Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Ulfa Dewi R_1402408116_BAB 2 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 6:48 pm

BAB 2

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Atau lebih tepat seperti dikatakan Martinet (1987 : 19) telaah ilmiah tentang bahasa manusia.

1.1. Keilmiahan Linguistik

Sebelum membicarakan keilmiahan linguistik ada baiknya dibicarakan dulu tahap-tahap perkembangan yang pernah terjadi dalam setiap disiplin ilmu, agar kita bisa memahami dari suatu kegiatan yang disebut ilmiah.

Tahap Pertama, yakni tahap spekulasi. Ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.

Tahap Kedua, tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

Tahap ketiga, tahap adanya perumusan teori. Setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan, lalu dirumuskan hipotesis yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Disiplin linguistik dewasa ini sudah mengalami ketiga tahap di atas. Artinya disiplin linguistik itu sekarang ini sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah, bisa dikatakan tidak spekulatif dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu ciri keilmiahan, dan penarikan secara tidak spekulatif dalam kegiatan ini harus didasarkan pada data empiris, yakni data yang nyata, dan dapat diobservasikan.

Linguistik sangat mengutamakan data empiris dalam melaksankan penelitiannya, sebabnya bidang semantik tidak atau kurang mendapat perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna yang menjadi objek semantik tidak dapat diamati secara empiris.

Dalam ilmu logika secara induktif ada juga penalaran secara deduktif. Secara induktif, mula-mula dikumpulkan data-data khusus lalu dari data-data khusus ditarik kesimpulan umum. Secara deduktif, suatu kesimpulan mengenai data-data khusus namun kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum.

Ciri-ciri hakiki bahasa :

1. Karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi, artinya bagi linguistik bahasa lisan adalah yang primer, sedangkan bahasa tulisan hanya sekunder. Dalam studi bahasa secara tradisional, yang tidak mendekati bahasa seperti linguistik moderen, biasa kita dapati pernyataan-pernyataan seperti “kalimat adalah susunan kata-kata yang dimulai dengan huruf besar dan diakhiri dengan titik”.

2. Karena bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain. Pendekatan terhadap bahasa yang dilakukan oleh para peneliti dahulu tidak melihat bahwa setiap bahasa memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing.

3. Karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya. Linguistik dapat dipelajari bahasa secara sinkronik dan secara diakronik. Secara sinkronik artinya mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada masa dan kurun waktu yang tertentu atau terbatas, memiliki sifat deskriptif karena linguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pada kurun waktu yang terbatas.

Secara diakronik artinya mempelajari bahasa dengan pelbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu sepanjang kehidupan bahasa itu sendiri.

4. Karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif dan tidak secara preskriptif. Artinya yang penting dalam ling adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang dan bukan apa yang menurut si peneliti seharusnya diungkapkan.

1.2. Subdisiplin Linguistik

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan atau cabang-cabang yang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah-masalah lain.

Demikian pula pada linguistik mengingat bahwa obyek linguistik adalah bahasa, merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat.

Dalam berbagai buku teks linguistik mungkin akan kita dapati nama-nama subdisiplin linguistik seperti lingkungan umum, linguistik deskriptif, linguistik komparatif, dan sebagainya. Kita akan coba mengelompokkan nama-nama subdisiplin linguistik berdasarkan :

a. Objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu.

b. Obyek kajiannya adalah bahasa masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa.

c. Obyek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannya dengan berbagai faktor di luar bahasa.

d. Tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori belaka atau untuk tujuan terapan.

e. Teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

1.2.1. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus.

Ÿ Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum.

Ÿ Linguistik khusus adalah berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu/juga terhadap 1 rumpun atau sub rumpun bahasa.

1.2.2. Berdasarkan obyek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik.

Ÿ Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Maka studi linguistik sinkronik bisa disebut juga linguistik deskriptif, karena berupaya mendeskripsikan apa adanya pada suatu masa tertentu.

Ÿ Linguistik diakronik mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas, bersifat historis dan komparatif, oleh karena itu dikenal juga adanya linguistik historis komparatif. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa beserta dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya.

1.2.3. Berdasarkan obyek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro (dalam kepustakaan lain disebut mikrolinguistik dan makrolinguistik).

Morfologi menyelidiki struktur kata,bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya. Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan katanya di atas kata, hubungan satu dengan lainnya, serta penyusunan katanya sehingga menjadi satu ujaran.

Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Dibahas tentang tata cara pemakaian bahasa, berbagai akibat adanya kontak dua bahasa atau lebih, ragam serta pemakaian ragam bahasa itu.

Psikolinguistik subdisiplin linguistik yang mempelajari tentang hubungan bahasa dan perilaku, akal budi manusia.

Antropolinguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya.

Stilistika adalah mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra, ilmu interdisipliner antar linguistik dan ilmu susastra.

Filologi mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Filsafat bahasa subdisiplin linguistik mempelajari tentang kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik.

Dealektologi subdisiplin linguistik yang mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

1.2.4. Berdasarkan penyelidikannya linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoritis dan linguistik terapan.

Linguistik teori berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa / juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajian. Maka linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat.

1.2.5. Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional dan linguistik sistematik.

Di luar bidang atau cabang yang sudah dibicarakan di atas masih ada bidang lain, yaitu yang menggeluti sejarah linguistik. Bidang sejarah linguistik ini berusaha menyelidiki perkembangan seluk beluk ilmu linguistik itu sendiri dari masa ke masa serta mempelajari pengaruh ilmu-ilmu lain dan pengaruh pelbagai pranata masyarakat terhadap linguistik sepanjang masa.

1.3. Analisis Linguistik

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tatanan tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis dan semantik.

1.3.1. Struktur, Sistem dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1875 – 1913) dalam bukunya “Course de Linguistique Generale” membedakan adanya 2 jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa.

1.3.2. Analisis Bawahan Langsung

Analisis bawahan langsung sering disebut juga analisis unsur langsung adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur/konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa. Meskipun memiliki banyak kelemahan tapi analisis ini cukup memberi manfaat dalam memahami suatu satuan-satuan bahasa, dan menghindai keambiguan.

1.3.3. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Ÿ Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain.

Ÿ Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan.

1.4. Manfaat Linguistik

Seperti yang sudah disinggung linguistik akan memberikan manfaat langsung pada mereka yang berkecimpung di dunia yang berhubungan dengan bahasa. Bagi linguis sendiri pengetahuan yang luas mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam memahami karya-karya sasta dengan lebih baik. objek penelitian linguistik itu merupakan wadah pelahiran karya sastra.

 

Ahmad Syaiful_1402408235_BAB 8

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 6:46 pm

Nama : Ahmad Syaiful

NIM : 1402408235

BAB 8

SEJARAH DAN ALIRAN

LINGUISTIK

Dalam sejarah perkembangannya, linguistik dipenuhi dengan berbagai aliran, paham, pendekatan dan teknik penyelidikan dan teknik penyelidikan yang dari luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan dan membingungkan, terutama bagi para pemuda. Berikut akan dibicarakan sejarah perkembangan, paham dan beberapa aliran linguistik zaman purba sampai zaman mutakhir secara singkat dan bersifat umum.

8.1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Istilah tradisional dalam linguistik sering dipertentangkan dengan istilah struktural, sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan struktural. Keduanya merupakan dua hal yang bertentangan sebagai akibat dari pendekatan keduanya yang tidak sama terhadap hakikat bahasa.

8.1.1. Linguistik Zaman Yunani

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis pada waktu itu

1) Pertentangan antara fisis dan nomos

Bersifat fisis dengan maksud bahasanya mempunyai hubungan dengan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip pribadi dan tidak dapat diganti.

2) Pertentangan antara analogi dan anomali

Analogi, bahwa bahasa itu bersifat teratur karena dengan keteraturan itu orang dapat menyusun tata bahasa.

Anomali, berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Kalau bahasa itu teratur kenapa bahasa inggris child menjadi children bukannya childs.

8.1.1.1. Kaum Sophis

Muncul pada abad ke-5 SM. Mereka dikenal dalam studi bahasa, karena:

a) Melakukan kerja secara empiris

b) Melakukan kerja secara pasti

c) Mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa

d) Membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna

8.1.1.2. Plato (429 – 347 SM)

Plato dapat terkenal dalam studi bahasa karena :

a) Memperdebatkan analogi dan anomali

b) Menyodorkan batasan bahasa

c) Orang yang pertama kali membedakan kata anoma dan rhema.

