preposisi.

E. Kalimat

Kalimat adalah suatu satuan yang langsung dapat digunakan dalam berbahasa.

a. Jenis-jenis kalimat:

· Kalimat Inti (dasar) dan kalimat Non imti

· Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

1. Kalimat Tunggal yaitu kalimat yang klausanya hanya satu.

2. Kalimat Majemuk yaitu kalimat yang klausanya lebih dari satu yang biasanya dihubungkan dengan konjungsi atau tanda hunbung.

· Kalimat Mayor dan Minor

Perbedaan kalimat mayor dan minor didasarkan atas lengkap tidaknya. Jika lengkap disebut mayor, jika tidak lengkap disebut minor.

· Kalimat Verbal dan Non verbal

1. Kalimat Verbal yaitu kalimat yang dibentuk oleh klausa verbal.

2. Kalimat Non verbal yaitu kalimat yang dibentuk oleh klausa nonverbal.

· Kalimat Bebas dan Terikat

1. Kalimat Bebas yaitu kalimat dalam suatu paragraph yang memiliki potensi menjadi ujaran lengkap, dapat dipahami tanpa adanya kalimat pendukung.

2. Kalimat terikat yaitu kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap harus diikuti kalimat pendukung.

b. Intonasi Kalimat

Dalam Bahasa Indonesia, Intonasi berupa tekanan, nada dan tempo.

1. Tekanan adalah cirri-ciri supresegmental yang menyertai bunyi ujaran.

2. Nada adalah unsur suprasegmental yang diukur berdasarkan tingkat kenyaringan.

3. Tempo adalah waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran.

Intonasi merupakan cirri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa.

c. Modus, Aspek, Kala, Modeliotas, Fokus, dan Deatesis

1. Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara. Macam-macam modus:

Ø Modus Deklaratif; modus yang menyatakan sikap obyektif.

Ø Modus Optatif; modus yang menunjukkan harapan, keinginan.

Ø Modus Imperatif; modus yang menyatakan perintah.

Ø Modus Interogatif; modus yang menyatakan pertanyaan.

Ø Modus Obligasi; modus yang menyatakan keharusan.

Ø Modus Desideratif; modus yang menyatakan kemauan

Ø Modus Konditional; modus yang menyatakan persyaratan

2. Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, atau proses. Macam-macam aspek:

Ø Aspek Kontinuatif; menyatakan perbuatan terus berlangsung.

Ø Aspek Inseptif;menyatakan kejadian barun mulai.

Ø Aspek Progresif; menyatakan perbuatan sedang berlangsung.

Ø Aspek Repetitif; menyatakan perbuatan terjadi berulang-ulang.

Ø Aspek Perfektif; menyatakan perbuatan sudah selesai.

Ø Aspek Imperfektif; menyatakan perbuatan berlangsung sebentar.

Ø Aspek sesatif; menyatakan perbuatan berakhir.

3. Kala atau tense adalah informasi dalam kaliomat yang menyatakan waktu, terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan, atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat.

4. Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan atau juga sikap terhadap lawan bicara.

5. Fokus adalah unsurn yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar tertuju pada bagian itu.

6. Diatesis adlah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.. macam-macam diatesis:

Ø Diatesis aktif; jika subjek yang berbuat.

Ø Diatesis pasif; jika subjek menjadi sasaran perbuatan.

Ø Diatesis Reflektif; jika subjek berbuat terhadap dirinya sendiri.

Ø Diatesis Resiprokal; jika perbuatan subjek ganda yang melakukan tindakan berbalasan..

Ø Diatesis Kausatif; jika subjek menjadi penyebab.

F. WACANA

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Dalam wacana terdiri dari konsep, gagasan, pikiran, atau ideyang utuh yang dapat dipahami pembaca tanpa keraguan.

A. Alat Wacana

Alat-alat Gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif, antara lain:

1. Konjungsi yaitu alat penghubung dua kalimat atau paragraph.

2. Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anaforis.

3. menggunakan Elipsis; penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat pada kalimat lain.

B. Jenis Wacana

Jenis Wacana: Wacana lisan dan wacana tulis.(dilihat dari sasaran), wacana prosa dan wacana puisi (dilihat dari pembagiannya), wacana narasi, wacana eksposisi, wacana persuasi, wacana argumentasi (dilihat dari penyampaian wacana prosa)

G. CATATAN MENGENAI HIRARKI SATUAN

Urutan Hirarki satuan linguistic:

Wacana

Kalimat

Klausa

Frase

Kata

Morfem

Fonem

Ket: jadi fonem akan membentuk morfem, morfem akan membentuk kata, selanjutnya sampai terbentuk wacana.

 

Sunarto_1402908214_bab IV

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 1:57 pm

Disusun oleh

Sunarto

NIM : 1402908214

Rombel : 5

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1) FONOLOGI

Bidang linguistic yang mempelajari, menganalisa, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa disebut Fonologi. Fonologi dibedakan menjadi 2, yaitu Fonetik dan Fonemik. Fonetik adalah mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi trsebut mempunyai fungsi sebagai pembela makna atau tidak. Sedangka foemya adalah kebalikan dari fonetik.

4.1 Fonetik

Ada 3 jenis fonetik yaitu artilulataris, akustik, dan auditaris. Fonetik artilulasi mempelajari alat bicara, fonetik alustik mempelajari bahasa dari fenomena alam, fonetik auditaris mempelajari bunyi bahasa dari jiwa kita.

4.1.1. Alat Ucap

Alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa antara lain: pangkal tenggorokan, rongga kerongkongan, pangkal lidah, tengah lidah, ujung lidah, daun lidah, anak tekak, langit-langit lunak, langit-langit keras, gusi, gigi, dan bibir.

4.1.2. Proses Fonasi

Berkenaan dengan hambatan pada pita suara ini perlu dijelaskan adanya empat memposisi pita suara yaitu: a. pita suara terbuka lebar, b. pita suara terbuka agak lebar, c. pita suara terbuka sedikit, d. pita suara tertutup rapat.

4.1.3. Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan study fonetik sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin. Ada 5 huruf untuk melambangkan bunyi fokal, yaitu a, i, u, e, o.

4.1.4Klasifikasi bunyi.

Pada umumnya bunyi bahasa dibedaka atas vocal dan konsonan. Bagi vocal terjadi: bunyi vocal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit, sedangkan bunyi konsonan terjadi :setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka agak lebar.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vocal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Vocal tinggi missal I dan u, dan vocal rendah misalnya e dan o

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vocal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini ada pada bagian awal dan akhir tidak sama. Diftong ada dua yaitu naik dan turun.

4.1.4.3 Klasifiaksi Konsonan

Bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarka tiga patokan atau criteria yaitu:

pita suara, tempat artikulasi, dan cara arikulasi.

4.1.5. Unsur Supra segmental

Merupakan suatu runtutan bunyi yang sambung menyambung terus menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau agak singkat.

4.1.5.1 Tekana atau Stres

Tekana atau stress menyangkut masalah keras lunaknya bunyio sehingga amplitudonya melebar.

4.1.5.2 Nada

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi, bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran tinggi. Dan hal ini dibedakan menjadi 4 macam nada yaitu tanda dengan angka 4=nada paling tinggi, tanda dengan angka 3=nada tinggi, tanda dengan angka 2 = nada sedang, tanda dengan angka 1 = nada rendah.

4.1.5.3 Jeda atau Perselisihan

Jeda atau perselisihan berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.

4.2 Fonemik

Adalah perbedaan bunyi itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna. Objek penelitian fonemik adalah fonem.

4.2.1. Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan kita harus mencari sebuah satuan bahasa. Biasanya sebuah kata contah : laba dan raba. Jadi untuk membuktikan sebuah bunyi fonem, bahan harus di cari pasangan minimalnya.

4.2.2 Alofon

Adalah sebuah fonem yang mempunyai kemiripan fonetis/kesamaan dalam pengucapannnya. Contoh: pada akta tokoh dan toko, lolos dan lulus.

4.2.3..Klasifikasi Fonem

Klasifikasi fonem sebearnya sama dengan cara klasifikasi bunyi yang telah dibicarakan pada 4.1.4 dan unsur supra segmental pada 4.1.5. Kalau pada 4.1.4 ada bunyi vocal dan konsonan.

4.2.4. Khasanah Fonem

Adalah banyaknya fonem yang terdapat pada satu bahasan. Jumlah fonem yang dimiliki suatu pokok bahasan berdeda jumlahnya dengan pokok bahasan yang lain.

4.2.4.1 Asimilasi dan Disimilasi

Adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi mejadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya. Contoh kata sabtu dalam bahasa Indonesia lazim diucapkan saptu, hal itu disebut Asimilasi Fonemis.

4.2.4.2. Netralisasi dan Arkifonem

Fonem mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata. Contoh kata sabtu dan saptu, lembab dan lembap. Disini ada fungsi pembeda batal secara tradisional. Dalam studi Bahasa Indonesia, kasus ini sering dijelaskan degan keterangan: yang benar adalah bentuk sabtu, berasal dari bahasa Arab, begitu pula yagn benar adalah bentuk lembap karena berasal dari bahasa melayu asli.

4.2.4.3. Umlaut, Ablaut, dan Harmoni vocal

Umlaut adalah perubahan vocal sedemikian rupa sehingga vocal menjadi lebih tinggi

Ablaut adalah perubahan vocal yang kita temukan untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

Harmoni Vokal adalah keselarasan vocal.

4.2.4.4.Kontralisi

Kontralisi adalah menyingkat atau memperpendek ujarannya. Contoh: tidak menjadi ndak tau

4.2.4.5. Metafisis dan Epentesis

Adalah mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Contoh: kata kampak dengan kapak, kata jumlah dengan jumblah.

4.2.5 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional untuk membentuk kata.

Grafem adalah untuk melambangkan 2 buah fonem yang berbeda. Yaitu fonem e dan fonem a.

 

Siti Asrofah_1402408288_objek linguistik

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 1:53 pm

RANGKUMAN BAHASA INDONESIA

BAB III

OBJEK LINGUISTIK: BAHASA

3.1 PENGERTIAN BAHASA

Kata “bahasa” dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian, sehingga seringkali membingungkan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan pemakaian kata bahasa dalam kalimat-kalimat berikut.

1. Dika belajar bahasa Inggris, Nita belajar bahasa Jepang.

2. Manusia mempunyai bahasa, sedangkan binatang tidak.

3. hati-hati bergaul dengan anak yang tidak tahu bahasa.

4. Dalam kasus ini ternyata lurah dan camat tidak mempunyai bahasa yang sama.

5. Katakanlah dengan bahasa bunga!

6. Pertikaian itu tidak bisa diselesaikan dengan bahasa militer.

7. Kalau dia memberi kuliah bahasanya penuh dengan kata daripada dan akhiran ken.

8. Kabarnya, Nabi Sulaiman mengerti bahasa semut.

Kata bahasa pada kalimat (1) jelas menunjuk pada bahasa tertentu, yaitu merupakan sebuah langue, (2) menunjuk bahasa pada umumnya, jadi suatu langange, (3) berarti sopan santun, (4) bahasa berarti kebijakan bertindak, (5) bahasa berarti maksudmaksud dengan bunga sebagai lambang, (6) kata bahasa berarti dengan cara, (7) kata bahasa berarti ujarannya, yang sama dengan parole menurut de Saussure, (8) kata bahasa berarti hipotesis.

3.2 HAKIKAT BAHASA

Ciri dan sifat bahasa yang hakiki dari bahasa yaitu (1) bahasa adalah sebuah sistem, (2) bahasa itu berwujud lambang, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bahasa itu brsifat arbitrer, (5) bahasa itu bermakna, (6) bahasa itu bersifat konvensional, (7) bahasa itu bersifat unik, (8) bahasa itu bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10) bahasa itu bervariasi, (11) bahasa itu bersifat dinamis, (12) bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, dan (13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya.

3.2.1 Bahasa sebagai Sistem

Sistem berarti cara atau aturan. Sebagai sebuah sitsem, bahasa sekaligus bersifat sistematis artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak, secara sembarangan, sedangkan sistemis artinya, bahasa itu bukan merupakan sistemtunggal, tetapi terdiri juga sebagai sb-sistem, atau sistem bawahan. Kajian linguistik dibagi ke dalam beberapa tataran, yaitu tataran fonologi, morfologi, sintaksis, sematik, dan leksikon.

3.2.2 Bahasa sebagai Lambang

Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dan pengertian yang sama. Lambang dengan pelbagai seluk beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa.

Lambang bersifat arbitrer, yaitu tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wjib antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dalam kepustakaan, ada yang menyatakan bahasa adalah sistem tanda.

Sinyal atau isyarat adalah tanda yang disengaja yang dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu.

Gerak isyarat atau gesture adalah tanda yang dilakukan dengan gerakananggota badan, dan tidak bersifat imperatif seperti pada sinyal.

Gejala atau symptom adalah suatu tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan tanpa maksud tetapi alamiah untuk menunjukkan atau mengungkapkan bahwa sesuatu akan terjadi.

Ikon adalah tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripannya dengan sesuatu yang diwakili.

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukkan adanya api.

Ciri kode sebagai tanda adalah adanya sistem, baik yang berupa simbol, sinyal, amupun gerak isyarat yang dapat mewakili pikiran perasaan, ide, benda, dan tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu.

3.2.3 Bahasa adalah Bunyi

Bahasa adalah sistem lambang bunyi. Menurut Kridalaksana bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi, bunyi yang bukan dihasilkan oleh alat ucap manusia tidak termasuk bunyi biasa. Bunyi bahasa atau bunyi ujaran adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang didalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam fonemik sebagai “fonem”. Dalam linguistik yang disebut bahasa, yang pimer, adalah yang diucapkan, yang dilisankan, yang keluar dari alat ucap manusia. Sedangkan bahasa tulisan hanyalah bersifat sekunder.

3.2.4 Bahasa itu Bermakna

Sebagai lambang tentu ada yang dilambangkan dan yang dilambangkan adalah suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi itu. Oleh karena lambang-lambang mengacu pada suatu konsep, ide,a atau pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa mempunyai makna. Makna yangh berkenaan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal yang berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat disebut makna gramatikal, yamg berkenaan dengan wacana disebut makna pragmatik, atau makna konteks.

3.2.5 Bahasa itu Arbitrer

Kata arbitrer bisa diartikan sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka. Arbitrer adalah tidak adanya hubungan wajib anatara lambang bahasa dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

Signifiant adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie adalah konsep yang dikandung oleh signifiant. Dalam peristilahan bahasa Indonesia dewasa ini ada digunakan istilah penanda untuk lambang bunyi dan signifiant itu dan istilah penanda untuk konsep yang dikandungnya, atau diwakili oleh penanda tersebut. Hubungan anatara signifiant atau penanda dengan signifie atau petanda itulah yang disebut arbitrer, sewenangwenang, atau tidak ada hubungan wajib di antara keduanya.

3.2.6 Bahasa itu Konvensional

Penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu digunakan untuk mewakili kosep yang diwakilinya. Kekonvensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya. Sebuah istilah yang dibuat tentu dimaksudkan untuk melambangkan suatu konsep, bisa digunakan atau tidak digunakan dalam pertuturan tergantung dari keperluan penggunaannya, bukan dari kepatuhan atau tidak terhadap konvensinya.

3.2.7 Bahasa itu Produktif

Unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

Keproduktifan bahasa ada batasnay. Ada dua macam keterbatasan, yaitu keterbatasan pada tingkat parole dan keterbatasan pada tingkat langue. Keterbatasan pada tingkat parole adalah pada ketidaklaziman bentuk-bentuk yang dihasilkan. Pada tingkat langue keproduktifan itu dibatasi karena kaidah atau sistem yang berlaku.

3.2.8 Bahasa itu Unik

Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Maksudnya, kalau pada kata tertentu di dalam kalimat kita berikan tekanan, maka makna kata itu tetap. Yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat. Kalu keunikkan terjadi pada sekelompok bahasa yang berada dalam satu rumpun atau satu kelompok bahasa, lebih baik jangan disebut keunikan, melainkan ciri dari rumpun atau golongan bahasa itu.

3.2.9 Bahasa itu Universal

Bahasa itu juga bersifat universal, artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Karena bahasa itu berupa ujaran, maka ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan. Tetapi banyaknya vokal dan konsonan yang dimiliki oleh setiap bahasa bukanlah persoalan keuniversalan.

3.2.10 Bahasa itu Dinamis

Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Perubahan yang paling jelas, dan paling banyak terjadi adalah pada bidang leksikon dan semantik. Hal ini mudah dipahami, karena kata sebagai satuan bahasa terkecil, adalah sarana atau wadah untuk menampung suatu konsep yang ada dalam masyarakat bahasa.

Perubahan dalam bahasa juga dapat terjadi dengan adanya kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat bahasa yang bersangkutan. Berbagai alasan sosial dan politis menyebabkan banyak orang meninggalkan bahasanya.

3.2.11 Bahasa itu Bervariasi

Yang termasuk dalam satu masyarakat bahasa adalah mereka yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai oatang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Mengenai variasi bahasa ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idiolek, dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggoota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.

Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu. Untuk situasi formal digunakan ragam bahasa yang disebut ragam baku atau ragam standar, untuk situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar.

3.2.12 Bahasa itu Manusiawi

Sebetulnya yang membuat alat komunikasi manusia itu, yaitu bahasa, produktif, dan dinamis, dalam arti dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru, berbeda dengan alat komunikasi binatang, yang hanya itu-itu saja dan statis, tidak dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru, bukanlah terletak pada bahasa itu dan alat komunikasi binatang itu. Oleh karena itu disimpulkan bahwa alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia san hanya dapat digunakan ole manusia.

3.3 BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

Objek kajian linguisti mikro adalah struktur intern bahasa atau sosok bahasa itu sendiri, sedangkan kajian linguistik makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan

faktor-faktor di luar bahasa.

3.3.1 Masyarakat Bahasa

Kata masyarakat biasanya diartikan sebagai sekelompok orang yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal, atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama.

Karena titik berat pengertian masyarakat bahasa pada “merasa menggunakan bahasa yang sama”, maka konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas dan dapat menjadi sempit. Akibat lainnya adalah patokan linguistik umum mengenai bahasa menjadi longgar.

3.3.2 Variasi dan Status Sosial Bahasa

Bahasa bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu sangat beragam, dan bahasa itu sendiri digunakan untuk keperluan yang beragam-ragam pula. Dalam beberapa masyarakat tertentu ada semacam kesepakatan untuk membedakan adanya dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakaiannya. Variasi T (Tinggi) digunakan dalam situasi resmi, sedangkan variasi R (rendah) dipelajari langsung oleh masyarakat umum. Adanya pembedaan variasi T dan R disebut diglosia.

3.3.3 Penggunaan Bahasa

Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur SPEAKING, yaitu :

1. Settng and Scene adalah unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

2. Participants adalah orang-orang yang terlibat dalam percakapan

3. Ends adalah maksud dan hasil percakapan

4. Act Sequences adalah hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.

5. Key adalah yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.

6. Instrumaentalities adalah yang menunjuk pada jalur percakapan, apakah secara lisan atau bukan.

7. Norms adalah yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.

8. Genres adalah yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

3.3.4 Kontak Bahasa

Dalam masyarakat yang terbuka , artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggiota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat , akan terjadilah kontak bahasa. Kefasihan seseoarng untuk menggunakan dua bahasa sangat tergantung pada adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu.

Dalam masyarakat yang bilingual atau mulilangual sebagai akibat adanya kontak bahasa adapat terjadi peristiwa interferensi, integrasi, alihkode, dan campurkode. Interferensi biasanya dibedakan dari integrasi. Dalam integrasi unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk itu, sudah dianggap, diperlakukan, dan dipakai sebagai bagian dari bahasa yang menerimanya atau dimasukinya.

Alih kode yaitu beralihnya penggunaan suatu kode ke dalam kode yang lain. Alih kode dibedakan dari campur kode. Alih kode terjadi karena bersebab. Dalam campur kode ini dua kode atau lebih digunakan bersama tanpa alasan, dan biasanya terjadi dalam situasi santai. Kalau dibandingkan, campur kode dan interferensi memang tampak sama. Namun, kalau diteliti ada bedanya. Dalam interferensi, pembicara melakukannya karena tidak tahu, dan terjadi dari bahasa yang dikuasdainya. Dalam campur kode, terjadi dengan disadari oleh pembicara. Dia memasukkan unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakannya.

3.3.5 Bahasa dan Budaya

Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesis yang sangat terkenal mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan. Hipotesis ini dikeluarkan ole Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan. Atau lebih jelasnya dapat mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Jadi, bahasa menguasai cara berpikir dan bertindak manusia.

3.4 KLASIFIKASI BAHASA

Klasifikasi dilakukan denagn melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bahasa.Dalam hal ini tentunya di samping kelompok, akan ada subkelompok, atau subsubkelompok

yang lebih kecil. Pendekatan untuk membuat klasifikasi terdiri dari: pendekatan genetis, tipologis, areal, dan sosiolinguistik.

3.4.1 Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis, disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa proto (bahasa tua atau bahsa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih. Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti, yaitu atas kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya.

Sejauh ini klasifikasi yang telah dilakukan, dan banyak diterima orang secara umum, adalah bahwa bahasa-bahasa yang ada di dunia terbagi dalam sebelas rumpun besar. Klasifikasi genetis ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa –bahasa di dunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan menyebar menjadi banyak.

3.4.2 Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Klasifikasi pada tataran morfologi yang telah dilakukan pada abad XIX secara garis besar dapat dibagi tiga kelompok, yaitu:

1. Kelompok pertama adalah yang semata-mata menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi.

2. Kelompok kedua adalah yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.

3. Kelompok ketigaadalah yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifiksi.

3.4.3 Klasifikasi Areal

Klasifikasi areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Klasifikasi ini bersifat arbitrer karena dalam kontak sejarah bahasa-bahasa itu memberikan pengaruh timbal-balik dalam hal-hal yertentu yang terbatas.

3.4.4 Klasifikasi Sosiolinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Historisitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau pemakaian bahasa itu.

Kriteria standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku, atau tidak baku, atau statusnya dalam pemakaian formal atau tidak formal.

Vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari secara aktif, atau tidak. Sedangkan homogenesitas berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa itu diturunkan. Dengan menggunakan keempat ciri di atas, hasil klasifikasi bisa menjadi nekshaustik sebab semua bahasa yang ada di dunia dapat dimasukkan ke dalam kelompok-kelompok tertentu.

3.5 BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

Meskipun dikatakan bahasa lisan adalah primer dan bahasa tulis sekunder, tetapi peranan atau fungsi bahasa tulis di dalam kehidupan modern sangat besar sekali. Bahasa tulis pun sebenarnya merupakan “rekaman” bahasa lisan, sebagai usaha manusia untuk “menyimpan” bahasanya atau untuk bisa disampaikan kepada orang lain yang berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Namun, ternyata rekaman bahasa tulis sangat tidak sempurna.

Mengenai asal mula tulisan, hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan manusia mulai menggunakan tulisan. Para ahli dewasa ini memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambar-gambar yang terdapat di gua-gua di Altamira di Spanyol utara, dan di beberapa tempat lain. Jauh sebelum tulisan Romawi atau Latin tiba di Indonesia, berbagai bahasa di Indonesia telah mengenal aksara, seperti yang dikenal dalam bahasa Jawa, Sunda, bahasa Bugis, bahasa Makasar, bahasa Lampung, bahasa Batak, dan bahasa Sasak. Aksaraaksara tersebut diturunkan dari aksara Pallawa.

Datangnya agama Islam di Indoni\esia menyebabkan tersebarnya pula aksara Arab. Aksara Arab ini dengan berbagai modifikasi digunakan dalam bahasa Melayu, Jawa, dan beberapa bahasa daerah lain. Dalam pembicaraan mengenai bahasa tulis dan tulisan kita menemukan istilah-istilah:

· Huruf adalah isilah umum untuk graf dan grafem.

· Abjad atau alfabet adalah urutan huruf-huruf dalam suatu sistem aksara.

· Aksara adalah keseluruhan sistem tulisan.

· Graf adalah satuan terkecil dalam aksara yang belum ditentukan statusnya.

· Grafem adalah satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku

kata atau morfem, tergantung dari sistem akasara yang bersangkutan.

· Kaligrafi dapat diartikan sebagai seni menulis indah.

· Grafiti adalah corat-coret di dinding, tembok, pagar, dan sebagainya dengan huruf-huruf dan kata-kata tertentu.

Hubungan antara fonem (yaitu satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna dalam suatu bahasa) dengan huruf atau grafem (yaitu satuan unsur terkecil dalam aksara) ternyata juga bermacam-macam. Ada pendapat umum yang mengatakan bahwa ejaan yang ideal adalah ejaan yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya setiap huruf hanya dipakai untuk melambangkan satu fonem.

 

Safarina, 1402408168, bab 3

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 1:52 pm

NAMA : Safarina

NIM : 1402408168

ROMBEL : 04

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK

BAHASA

  1. Prenertian Bahasa

Bahasa memiliki lebih dari satu makna, diantaranya adalah sebagai PAROLE,LANGUE,dan LANGAGE. Sebagai objek kajian linguistic , PAROLE merupakan onjek konkret, karena parole berwujud ujaran nyata yang di gunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. LANGUE merupakan objek yang abstrak , karena langue berwujud system suatu bahasa tertentu bahasa tertentu secara keseluruhan. Sedangkan LANGAGE merupakan objek yang paling abstrak, karena dia berwujud system bahasa secara unwersal.

Kajian terhadap PAROLE dilakukan untuk mendapatkan kaidah suatu LANGUE, dan dari kajian terhadap LANGUE akan diperoleh kaidah LANGAGE.

Madsalah lain yang berkenaan dengan pengertian bahasa adalah bila mana tuturan tersebut bahasa, yang berbeda dengan bahasa lainya. Dua buah patokan, yaitu patokan linguistik dan patokan politis. Secara LINGUISTIK, dua buah tuturan di anggap sebagai dua bahasa yang berbeda kalau anggota dari dua masyarakat tuturan itu tidak saling mengerti : Misalnya penduduk asli jawa tengah . Sedangkan secara POLITIS misalnya adalah bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia, walaupun sama-sama dari bahasa melayu , bahasa Indonesa dan bahasa Malaysia adalah dua bahasa yang berbeda. Bahasa Indonesia dan bahasa nasional bangsa Indonesia , sedangkan bahasa Malaysia adalah bahasa Nasional bangsa Malaysia.

  1. Hakikat Bahasa

Sifat atau cirri-ciri bahasa antara lain :

    1. Bahasa adalah sebuah system

Sistem adalah susunan teratur berpola yang membentuk suatu kesatuan yang bermakna atau berfungsi sebagai sebuah system bahasa bersifat soistematis dan sistemis. SISTEMATIS artinyaBahasa tersebut tersususn menurut pola atau tidak sembarang sedangkan SISTEMIS artinya bahasa bukan merupakan system tunggal tetapi terdiri dari sub- subsistem atau system bawahan , antara lain subsistemfonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem semantic.

b. Bahasa sebagai lambing

Lambang dikaji orang kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang di sebut ILMU SEMIOTIKA atau SEMIOLOGI yaitu ilmu yang mempelajari tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa. Dalam SMIOTIKA dibedakan adanya beberapa jenis tanta, antara lain :

· Tanda , adalah sesuatu yang dapat menandai atau memakili ide, pikiran, perasaan, benda, dan tindakan secara langsung dan alamiah.

· Lambang, tidak bersifat langsung dan alamiah, lambing menandai sesuatu yang lain secara konversional.

· Sinyal atau isyarat, adalah tanda yang sengaja di buat oleh pemberi sinyal, agar si penerima sinyal melakukan sesuatu.

· Gerak isyarat (gesture), adalah tanda yang di lakukan dengan gerakan anggota badan.

· Gejala (symplom), adalah suatu tanda yang tidak disengaja , yang di hasilkan tanpa maksud ,tetapi alamiah untuk menunjukan atau mengungkapkan bahwa sesuatu yang diwakilinya.

· Ikon, adalah tanda yang paling mudah pahami karena kemiripanya dengan sesuatu yang di wakilinya.

· Indeks , adalah tanda yang menunjukan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukan adanya api.

· Kode, citri kode sebagai tanda adalah adanya system,baik yang berupa symbol,sinyal , maupun gerak isyarat yang dapat memakili pikiran, perasaan, ide, benda, dan tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu.

c. Bahasa Adalah Bunyi

Bunyi bahasa atau bunyi ujaran adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh ucap manusia. Tetapi tidak semua bunyi yang dihasilakan oleh ucap manusia termasuk bunyi bahasa. Bunyi teriak, bersin, batuk-batuk, dan arokan bukan termasuk bunyi.bahasa ,meskipun dihasilakan oleh ucap manusia, karena semuanya itu tidak termasuk ke dalam system bunyi bahasa.

d. Bahas Itu Bermakna

Karena lambing-lambang itu mengacu pada suatu konsep, ede, atau pikiran , maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna,. Lambang bunyi yang bermakna itu didalam bahasa berupa morfem ,kata ,frase, klausa, kalimat, dan wacana. Mkana yang berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat disebut makna GRAMATIKAL dan yang berkenaan dengan wacana disebut makna PARADIGMA atau makna KONTEKS.

e. Bahasa Itu Arbitrer

Arbitrer adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambing bahasa dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambing tersebut. Ferdinana de saussure membedakan aoa yang di sebut significant dan signifie. SIGNIFIANT adalah lambing bunyi itu, sedangkan SIGNIFIE adalah konsep yang di kandung oleh significant. Hubungan antar significant (petanda) yang di sebut bersifat arbitrer, sewenang-wenang,atau tidak ada hubungan wajib diantara keduanya.

f. Bahasa Itu Konfensional

Penggunaan lembaga untuk suatu konsep tertentu bersifat konversional, artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambing tertentu itu digunakan untuk memakili konsep yang diwakilinya

g. Bahasa Itu Produktif

Bahasa dikatakan produktif, maksudnya, meskipun unsure-unsur bahasa itu terbatas ,tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnyatidak terbatas , sesui denhgan system yang berlaku dalam bahasa itu. Keterbatasan ada dua macam, yaitu keterbatasan pada tingkat PAROLE dan keterbatasan pada tingkat LANGUE, keterbatasan padatingkat PAROLE adalah pada kertidaklaziman atau kebelulaziman bentukyang di hasilkan. Pada tingkat LANGUE keprodutipan itu dibatasi karena kaidah atau system yang berlaku.

h. Bahasa Itu Unik

Bahasa dikatakan bersifat unik, artinya setiap bahasa memiliki cirikas sendiri yang tidak alimiliki oleh bahasa lainnya. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis. Melainkan siktensis, maksudnya kalau pada kata tertentu didalam kalimat kita berikan tekanan, maka makna kata itu tetap, yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat.

i Bahasa itu universal

Bahasa itu bersifat universal,artinya ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia. Cirri universal bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan juga bahwa setiap bahasa satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah satuan yangbernama kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana yang dimiliki oleh sejumlah bahasadalam satu rumpun atau satu golongan bahasa.

G Bahasa itu dinamis

Di dalam masyarakat, kegiatan manusia itu tidak tetap dan slalu berbah maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah,tidak tetap, dan yidak status, karena itulah bahasa itu disebut dinamis.

k Bahasa itu berfariasi

Ada tiga istilah mengenai variasi bahasa yaitu IDIOLEK, DIALEK, dan, RAGAM. Idiolek adalah variasi atau ragam yang bersifat perseorangan. DIALEK adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu temapy atau suatu waktu. RAGAM atau RAGAM BAHASA adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi keadaan, atau untuk keperluan tertentu.

L Bahasa itu manusiawi

Alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusua, dan hanya digunakan oleh manusia.

  1. Bahasa dan faktor luar bahasa

a. Masyarakat bahasa

Adalah sekelompok orang yang merasa mengenakan bahasa yang sama.

b. Variasi dan status social bahasa

Ada dua macam variasi bahasa berdasarkan status sosialnya yaitu VARIASI BAHASA TINGGI (T) digunakan dalam situasi resmi dan VARIASI BAHASA RENDAH (R) digunakan dalam situasi tidak formal.

c. Penggunaan Bahasa

Hymes, seorng pakar sosiolinguistik menyatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan 8 unsur yang diakronim menjadi “SPEAKING” yakni

· SETTING and SCENE yaitu unsure yang berkenaan dengan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

· PARTICIPANT, yaitu orang-orang yang terlibat dalam percakapan.

· ENDS, yaitu maksud dan hasil percakapan.

· ACT SQUENCES, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.

· KEY, menujuk pada cara / semangat dalam melaksanakan percakapan.

· INSTRUMENTALITIES, menujuk pada jalur percakapan, lisan atau bukan.

· NORMS, menujukan pada norma perilaku peserta percakapan.

· GENRES ,menujuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

d. Kontak Bahasa

Orang yang hanya menguasai satu bahasa disebut MONOLINGUAL, UNILINGUAL, atau MONOGLOT, yang menguasai dua bahasa disebut BILINGUAL, yang menguasai lebih dari dua bahasa MULTILINGUAL, PLURILIGUAL, atau POLIGLOT. Akibatnya adanya kontak bahasa, dapat terjadi peristiwa atau kasus, salah satunya adalah INTERFERENSI, yaitu adanya unsur bahasa dalam bahasa yang digunakaan, sehingga tampak adanya penyimpangan kaldan dari bahasa yang digunakan itu.

e. Bahasa dan budaya

Bahasa dan budaya memiliki hubungan yang sangtat erat, ada dua pendapat yang berbeda mengenai bahasa dan budaya, yaitu menurut hipotensis sapir-whorf menyatakan bahwa, bahasa mempengaruhi kebudayaan dan pendapat yang berlawanan dari hipotesis sapir-whorf yaitu bahwa kebudayaan mempengaruhi bahasa. Oleh karenanya ada pakar yang menyebut bahwa dan budaya sebagai kembar siam.

  1. Klasifikasi Bhasa
    1. Klasifikasi genetis / geneologis

Dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa itu. Artinya suatu bahasa yang berasal dari bahasa yang lebih tua. Klasifikasi bahasa bersifat DIVERGENSIF yakni memecah dan menyebar menjadi banyak.

    1. Klasifikasi Tripologis

Dilakukan berdasarkan persamaan / tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa.

    1. Klasifikasi Areal

Dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain didalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetick atau tidak.

    1. Klisifikasi Sosiolinguistik

Dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang belaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status , fubgsi, pendaian yang diberkan masyarakat terhadap bahasa itu.

  1. Bahasa Tulis dan Sistem Akasana

Kelebihan bahasa tulis antara lain, bahasa tulis mampu menembus ruang dan waktu, bahasa tulis dapat disimpan lama sampai waktu yang tak terbatas. Aksana sendiri, awalnya tidak untuk menyatakan gambar, gagasan atau kata,melainkan untuk mmenyatakan suku kata. Salah satu aksara adalah aksara arab,aksara arab tersebar bersama datang nya agama islam. Adanya beberapa istilah antara lain : HURUF adalah istilah umum untuk graf dan grafem. ABJAD atau ALFABET adalah urutan huruf-huruf dalam suatu aksana. AKSARA adalah keseluruhan sistem tulisan. GRAF adalah satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku kata, atau morfem yang tergantung dari sistem aksara yang bersangkutan. ALOGRAF adalah varian dari graham.KALIGRAFI adalah dalam bentuk karya seni. GRAFITI adalah tulisan corat-coret di dinding atau tembok dengan huruf tertentu.

 

lindi_1402408193_bab 3

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 1:48 pm

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK

BAHASA

  1. Prenertian Bahasa

Bahasa memiliki lebih dari satu makna, diantaranya adalah sebagai PAROLE,LANGUE,dan LANGAGE. Sebagai objek kajian linguistic , PAROLE merupakan onjek konkret, karena parole berwujud ujaran nyata yang di gunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. LANGUE merupakan objek yang abstrak , karena langue berwujud system suatu bahasa tertentu bahasa tertentu secara keseluruhan. Sedangkan LANGAGE merupakan objek yang paling abstrak, karena dia berwujud system bahasa secara unwersal.

Kajian terhadap PAROLE dilakukan untuk mendapatkan kaidah suatu LANGUE, dan dari kajian terhadap LANGUE akan diperoleh kaidah LANGAGE.

Madsalah lain yang berkenaan dengan pengertian bahasa adalah bila mana tuturan tersebut bahasa, yang berbeda dengan bahasa lainya. Dua buah patokan, yaitu patokan linguistik dan patokan politis. Secara LINGUISTIK, dua buah tuturan di anggap sebagai dua bahasa yang berbeda kalau anggota dari dua masyarakat tuturan itu tidak saling mengerti : Misalnya penduduk asli jawa tengah . Sedangkan secara POLITIS misalnya adalah bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia, walaupun sama-sama dari bahasa melayu , bahasa Indonesa dan bahasa Malaysia adalah dua bahasa yang berbeda. Bahasa Indonesia dan bahasa nasional bangsa Indonesia , sedangkan bahasa Malaysia adalah bahasa Nasional bangsa Malaysia.

  1. Hakikat Bahasa

Sifat atau cirri-ciri bahasa antara lain :

    1. Bahasa adalah sebuah system

Sistem adalah susunan teratur berpola yang membentuk suatu kesatuan yang bermakna atau berfungsi sebagai sebuah system bahasa bersifat soistematis dan sistemis. SISTEMATIS artinyaBahasa tersebut tersususn menurut pola atau tidak sembarang sedangkan SISTEMIS artinya bahasa bukan merupakan system tunggal tetapi terdiri dari sub- subsistem atau system bawahan , antara lain subsistemfonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem semantic.

b. Bahasa sebagai lambing

Lambang dikaji orang kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang di sebut ILMU SEMIOTIKA atau SEMIOLOGI yaitu ilmu yang mempelajari tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa. Dalam SMIOTIKA dibedakan adanya beberapa jenis tanta, antara lain :

· Tanda , adalah sesuatu yang dapat menandai atau memakili ide, pikiran, perasaan, benda, dan tindakan secara langsung dan alamiah.

· Lambang, tidak bersifat langsung dan alamiah, lambing menandai sesuatu yang lain secara konversional.

· Sinyal atau isyarat, adalah tanda yang sengaja di buat oleh pemberi sinyal, agar si penerima sinyal melakukan sesuatu.

· Gerak isyarat (gesture), adalah tanda yang di lakukan dengan gerakan anggota badan.

· Gejala (symplom), adalah suatu tanda yang tidak disengaja , yang di hasilkan tanpa maksud ,tetapi alamiah untuk menunjukan atau mengungkapkan bahwa sesuatu yang diwakilinya.

· Ikon, adalah tanda yang paling mudah pahami karena kemiripanya dengan sesuatu yang di wakilinya.

· Indeks , adalah tanda yang menunjukan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukan adanya api.

· Kode, citri kode sebagai tanda adalah adanya system,baik yang berupa symbol,sinyal , maupun gerak isyarat yang dapat memakili pikiran, perasaan, ide, benda, dan tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu.

c. Bahasa Adalah Bunyi

Bunyi bahasa atau bunyi ujaran adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh ucap manusia. Tetapi tidak semua bunyi yang dihasilakan oleh ucap manusia termasuk bunyi bahasa. Bunyi teriak, bersin, batuk-batuk, dan arokan bukan termasuk bunyi.bahasa ,meskipun dihasilakan oleh ucap manusia, karena semuanya itu tidak termasuk ke dalam system bunyi bahasa.

d. Bahas Itu Bermakna

Karena lambing-lambang itu mengacu pada suatu konsep, ede, atau pikiran , maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna,. Lambang bunyi yang bermakna itu didalam bahasa berupa morfem ,kata ,frase, klausa, kalimat, dan wacana. Mkana yang berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat disebut makna GRAMATIKAL dan yang berkenaan dengan wacana disebut makna PARADIGMA atau makna KONTEKS.

e. Bahasa Itu Arbitrer

Arbitrer adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambing bahasa dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambing tersebut. Ferdinana de saussure membedakan aoa yang di sebut significant dan signifie. SIGNIFIANT adalah lambing bunyi itu, sedangkan SIGNIFIE adalah konsep yang di kandung oleh significant. Hubungan antar significant (petanda) yang di sebut bersifat arbitrer, sewenang-wenang,atau tidak ada hubungan wajib diantara keduanya.

f. Bahasa Itu Konfensional

Penggunaan lembaga untuk suatu konsep tertentu bersifat konversional, artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambing tertentu itu digunakan untuk memakili konsep yang diwakilinya

g. Bahasa Itu Produktif

Bahasa dikatakan produktif, maksudnya, meskipun unsure-unsur bahasa itu terbatas ,tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnyatidak terbatas , sesui denhgan system yang berlaku dalam bahasa itu. Keterbatasan ada dua macam, yaitu keterbatasan pada tingkat PAROLE dan keterbatasan pada tingkat LANGUE, keterbatasan padatingkat PAROLE adalah pada kertidaklaziman atau kebelulaziman bentukyang di hasilkan. Pada tingkat LANGUE keprodutipan itu dibatasi karena kaidah atau system yang berlaku.

h. Bahasa Itu Unik

Bahasa dikatakan bersifat unik, artinya setiap bahasa memiliki cirikas sendiri yang tidak alimiliki oleh bahasa lainnya. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis. Melainkan siktensis, maksudnya kalau pada kata tertentu didalam kalimat kita berikan tekanan, maka makna kata itu tetap, yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat.

i Bahasa itu universal

Bahasa itu bersifat universal,artinya ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia. Cirri universal bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan juga bahwa setiap bahasa satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah satuan yangbernama kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana yang dimiliki oleh sejumlah bahasadalam satu rumpun atau satu golongan bahasa.

G Bahasa itu dinamis

Di dalam masyarakat, kegiatan manusia itu tidak tetap dan slalu berbah maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah,tidak tetap, dan yidak status, karena itulah bahasa itu disebut dinamis.

k Bahasa itu berfariasi

Ada tiga istilah mengenai variasi bahasa yaitu IDIOLEK, DIALEK, dan, RAGAM. Idiolek adalah variasi atau ragam yang bersifat perseorangan. DIALEK adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu temapy atau suatu waktu. RAGAM atau RAGAM BAHASA adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi keadaan, atau untuk keperluan tertentu.

L Bahasa itu manusiawi

Alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusua, dan hanya digunakan oleh manusia.

  1. Bahasa dan faktor luar bahasa

a. Masyarakat bahasa

Adalah sekelompok orang yang merasa mengenakan bahasa yang sama.

b. Variasi dan status social bahasa

Ada dua macam variasi bahasa berdasarkan status sosialnya yaitu VARIASI BAHASA TINGGI (T) digunakan dalam situasi resmi dan VARIASI BAHASA RENDAH (R) digunakan dalam situasi tidak formal.

c. Penggunaan Bahasa

Hymes, seorng pakar sosiolinguistik menyatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan 8 unsur yang diakronim menjadi “SPEAKING” yakni

· SETTING and SCENE yaitu unsure yang berkenaan dengan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

· PARTICIPANT, yaitu orang-orang yang terlibat dalam percakapan.

· ENDS, yaitu maksud dan hasil percakapan.

· ACT SQUENCES, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.

· KEY, menujuk pada cara / semangat dalam melaksanakan percakapan.

· INSTRUMENTALITIES, menujuk pada jalur percakapan, lisan atau bukan.

· NORMS, menujukan pada norma perilaku peserta percakapan.

· GENRES ,menujuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

d. Kontak Bahasa

Orang yang hanya menguasai satu bahasa disebut MONOLINGUAL, UNILINGUAL, atau MONOGLOT, yang menguasai dua bahasa disebut BILINGUAL, yang menguasai lebih dari dua bahasa MULTILINGUAL, PLURILIGUAL, atau POLIGLOT. Akibatnya adanya kontak bahasa, dapat terjadi peristiwa atau kasus, salah satunya adalah INTERFERENSI, yaitu adanya unsur bahasa dalam bahasa yang digunakaan, sehingga tampak adanya penyimpangan kaldan dari bahasa yang digunakan itu.

e. Bahasa dan budaya

Bahasa dan budaya memiliki hubungan yang sangtat erat, ada dua pendapat yang berbeda mengenai bahasa dan budaya, yaitu menurut hipotensis sapir-whorf menyatakan bahwa, bahasa mempengaruhi kebudayaan dan pendapat yang berlawanan dari hipotesis sapir-whorf yaitu bahwa kebudayaan mempengaruhi bahasa. Oleh karenanya ada pakar yang menyebut bahwa dan budaya sebagai kembar siam.

  1. Klasifikasi Bhasa
    1. Klasifikasi genetis / geneologis

Dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa itu. Artinya suatu bahasa yang berasal dari bahasa yang lebih tua. Klasifikasi bahasa bersifat DIVERGENSIF yakni memecah dan menyebar menjadi banyak.

    1. Klasifikasi Tripologis

Dilakukan berdasarkan persamaan / tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa.

    1. Klasifikasi Areal

Dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain didalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetick atau tidak.

    1. Klisifikasi Sosiolinguistik

Dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang belaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status , fubgsi, pendaian yang diberkan masyarakat terhadap bahasa itu.

  1. Bahasa Tulis dan Sistem Akasana

Kelebihan bahasa tulis antara lain, bahasa tulis mampu menembus ruang dan waktu, bahasa tulis dapat disimpan lama sampai waktu yang tak terbatas. Aksana sendiri, awalnya tidak untuk menyatakan gambar, gagasan atau kata,melainkan untuk mmenyatakan suku kata. Salah satu aksara adalah aksara arab,aksara arab tersebar bersama datang nya agama islam. Adanya beberapa istilah antara lain : HURUF adalah istilah umum untuk graf dan grafem. ABJAD atau ALFABET adalah urutan huruf-huruf dalam suatu aksana. AKSARA adalah keseluruhan sistem tulisan. GRAF adalah satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku kata, atau morfem yang tergantung dari sistem aksara yang bersangkutan. ALOGRAF adalah varian dari graham.KALIGRAFI adalah dalam bentuk karya seni. GRAFITI adalah tulisan corat-coret di dinding atau tembok dengan huruf tertentu.

 

Nurlaili_1402408334_bab 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 1:41 pm

Disusun oleh :

Nurlaili

NIM : 1402408334

Bab 5

Tataran Linguistik (2)

MORFOLOGI

*) Morfem adalah bentuk yang hadir secara berulang – ulang dengan bentuk lain dan mempunyai makna yang sama. Contoh : kedua, ketiga,….: ke pasar, ke alun – alun. Ciri atau identitas sebuah morfem adalah kesamaan arti dan kesamaan bentuk konsep maupun istilah morfem tidak di kenal dalam tata bahasa tradisional sebab n = morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem mempunyai makna secara filosofis.

Sebuah bentuk di katakana morfem meskipun bentuknya tidak persis sama, asalkan perbedaannya dapat di jelaskan secara fonologis : misalnya, bentuk me berdistribusin pada bentuk dasar yang fonem awalna konsonan (l ) dan (r) ; bentuk mem- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan (b) dan (p).

Alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem (setiap morfem mempunyai alomorf). Contoh alomorf me-, mem-, men-, morfemnya di sebut morfem meN (me – nasal : N)

*) Klasifikasi Morfem

a) Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan (contoh kata pulang, makan), morfem terikat adalah morfem yang tanpa di gabung dulu dengan morfem yang lain tidak dapat muncul dalam pertuturan (contoh baca, juang). Klitika merupakan morfem yang agak sukar di tentukan statusnya, apakah terikat atau bebas (contoh klitika – lah, ayahmulah). Klitika di bedakan atas proklitika (yaitu klitika yang berposisi di muka kata yang di ikuti, seperti ku dan kau dalam konstruksi kubawa dan kuambil, dan enklitika yaitu klitika yang berposisi di belakang kata yang di lekati, seperti – lah pada konstruksi dialah.

b) Morfem utuhadalah morfem yang merupakan satu kesatuan yang utuh, contoh : meja, kursi. Morfem terbagi adalah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Contoh : morfem {ke- / -an} pada kata kesatuan.

c) Morfem segmental adalah semua morfem yang berwujud bunyi, contoh : {lihat}, {lah}, morfem suprasegmental adalah morfem yang di bentuk oleh unsur – unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya. Misalnya dalam bahasa Nybaka di Kongo Utara, setiap verba selalu di sertai dengan menunjuk kala (tense) yang berupa nada aturannya, nada turun (\) untuk kala kini, nada diatur (-) untuk kala lampau, nada turun naik (v) untuk kala nanti, dan nada naik (/) untuk bentuk imperaktif, contoh a’ (menaruh).

d) Morfem beralomorf zero atau nol (o) yaitu morfem yang salah satu alomorf nya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa “ kekosongan” . missal bentuk tunggal untuk sheep adalah sheep dan bentuk jamaknya adalah sheep juga, yang terdiri dari morfem {sheep} dan morfem {o}.

e) Morfem bermakna lesikal adalah morfem – morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain, contoh : kudu pergi, lari. Morfem tak bermakna lesika adalah sebaliknya. Contoh morfem – morfem afiks, seperti {ber-}, {me-}dan {ber-}.

· Morfem dasar biasanya di gunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks, contoh {juang}, {lari}. Morfem dasar dapat menjadi sebuahn bentuk dasar atau dasar dalam suatu proses morfologi, contoh : bentuk dasar dari berbicara adalah bicara. Pangkal (stem) di gunakan untuk menyeut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif, contoh : books, pangkalnya adalah book. Akar (root) di gunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebihn jauh lagi. Contoh : untouchables, pangkalnya adalah touch.

*) Kata menurut para tata bahasawan tradisional adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau deretan huruf yang diapit oleh dua buah dan mempunyai satu arti. Batasan kata dalam buku linguistik Eropa adalah bahwa kata mer bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat.

Fungsi dari klasifikasi katayang dapat di identifikasikan dari cirri – cirinya, kita dapat memprediksikan penggunaan atau pendistribusian kata itu di dalam ujaran, sebabnya kata – kata yang berciri atau beridentifikasi yang sama saja yang dapat menduduki semua fungsi atau suatu distribusi dalam hal. Untuk membuat klasifikasi kata para tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria malena (di gunakan untuk mengidentifikasikan kelas verba, nomina dan adjektiva) dan kriteria fungsi (di gunakan untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina, dan lain – lain). Para tata bahasawan strukturalis berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu stuktur atau konstruksi.

Untuk dapat di gunakan di dalam kalimat atau pertuturan tertentu maka setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa feksi dan aglutunasi harus di bentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi,proses reduplikasi, maupun proses komposisi. Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat, yaitu pertama membentuk kata – kata yang bersifat inflektif dan derivatif. Perubahan / penyesuaian bentuk pada verba disebut deklinasi. Pembentukan kata secara inflektif, tidak membentuk kata baru atau kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya sedangkan pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

*) Proses Morfemis

* Aflikasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar, di lihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar biasanya di bedakan adanya prefiks (afiks yang di imbuhkan di muka bentuk dasar), infiks (afiks yang di imbuhkan di tengah bentuk dasar), konfiks (afiks yang berupa morfem terbagi, diawal dan akhir bentuk dasar), interfiks (infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur), transfiks (afiks yang berwujud vokal – vokal yang di imbuhkan pada keseluruh dasar).

* Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsial), maupun perubahan bunyi, paradigmatis / derivasigne

* Komposisi adalah hasil dalam proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun terikat, sehingga berbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru. Masalah dari proses kompoisisi antara lain : masalah kata majemuk, aneksi, dan frase. Para ahli tata bahasa tradisional seperti Sutan Takdir Alisjahbana, berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak menggabungkan makna unsur – unsurnya, kelompok linguis lain yang berpijak pada tata bahasa struktural menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk, kalau di antara unsur – unsur pembentuknya tidak dapat di sisipkan apa – apa tanpa merusak komposisi itu, bisa juga suatu komposisi di sebut kata majemuk kalau unsur – unsurnya tidak dapat dipertukarkan tempatnya.Dalam bahasa Inggris, kata majemuk dan bukan kata majemuk berbeda dalam hal adanya tekanan. Linguis kelompok lain, ada juga yang menyatakan sebuah komposisi adalah kata majemuk kalau identitas leksikal komposisi itu sudah berubah dari identitas unsur – unsurnya. Verhaar menyatakan suatu komposisi di sebut kata mejemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaksis (contoh matahari tidak bisa dikatakan matanya hari). Kridalaksana menyatakn kata majemuk haruslah tetap berstatus kata; kata majemuk harus di bedakan dari idiom (suatu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur – unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal), sebab kata majemuk adalah konsep sintaksis, sedangkan idiom adalah konsep semantis.

* Konversi sering juga di sebut derivasi zero, transmutasi dan transp[osisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa peruvahan unsure segmental. Modifikasi internal / penambahan internal / perubahan internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur – unsur (biasanya berupa vokal) dalam morfem yang berkerangaka tetap (biasanya berupa konsonan) . Peruahan bersifat derivatif, karena makna identitas leksikalnya sudah berbeda. Ada sejenis modifikasi internal lain yang di sebut suplesi, dalam proses suplesi perubahannya sangat ekstrem karena ciri – ciri bentuk dasar tidak / hampir tidak tampak lagi (bentuk dasar berubah total)

* Pemendekan adalah proses penanggalan bagian – bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya (hasilnya di sebut kependekan). Dalam berbagai kepustakaan, hasil proses pemendekan ini biasanya di bedakan atas penggalan, singkatan dan akronim. Penggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertaam dari bentuk yang di pendekkan itu. Singkatan adalah hasil proses pemendekan. Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat di lafalkan sebagai kata.

* Produktivitas dalam proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama aflikasi, reduplikasi, dan komposisi di gunakan berulang – ulang yang secara relatif tak tebatas; artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut. Proses inflektif atau paradigmatis karena tidak membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya, tidak dapat di katakana proses yang produktif, Proses inflektif bersifat tertutup (tidak mempunyai bentuk lain dan tidak bisa di ada – adakan). Proses derivasi bersifat terbuka, artinya penutursuatu bahasa dapat membuat kata – kata baru dengan proses tersebut. Proses derivasi adalah produktif, sedangkan proses infleksi tidak produktif. Bentuk – bentuk yang menurut kaidah gramatikal di mungkinkan keberadaannya, tetapi ternyata tidak pernah ada, seperti mencantikkan, di sebut bentuk yang potensial, yang pada suatu saat kelak mungkin dapat muncul sedangkan bentuk – bentuk yang nyata ada, seperti bentuk menjelekkan di sebut bentuk – bentuk aktual.

*) Morfotonemik di sebut juga mofonemik, morfotonologi atau morfonologi atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Perubahan fonem dalam proses merfotonemi ini dapat berwujud :

(1) pemunculan fonem (dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan prefiks me- dengan bentuk dasar baca yang menjadi membaca)

(2) pelepasan fonem (dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan akhiran wan pada kata sejarah dimana fonem (h) pada kata sejarah menjadi hilang

(3) pelulihan fonem (dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me- pada kata sikat dimana fonem (s) pada kata sikat itu diluluhkan dan di senyawakan dengan bunyi nasal (ny)

(4) perubahan fonem (dapat kita lihat pada proses pengimbuhan prefiks ber- pada kata ajar di mana fonem (s) dari prefiks itu berubah menjadi fonem (l )

(5) pergeseran fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel yang lain biasanya ke silabel berikutnya, contoh : pengimbuhan sufiks (an) pada kata jawab

 

Noviana Ekawati 1402408244 bab 7

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 1:39 pm

Nama : Noviana Ekawati

NIM : 1402408244

7. TATARAN LINGUISTIK

SEMANTIK

Bahasa merupakan satu tataran linguistik,status tataran semantik dengan tataran fonologi,morfologi dan sintaksis adalah tidak sama, sebab secara hierarkial satuan bahasa yang disebut wacana, dan dibangun oleh kalimat, satuan kalimat dibangun dengan klausa, satuan klausa dibangun oleh frase, satuan frase dibangun oleh kata, satuan kata dibagnun oleh morfem, satuan morfem dibangun oleh fonem, dan akhirnya satuan fonem dibangun oleh fon atau bunyi.Semantik dengan obyeknya yakni makna, berada diseluruh atau berada disemua tataran yang bangun membangun ini,makna berada di didalam tataran fonologi,morfologi, dan sintaksis. Hockett(1945), salah seorang strukturalis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu suatu sistem yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan. Sistem bahasa ini terdiri dari lima subsistem yaitu subsistem gramatika,subsistem fonologi, subsistem morfofonemik, subsistem semantik, dan subsistem fonemik. Subsistem gramatika,fonologi, dan morfofonemik bersifat sentral. Sedangkan subsistem semantik dan fonetik bersifat poriferal, karena seperti pendapat kaum strukturalis umumnya, bahwa makna yang menjadi objek semantik adalah sangat tidak jelas, tak dapat diamati secar empiris. Chomsky, bapak linguistik transformasi,dalam bukunya yang pertama (1957) tidak menyinggung-nyinggung masalah makna. Dalam bukunya yang kedua (1965) beliau menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa (dua komponen lain adalah sintaksis dan fonologi), dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen semantik ini. Bapak Linguistik modern, Ferdinand de saussure, bahwa tanda linguistik (signe linguistique) terdiri dari komponen signifian dan signifie, merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

7.1 HAKIKAT MAKNA

Ferdinand de Saussure berpendapat bahwa setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari dua komponen, yaitu kkomponen signifian atau “yang mengartikan” yang wujudnya berupa runtunan bunyi dan komponen signifie atau “yang diartikan” yang wujudnya berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki oleh signifian). Menurutnya bahawa makna adalah ‘pengertian’ atau ‘konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Kalau tanda linguistik itu disamakan identitasnya dengan kata atau leksem, maka berarti makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem,kalau tanda linguistik itu disamakan identitasnya dengan morfem, maka berarti makan itu adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap morfem,baik yang disebut morfem dasar maupun morfem afiks. Kridalaksaa (1989) misalnya, yang menyatakan setiap tanda bahasa 9yagn disebutnya penanda) tentu mengacu pada sesuatu yagn ditandai (disebut petanda) Karena afiks-afiks itu juga merupakan penanda, maka afiks itu pun mempunyai petanda. Ada teori lain yang menyatakan makna itu tidak lain daripada sesuatau atau referen yagn diacu oleh kata atau leksem itu. Hanya perlu dipahami bahwa tidak semua kata atau leksem itu mempunyai acuan konkret didunia nyata. Misalnya leksem seperti agama,kebudayaan dan keadilan tidak dapat ditampilkan referennya secara konkret. Kita baru dapat menentukan makna sebuah kat apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya.Contoh makna kata jatuh dalam kalimat-kalimat berikut: 1) Adik jatuh dari sepeda, 2) Dia jatuh dalam ujian yang lalu, 3) Dia jatuh cinta pada adikku, 4) Kalau harganya jatuh lagi kita akan bangkrut. Menyatakan bahwa makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada didalam konteks wacananya atau konteks situasinya. Yang harus diingat bahasa bersifat arbiter, maka hubungan antar kata dan maknanya juga bersifat arbiter.

7.2 JENIS MAKNA

Makna bahasa itu menjadi bermacam-macam bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda. Berbagai nama jenis makna telah dikemukakan orang dalam berbagai buku linguistik atau semantik.

7.2.1 Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun. Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita atau makna apa adanya. Sedangkan makna gramatikal baru ada jika terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang erada di dalam satu konteks. Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat,waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa itu.

7.2.2 Makna Refrensial dan Non-refrensial

Sebuah kaa atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuran dalam dunia nyata. Kata-kata seperti dan, atau, dan karena adalah termasuk termasuk kata-kata yang tidak bermakna ferensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referens.

Yang disebut kata- kata deiktik, dan acuannya tidak menetap pada satu maujud,melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepsa maujud yang lain. Kata- kata deiktik ini adalah kata- kata yang termasuk pronomina, seperti dia, saya,dan kamu,kata- kata yang menyatakan ruang seperti di sini,di sana, di situ, kata-kata yang menyatakan waktu seperti sekarang,besok, dan nanti, kata-kata yang disebut kata penunjuk seperti ini dan itu.

7.2.3 Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli,makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Makna denotatif sebenarnya sama dengan makna leksikal. Contoh kata kurus yagn bermakna denotatif ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal’. Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rada dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contoh kurus,ramping, dan kerempeng dapat kita simpulkan,bahwa ketiga kata itu secara denotatif mempunyai makna yag sama atau bersinonim, tetapi ketiganya memiliki konotasi yagn tidak sama, kurus berkonotasi netral, ramping berkonotasi pisitif, dan kerempeng berkonotasi negatif. Dan harus diingat bahwa konotasi sebuah kata bisa berbeda antara seseorang dengan orang lain, antara satu daerah dengan daerah lain, atau antara satu masa dengan masa yang lain.

7.2.4 Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Leech (1976) membagi makna menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. Konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Makna konseptual sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal,makna denotatif dan makna referensial.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatau yang berada diluar bahasa. Makna asosiatif ini sebenarnya sama dengan lambang atau perlambang yagn digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan konsep lain, yang mempunyai kemiripan dengan sifat, keadaan atau ciri yang ada pada konsep asal kata atau leksem tersebut.Oleh Leech kedalam asosiatif ini dimasukkan juga yang disebut makna konotatif,makna stilistika,makna afektif, dan makna kolokatif.Termasuk dalam masa asosiatif adalah kata-kata tersebut beasosiasi dengan nilai rasa terhadap kata itu.Makna stilistika berkenaan dengan pembedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan. Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan icara atau terhadap lawan bicara atau terhadap objek yang dibicarakan. Makna afektif lebih nyata terasa dalam bahasa lisan. Makna kolokatif berkenaan dengan ciri-ciri makna terentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim,sehingga kata tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu lainnya.

7.2.5 Makna Kata dan Makna Istilah

Setiap kata atau leksem memiliki makna, makna yang dimiliki sebuah kata adalah makna leksikal,makna denotatif,atau makna konseptual.Sedangkan istilah mempunyai makna yang pasti,yag jelas,yang tidak meragukan,meskipun tanpa konteks kalimat. Istilah itu bebas konteks,sedangkan kata tidak bebas konteks.Istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.

Dalam perkembangan bahasa memang ada sejumlah istilah,yang karena sering digunakan, lalu menjadi kosakata umum. Artinya istilah itu tidak hanya digunakan di dalam bidang keilmuannya,tetapi juga telah digunakan secara umum,diluar bidangnya. Misalnya istilah aksptor, dan kalimat telah menjadi kosakata umum, tetapi istilah debil,embisil, alofon dan fariansimasih tetap sebagai istilah dalam bidangnya,belum menjadi kosakata umum.

7.2.6 Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya,baik secara leksikal maupun secara gramatikal.Contoh adalah bentuk membanting tulang dengan makna ‘bekerja keras’, meja hijau dengan makna ‘pengadilan’, dan sudah beratap seng dengan makna ‘sudah tua’. Ada dua macam idiom yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu-kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu.Contohnya membanting tulang,menjual gigi, dan meja hijau. Sedangkan idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Contohnya adalah buku putih yang bermakna ‘buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’. Idiom yang maknanya tidak dapat “diramalkan” secara leksikal maupun ramatikal,maka yang disebut pribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.

7.3 RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa di sini dapat berupa kata, frase, maupun kalimat, dan relasi semantik itu dapat menyatakan kesamaan makna,pertentangan makna, ketercakupan makna, kegandaan makna, atau juga keebihan makna. Relasi makna ini dibicarakan masalah-masalah antara lain:

7.3.1 Sinonim

Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya kata betul dengan kata benar. Relasi sinonim bersifat dua arah. Maksudnya kalau satu satuan ujaran A bersinonim dengan satuan ujaran B maka satuan ujaran B itu bersinonim dengan satuan ujaran A. Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena erbagai faktor antara lain yaitu faktor waktu,faktor tempat dan wilayah, faktor sosial, fakor bidang kegiatan, dan faktor nuansa makna. Dari keenam faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa dua buah kata yang bersinonim tidak akan selalu dapat dipertukarkan atau disubstitusikan

7.3.2 Antonim

Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misalnya kata buruk berantonim dengan kata baik. Hubungan antara dua sauan ujaran yang berantonim bersifat dua arah. Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonimi itu dapat dibedakan atas beberapa jenis yaitu 1) antonimi bersifat mutlak,antonimi bersifat relatif atau bergradasi, contoh kata mati erantonim dengan hidup. 2) antonimi yang bersifat relatif atau bergradasi contoh antara kata jauh dan dekat. Jenis antonim ini disebut bersifat relatif , karena batas antara satu dengan yanga lainnya tidak dapat ditentukan secara jelas,batasnya itu dapat bergerak menjadi lebih atau menjadi kurang. 3) Antonimi yang bersifat realsional,karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain,contohnya antara kata membeli dan menjual. 4) Antonimi yang bersifat hierarkial,kaena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang atau hierarki,contohya antara kata gram dan kilogram. Ada satuan ujaran yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu yang disebut antonim majemuk. Contohnya kata diam yang dapat berantonim dengan kata berbicara.

