Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Susi Nur Khamidah_1402408157_bab 2 Oktober 25, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 12:19 pm

Nama : Susi Nur Khamidah

NIM : 1402408157

2. Linguistik Sebagai Ilmu

1. Keilmiahan Linguistik

Tahap-tahap perkembangan disiplin ilmu:

1. Tahap spekulasi

Adalah tahap pembicaraan mengenai sesuai dan cara mengambil kesimpulan dilakukan secara spekulatif, tanpa menggunakan bukti-bukti empiris dan prosedur-prosedur tertentu.

2. Tahap observasi dan klasifikasi

Adalah tahap mengumpulkan dan menggolongkan dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apa pun.

3. Tahap perumusan teori

Adalah tahap memahami masalah dasar dan mengajukan pertanyaan mengenai masalah berdasarkan data empiris. Kemudian dirumuskan hipotesis.

Ciri-ciri hakiki bahasa

1. Bahasa adalah bunyi ujaran

2. Bahasa itu unik

3. Bahasa adalah suatu sistem

4. Bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu (dinamis)

5. Bahasa itu deskriptif

2. Subdisiplin Linguistik

1. Berdasarkan objek kajian, apakah bahasa pada umumnya/bahasa tertentu

a. Linguistik umum

b. Linguistik khusus

2. Berdasarkan objek kajian apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa

a. Linguistik sinkronik (deskriptif)

b. Linguistik diakronik (historik komparatif)

3. Berdasarkan objek kajian struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa

a. Linguistik mikro

1. Fonologi

2. Morfologi

3. Sintaksis

4. Semantik

5. Leksikologi

b. Linguistik makro

1. Sosiolinguistik

2. Psikolinguistik

3. Antopolinguistik

4. Etnolinguistik

5. Statistika

6. Filologi

7. Dialektologi

8. Filsafat bahasa

9. Neurolonguistik

4. Berdasarkan tujuan

a. Linguistik teoritis

b. Linguistik terapan

5. Berdasarkan aliran/teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa

a. Linguistik tradisional

b. Linguistik struktural

c. Linguistik tansformasional

d. Linguistik generatif semantik

e. Linguistik relasional

f. Linguistik sistemik

3. Analisis Linguistik

1. Struktur, sistem, dan distribusi

a. Sistem

1. Relasi sintakmatik

2. Relasi asosiatif

b. Struktur

1. Susunan fonetis

2. Susunan alofonis

3. Susunan morfemis

4. Susunan sintaksis

c. Distribusi

1. Distribusi morfemis

2. Distribusi sintaksis

2. Analisis bawahan langsung (a. unsur langsung = A, bawahan terdekat = Immediate Constituent Analysis)

Adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa.

3. Analisis rangkaian unsur dan analisis proses unsur

Ÿ Analisis rangkaian unsur adalah cara analisis yang menganggap setiap satuan bahasa dibentuk/ditata dari unsur-unsur lain.

Ÿ Analisis proses unsur adalah cara analisis yang menganggap setiap satuan bahasa merupakan hasil suatu proses pembentukan.

4. Manfaat linguistik

a. Bagi linguis

Membantu menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya.

b. Bagi peneliti, kritikus dan peminat sastra

Membantu dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik.

c. Bagi guru

Melatih keterampilan berbahasa, menulis (mengarang) ð guru bahasa, dan dapat dengan lebih mudah menyampaikan mata pelajarannya ð guru bidang studi lain.

e. Bagi penyusun kamus (leksikografer)

Membantu menyelesaikan tugas dalam hal menyusun kamus.

f. Bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks

Memberi tuntunan dalam menyusun kalimat yang tepat dan memilih kosakata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku tersebut.

g. Bagi negarawan/politikus

Membantu dalam memperjuangkan ideologi dan konsep-konsep kenegaraan atau pemerintahan.

Membantu meredam dan menyelesaikan gejolak sosial dalam masyarakat dari perbedaan dan pertentangan bahasa.

 

Wahyu Hidayat_1402408267_bab 8

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 12:16 pm

Nama : Wahyu Hidayat

NIM : 1402408267

8. SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Pada bab 2 disebutkan bahwa studi linguistik mengalami 3 tahap pengembangan yaitu tahap spekulasi, tahap observasi dan klasifikasi dan yang terakhir disebut tahap perumusan masalah.

8.1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Istilah tradisional bertentangan dengan istilah struktural, sebagai akibat pendekatan keduanya yang tidak sama terhadap hakikat bahasa.

8.1.1. Linguistik Zaman Yunani

Studi bahasa zaman Yunani mempunyai sejarah yang sangat panjang kurang lebih sekitar 600 tahun, kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguistik yaitu (1) antara fisis dan nomos, dan (2) antara analogi dan anomali.

Sifat fisis atau alami maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri, tapi kaum konvensional, berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi. Artinya makna-makna itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

Pertentangan analogi dan anomali mengenai bahasa itu sesuatu teratur atau tidak teratur. Kaum analogi, antara lain Plato dan Aristoteles berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur.

8.1.1.1. Kaum Sophis

Kaum ini muncul pada abad ke-5 SM dan dikenal dalam studi bahasa, karena:

a) Mereka melakukan kerja secara empiris

b) Mereka melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu

c) Mereka sangat mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa

d) Mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna

8.1.1.2. Plato (429 – 347 SM)

Dalam studi bahasa dikenal karena :

a) Memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya dialog. Juga masalah bahasa alamiah dan konvensional.

b) Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara anomata dan rhemata.

c) Dialah orang pertama kali membedakan kata dalam anoma dan rhema.

8.1.1.3. Aristoteles (384 – 322 SM)

Dia salah satu murid Plato yang terkenal, karena:

a) Ia menambahkan satu kelas kata yaitu dengan Syndemoi dengan pengertian adalah kata yang berhubungan dengan/bertugas dalam hubungan sintaksis.

b) Membedakan jenis kelamin kata menjadi tiga yaitu maskulin, feminin dan neutron.

8.1.1.4. Kaum Stoik

Kaum ini berkembang pada abad ke 4 SM, dan terkenal karena :

a. Membedakan studi bahasa secara logika dan tata bahasa.

b. Menciptakan istilah-istilah khusus.

c. Membedakan tiga komponen utama.

d. Membedakan legin.

e. Membagi jenis kata menjadi 4.

f. Mereka membedakan kata kerja komplet dan tak komplet.

8.1.1.5. Kaum Alexandrian

Dengan paham analoginya mereka mewariskan buku yang disebut tata bahasa Dionysius thrax sebagai hasil menyelidik kereguleran bahasa Yunani.

Sezaman dengan sarjana Yunani, Panini dari India tahun 400 SM sarjana hindu menyusun kurang lebih 4000 pemerian struktur bahasa Sanskerta, sehingga Leonard Boomfield (1887 – 1949) tokoh Amerika menyebutnya sebagai one of the greatest monuments of human intelligence dengan bukunya yang bernama Astdhyasi.

8.1.2. Zaman Romawi

Studi bahasa zaman romawi merupakan kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh zaman Romawi yang terkenal adalah Varro (116 – s75 SM) dan Priscia.

8.1.2.1. Varro dan “De Lingua Latin”

Dalam buku ini Varro memperdebatkan analogi dan anomali dalam tiga bidang antara lain bidang etimologi, morfologi, dan sintaksis.

a) Etimologi, adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal-usul kata beserta artinya.

b) Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya.

c) Sintaksis yaitu tata susunan kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai.

8.1.2.2. Tata Bahasa Priscia

Dalam sejarah studi bahasa, buku tata bahasa ini yang terdiri dari 18 jilid (16 jilid mengenai morfologi, dan 2 jilid mengenai sintaksis) dianggap sangat penting, karena:

a) Merupakan buku tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya.

b) Teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaaan bahasa secara tradisional.

8.1.3. Zaman Pertengahan

Studi bahasa pada zaman pertengahan di Eropa mendapat perhatian penuh terutama oleh filsuf skolastik dan bahasa Latin menjadi Lingua Franca, di zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi bahasa, antara lain adalah peranan kaum modistae, tata bahasa spekulativa, Petrus Hispanus.

8.1.4. Zaman Renaisans

Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern. Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman Renaisans yang menonjol yang perlu dicatat, yaitu: 1) selain menguasai bahasa Latin sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani, dan bahasa Arab. 2) selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani, dan Arab bahasa-bahasa Eropa lain juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusulan tata bahasa dan malah juga perbandingan.

8.1.5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Masa antara lahirnya linguistik modern dengan masa berakhirnya zaman renaisans, ada tonggak yang penting yaitu adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sanskerta dan Yunani, Latin dan Jerman lainnya yang ditemukan oleh sir William Jones dari East India Company di hadapan The Royal Asiatic di Kalkuta pada tahun 1786.

8.2. LINGUISTIK STRUKTURALIS

Linguistik strukturalis berusaha mendiskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Hal ini merupakan kaibat dari konsep-konsep atau pandangan-pandangan baru terhadap bahasa dan studi bahasa yang dikemukakan oleh bapak Linguistik Modern.

8.2.1. Ferdinand de Saussure (1857 – 1913)

Dianggap sebagai Bapak Linguistik modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Schehay tahun 1915 (jadi dua tahun setelah Saussure meninggal)

Buku tersebut memuat mengenai konsep:

1) Telaah sinkronik dan diakronik

2) Perbedaan langue dan parole

3) Perbedaan signifiant dan signifie

4) Hubungan sintagmatik dan paradikmatik

Telaah sinkran adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu. Telaah diakronik yaitu jauh lebih sukar dari pada telaah secara sinkron.

La langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak.

La parole adalah pemakaian atau releasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa. Sifatnya konkret karena parole tidak lain dari realitas fisis.

Signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita.

Signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita

Signifie (makna)

Signie linguistique ………………….

(kata) Signifiant (bentuk)

Hubungan sintagmatik dan padikmatik. Yang disebut dengan hubungan sintagmatik adalah antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear.

Hubungan paradigmatik adalah hubungan antar unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.

8.2.2. Aliran Praha

Terbentuk pada tahun 1926 yang diprakarsai oleh Vilem Mathesius (1882 – 1945). Tokoh-tokoh lainnya adalah Nikoli S. Trubetskoy, Roman Jacobson dan Morris Halle.

Dalam bidang fonologi aliran ini yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. Aliran Praha juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut morfonologi, bidang yang mempelajari/meneliti struktur fonologis morfem.

8.2.3. Aliran Glosematik

Lahir di Denmark, tokohnya antara lain, Louis Hjemslev (1899 – 1965) yang meneruskan ajaran Saussure, dia terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain dengan peralatan, metodologis dan terminologis, sejalan dengan pendapat Saussure. Hjemslev menganggap bahasa itu mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi (menurut de Saussure signifiant) dan segi isi (menurut de Saussure signifie). Masing-masing segi mengandung forma dan substansi sehingga diperoleh:

1) Forma ekspensi

2) Substansi ekspesi

3) Forma isi

4) Substansi isi

8.2.4. Aliran Firthain

Nama John F. Firth (1890 – 1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Aliran ini disamping dikenal aliran prosodi juga dikenal pula dengan nama aliran Firth, atau juga aliran London. Fonologi prosodi adalah suatu cara menentukan arti pada tataran fonetis.

Ada tiga macam pokok prosodi, yaitu :

1) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem : struktur kata, struktur suku katam gabungan konsonan dan gabungan vokal.

2) Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda.

3) Prosodi yang realisasi fenotisnya melampaui satuan yang lebih besar dari fenom-fenom suprasegmental.

Firth juga terkenal dengan bukunya The Tongues of Man and Speech (1934) dan Paper in Linguistics (1951).

8.2.5. Linguistik Sistemik Dengan Tokoh M.A.K Halliday sebagai penerus Firth dan berdasarkan karangannya Cathegories of The Theory of Grammar. Maka teori yang dikembangkan oleh Halliday dikenal dengan nama Neo-Firthian Linguistic atau Scale and Category Linguistics, namun kemudian diganti dengan nama Systemic linguistic dalam bahasa Indonesia disebut Linguistik Sistematik. Pokok-pokok pandangan Systemics Linguistics (SL)

1) SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa, terutama mengenai fungsi kemasyarakatan bahasa dan bagaimana fungsi kemasyarakatan itu terlaksana dalam bahasa.

2) SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”. SL mengakui pentingnya perbedaan langue dari prole (seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure) Prole merupakan perilaku kebangsaan yang sebenarnya, sedangkan langue adalah jajaran pikiran yang dapat dipilih oleh seorang penutur bahasa.

3) SL mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu berserta variasinya

4) SL mengenal adanya gradasi dan kontinum. Batasan butir-butir bahasa seing kali tidak jelas.

5. SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa yaitu substansi, forma, situasi.

Substansi adalah bunyi yang kita ucapkan waktu kita bicara, dan lambang yang kita gunakan waktu kita menulis. Substansi bahasa lisan disebut substansi fonis, sedangkan substansi bahasa tulisan disebut substansi grafis. Forma adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna. Forma dibagi menjadi dua, (1) leksis yakni yang menyangkut butir-butir lepas bahasa dan pada tempat butir-butir itu terletak, (2) gramatikal yakni yang menyangkut kelas-kelas butir bahasa dan pola-pola tempat terletaknya butir bahasa tersebut. Situasi meliputi tesis situasi langsung dan situasi luas. Tesis situasi langsung adalah situasi pada suatu tuturan benar-benar diucapkan orang, sedangkan situasi luas adalah suatu tuturan menyangkut semua pengalaman pembicaraan atau penulisan yang mempengaruhinya untuk memakai tuturan yang diucapkannya atau ditulisnya.

Selain tiga tataran utama itu, ada dua tataran lain yang menghubungkan tataran-tataran utama. Yang menghubungkan substansi fonik dengan forma adalah fonologi dan yang menghubungkan substansi grafik dengan forma adalah grafologi. Sedangkan yang menghubungkan forma dengan situasi adalah konteks.

8.2.6. Leonard Bloomfield dan Struktural Amerika

Leonard Bloomfield (1877 – 1949) sangat terkenal karena bukunya yang berjudul Language (terbit pertama kali tahun 1933) dan selalu berkaitan dengan struktur Amerika. Namun nama strukturalisme lebih dikenal dengan nama aliran linguistik. Aliran ini berkembang pesat di Amerika karena beberapa faktor antara lain :

1) Pada masa itu para linguistik Amerika menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa Indian yang belum diperikan.

2) Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika yaitu filsafat strukturalisme.

3) Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik, karena adanya the linguistic society of America, yang menerbitkan majalah Language, wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka.

Aliran strukturalis yang dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering juga disebut aliran taksonomi dan aliran Bloomfieldian, karena bermula atau bersumber pada gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hierarkinya.

8.2.7. Aliran Tagmemik

Aliran Tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics, yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfield, sehingga aliran ini bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis. Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem.

Yang disebut tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal dan slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertemukan untuk mengisi slot tersebut.

Kalimat “Saya menulis surat dengan pensil” dianalisis secara tagmemik.

S KG P Kkt O KB K FD

Pel ak tuj al

Saya menulis surat dengan pensil

Keterangan :

S = Fungsi subjek pel = pelaku

P = Fungsi predikat ak = aktif

O = Fungsi objek tuj = tujuan

K = Fungsi keterangan al = alat

KG = Kata ganti

Kkt = Kata kerja transitif

KB = Kata benda

FD = Frase depan

8.3. LINGUISTIK TRANSFORMAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

Dunia ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis, melainkan merupakan kegiatan yang dinamis; berkembang terus menerus sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki. Perubahan total terjadi dengan lahirnya linguistik transformasional yang mempunyai pendekatan dan cara yang berbeda dengan linguistik struktural.

8.3.1. Tata Bahasa Transformasi

Setiap tata bahasa dari suatu bahasa menurut Chomsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu:

1. Kalimat yang dihasilkan harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut.

2. Tata bahasanya harus berbentuk sedemikian rupa tidak berdasarkan bahasa tertentu saja dan sejajar dengan teori linguistik.

Komponen rematik memberikan terpretasi semantik pada deretan unsur yang dihasilkan oleh sub kompeten dasar. Kata pensil dan kursi, maka kita lihat kata ayah dan ibu mempunyai ciri semantik /+makhluk/ sedangkan pensil dan kursi tidak memiliki ciri itu.

8.3.2. Semantik Generatif

Menurut semantik generatif, seudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantik itu serupa dengan struktur logika berupa ikatan tidak berkala, antara predikat dan seperangkat argumen dalam suatu prosisi.

Menurut teori semantik generatif, argumen predikat adalah segala sesuatu yang dibicarakan. Sedangkan predikat itu semua yang menunjukkan hubungan, perbuatannya, sifat, keanggotaan. Dalam mengabstraksikan predikatnya, teori ini berusaha untuk menguraikan lebih jauh sampai diperoleh predikat yang tidak dapat diuraikan lagi, yang disebut predikat inti.

8.3.3. Tata Bahasa Kasus

Yang dimaksud dengan dalam teori ini, adalah hubungan antara verba dengan nomina. Verba disini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argumen dalam teori semantik generatif. Hanya argumen dalam kasus ini diberi label khusus.

Maka sebuah kalimat dalam teori ini dirumuskan dalam bentuk :

+ [ …… X, Y, Z]

Tanda ….. dipakai untuk menandai posisi verba dalam struktur semantis; sedangkan X, Y, Z adalah argumen yang berkaitan dengan verba/predikat itu yang biasanya diberi label kasus.

Misalnya: OPEN, + […… A, I, O]

A = Agent, pelaku

I = Instrumen, alat

O = Object, tujuan

Dari uraian di atas dapat kita lihat adanya persamaan antara semantik, generatif dan teori kasus.

8.3.4. Tata Bahasa Relasional

Sama halnya dengan tata bahasa transformasi tata bahasa relasional juga berusaha mencari kaedah kesemestaan bahasa. Menurut tata bahasa rasional, setiap struktur melibatkan tiga macam maksud, yaitu :

a) Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur.

b) Seperangkat tanda relasional (relational sign)

c) Seperangkat “Coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran manakah elemen itu menyandang relasi gramatikal.

Misal: Saya diberi roti oleh Rina

Jika dianalisis kalimat tersebut merupakan hasil dari dua macam transformasi yaitu transformasi datif dan pasif dan terlibat tiga konstruksi yaitu 1) konstruksi kalimat inti, b) konstruksi kalimat hasil transformasi datif, dan c) kalimat hasil transformasi pasif dari konstruksi datif.

8.4. TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Hingga saat ini linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap, meskipun linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak.

8.4.1. Sesuai dengan masanya, penelitian bahasa-bahasa daerah itu baru sampai pada tahap deskripsi sederhana mengenai sistem fonologi, morfologi, dan sintaksis serta pencatatan butir-butir leksikal beserta terjemahan maknanya dalam bahasa Belanda dalam bentuk kamus.

Tampaknya cara pendiskripsian terhadap bahasa-bahasa daerah di Indonesia seperti yang dilakukan para peneliti terdahulu masih berlanjutan terus pada tahun tujuh puluh dan delapan puluh. Informasi yang lengkap dan luas mengenai bahasa daerah itu, terutama bahasa daerah yang penuturannya banyak, adalah sangat penting dalam menjalankan administrasi dan roda pemerintahan kolonial.

8.4.2. Perkembangan waktulah yang kemudian menyebabkan konsep-konsep linguistik modern dapat diterima, dan konsep-konsep linguistik tradisional mulai agak tersisih, setelah buku Keraf itu, sejumlah buku Ramlan, juga menyajikan analisis bahasa secara struktural, menyebabkan kedudukan linguistik modern dalam pendidikan formal menjadi semakin kuat, mesti konsep linguistik tradisional masih banyak yang memperhatikan.

8.4.3. Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya linguistik, yang tentu saja dibarengi bermunculnya linguis Indonesia baik dari tamatan luar negeri atau dalam , maka semakin dirasakan perlunya suatu wadah untuk berdiskusi, bertukar pengalaman dan mempublikasikan hasil penelitian yang telah dilakukan. Majalah linguistik Indonesia dengan pengantar bahasa Inggris sering dikenal dengan nama NUSA yang dirintis oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar SJ dan dieditor oleh sejumlah linguis Indonesia, antara lain Amran Halim, Poenjono Dardjowidjojo, Ignatius Soeharno, dan Soepomo Poejosoedarmo. Isi majalah tersebut antara 1975 sampai 1989 dapat dilihat dalam Kaswanti Purwa (1990)

8.4.4 Penyelidikan bahasa daerah Indonesia dan bahasa Indonesia banyak pula dilakukan oleh orang luar negeri. Universitas Leiden di Negeri Belanda telah mempunyai sejarah panjang dalam penelitian bahasa-bahasa Nusantara, antara lain ada Uhlenbeck, Voorhove, Rolvink dan Grijins.

8.4.5. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional Indonesia, bahasa persatuan dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercata nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjowidjojo, dan Soedarjanto yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai berbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

Dewi Zuliani_1402408213_bab 7

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 12:15 pm

Nama : Dewi Zuliani

NIM : 1402408213

Rombel : 4

BAB 7

TATARAN LINGUISTIK (4): SEMANTIK

Semantik dengan objeknya yakni makna merupakan unsur yang berada di semua tataran yang bangun-membangun, yaitu di dalam tataran Fonologi, Morfologi dan Sintaksis. Chomsky, bapak Linguistik transformasi, dalam bukunya yang kedua (1965) menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa (dua komponen lain adalah Sintaksis dan Fonologi), dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen ini.

7.1 HAKIKAT MAKNA

Menurut Ferdinand de Saussure setiap tanda linguistik terdiri dari komponen signifian atau “yang mengartikan” yang berwujud runtutan bunyi, dan komponen signifie atau “yang diartikan” berupa pengertian atau konsep.Umpamanya tanda linguistik berupa meja dapat dilihat dalam bagan berikut:

/m/, /e/, /j/, /a/

(signifian)

meja

‘sejenis perabot rumah tangga’

(signifie)

dalam bahasa luar bahasa

Bagan tersebut juga dapat ditampilkan dalam bentuk segitiga, disebut juga segitiga Richard dan Odgent.

(b)konsep

(a)tanda linguistik (c)referen

<m-e-j-a> <bentuk meja>

(a) dan (c) mempunyai hubungan tak langsung, sebab (a) adalah masalah dalam bahasa dan (c) masalah luar bahasa yang hubungannya bersifat arbitrer. Sedangkan (a) dan (b) sama-sama berada di dalam-bahasa;(c) adalah acuan dari (b). Sehingga (a) dan (b), serta (b) dan (c) mempunyai hubungan langsung.

Makna sebuah kata dapat ditentukan apabila kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya. Selanjutnya makna kalimat dapat ditentukan bila kalimat tersebut sudah berada dalam konteks wacananya atau situasinya.

7.2 JENIS MAKNA

Bahasa digunakan untuk berbagai keperluan dalam kehidupan bermasyarakat, maka makna bahasa itu pun menjadi bermacam-macam bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda.

7.2.1 Makna Lesikal, Gramatikal, dan Kontekstual

* Makna Lesikal adalah makna yang ada pada lekse atau kata meski tanpa konteks apapun (makna sebenarnya sesuai hasil observasi indra manusia).

* Makna Gramatikal adalah makna yang terbentuk dari proses afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi.

Contoh: 1. ber+baju mempunyai makna ’mengenakan baju’

2. sate+lontong melahirkan makna ’bercampur’

* Makna Kontekstual adalah makna kata yang berada di dalam satu konteks. Misalnya, makna kata kepala pada kalimat-kalimat berikut:

1. Rambut di kepala nenek telah berwarna putih.

2. Nomor telepon ada pada kepala surat itu.

7.2.2 Makna Referensial dan Non-referensial

Sebuah kata disebut bermakna referensial bila mempunyai acuan. Kata-kata seperti kuda, gambar, dan merah bermakna referensial karena mempunyai acuan di dunia nyata. Sedangkan kata seperti dan, atau, karena tidak mempunyai acuan sehingga bermakna non-referensial.

7.2.3 Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna Denotatif adalah makna asli atau sebenarnya yang dimiliki sebuah kata, sehingga makna denotatif sama dengan makna leksikal. Sedangkan makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa. Umpamanya kata kurus, ramping, dan kerempeng sebenarnya mempunyai makna yang sama, tetapi ketiganya mempunyai konotasi yang berbeda.

7.2.4 Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Leech (1976) menyatakan bahwa makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah kata terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Jadi makna konseptual sama dengan makna denotatif, leksikal, maupun referensial. Sedangkan makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu di luar bahasa. Misalnya kata merah berasosiasi dengan ’berani’.

7.2.5 Makna Kata dan Makna Istilah

Pada awalnya makna yang dimiliki sebuah kata adalah makna denotatif, leksikal, atau konseptual. Namun dalam penggunaannya makna kata baru menjadi jelas bila sudah berada di dalam konteks kalimat atau situasinya. Berbeda dengan kata, istilah mempunyai makna yang sudah pasti walaupun tidak berada dalam konteks kalimat.

7.2.6 Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya. Idiom dibedakan menjadi dua, yaitu:

* Idiom penuh yaitu bila unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, misalnya, ’membanting tulang’ dan ’meja hijau’.

* Idiom sebagian yaitu idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya ’buku putih’ yang berarti ’buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’.

Peribahasa mempunyai makna yang masih dapat diketahui dari makna unsur-unsurnya karena ada asosiasi antara makna asli dengan maknanya dalam peribahasa. Umpamanya peribahasa ’seperti kucing dengan anjing’ yang bermakna ’dua orang yang tak pernah akur’.

7.3 Relasi Makna

Adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lain.

7.3.1 Sinonim

Adalah hubungan yang bersifat dua arah yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu kata dengan kata yang lain.

7.3.2 Antonim

Adalah hubungan yang bersifat dua arah yang menyatakan pertentangan makna antara kata satu dengan yang lain. Antonim dibedakan menjadi:

· Antonim yang bersifat mutlak, misalnya hidup >< mati.

· Antonim yang bersifat relatif, misalnya besar >< kecil.

· Antonim yang bersifat relasional, misalnya suami >< istri.

· Antonim yang bersifat hirearkial, misalnya gram >< kilogram.

· Antonim Majemuk, misalnya berdiri mempunyai lawan kata; duduk, tidur, tiarap, jongkok.

7.3.3 Polisemi

Yaitu kata yang mempunyai makna lebih dari satu. Umpamanya, kata kepala mempunyai makna (1) bagian tubuh manusia; (2) ketua/pemimpin; (3) bagian penting.

7.3.4 Homonimi

Yaitu dua buah kata yang mempunyai bentuk yang sama tetapi maknanya berbeda. Misalnya kata ‘bisa’ yang berarti ‘racun ular’ dengan kata ‘bisa’ yang berarti ‘sanggup’.

7.3.5 Hiponimi

Adalah hubungan antara sebuah kata yang maknanya tercakup dalam makna kata yang lain. Misalnya:

burung

merpati tekukur perkutut balam elang

7.3.6 Ambigu atau Ketaksaan

Adalah gejala terjadinya kegandaan makna karena tafsiran gramatikal yang berbeda. Misalnya, ’buku sejarah baru’ dapat berarti ’buku sejarah yang baru’ atau ’buku yang memuat sejarah baru’.

7.3.7 Redundansi

Yaitu berlebih-lebihan dalam menggunakan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Misalnya, ’bola itu ditendang oleh Dika’ menggunakan kata oleh yang dianggap redundans.

7.4 PERUBAHAN MAKNA

Secara diakronis makna kata dapat berubah dalam waktu relatif lama. Hal ini disebabkan oleh faktor perkembangan bidang ilmu dan teknologi, sosial budaya, perkembangan pemakaian kata, pertukaran tanggapan indra dan adanya asosiasi. Kata dapat mengalami penyempitan makna, misalnya kata ’sarjana’. Kata juga dapat mengalami perluasan makna, misalnya kata ’ibu’ atau kata ’bapak’.

7.5 MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok disebut kata-kata yang berada dalam satu medan makna. Sedankan usaha untuk menganalisis unsur-unsur yang dimilikinya disebut analisis komponen makna.

7.5.1 Medan Makna

adalah seperangkat unsur leksikal yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari realitas di alam semesta tertentu, misalnya, nama-nama warna.

7.5.2 Komponen Makna

Setiap kata mempunyai komponen yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Contoh analisis komponen makna yaitu:

Komponen makna

Ayah

Ibu

1. manusia

+

+

2. dewasa

+

+

3. jantan

+

-

4. kawin

+

+

7.5.3 Kesesuaian Semantik dengan Sintatik

Masalah gramatikal dan semantik dapat mempengaruhi berterima tidaknya sebuah kalimat. Misalnya kalimat ’Kambing yang Pak Udin terlepas lagi’ bisa diterima bila dikatakan ’Kambing Pak Udin terlepas lagi’.

Menurut Chafe (1970) inti sebuah kalimat adalah predikat atau kata kerjanya. Perhatikan bagan berikut:

Subjek Predikat Objek

/+nomina/ membaca /+nomina/

/+manusia/ /+manusia/ /+bacaan/

/+bacaan/

 

Siti Mu’awanah_1402408022_bab 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 12:13 pm

Disusun Oleh :

Nama : Siti Mu’awanah

NIM : 1402408022

Mata Kuliah : Bahasa Indonesia

Dosen : Drs. Umar Samadhy, M.Pd.

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

1. MORFEM

Morfem adalah satuan bentuk terkecil dalam sebuah bahasa yang masih memiliki arti dan tidak bisa dibagi menjadi satuan yang lebih kecil lagi.

1.1. Identifikasi Morfem

a) Morfem bebas dan morfem terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.

Contoh: pulang, makan, rumah.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dengan morfem lain tidak muncul dalam pertuturan.

Contoh: (ter-), (ber-), (henti), (juang)

b) Morfem utuh dan morfem terbagi

Perbedaan morfem utuh dan morfem terbagi berdasarkan bentuk format yang dimiliki morfem tersebut, yaitu apakah merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi karena disusupi morfem yang lain.

Contoh morfem utuh: (meja), (kursi), (kecil)

Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri atas dua buah bagian yang terpisah, satu di awal dan satu di belakang. Contoh morfem terbagi : kata perbaikan terdiri atas satu morfem utuh yaitu baik dan satu morfem terbagi yaitu (per- / -an)

c) Morfem segmental dan suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental.

Contoh: lihat, lah, sikat, ber

Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental.

Contoh: tekanan, nada, durasi.

d) Morfem beralomorf zero

Yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun suprasegmental.

e) Morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri.

Contoh: kuda, pergi, lari, merah

Sedangkan morfem tak bermakna leksikal adalah morfem yang tak bermakna apa-apa pada dirinya sendiri. morfem ini baru memiliki makna dalam gabungannya dengan bentuk lain dalam ujaran.

Contoh: (ber-), (me-), (ter-)

Kata

Merupakan kumpulan bunyi ujaran atau satuan bahasa yang memiliki satu pengertian, mengandung arti, atau dalam bahasa tulis. Kata dinyatakan sebagai susunan huruf-huruf yang mempunyai arti yang jelas (huruf konsonan dan vokal)

1.2. Morfem Dasar, bentuk dasar, pangkal (stem), dan akar (root)

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Istilah bentuk dasar atau dasar (base) saja biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi.

Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi atau proses pembubuhan afiks inflektif.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya, baik afiks infleksional maupun afiks derivasionalnya ditanggalkan.

Dilihat dari status dalam proses gramatika terdapat tiga macam morfem dasar bahasa Indonesia:

1. Morfem dasar bebas yakni morfem dasar yang secara potensial dapat langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat digunakan dalam ujaran. Contoh: morfem meja, kursi, pergi, dan kuning.

2. Morfem dasar yang kebebasannya dipersoalkan

Yang termasuk dalam kalimat imperatif tidak perlu diberi imbuhan dan dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat ditanggalkan.

3. Morfem dasar terikat, yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi.

Contoh: morfem juang, henti, gaul dan abai

2. KATA

1. Hakikat Kata

Menurut para tata bahasawan tradisional, kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi.

2. Klasifikasi kata

Menurut tata bahasawan tradisional:

a. Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan

b. Nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan

c. Konjungsi adalah kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata atau bagian kaliman yang satu dengan bagian yang lain.

Sedangkan para kelompok linguis yang menggunakan kriteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menggolongkan kata.

Fungsi subyek diisi oleh kelas nomina, fungsi predika diisi oleh verba atau adjektifa, fungsi objek diisi oleh kelas nomina dan keterangan diisi leh adverbia.

3. Pembentukan kata

Pembentukan kata mempunyai dua sifat, yaitu membentuk kata-kata yang bersifat inflektif dan yang bersifat derivatif.

a. Inflektif

Dalam penggunaan bahasa-bahasa berinfleksi biasanya disesuaikan dengan afiks yang mungkin berupa prefiks, infiks, dan sufiks, atau juga berupa modifikasi internal yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasar itu. Dalam bahasa-bahasa berfleksi biasanya juga ada penyesuaian bentuk-bentuk kata untuk menunjukkan pertalian sintaksis.

b. Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

3. PROSES MORFEMIS

1. Afiksasi

Afiksasi adalah pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Beberapa unsur dalam proses ini:

a. Dasar atau bentuk dasar

b. Afiks

c. Makna gramatikal yang dihasilkan

Bentuk dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar yaitu bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi.

Afiks adalah sebuah bentuk biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata dibedakan atas:

1. Afiks intensif yaitu afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional.

2. Afiks derivatif yaitu kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.

2. Reduplikasi

Yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik secara keseluruhan, sebagian, maupun dengan perubahan bunyi.

Proses reduplikasi dapat berupa atau bersifat paradigmatis yang tidak mengubah leksikal dan yang bersifat derivasional yang membentuk kata baru atau kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya.

3. Komposisi

Yaitu hasil dan proses penggolongan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat.

Produk sisanya proses komposisi dalam bahasa Indonesia menimbulkan berbagai masalah dan berbagai pendapat karena komposisi itu memiliki jenis dan makna yang berbeda-beda.

4. Konversi, Modifikasi Internal dan Suplesi

Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental ke dalam morfem yang berkerangka ketat.

Suplesi adalah modifikasi internal yang perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

5. Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan bentuk utuhnya.

Singkatan adalah hasil proses pemendekan antara lain:

1. Pengekalan huruf awal dari sebuah leksem atau gabungan leksem

Contoh: Km (kilometer), H (haji)

2. Pengekalan beberapa huruf dari sebuah leksem

Contoh : bhs (bahasa)

3. Pengekalan huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk pengganti huruf yang sama. Misalnya: P4 (pedoman penghayatan pengamalan pancasila)

4. Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem. Misalnya : As (asisten)

5. Pengekalan huruf pertama dan terakhir dari sebuah leksem

Misal: Fa (firma), Pa (perwira)

Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dihafalkan sebagai kata. Contoh: wagub (wakil gubernur).

6. Produktifitas proses morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi, digunakan berulang secara tidak terbatas. Ada kemungkinan menambah bentuk baru dalam proses tersebut.

Proses inflektif atau paradigmatis karena tidak membentuk kata baru tidak dapat dikerjakan proses yang produktif. Lain halnya proses derivasi yang dapat membuat kata-kata baru dengan proses tersebut.

Perubahan fonem

1. Pemunculan fonem

2. Pelesapan fonem

3. Peluluhan fonem

4. Perubahan fonem

5. Pergeseran fonem

 

Nunik Yuliana_1402408222_bab 4

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 12:10 pm

Nama : Nunik Yuliana

NIM : 1402408222

Mata Kuliah : Bahasa Indonesia

Dosen : Drs. Umar Samadhy, M.Pd.

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK (1) : FONOLOGI

Setiap orang yang berbicara pasti mengeluarkan runtunan bunyi yang kadang terdengar menaik dan menurun, keras dan lembut, ada hentian atau jeda dan suara pemanjangan atau biasa. Ini dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkatan-tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-hentian atau jeda yang terdapat dalam runtunan bunyi itu. Misalnya dalam sebuah kalimat bisa disegmentasikan sampai pada kesatuan-kesatuan runtunan bunyi yang disebut silabel/suku kata.

Silabel merupakan sebuah runtunan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring yang disertai atau tidak disertai oleh bunyi lain. Ada atau tidaknya silabel ditandai dengan sebuah bunyi vokal. Maka untuk mengetahui banyaknya silabel ditentukan dengan banyaknya vokal yang ada pada sebuah runtunan bunyi.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa disebut fonologi. Fon yaitu bunyi dan logos yaitu ilmu. Menurut objek studinya, fonologi dibagi menjadi:

a. Fonetik

Fonetik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna/tidak. Fonetik akan berusaha mendeskripsikan perbedaan bunyi-bunyi itu serta menjelaskan sebab-sebabnya.

b. Fonemik

Fonemik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

Ada juga pakar fonologi yang menggunakan istilah fonologi untuk pengertian fonemik. Jadi mereka membagi bidang fonologi menjadi fonetik dan fonologi.

4.1. Fonetik

Menurut urutan proses terjadinya:

a. Fonetik artikulatoris

b. Fonetik akustik

c. Fonetik auditoris

a. Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis/fonetik fisiologis

Mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Dan fonetik artikulatoris adalah jenis fonetik yang paling berurusan dengan dunia linguistik karena fonetik ini berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia.

b. Fonetik akustik memperlajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya dan timbrenya. Dan fonetik akustik ini lebih berkenaan dengan bidang fisika.

c. Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dan fonetik auditoris ini lebih berkenaan dengan bidang kedokteran yaitu neurologi, meskipun tidak tertutup kemungkinan linguistik yang juga bekerja dalam kedua bidang fonetik itu.

4.1.1. Alat Ucap

Dalam fonetik artikulatoris hal pertama yang dibicarakan adalah alat ucap manusia yang menghasilkan bunyi bahasa. Sebenarnya alat ucap itu juga memiliki fungsi utama lain yang bersifat biologis.

Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan alat ucap itu namun disesuaikan dengan nama latinnya, misalnya:

Ÿ Pangkal tenggorokan (larynx) – laringal

Ÿ Rongga kerongkongan (pharynx) – faringal

Ÿ Pangkal lidah (dorsum) – dorsal

Ÿ Tengah lidah (medium) – medial

Ÿ Daun lidah (laminum) – laminal

Ÿ Ujung lidah (apex) – apikal

Ÿ Anak tekak (uvula) – uvular

Ÿ Langit-langit lunak (velum)

Ÿ Langit-langit keras (palatum)

Ÿ Gusi (alveolum) – alveolar

Ÿ Gigi (dentum) – dental

Ÿ Bibir (labium) – labial

Selanjutnya sesuai dengan bunyi bahasa itu dihasilkan, maka harus kita gabungkan istilah dari dua nama alat ucap itu. Misalnya, bunyi apikodental yang gabungan antara ujung lidah dengan gigi atas.

4.1.2. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahsa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok yang di dalamnya terdapat pita suara. Supaya udara bisa keluar, maka pita suara harus dalam keadaan terbuka.

Adanya empat macam pita suara yang berposisi yaitu (a) pita suara terbuka lebar, (b) pita suara terbuka agak lebar (c) pita suara terbuka sedikit, (d) pita suara tertutup rapat-rapat. Proses terjadinya bunyi bahasa disebut proses artikulasi dan alatnya disebut artikulator. Artikulator aktif adalah alat ucap yang digerakkan. Striktur adalah keadaan, cara atau posisi bertemunya artikulator aktif dan pasif. Hasil satu proses artikulasi adalah bunyi tunggal atau bisa juga bunyi ganda. Labialisasi dilakukan dengan membulatkan bentuk mulut. Palatilisasi dilakukan dengan menaikkan bagian depan lidah. Velarisasi dilakukan dengan cara menaikkan belakang lidah ke arah langit-langit lunak. Faringalisasi dilakukan dengan cara menarik lidah ke arah belakang ke dinding faring.

4.1.3. Tulisan Fonetik

Tulisan yang dibuat untuk studi fonetik biasanya menggunakan aksara latin dengan menambahkan tanda diakritik dan modifikasi pada huruf latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa.

Dalam tulisan fonetik setiap bunyi dilambangkan secara akurat artinya mempunyai lambang sendiri, sedangkan dalam tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang signitif saja yakni membedakan makna, lambangnya pun berbeda. Dan tulisan ortografi adalah tulisan yang umum ada dalam masyarakat.

4.1.4. Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Bunyi konsonan terjadi setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar. Jadi, beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adalah arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara tidak mendapat hambatan apa-apa sedangkan dalam pembentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

4.1.4.1. Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal bisa bersifat horizontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi (I dan u), vokal tengah (e dan o) dan vokal rendah (a). Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan (i dan e), vokal pusat (ә), dan vokal belakang (u dan o).

4.1.4.2. Diftong dan Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Diftong sering dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, sehingga dibedakan adanya diftong naik dan diftong turun. Diftong naik atau diftong turun ditentukan berdasarkan kenyaringan (sonoritas) bunyi itu.

4.1.4.3. Klasifikasi Konsonan

Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan tiga patokan atau kriteria yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Sedangkan berdasarkan posisi pita suara dibedakan adanya bunyi bersuara dan tak bersuara.

Ÿ Berdasarkan tempat artikulasinya, konsonan dibedakan menjadi:

1. Bilabial yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir (b, p, m)

2. Labiodental yaitu konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan gigi atas (f, v)

3. Laminoalveolar yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi (t, d)

4. Dorsovelar yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum/langit (k, g)

Ÿ Berdasarkan cara artikulasinya, konsonan dibedakan menjadi:

1. Lambat (letupan, plosif, stop) disini artikulator menurup sepenuhnya (p, b, t, d, k, g)

2. Geseran atau frikatif, disini artikulator aktif mendekati artikulatif pasif (f, s, z)

3. Paduan atau frikatif, disini artikulator aktif menghambat sepenuhnya aliran udara (c, j)

4. Sengaran atau nasal, disini artikulator menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut (m, n, h)

5. Getaran atau trill, disini artikulator aktif melakukan kontak beruntun dengan pasif (r)

6. Sampingan atau lateral, disini artikulator aktif menghmbar aliran udara pada bagian tengah mulut (l)

7. Hampiran atau aproksiman, disini artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal (w, y).

4.1.5. Unsur Suprasegmental

Arus ujaran adalah suatu runtunan bunyi yang sambung menyambung dan yang dapat disegmentasikan disebut bunyi segmental, sedangkan yang berkaitan dengan keras lembut, panjang pendek dan jeda disebut suprasegmental atau prosodi.

4.1.5.1. Tekanan atau Stes

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi dalam bahasa Inggris, tekanan bisa distingtif (dapat membedakan makna) tapi dalam bahasa Indonesia tidak.

4.1.5.2. Nada dan Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Nada ini dalam bahasa-bahasa tertentu bisa bersifat fonemis maupun nonfonemis. Dalam bahasa-bahasa bernada atau tonal ini bersifat morfemis. Disini dikenal adanya lima macam nada:

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Nada dalam bahasa-bahasa tertentu bisa bersifat fonemis maupun morfemis, tetapi ada juga yang tidak. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada, yaitu:

1. Nada naik atau meninggi, tandanya / . . . /

2. Nada datar, tandanya / . . . /

3. Nada turun atau merendah, tandanya / . . . /

4. Nada turun naik, tandanya / . . . /

5. Nada naik turun, tandanya / . . . /

4.1.5.3. Jeda atau Persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Biasanya dibedakan atas sendi dalam/internal juncture (menunjukkan batas antara satu silabel dan silabel lain, biasanya diberi tanda (+) dan sendi luar/ open juncture (menunjukkan batas yang lebih besar dari silabel) biasanya dibedakan menjadi jeda antar kata dalam frase (/), jeda antar frase dalam klausa (//), jeda antar kalimat (#).

4.1.6. Silabel

Silabel atau suku kata adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Yang dapat disebut bunyi silabis atau puncak silabis adalah bunyi vokal. Namun secara ritmis, sebuah konsonan juga dapat menjadi puncak silabis. Bunyi yang sekaligus dapat menjadi onset dan koda pada dua buah silabel yang berurutan disebut interlude. Dan onset adalah bunyi pertama pada sebuah silabel.

4.2. FONEMIK

Objek penelitian fonemik adalah fonem yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna. Dalam fonemik, kita meneliti apakah dalam perbedaan bunyi itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

4.2.1. Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, bisanya sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama dan mencari pasangan minimalnya. Identitas sebuah fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu saja.

4.2.2. Alofon

Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis, artinya banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Tentang distribusinya, mungkin bersifat komplementer atau bebas. Distribusi komplementer atau saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan, meskipun diperlukan tidak akan menimbulkan perbedaan makna, sifatnya tetap pada lingkungan tertentu. Sedangkan distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Alofon adalah realisasi dari fonem. Fonem bersifat abstrak karena fonem itu hanyalah abstraksi dari alofon atau alofon-alofon itu.

4.2.3. Klasifikasi Fonem

Fonem dibedakan menjadi fonem vokal dan konsonan. Ini agak terbatas sebab hanya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem. Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sebaliknya fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental. Dalam bahasa Indonesia unsur suprasegmental tampaknya tidak bersifat fonemis atau morfemis, namun intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis. Kalau kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan kriteria yang dipakai untuk klasifikasi bunyi (fon) maka penamaan kemampuan sama dengan penamaan bunyi.

4.2.4. Khazanah Fonem

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain. Ada kemungkinan juga, karena perbedaan tafsiran, maka jumlah fonem tidak sama.

4.2.5. Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau ada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya. Namun, perubahan yang terjadi pada kasus fonem /o/ bahasa Indonesia itu bersifat fonetis, tidak mengubah fonem /o/ itu menjadi fonem lain.

4.2.5.1. Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Asimilasi fonemis adalah perubahan bunyi yang mengubah identitas sebuah fonem. Jika tidak menyebabkan perubahan bunyi mungkin itu asimilasi fonetis atau aloformis. Biasanya dibedakan adanya asimilasi profresif, asimilasi regresif, dan asimilasi resiprokal. Pada asimilasi progresif bunyi yang diubah itu terletak di belakang bunyi yang mempengaruhinya, asimilasi regresif bunyi yang diubah itu terletak di muka munyi yang mempengaruhinya, sedangkan asimilasi resiprokal perubahan itu terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi itu, sehingga menjadi fonem atau bunyi yang lain.

Kalau perubahan dalam proses asimilasi menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya maupun sebagian dari cirinya, maka dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

4.2.5.2. Netralisasi dan Arkifonem

Misal dalam bahasa Belanda ada kata yang dieja hard “keras” dan dilafalkan /hart/ dan hart “jantung” dan diucapkan /hart/. Jadi pelafalan kedua kata yang dieja berbeda itu adalah sama. Dalam bahasa Belanda, konsonan lambat bersuara seperti (d) itu adalah tidak mungkin. Oleh karena itu, diubah menjadi konsonan yang homorgan tak bersuara yakni (t). Jadi, adanya bunyi (t) pada posisi akhir kata yang dieja hard itu adalah hasil netralisasi itu. Fonem /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam pengistilahan linguistik disebut arkifonem. Dalam hal ini biasanya dilambangkan dengan huruf besar /D/

4.2.5.3. Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahasa Jerman yang artinya yaitu perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita ditemukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Umlaut terbatas pada peninggian vokal akibat pengaruh bunyi berikutnya. Sedangkan ablaut bukan, namun bisa juga pada pemanjangan, pemendekan atau penghilangan vokal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki. Dalam bahasa Turki, harmoni itu berlangsung dari kiri ke kanan tapi sebaliknya adapula harmoni vokal dari kanan ke kiri.

4.2.5.4. Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya. Dalam pemendekan seperti ini yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4.2.5.5. Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis yaitu mengubah urutan fonem yang terdapat dalam satu kata. Metatesis yaitu pertukaran tempat antar bunyi dalam suatu suku kata. Contohnya, selain bentuk sapu, ada bentuk apus dan usap. Dalam proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgen dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata. Dalam bahasa Indonesia ada sampi disamping sapi. Perubahan bunyi atau fonem yang dibicarakan di atas hanya terjadi pada bahasa-bahasa tertentu.

4.2.6. Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Ini dapat dicari dari dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda. Fonem dianggap sebagai konsep abstrak. Dalam studi fonologi, alofon-alofon yang merealisasikan sebuah fonem itu dapat dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Yang paling tidak akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa.

 

Meka Sudesti 1402408315 IF

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 12:08 pm

Bab 6.

TATARAN LINGUISTIK (3) :SINTAKSIS

Dalam pembahasan sintaksis yang biasa dibicarakan adalah (1) struktur sintaksis ; (2) satuan-satuan sintaksis dan (3) hal yang berkenaan dengan sintaksis.

6.1 STRUKTUR SINTAKSIS

Dalam pembicaraan struktur sintaksis pertama-tama harus dibicarakan masalah fungsi sintaksis,kategori sintaksis,dan peran sintaksis.Secara umum struktur sintaksis terdiri dari susunan subjek (S),objek (O),dan keterangan (K).Struktur sintaksis minimal harus memiliki fungsi subjek dan predikat.

Eksistansi struktur sintaksis terkecil ditopang oleh urutan kata,bentuk kata,dan intonasi.Yang dimaksud urutan kata adalah letak atau posisi kata yang satu dengan yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis.Sedangkan bentuk kata antara bahasa Indonesia dan bahasa Latin tidak sama.Alat sintaksis ketiga yang tidak dapat digambarkan secara akuarat dan teliti sehingga menimbulkan kesalahpahaman adalah intonasi.Selain itu adalagi alat sintaksis yang keempat yaitu konektor yang berfungsi menghubungkan satu konstituen dengan konstituen lain.

6.2 KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS

Dalam tataran morfologi kata merupakan satuan terbesar(satuan terkecilnya adalah morfem);tetapi dalam tataran sitaksis kata merupakan satuan terkecil.Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis,kata berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis,sebagai penanda kategori sintaksis,dan sebagai perangkai dalam penyatuan satuan dan sintaksis.

Kata dibagi menjadi dua macam,yaitu kata penuh (fullword) dan kata tugas (functionword).Yang merupakan kata penuh adalah kata-kata yang termasuk kategori nomina,verba,ajektifa,adverbia,dan numeralia.Sedangkan yang termasuk kata tugas adalah kata-kata yang berkategori preposisi dan konjungsi.

6.3 FRASE

Frase digunakan sebagai satuan sintaksis yang satu tingkat berada dibawah satuan klausa,atau satu tingkat berada diatas satuan kata.

6.3.1 Pengertian Frase

Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif,atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis didalam kalimat.

6.3.2 Jenis Frase

Frase dibedakan menjadi frase (1) eksosentrik, (2) endosentrik (disebut juga frase subordinatif/modikatif) , (3) koordinatif,dan (4) apositif.

6.3.2.1 Frase Eksosentrik

Frase eksosentrik adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.Frase eksosentrik dibedakan atas frase eksosentris yang direktif dan yang nondirektif.

6.3.2.2 Frase Endosentrik

Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keselurannya.

6.3.2.3 Frase Koordinatif

Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif,baik yang tunggal maupun yang terbagi.Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit biasanya disebut frase parataksis.

6.3.2.4 Frase Apositif

Frase apositif adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya dan oleh karena itu urutan komponennya tidak dipertukarkan.

6.3.3 Perluasan Frase

Ciri frase adalah frase itu dapat diperluas.Maksudnya,frase itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertianyang akan ditampilkan.

6.4 KLAUSA

Klausa merupakan tataran didalam sintaksis yang berada diatas tataran frase dan dibawah tataran kalimat.

6.4.1 Pengertian Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif.Selain fungsi predikat,fungsi subjek boleh dikatakan bersifat wajib,yang lainnya tidak.

6.4.2 Jenis Klausa

Jenis klausa dapat dibedakan berdasarkan strukturnya dan berdasarkan kategori segmental yang menjadi predikatnya.Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya klausa bebas dan terikat.Klausa bebas yang mempunyai struktur lengkap sedangkan klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap.Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya dapat dibedakan adanya klausa verbal,nominal,ajektival,dan preposisional.

6.5 KALIMAT

Kalimat merupakan satuan bahasa yang”langsung”digunakan sebagai satuan ujaran didalam komunikasi verbal yang hanya dilakukan manusia.

6.5.1 Pengertian Kalimat

Kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar,yang biasanya berupa klausa,dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan,serta dengan intonasi final.

6.5.2 Jenis Kalimat

Jenis kalimat dapat dibedakan berdasarkan berbagai kriteria atau sudut pandang.

6.5.2.1 Kalimat Inti dan Kalimat Non-Inti

Kalimat inti atau kalimat dasar adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif,aktif,atau netral, dan afirmatif.Kalimat non-inti adalah kalimat inti yang disertai dengan proses transformasi.

6.5.2.2Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Kalimat tunggal yaitu kalimat yang hanya terdiri dari satu klausa.Sedangkan kalimat majemuk yaitu kalimat yang terdiri lebih dari satu klausa didalam sebuah kalimat.

6.5.2.3Kalimat Mayor dan Kalimat Minor

Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan predikat.Kalimat Minor adalah kalimat yang terdiri dari subjek saja,predikat saja,objek saja,ataukah keterangan saja.

6.5.2.4Kalimat Verbal dan Non-Verbal

Kalimat Verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal,atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verba.Sedangkan Kalimat Non-Verbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal;bisa nominal,ajektifal,adverbial,atau numeralia.

6.5.2.5Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat

Kalimat Bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap,atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya.Sedangkan Kalimat Terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap atau menjadi pembuka paragraf atau wacana tanpa bantuan konteks.

6.5.3 Intonasi Kalimat

Dalam bahasa Indonesia tampaknya intonasi ini(yang berupa tekanan,nada,atau tempo)tidak berlaku pada tataran fonologi dan morfologi,melainkan hanya berlaku pada tataran sintaksis.

6.5.4 Modus,Aspek,Kala,Modalitas,Fokus,dan Diatesis

Keenam istilah tersebut biasa muncul dalam pembicaraan mengenai sintaksis.

6.5.4.1 Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara atau sikap si pembicara tentang apa yang diungkapkannya.Ada beberapa macam modus yaitu (1) modus indikatif/deklaratif; (2) modus optatif; (3) modus imperatif; (4) modus interogatif; (5) modus obligatif; (6) modus desideratif dan (7) modus kondisional.

6.5.4.2 Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal didalam suata situasi,keadaan,kejadian,atau proses.Ada berbagai macam aspek yaitu : (1) aspek kontinuatif; (2) aspek inseptif; (3) aspek progresif; (4) aspek repetitif; (5) aspek perfektif; (6) aspek imperfektif; (7) aspek sesatif.

6.5.4.3 Kala

Kala atau tenses adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan,kejadian,tindakan,atau pengalaman yang disebutkan didalam predikat.

6.5.4.4 Modalitas

Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan,yaitu mengenai perbuatan,keadaan,dan peristiwa;atau juga sikap terhadap lawan bicaranya.Ada beberapa jenis modalitas antara lain (1) modalitas intensional; (2) modalitas epistemik; (3) modalitas deontik dan (4) modalitas dinamik.

6.5.4.5 Fokus

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar atau pembicara tertuju pada bagian itu.

6.5.4.6Diatesis

Diatesis adalah gambar hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.Ada beberapa macam diatesis yaitu (1) diatesis aktif; (2) diatesis pasif; (3) diatesis refleksif; (4) diatesis resiprokal; (5) diatesis kausatif.

6.6 Wacana

Kalimat atau kalimat-kalimat ternyata hanyalah unsur pembentuk satuan bahasa yang lebih besar yang disebut wacana.

6.6.1 Pengertian Wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap,sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau tersebar.

6.6.2 Alat Wacana

Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat wacana menjadi kohesif yaitu : konjungsi,menggunakan kata ganti dia,nya,mereka,ini,dan itu sebagai rujukan anafosis,dan menggunakan elipsis.Sedangkan upaya membuat wacana yang kohesif dan koheren dengan aspek semantik dapat dilakukan dengan (1) menggunakan hubungan pertentangan; (2) menggunakan hubungan generik-spesifik atau sebaliknya; (3) menggunakan hubungan perbandingan; (4) menggunakan hubungan sebab-akibat; (5) menggunakan hubungan tujuan; (6) menggunakan hubungan rujukan.

6.6.3 Jenis Wacana

Dalam pelbagai kepustakaan ada disebutkan pelbagai janis wacana sesuai dengan sudut pandang dari mana wacana itu dilihat.Begitilah pertama-tama dilihat adanya wacana lisan dan wacana tulis.Kemudian ada pembagian wacana prosa dan wacana puisi dilihat dari penggunaan bahasa apakah dalam bentuk uraian ataukah bentuk puitik.Selanjutnya,wacana prosa ini dilihat dari penyampaian isinya dibedakan lagi menjadi wacana narasi,wacana eksposisi,wacana persuasi,dan wacana argumentasi.

6.6.4 Subsatuan Wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang utuh dan lengkap.Maksudnya,dalam wacana ini satuan”ide”atau”pesan”yang disampaikan akan dapat dipahami pendengar atau pembaca tanpa keraguan,atau tanpa merasa adanya kekurangan informasi dari ide ataupesan yang tertuang dalam wacana itu.

6.7 CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN

Kiranya urutan hierarki itu adalah urutan normal teoritis.Dalam praktek berbahasa banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan urutan.Disamping urutan normal itu bisa dicatat adanya kasus (1) pelompatan tingkat,(2) pelapisan tingkat, dan (3) penurunan tingkat.

 

Nur_Zuafah-1402408281-Bab_4

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 10:45 am

Nur Zuafah

1402408281

Rombel 3

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK (1) : FONOLOGI

Silabel/suku kata merupakan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai/tidak oleh sebuah bunyi lain di depannya, di belakangnya, atau sekaligus di depan dan belakangnya.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa itu disebut fonologi, fon: bunyi, dan logi: ilmu. Objek studi fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Fonetik mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Fonemik mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna.

Fonetik akan berusaha mendeskripsikan perbedaan bunyi-bunyi itu serta menjelaskan sebab-sebabnya.

ex paru dan baru contoh sasaran studi fonemik

4. 1. FONETIK

Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya 3 jenis fonetik yaitu fonetik artikulatonis, fonetik akustik, dan fonetik auditonis.

Ü Fonetik artikulatonis disebut juga fonetik organis/fonetik fisiologis mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.

Ü Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis/fenomena alam.

Ü Fonetik auditonis mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4. 1. 1. Alat Ucap

Dalam fonetik artikutalatoris hal pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Namun, tidak biasa disebut “bunyi gigi” atau “bunyi bibir” melainkan bunyi dental dan bunyi labial yakni istilah berupa bentuk ajektif dari bahasa Latinnya.

Bunyi apikodental yaitu gabungan antara ujung lidah dengan gigi atas

Bunyi labiodental yaitu gabungan antara bibir bawah dengan gigi atas

Bunyi laminopalatal yaitu gabungan antara daun lidah dengan langit-langit keras.

4. 1. 2. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara. Supaya udara bisa terus keluar, pita suara itu harus berada dalam posisi terbuka.

Berkenaan dengan hambatan pada pita suara ini, perlu dijelaskan adanya 4 macam posisi pita suara:

1. Pita suara terbuka lebar tidak ada bunyi bahasa (posisi bernafas secara normal).

2. Pita suara terbuka agak lebar bunyi tak bersuara (voiceless).

3. Pita suara terbuka sedikit terjadi bahasa suara (voice).

4. Pita suara tertutup rapat akan terjadi bunyi hamzah/glotal stop.

Sesudah melewati pita suara, tempat awal terjadinya bunyi bahasa, arus udara diteruskan ke alat-alat ucap tertentu yang terdapat di rongga mulut/rongga hidung, dimana bunyi bahasa tertentu akan dihasilkan. Tempat bunyi bahasa ini terjadi/dihasilkan disebut tempat artikulasi. Proses terjadinya disebut proses artikulasi, dalam proses ini biasanya terlihat 2 macam artikulator.

* Artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak/digerakkan. Contoh: bibir bawah, ujung lidah dan daun lidah.

* Artikulator pasif adalah alat ucap yang tidak dapat bergerak/yang didekati oleh artikulator aktif. Contoh: bibir atas, gigi atas dan langit-langit keras.

Contoh: kalau arus udara dihambat kedua bibir, dengan cara bibir bawah sebagai artikulator aktif, merapat pada bibir atas yang menjadi artikulator pasif maka akan terjadi bunyi bahasa yang disebut bunyi bilabial, seperti /b/, /p/, /w/ Tetapi kalau bibir bawah sebagai artikulator aktif, merapat pada gigi atas, yang menjadi artikulator pasifnya, maka akan terjadilah bunyi labiodental yakni bunyi /f/ dan /v/. Kalau ujung lidah, sebagai artikulator altif, merapat pada gigi atas, yang menjadi artikulator pasifnya, akan terjadi bunyi apikolental, yaitu bunyi /t/ dan /d/.

Keadaan , cara atau posisi bertemunya artikulator pasif disebut struktur.

Bunyi ganda lahir dalam proses artikulasi yang berangkaian, artikulasi pertama yang menghasilkan bunyi pertama, segera disusul oleh artikulasi kedua yang menghasilkan bunyi kedua. Artikulasi kedua ini sering disebut artikulasi sertaan dan bunyi yang dihasilkan juga disebut bunyi sertaan.

4. 1. 3. Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara Latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf Latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf/lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa.

Dalam studi linguistik dikenal adanya beberapa macam sistem tulisan dan ejaan, diantaranya tulisan fonetik untuk ejaan fonetik, tulisan fonemis untuk ejaan fonemis dan sistem aksara tertentu (seperti aksara Latin dan sebagainya) untuk ejaan ortografis.

Dalam tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang saja yakni yang membedakan makna yang diperbedakan lambangnya.

Sistem tulisan ortografi dibuat untuk digunakan secara umum di dalam masyarakat suatu bahasa.

4. 1. 4. Klasifikasi Bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit agak lebar, diteruskan ke rongga mulut/rongga hidung dengan mendapat hambatan-hambatan di tempat artikulasi tertentu.

