Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

aan dwi a 1402408211 BAB 8 Oktober 23, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 12:33 pm

NAMA : AAN DWI ALFRIYANTO

NIM : 1402408211

ROMBEL : 03

BAB 8

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

8.1 Linguistik Tradisional

Istilah tradisional linguistik sering dipertentangkan dengan istilah struktural, sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan sistematik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur / ciriciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu. Misalnya tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan / kejadian. Sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “ dengan ….”.

8.1.1 Linguistik Zaman Yunani

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis adalah :

1. Pertentangan antara fisis dan nomos.

2. Pertentangan antara analogi dan anomali.

Bahasa bersifat fisis atau alami yaitu bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tak dapat diganti di luar manusia itu sendiri, oleh karena itu tidak dapat ditolak Bahasa bersifat konvensi atau nomos yaitu makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa baru.

8.1.1.1 Kaum Sophis

Kaum ini muncul pada abad ke-5 S.M, mereka dikenal dalam studi bahasa antara lain :

1. Mereka melakukan kerja secara empiris.

2. Mereka melakukan kerja secara pasti dengan ukuran-ukuran tertentu.

3. Mereka sangat mementingkan bidang retorika.

4. Mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna.

8.1.1.2 Plato ( 429 – 347 S.M )

Studi yang terkenal adalah :

1. Dia memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya dialog. Dia juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konfensional.

2. Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara onomata dan rhemata.

3. Dialah orang yang pertama kali membedakan kata dalam onomata dan rhemata.

8.1.1.3 Aristoteles ( 384 – 322 S.M )

Aristoteles adalah salah satu murid plato. Studi bahasa yang terkenal

antara lain :

1. Dia menambah satu kelas kata lagi yaitu dengan syndesmoi. Syndesmoi adalah kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis.

2. dia membedakan jenis kelamin kata ( gender ) menjadi tiga yaitu maskulin, feminine, dan neutrum.

8.1.1.4 Kaum Stoik ( ke-4 S.M )

Studi bahasa kaum stoic terkenal karena :

1. Mereka membedaka studi bahasa secara logika dan secara tata bahasa.

2. Mereka menciptakan istilah-istilah khusus untuk studi bahasa.

3. Mereka membedakan 3 komponen utama dari studi bahasa yaitu :

a. Tanda, symbol, sign / seniman.

b. Makna apa yang disebut semainomen atau lekton.

c. Hal-hal yang diluar ; bahasa yakni benda atau situasi

4. Merka membedakan legein yaitu bunyi yang merupakan bagian dari fonologi tetapi tidak bermakna dan propkeretat yaitu ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna.

5. Mereka membagi jenis kata menjadi 4 yaitu : kata benda, kata keja, syndesmoi, dan arthoron, yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah.

6. Mereka membedakan adanya kata kerja komplet dan kata kerja tidak komplet, serta kata kerja aktif dan pasif.

8.1.1.5 Kaum Alexandrian

Kaum Alexandrian menganut paham analogi dengan sebuah buku yang disebut Tata bahasa Dionysius Thiax yang menjadi cikal bakal tata bahasa tradisional.

8.1.2 Zaman Romawi

Romawi mendapatkan pengalaman dalam bidang linguistik dari orang Yunani. Tokoh pada zaman Romawi yang terkenal antara lain Varro ( 116 – 27 S.M ) dngan karyanya De Lingua Latina dan priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.

8.1.2.1 Varro dan “ De Lingua Latina

De Lingua Latina terdiridari 25 jilid, dalam buku ini Varro masih juga memperdebatkan masalah analogi dan anomali. Etimologi adalah cabang Linguistik yang menyelidiki asal usul kata beserta artinya. Kelemahan Varro dalam bidang etimologi adalah dia menganggap kata-kata latin dan Yunani yang berbentuk sama adalah pinjaman langsung.

Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya. Menurut Varro kata adalah bagian dari ucapan yang tidak dapat dipisahkan lagi dan merupakan bentuk minimum.

Varro membagi kelas kata latin dalam 4 bagian :

1. Kata benda, termasuk kata sifat yakni kata yang disebut berinfleksi kasus.

2. Kata kerja, yakni kata yang membuat pernyataan yang berinfleksi “tense”.

3. Partisipei yakni kata yang menghubungkan ( dalam sintaksis kata benda dan kata kerja ) yang berinfleksi kasus dan “tense”.