8.1.1.3. Aristoteles (384 – 322 SM)

Aristoteles terkenal dalam studi bahasa, karena:

a) Dia menambahkan satu kelas kata atas pembagian yang dibuat gurunya

b) Dia membedakan jenis kelamin kata (gender) menjadi tiga yaitu maskulin, feminin dan neutrum.

8.1.1.4. Kaum Stoik

Berkembang pada permulaan abad ke -4 SM. Dalam studi bahasa terkenal, karena :

a. Membedakan studi bahasa secara logika dan tata bahasa.

b. Menciptakan istilah-istilah khusus untuk studi bahasa.

c. Membedakan komponen utama dari studi bahasa

d. Membedakan legein yaitu bunyi bagian fologogi tapi tak bermakna dan propheretal

e. Membagi jenis kata menjadi empat

f. Membedakan adanya kata kerja komplet dan tak komplet.

Kaum stodik lebih jauh daripada yang telah dihasilkan oleh Aristoteles.

8.1.1.5. Kaum Alexandrian

Kaum ini menganut paham analog dalam studi bahasa. Oleh karena itu mereka mewarisi sebuah buku tata bahasa yang disebut tata bahasa Dionysius thrax sebagai hasil mereka dalam menyelidik kereguleran bahasa Yunani.

8.1.2. Zaman Romawi

Studi bahasa pada zaman romawi, dapat dianggap kelanjutan dari zaman Yunani. Sejalan dengan jatuhnya Yunani dan munculnya kerajaan Romawi.

8.1.2.1. Varro dan “De Lingua Latina”

Buku ini dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi dan sintaksis.

a) Etimologi, adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal-usul kata beserta artinya.

b) Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya.

Mengenai deklinasi yaitu perubahan bentuk kata berkenaan dengan kategori, kasus, jumlah, dan jenis. Varro membedakan adanya 2 deklinasi, yaitu naturalis dan valuntaris. Naturalis yaitu perubahan yang bersifat alamiah, bersifat reguler. Valuntaris yaitu perubahannya secara morfologis, bersifat selektif dan manasuka.

8.1.2.2. Institutiones Grammaticae atau tata bahasa Priscia

Buku Priscia ini terdiri dari 18 jilid (16 jilid morfologi dan 2 jilid mengenai sintaksis) dianggap sangat penting karena :

a) Merupakan buku tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya.

b) Teori tata bahasanya merupakan tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Beberapa segi yang patut dibicarakan mengenai buku ini yaitu:

a) Fonologi ð hal yang dibicarakan pertama masalah huruf yang disebut litterae yakni bagian terkecil dari bunyi yang dituliskan.

b) Morfologi, yang dibicarakan dalam hal ini antara lain mengenai dictio atau kata. Dictio adalah bagian yang minimum dari sebuah ujaran dan diartikan terpisah dalam makna sebagai satu keseluruhan.

c) Sintaksis, bidang sintaksis membicarakan hal yang disebut oratio, yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai.

8.1.3. Zaman Pertengahan

Zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi bahasa, antara lain adalah peranan kaum kaum modistae, tata bahasa spekulativa, Petrus Hispanus.

1. Kaum Modistae

Membicarakan pertentangan fisis dan nomor dan antara analogi dan anomali.

2. Tata bahasa Spekulativa

Merupakan hasil integrasi deksripsi gramatikal bahasa latin ke dalam filsafat skolastik.

3. Petrus Hispanus

Peranannya dalam bidang linguistik :

Peranannya dalam bidang linguistik:

a) Dia telah memasukkan psikologi dalam analisis bahasa

b) Dia telah membedakan nomen atau dua macam, yaitu nomen substantivum dan adjectivum.

c) Dia juga membedakan partes orationes atas categorematik dan syntategorematik.

8.1.4. Zaman Renaisans

Zaman ini dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern.

Ibrani dan Arab banyak dipelajari orang pada akhir abad pertengahan dan sesungguhnya bahasa Ibrani dan bahasa Arab memang dua bahasa yang serumpun dan perkembangan studi bahasa Ibrani sejalan dengan perkembangan linguistik bahasa Arab yang memang sudah lebih dahulu memperoleh kemajuan, karena kedudukannya sebagai bahasa kita suci agama islam yaitu Qur’an; sedangkan bahasa kitab suci itu, menurut pendapat ulama islam, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

8.1.5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Sejak awal buku ini sudah nyebut-nyebut bahwa Fredinand de Saussure dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. Masa lahirnya linguistik modern dengan berakhirnya zaman Renaisans.

Bila dsimpulkan mengenai linguistik tradisional, bahwa:

a) Bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan tulisan.

b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan dari bahasa lain.

c) Kaidah bahasanya dibuat secara prespektif, yaitu benar atau salah.

d) Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan logika.

e) Penemuan terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.

8.2. LINGUISTIK STRUKTURALIS

Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri yang dimiliki bahasa itu. Pandangan ini adalah sebagai akibat konsep atau pandangan baru terhadap bahasa dan studi bahasa yang dikemukakan oleh Bapak Linguistik Modern.

8.2.1. Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure (1957 – 1913) dianggap sebagai Bapak Linguistik modern berdasarkan pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale.

Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep:

1) Telaah sinkronik dan diakronik

2) Perbedaan langue dan parole

3) Perbedaan signifiant dan signifie

4) Hubungan sintagmatig dan paradigmatif

Telaah sinkronik dan diakronik. Telaah sinkronik adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu saja. sedangkan telaah diakronik adalah telaah bahasa sepanjang masa, atau sepanjang zaman.

8.2.2. Aliran Praha

Dalam bidang fonologi aliran Praha ialah yang pertama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi itu sendiri, fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem.

Dalam bidang fonologi aliran Praha ini juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut morfologi, bidang meneliti struktur fonologis morfem.

8.2.3. Aliran Glosematik

Analisis bahasa dimulai dari wacana, kemudian ujaran itu dianalisis atas kontituen yang mempunyai hubungan paradigmatik dalam rangka forma (hubungan gramatikal intern) substansi, ungkapan dan isi. Prosedur yang bersifat analitis dan seni aljabar ini menghasilkan satuan dasar yang disebut glosem.

8.2.4. Aliran Firthian

Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada 3 macam pokok prosodi, yakni (1) prosodi yang menyangkut gabungan fonem : struktur kata, suku kata, gabungan konsonan dan gabungan vokal, (2) prosodi yang terbentuk oleh sendi/jeda, (3) prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar dari pada fonem suprasegmental.

8.2.5. Linguistik Sistemik

Pokok-pokok yang terdapat dalam linguistik sistemtik :

1) SL (Sistemic Linguistics) memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa

2) SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”

3) SL lebih mengutamakan pemberian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasinya.

4) SL mengenal adanya gradasi atau kontinum.

5) SL menggambarkan 3 tataran utama bahasa.

Yang dimaksud substansi adalah bunyi yang kita ucapkan waktu kita berbicara dan lambang yang kita gunakan waktu kita menulis.

8.2.6. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Beberapa faktor yang menyebabkan aliran ini berkembang antara lain :

1) Menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa indian di Amerika yang belum diperikan.

2) Bloomfield yang menolak mentalistik, yaitu filsafat behavioisme.

3) Adanya hubungan yang baik, karena adanya The Linguistics Society of America, yang menerbitkan majalah Language.

8.2.7. Aliran Tagmemik

Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem, yaitu korelasi antara fungsi gramatikal dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut.

Menurut Pike satuan dasar sintaksis tidak dinyatakan dengan fungsi-funsi saja, seperti subjek+predikat+objek, melainkan harus diungkapkan bersamaan dalam rentetan rumus seperti : S : FN + P : FV + O : FN. Rumus tersebut dibaca Fungsi subjek diisi oleh frase nominal diikuti oleh fungsi predikat yang diisi frase verbal dan fungsi objek yang diisi frase nominal.

8.3. LINGUISTIK TRANSFORMAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

Dunia ilmu termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis, melainkan merupakan kegiatan yang dinamis, berkembang terus, sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki.

8.3.1. Tata Bahasa Transformasi

Setiap tata bahasa dari suatu bahasa menurut Noam Chomsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu :

1) Kalimat yang dihasilkan harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut.

2) Tata bahasanya harus dibentuk sedemikian rupa, tidak berdasarkan bahasa tertentu saja dan sejajar dengan teori linguistik.

8.3.2. Semantik Generatif

Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintasis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantik itu serupa dengan struktur logika, berupa ikatan tidak berkala antara predikat dengan superangkat argumen dalam suatu proposisi.

Menurut teori semantif generatif, argumen adalah segala sesuatu yang dibicarakan. Sedangkan predikat itu semua yang menunjukkan hubungan, perbuatan, sifat, keanggotaan. Dalam mengabstraksikan predikatnya teori ini berusaha untuk menguraikan karya lebih jauh sampai diperoleh predikat yang tidak dapat diuraikan lagi, yang disebut predikat inti (atomit predicate).

8.3.3. Tata Bahasa Kasus

Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina. Verba disini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argumen dalam teori semantik generatif. Hanya argumen dalam kasus ini diberi label kasus.

Makna sebuah kalimat dalam teori ini dirumuskan dalam bentuk :

+ [ … X, Y, Z]

Tanda … dipakai untuk menandai posisi verba dalam struktur semantik, sedangkan X, Y, dan Z adalah argumen yang berkaitan dengan verba/predikat itu yang biasanya diberi label kasus.

8.3.4. Tata Bahasa Relasional

Sama halnya dengan tata bahasa transformasi, tata bahasa relasional juga berusaha mencari kaidah kesemestaan bahasa. Menurut tata bahasa rasional, setiap struktur melibatkan tiga macam maujud, yaitu :

a) Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen di dalam suatu struktur.

b) Seperangkat tanda relasional (relational sign)

c) Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran manakah elemen itu menyandang relasi gramatikal.

8.4. TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Hingga saat ini studi linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap, meskipun studi linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak.

8.4.1. Sesuai dengan masanya, penelitian bahasa-bahasa daerah itu baru sampai pada tahap deskripsi sederhana mengenai sistem fonologi, morfologi, sintaksis, serta pencatatan butir-butir leksikal beserta terjemahan maknanya dalam bahasa Belanda dalam bentuk kamus.

8.4.2. Perkembangan waktu jualah yang kemudian menyebabkan konsep-konsep linguistik nodern dapat diterima, dan konsep-konsep linguistik tradisional mulai agak tersisih. Selain itu buku Keraf itu, sejumlah buku Ramlan, juga menyajikan analisis bahasa secara struktural, menyebabkan kedudukan linguistik modern dalam pendidikan formal menjadi semakin kuat, meski konsep linguistik tradisional masih banyak yang mempertahankannya.

8.4.3. Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya studi linguistik, yang tentu saja dibarengi dengan bermunculnya linguis-linguis Indonesia, baik yang tamatan luar negeri maupun dalam negeri, maka semakin dirasakan perlunya suatu wadah untuk berdiskusi, bertukar pengalaman dan mempublikasikan hasil penelitian yang telah dilakukan.

8.4.4 Penyelidikan terhadap bahasa daerah Indonesia dan bahasa nasional Indonesia banyak pula dilakukan orang di luar negeri. Universitas Laiden di Belanda telah mempunyai sejarah panjang dalam penelitian bahasa Nusantara.

8.4.5. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa nasional, persatuan dan bahasa negara. Maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini baik dalam maupun luar negeri.

Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercatat nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Dardjowidjojo, dan Soedarjanto yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai pelbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

Dewi Antasari_1402408255_BAB 7

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 6:40 pm

Nama : Dewi Antasari

NIM : 1402408255

TATARAN LINGUISTIK (4) :

SEMANTIK

Obyek semantik yaitu makna. Makna benda di dalam tataran fonologi, morfologi dan sintaksis. oleh karena itu penamaan tataran semantik agak kurang tepat, sebab dia bukan tataran dalam arti unsur pembangun satuan lain yang lebih besar melainkan merupakan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun sifat kehadirannya pada tiap tataran itu tidak sama. Chomsky dalam bukunya yang kedua (1965) menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa (dua komponen lain adalah sintaksis dan fonologi), dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen semantik.

7.1. HAKIKAT MAKNA

Menurut teori yang dikembangan dari pandangan Ferdinand de Saussure bahwa makna adalah “pengertian” atau “konsep” yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Di dalam penggunaan dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali , dan mungkin bisa juga biasanya, terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga dari acuannya. Oleh karena itu, banyak pakar mengatakan bahwa kita baru dapat menentukan makna sebuah kata apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. Para pakar juga menyatakan bahwa makna kalimat baru dapat ditentukan apabila kalimat itu berada di dalam konteks wacananya atau konteks situasinya.

7.2. JENIS MAKNA

7.2.1. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apa pun. Misalnya, leksem kuda memiliki makna leksikal ‘binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’. Dengan demikian makna leksikal bisa berarti makna yang sebenarnya, warna yang sesuai hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.

Berbeda dengan makna leksikal, makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya, dalam proses afiksasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikan ‘mengenakan atau memakai baju’.

Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.

7.2.2. Makna Referensial dan Non Referensial

Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya, atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata-kata seperti dan, atau, dan karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna ferensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referens. Sedangkan yang acuannya tidak menetap pada satu maujud disebut kata-kata deiktik. Yang termasuk kata-kata deiktik ini adalah kata-kata yang termasuk pronomina, seperti dia, saya dan kami.

7.2.3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi makna denotatis ini sebenarnya sama dengan makna leksikal. Umpamanya, kata babi bermakna denotatif ‘sejenis binatang yang biasa diternakkan untuk dimanfaatkan dagingnya’.

Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif kata tersebut. umpamanya kata babi pada orang beragama islam atau di dalam masyarakat islam mempunyai konotasi negatif, ada rasa atau perasaan yang tidak enak bila mendengar kata itu.

7.2.4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Leech (1976) membagi makna menjadi makna konseptual dan asosiatif. Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Kata kuda memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi makna konseptual sama dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian; kata merah berasosiasi dengan “berani” atau juga “paham komunis”.

Oleh Leech (1976) ke dalam makna asosiasi ini dimasukkan juga yang disebut makna konotatif, makna statistika, makna efektif dan makna kolokatif.

7.2.5. Makna Kata dan Makna Istilah

Dalam penggunaan makna kata baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya. Makna kata masih bersifat umum, kasar, dan tidak jelas. Berbeda dengan kata, maka yang disebut istilah mempunyai makna yang pasti yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. sebuah istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau kegiatan tertentu.

7.2.6. Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Umpamanya, secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna ‘yang menjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya’, tetapi dalam bahasa Indonesia bentuk menjual gigi maknanya tidak seperti itu, melainkan bermakna “tertawa keras-keras”. Jadi makna seperti yang dimiliki bentuk menjual gigi itu disebut makna idiomatikal.

7.3. RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya.

7.3.1. Sinonim

Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misalnya: kata betul dengan kata benar.

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena berbagai faktor, antara lain:

- Pertama, faktor waktu. Umpamanya kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan.

- Kedua, faktor tempat atau wilayah. Misalnya, kata saya dan beta.

- Ketiga, faktor keformalan. Misalnya, kata uang dan duit.

- Keempat, faktor sosial. Umpamanya, kata saya dan aku.

- Kelima, bidang kegiatan. Umpamanya kata matahari dan surya.

- Keenam, faktor nuansa makna. Umpamanya kata-kata melihat, melirik, menonton, dll.

Dari keenam faktor di atas bisa disimpulkan, bahwa dua buah kata yang bersinonim tidak akan selalu dapat dipertukarkan atau disubstitusikan.

7.3.2. Antonim

Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain.

7.3.3. Polisemi

Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi kalau kata itu mempunyai makna lebih dari satu. Umpamanya kepala.

7.3.4. Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satu ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, kata bisa, mengurus.

Homonimi ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan, yaitu homofoni dan homografi. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatian ejaannya, apakah ejaannya sama ataukah berbeda, misalnya kata bisa, bank dan bang.

7.3.5. Hiponimi

Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.

7.3.6. Ambiquiti atau Ketaksaan

Ambiquiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Umpamanya anak dosen yang nakal maknanya mungkin anak itu yang nakal atau dosen itu yang nakal.

7.3.7. Redundansi

Istilah redundansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.

7.4. PERUBAHAN MAKNA

Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah; tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Ada kemungkinan ini bukan berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sebuah bahasa, melainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja, yang disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:

Pertama, perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi. Misalnya sastra tulisan, huruf ð bacaanð buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya ð karya bahasa yang bersifat imajinatif.

Kedua, perkembangan sosial budaya. Misalnya sarjana dulu bermakna orang cerdik tapi sekarang bermakna orang yang telah lulus dari perguruan tinggi.

Ketiga, perkembangan pemakaian kata.

Keempat, pertukaran tanggapan indra.

Kelima, adanya asosiasi.

Perubahan makna kata atau satuan ujaran itu ada beberapa macam. Ada perubahan yang meluas, ada yang menyempit dan berubah total. Perubahan yang meluas, umpamanya kata baju pada mulanya hanya bermakna pakaian sebelah atas dari pinggang sampai ke bahu, seperti pada ungkapan baju batik tetapi dalam kalimat murid-murid itu memakai baju seragam, yang dimaksud bukan hanya baju, tetapi juga celana, sepatu, dasi dan topi.

7.5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata-kata yang berada dalam satu medan makna atau satu medal leksikal. Sedangkan usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsur-unsur makna yang dimiliki disebut analisis komponen makna atau analisis ciri-ciri makna, atau juga nalisis ciri-ciri leksikal.

7.5.1. Medan Makna (semantik domain, semantik field) atau Medan Leksikal

Medan makna adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Dalam setudi medan makna, seperti yang telah dilakukan Nida (1974 dan 1975) kata-kata biasanya dibagi atas empat kelompok, yaitu kelompok bendaan (entiti), kelompok kejadian/peristiwa (event), kelompok abstrak, dan kelompok relasi.

Kata-kata atau leksem-leksem yang mengelompokkan dalam satu medan makna, bedasarkan sifat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set.

7.5.2. Komponen Makna

Setiap kata, leksem atau butir leksikal tentu mempunyai makna. Makna yang dimiliki oleh setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen (yang disebut komponen makna) yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Komponen makna ini dapat dianalisis, dibutiri, atau disebutkan satu per satu, berdasarkan “pengertian-pengertian” yang dimilikinya. Umpamanya, kata ayah memiliki komponen makna /+manusia/, /+dewasa/, /+kawin/, dan /+punya anak. Analisis komponen makna ini dapat dimanfaatkan untuk mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim, karena dua buah kata yang bersinonim maknanya tidak persis sama.

Kegunaan analisis komponen yang lain ialah untuk membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam bahasa Indonesia. Analisis makna dengan mempertentangkan ada atau tidak adanya komponen makna pada sebuah butir leksikal disebut analitik biner, analisis dua-dua. Analisis ini berasal dari studi fonologi yang dilakukan Roman Jakobson dan Moiris Halle. Dalam laporan penelitiannya yang berjudul Preliminaries to Apeech Analysis : the Distinctive Features and then Correlatives (1951)

7.5.3. Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Berterima tidaknya sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal, tetapi juga masalah semantik.

 

AHMAD ALFIYAN_1402408299_BAB 4

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 6:36 pm

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK (1): FONOLOGI

Disusun oleh AHMAD ALFIYAN (1402408299)

Silabel adalah satuan runtunan bunyi yang ditandai dengan satu-satuan bunyi yang paling nyaring.Adanya puncak kenyaringan/sonoritas yang menandai silabel.

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtunan bunyi bahasa.

Fonologi memiliki 2 cabang yaitu: Fonetik dan Fonemik.

Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi pembeda makna atau tidak.

Fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna.

Contoh : a. Fonetik

Intan, batik, angin sehingga fonetik akan mempelajari perbedaan bunyi tersebut sertya sebabnya

b. Fonemik

(p)dan (b) dalam kata PARU dan BARU bunyi(P) dan (B) dalam 2 kata tersebut menyebabkan berbedanya makna.

4.1. FONETIK

Menurut urutan proses terjadinya bunyi dibagi menjadi 3, yaitu:

a. Fonetik artikulatoris/biologis mempelajari mekanisme alat ucap dalam menghasilkan bunyi bahasa.

b. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam

c. Fonetik auditoris mempelajari mekanisme bunyi bahasa diterima telinga

4.1.1 ALAT UCAP

Fonetik artikulatoris mempelajari alat-alat ucap. Bunyi diberi nama sesuai nama alat ucap tersebut.

Misal bunyi dental,bunyi labial

.

4.1.2 PROSES FONASI

Proses fonasi adalah proses dalam menghasilkan bunyi bahasa. Dimulai dari proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorokan yang terdapat pita suara sampai keluar ke udara bebas.

Berkenaan dengan hambatan pada pita suara ada 4 posisi pita suara:

a. Terbuka lebar sehingga tidak dihasilkan suara/bunyi

b.Terbuka agak lebar sehingga menghasilkan bunyi tak bersuara

c. Terbuka sedikit sehingga dihasilkan bunyi bersuara

d.Tertutup rapat sehingga langsung dihasilkan bunyi hamzah/glotal

Tempat bunyi bahasa terjadi disebut tempat artikulasi sedang alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa disebut artikulator

Macam artikulator,yaitu:

a. Artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak/digerakkan

b.Artikulator pasif adalah alat ucap yang tidak bergerak/didekati artickulator aktif.

Artikulasi tidak terjadi hanya satu kali saja melainkan ada komposisi dari artikulasi.

Artikulasi kedua/ artikulasi sertaan adalah

a. Labialisasi adalah dengan membulatkan bentuk mulut

b.Palatalisasi adalah dengan jalan menaikkan bagian depan lidah sesudah artikulasi pertama

c. Velarisasi adalah dengan cara menaikkan bagian belakang lidah ke arah langit-langit lunak

d.Faringalisasi adalah dengan cara menaikkan bagian belakang lidah ke dinding faring

4.1.3 TULISAN FONETIK

Tulisan fonetikditulis dengan huruf latin yang diberi tanda diakritik atau modifikasi huruf tersebut.

Setiap bunyi yang berbeda pada tulisan fonetik memiliki lambang sendiri.

4.1.4 KLASIFIKASI BUNYI

Bunyi vokal dihasilkan oleh pita suara terbuka sedikit dengan arus udara tidak mendapat hambatan

Klasifikasi vokal antara lain :

Berdasarkan Posisi lidah vertikal

a. Vokal tinggi yaitu (I) dan (U)

b.Vokal tengah yaitu (E)dan (O)

c. Vokal rendah yaitu(A)

Berdasarkan Posisi lidah horizontal

a. Vokal depan yaitu (I) dan (E)

b.Vokal pusat yaitu (A)

c. Vokal belakang yaitu (U) dan (O)

Berdasarkan Bentuk mulut

a. Vokal bundar yaitu(O) dan (U)

b.Vokal tak bundar yaitu (I),(E),(A)

Diftong( vokalrangkap )

Contoh:

Balai (ai)

Kerbau (au )

Sekoi (oi)

Bunyi konsonan dihasilkan pita suara terbuka sedikit atau agak lebar.dengan arus udara mendapat hambatan pada titik artikilasi tertentu.

Klasifikasi konsonan

Berdasarkan posisi pitasuara

a. Bunyi bersuara yaitu B,D,G,C

b.Bunyi tak bersuara yaitu S,P,K,F

Berdasarkan artikulasinya

a. Konsonan Bilabial yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir

Contoh: B,P,M

b.Konsonan Dental yaitu konsonan antara bibir bawah dan gigiatas

Contoh: F,V

c.Konsonan LaminoAlveolar yaitu konsonan antara daun lidah dan gusi

Contoh: T,D

d.Konsonan Dorsevelar yaitu konsonan antara pangkal lidah dengan langit-langit lunak

Contoh: K,G

Berdasarkancara artikulasinya:

a. Hambatan yaitu artikulator aktif menutup penuh arus udara,kemudian dibuka tiba-tiba

Contoh: P,B,T,D,K,G

b.Geseran yaitu artikulator aktif mendekati artikulator pasif membentuk celah sempit

Contoh: F,S,Z

c.Paduan yaitu artikulator aktif menghambat arus udara lalu membentuk celah sempit.

Contoh: C,J

d.Sengauan yaitu artikulator menghambat aliran udara di mulut dan membiarkan lewat hidung.

Contoh: M,N
e.Getaran yaitu artikulator melakukan kontak beruntun dengan artikulator pasif.

Contoh: R

f.Sampingan yaitu artikulator aktif menghambat arus udara pada tengah mulut dan membiarkan lewat samping.

Contoh: L

g.Hampiran yaitu artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka.

Contoh: W,Y

4.1.5 UNSUR SUPRA SEGMENTAL

Bagian bunyi yang tak dapat disegmentasikan/Bunyi prosodi

Nada/Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya bunyi

Dalam bahasa tonal / bahasa bernada dikenal 5 macam nada, yaitu:

a. Nada naik

b.Nada turun

c. Nada datar

d.Nada turun naik

e. Nada naik turun

Jeda/ Persendian

Jeda berkenaan dengan perhentian bunyi dalam arus ujar

Sendi Dalam (internal juncture) yaitu menunjukkan batas antara satu silabel

Contoh: LAMPU>>>LAM+PU

Sendi Luar yaitu menunjukkan batas dari segmen silabel.

a. Jeda antar kata dalam frase

b.Jeda antar kata dalam klausa

c. Jeda antar kata dalam kalimat

4.2 FONEMIK

Fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna.

4.2.1 KLASIFIKASI FONEM

Dua buah kata mirip seperti LABA dan RABA

Atau BAKU dan BAHU disebut kata berkontras minim.

4.2.2 ALOFON

Alofon adalah bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem

4.2.3 KHAZANAH FONEM

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat pada satu bahasa

4.2.4 PERUBAHAN FONEM

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda sebab sangat tergantung pada lingkungannya/pada fonem lain yang berada di sekitarnya

4.2.4.1 ASIMILASI DAN DISIMILASI

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya sehingga bunyi tersebut menjadi sama / punya ciri yang sama

Contoh: SABTU dan SAPTU

FIKIR dan PIKIR

Disimilasi adalah jika perubahan bunyi tersebut menyebabkan 2 bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya atau sebagian.

Contoh : CIPTA dan CINTA dari kata CITTA

4.2.4.2 UMLAUT dan ABLAUT

Amlaut adalah perubahan vocal demikian hingga vocal berubah jadi vocal yang lebih tinggi

Ablaut adalah perubahan vocal yang ditemukan dalam bahasa indo-jerman untuk menandai fungsi gramatikal.

4.2.4.3 KONTRAKSI

Kontraksi adalah pemendekan fonem yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem/lebih

Contoh: SHALL+NOT menjadi SHALLN’T

4.2.4.4 METASIS DAN EPENTESIS

Metasis adalah mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata

Contoh: SAPU,APUS,USAP

BERANTAS,BANTERAS

JALUR,LAJUR

Epentasis adalah penyisipan fonem tertentu kedalam sebuah kata

Contoh: SAMPI,SAPI

KAMPAK,KAPAK

JUMBLAH,JUMLAH.

Sekian terima kasih…

 

Agil Bangkit Widiastuti_1402408335_BAB 3

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 6:32 pm

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK

BAHASA

3.1 PENGERTIAN BAHASA

Kata bahasa dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna.

Coba perhatikan kata bahasa dalam kalimat-kalimat berikut:

a. Dika belajar bahasa Inggris, Nita belajar bahasa Jepang.

b. Manusia mempunyai bahasa, sedangkan binatang tidak.

c. Hati-hati bergaul dengan anak yang tidak tahu bahasa itu.

d. Dalam kasus ini ternyata lurah dan camat tidak mempunyai bahasa yang sama.

e. Katakanlah dengan bahasa bunga.

f. Pertikaian itu tidak bisa diselesaikan dengan bahasa militer.

g. Kalau dia memberi kuliah bahasanya penuh dengan kata daripada dan akhiran ken.

h. Kabarnya, Nabi Sulaiman mengerti bahasa semut.

Kata bahasa dalam kalimat (a) menunjuk pada bahasa tertentu. Pada kalimat (b) kata bahasa menunjuk bahasa pada suatu langage. Pada kalimat (c) kata bahasa berarti sopan santun. Pada kalimat (d) kata bahasa berarti kebijakan dalam bertindak. Pada kalimat (e) kata bahasa berarti maksud-maksud dengan bunga sebagai lambang. Pada kalimat (f) kata bahasa berarti dengan cara. Pada kalimat (g) kata bahasa berarti ujarannya. Pada kalimat (h) kata bahasa bersifat hipotesis.

Dari keterangan di atas, disimpulkan adanya persamaan hanya pada kalimat (a), (b), dan (g) kata bahasa yang digunakan secara kias. Bahasa sebagai objek linguistik pada kalimat (a) bahasa sebagai langue, pada kalimat (b) bahasa sebagai langage, dan pada kalimat (g) bahasa sebagai parole.

Sebagai objek kajian linguistik, parole merupakan objek konkret dan dikaji secara langsung. Langue merupakan objek yang abstrak. Langage merupakan objek yang paling abstrak karena berwujud sistem bahasa secara universal.

Dua buah tuturan disebut sebagai dua bahasa yang berbeda berdasarkan dua buah patokan, yaitu;

Ø Patokan linguistik, dua buah tuturan dianggap sebagai dua buah bahasa yang berbeda, kalau anggota dari dua masyarakat tuturan yang tidak mengerti.

Ø Patokan politis, misalnya pada bahasa Indonesia adalah bahasa nasional bangsa Indonesia.

3.2 HAKIKAT BAHASA

Ada beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa, antara lain ;’

3.2.1 Bahasa sebagai sistem

Sistem berarti, susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruan yang bermakna atau berfungsi. Sistematis, artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola; tidak tersusun secara acak. Sistemis, artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-subsistem; atau sistem bawahan.

Subsistem-subsistem bahasa terutama subsistem fonologi, morfologi, dan sintaksis tersusun secara hierarkial. Artinya kedudukan subsistem yang satu terletak di bawah subsistem yang lain; lalu subsistem yang lain ini terletak pula di bawah subsistem lainnya lagi.

3.2.2 Bahasa sebagai lambang

Ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa.

Dalam semiologi dibedakan adanya beberapa jenis tanda, yaitu, antara lain;

Ø Tanda (sign)

Tanda bersifat alamiah dan secara langsung.

Ø Lambang (simbol)

Menandai sesuatu yang lain secara konvesional, tidak secara ilmiah dan langsung.

Ø Sinyal (signal)

Adalah tanda yang disengaja yang dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima melakukan sesuatu.

Ø Gerak isyarat (gesture)

Adalah tanda yang dilakukan dengan gerak anggota badan, dan tidak bersifat imperatif.

Ø Gejala (symptom)

Adalah suatu tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan tanpa maksud, tetapi alamiah untuk mengungkapkan sesuatu yang sedang terjadi.

Ø Ikon

Adalah tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripannya dengan sesuatu yang diwakili.

Ø Indeks

Adalah tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain.

Ø Kode

Ciri kode; adanya sistem, berupa simbol, sinyal, maupun gerak isyarat yang dapat mewakili pikiran, perasaan, ide, benda, dan tindakan untuk maksud tertentu.

3.2.3 Bahasa adalah bunyi

Bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara.

Bunyi bahasa adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia sebagai ”fon” dan sebagai ”fonem”.

3.2.4 Bahasa itu bermakna

Makna yang berkenaan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal; berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat disebut makna gramatikal; dan yang berkenaan dengan wacana disebut makna pragmatik atau makna konteks.

3.2.5 Bahasa itu arbitrer

Arbitrer adalah tidaknya hubungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

3.2.6 Bahasa itu konvesional

Bersifat konvesional Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

3.2.7 Bahasa itu produktif

Bersifat produktif maksudnya meskipun unsur-unsur bahasa terbatas, tetapi dengan unsur tersebut dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang tidak terbatas.

Ada dua kerbatasan dalam keproduktifan bahasa, yaitu;

Ø Keterbatasan pada tingkat parole

Terjadi pada ketidaklaziman bentuk-bentuk yang dihasilkan.

Ø Keterbatasan pada tingkat langue

Pada tingkat langue keproduktifan itu dibatasi karena kaidah atau sistem yang berlaku.

3.2.8 Bahasa itu unik

Bersifat unik artinya; setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri, menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem lainnya.

3.2.9 Bahasa itu universal

Ciri-ciri yang universal, mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan, mempunyai satuan bahasa yang bermakna.

3.2.10 Bahasa itu dinamis

Perubahan bahasa bisa terjadi pada semua tataran, baik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, maupun leksikon.

3.2.11 Bahasa itu bervariasi

Faktor yang mempengaruhi bahasa itu menjadi bervariasi, karena adanya latar belakang budaya dan lingkungan yang tidak sama.

Ada 3 istilah dalam variasi bahasa, yaitu;

Ø Idiolek yaitu; variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan.

Ø Dialek yaitu; variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau waktu.

Ø Ragam yaitu; variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu.

3.2.12 Bahasa itu manusiawi

Alat komunikasi yang dimiliki binatang bersifat terbatas. Binatang tidak dapat menyampaikan konsep baru atau ide baru dengan alat komunikasinya itu, selain yang secara alamiah telah dimiliki.

3.3 BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

3.3.1 Masyarakat bahasa

Masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama.

3.3.2 Variasi dan status sosial bahasa

Bahasa itu bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu sangat beragam, dan bahasa itu sendiri digunakan untuk keperluan yang beragam-ragam pula.

3.3.3 Penggunaan bahasa

Menurut Hymes, bahasa harus memperhatikan 8 unsur dalam SPEAKING, yakni;

v Setting and scene

Yaitu: unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

v Participants

Yaitu: orang-orang yang terlibat dalam percakapan.

v Ends

Yaitu: maksud dan hasil percakapan.

v Act Sequences

Yaitu: hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.

v Key

Yaitu: menunjuk pada cara atau semangat dalam melakanakan percakapan.

v Instrumentalities

Yaitu: menunjuk pada jalur percakapan, apakah secara lisan atau bukan.

v Norms

Yaitu: menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.

v Genres

Yaitu: menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

3.3.4 Kontak bahasa

Dalam masyarakat terbuka, para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat, disebut kontak bahasa.

Sebagai akibat adanya kontak bahasa, dapat terjadi peristiwa;

o Interfensi

Terbawa masuknya unsur bahasa lain dalam bahasa yang sedang digunakan itu.

o Integrasi

Dalam integrasi unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk itu, sudah diperlukan, dan dipakai sebagai bagian dari bahasa tersebut.

o Alihkode

Yaitu: beralihnya penggunaan suatu kode ke dalam kode lain.

o Campur kode

Campur kode terjadi tanpa sebab dan biasanya terjadi dalam situasi santai.

3.3.5 Bahasa dan budaya

Hubungan bahasa dan kebudayaan ini, dikeluarkan oleh dua pakar yaitu Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf yang menyatakan bahwa bahasa itu mempengaruhi berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya.

3.4 KLASIFIKASI BAHASA

Menurut Greenberg, suatu klasifikasi harus memenuhi persyaratan;

* Nonarbitrer

Bahwa kreteria klasifikasi itu tidak boleh semaunya, hanya harus ada satu kreteria.

* Ekshaustik

Artinya; semua bahasa yang ada dapat masuk ke dalam salah satu kelompok.

* Unik

Maksudnya, kalau suatu bahasa sudah masuk ke dalam salah satu kelompok, tidak bisa masuk ke dalam kelompok yang lain.

Ada 4 jenis klasifikasi, antara lain;

3.4.1 Klasifikasi genetis

Artinya suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua.

Sebuah bahasa menjadi sejumlah bahasa lain dengan cabang-cabang disebut teori batang pohon oleh A. Schleicher.

Perkembangan atau perpecahan bahasa itu seperti gelombang yang disebabkan oleh sebuah batu yang dijatuhkan ke tengah kolam disebut teori gelombang oleh J. Schmidt.

3.4.2 Klasifikasi tipologis

Klasifikasi ini berdasarkan kesamaan tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa, dan bersifat arbirtrer.

Klasifikasi pada tataran morfologi dibagi 3 kelompok;

o Kelompok pertama

o Kelompok kedua

o Kelompok ketiga

3.4.3 Klasifikasi areal

Bersifat arbitrer karena dalam kontak sejarah bahasa memberikan pengaruh timbal-balik dalam hal-hal yang terbatas. Bersifat nonekshaustik, sebab masih banyak bahasa yang masih bersifat tertutup. Bersifat nonunik, sebab ada bahasa dapat masuk dalam kelompok tertentu.

3.4.4 Klasifikasi sosiolinguistik

Kreteria dalam klasifikasi ini, yaitu;

¨ Historisitas

Berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau sejarah pemakaian bahasa.

¨ Standardisasi

Berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku atau tidak.

¨ Vitalitas

Berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakan dalam kegiatan sehari-hari secara aktif.

¨ Homogenesitas

Berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari bahasa yang diturunkan.

3.5 BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

Perbedaan antara bahasa tulis dan bahasa lisan anatara lain, dalam bahasa tulis dibuat dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran, sebab tanpa pemikiran akan terjadi kesalahan dan tidak dapat diperbaiki. Dalam bahasa lisan setiap kesalahan dapat diperbaiki, karena dibantu oleh intonasi, tekanan, mimik, dan gerak-gerik si pembicara.

Gambar yang bentuknya yang sederhana secara langsung menyatakan maksud atau konsep yang ingin disampaikan disebut piktogram. Piktograf yang menggambarkan gagasan, ide, atau konsep disebut ideograf. Aksara yang menggambarkan suku kata disebut aksara silabis.

Dalam bahasa tulis, ada istilah, antara lain; huruf, yaitu istilah umum dalam graf dan grafem. Abjad/ alfabet, yaitu urutan huruf-huruf dalam suatu sistem aksara. Aksara, yaitu keseluruhan sistem tulisan. Grafem, yaitu satuan terkecil dalm aksara yang menggambarkan fonem, suku kata, atau morfem. Alograf, yaitu varian dari grafem. Kaligrafi, artinya seni lukis indah. Grafiti, artinya corat-coret di dinding, tembok, pagar, dengan huruf-huruf dan kata-kata tertentu.

Ejaan yang ideal adalah ejaan yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf, atau sebaliknya. Ejaan bahasa Indonesia belum ideal, sebab masih ada digunakan gabungan huruf untuk melambangkan sebuah fonem.

Nama : Agil Bangkit Widiastuti

NIM : 1402408335

Rombel : 4

 

Uswatul Hasanah;1402408183

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 4:46 pm

Nama          : Uswatul Hasanah
NIM            : 1402408183
Rombel       : 1

7.    TATARAN LINGUISTIK (4): SEMANTIK

Status tataran semantik dengan tataran fonologi, morfologi,dan sintaksis adalah tidak sama, sebab secara hierarkial satuan bahasa yang disebut wacana dibangun oleh kalimat; satuan kalimat dibangun oleh klausa; satuan klausa dibangun oleh frase; satuan frase dibangun oleh kata; satuan kata dibangun oleh morfem; satuan morfem dibangun oleh fonem; satuan fonem dibangun oleh fon atau bunyi.
Para linguistik strukturalis mengabaikan masalah semantik karena dianggap tidak termasuk atau menjadi tataran yang sederajat dengan tataran yang bangun-membangun. Semantik tidak lagi menjadi objek poriferal melainkan menjadi objek yang setaraf dengan bidang-bidang studi linguistik lainnya. Menurut teori Bapak Linguistik modern, Ferdinand de Saussure, tanda linguistic (signe linguistique) terdiri dari komponen signifian dan signifie, maka sesungguhnya studi linguistik tanpa disertai dengan studi semantik adalah tidak ada artinya, sebab kedua komponen itu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

7.1    HAKIKAT MAKNA
Banyak teori tentang makna telah dikemukakan orang. Menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure bahhwa makna adalah ‘pengertian’ atau ‘konsep’ yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Kalau tanda linguistic itu disamakan identitasnya dengan kata atau leksem, maka berarti makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem; kalau tanda linguistic itu disamakan dengan morfeem, maka berarti makna itu adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap morfem, baik yang disebut morfem dasar maupun morfem afiks.
Makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem. Kita dapat menentukan makna setelah dalam bentuk kalimat.
Contohnya: Sudah hampir pukul dua belas!
diucapkan oleh seorang ibu asrama putri kepada seorang pemuda maka bermaksud mengusir, sedangkan jika yang mengatakan adalah seorang karyawan kantor berarti menunjukkan waktu makan siang.

7.2    JENIS MAKNA
7.2.1    Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal
Makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.
Contoh: Kuda
Berarti ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’.
Makna gramatikal
Makna ini baru muncul setelah terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, kamposisi atau kalimatisasi.
Contoh: dengan dasar kuda menghasilkan arti ‘mengendarai kuda’.
Sintaksis kata-kata adik, menulis, dan surat menghasilkan makna gramatikal: adik bermakna ‘pelaku’, menulis bermakna ‘aktif’ dan surat bermakna ‘hasil’.
Makna kontekstual
Makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.
Contoh:
Rambut di kepala nenek belum ada yang putus.
Nomor teleponnya ada pada kepala surat.
Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa terebut.
7.2.2    Makna Referensial dan Non-Referensial
Kata atau leksem.disebut bermkna referensial kalau ada referensinya atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, gambar bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Kata-kata dan, atau, karena itu sebaliknya.kata-kata deiktik, acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kemaujud yang lain.
Kata deiktik ini adalah yang termasuk pronomia, seperti dia, saya, dan kamu; kata-kata yang menyatakan ruang, seperti di sini, di sana, dan di situ; kata-kata yang menyatakan waktu, seperti sekarang, besok, dan nanti; dan kata-kata yang disebut kata penunjuk, seperti ini dan itu.
7.2.3    Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Makna ini sejenis dengan makna leksikal. Umpamanya kata kurus, bermakna denotatif ‘keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal’.
Makna konotatif adalah makna lain yang ‘ditambahkan” pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contohnya kata bini, tewas, bunting, dan lain sebagainya.
7.2.4    Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Menurut Leech, makna konseptual adalah makna yang dimiliki sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Kata kuda memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Jadi, makna konseptual sesungguhnya sama dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada diluar bahasa. Misalnya kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian. Ke dalam makna asosiasi ini dimasukkan juga yang disebut dengan makna konotatif, makna stilistika, makna efektif,dan makna kolokatif. Makna stilistika berkenaan dengan perbedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan. Umpamanya kata membedakan penggunaan kata rumah, pondok, istana, vila, dan wisma yang semuanya memberi asosiasi yang berbeda terhadap penghuninya. Makna efektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau objek yang dibicarakan. Makna efektif lebih nyata terasa dalam bahas lisan. Makna kolokatif berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata yang bersinonim sehingga kata tersebut hanya cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu. Misalnya kata tampan yang bersinonoim dengan kata cantik dan indah hanya cocok berkolokasi dengan kata yang memiliki ciri ‘pria’.
7.2.5    MaknaKata dan Makna Istilah
Makna kata berawal dari makna leksikal, makna denotatif, dan makna konseptual, namun dalam penggunaannya menjadi jelas setelah sudah berada di dalam konteks kalimat atau situasinya. Makna kata bersifat umum, kasar, dan tidak jelas. Kata tangan dan lengan, maknanya lazim dianggap sama.namun sebenarnya memiliki makna yang berbeda setelah dimasukkan dalam sebuah kalimat. Istilah mempunyai makna yang pasti, jelas, tidak meragukan meskipun tanpa konteks kalimat. Istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan dan kegiatan tertentu. Umpamanya kata lengan dan tangan. Kedua kata tersebut dalam bidang kedokteran memilki makna berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai jari tangan; sedangkan lengan bagian dari pergelangan sampai kepangkal bahu.
7.2.6    Makna Idiom dan Peribahasa
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ‘diramalkan’ dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Contohnya bentuk membanting tulang bermakna bekerja keras. Idiom dibedakan menjadi dua yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Contohnya menjual gigi, meja hijau, dan membanting tulang. Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya buku putih yang bermakna ‘buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’.
Peribahasa adalah idiom yang maknanya tidak dapat “diramalkan” secara leksikal maupun gramatikal namun maknanya masih bisa ditelusuri dari makna unsurnya karena adanya ‘asosiasi’ antar makna asli dengan makna sebagai peribahasa. Contohnya peribahasa seperti anjing dan kucing yang bermakna ‘dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’

7.3 RELASI MAKNA
Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa ini dapat berupa kata, frase, kalimat, dan relasi semantik itu dapat menyatakan kesamaan makna, pertentangan, ketercakupan, kegandaan atau kelebihan makna.
7.3.1    Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan kesamaan makna dan bersifat dua arah. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar; antara kata hamil dengan frase duduk perut. Ketidaksamaan makna yang bersinonim disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
Faktor waktu. Umpamanya kata hulubalang yang bersifat klasik dengan kata komandan yang tidak cocok untuk koteks klasik.
Factor tempat atau wilayah. Misalnya kata saya yang bisa digunakan di mana saja, sedngkan beta hanya cocok digunakan untuk wilayah Indonesia bagian timur.
Faktor keformalan. Misalya kata uang yang dapat digunakan dalam rangka formal dan tidak formal, sedangkan kata duit hanya cocok untuk ragam tak formal.
Faktor sosial. Umpamanya kata saya yang dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, sedangkan kata aku hanya digunakan terhadap orang yang sebaya, yang dianggap akrab, atau kepada yang lebih muda atau lebih rendah kedudukan sosialnya.
Faktor bidang kegiatan. Misalnya, kata matahari yang biasa digunakan dalam kegiatan apa saja, sedangkan kata surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus terutama sastra.
Faktor nuansa makna. Misalnya kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau yang masing-masing memiliki makna yang tidak sama.

7.3.2    Antonim
Antonim atau antonimi adalah hubungan semantik antara dua ujaran  yang menyatakan kebalikan. Misalnya kata hidup berlawanan dengan kata mati. Dilihat dari sifat hubungannya, antonim dibagi menjadi:
Antonim yang bersifat mutlak. Umpamanya, kata hidup berantonim secara mutlak dengan kata mati.
Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan kecil berantonim secara relatif.
Antonim yang bersifat rasional. Umpamanya kata membeli dan menjual, karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain.
Antonim yang bersifat hierarkial. Umpamanya kata tamtama dan bintara berantonim berantonim secara hierarkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang.
Antonim majemuk adalah satuan ujaran yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu. Umpamanya dengan kata berdiri dapat berantonim dengan kata duduk, tidur, tiarap, jongkok, dan bersila.
7.3.3    Polisemi
Polisemi adalah kata atau satuan ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu. Umpamanya, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna (1) bagian tubuh manusia, sesuai dalam kalimat kepalanya luka kena pecahan kaca, (2) ketua atau pimpinan, seperti dalam kalimat kepala kantor itu bukan paman saya.
7.3.4    Homonimi
Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar yang bermakna ‘inai’ dan kata pacar yang bermakna ‘kekasih’.
Pada kasus homonimi ini ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan, yaitu homofoni dan homografi. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaan. Contoh yang ada hanyalah kata bank ‘lembaga ‘keuangan’ dengan kata bang yang bermakna ‘kakak laki-laki’. Homografi adalah mengacu pada bentuk ujaran yang sama ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Contohnya kata teras yang maknanya ‘inti’ dan kata teras yang maknanya ‘bagian serambi rumah’.
Perbedaan polisemi dan homonimi adalah kalau polisemi merupakan bentuk ujaran yang maknanya lebih dari satu, sedangkan homonimi bentuk ujaran yang “kebetulan” bentuknya sama, namun maknanya berbeda.
7.3.5    Hiponimi
Hiponim adalah kata khusus sedangkan hipernim adalah kata umum. Contohnya kata burung merupakan hipernim, sedangkan hiponimnya adalah merpati, tekukur, perkutut, balam, dan kepodang.

7.3.6    Ambiguiti Atau Ketaksaan
Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Misalnya, bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknanya menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit, atau (2) buku itu memuat sejarah zaman baru. Homonimi adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan bentuknya sama, sedangkan ambiguiti adalah sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih.
7.3.7    Redundansi
Redundansi adalah berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya kalimat bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan bola itu ditendang Dika. Penggunaan kata oleh inilah yang dianggap redundansi, berlebih-lebihan.

7.4    PERUBAHAN MAKNA
Perubahan makna dapat terjadi oleh beberapa faktor, antara lain:
Perkembangan bidang ilmu dan teknologi.
Misalnya kata berlayar dahulu mengandung makna ‘melakukan perjalanan dengan kapal atau perahu yang digerakkan tenaga layar’, tetapi untuk sekarang pun masih digunakan untuk menyebut perjalanan di air itu.
Perkembangan sosial budaya.
Misalnya kata sarjana dulu bermakna ‘orang cerdik pandai’; tetapi kini kata sarjana itu hanya bermakna ‘orang yang telah lulus dari perguruan tinggi’.
Perkembangan pemakaian kata.
Umpamanya, kata jurusan yang berasal dari bidang lalu lintas kini digunakan juga dalam bidang pendidikan dengan makna ;bidang studi, vak’.
Pertukaran tanggapan indra.
Misalnya, rasa pedas seharusnya ditanggapi dengan indra perasa lidah menjadi ditanggapi oleh alat pendengar telinga, seperti dalam ujaran kata-katanya sangat pedas.
Adanya asosiasii.
Maksudnya adalah adanya hubungan antar sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran tersebut. Misalnya, kata amplop. Makna amplop sebenarnya adalah ‘sampul surat’. Tetapi dalam kalimat supaya urusan cepat beres, beri saja amplop, amplop itu bermakna ‘uang sogok’.
Perubahan makna kata ada beberapa macam, yaitu:
Perubahan makna kata meluas. Umpamanya, kata baju pada mulanya hanya bermakna ‘pakaian sebelah atas dari pinggang sampai ke bahu’ seperti pada kata baju batik; namun baju juga dapat bermakna berbeda bila yang dimaksud baju seragam yang meliputi celana, sepatu, dasi, dan topi.
Perubahan makna kata menyempit. Misalnya kata sarjana dulu bermakna ‘orang cerdik pandai’; tetapi kini hanya bermakna ‘orang yang telah lulus dari perguruan tinggi’.
Perubahan makna secara total. Umpamanya, kata ceramah dulu bermakna ‘cerewet, banyak cakap’, sekarang bermakna ‘uraian mengenai suatu hal di muka orang banyak’.