4. 1. 4. 1. Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan dan diberi naam berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

Posisi lidah:

a. Secara vertikal

Vokal tinggi misalnya bunyi /i/ dan /u/

Vokal tengah misalnya bunyi /e/

Vokal rendah misalnya bunyi /a/

b. Secara horisontal

Vokal depan misalnya /i/ dan /e/, vokal pusat misalnya bunyi /a/ dan vokal belakang misalnya bunyi /u/ dan /o/.

Menurut bentuk mulut:

a. Vokal bundar

Karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya vokal /o/ dan vokal /u/.

b. Vokal tak bundar

Karena bentuk mulut tidak membundar melainkan melebar misalnya vokal /i/ dan vokal /e/.

4. 1. 4. 2. Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Bunyi yang dihasilkan hanya sebuah bunyi. Contoh: kerbau dan harimau.

Apabila ada dua buah vokal berurutan, namun yang pertama terletak pada suku kata yang berlainan dari yang kedua, maka disitu tidak ada diftong, misalnya kata bau (ba–u) dan lain (la–in).

Diftong dibedakan atas diftong naik dan turun. Disebut diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi kedua, sebaliknya diftong turun karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.

4. 1. 4. 3. Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan dibedakan berdasarkan 3 patokan/kriteria yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi.

Berdasarkan pita suara:

* Bunyi bersuara apabila pita suara hanya terbuka sedikit. Contoh: /b/, /d/, /g/, dan /c/.

* Bunyi tidak bersuara terjadi apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getaran pada pita suara itu. Contoh: /s/, /k/, /p/, /t/.

Berdasarkan artikulasinya konsonan dibagi atas:

1) Bilabial yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas. Contoh: /b/, /p/, /m/, /b/, dan /p/ adalah bunyi oral yang dikeluarkan melalui rongga mulut, sedangkan /m/ adalah bunyi nasal yakni bunyi yang dikeluarkan melalui rongga hidung.

2) Labiodental, yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental: /f/ dan /v/.

3) Laminoalveolar yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, dalam hal ini daun lidah menempel pada gusi, yang termasuk konsonan laminoalvelar adalah bunyi /t/ dan /d/.

4) Dorsovelar yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum/langit-langit lunak yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi /k/ dan /g/.

Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana gangguan/hambatan yang dilakukan terhadap arus udara itu, konsonan dapat dibedakan:

1. Hambat (letupan, plosif, stop). Artikulator menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat dibelakang tempat penutup itu. Kemudian penutupan itu dibuka secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan terjadinya letupan. Yang termasuk konsonan letupan antara lain bunyi /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/.

2. Geseran/frikatif, artikulator aktif mendekati artikulator pasif, membentuk celah sempit sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di celah itu. Contoh: /f/, /s/, dan /z/.

3. Paduan/frikatif. Artikulator aktif menghambat sepenuhnya aliran udara, lalu membentuk celah sempit, dengan artikulator pasif. Cara ini merupakan gabungan antara hambatan dan frikatif. Yang termasuk konsonan paduan antara lain /c/ dan /j/.

4. Sengauan atau nasal. Artikulator menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut, tetapi membiarkannya keluar melalui rongga hidung dengan bebas. Contoh konsonan nasal adalah bunyi /m/, /n/

5. Getaran atau trill. Artikulator aktif melakukan kontak beruntun dengan artikulator pasif sehingga getaran itu terjadi berulang-ulang. Contoh: /r/.

6. Sampingan atau lateral. Artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulur lalu membiarkan udara keluar melalui samping lidah. Contoh: /l/.

7. Hampiran atau aproksiman. Artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal, tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonan geseran, bunyi yang dihasilkan sering disebut semilokal, contoh: /w/ dan /y/.

4. 1. 5. Unsur Suprasegmental

4. 1. 5. 1. Tekanan atau Stress

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti, dibarengi dengan tekanan keras.

4. 1. 5. 2. Nada atau Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi tentu akan disertai dengan nada yang tinggi nada itu dalam bahasa-bahasa tertentu bisa bersifat fonemis maupun morfemis.

4. 1. 5. 3. Jeda atau Persendian

Disebut jeda karena adanya hentian itu, dan disebut persendian karena ditempat perhentian itulah terjadi persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain.

Sendi debedakan menjadi sendi dalam (inernal juncture), dan sendi luar atau open juncture. Sendi dalam menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel yang lain, biasanya diberi tanda tambah (+). Misalnya = (am + bil). Sendi luar menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel.

4. 1. 6. Silabel

Silabel/suku kata adalah susunan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran/runtutan bunyi ujaran. Satu silabel biasanya satu vokal dan satu konsonan/lebih. Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sononitas yang biasanya jatuh pada sebuah vokal. Bunyi yang paling banyak menggunakan ruang resonansi adalah bunyi vokal. Karena itulah, yang dapat disebut bunyi silabis/puncak silabis.

4. 2. FONEMIK

Objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa pada umumnya tampa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata/tidak. Objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat/berfungsi membedakan makna kata.

4. 2. 1. Identitas Fonem

Untuk membuktikan sebuah bunyi fonem atau bukan haruslah dicari pasangan minimalnya. Tetapi kadang-kadang pasangan minimal ini tidak mempunyai jumlah bunyi yang sama persis. Misalnya kata muda dan mudah h. fonem.

4. 2. 2. Alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem, seperti bunyi /t/ dan /th/ untuk fonem /t/ bahasa Inggris di atas disebut alofon, identitas alofon juga hanya berlaku pada satu bahasa tertentu. Alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Tentang distribusinya, mungkin bersifat komplementer, mungkin bersifat bebas.

Yang dimaksud dengan distribusi komplementer, atau biasa juga disebut distribusi saling melengkapi, adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan, meskipun dipertukarkan juga tidak akan menimbulkan perbedaan makna. Yang dimaksud dengan distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

Alofon adalah realisasi dari fonem, fonem bersifat abstrak karena fonem hanya abstraksi dari alofon/alofon-alofon itu. Dengan kata lain, yang konkret, atau nyata dalam bahasa adalh alofon itu, sebab alofon-alofon yang diucapkan.

4. 2. 3. Klasifikasi Fonem

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental. Jadi, pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, seperti tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional (makna). Dalam bahasa Indonesia unsur suprasegmental tampaknya tidak bersifat fonemis maupun morfemis, namun mempunyai peranan pada tingkat sintaksis.

4. 2. 4. Khazanah Fonem

Adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain. Menurut catatan para pakar, yang tersedikit jumlahnya adalah bahasa penduduk asli di Hawaii yaitu hanya 13 buah dan yang jumlah fonemnya terbanyak, yaitu 75 buah adalah bahasa di Kaukasus Utara.

4. 2. 5. Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab tergantung pada lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya.

4. 2. 5. 1. Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Misalnya kata sabtu lazim diucapkan saptu. Kalau perubahan itu menyebabakan berubahnya identitas sebuah fonem, maka perubahan itu disebut asimilasi fonemesi. Kalau perubahan itu tidak menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka perubahahan itu mungkin asimilasi fonetis/asimilasi alomorfemis.

Pada asimilasi biasanya dibedakan asimilasi progresif, asimilasi regresif dan asimilais reiprokal. Pada similasi progrsef bunyi yang diubah itu terletak di belakang bunyi yang mempengaruhinya, misalnya dalam bahasa Jerman bentuk mit der frau diucapkan /mit ter frau/.

Pada asimilasi regresif, bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang mempengaruhinya. Contoh berubahnya bunyi /p/ menjadi /b/ pada kata belanda op de wag. Sedangkan pada asimilasi resiprokal perubahan itu terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi itu, sehingga menjadi fonem atau bunyi lain.

Kalau bunyi pada proses asimilasi menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya mapun sebagian dari cirinya, maka dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan. Contoh: kata cipta dan cinta berasal dari bahasa sansekerta citta.

4. 2. 5. 2. Netralisasi dan Arkifonem

Fonem mempunyai fungsi pembeda makna kata, misalnya bunyi /p/ dan /b/ adalah dua buah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia karena terbukti dari pasangan minimal seperti Paru Vs Baru. Oposisi antara bunyi /d/ dan /t/ adalah antara bersuara dan tak bersuara. Jadi adanya bunyi /t/ pada posisi akhir kata yang dieja hard adalah hasil netralisasi. Fonem /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam peristilahan linguistik disebut arkifonem.

4. 2. 5. 3. Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Umlaut berasal dari bahasa Jerman, mempunyai pengertian: perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki.

4. 2. 5. 4. Kontraksi

Pemendekan kata yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem/lebih. Ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4. 2. 5. 5. Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Contoh: selain bentuk sapu, ada bentuk apus dan usap.

Proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata. Dalam bahasa Indonesia ada sampi di samping sapi, ada kampak di samping kapak.

4. 2. 5. 6. Fonem dan grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Fonem dianggap sebagai konsep abstrak, yang di dalam pertuturan direalisasikan oleh alofon dalam studi fonologi, alofon-alofon yang merealisasikan sebuah fonem itu, dapat dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan/transkrip fonetik. Yang dilambangkan adalah fonemnya, bukan alofonnya.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.