7.3.3 Polisemi

Sebuah kata atau satuan disebut polisemi kalau itu mempunyai makna lebih dari satu. Dalam kasus polisemi ini biasanya makna pertama (yang didaftarkan didalam kamus) adalah makna sebenarnya,makna leksikelnya,makna denotatif, atau makna konseptualnya. Yang lain adalah makna-makna yang dikembangkan berdasarkan salah satu komponen makna yang dimiliki kata atau satuan ujaran itu. Makna-makna pada sebuah kata atau satuan ujaran yang polisemi ini masih berkaitan satu dengan yang lain.

7.3.4 Himonimi

Himonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama, maknanya tentu saja berbeda,karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Relasi antara dua buah satuan ujaran yang berhomonimi juga berlaku dua arah. Homonimi ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan yaitu homofoni dan homografi. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran,tanpa memperhatikan ejaannya,apakah ejaannya sama ataukah berbeda. Contohnya adalah kata bank ‘lembaga keuangan’ dengan kata bang ‘kakak laki-laki’. Sedangkan homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Contoh kata teras yagn mempunyai dua makna yaitu inti dan bagian serambi rumah. Karena homografi ini berkenaan dengan tulisan atau ortografi, maka dalam bahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Arab,seperti masih digunakan di Malaysia dan Brunei Darusalam, akan banyak kita jumpai bentuk-benuk homograf.

7.3.5 Hiponimi

Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Relasi hiponimi bersifa searah, bukan dua arah. Contohnya adalah merpati berhiponim dengan burung, maka burung bukan berhiponim dengan merpati melainkan berhipernim. Dengan kata lain, kalau merpati adalah hiponim dari burung, maka burung adalah hipernim dari merpati. Ada juga yang menyebut burung adalah superordinat dari merpati (dan tentu saja dari tekukur,dari perkutut, dari balam,dari kepodang dan dari jenis burung lainnya). Hubungan antara merpati dengan tekukur,perkutut,dan jenis burung lainnya adalah kohiponim dari burung..Dalam penyusunan klasifikasi ini kita berusaha mengelompokkan bentuk-bentuk ujaran yang secara semantik menyatakan generik dan spesifik , maka ada kemungkinan sebuah bentuk ujaran yang merupakan generik dari sejumlah bentuk spesifik, akan menjadi nama spesifik dari generik yang lebih luas lagi. Misalnya burung yang menjadi generik,atau hipernim atau superordinat dari merpati,tekukur,perkutut, dan kepodang akan menjadi hiponim dari unggas. Sedangkan contoh lain jendela dan pintu hanyalah bagian atau komponen dari ruamh. Namanya yang tepat adalah partonimi atau meronimi.

7.3.6 Ambiguiti atau Ketaksaan

Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Umumnya terjadi pada bahasa tulis,karena dalam bahasa tulis unsur suprasegmental tidak dapat digambakan dengan akurat. Namun ketaksaan itu dapat terjadi dalam bahasa lisan meskipun intonasinya tepat. Ketaksaan.Misalnya bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknanya menjadi ‘buku sejarah itu baru terbit’ atau ‘buku itu memua sejarah zaman baru’. Ketaksaan dapat terjadi bukan karena tafsiran gramatikal yang berbeda tetapi kaena masalah homonimi,sedangkan konteksnya tidak jelas.

7.3.7 Redundansi

Redundansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihan penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Misalnya kalimat Bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan ‘Bola itu ditendang Dika’. Jadi tanpa menggunakan preposisi oleh. Penggunaan kata oleh inilah yang dianggap redundans,berlebih-lebihan.

7.4 PERUBAHAN MAKNA

Makna sebuah kata akan tetap sama, tetap sama, tidak berubah, tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Ada kemungkinan ini bukan berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sebuah bahasa,melainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja,yang disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:Pertama, perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.Kedua, perkembangan sosial budaya.Ketiga, perkembangan pemakaian kata. Keempat,pertukaran tanggapan indra. Kelima,adanya asosiasi.

Perubahan makna kata atau satuan ujaran itu ada beberapa macam. Ada perubahan yang meluas, ada yang menyempit,ada juga yang berubah total. Perubahan yang meluas artinya, kalau tadinya sebuah kata bermakna ‘A’, maka kemudian menjadi bermakna ‘B’. Dan perubahan makna yang menyempit artinya, kalau tadinya seuah kata atau satuan ujaran itu memiliki makna yang sangat umum tetapi kini maknanya menjadi khusus atau sangat khusus. Secara konkret kalau tadinya,misalnya bermakna ‘A1’, ‘A2’, ‘A3’, ‘A4’, maka kini misalnya hanya bermakna ‘A4’. Sedangkan makna secara total, artinya makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. Umpamanya kata ceramah dulu bermakna ‘cerewet,banyak cakap’, sekarang bermakna ‘uraian mengenai suatu hal dimuka orang banyak’.

Dalam pembicaraan mengenai perubahan makna ini biasanya dibicarakan juga usaha untuk ‘menghaluskan’ atau ‘mengkasarkan’ ungkapan dengan menggunakankosakata yang memiliki sifat itu. Usaha menghaluskan ini dikenal dengan nama eufemia atau eufemisme, umpamanya,kata korupsi diganti dengan ungkapan menyalahgunakan jabatan. Usaha mengkasarkan atau disfemia sengaja dilakukan untuk mencapai efek pembicaan menjadi tegas. Umpamanya kata kalah digantikan dengan masuk kotak.

7.5 MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

Kata-kata atau leksem-leksem dalam setiap bahasa dapat dikelompokkan atas kelompok-kelompok tertentu berdasarkan kesamaan ciri semantik yang dimiliki kata-kata itu. Umpamanya,kata-kata kuning,merah,hijau,biru,dan ungu berada dalam satu kelompok yaitu kelompok warna. Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata-kata yang berada dalam satu medan makna atau satu medan leksikal. Dan usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsur makna yang dimilikinya disebut analisis komponen makna atau analisis ciri-ciri makna atau juga analisis ciri-ciri leksikal.

7.5.1 Medan Makna

Medan makna (semantic domain, semantic field) atau medan leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Misalnya,nama-nama warna, nama-nama perabot rumah tangga, atau nama-nama perkerabatan, yang msing-masing merupakan satu medan makna. Perbedaan konsep penamaan: bahasa Indonesia berdasarkan usia , lebih tua atau lebih muda, sedangkan bahasa Inggris berdasarkan jenis kelamin,lelaki atau perempuan.

Kata-kata atau leksem-leksem yang mengelompok dalam satu medan makna,berdasarkan sifat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set. Kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu. Contohnya kata-kata cabe, bawang, terasi,garam,merica, dan lada berada dalam satu kolokasi yaitu yang berkenaan dengan bumbu dapur.Kalau kolokasi menunjuk pada hubungan sintagmatik,karena sifatnya yang linier,maka kelompok set menunjuk pada hubungan paradigmatik,karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu saling bias disubstitusikan. Pengelompokan kata atas medan makna ini tidak mempedulikan adanya nuansa makna,perbedaan makna denotasi dan konotasi dan hanya bertumpu pada makna dasar,makna denotative atau makna pusatnya saja.

7.5.2 Komponen Makna

Makna yang dimiliki oleh setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen kata itu. Komponen makna itu (yang disebut komponen makna.), yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Komponen makna itu dapat dinalisis, dibutiri, atau disebutkan satu persatu, berdasarkan”pengertian-pengetian”yang dimilikinya. Kegunaan analisis komponen yang lain ialah untuk membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam bahasa Indonesia bahwa analisis komponen ini dapat digunakan untuk meramal kan makna gramatikal, dapat juga kita lihat pada proses reduplikasi dan proses komposisi. Proses reduplikasi terjadi pada dasar verba yang memiliki komponen makna /+sesaat/ memberi makna gramatikal ‘berulang-ulang’ seperti pada memotong-motong,memukul-mukul, dan menendang-nendang. Proses penggabungan leksem dengan leksem, terlihat juga bahwa komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar yang terlibat dalam prose situ menentukan juga makna gramatikal yang dihasilkannya.

Chomsky (1965) rinsip-prinsip analisis yang dilakukan oleh Roman Jakobson dan para ahli antropologi itu digunakan untuk memneri ciri-ciri semantik terhadap semua morfem dalam daftar morfem yang melengkapi tata bahasa generatif transformasinya. Dan dengan member ciri-ciri seperti itu pada setiap butir leksikal maka akan dapat dijelaskan berterima atau tidaknya sebuah kalimat, baik secara leksikal maupun gramatikal.

7.5.3 Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Berterima tidaknya sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal , tetapi juga masalah semantic. Ketidakberterimaan kalimat biasanya terjadi antara lain karena kesalahan gramatikal, kesalahan persesuaian leksikal, kesalahan informasi, kesalahan semantik, kesalahan itu berupa tidak adanya persesuaian semantik diantara konstituen yang membangun kalimat itu.

Analisis persesuaian semantic dan sintaktik ini tentu saja harus memperhitungkan komponen makna kata secara lebih terperinci dan keterperincian analisis lebih diperlukan lagi. Maka selain diperlukan keterperincian analisis, masalah metafora tampaknya juga perlu disingkirkan.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.