4. Anverbium yakni kata yang mendukung anggota bawahan dari kata kerja yang tidak berinfleksi.

Tentang kasus bahasa latin menurut Varro :

1. Nominativus yaitu bentuk primer / pokok.

2. Genetivus yaitu bentuk yang menyatakan kepunyaan.

3. Dativus yaitu bentuk yang menyatakan menerima.

4. Akusativus yaitu bentuk yang menyatakan objek.

5. Vokativus yaitu bentuk sebagai sapaan atau panggilan.

6. Obiativus yaitu bentuk yang menyatakan asal.

Deklinasi yaitu perubahan bentuk kata berkenaan dengan kategori, kasus, jumlah dan jenis. Varro membedakan adanya dua macam deklinasi yaitu deklinasi naturalis dan deklinasi voluntaris. Deklanasi naturalis adalah perubahan yang bersifat alamiah dengan

sendirinya dan sudah berpola. Sedangkan deklinasi voluntaris perubahannya terjadi secara morfologis bersifat selektif dan manasuka.

8.1.2.2 Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Dalam buku ini terdiri dari 18 jilid (16 jilid mengenai morfologi dan 2 jilid mengenai sintaksis) dianggap sangat penting karena :

1. Merupakan buku tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya.

2. Teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Beberapa segi yang patut dibicarakan mengenai buku itu antara lain adalah:

1. Fonologi dibicarakan tentang tulisan / huruf yang disebut Litterae. Litterae adalah bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan, nama dari huruf-huruf itu disebut figurae. Sedangkan nilai bunyi itu disebut potestas. Bunyi dibedakan atas empat macam yaitu :

1. Vox artikulata (bunyi yang digunakan untuk membedakan makna).

2. Vox martikulata (bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukan makna).

3. Vox litterae ( bunyi yang dapat dituliskan baik yang artikulata maupun yang martikulata).

4. Vox litterata (bunyi yang tidak dapat dituliskan).

2. Morfologi, membicarakan tentang diction / kata. Yang dimaksud dengan diction adalah bagian yang minimum dari sebuah ujaran yang harus diartikan dalam makna sebagai satu keseluruhan. Kata dibedakan atas 8 jenis yang disebut dengan partes orationis, antara

lain :

1. Nomen (termasuk kata benda dan kata sifat menurut klasifikasi sekarang).

2. Verbum (kata yang menyatakan perbuatan atau dikenai perbuatan).

3. Participium (kata yang selalu berderivasi dari verbum).

4. Pronomen (kata-kata yang menggantikan nomen).

5. Adverbium (kata-kata yang secara sintaksis dan sistematik merupakan atribut verbum).

6. Praepositio (kata-kata yang terletak di depan bentuk yang berkasus).

7. Interjectio (kata-kata yang menyatakan perasaan sikap, atau pikiran).

8. Cojunction (kata-kata yang bertugas menghubungkan anggota-aggota kelas kata yanglain untuk menyatakan hubungan sesame).

3. Sintaksis, membicarakan hal yang disebut oratio yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukan kalimat itu selesai. Akhirnya dapat dikatakan buku Institutiones Grammaticae ini menjadi dasar tat bahasa latin dan filsafat zaman pertengahan.

8.1.3 Zaman Pertengahan

Tata bahasa spekulativa merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin. Petrus Hispanus, beliau pernah menjadi paus yaitu tahun 1276 – 1277 dengan gelar Paus Johannes XXI. Bukunya berjudul Summulae Logicales, berperan dalm bidang linguistik antara lain :

1. Dia telah memasukan psikolog dalam analisis makna bahasa.

2. Dia telah membedakan nomen atas dua macam yaitu nomen substantivum dan nomen adjectivum.

3. Dia juga telah membedakan partes orations atas categorematik dan syntategorematik. Categorematik adalah semua bentuk yang dapat menjadi subjek atau predikat. Sedangkan syntategorematik adalah semua bentuk tutur lainnya.

8.1.4 Zaman Renaisans

Dua hal pada renaisans yang menonjol yang perlu dicatat yaitu :

1. Selain menguasai bahasa latin, sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani dan bahasa Arab.

2. Selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani dan Arab, bahasa-bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa, dan malah juga perbandingan.

8.1.5 Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Ferdinand de Saussure dianggap sebagai bapak linguistik modern. Bila kita simpulkan pembicaraan mengenai linguistik tradisional diatas secara singkat dapat dikatakan, bahwa :

a. Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan. Oleh karena itu deskripsi bahasa hanya bertumpu pada bahasa tulisan.

b. Bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mangambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa latin.

c. Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara preskriptif, yakni benar atau salah.

d. Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsika dengan melibatkan logika.

e. Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.

8.2 Linguistik Strukturalis

Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu.

8.2.1 Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dianggap sebagai bapak linguistik modern berdasrkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Allbert Sechehay tahun 1915 (dua tahun setelah de saussure meninggal).

Pandangan yang dibuat dalam buku tersebut mengenai konsep :

1. Telaah sinkronik dan diakronik.

2. Perbedaan Langue dan parole.

3. Perbedaan significant dan signifie.

4. Hubungan sintagmatig dan paradigmatic.

Telaah bahasa secara sinkronik adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu saja. Sedangkan telaah bahasa secara diakronik adalah telaah bahasa sepanjang masa /sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh para penuturnya. Yang dimaksud dengan la lague adalah keseluruhan system tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa sifatnya abstrak. Sedangkan yang dimaksud dengan la parole adalah pemakaian atau relisasi langue oleh masing-masing anggota m syarakat bahasa, sifatnya konkret karena parole tidak lain dari pada realit s fisis yang berbeda dari orang yang satu dengan orang lain. Yang dimaksud dengan signifiant adalah bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita. Sedangkan signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita. Sebagai signifian dan signifie itu biasanya mengacu pada suatu aturan atau referen yang berada di alam nyata sebagai sesuatu yang ditandai oleh signe linguistique itu. Yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan yang tersusun secara berurutan, bersifat linier. Hubungan sintagmatik ini terdapat baik dalam tataran fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Hubungan sintagmatik pada tataran fonologi tampak pada urutan fonem-fonem pada sebuah kata yang tidak dapat diubah tanpa merusak makna itu. Yang dimaksud dengan hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan. 8.2.2 Aliran Praha

Aliran praha terbentuk pada tahun 1926 atas prekarsa salah seorang tokohnya yaitu Vilem Mathesius (1882 – 1945). Tokoh yang lain adalah Nikolai S. Trubetskoy, Roman Jakobson dan Morris Halle. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri sedangkan, fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalamsuatu system.

Fonem dikelompokkan kedalam kelas-kelas sesuai dengan ciri-ciri pembeda dan hubungan oposisi yang ada.

8.2.3 Aliran Glosematik

Aliran glosematik lahir di Denmark, tokohnya Louis Hjemslev (1899 –

1965). Prosedur yang bersifat analitis dan semi aljabar menghasilkan satuan

dasar yang disebut glosem. Menurut Hjemslev, masing-masing segi mengandung forma dan substansi sehingga diperoleh :

1. forma expresi

2. substansi expresi

3. forma isi

4. substansi isi

8.2.4 Aliran Firtnian

Nama John R. Firth (1890 – 1960) guru besar pada universitas London

sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Fonologi prosodi

adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis Ada tiga macam

pokok prosodi yaitu :

1. Prosodi yang menyangkut gabungan fonem : struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan, dan gabungan vocal.

2. Posodi yang terbentuk oleh senai atau jeda.

3. Prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar dari pada fonem-fonem suprasegmental.

8.2.5 Linguistik Sistemik

M.A.K. Halliday yaitu salah seorang murid firth yang mengembangkan teori firth mengenai bahasa, khususnya yang berkenaan dengan segi kemasyarakatan bahasa. Pokok-pokok pandangan (SL) adalah

1. SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa.

2. SL memandang bahasa sebagai pelaksana.

3. SL lain mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya.

4. SL mengenal adanya gradasi atau kontinum.

5. SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa.

Forma adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna, forma terbagi

dua yaitu :

1. Leksis yakni yang menyangkut butir-butir lepas bahasa dan pola tempat butir-butir itu terletak.

2. Gramatikal yakni yang menyangkut kelas-kelas butir vahasa dan pola-pola tempat terletalnya butir bahasa tersebut.

8.2.6 Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Leonard Bloomfield (1877 – 1949) terkenal karena bukunya yang berjudul language (terbit pertama kali tahun 1933). Faktor yang menyebabkan aliran Amerika dapat berkembang antara lain :

1. Pada masa itu para linguis amerika menghadapi masalah yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diperikan.

2. Sikam Bloomfield menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang di Amerika yaitu behaviorisme.

3. