Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Saodah;1402408127;bab 5 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:08 pm

Nama : Saodah

NIM : 1402408127

Rombel : 2

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK(2)MORFOLOGI

5.4 MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun istilah morfem, sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem mempunyai makna secara filosofis.

5.1.1 Untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalah morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut didalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain. Jika bentuk tersebut bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain,maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem.

Contoh:

1.Kedua,ketiga,kelima,…..,bentuk ke adalah sebuah morfem yang menyatakan tingkat atau derajat.

2.Ke kampus,ke pasar,ke dapur,…..,bentuk ke juga sebuah morfem yang menyatakan arah/ tujuan.

Akan tetapi bentuk ke pada contoh 1 dan 2 adalah dua morfem yang berbeda meskipun bentuknya sama.

Jadi,kasamaan arti dan bentuk merupakan ciri sebuah morfem.

3.Meninggalkan ,ditinggalkan, tertinggal

Bentuk tinggal adalah sebuah morfem karena bentuknya sama dan maknanya juga sama.

Jadi,untuk menentukan sebuah bentuk morfem atau buka kita juga harus tahu maknanya.

5.1.2 MORF dan ALOMORF

Contoh 4:melihat,membawa,mendengar,menyanyi,menggoda,mengelas.

Keenam awalan tersebut adalah sebuah morfem, sebab bentuknya tidak persis sama, tetapi perbedaannya dapat dijelaska secara fonologis.

Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama disebut alomorf.Dengan perkataan lain alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan ) dari sebuah morfem. Bisa juga dikatakan morf dan alomorf adalah dua bilah nama untuk sebuah bentuk yang sama.Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui ststusnya : sedanagkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

5.1.3 Klasifikasi Morfem

Morfem dikelompokkan berdasarkan kriteria, antara lain berdasarkan kebebasannya, keutuhannya,maknanya, dan sebagainya.

5.1.3.1 Morfem bebas dan morfem terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertukaran.

Contoh :Pulang,makan,rumah.Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung duldu dimorfem lain dapat muncul dalam penuturan.Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalaha morfem terikat,termasuk juga morfem penanda jamak dalam bahasa inggris:[-s],[-z],[iz].

Berkenaan dengan morfem terikat ini dalam bahasa Indonesia, ada beberapa hal yang perlu dikemukakan :

  1. Bentuk-bentuk seperti juang, henti dan baur termasuk morfem terikat, karena meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam penuturan tanpa proses morfologi.
  2. Bentuk-bentuk seperti baca, tulis juga baru bisa muncul setelah proses morfologi.
  3. Bentuk-bentuk seperti renta, kerontangjuga termasuk morfem terikat/ morfem unik karena bisa muncul dalam pasangan tertentu.
  4. Bentuk-bentuk yang termasuk preposisi dan konjungsi termasuk morfem bebas,tetepi secara sintaksis merupakan bentuk-bentuk terikat.
  5. Klitika, merupakan morfem yang agak sukar dijelaskan statusnya, apakah bebas atau terikat.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Pembedaan morfem utuh dan morfem terbagi berdasarka bentuk formal yang dimiliki morfem tersebut, apakah merupakan satu kesatuan yang utuh atau merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi karena disisipi morfem lain .Semua morfem dasar bebas (meja,kursi,pensil,dll) dan sebagian morfem terikat (ter-, ber-,…) adalah termasuk morfem utuh.Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian terpisah.Misalnya pada kata kesatuan terdapat morfem utuh, yaitu (satu) dan satu morfem terbagi yaitu (ke-/-an)

Sehubungan dengan morfem terbagi,ada catatan yang perlu diperhatikan:

Pertama semua afiks yang disebutkan konfiks (ke-/-an,ber-/-an, dan pe-/-an) termasuk morfem terbagi.

Kedua,dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut infiks,yaitu afiks yang disisipkan ditengah morfem dasar.Misalnya,afiks (-er-) pada kata gerigi,(-em) pada kata gemetar, dll.

Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem (lihat),(lah), (sukat) dan 9ber).Sedankan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental,seperti tekana,nada,durasi, dsb.

Morfem Beralomorf Zero

Dalam linguistik deskriptif ada konsep mengenai morfem beralomorf zero/nol (lambangnya o).Yaitu morfem yang salah satu alomorf tidak berwujud bunyi segmental,melainkan berupa “kekosongan”.

Morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri,tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.Contoh :pergi,maka dll.Sebaliknya morfem tak berwarna leksikal tidak mempunyai makna pada dirinya sendiri.Contohnya adalah pada morfem-morfem afiks:(ber,me,ter)

5.1.4 Morfem dasar,bentuk dasar,pangkal(stem) dan akar (roof)

- Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks.

- Istilah bentuk dasar/dasar (base) saja biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam sebuah dasar dalam suatu proses morfologi

- Istilah pangkal/stem digunakan untuk menyebutkan bentuk dasar dalam proses infleksi/proses gramatikalyang dapat terjadi pada morfem dasar.

5.2 KATA

5.2.1 Hakikat kata

Menurut bahasawan tradisional kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti/kata adalah satuan bahasa yang mempunyai satu pengertian.

Bahasa kata yang umam kita jumpai dalam berbagai buku linguistik eropa adalah bahwa kata merupaka bentuk yang,kedalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berubah dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas didalam kalimat.

5.2.2 Klasifikasi kata

Para tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam satu struktur/konstruksi.Ada juga kelompok linguis yang menggunakan kriteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata

5.2.3 Pembentuk kata

Pembentuk kata ini mempunyai dua sifat ,membentuk kata-kata.

5.2.3.1 Pembentukan Inflektif

Adalah pembentukan kata yang tidak membentuk kata baru kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya.

5.2.3.2 Derivatif

Pembentukan kata yang membentuk kata bar/kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

5.3PROSES MORFEMIS

5.3.1 Afiksasi

Proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar/bentuk dasar.

5.3.2 Reduplikasi

Proses morfermis yang mengulang beentuk dasar secara keseluruhan,maupun dengan perubahan bunyi.

5.3.3 Komposisi

Hasil dan proses penggabunagn morfe dasar dengan morfem dasar.

5.3.4 Konversi,Modifikasi Internal dan Suplesi

Konversi adalah pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi Internal :Proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur kedalam morfem yang berkerangka tetap.

Suplesi sejenis denagn modifikasi internal.

5.3.5 Pemendekan

Proses penaggalan bagian-bagian leksem/gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya

5.3.6 Produktifitas proses morfermis

Dapat tidaknya pembentukan kata itu ,terutama afiksasi,reduplikasi dan komposisi.

5.2Morfofonemik

Peristiwa berubahnya wujud morfermis dalam suatu proses morfologis.Terdiri dari:

-Pemunculan fonem

-peluluhan fonem

-Perubahan fonem

Pelepasan fonem

Pergeseran fonem

 

RINCI FAMILA-1402408234_BAB 8

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 7:06 pm

Nama : Rinci Famila

NIM : 1402408234

Kelas : I D

BAB 8

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Dalam sejarah perkembangannya, lingusitik dipenuhi dengan berbagai aliran, paham, pendekatan dan penyelidikan yang dari luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan dan membingungkan, terutama bagi para pemula. Namun, sebenarnya semuanya itu akan menambah wawasan kita terhadap bidang dan kajian linguistik.

8.1. Linguistik Tradisional

Orang serting mempertentangkan linguistik tradisional dan linguistik karena kedua jenis tata bahasa ini banyak dibicarakan orangtua sebagai dua hal yang bertentangan sebagai akibat dari pendekatan keduanya yang tidak sama terhadap hakikat bahasa. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu.

Dalam merumuskan kata kerja tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan/kejadian. Sedangkan tata bahasa struktural dalam menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat terdistribusi dengan frase “dengan ….”.

8.1.1. Linguistik Zaman Yunani

Hal yang dipertentangkan para filosof Yunanai mengenai hakikat bahasa adalah (1) pertentangan antara fisis dan nomos, (2) pertentangan antara analogi dan anomali. Bahasa bersifat alami (fisis) maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri, oleh karena itu tidak dapat ditolak. Bahasa bersifat konvensi artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi/kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

Pertentangan analogi dan anomali menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang terakhir/tidak teratur. Kaum analogi, antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa itu bersifat teratur. Karena adanya keteraturan itulah orang bisa menyusun tata bahasa. Tokoh/kaum yang berperan besar dalam satu dibahasa:

Ø Kaum Sophis muncul pada abad ke-5 SM. Mereka dikenal dalam studi bahasa, antara lain karena:

a. Mereka melakukan kerja secara empiris.

b. Mereka melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu.

c. Mereka sangat memntingkan bisang retorika dalam studi bahasa.

d. Mereka memedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna.

Salah seorang tokoh Sophis, yaitu Protogoras, membagi kalimat menjadi kalimat narasi, kalimat tanya, kalimat jawab, kalimat perintah, kalimat laporan, doa dan undangan. Tokoh lain, Georgias, membicarakan gaya bahasa seperti yang kita kenal sekarang..

Ø Plato yang hidup sebelum abad masehi itu, dalam studi bahasa terkenal, antara lain karena:

a. Dia memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya “dialog”. Juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konvensional.

b. Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara onomata dan rhemata.

c. Dialah orang yang pertama kali membedakan kata dalam onoma dan rhena.

Ø Aristoteles adalah salah seorang murid Plato. Dalam studi bahasa dia menambahkan satu kelas kata lagi atas pembagian yang dibuat gurunya. Plato, yaitu dengan syndesmoi. Jadi menurut Aristoteles ada 3 macam kelas kata, yaitu onoma, rhema dan syndesmoi. Yang dimaksud syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis. Jadi, syndesmoi ini lebih kurang sama dengan kelas preposisi dan konjungsi yang kita kenal sekarang. Dia membedakan jenis kelamin kata (atau gender) menjadi tiga, yaitu maskulin, feminin dan neutrum.

Ø Kaum Stoik adalah kelompok ahli filsafat yang berkembang pasa permulaan abad ke-4 SM. Mereka membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa. Mereka membedakan tiga komponen utama dari studi bahasa, yaitu (1) tanda, simbol, sign/semainon, (2) makna, apa yang disebut semainomen/lekton, (3) hal-hal di luar bahasa yakni benda/situasi. Mereka membedakan legein yaitu bunyi yang merupakan bagian dari fonologi tetapi tidak bermakna dan propherental yaitu ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna. Mereka membagi jenis kata menjadi 4, yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi dan arthoron yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin serta kata kerja aktif dan kata kerja pasif.

Ø Kaum Alexandrian melahirkan karya “Tata Bahasa Dionysius Thrax” sebagai hasil mereka dalam menyidik kereguleran bahasa Yunani. Buku Dionysius Thrax ini lahir lebih kurang tahun 100 SM dan menjadi sikal bakal tata bahasa tradisional.

8.1.2. Zaman Romawi

Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal antara lain, Varro (116-27 SM) dengan karyanya De Lingua Latina dan Priscia dengan Instituciones Gramaticae. Dalam buku De Lingua Latina yang terdiri dari 25 jilid, Varro masih juga mendebatkan masalah analogi dan anomali, buku ini dibadi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi dan sintaksis. Etimologi adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal-usul kata beserta artinya. Dan terjadi perubahan bentuk serta perubahan makna kata. Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya. Tata bahasa Priscia, buku ini terdiri dari 18 jilid. 16 jilid mengenai morfologi dan 2 jilid mengenai sintaksis. Buku ini paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya dan teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional. Segi-segi yang dibicarakan dalam buku ini, antara lain:

a. Fonologi, dalam bidang fonologi pertama-tama dibicarakan tulisan dan huruf yang disebut lutterae (bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan).

b. Morfologi. Dalam bidang ini dibicarakan mengenai diccio / kata (bagian minimum dari sesuatu ujaran dan harus diartikan terpisah dalam makna sebagai satu keseluruhan).

c. Sintaksis. Bidang sintaksis membicarakan hal yang disebut oratio, yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai.

Buku in telah menjadi dasar tata bahasa latin dan fisafat zaman pertengahan.

8.1.3. Zaman pertengahan

Dari zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi bahasa, antara lain adalah peranan kaum modistae, tata bahasa Spekultiva dan Petrus Hispanus.

Kaum modistae membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos dan pertentangan antara analogi dan anomali. Mereka berperan dalam perkembangan di bidang stimologi. Tata bahasa spekulativa merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin ke dalam filsafat skolastik. Menurut tata bahasa spekultiva, kata tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuk, kata hanya mewakili hal adanya benda itu dalam berbagai cara, modus, substansi, aksi, kualitas, dll. Petrus Hispanus, beliau pernah menjadi Paus, yaitu tahun 1276-1277 dengan gelar Paus Johaness XXI. Bukunya berjudul Summulae Ligicales. Peranannya dalam bidang lingiustik antara lain:

a. Memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa, membedakan antara signifikasi utama dan konsignifikasi, yaitu pembedaan pengertian pada bentuk sifat dan pengertian yang dikandung oleh imbuhan-imbuhan.

b. Membedakan nomen atas 2 macam, yaitu nomen substantivium dan nomen adjectivum.

c. Membedakan partes orationes atas kategorimatik dan syntategorematik. Kategorematik adalah semua bentuk yang dapat menjadi subjek/predikat, syntategorematik adalah suatu bentuk tutur lainnya.

8.1.4. Zaman renaisans

Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembuka abad modern. Linguistik Arab berkembang pesat karena kedudukan bahasa Arab sebagai bahasa kitab suci agama Islam. Ada 2 aliran bahasa Arab, yaitu aliran Basra yang mendapat pengaruh konsep analogi dari zaman Yunani dan aliran Kufah yang memberikan perhatian kepada keanekaragaman bahasa.

Bila kita simpulkan pembicaraan mengenai linguistik tradisional, yaitu:

a. Pada tata bahasa tradisional tidak dikenal adanay perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan. Oleh karena itu, diskripsi bahasa hanya bertumpu pada bahasa tulisan.

b. Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa latin, terutama bahasa latin.

c. Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara prespektif, yakni benar/salah.

d. Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika.

e. Penemuan-penemuan kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.

8.2. Linguistik Strukturalis

Ferdinad de Saussure (1857-1913) dianggap sebagai bapak linguistik modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistiques Generals yang disusun dan diterbitkan oleh Carles Bally dan albert Sechehay tahun 1915 (jadi 2 tahun setalah de Saussure meninggal). Ferdinad de Saussure membedakan adanya 2 macam hubungan yaitu hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik. Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan yang tersusun secara berurutan, bersifat linier. Hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.

Dalam bidang fonologi aliran praha memberi pengaruh sangat besar. Aliran praha inilah yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. Dalam bidang fonologi aliran praha ini juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut morfologi, bidang yang meneliti struktur fonologis morfem. Bidang ini meneliti perubahan-perubahan fonologis yang terjadi sebagai akibat hubungan morfem dengan morfem. Dalam bidang sintaksis Vilem Mathesius mencoba menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional. Struktur informasi menyangkut unsur tema dan rema. Tema adalah apa yang dibicarakan, sdangkan rema adalah apa yang dikatakan mengenai tema. Setiap kalimat mengandung unsur tema dan rema.

Aliran biosematik lahir di Denmark, tokohnya antara lain, Louis Hjemslv (1899-1965) yang meneruskan ajaran Ferdinand de Saussure. Namanya menjadi terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis dan terminologis sendiri. Analisis bahasa dimulai dari wacana, kemudian ujaran itu dianalisis atas konstituen-konstituen yang mempunyai hubungan paradigmatis dalam rangka forma (hubungan gramatikal intern), substansi (kategori ekstern dari objek material), ungkapan (medium verbal/grafis) dan isi (makna).

M.A.K Haliday yaitu salah seorang murid firth yang mengembangkan teori fith menganai bahasa, khususnya yang berkenan dengan segi kemasyarkatan bahasa dengan nama aliran linguistik sistematik. Pokok-pokok pandangan systemic linguistic (SL) adalah:

a. SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa terutama mengenai fungsi kemasyarakatan bahasa dan bagaimana fungsi kemasyarakatan itu telaksana dalam bahasa.

b. SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”.

c. SL lebih mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya, tidak/kurang tertarik pada semesta bahasa.

d. SL mengenal adanya gradasi/kontimum. Batas butir-butir bahasa bahasa seringkali tidak jelas.

e. SL menggambarkan 3 tataran utama.

Faktor-faktor yang menyebabkan berkembangnya secara pesat aliran strukturalis di Amerika pada tahun 30-an:

a. Pada masa itu para linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika yangbelum diberikan.

b. Sikap Bloomfield yang menolak metalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada fakta-fakta yang dapat dicocokkandengan kenyataan-kenyataan yang dapat diamati.

c. Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik, karena adanya The Linguistics Society of Amerika yang menerbitkan majalah Language; wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka.

Aliran strukturalis yang dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering juga disebut aliran taksonomi dan aliran Bloomfieldian/post bloomfieldian, karena bermula/bersumber pada gagasan Blomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran itu menganalisis dan mengklarifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan hierarkinya. Dalam menganalisis kaimat, mislanya digunakan teknik Immediate Constituensts Analysis (IC analiysis) untuk melihat unsur-unsur langsung yang membangun kalimat tesebut.

Aliran Tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike, sedangkan tokoh di Summei Institure of Linguistik, yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfiled, sehingga aliran ini juga bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis. Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tegmen (susunan) tagmen adalah korelasi antara fungsi gramatikal / slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, kedua unsur tagmem, yaitu fungsi danbentuk (atau kategori pengisi fungsi) perlu ditambah pula dengan unsur peran (pengisi makna) dan kohesi (keterikatan antara satuan-satuan lingual) yang membentuk jalinan yang erat.

8.3. Linguistik Transformasional dan Aliran-Aliran Sesudahnya

Ø Tata bahasa transformasi

Dapat dikatakan tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul syntactic Structure pada tahun 1957, yang kemudian dikembangkan karena adanya kritik dan saran dari berbagai pihak, di dalam buku Chomsky yang ke-2 yang berjudul Aspect of the Theory of Syntax pada tahun 1965. Nama yang dikembangkan untuk model tata bahasa yang dikembangkan oleh Chomsky ini adalah Transformational Generative Grammar; tetapi dalam bahasa indonesia lazim disebut tata bahasa transformasi / tata bahasa generatif. Menurut Chomsky salah satu tujuan dari penelitian bahasa adalah menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Setiap tata bahasa dari suatu bahasa, menurut Chomsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri dan tata bahasa itu harus memenuhi 2 syarat, yaitu:

a. Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.

b. Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan/istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.

Sejalan dengan konsep Langue dan Parok dari de saussure, maka chomsky membedakan adanya kemampuan (competence) dan perbuatan bahasa (performance). Kemampuan (competence) adalah pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa mengenai bahasanya, sedangkan perbuatan berbahasa (performance) adalah pemakaian bahasa itu sendiri dalam keadaan yang sebenarnya. Dalam tata bahasa generatif ini, maka yang menjadi objeknya adalah kemampuan ini, meskipun perbuatan berbahasa juga penting, dan yang perlu dan menarik bagi seorang peneliti bahasa adalah kaidah yang dipakai di pembicara untuk membuat kalimat yang diucapkannya.

Tata bahasa transformasi lahir bersamaan dengan terbitnya buku syntatic structure pada tahun 1957. Teori yang dikemukakan dalam buku ini sering disebut dengan nama “tata bahasa transformasi klasik”. Adanya sambutan yang berupa kritik dan saran atas kekurangan yang ada dalam teori itu menyebabkan munculnya lagi buku chomsky pada tahun 1965 dengan judul Aspect of Theory Syntac. Dalam buku ini. Chomsky telah menyempurnakan teorinya mengenal sintaks dengan mengadakan beberapa perubahan yang prinsipil.

Tidak sama dengan tata bahasa strukturalis yang berusaha mendeskripsikan ciri-ciri bahasa tertentu, maka tata bahasa transformasi (dan sama dengan tata bahasa tradisonal), berusaha mendeskripsikan ciri-ciri kesemestaan bahasa. Lalu, karena pada mulanya teori tata bahasa ini dipakai untuk mendeskripsikan kaidah-kaidah bahasa Inggris, maka kemudian ketika pata pengikut teori ini mencoba untuk menggunakannya terhadap bahasa-bahasa lain timbullah berbagai masalah. Oleh karena itu, usaha-usaha perbaikan telah dilakukan oleh para bekas murid/bekas pengikut aliran ini. Umpamanya yang dilakukan oleh kaum semantik generatif, aliran tata bahasa kasus dan aliran tata bahasa relasional.

Struktur semantik itu serupa dengan struktur logika, berupa ikatan tidak berkata antara predikat dengan seperangkat argumen dalam suatu proposisi. Struktur logika itu tergambar sebagai bagan berikut:

Atau dapat dirumuskan sebagai: BELI (nenek, adik, baju baru). Jadi, proposisi kalimat itu mempunyai predikat yang berargumen tiga. Kalimat “Nenek membelikan adik baju baru” adalah kalimat yang proposisinya mempunyai predikat yang berargumen tiga, yaitu BELI (nenek, adik, baju baru).

Ø Tata bahasa kasus

Dalam karangan Charles J. Fillmore pada tahun 1968, ia membagi kalimat atas (1) modalitas, yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek dan advebia, (2) proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Perhatikan bagan berikut!

Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina. Verba disini sama dengan predikat. Sedangkan nomina sama dengan argumen dalam teori semantik generatif. Hanya argumen dalam teori ini diberi label khusus.

Dalam teori tahun 1968 Fillmore tidak membatasi jumlah kasus itu, tetapi dalam versi 1971 dibatasi atas kausus agent, eksperiencer, object, means, source, goal dan referential.

- Agent adalah perlaku perbuatan/yang melakukan suatu perbuatan.

Contoh: perbuatan makan, menendang dan membawa.

- Eksperiencer adalah yang mengalami persitiwa psikologis.

Contoh: saya dan dia dalam kalimat “saya tahu” dan “dia merasa takut”.

- Object adalah sesuatu yang dikenai perbuatan/yang mengalami suatu proses.

Contoh: bola dan rumah dalam kalimat “Dika menendang bola” dan “Pak Lurah membangun rumah”

- Source adalah keadaan, tempat/waktu yang sudah

Contoh: Bandung dalam kalimat “Bus tu datang dari Bandung”.

- Goal adalah keadaan tempat/waktu yang kemudian

Contoh: guru dalam kalimat “Dia mau jadi guru”

- Referential adalah acuan

Contoh: Husin dalam kalimat “Husin temanku”

Ø Tata bahasa relational

Tata bahasa relational muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dirancang oleh aliran tata bahasa transformasi. Sama halnya dengan tata bahasa transformasi, tata bahasa relasional juga berusaha mencari kaidah kesemestaan bahasa. Dalam hal ini tata bahasa relasional (TR) banyak menyerang tata bahasa transformasi (TT), karena menganggap teori-teori TT itu tidak dapat diterapkan pada bahasa-bahasa lain selain bahasa Inggris. Menurut teori tata bahasa relasional, setiap struktur kalusa terdiri dari jaringan relasional (relational network) ynag melibatkan 3 macam maujud (entity), yaitu:

a. Seperangkat sampai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur.

b. Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain.

c. Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain.

8.4. Tentang Linguistik di Indonesia

Pada awalnya penelitian bahasa Indonesia dialkukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya, dengan tujuan untuk kepentingan pemerintahan kolonial. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 pemerintahan kolonial sangat memerlukan informasi mengenai bahasa-bahasa yang ada di bumi Indonesia utnuk melancarkan jalannya pemerintahan kolonial di Indonesia, di samping utnuk kepentingan lain, seperti penyebaran agama Nasrani, informasi yang lengkap danluas mengenai bahasa-bahasa daerah itu, terutama bahasa daerah yang penuturnya banyak, adalah sangat penting dalam menjalankan administrasi dan roda pemerintahan kolonial. Oleh karena itu, penelitian terhadap bahasa-bahasa daerah itu sangat digalakkan oelh pemerintahan kolonial Belanda itu. Banyak sarjana dikirim ke berbagai daerah untuk melakukan penelitian bahasa.

Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya stidu linguistik, pada tanggal 15 November 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diebri nama Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). Tiga tahun sekali MLI mengadakan musyawarah nasional. Selain membicarakan masalah organisasi, juga seminar mengenai linguistik dengah masalah yang disajikan oleh para anggota. Untuk melengkapi keberadaannya, sejak 1983 MLI menerbitkan sebuah jurnal yang diberi nama Linguistik indonesia. Jauh sebelum terbitnya Jurnal Linguistik Indonesia sebenarnya Indonesia sudah ada majalah linguistik yang menggunakan bahasa pengantar Inggris. Majalah ini lebih dikenal dengan nama NUSA dirintis penerbitnya oleh Prof. Dr. J.W.M.

Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa basional Indonesia, banyak pula dilakukan orang di luar Indonesia, Universitas Leiden di Negeri Belanda telah mempunyai sejarah panjang dalam penelitian bahasa-bahasa nusantara. Di sana, antara lain ada Uhlenbeck dengan kajiannya yang sangat luas terhadap bahasa jawa, ada Voorhove, Teeuw, Rolvink dan terakhir Grijins dengan kajian dialek jakarktanya. Di London, Amerika dan masih banyak lagi yang menggunakan kajian tentang bahasa-bahasa Indonesia.

Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa pesatuan dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki empat sentral dalam kajian linguistik deswasa ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

 

RINA UTAMI_1402408062_BAB 7

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 7:04 pm

Nama : Rina Utami

NIM : 1402408062

Rombel : 2

TATARAN LINGUISTIK (4) :

SEMANTIK

Secara hieralkial satuan bahasa yang disebut wacana dibangun oleh kalimat,satuan kalimat dibangun oleh klausa,satuan klausa dibangun oleh frase,satuan frase dibangun oleh kata,satuan kata dibangun oleh morfem,satuan morfem dibangun oleh fonem dan akhirnya satuan fonem dibangun oleh fon atau bunyi.berdasarkan hal tersebut,Semantik dengan objek yakni makna, berada diseluruh atau disemua tataran yang bangun membangun ini, makna berada didalam tataran fonologi, morfologi dan sintaksis.

Hockett, tokoh strukturalis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu system yang komplek dari suatu kebiasaan–kebiasaan,yang terdiri dari lima subsistem yaitu gramatika,fonologi, morfofonik, semantic, fonetik. Gramatika, fonologi dan morfofonik bersifat sentral. Sedangkan subsistem,semantic,dan fonetik bersifat periferal,karena seperti pendapat kaun strukturalis umumnya, bahwa makna yang menjadi objek semantic adalah sangat jelas,tak dapat diamati secara empiris,sebagai subsistem gramatika(morfologi dan sintaksis).

1. HAKIKAT MAKNA

Menurut de Saussure setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari dua komponen yaitu komponen signifian atau “yang mengartikan” yang wujudnya berupa runtunan bunyi dan komponen signifie atau “yang diartikan” yang wujudnya berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki atau signifian). Umpamanya tanda linguistikberupa (meja),terdiri dari komponen signifian berupa konsep atau makna sejenis perabot kantor atau rumah tangga. Ada juga teori yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain daripada sesuatu atau referen yang diacu oleh kata atau leksem itu. Hanya perlu dipahami tidak semua kata atau leksem mempunyai acuan konkret di dunia nyata. Missal seperti agama, kebudayaan,dan keadilan tidak dapat ditampilkan referennya secara konkret.

2. JENIS MAKNA

Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem mesti tanpa kontek apapun. Masalnya, pinsil bermakna leksikal ‘sejenis alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang’. Makna leksikal adalah makna sebenarnya,sesuai dengan hasil observasi indra kita,atau makna apa adanya. Makna leksikal adalah makna dalam kamus.

Makna Gramatikal baru ada kalau terjada proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya dalam pross afiksasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal ‘mangenakan’ atau memakai baju,dengan dasar kuda melahirkan makna gramatikal ‘mengendarai kuda’. Sintaktisasi kata-kata adik,menendang dan bola menjada menjadi kalimat adik menendang bola melahirkan makna gramatikal;adik bermakna ‘pelaku’, menendang bermakna ‘aktif’dan bola bermakna ‘sasaran’.

Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada dalam satu konteks. Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu. Sebagai contoh kalimat “tiga kali empat” jika pertanyaan tersebut diberikan kepada siswa SD kelas tiga tentu akan dijawab “dua belas” kalau dijawab lain maka akan salah. Namun jika dilontarkan kepada tukang foto maka pertanyaan itu mungkin akan dijawab”dua ratus” atau mungkin juga “tiga ratus” sebab pertanyaan itu mengacu pada biaya pembuatan pasfoto yang berukuran tiga kali empat centimeter.

Makna Referensial dan Non-referensial

Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalu ada referensnya atau acuannya. Kata-kata seperti kuda,merah, dan gambar adalah kata yang bermakna referensial karena ada acuan didunia nyata. Sebaliknya kata seperti dan,atau,dan karena adalah kata yang bermakna ferensial, karena kata itu tidak mempunyai referens.

Ada sejumlah kata yang disebut kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu wujud,melainkan dapat berubah dari wujud satu ke wujud yang lain.kata-kata deiktik seperti dia, saya, dan kamu;kata yang menyatakan ruang seperti di sini, di sana, dan di situ. Seperti contoh

1) “Tadi pagi saya bertemu dengan Pak Ahmad”,kata Ani kepada Ali

2) “O, ya?” sahut Ali.”Saya juga bertemu beliau tadi pagi.”

Jelas pada kalimat 1 kata saya mengacu pada Ani,sadang pada kalimat 2 mengacu pada Ali.

Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatife adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem.makna denotative sama dengan makna leksikal. Umpama kata kurus bermakna denotative “keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal

Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotative tadi yang berhubungandengan nilai rasadari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Umpama kata kurus berkonotasi netral,artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakan. Tetapi kata ramping yang sebenarnya bersinonim dengan kata kurus memiliki konotasi positif, nilai rasa yang mengenakan, sebaliknya kata kerempeng yang juga bersinonim dengan kata kurus dan ramping,mempunyai konotasi negatif,nilai rasa yang tidak mengenakan.

Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Kata kuda memiliki makna konseptual”sejenis binatang berkaki empat yang bias di kendarai” jadi makna konsuptual sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal, makna denotative dan makna referensial.

Makna Asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenan dengan adanya hubungankata itu dengan sesuatu yang berada diluar bahasa. Misalnya kata melati berasosiasi dengan.sesuatu yang ‘suci’ atau ‘kesucian’; dan kata buaya berasosiasi dngan ‘jahat’ atau juga ‘kejahatan’.

Makna Kata dan Makna Istilah

Dalam penggunaan makna kata baru akan menjadi jelas kalau kata itu berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya.

Pada makna istilah mempunyai maknaynga pasti , yang jelas, tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat.untuk itu, sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks,sedangkan kata tidak bebas konteks. Perlu diingat bahwa istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan atau bidang tertentu. Misalnya kata kuping dan telinga. Dalam bahasa umum kedua kata itu merupakan kata yang bersinonim.tetapi di bidang kedokteran mempunyai makna yang berbeda ;kuping adalah di bagian luar;sedangkan telinga adalah bagian dalam.

Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsure-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Umpama secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna ‘yangmenjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya. Tetapi dalam bahasa Indonesia bentuk menjual gigi tidak memiliki makna seperti itu melainkan bermakna ‘tertawa keras-keras’.jadi dalam bentuk menjual gigi itulah yang disebut makna idiomatical.

Ada dua macam idiom, yaitu idiom penuh dan ideom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsurnya sudah melebur menjada satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Bentuk seperti membanting tulang, meja hijau termasuk contoh idiom penuh. Idiom Sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya, buku putih yang bermakna ‘buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’,daftar hitam ‘bermakna “daftar yang memuat nama-nma orang-prang yang dicurigai berbuat kejahatan”

Peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsure-unsurnya karena adanya ‘asosiasi’ antara makna asli dengan makna sebagai peribahasa. Umpamanya peribahasa tong kosong nyaring bunyinya yang bermakna ‘orang yang banyak cakapnya biasanya tidak berilmu’, makna ini dapat ditarik asosiasi;tong yang terisi bila dipukul tidak mengeluarkan bunyi,tapi tong yang kosong akan mengeluarkan bunyi yang keras. Untuk mengenal idiom tidak ada jalan lain selain harus melihat di dalam kamus;khususnya kamus peribahasa dan kamus idiom.

3. RELASI MAKNA

relasi makna adalah hubungan semantikyang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya.

Sinonim

Sinonim atau sinomini adalah hubungan semantic yang menyatakan adanya kesamaan makna antarasatu satuan ujaran engan satuan ujaran lainnya. Misalnya, antara kata betul dengan kata benar ;dan antara kalimat Dika menendang bola dengan Bola ditendang Dika.

Relasi sinonimi bersifat dua arah,maksudnya kalau satu satuan ujaran A bersinonim dengan ujaran B,maka satuan ujaran B itu bersinonim dengan ujaran A. dua buah kata bersinonim maknanya tidak akan sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena berbagai factor, antara lain ;

Pertama, factor waktu. Umpama kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan . namun kata hulubalang memiliki pengertian klasik sedangkan kata komandan tidak memililki pengertian klasik.

Kedua, factor tempat atau wilayah. Misalny kata saya dan beta,kata saya bias digunakan dimana saja, sedangkan kata beta hanya cocok digunakan diwilayah Indonesia bagian timur.

Ketiga, factor keformalan. Misalnya kata uang dan duit,kata uang dapat digunakan dalam ragam formal dan tak formal,sedangkan duit hanya cocok untuk ragam tak formal.

Keempat , factor social. Umpamanya, kata saya dan aku,kata saya dapat digunakan siapa saja dan kepada siapa saja; sedangkan kata aku hanya dapat digunakan terhadap orang yang sebaya,atau yang lebih muda.

Kelima , bidang kegiatan. Umpamanya kata matahari dan surya. Kata matahari bias digunakan dalam kegiatan apa saja. Sedangkan kata surya hanya cocok pada ragam khusus,terutama sastra.

Keenam, factor nuansa makna. Umpamanya kata melihat,melirik,menonton,meninjau,dan mengintip merupakan kata bersinonim.namun antara satu dengan yang lain tidak bias dipertukarkan Karena memiliki nuansa makna yang berbeda.

Dari factor-faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa dua buah kata yang bersinonim tidak akan selalu dapat dipertukarkan atau disubstitusikan.

Antonim

Antonim atau antonimi adalah hubungan semantic antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misalnya kata buruk berantonim dengan kata baik. Menjual berantonim dengan membeli. Dilihat dari sifat hubungannya, maka antomini dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain;

Pertama, antonimi yang bersifat mutlak. Umpamanya kata hidup berantonim mutlak dengan kata mati. Karena sesuatu yang hidup tentunya belum mati,dan sesuatu yang mati tentunya sudah tidak hidup lagi.

Kedua, antonimi yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan kecil, jauh dan dekat, berantonim secara relatif,karena batasantara satu dengan lainnyatidak dapat ditentukan secara jelas;batasnya tidak dapat bergerak menjadi lebih atau menjadi berkurang. Karena itu sesuatu yang tidak besar belum tentu kecil dan sesuatu yang tidak dekat belum tentu jauh.

Ketiga, bersifat relasional. Umpamanya antara kata membeli dan menjual, antara kata suami dan istri.disebut relasional karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain.

Keempat, bersifat hieralkial. Umpamanya, kata gram dan kilogram. Bersifat hieralkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjangatau hierarki. Klata gram dan kilogram berada dalam satu jenjang ukuran timbangan.

Polisemi

Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi kalu kata itu mempunyai kata lebih dari satu. Umpamanya kata kepala yang setidaknya mempunyai makna (1) bagian tubuh manusia,(2) ketua atau pimpinan,(3) sesuatu yang berada di sebelah atas (kepala surat).

Dalam polisemi ini,makna pertama dalam kamus adalah makna sebenarnya,makna leksikalnya,makna denotatifnya,atau makna konseptualnya. Yang lain adalah makna yang dikembangkan.

Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya berbeda karena masing-masing merupakan bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar bermakna ‘inai’ dan kata pacar yang bermakna ‘kekasih’,antara kata bisa yang berarti ‘racun ‘ dan kata bisa yang berarti ‘sanggup’.

Pada kasus homonimi ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan yaitu homofoni dan homografi. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran,tanpa memperhatikan ejaannya,apakah ejaannya sama atau berbeda. Misalnya kata bias yang berarti ‘racun’ dan bias yang berarti ‘sanggup’.

Istilah homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya,tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Misalnya, memerah yang berarti ‘melakukan perah’ dan memerah yang berarti ‘menjadi merah’.

Perbedaan antara homonimi dan polisemi. Bahwa homonimi adalah dua buah bentuk ujaran atau lebih yang ‘kebetulan’ yang bentuknya sama dan maknanya berbeda. Sedangkan polisemi adalah sebuh bentuk ujaran yang memiliki makna lebih dari satu. Makna-makna yang ada dalam polisemi, meskipun berbeda tetapi dapat dilacak secara etimologi dan semantic, baha makna tersebut masih mempunyai hubungan. Contohnya, hubungan antara makna kepala dengan kepala surat dapat ditelusuri berasal dari makna leksikal kata kepala itu. Tetapi kita tidak bias melacak hubungan antara bisa ‘racun’ dengan bisa ‘sanggup’.

Hiponimi

Hiponimi adalah hubungan semantic antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalammakna bentuk ujaran yang lain. Umpamanya, antara kata merpati dan burung. Makna merpati tercakup dalam makna kata burung. Kita dapat mengatakan bahwa merpati adalah burung,tetapi burung bukan hanya merpati. Relasi hiponimi bersifat searah,bukan dua arah.

Ambiguiti Atau Ketaksaan

Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Umpamanya, bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknanya menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit, (2) buku itu memuat sejarah zaman baru.

Perbedaan ambiguiti dan homonim yaitu, homonimi adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan maknanya sama,sedangkan ambiguiti adalah sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih.

Perbedaan ambiguiti dengan polisemi,bahwa polisemibiasanya hanya pada tataran kata dan makna yang dimiliki lebih dari satu berasal dariciri atau komponen makna leksikal yang dimilikinya. Untuk itu maknanya masih mempunyai hubungan satu dengan yang lain. Sedang ambiguity adalah satu bentuk ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu sebagai akibat perbedaan tafsiran gramatikal.

Redundasi

Redundasi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penggunaan unsure segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya kalimat bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan Bola itu ditendang Dika. Jadi tanpa menggunakan preposisi oleh. Penggunaan preposisi oleh ini yang disebut terlalu berlebihan.

4.PERUBAHAN MAKNA

Secara sinkronis makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah, tetapi secara diakronis ada kemungkinan dapat berubah. Maksudnya, dalam masa yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah, tetapi dalam waktu yang relatif sama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah. Ini hanya terjadi pada sebuah kata saja,yang disebabkan oleh berbagai factor, antara lain:

Pertama, perkembangan dalam ilmu dan teknologi. Umpamanya, kata sastra pada mulanya bermakna ‘tulisan, huruf’,lalu berubah menjadi makna ‘bacaan’,kemudian berubah menjadi makna ‘buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya’ dan berkembang lagi menjadi ‘karya bahasa yang bersifat imaginative dan kreatif’. Perubahan tersebut karena perkembangan konsep tentang sastra didalam ilmu susastra.

Kedua, perkembangan social budaya. Misalnya, kata saudara, mulanya berarti ‘seperut’ atau ‘orang yang lahir dari kandungan yang sama’. Tetapi kini,kata saudara untuk menyebut orang lain, sebagai kata sapaan.

Ketiga, perkembangan pemakaian makna. Umpama dalam bidang pertanian kita temukan kosa kata seperti menggarap,menuai,pupuk,hama ,dan panen. Seperti kata menggarap pada bidang pertanian,digunakan pula dibidang lain dengan makna ‘menggunakan,membuat’ seperti menggarap skripsi,menggarap naskah drama.kata membajak dipertanian kini digunakan dalam bidang lain dengan makna ‘mencari keuntungan yang besar secara tidak benar’ seperi membajak buku,membajak lagu.

Keempat, pertukaran tanggapan indra. Misalnya, rasa getir,panas dan asin ditangkap oleh indra perasa yaitu lidah,gejala yang berkenaan dengan bunyi ditangkap oleh telinga. Namun dalam prkembangan pemakaian bahasa banyak terjadi pertukaran pemakaian alat indra,misalnya, rasa pedas seharusnya ditangkap oleh alat indraperasa lidah menjada tanggap alat pendengaran telinga,seperti ujaran kata-katanya sangat pedas,kata manis seharusnya ditangkap oleh indra perasa lidah namun ditangkap alat indra mata,separti dalam ujaran bentuknya sangat manis.

Kelima, adanya asosiasi. Asosiasi disini adalah adanya hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatuyang lain yang berkenaan dengan bentuk ujaran itu,sehingga bila disebut itumaka yang dimaksud adalah sesuatu yang lain yang berkenaan dengan ujaran itu. Umpama,kata amplop,makna amplop sebenarnya ‘sampul surat’. Tetapi dalam kalimat “ supaya urusan cepat beres, beri saja amplop”. Dalam kalimat tersebut amplop berarti uang sogok.

Perubahan makna kata ada beberapa macam yaitu perubahan yang meluas, menyempit, berubah total. Perubahan yang meluas, artinya kalau tadinya sebuah kata bermakna ‘A’, kemudian menjadi makna ‘B’. Umpamanya, kata baju awalnya bermakna ‘pakaian sebelah atas dari pinggang sampai kebahu’. Tetapi dalam kalimat “Murit-murit memakai baju seragam”,ini berarti bukan hanya baju tetapi juga celana, sepatu,dasi, dan topi.

Perubahan yang menyempit, artinya kalau tadinya sebuah kata atau satuan ujaran itu memiliki makna yang sangat umum tetapi kini maknanya menjadi khusus atau sangat khusus. Umpama kata sarjana mulanya bermakna ‘orang cerdik pandai’ tetapi kini hanya bermakna ‘lulusan perguruan tinggi’ saja.

Perubahan makna secara total, artinya makna yang di miliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. Umpamanya kata ceramah dulu bermakna ‘cerewet,banyak cakap’sekarang bermakna ‘uraian mengenai suatu haldi muka orang banyak’.

5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata-kata yang berada dalam satu medan makna atau satu medan leksikal. Sedangkan usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsure makna yang dimiliki disebut,analisis komponen makna atau analisis ciri-ciri makna atau analisis cirri-ciri leksikal.

Medan Makna

Medan makna (semantic domain,semantic field) atau medan leksikal adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitasdalm alam semasta tertentu. Misalnya, nama warna nama perabot rumah tangga, yang masing-masing merupaka satu medan warna.

Kata-kata yang mengelompok dalam satu medan makna, berdasarkan sifat hubungan semantisnya dibedaka atas kelompok madan kolokasi dan medan set. Kolokasi menunjuk pada hubungan sintakmantik yang terdapat antara kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu. Contohnya, cab, bawang, trasi, garam, merica, dan lada berada dalam satu kolokasi yaitu ‘bumbu dapur’. Kolokasi menunjukan pada hubungan sintakmatik, karena sifatnya yang linear, maka kelompok set menunjukkan pada hubungan paradigmatic, karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu saling bias disubstitusikan. Umpamanya, kata remaja merupakan tahap perkembangan dari kamak-kanak menjadi dewasa. Sedangkan sejuk merupakan suhu diantara dingin dan hangat.

Komponen Makna

Makna yang dimiliki setiap kata terdiri dari sejumlah komponen(yang disebut dengan komponen makna) yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Umpama kata ayah memiliki komponen makna /+manusia,/+dewasa,/+jantan, /+kawin, dan /+punya anak dan kata ibu memiliki komponen makna /+manusia, /+dewasa, /-jantan, /+kawin, dan /+punya anak. ( keterangan : tanda + memiliki komponen makna, – tidak memiliki komponen makna tersebut).

Kegunaan analisis komponen yang lain ialah untuk membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam bahasa Indonesia. Umpama,proses afiksasi dengan prefiks me- pada nomina yang memiliki komponen makna /+alat/,mempunyai makna gramatikal ‘melakukan tinakan dengan alat’ seperti menggergaji,memahat. Pada proses reduplikasi, yang terjadi pada dasar verba yang memiliki komponen makna /+sesaat/ memberikan makna gramatikal ‘berulan-ulang’ seperti pada memotong-motong,memukul-mukul. Sedangkan pada verba yang memiliki komponen makna /+bersaat/ memberi makna gramatikal ‘dilakukan tanpa tujuan’,seperti mandi-mandi ,duduk-duduk. Jadi, dalam proses reduplikasi terlihat erba yang memiliki kmponen makna /+sesaat/ mempunyai makna gramatikal berbeda dengan verba yang memiliki komponen makna /-sesaat/.

