Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

yuyun amalia_1402408067_BAB II Oktober 20, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:43 pm

NAMA : YUYUN AMALIA

NIM : 1402408067

BAB II

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

A. Keilmiahan Linguistik

Pada dasarnya setiap ilmu,termasuk ilmu linguistik,telah mengalami tiga tahap perkembangan, melip[uti :

1. tahap spekulasi ; tahap pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spikulatif artinya kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.

2. tahap observasi dan klasifikasi ; para ahli dibidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

3. tahap adanya perumusan teori ; setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Dari tiga tahap tersebut disiplin linguistik dapat dikatakan merupakan kegiatan ilmiah atau ketidak spekulatifan dalam penarikan kesimpulan juga merupakan ciri keilmiahan. Tindakan tidak spekulatif berarti tindakan itu dalam menarik kesimpulan harus didasarkan pada data empiris yakni data yang nyata adanya, yang didapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi.

B. Subdisiplin Linguistik

Beberapa pengelompokan nama-nama subdisiplin linguistik didasarkan pada :

1. Objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu, dapat dibedakan :

a. Linguistik umum

Linguistik yang ebrusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Pernyataan-pernyataan teoritis yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya.

b. Linguistik khusus

Linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu. Kajian khusus ini bisa juga dilakukan terhadap satu rumpun atau subrumpun bahasa.

2. objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa, dapat dibedakan :

a. Linguistik sinkronik

Mengkaji bahasa pada masa terbatas. Studi linguistik sinkronik ini biasa juga disebut linguistik deskriptif kerena berupaya mendiskripsikan bahasa secara apa adanya pada suatu masa tertentu.

b. Linguistik diakronik

Berupaya mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas. Kajian linguistik diakronik ini biasanya bersifat historis dan komparatif. Hasil kajian diakronik sering kali diperlukan untuk menerangjelaskan diskripsi studi sinkronik.

3. objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannta dengan berbagai faktor diluar bahasa, dapat dibedakan :

a. Linguistik mikro

Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal pada umumnya. Dalam linguistik mikro ada disiplin linguistik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan leksikologi. Studi linguistik mikro sesungguhnya merupakan studi dasar linguistik sebab yang dipelajari adalah struktur internal bahasa itu.

b. Linguistik makro

Linguistik makro menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor di luar bahasa. Linguistik makro terdapat subdisiplin yang sangat banyak seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, antropolinguistik,etnolinguistik, stilistika, filologi, dialektilogi, filsafat bahasa dan neurolonguistik

4. tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori belaka atau untuk tujuan terapan, dapat dibedakan :

a. Linguistik teoretis

Linguistik teoretis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk kepentingan teori belaka.

b. Linguistik terapan

Linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat.

5. teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis obyeknya

Dalam hal ini linguistik memiliki cabang atau bidang subdisiplin yang sangat luas. Karena luasnya cabang atau bidang linguistik ini, maka jelas tak akan ada yang bisa menguasai semua cabang atau bidang linguistik itu. Subdisiplin itu diantaranya linguistik tradisional, relasional, dan linguistik sistemik.

Meskipun cabang atau bidang linguistik itu sangat luas, yang dianggap inti dari ilmu linguistik itu hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa.

C. Analisis Linguistik

1. Struktur, Sistem dan Distribusi

Struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear. Struktur dapat dibedakan menurut tatanan sistematik bahasanya yaitu menurut susunan fonetis, alofonis, morfemis dan sintaksis. Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusu adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.

Dapatlah dikatakan akan adanya substitusi fonemis, morfemis dan sintaksis. Substitusi fonemis menyangkut penggantian fonem dengan fonem lain. Distribusi morfemis menyangkut masalah penggantian sebuah morfem dengan morfem lain. Distribusi sintaksis menyangkut masalah penggantian kata dengan kata, frase dengan frase atau klausa dengan kluasa lainnya.

2. Analisis Bawahan Langsung

Adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, baik satuan kata, frase, klausa ataupun satuan kalimat. Setiap satuan bahasa secara apriori diasumsikan terdiri dari dua buah konstituen yang langsung membangun satuan itu. Misalnya satuan bahasa kata “dimakan”. Unsur langsungnya di dan makan. Contoh satuan yang lebih besar, yang secara kuantitatif terdiri dari beberapa unsur seperti bentuk “dimakani” dimungkinkan unsur langsungnya “di” dan “makani” atau “dimakan” dan “–I”

Perbedaan tafsiran analisis lebih mungkin lagi dapat terjadi pada satuan bahasa yang lebih kompleks. Misalnya :

· Guru baru // datang atau Guru // baru datang

· Istri lurah // yang nakal atau Istri // lurah yang nakal

· Anak // dukun beranak atau Anak dukun // beranak

Maknanya tentu sudah jelas. Meskipun teknik analisis ini banyak kelmahannya tetapi analisis ini cukup memberi manfaat dalam menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada konteks wacananya dapat dipahami dengan analisis tersebut..

3. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain. Sedangkan analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun.

D. Manfaat Linguistik

Linguistik akan memberi manfaat langsung kepada mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa, diantaranya :

· Bagi linguistik sendiri pengetahuan yang luas mengenai linguistik sangat membantu dalam menyelasaikan dan melaksanakan tugasnya.

· Bagi peneliti, kritikus dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik.

· Bagi guru, pengetahuan linguistik sangat penting, mulai dari subdisiplin fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi sampai dengan pengetahuan mengenai hubungan bahasa dengan kemasyarakatan dan kebudayaan.

· Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik diperlukan yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, semantik, sosiolinguistik, kontrstif linguistik.

· Bagi penyusun kamus, semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya.

· Bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks karena memberi tuntunan dalam menyusun kalimat yang tepat, memilih kosa kata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku

· Bagi para politikus, dapat meredam dan menyelesaikan gejolak sosial yang tejadi dalam masyarakat akibat dari perbedaan dan pertentangan bahasa.

 

YUNUS AZMI 1402408079 BAB 8

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 7:41 pm

Nama : Yunus Azmi

NIM : 1402408079

BAB VIII

SEJARAH ALIRAN LINGUISTIK

  1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Berikut ini akan dijelaskan bagaimana terbentuknya tata bahasa tradisional dari zaman per zaman, mulai zaman Yunani sampai masa menjelang munculnya linguistic modern di sekitar akhir abad ke-19.

  1. Liguistik Zaman Yunani

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis waktu itu adalah pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomaly.

Para filsuf Yunani mempertanyakan, apakah bahasa itu bersifat alami (fisis) atau bersifat konvensi (nomos). Bersifat alami maksudnya bahasa itu mempunyai asal – usul, sumber dalam prinsip – prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri.

Bahasa bersifat konvensi maksudnya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

Pertentangan analogi dan anomaly menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur dan tidak teratur. Kaum analogi antara lain, Plato dan Aristoteles, berpendapar bahwa bahasa itu bersifat teratur, karena itulah orang dapat menyusun tata bahasa. Sebaliknya, kelompok anomaly berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur.

Dari studi bahasa pada zaman Yunani ini kita mengenal nama beberapa kaum atau tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahas ini.

  1. Kaum Sophis
  2. Plato (429 – 347 S.M.)
  3. Aristoteles ( 384 – 322 S.M. )
  4. Kaum Stoik
  5. Kaum Alexandrian

2. Zaman Romawi

Studi bahasa pada zaman Romawi dapat dianggap kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal, antara lain, Varro ( 116 – 27 S.M. ) dengan karyanya De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.

a. Varro dan De Lingua Latina

Dalam buku De Lingua Latina masih juga memperdbatkan masalah analogi dan anomaly seperti pada zaman Stoik di Yunani. Buku ini dibagi dalam bidang – bidang etimologi dan morfologi..

a) Etimologi, adalah cabang Linguistik yang menyelidiki asal – usul kata beserta artinya.

b) Morfologi, adalah cabang linguistic yang mempelajari kata dan pembentukannya.

Mengenai deklinasi, yaitu perubahan bentuk kata, Varro membedakan adanya 2 macam deklinasi, yaitu deklinasi naturalis dan deklinasi voluntaris.

a) Deklinasi naturalis, adalah perubahan yang bersifa alamiah, sebab perubahan itu dengan sendirinya dan sudah berpola.

b) Deklinasi voluntaris, adalah perubahan yang terjadi secara morfologis, bersifat selektif dan manasuka.

b. Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Beberapa segi yang patut dibicarakan dalam buku ini antara lain :

a) Fonologi

b) Morfologi

c) Sintaksis

3. Zaman Pertengahan

Dari zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi bahasa antara lain

a) Kaum Modistae,masih membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos dan pertentangan antara analogi dan anomaly.

b) Tata Bahasa Spekulstiva, merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin ke dalam filsafat skolastik.

c) Petrus Hispanus, bukunya berjudul Summulae Logicales.

4. Zaman Renaisans

Dianggap sebagai pembukaan abad pemikiran abad modern. Ada 2 hal yang perlu dicatat : (1) Selain menguasai bahasa Latin, sarjana – sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani dan bahasa Arab. (2) Selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani dan Arab, bahasa –bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa, dan malah j8ga perbandingan.

5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Ferdinand de Saussure dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. Masa antara lahirnya Linguistik Modern dengan masa berakhirnya zaman renainsans ada satu tonggak yang sangat penting dalam sejarah studi bahasa. Mengenai Linguistik tradisional di atas, maka scara singkat dapat dikatakan, bahwa :

a) Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan.

b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain.

c) Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara preskriptif, yakni benar atau salah.

d) Persoalan kebahasaan sering kali dideskripsikan dengan melibatkan logika.

e) Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.

  1. LINGUISTIK STRUKTURALIS

1. Ferdinand de Saussure

Dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale. Buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep :

a) Telaah sinkronik dan diakronik.

b) La Langue dan La Parole.

c) Signifiant dan Signifie.

d) Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik.

2. Aliran Praha

Aliran Praha terbentuk pada tahun 1926 atas prakarsa salah sorang tokohnya, yaitu Vilem mathesius (1882-1945).Dalam bidang Fonologi aliran Praha inilah yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Aliran Praha ini juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut morfonologi, bidang yang meneliti struktur fonologis morfem. Dalam bidang sintaksis, Vilem Mathesius mencoba menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional. Menurut pendekatan ini kalimat dapat dilihat dari struktur formalnya dan juga dari stuktur informasinya yang terdapat dalam kalimat yang bersangkutan. Struktur informasi menyangkut unsure tema dan rema. Tema adalah apa yang dibicarakan, sedangkan rema adalah apa yang dikatakan mengenai tema.

3. Aliran Glosematik

Aliran Glosematik lahir di Denmark. Tokohnya, antara lain, Louis Hjemslef (1899-1965), yang meneruskan ajaran Ferdinand de Sausure. Menurut Hjemslev teori bahasa haruslah bersifat sembarang saja, artinya harus merupakan suatu system deduktif semata-mata. Teori itu harus dapat dipakai secara tersendiri untuk dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang timbul dari premis-premisnya. Hjemslev menganggap bahasa itu mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi dan segi isi.

4. Aliran Firthian

Nama John R. firth (1890-1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Fonologi Prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada tiga macam pokok prosodi:

a) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem,

b) Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda,

c) Prosodiyang realisasi fonetinya melampaui satuan yang lebih besar daripada fonem – fonem suprasegmental.

Firth juga terkenal dengan pandangannya mengenai bahasa. Firth berpendapat bahwa bahasa harus memperhatikan komponen sosiologis.

5. Linguistic Sistemik

Nama aliran linguistic sistemik tidak dapat dilepaskan dari nama M.A.K. Halliday.

Pokok-pokok pandangan sistemik linguistic adalah

1. SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyrakatan bahasa.

2. SL memandang bahasa sebagai pelaksana

3. SL lebuh mengutamakan pemerian cirri-ciri bahasa tertentu beserta fariasi-fariasi

4. SL mengenal adanyagradasi atau kontinum.

5. SL, menggambarkan tiga tataran utama bahasa sebagai berikut :

SUBSTANSI

FORMA

SITUASI

Substansi fonik

Substansi grafis

Fonologi

grafologi

Leksis

gramatika

konteks

Tesis

Situasi

Langsung

Situasi luas

6. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Aliran ini berkembang pesat di Amerikapada tahun tiga puluhan dan lima puluhan. Faktor yang menyebabkan :

1. Pada masa itu linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa Indian yang belum diperikan.

2. Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim fisafat yang berkembang pada masa itu di amerika, yaitu filsafat behaviorisme.

3. Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik.

Aliran strukturalis yang dikembangkan bloomfield dengan para pengikutnya sering juga disebut aliran taksonomi, dan aliran Bloomfieldian atau post-Bloomfieldian. Karena bermula atau bersumber pada gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasi unsure-unsur bahasa berdasarkan hubungan hirarkinya.

7. Alirean Tagmemik

Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem. Yang dimaksud dengan Tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarakn untuk mengisi slot tersebut.

Satuan dasar sintaksis itu, yaitu tagmem, merupakan suatu system sel-empat-kisi, yang dapat digambarkan sebagai gbagan berikut :

Fungsi

Kategori

Peran

Kohesi

  1. LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN–ALIRAN SESUDAHNYA

1. Tata Bahasa Transformasi

Dalam buku Noam Chomsky yang berjudul Syntatic Structure pada tahun 1957, dan dalam buku Chomsky yang kedua yang berjudul Aspect of the Theory of Syntax pada tahun 1965. mengembangkan model tata bahasa yaitu transformational generative grammar, dalam bahasa Indonesia dsebut tata bahasa transformasi atau bahasa generatif. Tujuan penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Bahasa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang mempunyai makna maka haruslah dapat menggambarkan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah – kaidah yang tepat dan jelas. Syarat untuk memenuhi teori dari bahasa dan tata bahasa yaitu :

  1. kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat – buat.
  2. tata bahasa tersebut terus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistic tertentu.

Konsep language dan paroleh dari de sausure, Chomsky membedakan adanya kemampuan (kompeten) dan perbuatan berbahasa (performance). Jadi objeknya adalah kemampuan. Seorang peneliti bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian besar, barangkali, belum pernag didengarnya atau dilihatnya. Kemampuan membuat kalimat – kalimat baru disebut aspek kreatif bahasa

Dalam buku Tata Bahasa Transformasi lahur bersamaan dengan terbitnya buku Syntatic Structure tahun 1957. buku ini sering disebut “ Tata Bahasa Transformasi Klasik “.

Kemudian disusul aspect of the theory of syntax dalam buku ini Chomsky menyempurnakan teorinya mengenai sintaksis dengan mengadakan beberapa perubahan yang prinsipil. Tahun 1965 dikenal dengan standar teori, kemudian tahun 1972 diberi nama Extended Standard Theory, tahun 1975 diberi nama Revised Extended Standard Theory. Terakhir buku ini direvisi dengan nama Government and Binding Theory.

Dari kesimpulan tersebut terdiri dari 3 komponen :

  1. komponen sintetik
  2. komponen semantik
  3. komponen fologis

2. Semantik Generatif

Menurut semantic generatf, sudah seharusnya semantic dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika. Struktur logika itu tergaqmbar sebagai berikut :

Proposisi

Predikat Argumen 1 Argumen 2

Menurut teori semantic generatif, argument adalah segala dssesuatu yang dibicarakan; sedangkan predikat itu semua yang menunjukan hubungan, perbuatan, sifat , keanggotaan, dan sebagainya.

3. Tata Bahasa Kasus

Tata bahasa kasus diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore. Fillmore membagi kalimat atas :

1. Modalitas, yang berupa unsure negasi, kala, aspek, dan adverbia.

2. Proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus.

Kalimat

modalitas proposisi

negasi

kala

aspek

adverbial verba kasus 1 kasus 2 kasus 3

Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalh hubungan antara verba dengan nomina. Verba di sini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argument dalam teori semantic generatif.

4. Tata Bahasa Relasional

Sama halnya dengan tata bahasa transformasi, tata bahasa relasional juga berusaha mencari kaidah kesemestaan bahasa. Dalam hal ini tata bahasa relasional banyak menyerang tata bahasa transformasi, karena menganggap teori-teori tata bahasa transformasi tidak dapat diterapkan pada bahasa-bahasa lain selain bahasa inggis.

  1. TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Pada awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan dengan tujuan untuk kepentingan pemerintahan colonial. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 pemerintah colonial sangat memerlukan informasi mengenai bahasa-bahasa yang ada di bumi Indonesia untuk melancarkan jalannya pemerintahan disamping untuk kepentingan lain seperti penyebaran agama nasrani.

Konsep-konsep linguistic modern seperti yang dikembangkan oleh Ferdinan de Saussure sudah bergema sejak awal abad ke-20. Kemudain disusul oleh berbagai teori dan aliran seperti strukturalisme bloomfield pada tahun 30-an dan teori generatif transformasi pada tahun 50-an. Namun gema konsep linguistik modern itu baru tiba di Indonesia pada akhir sekali tahun 50-an.

Pendidikan formal linguistic di falkutas sastra dan dilembaga-lembaga pendidikan guru sampai akhir tahun 50-an masih terpaku pada konsep-konsep tatabahasa tradisional yang sangat bersifat normative.

Pada tanggal 15 November 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguis Indonesia ( MLI ). Tiga tahun sekali MLI mengadakan musyawarah nasional, yang acaranya selain membicarakan masalah organisasi juga mengadakan seminar mengenai linguistik. Selain acara seminar yang bersifat nasional yang diselenggarakan oleh pengurus pusat, banyak pula acara seminar yang diselenggarakan oleh pengurus komisariat di daerah.

Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwa, Dardjowidjojo, dan Soedaryanto, yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai berbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

Yubaedi Siron_1402408202_BAB 5

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 7:38 pm

BAB VI

6. TATARAN LINGUISTIK (3):

SINTAKSIS

6.1 Struktur Sintaksis

Struktur sintaksis terdiri dari fungsi, kategori dan peran sintaksis, serta alat-alat untuk membangun struktur tersebut.

Kategori sintaksis adalah sesuatu yang akan mengisi fungsi sintaksis sehingga menjadi bermakna. Yang termasuk kategori sintaksis yaitu : nomina, verba, ajektiva, dan numeralia.

Peran sintaksis yaitu peran kategori pada sintaksis, misalnya sebagai pelaku, sasaran, waktu, dan sebagainya.

Contoh :

Ibu menyapu halaman tadi pagi.

Fungsi subjek diisi oleh kata ibu yang berkategori nomina dan berperan sebagai pelaku.

Alat-alat yang digunakan dalam pembangunna struktuk sintaksis adalah urutan kata, bentuk kata,intonasi dan konektor.

Urutan kata merupakan letak atau posisi kata satu dengan yang lainnya dalam suatu konstruksi sintaksis. Bentuk kata di dalam Bahasa Indonesia juga mempengaruhi makna. Misal: melirik menjadi dilirik.

Intonasi menentukan perbedaan modus kalimat apakah itu kalimat deklaratif, interogatif atau yang lainnya.

Konektor biasanya berupa morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas tertutup, yang bertugas menghubungkan satu konstituen dengan lainnya. Ada dua macam konektor yaitu :

  1. Konektor koordinatif : menghubungkan dua konstituen setara. Kata hubung yang digunakan biasanya adalah dan, atau, tetapi.
  2. Konektor subkoordinatif : menghubungkan dua konstituen yang tidak setara atau bertingkat. Kata hubung yang digunakan adalah kalau, meskipun, karena.

6.2 Kata sebagai Satuan Sintaksis

Kata adalah satuan terkecil dan bebas dalam sintaksis. Terkecil karena tidak dapat dibagi lebih kecil lagi. Bebas karena dapat berdiri sendiri dalam kalimat atau sebagai penuturan.

Ada dua macam kata, yaitu :

  1. kata penuh

Kata yang dapat mengalami proses morfologi (bisa diberi imbuhan), dan dapat berdiri sendiri sebagai tuturan. Yang termasuk kata penuh yaitu kata yang berkategori nomina, verba, ajektiva, numeralia dan adverbia. Contoh : masak, memasak.

  1. Kata tugas

Kata yang tidak mengalmi proses morfologi, dan tidak dapat berdiri sebagai tuturan. Yang termasuk kata tugas yaitu kata yang berkategori preposisi dan konjungsi. Contoh : dan, meskipun.

6.3 Frase

6.3.1 Pengertian

Frase adalah satuan gramatikal berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif yang mengisi salah satu fungsi sintaksis. Pembentuk frase adalah morfem bebas. Frase tidak mempunyai predikat. Contoh : kamar mandi, bukan sepeda.

Frase mungkin untuk diselipi kata lain. Contoh : adik saya menjadi adik milik saya.

Salah satu unsur frase tidak dapat dipindahkan sendiri, melainkan harus bersama-sama. Contoh :

Nenek membaca koran di teras depan.

Depan nenk membaca koran di teras. (tidak berterima)

6.3.2 Jenis Frase

6.3.2.1 Frase eksosentrik

Yaitu frase yang komponennya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misal frase di pasar. Frase eksosentrik dibedakan menjadi :

- frase eksosentrik direktif

Frase eksosentrik yang komponen pertama berupa preposisi (di, dari, ke) dan komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina.

Frase ini disebut juga frase preposisional karena komponen pertama berupa preposisi. Contoh : di pasar, dari kayu jati, demi kemakmuran, dsb.

- frase eksosentrik non direktif

Frase eksosentrik yanga komponen pertama berupa artikulus si, sang atau kata lain seperti yang, para, kaum, sedang komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, ajektifa, dan verba. Contoh : si miskin, para jurnalis,kaum cendekiawan.

6.3.2.2 Frase endosentrik

Yaitu frase yang salah satu unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Salah satu unsurnya dapat menggantikan kedudukan keseluruhan. Contoh : sedang membaca menjadi membaca.

Frase endosentrik disebut juga frase modifikasi karena komponen kedua mengubah atau membatasi makna komponen pertama. Contoh : membaca, diberi sedang berarti pekerjaan sedang berlangsung.

Selain disebut sebagai frase modofikasi, juga sering disebut sebagai frase subordinatif karena salah satu komponennya berlaku sebagai komponen atasan (inti) dan yang lainnya sebagai komponen bawahan. Frase subordinatif, dilihat dari kategori intinya ada frase nomina, verba, ajektifa, dan numeral.

6.3.2.3 Frase koordinatif

Yaitu frase yang terdiri dari dua atau lebih komponen yang sederajat dan dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif (dan, atau, tetapi, baik…maupun). Contoh : sehat dan kuat, buruh atau majikan.

Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut frase parataksis. Contoh : hilir mudik, tua muda.

6.3.2.4 Frase apositif

Yaitu frase yang kedua komponmennya saling merujuk sesamanya sehingga urutannya dapat dipertukarkan. Contoh :

Pak Ahmad, guru saya, sedang sakit, menjadi

Guru saya, Pak Ahmad,sedang sakit.

6.3.3 Perluasan Frase

Biasanya dilakukan di sebelah kanan atau kiri. Dalam Bahasa Indonesia, perluasan frase sangat produktif karena :

1) untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus.

2) pengungakapan konsep kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar dan pembatas tidak dinyatakan dengan afiks.

3) keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci.

6.4 Klausa

6.4.1 Pengertian

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata berkonstruksi predikatif. Artinya dalam konstruksi itu wajib ada komponen (kata atau frase) yang berfunsi sebagai predikat. Dalam klausa, subjek juga wajib ada. Objek wajib ada jika predikat berupa verba transitif. Jika bukan verba transitif, maka yang muncul adalah pelengkap. Keterangan tidak wajib dalam klausa.

Klausa jika diberi intonasi final akan berpotensi menjadi kalimat mayor,sedang kata akan menjadi kalimat minor.

6.4.2 Jenis klausa

1) berdasarkan strukturnya :

- klausa bebas

yaitu klaua yang punya unsur-unsur lengkap sekurang-kurangnya subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat mayor.

- klausa terikat

struktur tidak l;engkap, mungkin hanya S saja, P saja, O saja, aau K saja dan tidak berpotensi menjadi kalimat mayor. Klausa ini biasa dikenali dengan adanya konjungsi subordinatif di depannya disebut klausa subordinatif (bawahan) yang hadir bersama klausa atasan.

2) berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya :

Dibedakan menjadi klausa verbal, numeral, nominal, ajektifal, advertbial, dan proposisional.

Klausa verbal dibedakan menjadi klausa transitif, intransitive, refleksif, dan resiprokal.

6.5 Kalimat

6.5.1 Pengertian

Kalimat adalah satuan yang langsung digunakan dalam berbahasa. Atau satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar , klausa, dilengkapi konjungsi bila diperlukan. Kalimat bisa berasal dari klausa yang diberi intonasi final.

6.5.2 Jenis kalimat

6.5.2.1 Kalimat inti dan non inti

Kalimat inti (dasar) adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif/netral, dan afirmasif. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non inti dengan berbagai transformasi : pemasifan, pengingkaran, penanyaan, dsb.

Kalimat inti + transformasi = kalimat non inti

6.5.2.2 Kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Perbedaan keduanya berdasarkan banyaknya klausa dalam kalimat. Jika terdiri dari satu klausa, disebut kalimat tunggal. Jika terdiri dari dua atau lebih klausa disebut kalimat majemuk.

Berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa dalam kalimat, kalimat majemuk dibedakan menjadi :

- kalimat majemuk koordinatif (setara)

Klausa-klausanya punya status yang sama. Biasanya dihubungkan dengan konjungsi dan, atau, tetapi dan lalu.

- kalimat majemuk subkoordinatif (bertingkat)

Klausa-klausanya punya status yang tidak sama. Klausa satu disebut klausa atasan, sedang lainnya disebut klausa bawahan. Konjungsi yang digunakan : kalau, ketika, meskipun, dan karena.

Kalimat majemuk kompleks yaitu kalimat yan terdiri dari tiga klausa atau lebih, ada yang dihubungkan secara koordinatif dan juga subkordinatif sehingga merupakan campuran dari koordinatif dan subkoordinatif dan disebut sebagai kalimat majemuk campuran.

6.5.2.3 Kalimat mayor dan minor

Perbedaannya berdasarkan lengkap tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar. Kalimat mayor harus punya subjek dan predikat.Jika tidak ada salah satunya, maka termasuk kalimat minor.

6.5.2.4 Kalimat verbal dan nonverbal

Kalimat verbal dibentuk dari klausa verbal, predikat berkategori verba. Kalimat verbal dibedakan menjadi kalimat intransitive, trnsitif, pasif, aktif, dinamis, dan statis.

Kalimat non verbal yaitu kalimat yang predikatnya bukan verba.

6.5.2.5 Kalimat bebas dan terikat

Pembedaan dikaitkan dengan paragraf yang kalimat-kalimatnya adalah satuan-satuan yang berhubungan.

Kalimat bebas dapat disendirikan, dapat memulai suatu paragraf dan berpotensi menjadi ujaran lengkap.

Sedang kalimat terikat tidak dapat disendirikan, harus terikat dengan kalimat lain, tidak dapat memulai suatu paragraf, dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah ujaran lengkap.

6.5.3 Intonasi kalimat

Intonasi merupkan ciri utama yang membedakan kalimat dari klausa.

Macam intonasi :

- Tekanan : ciri-ciri suprasegmental yang menyertai ujaran

- Tempo : waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran

- Nada : diukur berdasarkan kenyarinagn ssuatu segmen.

6.5.4 Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis

6.5.4.1 Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara. Atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya. Beberapa macam modus antara lain :

- modus indikatif / deklaratif : menunjukkan sikap objektif / netral.

- modus optatif : menunjukkan harapan / keinginan

- modus imperative : menunjukkan perintah / larangan

- modus anterogatif : menyatakan pertanyaan

-modus obligatif : menyatakan keharusan

- modus desideratif : menyatakan keinginan / kemauan

- modus kondisional : menyatakan persyaratan

6.5.4.2 Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal dalam suatu situasi. Macam aspek antara lain :

- aspek kontinuatif : menyatakan perbuatan terus berlangsung

- aspek repetitive : menyatakan perbuatan berulang-ulang

-aspek insentif : menyatakan perbuatan baru dimulai

- aspek progresif : menyatakan perbuatan sedang berlangsung

- aspek imperfektif : menyatakan perbuatan hanya berlangsunga sebentar

- aspek sesatif : menyatakan perbuatan sudah berakhir

6.5.4.3 Kala

Kala adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan yang disebutkan dalam predikat. Kala menyatakan waktu sekarang (sedang), sudah lampau (sudah), dan akan datang (akan).

Perbedaan kala dengan keterangan waktu adalah kala terikat pada predikatnya, sedang keterangan dapat berpindah di awal atau akhir kalimat.

6.5.4.4 Modalitas

Modalitas adalah keterangan yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, dapat berupa pernyataan kemungkinan, keinginan, keizinan dan yang lainnya. Jenis-jenis modalitas :

- intensional (keinginan, harapan, permintaan, dan ajakan)

- epistemik ( kemungkinan, kepastian, dan keharusan)

- deontik (keizinan, keperkenaan)

- dinamik (kemampuan)

6.5.4.5 Fokus

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehinggas perhatian pendengar / pembaca tertuju pada bagian itu. Dalam Bahasa Indonesia pemberian fokus dapat dilakukan dengan berbagai cara :

- pemberian tekanan

- mengedepankan bagian yang ditonjolkan

- memakai pertikel pun,yang,tentang dan adalah pada bagian tersebut

- mengontraskan dua bagian kalimat

- menggunakan konstruksi posesifanaforis beranteseden

6.5.4.6 Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku dengan perbuatan. Macam diatesis

- aktif (subjek melakukan pekerjaan)

- pasif (subjek dikenai pekerjaan)

- refleksif ( subjek berbuat untuk dirinya sendiri)

- resiprokal (subjek terdiri dari 2 pihak berbuat berbalasan)

- kausatif (subjek penyebab terjadinya sesuatu)

6.6 Wacana

6.6.1 Pengertian

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap dan merupakan satuan gramatikal teringgi. Wacana dibentuk oleh kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyaratan kewacanaan lainnya.

6.6.2 Alat wacana

Alat wacana digunakan untuk membuat wacana yang kohesif dan koheren. Ada 2 aspek, yaitu :

1) aspek gramatikal

- konjungsi (penghubung)

- kata ganti dia,-nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anaforis

- menggunakan elipsis (penghilangan bagian kalimat yang sama)

2) aspek semantic

- hubungan pertentangan

- generic-spesifik dan sebaliknya

- hub. Perbandingan

- hub sebab-akibat

- hub tujuan

- rujukan yang sama

6.6.3 Jenis wacana

1) Berdasarka sarana : wacana lisan dan tulis

2) Berdasarkan penggunaan bahasa : wacana prosa dan puisi

3) Berdasarkan isi : narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

6.6.4 Subsatuan wacana

Wacana yang berupa karangan ilmiah, dibangun oleh subsatuan bab, subbab,. paragraph, subparagarf. Wacana singkat tidak ada subsatuannya.

6.7 Catatan mengenai Hierarki Satuan

Satuan yang satu tingkat lebih kecil akan membentuk satuan yang lebih besar. Fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, wacana.

NAMA : YUBAEDI SIRON

NIM : 1402408202

ROMBEL : 05

 

alvi islami ni’mah 1402408088 bab 2

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:36 pm

Nama  :  alvi islami ni’mah
NIM    :   1402408088

2. LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu tentang bahasa; atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya; atau lebih tepat lagi seperti yang dikatakan Martinet (1987; 19), telaah ilmiah mengenai bahasa manusia.

2.1 KEILMIAHAN LINGUISTIK

Tiga tahap yang terjadi dalam setiap disiplin ilmu, termasuk juga ilmu disiplin, agar kita bisa memahami bagaimana sifat – sifat atau ciri – ciri keilmiahan dari suatu kegiatan yang disebut ilmiah

1. Tahap Spekulasi

Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti - bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur - prosedur tertentu.

Dalam studi bahasa dulu orang mengira bahwa semua bahasa di dunia ini diturunkan dari Bahasa Ibrani. Akan tetapi, itu hanya spekulasi yang pads zaman sekarang sukar diterima.

2. Tahap Observasi dan Klasifikasi

Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apa pun.

3. Tahap Perumusan Teori

Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah - masalah dasar dan mengajukan pertanyaan - pertanyaan mengenai masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dalam disiplin ilmu itu dirumuskan hipotesis atau hipotesis - hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan - pertanyyan itu, dan menyusun tes untuk menguji hipotesis - hipotesis terhadap fakta – fakta yang ada.

Disiplin linguistik dewasa ini sudah mengalami ketiga tahap di atas. Artinya, disiplin linguistik itu sekarang sudah bisa dikatakan merupakan Selain itu, ketidakspekulatifan dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu ciri keilmiahan. Tindakan tidak spekulatif dalam kegiatan ilmiah berarti tindakan itu dalam menarik kesimpulan atau teori harus didasarkan pads , yakni data yang nyata ada, yang didapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi.

Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara deduktif dan induktif yang dikerjakan secara beruntun.. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu baru ditarik suatu kesimpulan berdasarkan data empiris itu.

Dalam ilmu logika ada dua penalaran, deduktif dan induktif.

a. Induktif (khusus - umum

Mula - mula dikumpulkan data – data khusus; lalu, dari data - data khusus itu ditarik kesimpulan umum.

b. Deduktif (umum - khusus

Kebalikan dari induktif. Suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung Pada kebenaran kesimpulan umum yang lazim disebut premis mayor.

Premis Mayor Semua mahasiswa lulusan SMA

Premis Minor Nita seorang mahasiswa (data khusus)

kesimpulan deduktif Nita adalah lulusan SMA

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah - kaidah yang hakiki

dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik Bering juga disebut sebagai

Di muka sudah disebutkan bahwa linguistik mendekati bahasa. Pendekatan bahasa sebagai bahasa

ini, sejalan dengan ciri - ciri hakiki bahasa, dfapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut

1. Pertama, karma bahasa adalah bunyi ajaran, maka linguistik melihat bahasa sebgai bunyi. Artinya, bagi linguistik bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tubs adalah sekunder.

2. Kedua, karma bahasa itu bersifat unik, maka linguistic tidak beruasaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.

3. Ketiga, karma bahasa adalab suatu system, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsure yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsure yang sate dengan lainnya mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsure yang saling berhubungan, atau sebagai sitem itu, disebut. Lawannya, yaitu yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsure – unsure yang terlepas, yang berdiri sendiri - sendiri.

4. Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu (dinamis). Karena itu, linguistik mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik.

Sinkronik, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dalam kurun waktu tertentu, Studi ini bersifat deskriptif karma, hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pads kurun waktu yang terbatas itu.

Diakronik, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu. Studi ini lazim disebut

5. Kelima, karma sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif bukan secara peskriptif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang dan bukan apa yang menurut si peniliti seharusnya diungkapkan.

2.2 SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang - bidang bawahan (subdisiplin) atau cabang - cabang berkenaan dengan adnya hubungan disiplin itu dengan masalah - masalah lain. Pencababgan itu diadakan karma objek yang menjadi kajian disiplin ilmu. itu sangat luas atau menjadi luas karena perkembangan dunia ilmu.

Pengelompokan subdisiplin linguistik berdasarkan

a. objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu,

b, objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau sepanjang masa,

c. objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannya dengan

berbagai faktor di luar bahasa,

d, tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori atau untuk tujuan terapan, e, teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

2.2.1 Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistic umum dan linguistik khusus

Linguistik umum, linguistik yang berusaha mengkaji kaidah - kaidah bahasa secara umum.

Linguistik khusus, berusaha mengkaji kaidah - kaidah bahasa yang berlaku pads bahasa tertentu, seperti Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, atau Bahasa Jawa.

Kajian umum dan khusus ini dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa atau juga hanya pada tataran dari sistem bahasa itu. Oleh karena itu, mungkin ada studi mengenai fonologi umum atau khusus, morfologi umum atau khusus.

2.2.2 Berdasarkan objek kajiannya, apakah babasa pads mesa tertentu atau bahasa pads
sepanjang mass dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik den linguistik diakronik

Linguistik sinkronik, mengkaji bahasa pads mesa yang terbatas. Misal, mengkaji Bahasa Indonesia pads tahun due puluhan, Bahasa Inggris pads zaman William Shakespeare. Studi linguistik sinkronik ini biasa disebut , karena berupaya mendeskripsikan bahasa secara spa adanya pads mass tertentu.

Linguistik diakronik, mengkaji bahasa pads mesa yang tak terbatas. Kajian Iniguistik diakronik ini bersifat histories den komparatif. Sering disebut . Tujuan linguistik diakronik ini adalah untuk mengetahui sejarah struckural bahasa itu beserta dengan segala bentuk perubahan den perkembangannya.

2.2.3 Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu deism hubungannya dengan faktor – faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro den linguistik makro

Linguistik mikro, mengarahkan kajiannya pads struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal suatu bahasa pads umumnya. Sejalan dengan adanya subsistem bahasa, make deism linguistic mikro terdapat subdisiplin

a. Fonologi : menyelidiki ciri – ciri bunyi bahasa, cars terjadinya, den fungsinya deism sistem ketatabahasaan secara keseluruhan.

b. Morfologi : menyelidiki struktur kata, bagian - bagiannya, serfs cars pembentukannya.

c. Sintaksis : menyelidiki satuan - satuan kata den satuan – satuan lain di atas kata, hubungan seta dengan yang lainnya, serfs care penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran. Morfologi den sintaksis deism peristilahan tradisional biasanya berada deism seta bidang yaitu gramatika atau tats bahasa.

d. Semantik : menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun

kontekstual.

e. Leksikologi : menyelidiki leksikon atau kosa-kata suatu bahasa dari berbagai aspeknya.

Linguistik makro, yang menyelidiki bahasa deism kaitannya dengan faktor – faktor di luar bahasa. Subdisiplin linguistik makro

a. Sosiolinguistik subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa deism hubungan pemakaiannya di masyarakat, mambahas tentang pemakai den pemakaian bahasa, tempat pernakaian bahasa, tats tingkat bahasa, berbagai akibat adanya kontak due bush bahasa atau lebih, den ragam serfs waktu pemakaian ragam bahasa itu. Ilmu interdisipliner enters sosiologi den linguistik.

b. Psikolinguistik : subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku den akal budi manusia, termasuk bagaimana kemampuan berbahasa itu dapat diperoleh. Ilmu interdipliner enters psikologi den linguistik.

c. Antropolinguistik : subdisiplin linguistic yang mempelajari hubungan bahasa dengan budaya den pranata manusia. Ilmu interdisipliner enters antropologi den linguistik.

d. Stilistika subdisiplin linguistik yang rnempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk - bentuk karya sastra. Ilmu disipliner linguistik den susastra.

e. Filologi subdisiplin linguisti yang mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, din se iarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan - bahan tertulis. Bahan atau teks yang dikaji biasanya adlah naskah kuno atau naskah klasik yang dimiliki suatu bangsa. Ilmu disipliner enters linguistik, se iarah, den kebudavaan.

f. Filsafat bahasa subdisiplin linguistik yang mempelaiari kodrat hakiki den kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serfs dasar - dasar konseptul den teoritis linguistik. Dalam filsafat bahasa ini terlibat ilmu linguistic din ilmu filsafat.

g. Dialektologi subdisiplin linguistik yang mempelajari Batas - bates dialek den bahasa dalam suatu wilayah tertentu. Ilmu interdisipliner enters linguistik den geografi.

2.2.4 Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata - mate untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari - hari hiss dibedakan adanya linguistik teoritis den linguistik terapan

Linguistik teoritis, mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa – bahasa, atau iuQa terhadap hubungan bahasa dengan faktor - faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah - kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu (teori belaka ).

Linguistik terapan, mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor - faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah - masalah praktis yang terdapat dalam masyarakat. Missal, pemyelidikan linguistik untuk kepentingan pengajaran bahasa, penyusunan buku ajar.

2.2.5 Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistic structural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, den linguistik sistemik

Di luar bidang atau cabang yang sudah dibicarakan di atas masih ada bidang lain, yaitu yang menggeluti sejarah linguistik. Bidang sejarah linguistik ini berusaha menyelidiki perkembangan seluk beluk ilmu linguistik itu sendiri dari masa ke masa, serta mempelajari pengaruh ilmu - ilmu lain, dan pengaruh berbagai pranata masyarakat terhadap linguistik sepanjang masa.

2.3 ANALISTS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, vaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, den semantic.

2.3.1 Struktur. Sistem, dan Distribusi

Bapak linguistik modern, dalam bukunya Course de LinQuistiq_ue Generate membedakan adanya dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat anatara satuan - satuan bahasa, vaitu

1 Relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat enters satuan bahasa di dalam kalimat yang

kpnkret

1 Relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat. Hubungan asosiatif ini baru tampak bila suatu kalimat dibandingkan dengan kalimat lain. Misalnya, dalam kalimat : Dia mengikut ibunya terdapat 15 buah fonem yang berkaitan dengan cara tertentu; ada 3 buah kata yang hubungannya tertentu pula; dan ada 3 fungsi sintaksis, yaitu subjek, predikat, den objek, yang mempunvai hubungan yang tertentu pula.

Hubungan - hubungan yang teriadi di antara satuan - satuan bahasa itu, baik antara fonem yang satu dengan yang lain, maupun antara kata yang satu dengan yang lain, disebut bersifat sintagmatis. Jadi, hubungan sintagmatis ini bersifat linear, atau horizontal antara satuan yang satu dengan yang lain.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa struktur adalah susunan bagian - bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear. Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis. menurut susunan alofonis, menurut susunan morfemis. den menurut susunan sintaksis.

Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Ditribusi, menurut Leonard Bloomfield adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnva. Dari keterangan tersebut dapat dibedakan menjadi 3 penggantian (substitusi) suatu konstituen, yaitu

o Subtitusi fonemis

Menyangkut penggantian fonem dengan fonem yang lain.

Misalnya, dalam pasangan minimal dari Vs lari, kuda Vs kura, den tambal Vs tambat.

o Subtitusi morfemis

Menyangkut masalah penggantian sebuah modem dengan modem yang lainnva.

Misalnya, mengikut Vs diikuti Vs terikut; daya juang Vs medan juang; den tuna karya Vs

Tuna wisma.

o Distribusi Sintaksis

Menyangkut masalah penggantian kata dengan kata, frase dengan frase, atau klausa dens_ an klausa lainnya.

2.3.2 ANALISIS BAWAHAN LANGSUNG

Sering disebut jugA analisis unsur langsung, atau analisis bawahan terdekat adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur - unsur atau konstituen - konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan fase, satuan klausa, maupun satuan kalimat. Setiap satuan bahasa secara apriori diasumsikan terdirir dari due bush konstituen yang langsung membangun satuan itu.

Meskipun teknik analisis bawahan langsung ini banyak kelemahannya, tetapi analisis ini cukup memberi manffat dalam memahami satuan - satuan bahasa, bermanfaat dalam menghindari keambiguan karma satuan - satuan bahasa yang terikat pads konteks wacananya dapat dipahami dengan ‘analisis tersebut. Tanpa konteks wacana atau konteks paragraph tafsiran ganda memang bisa raja terjadi, tetapi dengan konteks wacan tafsiran ganda itu tidak mungkin terjadi. Misalnya pads kalimat : Istri lurah yang nakal. Setelah membacaa kalimat tersebut pasti akan muncul pertanyaan, yang nakal si lurch atau si istri?

233 Analisis Rangkaian Unsur den Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setai satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur - unsur lain. Misalnya, satuan tertimbun terdiri dari ter + timbun, satuan kedinginan terdiri dari dingin + ke­/-an. Jadi, dalam analisis rangkaian unsure ini setiap satuan “terdiri dari …” bukan “dibentuk dari …” sebagai hasil dari suatu proses.

Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan kata dasar timbun, bentuk kedinginan adalah hasil proses konfiksasi ke - /-an dengan loser dingin.

Dalam bahasa Indonesia ads sate persoalan sehubungan dengan analisis proses unsur ini. Misainya pads kata membangun din pembangunan.Membangun basil prefikasasi me- dengan bentuk dasar bangun. Make apakah bentuk pembanganan adalah basil proses konfiksasi pe- / -an dengan bentuk bentuk dasar bangun atau bukan, sebab makna pembangunan adalah ‘hal membangun’ atau ‘proses mambangun’. Jadi, secara semantis pembangunan adalah basil proses konfiksasi Iv-/ -an dengan dasar membangun. Atau setidaknya hares dikatakan bentuk pembangunan berasal dari verbs membangun, bukan dari verbs bangun.

Membangun => prefiksasi me- + bangun

Pembangunan => konfiksasi pe- /-an + membangun

2.4 MANFAAT LINGUISTIK

Linguistik akan memberi manfaat langsung kepada mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa, seperti linguis itu sendiri, guru bahasa, penerjemah, penyusun buku pelajaran, den sebagainya.

Bagi linguis sendiri pengetahuan yang loss mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan den melaksanakan tugasnya.

Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya - karya sastra dengan lebih baik, sebab bahasa, yang menjadi objek penelitian linguistik itu, merupakan wadah pelahiran karya sastra.

Bagi guru, terutama guru bahasa, pengetahuan linguistik sangat penting. Mereka yang menguasai pengetahuan linguistik akan daoat dengan lmudah menyampaikan mats pelajarannya.

Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik saja, tetapi juga yang berkenaan dengan sosiolinguistik din konstratif memilih terjemahan.

Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperlukan, sebab semua pengetahuan lingistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya.untuk big menyusun sebuah kamus dia hares mulai dengan menentukan fonem - fonem bahasa yang akan dikamuskan, menentukan ejaan atau grafem fonem - fonem tersebut memahami seluk beluk bentuk den pembentukan kata, struktur Erase, struktur kalimat, makna leksikal, makna gramatikal, makna konstektual, dan makna idiomatical, serta latar belakang social bahasa tersebut.

Bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks linguistik akan memberi tuntunan dalam menyusun kalimat yang tepat, memilih kosakata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku tersebut.

Bagi para negarawan atau politikus yang harUs memperiuangkan ideologi dAn konsep - konse kenegaraan atau Pemerintahan. secara lisan dia harUs menguasai bahasa dengan baik. Selanjutnya, kalau politikus atau negarawan itu menguasai masalah linguistic dan sosiolinguistik, khususnya, dalam kaitannya dengan kemasyarakatan, maka tentu dia akan dapat meredam dan menyelesaikan gejolak social yang terjadi dalam masyarakat akibat dari vperbedaan dan pertentangan bahasa. Di beberapa Negara yang multilingual, seperti India dan Belgia, pernah terjadi bentrokan fisik akibat masalah pertentangan bahasa.

 

WRESTA PERMANA _1402408008_BAB 2_ROMBEL 5

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:34 pm

Nama : Wresta Permana

NIM : 1402408008

BAB 2

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Lingusitik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai obyek kajiannya.

BENARKAH LINGUISTIK ADALAH SEBAGAI ILMU ???

A. Keilmiahan linguistik

Pada dasarnya setiap ilmu telah mengalami 3 tahap perkembangan,yaitu :

1. Tahap Spekulasi

Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif .

Artinya : kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa prosedur-prosedur tertentu .

2. Tahap observasi dan klarifikasi

Dalam tahap ini para ahli dibidang bahasa dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun .

3. Tahap adanya perumusan teori

Dalam tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha mendalami / memahami masalah-masalah dasar dan mengjukan pertanyaan – pertanyaan mengenai masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan . Kemudian dalam disiplin ilmu itu dirumuskan hipotesis / hipotesis-hipotesis yang berusaha menjawab pertanyanaan-pertanyaan itu dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada .

B. Metode yang digunakan dalam Linguistik

1. Metode Secara Induktif

Mula-mula dikumpulkan data khusus lalu dari data-data khusus ditarik kesimpulan umum .

2. Metode secara deduktif

Mula – mula dikumpulkan data-data umum lalu dari data – data umum ditarik kesimpulan khusus.

Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya itulah sebabnya bidang semantik tidak / kurang mendapatkan perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna yang menjadi obyek simantik yidak dapat diamati secara empiris .

Linguistik berusaha mencari keteraturan / kaidah – kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya karena itu linguistik linguistik sering disebut ilmu sebagai ilmu Nomotenik .

Pendekatan dan pandangan linguistik terhadap objek kajiannya yaitu bahasa . Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini sejalan dengan ciri – ciri hakiki bahasa . Pertama karenabahasa adalah bunyi ajaran ,kedua karena bahasa itu bersifat unik , ketiga karena bahasa adalah suatu sistem , keempat karena bahasa berubah dari waktu kewaktu ,kelima karena sifat empirisnya .

C. Subdisiplin Linguistik

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang – bidang bawahan / cabang – cabang berkenanan dengan masalah- masalah lain pembagian itu dilakukankarena obyek menjadikan disiplin ilmu itu sangant luas / menjadi luas karena perkembangan dunia ilmu.

Bahasa sepanjang masa dapat dibedakan adanya Linguisik sinkronik dan linguistik diakronik .

1. Linguistik Sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas . Studi Linguistik Sinkronik ini disebut juga linguistik Deskriptif .

2. Linguistik Diakronik berupaya mengkaji bahasa paa masa yang tidak terbatas . Kajian linguistik Diakronik ini biasanya bersifat historis dan komparatif .

Bahasa itu dalam hubungan dengan faktor – faktor luar bahasa itu dalam hubunganya dengan faktor – faktor diluar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan Linguistik Makro .

1. Linguistik Mikro mengarahkan kajiannya pada struktur Internalsuatu bahan tertentu .

2. Linguistik Makro menyelidiki bahasa dalam kajiannya dengan faktor – faktor dari luar .

Berdasarkan tujuannya penyelidikan Linguistik dapat dibedakan menjadi dua :

1. Linguistik Teoritis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa / bahasa – bahasa juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor – faktor yang berada diluar bahasa hanya untuk menemukan kaidah – kaidah yang berlaku dalam obyek kajiannya itu .

2. Linguistik Terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa / hubungan bahasa dengan faktor – faktor yang berada diluar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah – masalah praktis yang terdapat di masyarakat.

D. Struktur , Sistem, dan Distribusi

Bapak Linguistik modern “ Ferdinand de Saurseire (1857 – 1913) dalam bukunya Course de Linguistik General (1916) membedakan adanya dua jenis hubungan / relasi yang terapan antara satuan – satuan bahasa yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiasif.

1. Relasi Sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa didalam kalimat yang konkret tertentu . Hubungan Sintagmatik bersifat Linear / Horizontal antara satuan yang satu dengan yang lain yang berada di kiri dan kanannya.

2. Relasi Asosiasif Adalah Hubungan yang terdapat dalam bahasa namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat. Hubungan asosiasif baru tampak bila suatu kalimat dibandingkan dengan kalimat yang lain.

Louis Hjmelm ,linguis denmark menganti istilah asosiasif menjadi Paradikmatik. Sruktur dapat dibedakan menurut tatanan sistematik bahasanya , sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi , Distribusi merupakan masalah dapat tidaknya pergantian suatu konsituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konsituen yang lain.

E. Analisis Bawahan Langsung

Adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur – unsur / konsituen – konsituen yang membangun satu satuan bahasa , entah suatu kata , satuan frase , satuan klusa maupun satuan kalimat.

F. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis dan Analisis Proses Unsur

Suatu bagasa dapat pula dianalisis menurut teknik analisis rangkaian unsur dan analisis proses unsur.

1. Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk / ditata dari unsur – unsur lain.

2. Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari proses pembentukan.

G. Manfaat Linguistik

Setiap Ilmu pasti mempunyi manfaat praktis bagi kehidupan manusia begitu juga dengan Linguistik . Bagi guru pengetahuan Linguistik sangatlah penting mulai supdisiplin fonologi , morfologi , sampai dengan pengetahuan mengenai hubungan bahasa dengan kemasyarakatan dan kebudayaan . Guru akan dapat merumuskan kaidah – kaidah preskriptif dari kaidah – kaidah deskriptif sehingga pelajaran dapat berhasil dengan baik . Manfaat Linguistik bukan hanya untuk atau bagi guru, penerjemah , penyusun kamus , dan politikus juga sangat bermanfaat.

 

WIWIN RETNANI 1402408187 BAB 2

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:31 pm

Nama : Wiwin Retnani

NIM : 1402408187

Rombel : 04

Kelompok : 7

BAB 2

LINGUISTIK SEGAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.

KEILMUAN LINGUISTIK

Ilmu linguistik telah mengalami 3 tahap perkembangan :

a. Tahap pertama

Tahap spekulasi artinya pengambilan kesimpulan tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.

b. Tahap kedua

Tahap observasi dan klasifikasi artinya tahap mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

c. Tahap ketiga

Tahap perumusan teori. Tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan mengenai masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan dan menyusun tes untuk menguji hipotesis terhadap fakta yang ada.

· Linguistik mementingkan data empiris dalam penelitiannya. Kegiatan empiris bekerja secara induktif dan deduktif. Kegiatan dimulai dengan mengumpulkan data empiris, dianalisis, dan diklasifikasikan kemudian ditarik kesimpulan umum. Biasa disebut kesimpulan induktif.

Dalam ilmu logika terdapat penalaran induktif dan penalaran deduktif.

Penalaran induktif yaitu data-data khusus yang dikumpulkan lalu ditarik kesimpulan umum. Penalaran deduktif yaitu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang ada.

Kesimpulan deduktif dari premis mayor terhadap data khusus (premis Minor).

· Ciri-ciri hakiki bahasa :

1. Bahasa adalah bunyi ujaran, bahas lisan (primer) dan bahasa tulis (sekunder).

2. Bahasa bersifat unik, setiap bahasa memiliki ciri khas masing-masing meski terdapat beberapa kesamaan.

3. Bahasa adalah suatu sistem, bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan.

4. Bahasa bersifat dinamis (berubah dari waktu ke waktu). Secara sinkronik : mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada masa waktu tertentu atau terbatas. Studi sinkronik bersifat deskreptif, memberikan gambaran keadaan bahasa itu apa adanya. Secara diakronik : mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangan sepanjang kehidupan bahasa itu. Studi diakronik disebut studi historis komparatif.

5. Bersifat empiris, mendekati bahasa secara deskriptif tidak preskriptif.

SUBDISIPLIN LINGUISTIK

a. Berdasarkjan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya / bahasa tertentu.

ü Linguistik umum : mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum.

ü Linguistik khusus : mengkaji kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu.

b. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa.

ü Linguistik sinkronik : mengkaji bahasa pada masa terbatas (linguistik deskriptif).

ü Linguistik diakronik : mengkaji bahasa pada masa tidak terbatas (bersifat historis dan komparatif)

Tujuannya untuk mengetahui sejarah struktural dengan segala perubahan dan perkembangannnya.

c. Berdasarkan objek kajiannya, struktur internal bahasa (hubungannya dengan faktor di luar bahasa)

ü Linguistik mikro : Kajiannya pada struktur internal bahasa.

ü Linguistik makro : menyelidiki bahasa yang berkaitan dengan faktor di luar bahasa.

Sub disiplin linguistik makro :

a. sosiolinguistik : mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.

b. Antropolinguistik : mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.

c. Stilistika : mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk karya sastra.

d. Filologi : mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa terdapat dalam bahan tertulis.

e. Dialektologi : mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

d. Berdasarkan tujuannya

ü Linguistik teoretis : beruasaha untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu.

ü Linguistik terwapan :beruasaha memecahkan masalah-masal praktis yang terdapat di dalam masyarakar.

e. Berdasarkan aliran atau teori

ü Linguistik tradisional

ü Linguistik struktural

ü Linguistik transformasional

ü Linguistik generatif semantik

ü Linguisti relasional

ü Linguistik sistemik

ANALISIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa (semua tataran tingkat bahasa) yaitu fonetik, fenemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

a. Struktur, Sistem dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dalam buku Course de Linguistique General. Membedakan dua jenis hubungan antara satuan-satuan bahasa relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkrit. Relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa namun tidak tampak dalam susunan kalimat.

b. Analisis bawahan langsung

Sering disebut juga analisis unsur langsung yaitu suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur yang membangun suatu satuan bahasa, kata, frase, klausa, kalimat. Manfaatnya menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada wacana.

c. Analisis rangkaian unsur : bahwa setiap satuan bahasa ditata dari unsur-unsur laijn.

Analisi persis unsur : merupakan hasil dan proses pembentukan.

MANFAAT LINGUISTIK

Linguistik akan memberi manfaat langsung bagi mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa (linguis, guru bahasa, penyusun buku dan lain-lain).

 

Winda Kurniasari_1402408120_BAB 7

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 7:27 pm

Nama : Winda Kurniasari

NIM : 1402408120

BAB 7

7 TATARAN LINGUISTIK (4) : SEMANTIK

Semantik dengan objeknya, yakni makna berada di seluruh atau di semua tataran bangun membangun ini. Makna berada di dalam tataran fonologi, morfologi dan sintaksis.

Oleh karena itu, penanaman tataran untuk semantik agar kurang tepat sebab dia bukan satu tataran dalam arti unsur pembangun satuan lain yang lebih besar, melainkan merupakan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun sifat kehadirannya itu tidak sama.

Subsistem gramatik, fonologi dan morfofemik bersifat sentral. Subsistem semantik dan fonetik bersifat periperal. Subsistem semantik bersifat periferal karena makna yang menjadi objek semantik adalah sangat tidak jelas, tidak dapat diamati secara empiris. Tetapi sejak Chomsky, Bapak linguistik transformasi menyatakan betapa pentingnya semantik dalam studi linguistik, semantik tidak lagi periferal melainkan menjadi objek yang setaraf dengan bidang-bidang studi linguistik lainnya.

7.1. Hakikat Makna

Menurut Ferdinand de Saussure setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari dua komponen yaitu signifian “yang mengartikan” dan signifie “yang diartikan”

Jadi makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada tanda linguistik. Tanda linguistik bisa berupa kata atau leksem maupun morfem.

Banyak pakar juga menyebutkan bahwa makna sebuah kata dapat ditentukan apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya, wacananya dan situasinya. Karena bahasa itu bersifat arbitrer (tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa dengan pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut ð kuda kenapa tidak daku. Maka hubungan makna dan kata juga bersifat arbitrer.

7.2. Jenis Makna

7.2.1. Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna leksikal adalah makna sebenarnya makna yang sesuai dengan hasil observasi kita, maka apa adanya atau makna yang ada dalam kamus.

Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal seperti afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya dalam proses gramatikal seperti afikasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi. Umpamanya dalam proses afikasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal “memakai baju”.

Makna kontekstual adalah makna sebuak leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks.

Contoh: Rambut di kepala nenek belum ada yang putih

Sebagai kepala sekolah dia sudah berwibawa

Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya yakni tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu.

7.2.2. Makna Referensial dan Non-referensial

Sebuah kata disebut bermakna referensial kalau ada referensi-nya atau acuannya. Misal kuda, gambar, merah. Kata-kata yang tidak mempunyai referens, misal dan, atau, karena adalah kata-kata yang tidak bermakna referensial.

Berkenaan dengan acuan, kata-kata deiktik adalah kata yang acuannya tidak menetap pada satu maujud. Yang termasuk kata-kata deiktik ini adalah kata-kata yang termasuk pronomina, seperti dia, saya, dan kamu; kata-kata yang menyatakan ruang, seperti di sini dan di situ.

7.2.3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem.

Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif tadi yang berhubungan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.

Konetasi sebuah kata bisa berbeda antara seseorang dengan orang lain, daerah satu dengan yang lain.

7.2.4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata atau leksem berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misal, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci.

7.2.5. Makna Kata dan Makna Istilah

Dalam penggunaannya makna kata baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya.

Berbeda dengan kata, maka yang disebut istilah mempunyai makna yang pasti yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat.

7.2.6. Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun gramatikal.

Contoh: membanting tulang dengan makna bekerja keras.

Ada dua macam idion, yaitu idion penuh dan idiom sebagian.

Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan.

Misal: membanting tulang, meja hijau.

Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikal sendiri.

Misal: daftar hitam, buku putih.

Peribahasa memiliki makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.

7.3. Relasi Makna

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya.

Dalam pembicaraan tentang relasi makna biasanya dibicarakan masalah-masalah yang disebut sinonim, antonim, polisemi, hiponimim ambiquiti dan redundansi.

7.3.1. Sinonim

Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan ujaran lainnya.

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Itu terjadi karena beberapa faktor, antara lain:

- Faktor waktu, misal hulubalang dengan komandan

- Faktor tempat, misal saya dengan beta

- Faktor keformalan, misal uang dengan duit

- Faktor sosial, misal saya dengan aku

- Faktor bidang kegiatan, misal matahari dengan surya

- Faktor nuansa makna, misal melihat, melirik, menonton, meninjau,

dan mengintip.

7.3.2. Antonim

Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain.

Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonimi itu dapat dibedakan beberapa jenis, antara lain:

1. Antonimi yang bersifat mutlak. Misalnya hidup dengan mati

2. Antonimi yang bersifat relatif atau bergradasi. Misal besar dengan kecil

3. Antonimi yang bersifat relasional. Misal, suami dengan istri.

4. Antonimi yang bersifat hierarkial. Misal, gram dengan kilogram.

Ada satuan ujaran yang memiliki pasangan antonim lebih dari satu disebut antonimi majemuk.

7.3.3. Polisemi

Sebuah kata atau ujaran disebut polisemi kalau kata itu mempunyai makna lebih dari satu. Dalam kasus polisemi, biasanya makna pertama adalah makna sebenarnya, yang lain adalah makna yang dikembangkan.

7.3.4. Homonimi

Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda.

Misal, bisa “racun” dengan bisa “sanggup”

Pada homonimi adalah adanya kesamaan bunyi (fon) antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaannya.

Misal, bisa “racun” dengan bisa “sanggup”

Bang “abang” dengan bank “lembaga keuangan”

Istilah homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografi-nya atau ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.

Contoh kata teras /taras/ yang maknanya bagian serambi rumah.

Untuk membedakan homonimi atau polisemi adalah maknanya. Jika polisemi maknanya ada hubungannya satu sama lain. Homonimi maknanya tidak ada hubungan sama sekali.

7.3.5. Hiponimi

Hiponimi adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Misal kata merpati dengan kata burung. Maka kata merpati tercakup dalam makna kata burung. Makna kata merpati berhiponim dengan burung berhipernim dengan merpati.

7.3.6. Ambiquiti atau Ketaksaan

Ambiquisi adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda.

7.3.7 Redundansi

Redundansi biasanya diartikan berlebih-lebihannya penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Misal, bola itu ditendang oleh Dika. Kata oleh inilah yang dianggap redundans karena bisa dibuat kalimat bola ditendang Dika.

7.4. Perubahan Makna

Secara sinkronis atau masa yang relatif singkat makna sebuah kata tidak akan berubah, tetapi secara diakronis atau masa yang relatif lama ada kemungkinan dapat berubah yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:

1. Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi

2. Perkembangan sosial budaya

3. Perkembangan pemakaian kata

4. Pertukaran tanggapan indra

5. Adanya asosiasi

Dalam pembicaraan mengenai perubahan makna ini biasanya dibicarakan juga usaha untuk “menghaluskan” atau “mengkasarkan” ungkapan.

Ungkapan untuk menghaluskan disebut eutemia. Dan usaha untuk mengkasarkan disfemia.

7.5. Medan Makna dan Komponen Makna

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim, dimana kata-kata yang berada dalam satu medan makna.

Sedangkan usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsur-unsur makna yang dimilikinya disebut analisis komponen makna.

7.5.1. Medan Makna

Medan makna adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu.

Kata-kata yang mengelompok dalam satu medan makna, berdasarkan sifat hubungan semantisnya dapat dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set.

7.5.2. Komponen Makna

Komponen makna ini dapat dianalisis, dibutiri, atau disebutkan satu per satu berdasarkan “pengertian-pengertian” yang dimilikinya. Umpama kata ayah mempunyai komponen maka /+manusia/, /+dewasa/, /+jantan/, /+kawin/, /+punya anak/.

Analisis komponen makna ini dapat dimanfaatkan untuk mencari perbedaan dari bentuk-bentuk yang bersinonim.

Misal:

Komponen Makna

Ayah

Bapak

1. Manusia

2. Dewasa

3. Sapaan kepada orang tua laki-laki

4. Sapaan kepada orang yang dihormati

+

+

+

-

+

+

+

+

Catatan tambahan, analisis makna dengan mempertandakan ada (+) atau tidak adanya (-) komponen makna pada sebuah butir leksikal disebut analisis biner, analisis dua-dua.

7.5.3. Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Ketidakberterimaan sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal, tetapi juga masalah semantik.

Contoh:

1. Kambing yang Pak Udin terlepas lagi

Ketidakberterimaan kalimat tersebut adalah karena kesalahan gramatikal, yaitu adanya konjungsi yang antara kambing dan Pak Udin.

2. Segelas kambing minum setumpuk air

Ketidakberterimaan kalimat ini bukan karena kesalahan gramatikal, tetapi karena kesalahan persesuaian klasikal.

3. Kambing itu membaca komik

Kalimat ini tidak berterima karena tidak ada persesuaian semantik antara kata kambing sebagai pelaku dengan kata membaca sebagai perbuatan yang dilakukan kambing itu.

4. Penduduk DKI Jakarta sekarang ada 50 juta jiwa

Ketidakberterimaan kalimat ini adalah karena kesalahan informasi.

Kalimat (2) dan (3) tidak berterima karena kesalahan semantik, kesalahan itu berupa tidak adanya persesuaian semantik di antara konstituen-konstituen yang membangun kalimat itu.

Analisis persesuaian semantik dan sintaktik ini tentu saja harus memperhitungkan komponen makna kata secara terperinci.

Selain diperlukan keterperincian analisis, masalah, metafora, tampaknya juga perlu disingkirkan, sebab kalimat-kalimat metaforis seperti (5) adalah berterima 5 bangunan itu menelan biaya 100 juta rupiah.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.