7.5    MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA
7.5.1    Medan Makna
Medan makna atau medan leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta. Misalnya, nama-nama warna dan nama-nama alat-alat rumah tangga. Medan makna dibagi menjadi dua, yaitu:
Medan Kolokasi
Menunjukkan hubungan sintagmantik yang terdapat antara kata atau unsur leksikal itu. Misalnya, kata-kata cabe, bawang, terasi, garam, merica, dan lada berada dalm satu kolokasi, yaitu yang berkenaan dengan bumbu dapur.
Medan Set
Menunjukkan hubungan paradigmatik karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu saling bisa didistribusikan. Misalnya, kata remaja yang merupakan tahap perkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa.
7.5.2    Komponen Makna
Setiap makna atau butir leksikal mempunyai makna, dan setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen. Misalnya, kata ayah mempunyai komponen makna /+manusia/, /+dewasa/, /+jantan/, /+kawin/, /+punya anak/.
7.5.3    Kesesuaian Semantik dan Sintaktik
Misalnya:
Nenek            membaca        komik
+nomina        +verba            +nomina
+manusia        +manusia        +bacaan

 

fitriya Nurul Khasanah;1402408218 Oktober 17, 2008

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 3:46 pm

Fitriya Nurul Chasanah

1402408218

BAB III

OBJEK LINGUISTIK : BAHASA

3.1 Pengertian Bahasa

Pemakaian kata bahasa dalam bentuk kalimat-kalimat berikut!

    1. Dika belajar bahasa Inggris, Nita belajar bahasa Jepang.

menunjuk pada bahasa tertentu (langue).

    1. Manusia mempunyai bahasa, sedangkan binatang tidak.

bahasa menunjuk bahasa pada umumnya (langage).

    1. Hati-hati bergaul dengan anak yang tak tahu bahasa itu.

bahasa berarti sopan santun.

    1. Dalam kasus itu ternyata Lurah dan Camat tidak mempunyai bahasa yang sama.

bahasa berarti kebijakan dalam bertindak.

    1. Katakanlah dengan bahasa bunga !

bahasa berarti maksud-maksud dengan bunga sebagai lambang.

    1. Pertikaian itu tidak bisa dengan bahasa militer.

bahasa berarti dengan cara.

    1. Kalau dia memberi kuliah bahasanya penuh dengan kata daripada dan akhiran ken.

bahasa berarti ujarannya.

    1. kabarnya, Nabi Sulaiman mengerti bahasa semut.

bahasa bersifat hipotesis.

Menurut Kridalaksana (1983) dan Djoko Kentjono (1982) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang abitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.

3.2 Hakikat Bahasa

Beberapa ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa :

  1. bahasa itu adalah sebuah sistem.

  2. bahasa itu berwujud lambang.

  3. bahasa itu berupa bunyi.

  4. bahasa itu bersifat abitrer.

  5. bahasa itu bermakna.

  6. bahasa itu bersifat konvensional.

  7. bahasa itu bersifat unik.

  8. bahasa itu bersifat universal.

  9. bahasa itu bersifat produktif.

  10. bahasa itu bervariasi.

  11. bahasa itu bersifat dinamis.

  12. bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial.

  13. bahasa itu merupakan identitas penuturnya.

3.2.1 Bahasa sebagai sistem

Sistem artinya cara atau aturan.

Sebagai sebuah sistem bahasa itu sekaligus bersifat sistematis dan sistemis.

Sistematis artinya bahasa tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak secara sembarangan.

Sistemis artinya behasa itu bukan merupakan sistem tunggal tetapi terdiri juga dari sub-sub sistem atau sistem bawahan.

Jenjang subsistem dalam linguistik dikenal dengan nama tataran linguistik atau tataran bahasa.

Kajian linguistik dibagi dalam beberapa tataran yaitu tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon.

3.2.2 Bahasa sebagai lambang

Lambang dalam kegiatan ilmiah, bidang kajian yang disebut ilmu semiotikan atau semiologi yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia.

Lambang menandai sesuatu yang lain secara konvensional tidak secara alamiah dan langsung.

Gerak isyarat atau gesture adalah tanda yang dilakukan dengan gerakan anggota badan dan tidak bersifat imperative seperti pada sinyal.

Gejala atau Symptom adalah suatu tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan tanpa maksud tetapi alamiah untuk menunjukan atau mengungkapakan bahasa sesuatu akan terjadi.

Ikon adalah tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripan dengan sesuatu yang diwakili.

Indeks adalah tanda yang menunjukan adanya sesuatu yang lain.

3.2.3 Bahasa adalah bunyi

Menurut Kridalaksana bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara.

3.2.4 Bahasa itu bermakna

Lambang itu mengacu pada sesuatu konsep, ide, atau pikiran, makna dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna.

Lambang-lambang bunyi bahasa yang bermakna itu didalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata , frase, kalimat dan wacana.

3.2.5 Bahasa itu abitrer

Abitrer artinya sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap.

Istilah abitrer dalam masalah ini artinya tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep / pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

3.2.6 Bahasa itu konvensional

Artinya semua anggota mesyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

3.2.7 Bahasa itu produktif

Produktif artinya banyak hasilnya atau lebih tepat “terus-menerus menghasilkan”.

keproduktifan bahasa ada batasnya, ada dua macam keterbatasan yaitu keterbatasan pada tingkat parole dan keterbatasan pada tingkat langue.

3.2.8 Bahasa itu unik

Bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat atau sistem lainnya.

3.2.9 Bahasa itu universal

Artinya ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini.

3.2.10 Bahasa itu dinamis

Kehidupan masyarakat tidak tetap dan selalu berubah maka bahasa juga ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis karena itulah bahasa disebut dinamis.

3.2.11 Bahasa itu bervariasi

Tiga istilah dalam variasi bahasa yaitu idiolek, dialek dan ragam.

3.2.12 Bahasa itu manusaiwi

Artinya hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

3.3 Bahasa dan Faktor Luar Bahasa

3.3.1 Masyarakat bahasa

Artinya sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama akibat dari konsep “merasa menggunakan bahasa yang sama” maka patokan linguistik umum mengenai bahasa menjadi longgar.

3.3.2 Variasi dan status sosial bahasa

Ada 2 macam variasi bahasa yaitu variasi bahasa tinggi (disingkat variasi bahasa T) dan variasi bahasa rendah (disingkat variasi bahasa R).

3.3.3 Penggunaan bahasa

Hymes (1974) mengatakan suatu konumikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan 8 unsur (SPEAKING) yaitu :

  1. Setting dan scene

  2. Participants

  3. Ends

  4. Act sequences

  5. Key

  6. Instrumentalities

  7. Norms

  8. Genres

3.3.4 Kontak bahasa

Akibat dari kontak bahasa adalah dalam masyarakat yang bilingual / multilingual, dapat terjadi peristiwa / kasus yang disebut interferensi, integrasi, ahlikode (code-swith-ing) dan campur kode (code-mixing).

3.3.5 Bahasa dan budaya

Pakar menyatakan hubungan antara bahasa dan kebudayaan digambarkan sebagai bayi kembar siam, dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

3.4.1 Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa itu artinya bahasa berasal / diturunkan dari bahasa yang lebih tua.

3.4.2 Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe / tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa.

3.4.3 Klasifikasi Areal

Klasifikasi Areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain didalam suatu areal atau wilayah tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak.

3.4.4 Klasifikasi Sosiolinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasar hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat yaitu status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu.

3.5 Bahasa Tulis dan Sistem Aksara

Bahasa tulis dapat disimpan lama sampai waktu yang tak terbatas.

Bahasa lisan (dalam bentuk rekaman) bisa menembus waktu dan ruang.

Ada beberapa jenis aksara yaitu aksara piktografis, aksara ideografis, aksara silabis dan aksara fonemis.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.