Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

novita Jewanti Sabila_1402408293_BAB 6 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 7:28 pm

Nama : Novita Jewanti Sabila

Nim : 1402408293

TATARAN LINGUISTIK ( 2 ):

MORFOLOGI

5.1. MORFEM

5.1.1 Identifikasi Morfem

Sebuah satuan bentuk dinyatakan sebagai morfem apabila bentuk tersebut bias hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain. contoh 1: kedua , ketiga , kelima, keenam, kesepuluh bentuk ke pada daftar di atas mempunyai makna sama yaitu menyatakan tingkat atau derajat, sehingga dapat disebut sebagai morfem. Cotoh 2: menelantarkan, terlantar, lantaran

Bentuk lantar itu bukanlah sebuah morfem karena tidak ada maknanya bentuk menelantarkan memang punya hubungan dengan telantar tetapi tidak punya hubungan dengan lantaran. Suatu satuan bentuk yang berstatus sebagai morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya diantara kurung kurawal.

Contoh: mesjid dilambangkan sebagai { mesjid }

Bentuk jamak bahasa Inggris books dilambangkan sebagi {book}+{s}. Untuk bentuk jamak feet mungkin bisa menjadi {feet}+{jamak} atau dapat juga mengambil bentuk kongret dari morf bentuk jamak itu {feet}+{-s}.

5.1.2 Morf dan Alomorf

Perhatikan contoh berikut!

Melihat, merasa, membawa, membantu, mendengar, menduda, menyanyi, menyikat, menggali, menggoda, mengelas, mengetik.

Contoh diatas adalah sebuah morfem, sebab meskipun tidak persis sama, tetapi perbedaannya dapat dijelaskan secara fonoligis

Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama disebut alomorf. Morf dan Alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk sebuah bentuk yang belum diketahui statusnya, sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya. Bentuk me-, mem-, men-, meny-, meng-, dan menge- dalam buku Tata Bahasa Buku Indonesia dipilih alomorf meng- sebagai nama morfem itu, dengan alasan alomorf meng- paling banyak distribusinya. Namun dalam study linguistic lebih umum disebut morfem meN- (dibaca:me- nasal; N besar melambangkan Nasal).

5.1.3 Klasifikasi Morfem

5.1.3.1 Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Contoh: pulang, makan, rumah dan bagus adalah termasuk morfem bebas. Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam morfem Indonesia:

Pertama, bentuk-bentuk seperti juang, henti, gaul, dan baur juga termasuk morfem terikat, karena bentuk tersebut meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam peraturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi, seperti afeksasi, reduplikasi,dan komposisi. Bentuk-bentuk ini lazim disebut bentuk prakate gorial (Verhaar 1978). Kedua, bentuk-bentuk seperti baca, tulis dan tendang juga termasuk bentuk prakategorial, karena bentuk-bentuk tersebut baru merupakan pangkal kata, sehinggabaru bisa muncul dalam peraturan sesudah mengalami proses morfologi.

Menurut Verhaar kalimat imperative adalah kalimat ubahan dari kalimat deklaratif. Dalam kalimat deklaratif aktif harus digunakan prefiks inflektif me-, dalam kalimat deklaratif pasif harus digunakn prefiks inflektif di-, atau ter-; sedangkan dalam kalimat imperative, juga dalam kalimat partisif, harus digunakn prefiks inflektif θ. Ketiga bentuk-bentuk seperti renta (yang hanya muncul dalam tua renta), kerontang (yang hanya muncul dalam kering kerontang) juga termasuk morfem terikat, karena hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu, maka bentuk tersebut disebut juga morfem unik.

Keempat, bentuk-bentuk yang termasuk preposisi dan konjungsi, seperti ke, dari, pada, dan kalau dan atau secara morfologis termasuk morfem bebas, tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat.

Kelima, yang disebut klitika merupakan morfem yang agak sukar ditentukan statusnya; apakah terikat atau bebas. Kalimat Ayahlah yang akan datang dapat dipisah dari kata ayah, misalnya menjadi Ayahmulah yang akan dating.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Semua morfem dasar bebas yang dibicarakanpada 5.1.3.1 adalah morfem utuh. Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Umpamanya pada kata kesatuan terdapat satu morfem yang utuh yaitu {satu} dan satu morfem terbagi, yakni {ke-/-an}. Yang perlu diperhatikan untuk morfem Indonesia :

Pertama, semua afiks yang disebut konfuks seperit ke-an, ber-/-an, per-/-an, dan per-/-an adalah termasuk morfem terbagi. Namun ber-/-an bisa merupakan konfiks.Untuk menentukan apakah ber-/-an konfiks atau bukan maka harus diperhatikan makna gramatikal yang disandangnya .

Kedua, dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut infiks, yakni afiks yang disisipkan ditengah morfem dasar. Misalnya, afiks {-er-} pada kata gerigi, infiks {-el-}pada kata pelatuk. Dengan demikian infiks tersebut telah mengubah morfem utuh {gigi} menjadi morfem terbagi {g-/-igi}, morfem utuh {patuk}menajdi morfem terbagi {p-/-atuk}.

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem ayng dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem {lihat} ,{lah}, {sikat}, dan {ber} .Jadi semua morfem ayng berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya. Misalnya dalam bahasa Ngabaka diKongo Benua Afrika setiap verba selalu disertai dengan penunjuk kata {tense) yang berupa nada. Aturannya, nada turun (\) untuk kala ini, nada datar (-) untuk kala lampau, nada turun naik (v) untuk kala nanti, dan nada naik (/) untuk bentuk imperative. Contoh : kala kini kala lampau kala nanti imperative makna à ā ă á menaruh.

Kita lihat di samping morfem segmental {a} dengan arti menaruh ’menaruh’ ada empat morfem suprasegmental yang menyebabkan keempat morfem itu bermakna: {à} ’sedang menaruh’, {ā} ’sudah menar’, {ă}’akan menaruh’, dan{ā} ’taruhlah’. Dalam bahasa Indonesia tampaknya tidak ada morfem suprasegmental ini.

5.1.3 4 Morfem Beralomorf Zero (ø)

Yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa kekosongan. Bentuk tunggal untuk book adalah book dan bentuk jamaknya adalah books; bentuk tunggal sheep adalah sheep dan bentuk jamaknya adalah sheep juga. Karena bentuk jamak untuk books terdiri dari dua buah morfem, yaitu morfem {book} dan morfem {-s}, maka dipastikan bentuk jamak untuk sheep adalah morfem {ø}. Dengan demikian bias dikatakan bahwa {ø} merupakan salah satu alomorf dari morfem penanda jamak dalam bahasa Inggris. Pada kasus foot menjadi feet dan child menjadi children ada perubahan bentuk, bukan adanya penamabahan atau tidak adanya penambahan.

5.1.3.5 Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lainnya. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, morfem-morfem seperti {kuda}, {Pergi}, dan {merah}adalah morfem bermakna leksika. Sebaliknya morfem bermakna tidak leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.Yang biasanya disebut dengan morfem tidak bermakna leksikal ini adalah morfem-morfem afiks, seperti {ber-}, {me-}, dan{ter-}.

5.1.4 Morfem Dasar,Bentuk Dasar,Pangkal (Stem),dan Akar (Root)

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Jadi, bentuk-bentuk seperti {juang}, {kucing}, dan {sikat} adalah morfem dasar. Morfem dasar ini ada yang termasuk morfem terikat, seperti {juang}, {henti}, dan{abai}; tetapi ada juga yang termasuk morfem bebas seperti {beli}, {lari}, dan {kucing}, sedangkan morfem afiks seperti {ber-}, {ter-}, dan{-kan} jelas semuanya termasuk morfem terikat. Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau dasar base dalamsuatu proses morfologi. Artinya bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, bisa di ulang dalam suatu proses reduplikasi, atau bisa digabung dengan morfem lain dalam suatau proses komposisi.

Istilah bentuk dasar atau base saja biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal , tetapi dapat juga berupa gabungan morfem. Istilah pangkal(stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif. Pada kata books pangkalnya adalah book, kata menangisi bentuk pangkalnya adalah tangisi dan morfem me- adalah sebuah afiks infkeltif. Akar(root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya, baik afiks infleksional maupun afiks derivasionalnya ditanggalkan. Contoh: Untouchables akarnya adalah touch.

5.2 KATA

5.2.1 Hakikat Kata

Para tata bahasawan structural, terutama penangut aliran Bloomfield, tidak lagi membicarakan kata sebagai satuan lingual; dan menggantinya dengan satuan yang

disebut morfem. Batasan kata yang dibuat Bloomfield sendiri yaitu kata adalah satuan bebas terkecil (a minimal free form) tidak pernah diulas atau dikomentari, seolah-olah batasan itu sudah seperti batasan final. Munurut tata bahasa Generatif Transformasi, yang dicetuskan dan dikembangkan oleh Chomsky, meskipun menyatakan kata adalah dasar analisis kalimat, hanya menyajikan kata itu dengan symbol-simbol V (verba), N(nomina), A( ajektiva), dan sebagainya. Tidak dibicarakannya hakikat kata secara khusus oleh kelompok Bloomfield dan pengikutnya adalah karena dalam analisis bahasa, mereka melihat hierarki bahasa sebagai: fonem ,morfem, dan kalimat. Brerbeda dengan tata bahasa tradisional yang melihat hierarki bahasa sebagai: fonem, kata, dan kalimat. Menurut Verhaar (1978) bentuk-bentuk kata bahasa Indonesia, misalnya mengajar, diajar, kauajar, terajar, dan ajarlah bukanlah lima buah kata yang berbeda, melainka lima buah varian dari sebuah kata yang sama.

5.2.2 Klasifikasi Kata / Part Of Speech

Para tata bahsawan tradisional menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi. Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasikan kelas verba, nomina, dan ajektifa; sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengiidentifikasikan preposisi, konjugnsi, adverbial, pronominal dan lainnya.Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan ; yang disebut nomina adalah kata yang benda atau yang dibendakan; dan ayng disebut konjungsi adalah kata yang bertugas atau berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata, atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lainnya. Para tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu truktur atau konstruksi. Misalnya, yang disebut nomina adalah kata yang dapat berdistribusi dibelakang kata bukan; atau dapat mengisi konstruksi bukan…..

Yang termasuk kata verba adalah kata ayng berdistribusi dibelakang kata tidak, atau dapat mengisi konstruksi tidak…..Ajektifa adalah kata-kata yang dapat berdistribusi di belakang kata sangat, atau dapat mengisi konstruksi sangat…… Kriteria yang digunakan para tata bahasawan strukturalsi ini dewasa ini,untuk telah bahasa-bahasa Indonesia, banyak diikuti orang karena dianggap lebih baikdan lebih konsisten daripada kriteria yang digunakan tata bahasawan tradisional. Namun sebenarnya kriteria yang digunakan para tata bahasawan strukturalis ini juga banyak menimbulkan banyak masalah. Ada juga kelompok linguis yang menggunakan kriteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata. Secara umum, fungsi subjek diisi oleh kelas nomina ;fungsi predikat diisi oleh verba atau ajektifa ;fungsi objek oleh kelas nomina; dan fungsi keterangan oleh adverbial. Klasifikasi atau penggolongan kata itu memang perlu, sebab besar manfaatnya,

baik secara teoritis dalam studi semantic, maupun secara praktis dalam berlatih

keterampilan berbahasa. Dengan mengenal kelas sebuah kata, yang dapat kita

identifikasikan dari ciri-cirinya, kita dapat memprediksikan penggunaan atau

pendistribusian kata itu didalam ujaran, sebab hanya kata-kata yang berciri atau yang

beridentifiaksi yang sama saja yang dapat menduduki suatu fungsi atau suatu distribusi di

dalam kalimat.

5.2.3 Pembentukan Kata

Untuk dapat digunakan didalam kalimat atau pertuturan tertentu, maka setiap

bentuk dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutinasi, harus dibentuk lebih dulu

menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi ,maupun

proses komposisi. Pembentukan kata mempunyai dua sifat, yaitu pertama membentuk

kata-kata yang bersifat inflektif, dan kedua yang bersifat derivative.

5.2.3.1 Inflektif

Kata-kata dalam bahasa berfleksi seperti bahasa Arab, bahasa Latin, dan bahasa

Sansekerta, untuk dapat digunakan didalam kalimat harus disesuaikan dahulu bentuknya

dengan kategori-kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu. Perubahan atau

penyesuaian bentuk pada verba disebut konjugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada

nomina dan ajektifa disebut deklinasi.

Bahasa Indonesia bukanlah bahasa berfleksi. Jadi, tidak ada masalah konjugasi

dan deklinasi dalam Bahasa Indonesia. Namun, banyak penulis barat, termasuk Verhaar

(1978), menyatakan bentuk-bentuk seperti membaca, dibaca, terbaca, kau baca, dan

bacalah adalah paradigma infleksional.

5.2.3.2 Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas yang

identitas fleksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya. Contoh : dari kata air yang

berkelas nomina dibentuk menjadi mengairi yang berkelas verba; dari kata makan yang

berkelas verba dibentuk kata makanan yang berkelas nomina. Perbedaan identitas

leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama seperi kata

makanan dan pemakan, yang sama-sama berkelas nomina, tetapi maknanya tidak sama.

5.3 PROSES MORFEMIS

5.3.1 Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.

Bentuk dasar atau dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar,

yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disekmentasikan lagi, misalnya meja, beli, makan,

dan sikat. Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya, dibedakan adanya dua jenis afiks

yaitu afiks inflektif dan afiks derivative. Afiks inflektif adalah afiks yang digunakan

dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional.

5.3.2 Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang benmtuk dasar, baik secara

keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi. Dalam

linguistik Indonesia sudah lazim digunakan sejumlah istilah sehubungan dengan

reduplikasi dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda.

Istilah-istilah itu adalah (a) Dwilingga yakni pengulangan morfem dasar, seperti

meja-meja dan aki-aki; (b) Dwilingga salin swara, yakni pengulangan morfem dasar

dengan perubahan vocal dan fonem lainnya, seperti bolak-balik dan mondar-mandir; (c)

Dwipurwa, yakni pengulangan silabel pertama, seperti lelaki, peparu, pepatah; (d)

Dwiwasana, yakni pengulangan pada akhir kata, seperti cengengesan; (e). Trilingga,

yakni pengulangan morfem dasar sampai dua kali, seperti dag-dig-dug dan cas-cis-cus.

Proses Reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional) dan dapat pula bersifat

derivasional. Reduplikasi yang paradigmatis tidak mengubah identitas fleksikal,

melainkan hanya memberi makna dramatikal. Misalnya meja-meja berarti banyak meja.

Yang bersifat derivasional membentuk kata baru atau kata yang identitas fleksikalnya

berbeda dengan bentuk dasarnya. Misalnya kata laba-laba dari dasar laba.

5.3.3 Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan dasar dengan morfem dasar,

baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang

memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru. Misalnya, lalu lintas, daya

juang, dan rumah sakit.

Dalam Bahasa Indonesia, proses komposisi ini sangat produktif. Hal ini dapat

dipahami, karena dalam perkembangannya Bahasa Indonesia banyak sekali memerlukan

kosa kata untuk menampung konsep-konsep yang belum ada kosa katanya atau istilahnya

dalam Bahasa Indonesia. Contoh, untuk konsep “sapi kecil” atau “sapi” yang belum

dewasa” disebut anak sapi”, yakni hasil penggabungan kata anak dan sapi.

5.3.4 Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi

Konversi, sering juga disebut derifasi zero, transmutasi, dan trasposisi, adalah

proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur

segmental. Contoh, kata cangkul adalah nomina dalam kalimat “Ayah membeli cangkul

baru”; tetapi dalam kalimat “Cangkul dulu baik-baik tanah itu, baru ditanami” adalah

sebuah verba. Modifikasi Internal sering disebut juga penambahan internal atau

perubahan internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur

(yang biasanya berupa vocal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (yang biasanya

berupa konsonan).

5.3.5 Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan

leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan

makna bentuk utuhnya. Hasil proses pemendekan ini disebut kependekan. Misalnya,

bentul lab (utuhnya laboratorium), hlm (utuhnya halaman), l (utuhnya liter), dan SD

(utuhnya Sekolah Dasar).

Dalam berbagai kepustakaan, hasil proses pemendekan ini biasanya dibedakan

atas penggalan, singkatan, dan akronim. Penggalan adalah kependekan berupa

pengekalan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang dipendekkan itu. Misalnya, lab

dari laboratorium. Singkatan adalah hasil proses pemendekan. Misalnya, DPR (Dewan

Perwakilan Rakyat), hlm (halaman). Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata

atau dapat dilafalkan sebagai kata. Misalnya wakuncar (waktu kunjung pacar) dan inpres

(instruksi presiden).

5.3.6 Produktivitas Proses Morfemis

Yang dimaksud produktivitas dalam proses morfologis ini adalah dapat tidaknya

proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi, digunakan

berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas; artinya, ada kemungkinan menambah

bentuk baru dengan proses tersebut. Proses inflektif tidak dapat dikatakan sebagai proses

yang produktif, karena infletif bersifat tertutup. Lain halnya dengan derivasi. Proses

derivasi bersifat terbuka. Artinya, penutur suatu bahasa dapat membuat kata-kata baru

dengan proses tersebut.

5.4 MORFOFONEMIK

Morfonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi, atau

peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi,

reduplikasi, maupun komposisi. Misalnya dalam proses afiksasi bahasa Indonesia dengan

prefiks me- akan terlihat bahwa prefiks me- itu akan berubah menjadi mem-, men-,

meny-, menge-, atau tetap me-, menurut aturan-aturan fonologis tertentu. Perubahan

fonem dalam proses merfofonemik ini dapat berwujud: (1) pemunculan fonem, (2)

pelesapan fonem, (3) peluluhan, (4) perubahan fonem, dan (5) pergeseran fonem

Contoh:

Sejarah + wan sejarawan

Me- + sikat menyikat

Ber- + ajar belajar

Proses pergeseran fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel

yang lainnya, biasanya ke silabel berikutnya.

Contoh:

ja. wab + -an ja. wa. ban

lom. pat + -i lom. pa. ti

 

hermawan setyo adjie,1402408164_BAB VIII

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 7:25 pm

Nama : Hermawan Setyo Aji

NIM : 1402408164

BAB VIII

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Studi linguistik telah mengalami tiga tahap perkembangan, yaitu dari tahap pertama disebut tahap spekulasi, merupakan pernyataan-pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada bukti empiris, melainkan pada dongeng atau cerita rekaan belaka. Sebagai contoh pernyataan Andreas Kemke yang mengatakan bahwa Nadi Adam di surga berbicara dengan bahasa denmark.

Tahap kedua disebut tahap observasi dan klasifikasi, dimana pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai pada merumuskan teori. Karena itu, perkerjaan mereka belum dapat dikatakan bersifat ilmiah. Contohnya pendapat suku Dayak Iban yang mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada satu bahasa, tetapi karena pengaruh mabuk cendawan, mereka berbicara dalam bebagai bahasa.

Penyelidikan bersifat ilmiah dilakukan pada tahap ketiga, dimana bahasa yang diteliti itu bukan hanya diamati dan di klasifikasi, tetapi juga dibuatkan teori-teorinya.

8.1 Linguistik Tradisional

Istilah tradisional dalam linguistik sering dipertentangkan dengan istilah struktural, sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural.

Adapun perbedaan dari tata bahasa tradisional dengan tata bahasa struktural, yaitu. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan sematik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau cirri-ciri formal dalam suatu bahasa tertentu.

Dalam merumuskan kata kerja tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian, sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang berdistributii dengan fase “dengan…”.

Terbentuknya tata bahasa tradisional sangat panjang mulai dari zaman Yunani hingga abad ke-19.

8.1.1 Linguistik Zaman Yunani

Studi bahasa pada zaman Yunani lebih kurang abad ke-5 S.M sampai kurang abad ke-2 M. jadi, kurang lebih sekitar 600 tahun. Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis adalah :

a. Pertentantangan antara fisis (bersifat alamiah) dan nomos (bersifat konvensi).

b. Pertentangan antara anomali dan analogi.

Bersifat alamai fisis maksudnya bahasa mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti diluar manusia itu sendiri. Para pendukungnya disebut kaum naturalis. Sedangkan bahasa bersifat konvensi, artinya makna kata itu diperoleh dari hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasan, yang mempunyai kemungkinan bisa berubah. Adalah kaum konvensional yang berpendapat demikian.

Pertentangan analogi dan anomali menyangkut masalah bahasa itu sesuatu yang teratur atau tidak teratur. Kaum analogi, seperti Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. Karena itulah orang dapat menyusun tata bahasa dengan teratur.

Dari keterangan diatas tampak bahwa kaum anomali sejalan dengan kaun naturalis, dan kaum analogi sejalan dengan kaum konvensional. Pertentangan kedua kelompok itu masih berlangsung sampai sekarang,

Berikut ini beberapa nama kaum atau tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa pada zaman Yunani.

8.1.1.1 Kaum Sophis

Kaum sophis munculpada abad ke-5 S.M. Mereka dikenal dalam studi bahasa,antara lain,

Ø Mereka melakukan kerja secara empiris,

Ø Secara pasti menggunakan ukuran-ukuran tertentu,

Ø Sangat mementingkan bidang retorika,

Ø Membedakan tipe-tpie kalimat berdasarkan isi dan makna.

Ada dua tokoh Sophis yaitu Protogoras yang menbagi kalimat menjadi :


· Kalimat narasi,

· Kalimat jawab,

· Kalimat laopran,

· Doa,


· Undangan.

dan Georgias, yang membicarakan tentang gaya bahasa.

8.1.1.2 Plato (429 – 329 S.M)

Dalam studi bahasa dikenal karena :

1. Memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya “Dialog”. Juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konvensianal,

2. Menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantaraan onomata dan rhemata.

3. Membedakan kata dalam onomata dan rhemata.

8.1.1.3 Aristoteles (384 – 322 S.M)

Aristoteles membagi 3 macam kelas kata yaitu :

· Onoma : dapat berarti (1) nama, (2) nomina, (3) subjek

· Rhema : dapat berarti (1) ucapan, (2) verba, (3) predikat

· Syndesmoi : kurang lebih sama dengan kelas preposisi dan konjugasi

Kemudian membedakan gender kata menjadi 3, yaitu maskulin, feminim dan neutrum.

8.1.1.4 Kaum Stoik

Kaum Stoik adalah kelompok ahli filsafat yang berkembang pada permulaan abad ke-4 S.M. Mereka terkenal karena :

v Membedakan studi bahasa secara logika dan tata bahasa,

v Menciptakan istilah-istilah khusus untuk studi bahasa,

v Membedakan 3 komponen utama dari studi bahasa, membedakan kegein dan propheretal, membagi kata menjadi 4 yaitu kata benda,

v Kata kerja, syndesmoi dan athoron, terakhir membedakan adanya kata kerja komplet dan tak komplet, serta kata kerja aktif dan pasif.

8.1.1.5 Kaum Alexandrian

Cikal bakal bahasa tradisional berasal dari buku Dionysius Thrax yang dianut oleh kaum Alexandria.. Buku ini lahir lebih kurang tahun 100 S.M. Buku ini diterjemahkan ke bahasa latin dengan judul Ars grammatical oleh Remmius Palaemon. Karena sifatnya yang mentradisi, sampai sekarang dikenal sebagai tata bahasa tradisional.

8.1.2 Linguistik Zaman Romawi

Zaman Romawi disebut lanjutan zaman Yunani. Dapat dikatakan orang Romawi mendapat pengalaman linguistik dari Yunani. Remmius Palaemon menerjemahkan tata bahasa Dionysius Thrax kedalam bahasa latin dengan judul Ars Grammatica pada awal abad pertama.

8.1.2.1 Varro dan “De Lingua Latina

Varro membagi buku De Lingua Latina kedalam 3 bidang, entimologi, morfologi dan sintaksis, penjelasannya yaitu :

  1. Entimologi, yaitu cabang linguistik yang menyeldiki asal usul kata beserta artinya.
  2. Morfologi, yaitu cabang linguistik yang mempelajari kata dan pengucapannya. Jadi ada bentuk regular dan yang tak regular,Varro membagi kelas latin dalam empat bagian yaitu :

    1. Kata benda, termasuk kata sifat,yakni kata berinfleksi kasus,
    2. Kata kerja, yakni kata yang memuat pertanyaan yang berinfleksi “tense”,
    3. Partisipel, kata yang meghubungkan, yang berinfleksi kasus dan “tense”,
    4. Adverbiun, yakni kata yang mendukung, tak berinfleksi.

8.1.2.2 Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Buku Institutiones Grammaticae dijadikan dasar tata bahasa Latin dan filsafat pertengahan. Buku ini diangap penting karena :

1. Merupakan buku Latin yang paling lengkap yang dituturkan penbicara aslinya,

2. Teori bahasanya merupakan tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Beberapa segi yang patut dibicarakan megenai buku ini adalah :

a. Fonologi, yang dibicarakan adalah tulisan atau huruf (litterace). Yang dimaksud adalah bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan.

b. Morfologi, yang dibicarakan mengenai dictio atau kata. Yang dimaksud adalah bagian minmum dari sebuah ujaran dan haru s diartikan terpisah.

c. Sintaksis, yang dibicarakan tata susunan kata yang selaras dan menunjukkan kalimat selesai(Oratio).

8.1.3 Zaman Pertengahan

Studi bahasa pada zaman pertengahan di Eropa dipakai sebagai bahasa gereja, bahasa diplomasi dan bahasa ilmu pengetahuan disebut Lingua Franca. Adalah Kaum Modisate, Tata Bahasa Spekulativa, dan Pertus hispanus yang patut di bicarakan dalam studi bahasa dari zaman pertengahan.

Kaum Modisate mereka masih membicarakan pertentangan antar fisis dengan nomos, analogi dengan anomaly.

Tata Bahasa Spekulativa ialah hasil inyegrasi deskripsi grammatical bahasa latin kedalam filsafat skolastik.

Petrus Hispanus. Perannya dalam bidang linguistik adalah :

a) Memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa,

b) Membedakan signifikasi utama dan konsignifikasi,

c) Membedakan nomen menjadi 2, yaitu substantivum dan adjectivum,

d) Membedakan patres oratigones atas categorematik dan syntategorematik.

8.1.4 Zaman Reanisans

Zaman Reanisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad moderen karena menguasai bahasa latin serta sarjana-sarjananya menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani dan bahasa Arab.

Bahasa Ibrani dan bahasa Arab dipelajari orang pada akhir abad pertengahan, keduanya diakui resmi oleh universitas di Paris pada abad 14 M. Bahasa Ibrani perlu dipelajari karena kedudukannya pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Sedang linguistik Arab berkembang karena sebagai bahasa kitab sucu Al Qur’an agama Islam. Pandapat banyak ulama Al Qur’an tidak boleh di terjemahkan tetapi boleh ditafsirkan. Ada 2 aliran yaitu Basra dan Kufah, yang namanya dimbil dari nama daerah kedudukan para linguis.

Bahasa-bahasa Eropa, sebenarnya sudah menarik perhatian sejak zaman Reanisan,disamping bahasa Yunani dan Latin, ada buku dengan bahasa Irlandia, Islandia dan Provecal. Yang menjadi perhatian justru bahasa Roman atau Neo-Latin.

Bahasa-bahasa di luar Eropa, mendapat perhatian dari para misionaris yang dikirim ke luar negrei, karena itulah muncul tulisan tentang bahasa India, Jepang, dan Indonesia.

8.1.5 Menjelang Lahirnya Linguistik Moderen

Masa antara lahirnya linguistik moderen dengan masa berakhirnya zaman reanisans ada satu tonggak yang dianggap pentingyaitu dinyatakannya adanya hubungan kekerabatan antara bahasa sansekerta dengan bahasa-bahasa Yunani, Latin dan bahasa- bahasa Jerman lainnya.

Dapat disimpulkan pembicaran linguistik tradisional adalah :

a) Tata bahasa tardisional tidak dikenal perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan,

b) Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokandari bahasa lain, terutama Latin,

c) Kaidah bahasanya dibuat prespektif,

d) Persoalan bahasa sering dolibatkan dengan logika,

e) Penemuan atau kaidah terdahulu cenderung dipertahankan.

8.2 Linguistik Strukturalis

Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Tidak seperti linguistik tradisional yang menerapkan pola tata bahasa Yunani dan Latin.

Pembicaraan Linguistik Strukturalis dapat dimulai dari Ferdinand de Saussura yang dikenal sebagai Bapak Linguistik Struktur.

8.2.1 Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure (1851-1913) dianggap sebagai Bapak Linguistik Moderen berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale. Berikut pandangannya secara singkat.

Telaah Sinkronik dan Diakronik, adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu.

La Language dan La Parole, yang dimaksud la language yaitu keseluruhan system tanda yang berfugsi sebagai alat komunikasi. Sedang la parole adalah pemakaian atau relisasi language oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa, sifatnya kongkret karena parole itu tidak lain daripada realita fisis dari orang yang satu dengan yang lain.

Significant dan signifĕ, significant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita, sedang signifiĕ adalah pengertian atau kesan yang ada dalam pikiran kita.

Hubungan Sintamatik dan Paradigmatik, yang dimaksud hubungan sintamatik yaitu hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bresifat linear. Hubungan paradigmatic adalah hubugan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturanyang bersangkutan.

8.2.2 Aliran Praha

Aliran Praha terbentuk pada tahun 1926batas prakarsa Vilem Matheus (1882-1945). Dalam bidang fonologi, aliran Praha membedakan dengan tegas akan fonetik dengan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi itu sendiri, sedang fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut sebagai system.

Srtuktur bunyidijelaskan dengan memakai kontras dan oposisi. Ukuran untuk menentukan apakah bunyi ujaran itu beroposisi atau tidak bermakna adalah distingtif. Artinya, bunyi itu tidak fonemis.

Dalam aliran Praha, bidang fonologi dikenalkan dan dikembangkan istilah yang disebut morfonologi. Dalam bidang sintaksis, Vilem Matheus mencoba menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional. Menurut pendekatan ini kalimat dapat dilihat dari struktur formalnya, dan struktur formalnya, dan dari struktur informasinya yang terdapat dalam kaliamt yang bersangkutan.

8.2.3 Aliran Glosematik

Aliran Glosematik lahir di Denmark, tokohnya Louis Hjemslev yang terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dariilmu lain, dengan peralatan, metodologis dan termilogis sendiri.

Menurutnya teori bahasa haruslah bersifat sembarang saja, harus merupakan suatu system deduktif semata. Bahasa mengandung dua segi yaitu segi ekspresi dan segi isi. Masing-masing segi mengandung forma dan substansi.

8.2.4 Aliran Firthian

John R. Frith (1890-1960) guru besar Universitas London terkenal dengan teorinya mengenai fonologi prosodi atau aliran Frith, atau Aliran Frithian, atau Aliran London.

Fonologi prosodi terdiri dari satuan fonematis dan satuan prosodi. Satuan fonematis berupa unsur segmental, yaitu konsonan dan vocal, sedang satuan prosodi berupa cirri dan sifat struktur yang lebih panjang daripada suatu segmen tunggal.

8.2.5 Linguistik Sistemik

Tokoh dari aliran Linguistik Sistematik Yaitu M.A.K Halliday, seorang murid Frith yang mengembangkan teori Frith mengenai bahasa, khususnya berkenaan dengan segi kemasyarakatan bahasa. Pokok pandangan linguistik sistematik adalah :

Pertama memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa,

Kedua memandang bahasa sebagai “pelaksana”, karena mengakui langue dan parole,

Keiga mengutamakan pemerian cirri bahasa tertentubeserta variasinya,kuramg tertarik pada kesemestaan bahasa,

Keempat mengenal adanya gradasi dan kontinum.

Kelima mengambarkan tiga tataran utama bahasa sebagai substansi, forma, situasi.

8.2.6 Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Leonard Bloomfield (1877-1949) terkenal dengan bukunya yang berjudul Language dan selalu dikaitkan dengan aliran struktural Amerika. Aliran ini berkembang pesat di Amerika pada tahun tigapuluhan sampai akhir tahun lima puluhan. Yang menyebabkan aliran ini berkembang antara lain :

1. Pada masa itu para linguis Amerika menghadapi banyaknya bahasa India di amerika yang belum dperikan, mereka ingin memerikan dengan cara sinkronik,

2. Bloomfield menolak metalistik yang sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada saat itu di Amerika, yaitu filsafat behaviorisme,

3. Antara linguis ada hubungan baik,karena adanya The Linguistics Society of America, yang menerbitkan majalah Language,

Satu hal yang menarik dan merupakan cirri aliran ini yaitu sangat menekankan pentingnya data yang objektif untuk memerikan suatu bahasa.

Aliran yang dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering disebut aliran taksonomi, dan aliran Bloomfieldian atau post-Bloomfieldiman, karena bermula atau bersumber pada gagasan Bloomfield.

8.2.7 Aliran Tagmemik

Aliran Tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike, seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics, yang mewarisi pandangan Bloomfield, sehingga aliran ini bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis.

Yang dimaksud dengan Tagmem adalah kolerasi dengan sekelompok bentuk kata yang dapat saling ipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya dua unsur tagmem yaitu fungsi dan bentuk ditambah dengan peran dan kohesi yang membentuk jalinan erat.

8.3 Linguistik Transformasional dan Aliran-Aliran Sesudahnya

Orang merasa model struktural mempunyai banyak kelemahan, sehingga mencoba merevisi model struktural yang agak beda meski masih banyak persamaannya dengan model struktural semula. Perubahan total terjadi dengan lahirnya linguistik transformasional. Namun setelah dirasa linguistik transformasional banyak kekurangannya maka orang banyak yang membuat model lain.

8.3.1 Tata Bahasa Transformasi

Dalam bahasa Indonesia, tata bahasa transformasi disebut juga dengan tata bahasa generatif. Lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Stucture pada tahun 1957. kemudian dikembangkan dari kritik menjadi buku keduanya yaitu Aspect of Theory of Syntac.

Model tata bahasa yang dikembangkan adalah Transformational Generative Grammar. Menurutnya tata bahasa harus memenuhi dua syarat yaitu :

1. Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut,sebagai kalimat wajar,

2. Tata bahasa harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan yang digunakan tidak berdasar pada gejala bahasa saja, da semuanya harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.

3. Jadi tata bahasa harus mampu mengambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian besar, barangkali, belum pernah didengarnya atau dilihatnya.

8.3.2 Semantik Generatif

Kelompok Lakoff terkenal dengansebutan Kaum Semantik generatif. Mereka memisahkan diri karena ketidakpuasan terhadap teori guru mereka Chomsky. Menurut sematik sudah seharusnya sematik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu.

8.3.3 Tata Bahasa Kasus

Tata bahasa kasus atau teoripertama kali diperkenlkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Case for Case” tahun 1968.

Persamaan antara teori semantik generatif dengan teori kasus yaitu sama-sama menumpukkan teorinya pada predikat atau verba. Yang dimaksud dengan kasus adalah hubungan antara verba dengan nomina.

8.3.4 Tata Bahasa Relasional

Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap asumsi teori sintaksis yang dicangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Tokoh-tokoh aliran ini, David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Seperti tata bahasa transformasi, tata bahasa relasional mencari kaidah kesemestaan bahasa.

8.4 Tentang Linguistik di Indonesia

Studi linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap, meskipun studi linguistikdi Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak.

8.4.1 Sebagai negeri yang sangat luas yang dihuni oleh beberapa suku bangsa dengan berbagai bahasa daerah yang berbeda pula, maka Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. Sesuai dengan masanya, penelitian tentang linguistik juga berkembang.

8.4.2 Bahasa adalah bunyi dan bukan tulisanhingga kini masih cukup rawan, terbukti dengan masih banyaknya orang yang belum dapat membedakan konsep fonem dan huruf. Perkenalan dengan konsep linguistik moderen banyak menimbulkan pertentangan. Perkembangan waktu menyebabkan konsep linguistik moderen dapat diterima.

8.4.3 Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) dibentuk pada tanggal 15 November 1975 atas prakarsa sejumlah linguis senior dengan anggota para linguis yang bertugas sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri atau swasta dan lembaga-lembaga penelitian kebahasaan. Jauh sebelum majalah Linguistik Indonesia sebenarnya sudah ada majalah liguistik yang mengunakan bahasa Inggris.

8.4.4 Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa nasional Indonesia, banyak pula dilakukan orang diluar Indonesia. Universitas Leiden di Negeri Belanda telah mempunyai sejarah panjang dalam penelitian bahasa-bahasa Nusantara. Selain itu kajian linguistik Indonesia dapat ditemui di London, Amerika, Jerman Italia.

8.4.5 Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa Negara, maka bahasa Indonesia menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik, baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam kajian bahasa nasional Indonesia tercatat nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjowidjojo, Soedarjanto yang banyak menghasilkan tulisan mengenai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

ngatini, 1402408147

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:23 pm

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) :

MORFOLOGI

Satuan bunyi terkecil dari aru ujaran fonem diatas satuan fonem yang fungsional silabel.Silabel hanyalah satuan ritmis yang ditandai dengan adanya satuan sonoritas atau puncak kenyaringan.Diatas satuan silabel itu secara kualitas ada satuan lain yang fungsional yang disebut morfem.

5.1. morfem

Morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis,dan tidak semua morfem mempunyai makna secara filosofis.

5.1.1 Identifikasi morfem

Bisa badir secara berulang-ulang dengan bentuk lain.Morfem sebagai contoh ambil bentuk kedua,ternyata benyuk kedua dapat banding-bandingkan dengan bentuk-bentuk sebagai berikut :

1. kedua

2. ketiga

3. kelima

Semua bentuk ke pada daftar di atas dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan yang mempunyai makna yang sama,menyatukan tingkat atau derajat.Dengan demikian bentuk ke pada daftar di atas, karena merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang dan mempunyai makna yang sama,bisa disebut sebagai sebuah morfem.Sekarang perhatian bentuk ke :

1. kepasar

2. kekampus

3. kemesjid

Bentuk ke pada daftar di atas dapat disegmentasikan sebaagai satuan tersendiri,dan juga mempunyai arti yang sama menyatakan arah dan tujuan.Makna bentuk ke pada kedua dan kepasar tidak sama,maka kedua ke itu bukanlah morfem yang sama.Keduanya merupakan dua buah morfem yang berbeda,meskipun bentuknya sama.Jadi kesamaan arti dan kesamaan bentuk merupakan ciri atau identitas sebuah morfem.

Sekarang perhatikan bentuk meninggalkan,lalu bandingkan dengan bentuk-bentuk lain :

1. meninggalkan

2. ditinggal

3. tertinggal

4. peninggalan

Dari daftar tersebut ternyata ada bentuk yang sama,bagian yang sama itu adalah bentuk tinggal atau ninggal.Maka bentuk tinggal adalah sebuah morfem,karena bentuknya sama dan maknanya juga sama.

Untuk menentukan sebuah bentuk adalah morfem atau bujan,kita memang harus mengetahui atau mengenal maknanya.Pehatikan contoh berikut :

1. menelantarkan

2. telantar

3. lantaran

Meskipun bentuk lantar terdapat berulang-ulang pada daftar tersebut, tetapi bentuk lantar itu bukanlah sebuah morfem karena tidak ada maknanya.Lalu bentuk menelantarkan memang punya hubungan dangan terlantar,tetapi tidak punya hubungan dengan lantaran.

Dalam studi morfologi suatu satuan bentuk yang bersatus sebagai morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya di antara kurung kurawal.

5.1.2 Morf dan Alomorf

Morfem adalah bentuk yang sama,yang terdapat berulang-ulang dalam satuan bentuk yang lain. :

1. melihat

2. merasa

3. membawa

4. membantu

Kita lihat ada bentu-bentuk yang mirip atau hampir sama maknanya juga sama.Bentuk-bentuk itu adalah me pada melihat dan merasa, mem- pada membawa dan membantu.apakah me-, mem-, itu sebuah morfem atau bukan,sebab meskipun maknanya sama tetapi bentukanya tidak persis sama.Bentuk itu adalah sebuah morfem, sebab ,meskipun bentuknya tidak persis sama,tetapi berbedaannya dapat dijelaskan secara fonologis.Bentuk me- berdistrbusi,antara lain,pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan/1/dan/r/; bentuk mem- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/dan juga/p/;

Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama itu di sebut alomorf. Dengan perkataan lain alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu mempunyai alomorf,bisa juga dikatakan morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya,alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

Dalam tata bahasa tradisional nama yang digunakan adalah awalan me-, dengan penjelasan,awalan me- ini akan mendapat sengau sesuai dengan lingkungannya. Dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dipilih almorf meng- sebagai nama morfem itu, dengan alasan alomorf meng- paling banyak distribusinya,dalam studi linguistik lebih umum disebut morfem meN-.

5.1.3 klasifikasi morfem

morfem-moerfem dalam setiap bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan kebebasannya,keutuhannya,maknanya,dan sebagai.berikut ini akan dibacakan secara singkat.

5.1.3.1 Morfem bebas dan morfem terikat

Morfem bebas adalah : morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam ertuturan. Misalnya,bentuk pulang,makan,rumah,dan bagus. Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.

Berkenaan dengan morfem terikat ini dalam bahasa Indonesia ada berapa hal yang perlu dikemukakan. Yaitu :

1) Bentuk-bentuk seperti juang, henti, gaul, danbaur juga termasuk morfem terikat, karena bentuk-bentuk tersebut,meskipun bukan afiks,tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi, seperti aflikasi, reduplikasi, dan kompesisi. Bentubentuk lazim disebut bentuk prakate gorial.

2) Bentuk-bentuk seperti baca, tulis, dan tending juga termasuk bentuk prakategorial, sehingga baru bisa muncul dalam pertuturan sesudah mengalami proses morfologi.

3) Bentuk-bentuk seperti renta, kerontang, bugar juga termasuk morfem terikat. Lalu, karena hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu, maka bentuk-bentuk tersebut disebut juga morfem unik.

4) Bentuk-bentuk yang termasuk preposisi dan konjungsi, seperti ke, dari, dan, kalau, dan atau secara morfelogis termasuk morfem bebas, tetapi secara sinteksis merupakan bentuk trikat.

5) Yang disebut klitika mereupakan morfem yang agak sukar ditentukan setatusnya. Klitika adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel, secara vonologis tidak mendapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan slalu melekat pada bentuk lain, tetapi dapat dipisahkan. Umpamanya klitika, lah, ku. Menurut posisinya klitika klitika biasanya dibedakan atas proklitika dan enklitika. Proklitika adalah klitika yang berposisi di muka kata yang diikuti : Ku dan kau, kubawa dan kuambil. Enklitika klitika yang berposisi di belakang kata yang dilekati , seperti –lah,-nya,-dan –ku dialah duduk nya, dan nasibku.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Terbagi

Semua morfem dasar bebas yang dibicarakan termasuk morfem utuh, seperti {meja}, {kursi}, {kecil], {laut}, dan {pensil}. Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terbagi dari dua buah bagian yang terpisah. Umpamanya kesatuan terdapat satu. Morfem ituh, yaitu satu morfem terbagi, yakni (ke-/-an). Dalam bahasa Arab, dan juga bahasa Ibrani, semua morfem akar untuk verba adalah morfem terbagi, yang terdiri atas tiga buah konsunan yang dipisahkan oleh tiga buah vocal, yang merupakan morfem terikat yang terbagi pula.

Sehubungan dengan morfem terbagi ini, untuk bahasa Indonesia , ada catatan yang perlu diperhatikan, yaitu;

Pertama, semua afiks yang disebut konfiks seperti (ke-/-an),(ber-/-an),(per-/-an), dan (per-/-an) adalah termasuk morfem terbagi.

Kedua , dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut infiks yakni afiks yang disisikan ditengah morfem dasar. Misalnya (-er-) pada kata gerigi, infiks (-er-) pada kata pelatuk. Dengan demikian infiks tersebut telah mengubah morfem utuh (gigi) menjadi morfem terbagi (g-/-igi-) morfem utuh (patuk) menjadi morfem terbagi(p-/-atuk),dalam bahasa Indonesia infiks ini tidak produktif, bisa dikenakan pada kata benda apa saja.

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang di bentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem(lihat), (lah), (sikat), dan (ber). Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalh morfem segmental . Sedangkan morfem suprasegmental, seperti tekanan,nada, durasi dan sebagainya.Dalam bahasa Indonesia tampaknya tidak ada suprasegmental ini. Morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosudi (unsure suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan). Morfem bermakna leksikal adalah morfem –morfem yang secara inheren memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu proses dulu dengan morfem lain, misalnya dalam bahasa Indonesia ,morfem-morfem seperti (kuda), (pergi), (lari) , dan (merah) . Oleh karena itu dengan sendirinya sudah dapat di gunakan secara bebas dan mempunyai kedudukan yang atonom didalam pertuturan.

Morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri. M orfem lain dalam suatu proses morfologi.Yang biasa dimaksud denganmorfem tak bermakna leksikal ini adalah morfemorfem afiks, seperti (ber-), (me-), dan (ter-).

5.1.4 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem, dan Akar (Root)

orfem adalah dasar biasanya di gunakan sebagai dikotomi dengan mporfem afikls. Jadi , bentuk-bentuk seperti(juang), (kucing) dan (sikat) adalah morfem dasar. Morfem dasar ini ada yang termasuk morfem terikat, seperti(juang),(henti), dan (abai);tetapi ada juga yang termasuk morfem bebas seperti (beli), (lari),dan (kucing), sedangkan morfem afiks, seperti( ber-), dan (-kan ) jelas semuanya termasuk morfem terikat.

Bentuk dasar atau dasr(base) saja biasanya di gunakan untuk menyebut sebuah yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal, tetapi dapat juga berupa gabungan morfen. Istilah pangkal (stem) di gunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks infleksi. Dalam bahasa Indonesia kata menangisi bentuk pangkalnya adalah tangisi; dalam morfem me- adalah sebuah afiks inflektif. Mengakhiri subbab ibi perlu di ketengahkan adanya tiga macam morfem dasar bahasa Indonesia dilihat dari status atau potensinya dalam proses gramatika yang dapat terjadi pada morfem dasar itu. Pertyama adalah morfem dasar bebas, yakni morfem dasar yang secara potensial dapat langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat di gunakan dalam ujaran.Kedua , morfem dasar yang kebebasannya di persoalkan yang ternasuk ini adalah sejumlah morfem berakar verba, yang dalam kalimat imperatif atau kalimat sisipan, tidak perlu di beri imbuhan; dan dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat ditanggalkan. Ketiga , morfem dasar terikat , yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi.

5.2 KATA

tilah dan konsep morfem ini tidak dikenal oleh para tata bahasawan tradisional yang ada dalam tata bahasa bahasa tradisional sebagai satuan lingual yang selalu dibicarakan adalah satuan yang disebut kata.

5.2.1 Hakikat Kata

Para tata bahasawan tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata bardasarkan arti dan ortografi. Menurut mereka kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian ; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua spasi, dan mempunyai satu arti.

Bahasa kata yang kita jumpai dalam berbagai buku linguistic Eropa adalah bahwa kata merupakan bentuk yang, ke dalammempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berupa , dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat .Batasan tersebut menyiratan dua hal . Pertama, bahwa setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah , sertai tidak dapat diseliputi atau diselang oleh fonem lain. Kedua, setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat, atau tempatnya dapat di isi atau di gunakan oleh kata lain; atau juga dapat di pisahkan dari kata lainnya.

5.2.2 Klasifikasi Kata

Klasifikasi kata ini dalam sejarah linguistik selalu menjadi salah satu topic yang tidak pernah terlewatkan. Hal ini terjadi , karena pertama setiap bahasa mempunyai cirinya masing-masing ;dan kedua karena kreteria yang di gunakan untuk membuat klasifikasi kata itu bisa bermacam-macam.

Para tata bahasawan tradisional menggunakan kreteria makna dan kreteria fungsi kreteria makna di gunakan untuk mengidenfikasikan kelas verba, nomina, dan ajektifa, sdedangkan kreteria fungsi di gunakan untuk mengindenfikasikan preposi, konjongsi, adverbial, pronomia, dan lain-lainnya .

Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan , nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang di bendakan, konjungsi adalah kata yang berfungsi atau berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata,atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain.

Para tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur atau konstruksi misalnya, nomona adalah kata yang dapat berditribusi di belakang kata bukan ; atau dapat mengisi konstruksi bukan…… jadi adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata tidak , atau dapat mengisi konstruksi tidak …., ajektifa adalah kata yang dapat mengisi konstruksi sangay….

Ada juga kelompok linguis yang menggunakan krieria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata . Secara umum fungsi subyek diisi oleh kelas nomina; fungsi predikat diisi oleh verba atau ajektifa; fungsi objek oleh nomona; dan fungsi keterangan oleh adverbial.

5.2.3 Pembetukan Kata

Untuk dapat di gunakan didalam kalimat pertuturan tertentu maka setiap bentuk dasar, terutama bahasa fleksi dan aglutunasi, harus di bentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatika, baik melaui proses afiksasi, proses reduplikasi,maupun proses komposisi.

Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat , yaitu pertama membentuk kata-kata yang bersifat inflektif, dan kedua yang bersifat derivative.

5.2.3.1 Inflektif

Kata- kata dalam bahasa-bahasa berfleksi, untuk dapat di gunakan di dalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan kategori-kategori gramatikal yang berlaku dalan bahasa itu. Alat yang di gunakan untuk menyesuaikan bentuk itu biasanya berupa afiks, yang mungkin internal, yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasr itu.

Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba di sebut konyungsi , perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektifa di sebut deklinasi. Konyugasi pada verba biasanya berkenaan dengan kala (tense), aspek, modus , diatesis, persona, jumlah, jenis, dan kasus .

Bahasa Indonesia bukanlah bahasa berfleksi. Jadi, tidak ada masalah konyugasi dan deklinasi dalam bahasa Indonesia. Membaca, dibaca, terbaca, dan bacalah, bentuk-bentuk merupakan kata yang sama, yang berate juaga mempunyai identitas leksikal yang sam. Perbedaan bentuknya adalah berkenaan dengan modus kalimatnya . Dengan demikian prefiks me -,di-,ter-,ku-,dan kau- adalah infleksional.

5.2.3.2 Derivatif

Pembentukan kata secara infletif, tidak membentuk kata baru, atau lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya. Hal ini berbeda dengan pembentukan kata secara derivative atau derivasional. Pembentukan kata secara derivative membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnyatidak sama dengan kata dasarnya.

Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna sebab meskipun kelasnya sama tetapi maknanya tidak sama.

5.3 Proses Morfemis

Bertikut ini akan di bicarakan proses-proses morfolis yang berkenan dengan afiksasi, reduplikasi, kompesisi, dan juga sedikit tentang konversi dan modifikasi intem. Kiranya perlu juga di bicarakan produktifitas proses-proses morfemis itu.

5.3.1 Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur (1) dasar atau bentuk dasar,(2) afiks,dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan.

Bentuk-bentuk dasar atau dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi. Dapat juga berupa bentuk kompleks, dapat juga berupa frase.

Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya. Dibedakan adanya dua jenis afiks, yaitu afiks inflektif dan afiks derivative. Denagn afiks inflektf adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau para digma infleksional. Dalam bahasa Indonesia dibedakan adanya prefiks me- yang inflektif dan prefiks me- yang derivative. Sebagai afiks inflektif prefiks me- menandai bentuk kalimat indikatif aktif, sebagai kebalikan dari prefiks di- yang menandai bentuk indikatif. Sebagai afiks derivative, prefiks me- membentuk kata baru, yaitu kata identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.

Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar biasanya dibedakan adanya prefiks,infliks, sufiks, konfiks, intrfiks, dan transfiks.

Yang dimaksud dengan infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar.

Yang dimaksud dengan sufiks adalah yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar.

Konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk, dan bagian yang kedua berposisi akhir bentuk dasar.

5.3.2 Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagaian (parsial) maupun dengan perubahan bunyi.

Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatic (infleksional) dan dapat pula bersifat derifasional. Reduplikasi yang paradigmatic tidak mengubah identitas leksikal. Melainkan hanya memberi makna gramatikal. Yang bersit derivasionl membentuk baru atau kuang identitas leksikalnya berbeda deng bentuk dasarnya.

5.3.3 Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penghubung morfem dasar dengnmorfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat , sehingga berbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda , atau yang baru. Misalnya, lalu lintas daya juang, dan rumah sakit. Sutan Takdir Alisjahban (1953), yang berpendapat bahwa kata mejemuk adalah sebuah kata memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan makna unsur-unsurnya. Verhar (1978) menyatakan suatu komposisi di sebut kata majemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaktis.

5.3.4 Konversi, Modifikasi Internal,dan Suplesi

Konversi, sering juga di sebut derivasi zero.,transmutasi, dan transpotasi, adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsure segmental.

Modifikasi internal (sering di sebut juga penambahan interrnalatau perubahan internal) adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsure-unsur ( yang biasanya berupa vocal) kedalam morfem yang berkerangka tetap(yang biasanya berupa konsunan).

Ada jenis modifikasi internal lain yang di sebut suplesi..Dalam proses suplesi perubahannya sangan ekstrim cirri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

5.3.5 Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagia leksimatau gabungan leksim sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya . Hasil proses pemendekan ini kita sebut kependekan. Misalnya, bentuk lab(utuhnya Laboratorium).

Dalam berbagai kepustakaan, hasil proses pemendekan ini biasanya di bedakan atas penggalan, singkatan, dan akronim . Penggalan adalah kependekan berupa pengekatan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang di pendekan.

5.4 MORFOFONEMIK

Morfofonemik, di sebut juga morfonemik , morfofonologi, atau morfonologi, tau peristiwa perubahannya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi,reduplikasi, maupun komposisi.

Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud: (1) pemunculan fonem, (2) pelepasan fonem, (3) peluluhan fonem, (4) perubahan fonem, dan (5) pergeseran fonem. Pemunculan fonem dapat kita lihat dalam proses penghimbuhan prefiks me- dengan bentuk dasar baca yang menjadi membaca; dimana terlihat muncul konsonan sengau /m/. Pelesapan fonem dapat kita lihat dalam proses penghimbuhan akhiran wan pada kata sejarah di mana /h/ padakata sejarah itu menjadi hilang, peluluhan fonem dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me- pada kata sikat di mana fonem /s/ pada kata sikat itu diluluhkan dan disenyawakan dengan bunyi nasal /ny/dari prefiks tersebut.

Pergeseran perubahan fonem adalah pindahnya sebuah fonrm dari silabel yang satu ke silabel yang lain, biasanya ke silabel berikutnya.

 

galuh, 1402408158

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 7:21 pm

BAB 7

TATARAN LINGUISTIK : SEMANTIK

Semantik, dengan objeknya yakni makna, berada di seluruh atau di semua tataran yang bangun-membangun ini, makna berada di dalam tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis.Penamaan tataran untuk semantik agak kurang tepat, sebab dia bukan satu tataran dalam arti unsur membangun satuan lain yang lebih besar, melainkan merupakan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun kehadirannya pada tiap tataran itu tidak sama.

Para linguis structuralis tidak begitu peduli dengan masalah makna ini, karena dianggap tidak termasuk ataun menjadi tataran yang sederajat dengan tataran yang bangun-membangun itu.Hockett (1954). Missal, salah seorang tokoh strukturalis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu system yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan.

Sistem bahasa terdiri ini terdiri dari 5 subsistem, yaitu subsistem gramatika, subsistem fonologi, subsistem morfofonemik,subsistem semantik, dan subsistem fonetik.

Sejak Chomsky menyatakan betapa pentingnya semantik dalam studi liguistik, maka studi semantik sebagai bagian dari studi linguistik menjadi semarak. Semantik tidak lagi menjadi objek periferal, melainkan menjadi objek yang setaraf dengan bidang-bigdang studi linguistik lainnya.

7.1 HAKIKAT MAKNA

Menurut de Saussure setiap tanda linguistik atau tanda bahasa terdiri dari dua komponen yaitu komponen signifikan atau ”yang mengartikan” yang wujudnya berupa runtunan bunyi dan komponen signifie atau ”yang diartikan”yang wujudnya berupa pengertian atau konsep (yang dimiliki oleh signifikan). Umpamanya tanda linguistik berupa <meja>, terdiri dari komponen signifikan, yakni berupa runtunan fonem /m/, /e/, /j/, dan /a/; dan komponen signiefinya berupa konsep atau makna ’sejenis perabot kantor dan rumah tangga’. Tanda linguistik ini yang berupa runtunan fonem dan konsep yang dimiliki runtunan fonem itu mengacu pada sebuah referen yang berada diluar bahsa, yaitu ”sebuah meja”.

Di dalam penggunaannya dalam pertuturan yang nyata makna kata atau leksem itu seringkali, dan mungkin juga biasanya, terlepas dari pengertian atau konsep dasarnya dan juga dari acuannya. Misalnya, kata buaya dalam kalimat (4) berikut sudah terlepas dari konsep asal dan acuannya.

(4) Dasar buaya ibunya sendiri ditipunya.

(5) Sudah hampir pukuk dua belas!

Apabila diucapkan oleh seorang ibu asrama putri terhadap seorang pemuda yang masih bertandang di asrama itu padahal jam sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Lain maknanya apabila kalimat itu diucapkan oleh seorang guru agama ditujukan kepada para santri pada siang hari. Makna kalimat (5) itu yang diucapkan si ibu asrama tentu berarti ’pengusiran’ secara halus, sedangkan yang diuucapkan oleh guru agama itu berarti ’pemberitahuan bahwa sebentar lagi masuk waktu Zuhur.

7.2 JENIS MAKNA

Berbagai nama jenis makna telah dikemukakan orang dalam berbagai buku linguistik atau semantik. Kiranya jenis-jenis makna yang dibicarakn pada subbab berikut ini sudah cukup mewakili jenis-jenis makna yang pernah dibicarakan orang itu.

7.2.1 Makna Lesikal, Gramatikal, dan Kontekstual.

Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. Misalnya, leksem kuda memiliki makna lesikal ’sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’. Makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita.

Makna gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi. Umpamanya, dalam proses afiksasi prefiks ber-dengan dasar baju melahirkan makna gramatiukal ’mengenakan’ atau memakai baju’; dengan dasar kuda melahirkan makna gramatikal ’mengendarai kuda’.

Makna konstekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks. Sebagai contoh :

(7a) Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.

(7b) Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.

(7c) nomor teleponnya ada pada kepala surat itu.

7.2.2 Makna Referensial dan Non-referensial

Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya, atau acuannya. kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata-kata seperti dan, atau dan karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna ferensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referens.

Yang termasuk kata-kata deiktik ini adalah kata-kata yang termasuk pronomina seperti dia, saya, dan kamu; kata-kata yang menyatakan ruang, seperti di sini, di sana, dan disitu; kata-kata yang menyatakan waktu, seperti sekarang, besok, dan nanti; dan kata-kata yang disebut kata petunjuk, seperti ini dan itu.

o ”Tadi saya lihat Pak Ahmad duduk di sini, sekarang dia ke mana?”

Tanya Pak Rasyid kepada para mahasiswa itu.

o ”Kami di sini memang bertindak tegas terhadap para penjahat itu.” kata Gubernur DKI kepada para wartawan dari luar negeri itu.

Jelas, kata di sini pada kalimat pertama acuannya adalah sebuah tempat duduk; tetapi pada kalimat kedua acuannya adalah satu wilayah DKI Jakarta Raya.

7.2.3 Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi, makna denotatif ini sebenarnya sama dengan makna lesikal. Umapamanya, kata babi bermakna denotatif ’sejenis binatang yang biasa diternakkan untuk dimanfaatkan dagingnya.

Kata kurus berkonotasi netral, artinya, tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan. Tetapi kata ramping, yang sebenarnya bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotasi positif, nilai rasa yang mengenakkan. Sebaliknya kata kerempeng mempunyai konotasi negatif memiliki nilai rasa yang tidak mengenakkan.

7.2.4 Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Yang dimaksud dengan makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Kata rumah memiliki makna konseptual ’bangunan tempat tinggal manusia’.

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata yang berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misal, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian.

Jadi, kata melati yang bermakna konseptual ’sejenis bunga kecil-kecil berwarna putih dan berbau harum’ digunakan untuk menyatakan perlambang kesucian.

§ Makna stilistika berkenaan dengan pembedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan.

§ Makna efektif berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau terhadap objek yang dibicarakan.

§ Makna afektif lebih nyata trasa dalam bahasa lisan.

§ Makna kolokatif berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata yang bersinonim, sehingga kata tersebut hanya cocok untuk berpasangan dengan kata tertentu lainnya.i, , yang tidak meragukan

7.2.5 Makna Kata dan Makna Istilah

Penggunaan makna kata baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada di dalam konteks situasinya. Kita belum tahu makna kata jatuh sebelum kata itu berada di dalam konteksnya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa makna kata masih bersifat umum, kasar, dan tidak jelas. Kata tangan dan lengan sebagai kata, maknanya lazim di anggap sama, seperti contoh berikut.

ü Tangannya luka kena pecahan kaca.

ü Lengannya luka kena pecahan kaca.

Jadi, kata tangan dan lengan pada kedua kalimat di atas adalah besinonim, atau bermakna sama.

Istilah mempunyai makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Umpamanya, kata tangan dan lengan yang menjadi contoh. Kedua kata itu dalam bidang kedokteran mempunyai makna berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan, sedangkan lengan adalah bagian dari pergelangan sampai ke pangkal bahu. Dalam bahasa umum kedua kata itu merupakan dua kata yang bersinonim, dan oleh karena itu sering dipertukarkan. Artinya, istilah itu tidak hanya digunakan di dalam bidang keilmuaan, tetapi juga telah digunakan secara umum.

7.2.6 Makna Idiom dan Peribahasa

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Umpamanya, secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna ’yang menjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya. Tetapi dalam bahasa indonesia bentuk menjual gigi tidaklah memiliki makna seperti itu, melainkan bermakna ’tertawa keras-keras’. Jadi makna seperti yang dimiliki menjual gigi itulah yang disebut makna idiomatikal.

Ada dua macam idiom, yaitu yang disebut idiom penuh dan idiom sebagian. Yang dimaksud dengan idiom penuh adalah yang semua unsur-unsur sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Bentuk-bentuk seperti membanting tulang, menjual gigi, dan meja hijau termsuk contoh idiom penuh.Sedangkan yang dimaksud idiom sebagian adalah idiom yang salah satunya unsurnya masih memiliki makna lesikal sendiri. Misal, buku putih yang bermakna ’ buku yang memuat keterangan resmi suatu kasus.

Peribahasa memiliki makna yang dapat dilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya ’asosiasi’ antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa.contoh’ pribahasa Tong kosong berbunyi nyaring yang maknanya’ oarang yang banyak cakapnya biasanya tidak berilmu. Makna ini dapat ditarik dari asosiasi; tong yang berisi bila dipukul tidak mengeluarkan bunyi, tapi tong yang kosong akan menegeluarkan bunyi yang keras, nyaring.

7.3 RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahas yang satu dengan satuan bahasa lainnya.

7.3.1 Sinonim

Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu ujaran dengan satuan ujaran lainnya. Misal, antra kata betul dengan kata benar. Relasi sinonim ini bersifat dua arah. Kalau satu satuan ujaran A bersinonim dengan satuan ujaran B, maka satuan ujaran B itu bersinonim dengan satuan ujaran A.

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan sama. Karena faktor-faktor ;

¨ Pertama, faktor waktu. Contoh, kata kempa bersinonim dengan kata stempel, namun kata kempa juga hanya cocok untuk digunakan pada konteks klasik.

¨ Kedua, faktor tempat atau wilayah. Misal, kata saya dan beta adalah dua kata yang bersinonim. Namun, kata saya dapat digunakan di mana saja, sedangkan kata beta hanya cocok untuk wilayah indonesia bagian timur.

¨ Ketiga, faktor keformalan. Misal, kata uang dan duit adalah 2 kata yang bersinonim. Namun, kata uang digunakan dalam ragam formal dan informal. Duit hanya cocok untuk tak formal.

¨ Keempat, faktor sosial. Saya dan aku bersinonim. Kata saya dapat digunakan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, sedangkan kata aku hanya dapat digunakan untuk orang sebaya.

¨ Kelima, bidang kegiatan. Kata matahari dan surya, bersinonim.kata matahari digunakan dalam kegiatan apa saja, sedangkan kata surya hanya digunakan pada ragam khusus.

¨ Keenam, faktor nuansa makna.misal, kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau, dam mengintip, kata-kata bersinonim. Kata melihat memiliki makna umum, kata melirik memiliki makna melihat dengan sudut mata, kata menonton memiliki makna melihat untuk kesenangan, kata meninjau memiliki makna melihat dari jauh, dan kata mengintip memiliki makna melihat dari celah sempit.

7.3.2 Antonim

Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misal, buruk berantonim dengan baik.

Dilihat dari sifat hubungannya, maka antonim dibedakan atas beberapa jenis:

¨ Pertama, antonim yang bersifat mutlak. Umpama kata mati berantonim dengan kata hidup. Bersifat mutlak karena sesuatu yang masih hidup tentunys belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentunya tidak hidup lagi.

¨ Kedua, antonim yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpama kata besar dan kecil berantonim secara relatif . karena batas antara satu dengan lainnya tidak dapat ditentukan dengan jelas.

¨ Ketiga, antonim yang bersifat relasional. Umpama antara kata membeli dan menjual, antara guru dan murid. Antonim jenis ini disebut relasional karena munculnya yang satu harus disertai dengan yang lain. Contoh seorang laki-laki tidak bisa disebut sebagai suami kalau tidak punya istri. Andaikata istrinya meninggal, maka dia bukan suami lagi, melainkan kini sudah berganti nama menjadi duda.

¨ Keempat, antonim yang bersifat hierarkial. Umapama, kata tamtama dan bintara berantonim secara hierarkial, juga antara kata gram dan kilogram. Demikianlah, kata tamtama dan bintara berada dalam satu garis kepangkatan militer, kata gram dan kilogram berada dalam satu garis jenjang ukuran timbangan.

7.3.3 Polisemi

Polisemi mempunyai makna lebih dari satu. Umpama, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna :

(21)Kepalanya luka kena pecahan kaca. ( bagian tubuh manusia)

(22) Kepala kantor itu bukan paman saya. ( ketua atau pimpinan )

(23)Kepala surat biasanya berisi nama dan alamant kantor. (sesuatu yang berada disebelah atas)

7.3.4 Homonimi

Homonimi adalah dua kata atau satu ujaran yang bentuknya sama, maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata yang berlainan. Contoh; antara kata bisa yang berarti ’racun ular’ dan kata bisa yang berarti sanggup.

Pada kasus homonim ada dua istilah yaitu;

a. homofoni : adanya kesamaan bunyi

contoh, kata bank ’lembaga keuangan’ dan bang (bentuk singkat dari abang)

b. homografi : mengacu pada bentuk ujaran yang sama ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.

Contoh, kata memerah yang berarti malakukan perah, dan kata memerah yang berarti menjadi merah.

Cara menetukan dua buah bentuk yang sama adalah homonim atau polisemi :

1. yang harus dipegang adalah bahwa homonim adalah dua bentuk ujaran atau lebih yang ’kebetulan’ bentuknya sama, dan maknanya berbeda. Polisemi adalah sebuah ujaran yang memiliki mkan lebih dari satu.

2. makna yang ada dalam polisemi, meskipun berbeda, tetapi dapat dilacak secara etimologi dan semantik, bahwa makna-makna itu masih mempunyai hubungan. Sebaliknya makna dalam dua bentuk homonim tidakmempunyai hubungan sama sekali.

7.3.5 Hiponimi

Hiponim adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang mkananya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain. Relasi hiponim bersifat searah,bukan dua arah. Dengan kata lain kalau merpati adalah hiponim dari burung, maka burung adalah hipernim dari merpati.

7.3.6 Ambiguiti Atau Ketaksaan

Ambiguiti atau ketaksaan adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Misal, bentuk buku sejarah baru dapat ditafsirkan maknanya menjadi (1) buku sejarah itu baru terbit, (2) buku itu memuat sejarah zaman baru. Dipersoalkan orang bagaimana kita dapat membedakan ambiguti dan homoni, sebab konstruksi seperti buku sejarah baru seperti yang dibicarakan di atas sebagai contoh bentuk ambiguiti, sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna. Konsep bahwa hominim adalah dua buah bentuk atau lebih yang kebetulan bentuknya sama, sedang ambiguiti sebuah bentuk dengan dua tafsiran makna atau lebih.

7.3.7 Redunansi

Redunansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihannya penguunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Contoh kalimat; Bola itu ditendang oleh Dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan Bola itu ditendang Dika. Penggunaan kata oleh inilah yang dianggap redundans, berlebih-lebihan.

7.4 Perubahan Makna

Dalam masa yang relatif singkat makna sebuah kataq akan tetap s’ama, tidak berubah, tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah.

§ Pertama, perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi.

Umpama, kata sastra pada mulanya bermakna ’tulisan, huruf, lalu berubah menjadi ’bacaan’; kemudian berubah lagi menjadi bermakna ’buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya’,dst.

§ Kedua, perkembangan sosial budaya. Kata saudara, misalnya, pada mulanya ’seperut’ atau ’prang yang lahir dari kandungan yang sama’, tapi kini kata saudara digunakan juga untuk menyebut orang lain, sebagai kata sapaan,sederajat.

§ Ketiga, perkembangan pemakaian kata. Misal, kata menggarap dari bidang pertanian digunakan juga dalam bidang lain dengan makna, mengerjakan, membuat.

§ Keempat, pertukaran tanggapan indra. Misal, rasa pedas yang seharusnya ditanggap oleh alat indra perasa lidah menjadi ditanggap oleh alat pendengar telinga, seperti dalam ujaran kata-katanya sangat pedas.

§ Kelima, adanya asosiasi. Amplop sebenarnya adalah ’sampul surat’. Tetapi amplop juga bermakna ‘uang sogok’.

Perubahan makna kata ada beberapa macam yaitu perubahan yang meluas, menyempit, berubah total. perubahan yang meluas, artinya kalau tadinya sebuah kata bermakna ”A”, kemudian menjadi makna ’B’. umpamanya, kata baju awalnya bermakna ‘pakaian sebelah atas dari pinggang sampai kebahu \’. Tetapi dalam kalimat ‘Murid-murid memakai baju seragam’, ini berarti bukan hanya baju tetapi juga celana, sepatu, dasi, dan topi.

Perubahan yang menyempit, artinya kalau tadinya sebuah kata atau satuan ujaran itu memiliki makna yang sangat umum tetapi kini maknannya menjadi khusus sangat khusus. Umpama kata sarjana mulanya bermakna ‘orang cerdik pandai’ tetapi kini hanya bermakna ‘ lulusan perguruan tinggi’ saja.

Perubahan makna secara total, artinya makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya. Umpamanya kata ceramah dulu bermakna ”cerewet”, ’banyak cakap’ sekarang bermakna ’uraian mengenai suatu haldi muka orang banyak’.

7.5 MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

Kata-kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata yang berada dalam satu medan makna atau satu makna leksikal. Sedangkan usaha untuk menganalisis kata atau leksem atas unsur-unsur makna yang dimilikinya disebut analisis komponen makna atau analisis ciri-ciri makna, atau juga analisis ciri-ciri leksikal.

7.5.1 Medan Makna

Medan makna atau medan leksikal adalah seperangkat unsur lesikal yang maknany saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu.Medan warna dalam bahasa indonesia mengenal nama merah, coklat, biru, hijau, kuning, abu-abu, putih, dan hitam. Untuk nuansa yang berbeda, bahasa indonesia memberi keterangan perbandingan seperti, merah darah, merah jambu, merah bata. Dalam studi makna seperti yang dilakukan Nida, kata-lkata biasanya dibagi atas 4 kelompok, yaitu kelompok bendaan (entiti), kelompok kejadian/ peristiwa (event), kelompok abstrak, dan kelompok relasi.

Berdasar sifat hubungan semantisnya kelompok leksem dibedakan atas kelompok medan kolokasi dan medan set. Kolokasi menunjuk pada hubungan sintakmantik yang terdapat antara kata-kata atau unsur lesikal itu. Contoh, cab, bawang, trasi, garam, merica, dan lada berada dalam satu kolokasi yaitu ’bumbu dapur’. Kolokasi menujukkan pada hubungan sintamik, karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set menunjukkan pada hubungan paradigmatik, karena kata-kata yang berada dalam satu kelompok set itu saling bias disubstitusikan. Umpamanya, kata remaja merupakan tahap perkembangan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Sedangkan sejuk merupakansuhu di antara dingin dan hangat.

7.5.2 KOMPONEN MAKNA

Makna yang dimiliki setiap kata terdiri dari sejumlah komponen (yang disebut dengan komponen makna) yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Umpama kata ayah memiliki komponen makna /+manusia,/+dewasa,/+jantan,/+kawin, dan /+punya anak dan kata ibu memiliki komponen makna/+manusia,/+dewasa,/-jantan,/+kawin, dan /+punya anak. (keterangan :tanda + memiliki komponen makna, – tidak memiliki komponen makna tersebut).

Kegunaan analisis komponen yang lain ialah untuk membuat prediksi makna-makna gramatikal afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam bahasa Indonesia. Umapama, prosesw afiksasi dengan prefiks me- pada nomina yang memiliki komponen makna /+alat?, mempunyai makna gramatikal’ melakukan tindakan dengan alat’ seperti menggergaji, memahat. Pada proses reduplikasi terjadi pada dasar verba yang memiliki komponen makna /+sesaat/ memberikan makna gramatikal ’berulang-ulang’ seperti pada memotong-motong, memukul-mukul. Sedangkan pada verba yang memiliki komponen makna /+bersaat/ memberi makna gramatikal ’dilakukan tanpa tujuan’, seperti mandi-mandi, duduk-duduk. Jadi, dalam proses reduplikasi terlihat verba yang memliki komponen makna /+sesaat/ mempunyai makna gramatikal berbeda dengan verba yang memiliki komponen makna /-sesaat/.

Dalam proses komposisi, tau proses penggabungan leksem dengan leksem, terlihat juga bahwa komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar yang terlihat dalam proses itu ’milik’ hanya bisa terjadiapabila konstituen kedua dari komposisi itu memiliki komponen makna /+manusia/ atau /+dianggap manusia, misalnya, sepeda Dika, rumah paman. Jika tidak memiliki komponen maka makna gramatikal ’milik’ tidak akan muncul.

7.5.3 Kesesuaian Semantik dan Sintaktik

Analisis persesuaian semantic dan sintaktik tentu saja harus memperhitungkan komponen makna secara lebih terperinci. Misalnya kalimat :

1) Nenek makan dendeng

2) Kucing makan dendeng

Kalimat tersebut bisa diterima, meskipun subjek yang pertama berciri /+manusia/ dan yang kedua /-manusia/ karena verbanya yaitu makan, memiliki komponen /+makhluk hidup/, yang bisa berlaku untuk manusia dn binatang. Namun bagaimana dengan kalimat : kambing itu makan rumput, padahal jelas bahwa rumput bukan makanan. Disini tampak bahwa keterperincian analisis lebih diperlukan lagi, sebab ternyata rumput memang bukan makanan manusia, tetapi makanan kambing.

Selain diperlukan keterperincian, masalah metafora juga harus disingkirkan, sebab kalimat metaforis seperti kalimat Bangunan itu menelan biaya 100 juta rupiah. Kalimat ini adalah diterima.

 

DHOMAS IKHTIARI WAHYU S_1402408198_bab 4

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 7:17 pm

DHOMAS IKHTIARI WAHYU S.

1402408198

4. Tataran Linguistik (1) :Fonologi

Bidang linguistic yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa ini disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu.

Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi :

-fonetik

-fonemik

* Fonetik : cabang study fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

* Fonemik : cabang study fonologi yang menyebabkan berbedanya makna

4.1 Fonetik

Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik yaitu:

* fonetik artikolatoris,

* fonetik akustik,

* fonetik auditoris.

Ø Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bkerja dalam menghasilkan bunyi bahasa , serta bagaimana bunyi bunyi itu diklasifikasikan.

Ø Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekwensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dantimbrenya.

Ø Sedangkan fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat ucap

Nama-nama alat ucap atau alat yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut :

  1. paru – paru
  2. batang tnggorok
  3. pangkal tenggorok
  4. pita suara
  5. krikoid
  6. tiroid atau lekum
  7. aritenoid
  8. dinding rongga kerongkongan
  9. epiglottis
  10. akar lidah
  11. pangkal lidah
  12. tengah ldah
  13. daun lidah
  14. ujug lidah
  15. anak tekak
  16. langit-langit lunak
  17. langit-langit keras
  18. gusi, lengkung kaki gigi
  19. gigi atas
  20. gigi bawah
  21. bibir atas
  22. bibir bawah mulut
  23. rongga mulut
  24. rongga hidung

Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Nama-nama tersebut adalah ;

  1. pangkal tenggorok – laringal
  2. rongga kerongkongan – faringal
  3. pangkal lidah – dorsal
  4. tengah lidah – medial
  5. daun lidah – laminal
  6. ujung lidah – apikal
  7. anak tekak – uvular
  8. langit-langit lunak – velar
  9. langit-langit keras – palatal
  10. gusi – alveolar
  11. gigi – dental
  12. bibir – labial

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemopaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok yang didalamnya terdapat pita suara. Berkenaan dengan hamabatan pada pita suara ini perlu dijelaskan ada 4 macam posisi pita suara yaitu

  1. pita suara terbuka lebar
  2. pita suara terbuka agak lebar
  3. pita suara terbuka sedikit
  4. pita suara tertuup rapat-rapat

Jika pita suara terbuka lebar maka tidak akan terjadi bunyi bahasa. Jika pita suara terbuka agak lebar maka akan terjadi bunyi ahasayang disebut bunyi tak bersuara (voiceless). Kalau pita suara terbuka sedikit maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi bersara(voice). Jika pita suara tertutup rapat maka akan terjadilah bunyi hamzah atau glotal stop.

Jika pita suara terbuka lebar berarti tidak ada hambatan apa-apa, maka berarti juga tidak ada bunyi yang dhasilkan. Posisi terbuka agak lebar akan menghasilkan bunyi-bunyi tak bersuara apabila arus udara diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung. Posisi terbuka sedikit akan menghasilkan bunyi bersuara apabila arus udara diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung. Sedangkan posisi pita suara menutup sama sekali langsung menghasilkan bunyi hamzah atau bunyi glottal.

Tempat bunyi bahasa terjadi atau dihasilkan disebut tempat artikulasi. Proses terjadinya disebut proses artikulasi. Dan alat-alat yangdigunakan disebut artikulator. Dalam proses artikulasi ini biasanya terlibat dua macam articulator yaitu articulator aktif dan pasif.

Ø Articulator aktif ; alat ucap yang bergerak dan digerakkan.

Misalnya : bubur bawah, ujung lidah, dan daun lidah

Ø Articulator pasif : alat ucap yang tidak dapat bergerak atau yang didekati oleh articulator aktif.

Misalnya : bibier atas, gigi atas, langit-langit keras

Keadaan, cara atau posisi bertemunya articulator aktif dan artkulator pasif disebut striktur.

Dalam berbagai bahasa dijumpai bunyi ganda. Artinya ada dua bunyi yang lahir dalam dua proses artikulasi yang berangkaian.

4.1.3 Tulisan Fonetik

Dalam studi linguistik dikenal adanya beberapa macam system tulisan dan ejaan, diantaranya:

Ø tulisan fonetik untuk ejaan fonetik

Ø tulisan fonemis untuk ejaan fonemis

Ø system aksara tertentu untuk ejaan ortografis

Dalam studi linguistic dikenal dengan adanya tulisan fonetik dari International Phonetic Alphabet (IPA).

Dalam tulisan fonetik setiap bunyi baik yang segmental maupun yang suprasegmental dilambangkan secara akurat. Artinya, setiap bunyi mempunyai lambang-lambangnya sendiri, meskipun perbedaanya hanya sedikit, tetapi dalam tulisan fonemik haya perbedaan bunyi yang distingtif saja yakni yang membedakan makna, yang dibedakan lambangnya.

4.1.4 Kalsifikasi bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas:

Ø vocal

Ø konsonan.

Bunyi vocal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Pita suara yang terbuka sedikit menjadi bergetar ketika dilalui arus udara yang dipompakan dari paru-paru. Arus udara itu keluar melalui rongga mulut tanpa hambatan bunyi konsonan terjadi setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar diteruskan dirongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan ditempa-tempat artikulasi tertentu.

4.1.4.1 Bunyi Vokal

Bunyi vocal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah biasa bersifat vertical dan horizontal.

Secara vertical dibedakan adanya :

Ø vocal tinggi, misalnya, bunyi {i} dan {u}.

Ø vocal tengah, misalnya, bunyi [e] .

Ø vocal rendah, misalnya , bunyi [a]

Secara horizontal dibedakan :

Ø Vokal depan. Misalnya, bunyi [I dan [e]

Ø Vokal pusat, misalnya bunyi [∂]

Ø Vocal belakang, misalnya bunyi [u] dan [o]

Menurut bentuk mulut dibedakan :

Ø Vocal bundar misalnya, vocal [o] dan [u]

Ø Vocal tak bundar misalnya, vocal [i] dan [e]

Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut itulah kemudian kita memberi nama akan vocal-vokal itu, misalnya :

[i] adalah vokal depan tinggi tak bundar

[e] adalah vkal depan tengah tak bundar

[∂] adalah vocal pusat tengah tak undar

[o] adalah vokal belakang tngah bundar

[a] adalah vocal pusat rendah tak bundar

4.1.4.2 diftong atau vocal rangkap

ü Disebut diftong atau vocal rangkap karena posisi lidah etika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama.

Contoh diftong daam bahasa Indonesia adalah [au] pada kerbau.

Diftong sering dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya sehingga dibedakan adanya:

1. diftong naik

2. diftong turun.

ü Diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisis bunyi yang kedua.

ü Diftong turun karena posisibuyi pertama lebih tiggi dari posisi yang kedua.

4.1.4.3 Klasifikasi konsonan

Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan 3 patokan yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, cara artikulasi

Berdasarkan tempat artikulasi ;

1. bilabial yaitu konsoan yang terjadi pada kedua belah bibir atas. Contoh. Bunyi [b],[p],[m]. b] dan [p] adalah bunyi oral yaitu dikelarkan melalui rongga mulut, dan bunyi [m ] adalah bunyi nasal yatu bunyi yang dikeluarkan melalui rongga hidung.

2. labiodental yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas. Contoh, bunyi [f] dan [v]

3. aminoalveolar yakni konsonan yang terjadi pada daun lidah dn gusi. Contohya, bunyi [t] da [d]

4. dorsvelar yakni konsonan yang terjad pada pangkal lidah dan velum. Contohnya, bunyi [k] dan [g]

berdasarkan cara artikulasinya dibedakan atas :

1. hambat, contohnya, bunyi [p] [b] [t] [d] [k] [g]

2. geseran , contohnya bunyi [f] [s] [z]

3. paduan, contohya, bunyi [c] [j]

4. senggauan, contohnya, bunyi [m] [n] [ŋ]

5. getaran, contohnya, bunyi [r]

6. sampingan , contohnya, bunyi [l]

7. hampiran, contohnya, [w] [y]

4.1.5 Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran ada bunyi yang dapat disegmentasikan sehigga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Dalam studi bunyi mengenai bunyi atau unsure suprasegmental itu biasanya dibedakan pula atas sebagai berikut

4.1.5.1 Tekanan atau stress

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Tekanan ini mungkin terjadi secara soradis, mungkin juga telah berpola,mungkin bersifat distingtif, dapat membedakan makna, mungkin tidak distingtif.

4.1.5.2 Nada atau Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Nada dalam bahasa-bahasa tertentu bisa bersifat fonemis maupun morfemis. Dalam bahasa tonal biasanya dikenal dengan adanya lima macam nada, yaitu :

1.nada naik atau meninggi[ /]

2.nada datar [―]

3.nada turun [\]

4.nada turun naik [\/]

5.nada naik turun [/\]

nada yang menyertai bunyi segmental di dalam kalimat disebut intonasi. Dalam hal ini biasanya dibedakan menjadi 4 macam nada ;

1.nada yang paling tinggi [4]

2.nada tinggi [3]

3.nada sedang [2]

4.nada rendah [1]

4.1.5.3 Jeda atau persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar persambungan antara segmen yang satudengan yang lain.dibedakan:

1. Sendi dalam menunjukkan batas antara satu silabel deengan silabel yang lain

2. Sendi luar menunjukkan batas yang lebih bsar dari segmen silabel.

4.1.6 silabel

ü Silabel adalah satuan ritms terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran

ü Onset adalah bunyi pertama pada sebua silabel, seperti bunyi [s] pada kata sampah.

ü Koda adalah bunyi akhir paa sebuah silabel seperti bunyi [n] pada kata paman.

4.2 Fonemik

Objek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa yang mengandung bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak.

Objek penelitian fonemik adalah fonem yakni buyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

4.2.1 Identitas Fonem

Bunyi bisa disebut fonem apabila satuan bahasanya memiliki beda makna. Fonem dari sebuah bahasa ada yang mempunyai beban fungsional tinggi dan rendah. Dikatakaan bebab fungsional tinggi apabila banya ditemui pasangan mnimal yang mengandung fonem tersebut.

4.2.2 alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem disebut alofon. Alofon- alofon dari seuah fonem memiliki kemirian fonetis. Artinya banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Tentang distribusinya mungkin bersifat komplementer mungkin juga bersifat bebas.

1. Distribusi komplementer adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan.

2. Distribusi bebas adalaah bahwa alofon-alofon itu boleh igunakan tanpaa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

4.2.3 Klasifikasi fonem

Kriteria dan prosedur klasifikasi fonem sama dengan klasifikasi bunyi dan unsur suprasegmental. Fonem-fonem yang berupa bunyi yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadaap arus ujaran disebut fonem segmental.

Fonem yang berupa unsure suprasegmental dsebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental.

4.2.4 Khazanah Fonem

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.

4.2.5 Perubahan Fonem

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagaiakibat dari bunyi yang ada di lingkungannya sehingga bunyi itu menjadi sama. Contoh, sabtu dalam bahasa Indonesia lazim diucapkan [saptu]

ü Asimilasi fonemis adalah perubahan yang menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem.

ü Asimilasi fonetis adalah perubahan yang tidak menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem.

Asimilasi dibedakan menjadi 3 :

1. Asimilasi Progresif : bunyi yang diubah terletak dibelakang bunyi yang mempengaruhinya.

2. Asimilasi Regresif : Bunyi yang diubah itu terletak dimuka bunyi yang mempengaruhinya

3. Asimilasi Resiprokal : Perubahan itu terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi.

Disasimilasi adalah peristiwa perebahan yang menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

ü Contoh hasil netralisasi, adanya bunyi [t] pada posisi akhir kata yang dieja hard.

ü Contoh hasil arkifonem, fonem [d] pada kata hard yang bias berwujud [t] dan [d]

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vocal

ü Umlaut adalah perubahan vocal sedemikian rupa sehingga vocal itu diubah menjadi vocal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vocal yang berikutnya yang tinggi.

ü Ablaut adalah perubahan vocal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo-Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal.

ü Harmoni vocal adalah perubahan bunyi.

4.2.5.4 Kontraksi

Kontraksi adalah suatu pemendekan yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih

4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis

1. Metatesis merupakan proses mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.

2. Epentesis adalah sebuah fonem tertentu disisipkan kedalam sebuah kata.

4.2.6 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa tewrkecil yang fungsional ataua dapat membedakan makna kata.

 

ERMA YUNITA_1402408314_BAB 2

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:16 pm

Nama : Erma Yunita

NIM : 1402408314

BAB 2

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik: ilmu yang mengambil bahasa sebagai obyek kajiannya. Linguistik (Martinet, 1987 : 19): telaah ilmiah mengenai bahasa manusia.

2. 1. KEILMIAHAN LINGUISTIK

Tahap-tahap perkembangan dalam disiplin ilmu:

· Pertama :) tahap spekulasi

Pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa prosedur-prosedur tertentu. Padahal pandangan atau penglihatan kita seringkali tidak sesuai dengan kenyataan/kebenaran faktual. Dalam studi bahasa, dulu orang mengira bahwa semua bahasa di dunia diturunkan dari bahasa Ibrani, maka orang juga mengira Adam dan Hawa memakai bahasa Ibrani di Taman Firdaus. Bahkan sampai akhir abad-17 seorang filosof Swedia masih menyatakan bahwa di Surga Tuhan berbicara dengan Swedia, Adam berbahasa Denmark, ular berbahasa Perancis. Semua itu hanyalah spekulasi yang pada zaman sekarang sukar diterima.

· Kedua :) Tahap observasi dan klasifikasi.

Pada tahap ini para ahli dibidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Cara ini belum dikatakan ilmiah karena belum sampai tahap penarikan suatu teori. Cara kerja tahap kedua ini masih diperlukan bagi kepentingan dokumentasi kebahasaan di negeri ini sebab masih banyak sekali bahasa di Nusantara ini yang belum terdokumentasikan.

· Ketiga :) Perumusan teori.

Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis-hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Dewasa ini disiplin linguistik telah mengalami ketiga tahap diatas, sehingga disiplin linguistik sekarang sudah bisa dikatakan kegiatan ilmiah. Karena tindakan tidak spekulatif dalam penarikan kesimpulan merupakan didasarkan pada data empiris/data yang nyata ada, yang didapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi. Kesimpulan yang dibuat pada kegiatan ilmiah hanya berlaku selama belum ditemukannya data baru yang dapat membatalkan kesimpulan itu. Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya dan tidak boleh dikotori oleh pengetahuan/keyakinan si peneliti.

Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu, ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu. Kesimpulan ini biasanya disebut kesimpulan induktif. Kemudian kesimpulan ini diuji lagi pada data empiris yang diperluas. Bila dengan data empiris baru ini kesimpulan itu tetap berlaku, maka kesimpulan itu berarti semakin kuat kedudukannya.

Apabila data baru itu tidak cocok dengan kesimpulan itu, maka berarti kesimpulan itu menjadi goyah kedudukannya. Jadi, perlu diwaspadai dan direvisi. Dalam ilmu logika selain adanya penalaran secara induktif ada juga penalaran deduktif. Induktif mula-mula dikumpulkan data-data khusus, lalu ditarik kesimpulan umum. Deduktif kebalikannya, artinya kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif sangat bergantung pada kebenaran kesimpulan umum, yang dipakai untuk menarik kesimpulan deduktif. Sebagai ilmu empiris, linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu linguistik sering disebut nomotetik. Linguistik tidak pernah berhenti pada satu titik kesimpulan, tetapi akan terus menyempurnakan kesimpulan tersebut berdasarkan data empiris selanjutnya.

Pendekatan bahasa sebagai bahasa, dijabarkan dalam sejumlah konsep:

· Pertama; Bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya bagi linguistik, bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tulis adalah sekunder.

· Kedua; Karena bahasa bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.

· Ketiga; Karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur-unsur yang satu dengan yang lainnya mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan disebut pendekatan struktural. Lawannya disebut pendekatan otomatis, yaitu yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, yang berdiri sendiri-sendiri.

· Keempat; Karena bahasa dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistic memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Lalu karena itu pula linguistik mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik: mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada kurun waktu tertentu. Studi sinkronik bersifat deskriptif karena linguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya dalam kurun waktu terbatas. Secara diakronik, artinya mempelajari bahasa dengan berbagai aspek dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu. Secara diakronik sering juga disebut studi histori komparatif. Karena bahasa bersifat dinamis, linguistic berpandangan bahwa apa yang telah dirumuskan para ahli terdahulu tentang bahasa belum tentu berlaku untuk masa sekarang atau yang akan datang.

· Kelima; Karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskripstif dan tidak secara prespektif. Artinya, yang penting dalam linguistic adalah apa yang sebenarnya diungkapkan seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut si peneliti seharusnya diungkapkan.

2. 2. SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Mengingat bahwa objek linguistik, yaitu bahasa, merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat, sedangkan kegiatan itu sangat luas, maka cabang linguistik menjadi sangat banyak, seperti:

· Linguistik Umum

· Linguistik Deskriptif

· Linguistik Komparatif

· Linguistik Struktural

· Linguistik Antropologis, dsb.

Penamaan subdisiplin itu berdasarkan kriteria/dasar tertentu, misalnya berdasarkan obyek kajiannya (bahasa tertentu/pada umumnya), bahasa masa tertentu/sepanjang masa, struktur internal bahasa itu, tujuan pengkajiannya (keperluan teori/terapan), teori yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

2. 2. 1. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus. Linguistik umum: linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Pernyataan-pernyataan teoritis yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya, bukan bahasa tertentu. Linguistik khusus: berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti bahasa Inggris, Indonesia, Jawa. Kajian khusus ini bisa juga dilakukan terhadap satu rumpun/subrumpun bahasa, ex: rumpun bahasa Austronesia, subrumpun Indo-Grmn.

2. 2. 2. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan diakronik. Linguistik sinkronik/deskriptif: mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. ex: mengkaji bahasa pada tahun 20-an, bahasa Jawa dewasa ini. Studi linguistic sinkronik berupaya mendeskripsikan bahasa secara apa adanya pada masa tertentu. Linguistik diakronik: berupaya mengkaji bahasa pada masa tidak terbatas, bisa sejak awal kelahiran, perkembangan, hingga punahnya bahasa itu. Kajian ini biasanya bersifat historis dan komparatif. Tujuan diakronik adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa itu beserta dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya.

2. 2. 3. Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa/bahasa itu hubungannya dengan faktor-faktor diluar bahasa dibedakan adanya linguistic mikro dan linguistik makro (Mikrolinguistik dan makrolinguistik). Linguistik mikro: mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya. Subdisiplin linguistic mikro:

a. Linguistik Fonologi: menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa, cara terjadinya.

b. Linguistik Morfologi: menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya serta

cara pembentukan.

c. Linguistik Sintaksis: menyelidiki satuan kata-kata dan satuan-satuan lain diatas kata, hubungan satu dengan yang lainnya, serta cara penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran.

d. Linguistik Semantik: menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun kontekstual.

e. Linguistik Leksikologi: menyelidiki liksikon/kosakata suatu bahasa dari berbagai aspek.

f. Linguistik Morfosintaksis: gabungan Morfologi dan Sintaksis.

g. Linguistik Leksikosemantik: gabungan Leksikologi dan Sematik. Linguistik Makro: menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor diluar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar bahasanya daripada struktur internal bahasa. Subdisiplin Linguistik Makro:

a. Sosiolinguistik: mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.

· Tempat pemakaian bahasa

· Tata tingkat bahasa

· Akibat adanya kontak dua bahasa atau lebih

· Waktu pemakaian ragam bahasa

b. Psikolinguistik: mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia, termasuk bagaimana kemampuan berbahasa itu dapat diperoleh.

c. Antropolinguistik: mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.

d. Stilistika: mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra.

e. Filologi: mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis (ex: naskah kuno).

f. Filsafat bahasa: mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik.

g. Dialektologi: mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

2. 2. 4. Penyelidikan linguistik berdasarkan tujuannya.

Linguistik teoretis: mengadakan penyelidikan terhadap bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya. Kegiatannya hanya untuk kepentingan teori belaka.

Linguistik terapan: mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor diluar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat. Kegiatannya lebih banyak untuk keperluan terapan. Misalnya penyelidikan linguistik untuk

Kepentingan pengajaran bahasa, penyusunan buku ajar, penerjemahan buku, penyusunan kamus, penelitian sejarah, penyelesaian masalah politik, dll.

2. 2. 5. Berdasarkan teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional dan linguistik sistemik. Diluar bidang yang sudah dibicarakan di atas masih ada bidang lain, yaitu yang menggeluti sejarah linguistik. Bidang sejarah linguistik ini berusaha menyelidiki perkembangan seluk beluk ilmu linguistik itu sendiri dari masa ke masa, serta mempelajari pengaruh ilmu-ilmu lain, dan pengaruh pelbagai pranata masyarakat (kepercayaan, adat istiadat, pendidikan, dsb) terhadap linguistik sepanjang masa. Dari serangkaian cabang linguistik tersebut di atas, yang dianggap inti dari ilmu linguistik itu hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa, atau cabang-cabang yang termasuk kelompok linguistik mikro di atas. Cabang atau bidang manapun yang kemudian akan kita geluti secara intensif dan mendalam, mau tidak mau harus mulai dengan cabang-cabang yang termasuk linguistik mikro itu.

2. 3. ANALISIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

2. 3. 1. Struktur, Sistem, dan Distribusi Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dalam bukunya Course de Linguitique Generale (terbit pertama kali 1916, terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit 1988) membedakan adanya dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa, yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiatif. Yang dimaksud dengan relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkret tertentu; sedangkan relasi asosiatif adalah hubugan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat. Hubungan asosiatif ini tampak bila suatu kalimat dibandingkan dengan kalimat lain. Hubungan-hubungan yang terjadi di antara satuan-satuan bahasa bersifat sintagmatis. Jadi, hubungan sintagmatis ini bersifat linear, atau horizontal antara satuan yang satu dengan yang lain yang berada di kiri dan kanannya. Louis Hjelmslev, seorang linguis Denmark, mengambil alih konsep de Saussure itu, tetapi dengan sedikit perubahan. Beliau mengganti istilah asosiatif dengan istilah paradigmatik, serta memberinya pengertian yang lebih luas. Hubungan paradigmatik tidak hanya berlaku pada tataran morfologi saja, tetapi juga berlaku untuk semua tataran bahasa. Firth, seorang linguis Inggris menyebut hubungan yang bersifat sintagmatik itu dengan istilah struktur, dan hubungan paradigmatik itu dengan istilah sistem. Menurut Verhaar (1978) istilah struktur dan sistem ini lebih tepat untuk digunakan. Karena istilah tersebut dapat digunakan atau diterapkan pada semua tataran bahasa, yaitu tataran fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, juga pada tataran leksikon.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear. Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis, menurut susunan alofonis, menurut susunan morfemis, dan menurut susunan sintaksis. Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi, yang merupakan istilah utama dalam analisis bahasa menurut model strukturalis Leonard Bloomfield (tokoh linguis Amerika dengan bukunya Language, terbit 1933), adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya. Dengan keterangan di atas dapatlah dikatakan akan adanya substitusi fonemis, substitusi morfemis, dan substitusi sintaksis. Substitusi fonemis menyangkut penggantian fonem dengan fonem lain.

2. 3. 2. Analisis Bawahan Langsung

Analisis bawahan langsung sering disebut juga analisis unsure langsung, atau analisis bawahan terdekat (Inggrisnya Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituenkonstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan frase, satuan klausa, maupun satuan kalimat. Setiap satuan bahasa secara apriori diasumsikan terdiri dari dua buah konstituen yang langsung membangun satuan itu. Misalnya, satuan bahasa yang berupa kata dimakan.

Unsur langsungnya adalah di dan makan. Tetapi untuk satuan yang lebih besar, yang secara kuantitatif terdiri dari beberapa unsur, mulai timbul masalah. Misalnya bentuk dimakani. Jadi sufiks – i dilekatkan lebih dahulu daripada prefiks di –. Sedangkan yang kedua bersandar pada teori distribusi menurut urutan linear. Meskipun teknik analisis bahawan langsung ini banyak kelemahannya, tetapi analisis ini cukup memberi manfaat dalam memahami satuan-satuan bahasa, bermanfaat dalam menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada konteks wacananya dapat dipahami dengan analisis tersebut.

di makan

di makan i di makan i

guru baru datang guru baru datang

2. 3. 3. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur Satuan-satuan bahasa dapat pula dianalisis menurut teknik analisis rangkaian unsur dan analisis proses unsur. Analisis rangkaian unsure (Inggrisnya: item-and-arrangement) mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain. Misalnya, satuan tertimbun terdiri dari ter – + timbun, satuan kedinginan terdiri dari dingin + ke –/– an, dan rumah-rumah terdiri dari rumah + rumah. Berbeda dengan analisis rangkaian unsur, maka analisis proses unsure (bahasa Inggrisnya: item-and-process) menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi, bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter – dengan dasar timbun, bentuk kedinginan adalah hasil dari proses konfiksasi ke –/– an dengan dasar dingin, dan bentuk rumah-rumah adalah hasil dari reduplikasi terhadap dasar rumah. Kalau bentuk membangun adalah hasil prefiksasi me – dengan bentuk dasar bangun, maka secara semantis pembangunan adalah hasil proses konfiksasi pe –/– an dengan dasar membangun. Bentuk pengembangan diturunkan dari verba mengembangkan karena bermakna “hal mengembangkan”, sedangkan bentuk perkembangan diturunkan dari verba berkembang atau memperkembangkan karena bermakna “hal berkembang” atau “hal memperkembangkan”.

2. 4. MANFAAT LINGUISTIK

Seperti sudah disinggung dimuka bahwa linguistik akan memberi manfaat langsung pada mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan

bahasa, seperti linguis itu sendiri, guru bahasa, penerjemah, penyusun buku pelajaran,

penyusun kamus, petugas penerangan, para jurnalis, politikus, diplomat, dan sebagainya.

Bagaimana mungkin seorang guru bahasa dapat melatih keterampilan berbahasa kalau dia tidak fonologi; bagaimana mungkin dia dapat melatih keterampilan menulis (mengarang) kalau tidak menguasai ejaan, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Selain itu, sebagai guru bahasa dia bukan hanya harus melatih keterampilan berbahasa, tetapi juga harus menerangkan kaidah-kaidah bahasa dengan benar. Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik linguistik, tetapi juga yang berkenaan dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik. Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperlukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya. Untuk bisa menyusun kamus dia harus mulai dengan menentukan fonem-fonem bahasa yang akan dikamuskannya. Tanpa pengetahuan semua aspek linguistik kiranya tidak mungkin sebuah kamus dapat disusun.

Adakah manfaat linguistik bagi para negarawan atau politikus? Ya tentu saja ada. Pertama, sebagai negarawan atau politikus yang harus memperjuangkan ideology dan konsep-konsep kenegaraan atau pemerintahan, secara lisan dia harus menguasai bahasa dengan baik. Kedua, kalau politikus atau negarawan itu menguasai masalah linguistik dan sosiolinguistik, khususnya, dalam kaitannya dengan kemasyarakatan, maka tentu dia akan dapat meredam dan menyelesaikan gejolak sosial yang terjadi dalam masyarakat akibat dari perbedaan dan pertentangan bahasa.

 

Ema Rahmawati_1402408015_BAb 8

Filed under: BAB VIII,Uncategorized — pgsdunnes2008 @ 7:15 pm

Nama:Ema Rahmawati

NIM: 1402408015

Rombel 2

BAB 8

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Studi linguistik mengalami tahap perkembangan :

  1. Tahap spekulasi

Pernyataan-pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada cerita rekaan belaka. Contohnya, pernyataan Andreas Kemke, ahli filologi dari Swedia abad ke-17 menyatakan bahwa Nabi Adam dulu di surga berbicara dalam bahasa Denmark. Sedangkan ular berbicara dalam bahasa Perancis. Hal itu tidak dapat dibuktikan karena tidak ada bukti empiris.

  1. Tahap klasifikasi dan observasi

Para ahli bahasa mengadakan pengamatan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki tetapi belum pada tahap merumuskan teori, maka dari itu tahap tersebut belu dikatakan bersifat ilmiah.

  1. Tahap perumusan teori

Bahasa yang diteliti bukan hanya diamati dan diklasifikasi, tapi telah dibuatkan teori-teorinya.

Linguistik Tradisional

Bahasa tradisional dan bahasa stuktural sering dipertentangkan, sebagai akibat dari pendekatan keduanya yang tidak sama terhadap hakikat bahasa. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa stuktural berdasarkan struktur atau cirri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu. Tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan, sedangkan tata bahasa structural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “dengan…”

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis pada Zaman Yunani adalah

1) Pertentangan antara fisis dan nomos

Bersifat fisis, maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak diganti diluar manusia itu sendiri. Yang menganut paham ini adalah kaum naturalis.

Kaum konvensional berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi (nomos), artinya makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi/ kebiasaan yang kemungkinan bias berubah.

2) Pertentangan antara analogi dan anomaly

Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa bersifat teratur, sehingga orang dapat menyusun tata bahasa. Misalnya, boy>>boys, book>>books, dan lain-lain. Kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Misalnya, child menjadi children, bukan childs.

Jadi, kaum anomaly sejalan dengan kaum naturalis dan kaum analogi sajalan dengan kaum konvensional.

Kaum yang berperan besar dalam studi bahasa pada Zaman Yunani, adalah

a. Kaum Sophis

Mereka melakukan kerja secara empiris, melakukan kerja secara pasti, mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa, membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna. Tokohnya yaitu Protogoras, membagi kalimat menjadi kalimat narasi, Tanya, jawab, perintah, laporan, doa, dan undangan.

  1. Plato

Jasa Plato dalam studi bahasa adalah, dia memperdebatkan analogi dan anomaly serta mengemukakan masalah alamiah dan konvensional. Plato orang pertama yang membedakan kata dalam onoma dan rhema

  1. Aristoteles

Menurut Aristoteles ada 3 macam kelas kata, yaitu onoma, rhema, syndesmoi. Onoma dan rhema merupakan anggota logos, yaitu kalimat atau klausa. Sedangkan syndesmoi lebih kurang sama dengan kelas preposisi dan konjungsi yang kita kenal sekarang.

  1. Kaum Stoik

ü Mereka membedakan studi bahasa secara logika dan tata bahasa.

ü Menciptakan istilah-istilah khusus untuk studi bahasa.

ü Membedakan tiga komponen utama dari studi bahasa.

ü Membedakan legein dan propheretal.

ü Membagi jenis kata menjadi empat,

ü Membedakan kata kerja komplet, tak komplet, aktif dan pasif.

  1. Kaum Alexandrian

Cikal bakal tata bahasa tradisional berasal dari buku Dionysius Thrax yang lahir pada masa kaum Alexandrian.

Tokoh pada Zaman Romawi, antara lain:

· Varro dengan karyanya De Lingua Latina

Dalam buku ini terdiri dari 25 jilid. Buku ini dibagi-bagi dalam bidang:

ü Etimologi: cabang lingustik yang menyelidiki asal-usulkata beserta artinya.

ü Morfologi: cabang linguistic yang mempelajari kata dan pembentukannya.

· Priscia dengan karyanya Institutionses Grammaticae.

Buku tata bahasa Priscia ini terdiri dari 18 jilid ( 16 jilid mengenai morfologi dan 2 jilid mengenai sintaksis).

ü Fonologi, dalam bidang ini membicarakan litterae, yaitu bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan.

ü Morfologi, dalam bidang ini membicarakan mengenai dictio atau kata, yaitu bagian minimum sebuah ujaran dan diartikan terpasah dalam makna sebagai satu keseluruhan.

ü Sintaksis, membicarakan oratio, yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukan kalimat itu selesai.

Studi bahasa pada Zaman Pertengahan, antara lain,

  1. Peranan Kaum Modistae, membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomali.
  2. Tata bahasa spekulativa, kata tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuk.
  3. Petrus Hispanus, membedakan pengertian pada bentuk akar dan pengertian yang dikandung oleh imbuhan-imbuhan. Da juga membedakan nomen atas 2 macam, membedakan partes orationes atas categorematik dan syntategorematik.

Linguistik Arab pada Zaman Renaisans berkembang pesat karena kedudukan bahasa Arab sebagai batasan kitab suci agama islam (Al Quran).

Linguistik Strukturalis

Ferdinand de Saussure merupakan Bapak Linguistik Modern. Bukunya yang berjudul Course de Linguistique Generale, memuat pandangan mengenai konsep: telaah sinkronik, perbedaan langue dan parole, perbedaan significant dan signifie, hubungan sintagmatik dan paradigmatik.

Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsure-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear.

Hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.

Dalam bidang fonologi aliran Praha membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem.

Yang dimaksud tema dan rema dalam analisis sintaksis menurut aliran Praha , yaitu tema adalah apa yang dibicarakan, sedangkan rema adalah apa yang dikatakan mengenai tema.

Tokoh aliran Glosematik antara lain, Louis Hjemslev, analisis bahasa dimulai dari wacana kemudian ujaran itu dianalisis atas konstituen yang mempunyai hubungan para digmatis dalam rangka forma, ungkapan, dan isi.

Aliran Firthian dengan tokohnya John R Firth terkenal dengan studi fonologi prosodi, yaitu suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis.

Pokok-pkok pandangan Linguistik Sistematik (SL) yang dikembangkan oleh M.A.K Halliday, yaitu

1. SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa.

2. SL memandang bahasa sebagai pelaksana.

3. SL mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya.

4. SL mengenal adanya gradasi atau kontinum.

5. SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa.

Aliran strukturalis yang dikembangkan Bloomfield sering disebut aliran taksonomi, karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan hierarkinya.

Menurut Aliran tagmemik, satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem, yaitu korelasi antara fungsi slotl dengan sekelompok bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut.

Linguistik Transformasional dan Aliran-aliran Sesudahnya

Setiap tata bahasa dari suatu , menurut Chomsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri dan tata bahasa harus memenuhi dua syarat, yaitu

  1. Kalimat yang dihasilkan harus dapat diterima pemakai bahasa, sebagai kalimat yang wajar.
  2. Tata bahasa harus berbentuk sedemikian rupa.

Tentang Linguistik di Indonesia

Pada awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya, dengan tujuan untuk kepentingan pemerintahan klonial. Analisis bahasa dalam studi linguistik di Indonesia pada masa itu masih bersifat sederhana. Konsep-konsep linguistik modern yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure sudah bergema sejak awal abad XX. Namun, gema konsep linguistik modern itu baru tiba di Indonesia akhir sekali tahun lima puluhan.

Atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasikelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI).

Bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ni, baik dalam negeri maupun luar negeri.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.