Dalam proses komposisi, atau proses penggabungan leksem dengan leksem , terlihat juga bahwa komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar yang terlibat dalam proses itu menentukan juga makna gramatikal yang dihasilkannya. Misalnya, makna gramatikal ‘milik’ hanya bisa terjadi apabila konstituen kedua dari komposisi itu memiliki komponen makna /+manusia/ atau /+dianggap manusia/, misalnya, sepeda Dika,rumah paman. Jika tidak memiliki komponen makna maka makna gramatikal ‘milik’ tidak akan muncul.

Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Analisis persesuaian semantic dan sintaktik tentu saja harus memperhitungkan komponen makna kata secara lebih terperinci. Misalnya kalimat :

1) Nenek makan dendeng

2) Kucing makan dendeng

Kalimat tersebut bisa diterima,meskipun subjek yang pertama berciri /+manusia/ dan yang kedua /-manusia/ , karena verbanya yaitu makan,memiliki kompnen /+makhluk hidup/, yang bisa berlaku untuk manusia dan binatang. Namun bagaimana dengan kalimat : kambing itu makan rumput ,padahal jelas bahwa rumput bukan makanan. Disini tampak bahwa keterperincian analisis lebih diperlukan lagi,sebab ternyata rumput memang bukan makanan manusia..tetapi makanan bagi kambing.

Selain diperlukan keterperincian, masalah metafora juga harus disingkirkan,sebab kalimat metaforis seperti kalimat Bangunan itu menelan biaya 100 juta rupiah. Kalimat ini adalah berterima.

 

RAHADIAN GHANIY F_1402408023_BAB 4_ROMBEL 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:01 pm

Nama : Rahadian Ghaniy F

NIM : 1402408023

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa. Fonologi terbentuk dari kata fon = bunyi dan logi = ilmu.

Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi:

1. Fonetik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

2. Fonemik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tesebut sebagai pembeda.

4.1 FONETIK

adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Menurut terjadinya bunyi bahasa itu, fonetik dibedakan menjadi :

  1. Fonetik Artikularis / Fonetik Organis / Fonetik Fisiologis

Mempelajari bagaimana alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.

  1. Fonetik Akustik

Mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau feomena alam.

  1. Fonetik Auditoris

Mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Nama-nama alat ucap yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa :

  1. Paru-paru (lung)
  2. Batang tenggorok (trachea)
  3. Pangkal tenggorok (larynx)
  4. Pita suara (vocal cord)
  5. Krikoid (cricoid)
  6. Tiroid (thyroid) atau lekum
  7. Aritenoid (arythenoid)
  8. Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx)
  9. Epiglotis (epiglottis)
  10. Akar lidah (root of the tongue)
  11. Pangkal lidah (back of the tongue, dorsum)
  12. Tengah lidah (middle of the tongue, medium)
  13. Daun lidah (blade of the tongue, laminum)
  14. Ujung lidah (tip of the tongue, apex)
  15. Anak tekak (uvula)
  16. Langit-langit linak (soft palate, velum)
  17. Langit-langit keras (hard palate, palatum)
  18. Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)
  19. Gigi atas (upper teeth, dentum)
  20. Gigi bawah (lower teeth, dentum)
  21. Bibir atas (upper lip, labium)
  22. Bibir bawah (lower lip, labium)
  23. Mulut (mouth)
  24. Rongga mulut (oral cavity)
  25. Rongga hidung (nasal cavity)

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara yang harus berada dalam posisi terbuka,melalui rongga mulut atau rongga hidung, udara diteruskan ke udara bebas.

4.1.3 Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara Latin, yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf Latin itu.

4.1.4 Klasifikasi Bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas vocal dan konsonan. Beda terjadinya bunyi vocal dan konsonan adalah arus udara dalm pembentukan bunyi vocal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa, sedangkan pembentukan bunyi konsonan, arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut, vocal-vokal itu diberi nama :

[i] adalah vokal depan tinggi tak bundar

[e] adalah vokal depan tengah tak bundar

[∂] adalah vokal pusat tengah tak bundar

[o] adalah vokal belakang tengah bundar

[a] adalah vokal pusat rendah tak bundar

4.1.4.2 Diftong Atau Vokal Rangkap

Karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, Diftong dibedakan menjadi :

1. Diftong niak, karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua.

2. Diftong turun, karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Dibrdakan berdasarkan 3 patokan / criteria :

1. Berdasarkan posisi pita suara :

a. Bunyi bersuara, apabila pita suara hanya terbuka sedikit, sehingga terjadi getaran pada pita suara.

b. Bunyi tidak bersuara, apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getyaran pada pita suara.

2. Berdasarkan tempat artikulasinya :

a. Bilabial, konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas.bunyi [b], [p], dan [m].

b. Labiodental, konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi bawah merapat pada bibir atas, bunyi [f] dan [v].

c. Laminoalveolar, konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, daun lidah menempel pada gusi, bunyi [t] dan [d].

d. Dorsovelar, konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan vlum langit-langit lunak, bunyi [k] dan [g].

3. Berdasarkan cara artikulasinya :

a. Hambat (letupan, plosive, stop), bunyi [p], [b], [t], [d], dan [g].

b. Geseran atau frikatif, bunyi [f], [s], dan [z].

c. Paduan atau frikatif, bunyi [c] dan [j].

d. Sengauan atau nasal, bunyi [m], [n], dan [η].

e. Getaran atau trill, bunyi [r].

f. Sampingan atau lateral, bunyi [l].

g. Hampiran atau aproksiman, bunyi [w] dan [y].

4.1.5 Unsur Suprasegmental

Dalam suatu runtutan bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau agak singklat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, ada bunyi yang dapat disegmentasikan yang disebut bunyi segmental.

4.1.5.1 Tekanan atau Stres

Menyangkut masalah keras lunaknya bunyi.

4.1.5.2 Nada atau Pitch

Berkenaan dengan tinggi rendahnya bunyi.

4.1.5.3 Jeda atau Persendian

Berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.

1. Jeda antar kata, diberi tanda ( / )

2. Jeda antar frase, diberi tanda ( // )

3. Jeda antar kalimat, diberi tanda ( # )

4.1.6 Silabel

Silabel atau suku kata adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Satu silabel meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih.

4.2 FONEMIK

adalah bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Objek penelitian fonemik adalah fonem.

4.2.1 Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonematau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan bahasa pertama, kalau kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, berarti bunyi tersebut adalah fonem.

4.2.2 Alofon

adalah dua buah bunyi dari sebuah fonem yang sama. Alofon-alofon dari sebuah fonem memiliki kemiripan fonetis, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Distribusi alofon bisa bersifat komplementer dan bebas.

Distribusi komplementer / distribusi saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan dan bersifat tetap pada lingkungan tertentu.

Distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

Alofon adalah realisasi dari fonem, maka dapat dikatakan bahwa fonem bersifat abstrak karena fonem hanyalah abstraksi dari alofon itu dan yang konkret atau nyata ada dalam bahasa adalah alofon itu, sebab alofon itulah yang diucapkan.

4.2.3 Klasifikasi Fonem

Kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan criteria yang dipakai untuk klasifikasi bunyi (fon) dan panamaan fonem juga sama dengan penamaan bunyi.

4.2.4 Khazanah Fonem

adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.jumlah fonem bahasa Indonesia ada 24 buah, terdiri dari 6 buah fonem vokal (a, i. u, e, ∂, dan o) dan 18 fonem konsonan (p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, n, η, s, h, r, l, w, dan z).

4.2.5 Perubahan Fonem

Sebuah fonem dapat berbeda-beda tergantung pada lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang berada disekitarnya. Perubahan yang terjadi pada fonem bersifat fonetis, tidak mengubah fonem itu menjadi fonem lain.

Beberapa kasus perubahan finem antara lain :

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu sama atau mempunyai cirri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Dalam proses disimilasi, perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Umlaut = perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal iti diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal berikutnya yang tinggi.

Ablaut = perubahan vokal yang kita temikan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal.

Harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki yang berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke arah silabel yang menyusul

4.2.5.4 Kontraksi

adalah hilangnya sebuah fonem atau lebih yang menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.

Proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata.

4.2.6 Fonem dan Grafem

1. Grafem e dipakai untuk melambangkan dua buah foe\nem yang berbeda, yaitu fonem /e/ dan fonem /∂/.

2. Grafem p selain dipakai untuk melambangkan fonem /p/, juga dipakai untuk melambangkan fonem /b/ untuk alofon /p/.

3. Grafem v digunakan juga untuk melambangkan fonem /f/ pada beberapa kata tertentu.

4. Grafem t selain digunakan untuk melambangkan fonem /t/ digunakan juga untuk melambangkan fonem /d/ untuk alofon /t/.

5. Grafem k selain digunakan untuk melambangkan fonem /k/ digunakan juga untuk melambangkan fonem /g/ untuk alofon /k/ yang biasanya berada pada posisi akhir.

6. Grafem n selain digunakan untuk melambangkan fonem /n/ digunakan juga untuk melambangkan posisi /n/ pada posisi di muka konsonan /j/ dan /c/.

7. Gabungan grafem maih digunakan : ng untuk fonem /η/; ny untuk fonem /n/; kh untuk fonem /x/; dan sy untuk fonem /∫/.

8. Bunyi glottal stop diperhitungkan senagai alofon dari fonem /k/; jadi, dilambangjan dengan grafem k.

 

Nur Fajriana Wahyu Ardiani_1402408045_bab 4

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 6:57 pm


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Monotype Corsiva”; panose-1:3 1 1 1 1 2 1 1 1 1; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:27.0pt 36.0pt 27.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} @page Section2 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:45.35pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-columns:3 even 36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section2 {page:Section2;} @page Section3 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:45.35pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-columns:3 even 36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section3 {page:Section3;} @page Section4 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:18.0pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section4 {page:Section4;} @page Section5 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:18.0pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section5 {page:Section5;} @page Section6 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:18.0pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section6 {page:Section6;} @page Section7 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:18.0pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-columns:2 even 36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section7 {page:Section7;} @page Section8 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:18.0pt 36.0pt 36.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section8 {page:Section8;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:164249330; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-140580344 1898627778 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:image; list-style-image:url(“file:///C:/DOCUME~1/CLIENT~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif”); mso-level-text:; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:”Courier New”;} @list l1 {mso-list-id:186646655; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1407982252 -70646230 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:image; list-style-image:url(“file:///C:/DOCUME~1/CLIENT~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif”); mso-level-text:; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l2 {mso-list-id:246158683; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-587052010 722114996 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:image; list-style-image:url(“file:///C:/DOCUME~1/CLIENT~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif”); mso-level-text:; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l2:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:”Courier New”;} @list l3 {mso-list-id:846864710; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1188961198 -265369438 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:75.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:75.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:”Courier New”;} @list l4 {mso-list-id:944263428; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-908434174 -1185499292 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:image; list-style-image:url(“file:///C:/DOCUME~1/CLIENT~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.gif”); mso-level-text:; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l5 {mso-list-id:2002855559; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1471348828 326648044 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l5:level1 {mso-level-number-format:image; list-style-image:url(“file:///C:/DOCUME~1/CLIENT~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.gif”); mso-level-text:; mso-level-tab-stop:135.35pt; mso-level-number-position:left; margin-left:153.0pt; text-indent:-145.8pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l5:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:”Courier New”;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Nama : Nur Fajrina Wahyu Ardiani

NIM : 1402408045

BAB 4

Tataran Linguistik :

F O N O L O G I

Fonologi : bidang linguistic yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa.

Fonologi dibedakan menjadi :

* fonetik

* fonemik (ada juga pakar yang menggunakan istilah fonologi)

4.1. FONETIK

Adalah bidang linguistic yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Contoh : Bunyi ( i ) pada kata-kata ( intan ) , ( angin ) , ( batik ) adalah tidak sama.

Dalam kajiannya, fonetik akan berusaha mendeskripsikan perbedaan bunyi-bunyi itu serta menjelaskan sebab-sebabnya.

Fonetik dibedakan menjadi 3 :


Fonetik Artikulatoris

Fonetik Akustik

Fonetik Audiotoris


mempelajari bagaimana bunyi bahsa dihasilkan

mempelajari bunyi sebagai bahasa sebagai peristiwa alam

mempelajari penerimaan bahsa oleh telinga kita


( penutur ) ( getaran udara yang dihasilkan ) ( pendengar )

4.1.1. Alat ucap



Untuk menghasilkan bunyi bahasa diperlukan alat ucap yang antara lain terdiri dari :


o Paru-paru ( lung )

o Pita suara ( vocal cord )

o Pangkal tenggorok

o Pangkal kerongkongan

o Daun lidah

o Gusi

o Gigi

o Rongga mulut


4.1.2. Proses Fonasi

Proses terjadinya bunyi bahasa :

Udara dipompa keluar dari paru-paru → melewati pita suara ( harus sedikit terbuka ) →udara diteruskan ke rongga mulut → bunyi

Macam-macam posisi pita suara :

A B C D

A : pita suara terbuka lebar tidak ada bunyi

B : Terbuka agak lebar bunyi tidak bersuara

C : Terbuka sedikit bunyi bersuara

D : Tertutup sama sekali bunyi hamzah / bunyi glottal

Artikulator : alat untuk menghasilkan bunyi bahasa

* artikulator aktif : alat ucap yang bergerak / digerakkan

misal : bibir bawah, ujung lidah, daun lidah

* artikulator pasif : alat ucap yang tidak dapat bergerak

misal : bibir atas, gigi atas, langit-langit keras

4.1.3.Tulisan Fonetik

dibuat untuk keperluan studi fonetik. Dalam tulisan fonetik, setiap huruf / lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa.

Misal: /e/ pada kata sate dan kera berbeda.

4.1.4. Klasifikasi Bunyi

4.1.4.1.Bunyi vokal

dihasilkan oleh pita suara yang terbuka sedikit → udara tidak mendapat hambatan

4.1.4.2. Bunyi konsonan

dihasilkan setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka agak lebar → arus udara mendapat hambatan

4.1.4.3. Diftong / Vokal rangkap

disebut vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awal dan akhir tidak sama

4.1.5. Unsur Suprasegmental

* tekanan / stress ↔ keras lunaknya bunyi

* nada / pitch ↔ tinggi rendahnya suatu bunyi

* jeda / persendian ↔ hentian bunyi dalam arus ujar

4.1.6. Silabel

Slabel / suku kata : satuan ritmis terkecil dalam suatu ujaran / runtunan bunyi ajaran

o onset : bunyi pertama pada sebuah silabel.

contoh : bunyi /s/ pada silabel (sum) pada kata sumpah

o koda : bunyi akhir pada sebuah silabel.

contoh : bunyi /n/ pada silabel (man) oada kata paman

o interlude : bunyi yang sekaligus dapat menjadi onset dan koda pada 2 buah silabel yang berurutan

contoh : /de+mon+stra+si/

bunyi /s/ bisa menjadi onset pada silabel /stra/ dan menjadi koda pada silabel

/ mons/

4.2. FONEMIK

Adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

4.2.1.Identifikasi Fonem

contoh : /l/a/b/a/ /r/a/b/a/

Pada contoh di atas (l) dan (r) adalah 2 buah fonem yang berbeda, karena (l) dan (r) membedakan makna kedua kata di atas.

4.2.2.Alofon

Adalah pembedaan pelafalan, meskipun secara huruf adalah sama.

contoh : fonem /o/ mempunyai dua buah alofon, yaitu bunyi (É) seperti pada tokoh, dan bunyi (o) seperti pada kata toko

4.2.3.Klasifikasi Fonem

- fonem vokal

- fonem konsonan

Bila dibandingkan dengan bunyi vokal dan bunyi konsonan, fonem vokal dan fonem konsonan jumlahnya lebih terbatas, karena hanya bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem.

4.2.4.Khazanah Fonem

Adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam suatu bahasa.

4.2.5.Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem yang berbeda-beda sangan tergantung pada lingkungan sekitar.

4.2.5.1.Asimilasi dan Disimilasi

o Asimilasi Fonemis : perubahan yang menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama.

contoh : kata sabtu dalam bahasa Indonesia lazim diucapkan /saptu/, di mana terlihat bunyi /b/ berubah menjadi /p/

o Disimilasi Fonemis : perubahan yang menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda.

contoh : kata cipta dan cinta berasal dari bahasa Sansekerta citta.

Bunyi (tt) pada kata citta berubah menjadi bunyi (pt) pada kata cipta dan menjadi bunyi (nt) pada kata cinta.

4.2.5.2.Netralisasi dan Arkifonem

o Netralisasi

Bunyi /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda. Namun dalam pasangan /sabtu/ dan /saptu/ atau /lembab/ dan /lembap/ kedua bunyi itu tidak membedakan makna. Di sini tampaknya fungsi pembeda makna itu menjadi batal. Untuk menetralisasinya dijelaskan dengan keterangan : yang benar adalah bentuk /sabtu/ karena berasal dari bahasa Arab. Bsgitu pula, yang betul adalah bentuk lembap karena berasal dari bahasa Melayu asli.

o Arkifonem

Dalam bahasa Indonesia ada kata jawab yang diucapkan /jawap/ atau juga /jawab/ ; tetapi bila diberi akhiran –an bentuknya menjadi jawaban. Jadi di sini ada arkifonem /B/ yang realisasinya bisa menjadi /b/ atau /p/.

4.2.5.3.Kontraksi

Berupa pemendekan/penyingkatan ujaran.

Contoh : tidak tahu diucapkan menjadi ndak tahu

4.2.6. Fonem dan Grafem

Fonem → suatu bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata.

Grafem → huruf yang digunakan dari aksara latin.

Disusun Oleh : Nur Fajriana Wahyu Ardiani

NIM : 1402408045

Rombel : 04

 

Nugraheni Pustokoweny_1402408250_bab 3

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 6:54 pm

Nama : Nugraheni Pustokoweny

NIM : 1402408250

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK BAHASA

3.1 Pengertian Bahasa

Kridalaksana (1983, dan juga dalam djoko Kenjono 1982) : “Bahasa adalah system lambing bunyi yang arbitker yang digunakan oleh para anggota kelompok social untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.

3.2 Hakikat Bahasa

3.2.1 bahasa sebagai system

Bahasa terdiri dari unsure-unsur/ komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dfan membentuk suatu kesatuan dan bersifat sistematis dan sistemis.

3.2.2 Bahasa sebagai lambang

Bahasa adalah suatu system lambing dalam wujud bunyi bahasa dan bukan dalam wujud lain.

3.2.3 bahasa adalah bunyi

Dibedakan menjadi 2, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan.

3.2.4 Bahasa itu bermakna

Bentuk-bentuk bunyi yang tidak bermakna dalam bahasa apapun bukanlah bahasa sebab fungsi bahasa adalah menyampaikan pesan, konsep,ide/pemikiran.

3.2.5 Bahasa itu arbitrer

Arbitrer yaitu tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahsa yang berwujud bunyi itu dengan konsep/pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

3.2.6 Bahasa itu konvensional

Kekonvensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya.

3.2.7 Bahsa itu produktif

Maksudnya meskipun unsure-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsure-unsur yang terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas.

3.2.8 Bahasa itu unik

Ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Dan keunikan bahasa itu sendiri tergantung dari kelompok bahasa itu berasal.

3.2.9 Bahasa itu universal

Bahasa disebut universal kalau dimiliki oleh semua bahasa didunia. Ciri-ciri universal bahasa yaitu vocal dan konsonan.

3.2.10 Bahasa itu dinamis

Karena keterikatan bahasa dengan manusia yang dalam kehidupannya selalu berubah-ubah, maka bahsa pun juga ikut berubah.

3.2.11 Bahasa itu bervarian

Bahasa itu bervariasi karena latar belakang dan lingkunagn yang bervariasi dan tidak sama. Ragam bahasa meliputi dialek, idiolek, dan ragam.

3.2.12 Bahasa itu manusiawi

Bahasa merupakan alat komunikasi yang membedakan hakikat manusia dan binatang dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

3.3 Bahasa dan Faktor Luar Bahasa

3.3.1 Masyarakat bahasa

Sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang sama.

3.3.2 Variasi dan status social bahasa

Bahas bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu sangat beragam dan bahasa itu sendiri diguinakan untuk keperluan yang beragam pula.

3.3.3 Penggunaan bahasa

Menurut Hymos(1974)seorang pakar sosiolinguistic mengatakan, bahwa suatu komunikasi dengan bahasa harus memperhatikan delapan unsur yaitu setting and scene,participants,ends,art sequences,key,instrumentalities,norms,genres.

3.3.4 Kontak bahasa

Emar Hausen(1966)mengartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan tuturan yang lengkap dan bermakna dalam bahasa lain, yang bukan bahsa ibunya.

3.3.5 Bahsa dan budaya

Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf yang menyatakan bahwa bahasa mempenagaruhi kebudayaan yang mempengaruhi cara berfikir dan bertingak anggota masyarakat.

3.4 Klasifikasi bahasa

Empat pendekatan klasifikasi bahasa :

1. genetis

2. tipologis

3. areal

4. sosiolinguistik

3.4.1 Klasifikasi genetis

Dilakukan berdasarkan garis keturunan dimana bahasa itu berasal dari bahasa yang lebih luas.

3.4.2 Klasifikasi tipologis

Dilakukan berdasarkan kasamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa.

Ada tiga kelompok :

1. hanya menggunakan dasar klasifikasi

2. menggunakan akar kata sebagai dasark klasifikasi

3. menggunakan bentuk sintaksis

Edward Sapin mengklasifikasi bahwa bahas-bahasa didunia menjadi tiga parlementer yaitu:

1. konsep-konsep gramatikal

2. proses-proses gramatikal

3. tingkat penggabungan morfem dalam kata

3.4.3 Klasifikasi areal

Berdasarkan adanya hubungan timabal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain didalam suatu areal/ wilayah tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetic atau tidak.

3.4.4 Klasifikasi sosiolinguistik

Berdasarkan status,fungsi,penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahsa itu.

3.5 Bahasa Tulis dan Sistem Aksara

Ada dua yaitu bahasa lisan(primer) dan bahasa tulis(sekunder). Bahsa tulis dapat disimpan lama sampai waktu yang tidak terbatas. Bahasa tulis juga merupakan rekaman bahasa lisan dan bisa disampaikan kepada orang lain yang berada dlam ruang dan waktu yang berbeda.

 

nooranta ekanandyah_1402408068_BAB 3

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 6:52 pm

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri;} h1 {mso-style-link:” Char Char3″; mso-style-next:Normal; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:6.0pt; margin-left:0cm; mso-add-space:auto; text-align:center; line-height:200%; mso-pagination:widow-orphan lines-together; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:14.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; font-weight:bold;} h1.CxSpFirst {mso-style-link:” Char Char3″; mso-style-next:Normal; mso-style-type:export-only; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; text-align:center; line-height:200%; mso-pagination:widow-orphan lines-together; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:14.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; font-weight:bold;} h1.CxSpMiddle {mso-style-link:” Char Char3″; mso-style-next:Normal; mso-style-type:export-only; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; text-align:center; line-height:200%; mso-pagination:widow-orphan lines-together; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:14.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; font-weight:bold;} h1.CxSpLast {mso-style-link:” Char Char3″; mso-style-next:Normal; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:6.0pt; margin-left:0cm; mso-add-space:auto; text-align:center; line-height:200%; mso-pagination:widow-orphan lines-together; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:14.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-font-kerning:0pt; font-weight:bold;} h2 {mso-style-link:” Char Char2″; mso-style-next:Normal; margin-top:10.0pt; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:17.85pt; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; text-indent:-17.85pt; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan lines-together; page-break-after:avoid; mso-outline-level:2; mso-list:l1 level1 lfo1; font-size:13.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN; font-weight:bold;} h3 {mso-style-link:” Char Char1″; mso-style-next:Normal; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:35.7pt; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; text-indent:-17.85pt; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan lines-together; page-break-after:avoid; mso-outline-level:3; mso-list:l2 level1 lfo2; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.CharChar3 {mso-style-name:” Char Char3″; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Heading 1″; mso-ansi-font-size:14.0pt; mso-bidi-font-size:14.0pt; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA; font-weight:bold;} span.CharChar2 {mso-style-name:” Char Char2″; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Heading 2″; mso-ansi-font-size:13.0pt; mso-bidi-font-size:13.0pt; mso-ansi-language:IN; mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA; font-weight:bold;} span.CharChar1 {mso-style-name:” Char Char1″; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Heading 3″; mso-ansi-font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA; font-weight:bold;} p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph {mso-style-name:”List Paragraph”; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri;} p.ListParagraphCxSpFirst, li.ListParagraphCxSpFirst, div.ListParagraphCxSpFirst {mso-style-name:”List ParagraphCxSpFirst”; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri;} p.ListParagraphCxSpMiddle, li.ListParagraphCxSpMiddle, div.ListParagraphCxSpMiddle {mso-style-name:”List ParagraphCxSpMiddle”; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri;} p.ListParagraphCxSpLast, li.ListParagraphCxSpLast, div.ListParagraphCxSpLast {mso-style-name:”List ParagraphCxSpLast”; mso-style-type:export-only; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:0cm; margin-left:36.0pt; margin-bottom:.0001pt; mso-add-space:auto; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:595.3pt 841.9pt; margin:44.95pt 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:35.45pt; mso-footer-margin:35.45pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:452675234; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:294177362 -749723722 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:35.85pt; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:998776691; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-2074712192 2015121426 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-style-link:”Heading 2″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1554583148; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-49909406 -367754060 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-style-link:”Heading 3″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l3 {mso-list-id:2118987312; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-471808338 444507376 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:35.85pt; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Nama : Nooranta Ekanandyah

NIM : 1402408068

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK: BAHASA

A. Pengertian Bahasa

Bahasa pada kalimat peristilahan de Saussure seperti yang sudah dibicarakan pada bab 2 adalah langue. Pada suatu langage (1), (2) dan (7) bahasa secara harfiah. Bahasa sebagai objek linguistik adalah definisi bahasa segi fungsinya itu, sapir (1221:8), Badudu (1989:3), Keraf (198:16), Kridalaksana (1983, dan juga dalam Djoko Kentjono 1982): “bahasa adalah definisi dari Barber (1964:21), Wardhaugh (1977:3), Trager (1949: 18), de Saussure (1966:16), Boliner (1975:15).

B. Hakikat Bahasa

1. Bahasa sebagai sistem

Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem ini dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu denan lainnya berhubungan secara fungsional. Dengan sistematis, artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola; tidak tersusun secara acak, secara sembarang. Sistemtis artinya baha itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-subsistem; atau sistem bawahan. sub-subsistem tersusun secara hierarkial. Artinya, subsistem yang satu terletak di bawah subsistem yang lain; lalu subsistem yang lain terletak pula di bawah subsistem lainnya lagi.

2. Bahasa sebagai lambang

Lambang dikaji dalam kegiatan ilmiah dalam bidang kajian disebut ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa. Semiotika atau semiologi oleh Charles Sanders Peirce Eropa oleh Ferdinand de Saussure adanya beberapa jenis tandam antara lain tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (symptom), gerak isyarat (gestur), kode, indeks dan ikon. Lambang itu sering disebut bersifat arbitrer. Arbitrer adalah tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya.

Sinyal atau isyarat adalah tanda yang disengaja dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu. Sinyal bersifat imperatif. Gerak isyarat atau gestur adalah tanda yang dilakukan dengan gerakan anggota badan dan tidak bersifat imperatif seperti pada sinyal. Gejala atau symptom adalah suatu tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan tanpa maksud, tetapi alamiah untuk menunjukkan atau mengungkapkan bahwa sesuatu akan terjadi. Ikon adalah tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripannya dengan sesuatu yang diwakili. Karena ikon disebut gambar dari wujud yang diwakilinya. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukkan adanya api. Ciri kode sebagai tanda adalah adanya sistem, baik yang berupa simbol, sinyal, maupun gerak isyarat yang dapat mewakili pikiran, perasaan, ide, benda dan tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu. Bahasa adalah suatu sistem lambang dalam wujud bunyi-bahasa bukan dalam wujud yang lain.

3. Bahasa adalah bunyi

Kridalaksana (1983:27) bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Bunyi pada bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bunyi bahasa atau bunyi ujaran (speech sound) adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam fenemik sebagai “fonem”.

4. Bahasa itu bermakna

Makna yang berkenan dengan morfem dan disebut makna leksikal; yang bekenan dengan frase, klausa dan kalimat makna framatikal; yang berkenan dengan wacana disebut makna pragmatik, atau makna konteks.

5. Bahasa itu arbiter

Istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

Ferdinand de Saussure (1966:67) dalam dikotominya signifiant (Inggris: signifier) dan signifie (Inggris: signified). Signifiant adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie adalah konsep yang dikandung oleh signifiant. Istilah penanda untuk lambang bunyi atau signifiant. Istilah petanda untuk konsep yang dikandungnya, atau diwakili oleh penanda tersebut. Hubungan antara signifiant atau penanda dengan signifie atau petanda itulah yang disebut arbitrer, sewenang-wenang, atau tidak ada hubungan wajib di antara keduanya.

6. Bahasa itu konvensional

Penggunaan lambang suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu memenuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

7. Bahasa itu produktif

Produktif adalah bentuk ajektif dari kata beda produksi. Produktif adalah “banyak hasilnya” atau lebih tepat “terus-menerus menghasilkan”. Bahasa produktif maksudnya, meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

Keterbatasan pada tingkat parole adalah pada ketidaklaziman atau kebelumlaziman bentuk-bentuk yang dihasilkan. Tingkat langue keproduktifan itu dibatasi karena kaidah atau sistem yang belaku.

8. Bahasa itu unik

Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Bahasa berisfat unik artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak berifat morfemis, melainkan sintaksis.

9. Bahasa itu universal

Bersifat universal artinya ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan. Bukti keuniversalan bahasa adalah bahwa setiap bahasa mempunyai satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah satuan yang namanya kata, frase, klausa, kalimat dan wacana.

10. Bahasa itu dinamis

Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat kegiatan manusia itu tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi tidak statis disebut dinamis.

11. Bahasa itu bervariasi

Yang termasuk dalam satu masyarakat bahasa adalah mereka yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu diketahui. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perorangan. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakt pada suatu tempat atau suatu waktu. Variasi bahasa berdasarkan tempat ini lazim disebut dengan nama dialek regional, dialek areal atau dialek geografi. Variasi bahasa yang digunakan pada madatertentu lazim disebut dialek temporal. Variasi bahasa yang digunakan sekelompok anggota masyarakat dengan status sosial tertentu disebut dialek sosial atau sosiolek.

Ragam atau bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu. Situasi formal diguankan ragam bahasa yang disebut ragam baku atau ragam standar, situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar. Dari sarana yang digunakan dapat ragam lisan dan ragam tulisan. Untuk keperluan pemakaiannya dapat ragam ilmiah, ragam bahasa jurnalistik, ragam bahasa sastra, ragam bahasa militer dan ragam bahasa hukum

12. Bahasa itu manusiawi

Membuat alat komunikasi manusia itu, yaitu bahasa, prokduktif dan dinamis, dalam arti dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru, bebeda dengan alat komunikasi hewan. Alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

C. Bahasa dan Faktor Luar Bahasa

Yang dimaksud dengan faktor-faktor di luar bahasa tidak lain daripada segala hal yang berkaitan dengan kegiatan manusia di dalam masyarakat, sebab itu tidak ada kegiatan yang tanpa berhubungan dengan bahasa. Objek kajian linguistik makro mulai dari kegiatan yang betul-betul merupakan kegiatan berbahasa, seperti penerjemahan, penyusunan kamus, pendidikan bahasa, sampai yang hanya berkaitan dengan bahasa seperti pengobatan dan pembangunan.

1. Masyarakat bahasa

Masyarakat bahasa adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Akibatnya lain dari konsep “merasa menggunakan bahasa yang sama”, maka patokan linguistik umum mengenai bahasa menjadi longgar.

2. Variasi dan status sosial bahasa

Ada dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakaiannya. Yang pertama adalah variasi bahasa tinggi (biasa disingkat variasi bahasa T), variasi bahasa rendah (biasanya disingkat R). Variasi T digunakan dalam situasi-situasi resmi, seperti pidato kenegaraan, bahasa pengantar dalam pendidikan, khotbah, surat-menyurat rtsmi dan buku pelajaran. Variasi T dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah. Variasi bahasa R digunakan dalam situasi yang tidak formal. Variasi R dipelajari secara langsung di dalam masyarakat umu, tidak pernah dalam pendidikan formal. Adnaya pembedaan variasi bahasa T dan bahasa R disebut dengan istilah diglosia (Ferugson 1964). Masyarakat yang mengadakan pembedaan ini sebut diglosis. Bahasa Yunani T disebut katherevusa, variasu bahasa Yunani R disebut dhimotiki; variasi bahasa Arab T disebut al-fusha, bahasa Arab R disebut ad-darij; jerman Swiss T disebut Schiftsdrache bahasa Jerman Swiss R disebut chweizerdeutsch. Bahasa Indonesia variasi bahasa T, barangkali sama dengan ragam bahasa Indonesia baku dan variasi bahasa R sama dengan bahasa Indonesia nonbaku.

3. Penggunaan bahasa

Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan, bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur, yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni:

a. Setting and scence, yiatu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

b. Participants, yaitu orang-orang yang terlibat dalam percakapan.

c. Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan.

d. Act sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.

e. Key, yaitu yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.

f. Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan atau bukan.

g. Norms, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.

h. Genres, yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

Dalam berkomunikasi lewat bahasa harus diperhatikan faktor-faktor siaa lawan atau mitra bicara kita, tentang atau topiknya apa, situasinya bagaimana, tujuannya apa, jalurnya apa (lisan atau tulisan), dan ragam bahasa yang digunakan yang mana.

4. Kontak bahasa

Dalam masyarakat yang terbuka, artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat, akan terjadilah apa yang disebut kontak bahasa. Orang yang hanya menguasai satu bahasa disebut monolingual, unilingual atau monoglot yang menguasai dua disebut bilingual, sedangkan yang menguasai lebih dari dua bahasa disebut multilingual, plurilingial atau poligot.

Boloomfiled mengartikan bilingual ini sebagai penguasaan yang sama baiknya oleh seseorang teradap dua bahasa. Uriel Weinrich (1968) mengartikan sebagai pemakaian dua bahasa oleh seseorang secara bergantian. Einar Haugen (1966) mengartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan tuturan yang lengkap dan bermakna dalam bahasa lain, yang bukan bahasa ibunya.

Dalam masyarakat yang bilingual atau multilingual akibat adanya kontak bahasa (dan juga kontak budaya), dapat terjadi peristiwa atau kasus yang disebut interferensi, integrasi, alihkode (code-switching) dan campurkode (code-mixing). Keempat peristiwa gejalanya sama, yaitu adanya unsur bahasa lain dalam bahasa yang digunakan; namun konsep masalahnya tidak sama. Interferensi adalah terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan, sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang sedang digunakan itu.

Dalam integrasi unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk itu, sudah dianggap, diperlakukan dan dipakai sebagai bagian dari bahasa yang menerimanya atau yang dimasukinya. alihkode, yaitu beralihnya penggunaan suatu kode (entah bahasa ataupun ragam bahasa tertentu) ke dalam kode yang lain (bahasa atau ragam bahasa lain). Campur kode ini dua kode atau lebih digunakan bersama tanpa alasan dan biasanya terjadi dalam situasi santai.

5. Bahasa dan budaya

Edwad sapir dan Benjamin Lee Whorf (dan oleh karena itu disebut hipotesis Sapir-Whorf) yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan. Atau dengan bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Karena eratnya hubungan antara bahasa dengan kebudayaan ini, ada pakar yang menyamakan hubungan keduanya itu sebagai bayi kembar siam, dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

D. Klasifikasi Bahasa

Klasifikasi dilakukan dengan melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bahasa. Greenberg (1957:66) suatu klasifikasi yang baik harus memenuhi persyaratan nonarbitrer, ekshaustik dan unik. Nonarbitrer adalah bahwa kriteria klasifikasi itu tidak boleh semaunya, hanya harus ada satu kriteria. Ekshaustik artinya setelah klasifikasi dilakukan tidak ada lagi sisanya. Semua bahasa yang ada dapat masuk ke dalam satu kelompok. Bersifat unik maksudnya kalau suatu bahasa sudah masuk ke dalam salah satu kelompok, dia tidak bisa masuk lagi dalam kelompok yang lain. Pendekatan untuk membuat klasifikasi tidak hanya satu yaitu: 1) pendekatan genetis, (2) pendekatan tipologis, (3) pendekatan areal, dan (4) pendekatan sosiolinguistik.

1. Klasifikasi genetis

Klasifikasi genetis, disebut juga klasifikasi geneologis, artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Keadaan dari sebuah bahasa menjadi sejumlah bahasa lain dengan cabang-cabang dan ranting-rantingnya memberi gambaran seperti batang pohon yang berbalik. Penemu teori ini, yaitu A. Schleicher, menamakannya batang pohon (bahasa Jerman: Stammbaumtheorie). Dilengkapi oleh J. Schmidt dalam tahun 1872 dengan teori gelombang (bahasa Jerman: Wellentheorie). Maksud teori gelombang ini adalah bahwa perkembangan atau perpecahan bahasa itu dapat diumpamakan seperti gelombang yang disebabkan oleh sebuah batu yang jatuh ke tanah kolam.

Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti, yaitu atas kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Yang dilakukan dalam klasifikasi genetis sebenarnya sama dengan teknik yang dilakukan dalam linguistik historis komparatif, yaitu adanya korespondensi bentuk (bunyi) dan makna. Hasil klasifikasi yang telah dilakukan dan banyak diterima orang secara umum adalah bahwa bahasa-bahasa yang ada di dunia ini terbagi dalam sebelas rumpun besar.

a. Rumpun Indo eropa.

b. Rumpun Hamito-Semit atau Afro-Asiatik.

c. Rumpun Chari-Nil.

d. Rumpun Dravida.

e. Rumpun Austronesia.

f. Rumpun Kaukasus.

g. Rumpun Finno-ugris.

h. Rumpun Paleo Asiatis atau Hiperbolis.

i. Rumpun Ural-Altai.

j. Rumpun Sino-Tibet.

k. Rumpun bahasa-bahasa indian.

Klasifikasi genetis ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa-bahasa di dunia ini bersifat divergenetif, yakni memecah dan menyebar menjadi banyak; tetapi pada masa mendatang karena situasi politik dan perkembangan yang konvergensif tampaknya akan lebih mungkin dapat terjadi.

2. Klasifikasi tipologi

Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Hasil klasifikasi ini menjadi besifat arbitrer, karena tidak terikat oleh tipe tertentu, melainkan bebas menggunakan tipe yang mana saja atau menggunakan berbagai macam tipe. Namun hasilnya itu masih tetap ekshaustik dan unik.

Klasifikasi pada tataran morfologi pada abad XIX secara garis besar dapat dibagi tiga kelompok, yaitu: Kelompok pertama, adalah yang semata-mata menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi. Fredrich Von tahun 1808 dan August Von Schlegel tahun 1818. Kelompok kedua, adalah menggunakan akar kata seabgai dasar klasifikasi. Franz Bopp dan Max Muller. Kelompok ketiga, adalah yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi oleh H. Seinthal dan Franz Misteli.

Pada abad XX ada juga dibuat pakar klasifikasi morfologi dengan prinsip yang berbeda, misalnya, yang dibuat Sapir (1921) dan J. Greenberg (1954) Edward Sapir menggunakan tiga parameter: (1) konsep-konsep gramatikal, (2) proses-proses gramatikal, dan (3) tingkat penggabungan morfem dalam kata. J. Greenberg mengembangkan gagasan Sapir dengan mengajukan lima parameter. (1) menyangkut jumlah morfem yang ada dalam sebuah kalimat, (2) menyangkut jumlah sendi (juncture) yang terdapat dalam sebuah konstruksi, (3) menyangkut kelas-kelas morfem yang membentuk sebuah kata (akar, derivasi, infleksi), (4) mempersoalkan jumlah afiks yang ada dalam sebuah konstruksi, (5) mempersoalkan hubungan kata dengan kata di dalam kalimat.

3. Klasifikasi areal

Klasifikasi areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu area atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara generik atau tidak. Klasifikasi ini bersifat nonekshaustik dan nonunik. Usaha klasifikasi berdasarkan areal ini pernah dilakukan oleh Wihelm Schmidt (1868-1954) dengan bukunya Die Sprachfamilien Und Sprachenkreise Der Ende, yang dilampiri dengan peta.

4. Klasifikasi sosiolinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat; tepatnya, berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. William A. Stuart tahun 1962 artikelnya “An Outline of Linguistic Typology For Descrimbing Multi Lingualism”. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat ciri.

Historisitas berkenan dengansejarah perkembangan bahasa atau sejarah pemakaian bahasa itu. Kriteria standarisasi berkenan dengan statusnya sebagai bahasa baku atau tidak baku, atau statusnya dalam pemakaian formal atau tidak formal. Vitalitas berkenan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakannya dlam kegiatan sehari-hari secara aktif atau tidak. Homogenesitas berkenan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan. Hasil klasifikasi bisa ekshaustik tetapi tidak unik.

E. Bahasa Tulis dan Sistem Akasara

Bagi linguistik bahsa lisan adalah primer, bahasa tulsi adalah sekunder. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang ditulsian seperti yang terjadi dengan kalau kita merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman. Bahasa tulsi sudah dibuat orang dengan pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati-hato, tanpa pertimbangan dan pemikiran, peluang untuk terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tuis sangat besar.

Para ahli dewasa ini memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambar-gambar yang terdapat di gua-gua di Altamira si Spanyol utara, dan di beberapa tempat lain. Gambar-gambar itu dengan bentuknya yang sederhana secara langsung menyatakan maksud atau konsep yang ignin disampaikan. Gambar-gambar seperti ini disebut piktogram sebagai sistem tulsian disebut piktograf.

Zaman modern, sesudah perang dunai II, Karel johnson seorang Jurnalis Belanda dan andre Eckard, seorang sarjana Jerman, mencoba mengembangkan sistem tulisan piktografik ini, yang disebut Pikto. Piktograf yang menggambarkan gagasan, ide, atau konsep ini disebut idegraf. Perkembangan selanjutnya piktograf atau ideograf ini berubah menjadi lebih sederhana, sehingga tidak tampak lagi hubungan langsung antrara gambar dengan hal yang dimaksud. Salah satu contoh adalah tulisan paku yang dipakai oleh bangsa Sumaria pada lebih kurang 4.000 SM. Aksara paku kemudian diambil oleh orang persia, yakni pada zaman Darius I (522-468 SM), tetapi tidak untuk menyatakan gambar, gagasan, atau kata, melainkan untuk menyatakan kata suku kata. Sistem disebut aksara silabis. Aksara Fenesia terdiri dari 22 buah suku kata. Dalam aksara Fenesia ini setiap aksara melambangkan satu konsionan yang diikuti oleh satu vokal. Aksara Arab yang digunakan di Malaysia disebut aksara jawi, bahasa Indonesia (waktu dulu) disebut Arab Melayu atau Arab Indonesia, bahasa Jawa disebut aksara pegon.

Huruf adalah istilah umum untuk graf dan grafem. Abjad atau alfabet adalah urutan huruf-huruf dalam suatu sistem aksara. Aksara adalah keseluruhan sistem tulisan, misalnya aksara. Aksara adalah keseluruhan sistem tulisan. Graf adalah satuan terkecil dalam aksara yang beluim ditentukan statusnya; grafem adalah satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku kata,atau morfem tergantung dari sistem aksara yang bersangkutan. Alograf adalah varian dari grafem. Kaligrafi secara harfiah diartikan sebagai seni menulis indah. Grafiti adalah corat-coret di dinding, tembok, pagar dan sebagainya dengan huruf-huruf dan kata-kata tertentu. Aksara latin adalah aksara yang tidak bersifat silabis. Ejaan yang ideal adlah ejaan yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya setiap huruf dipakai untuk melambangkan satu fonem.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.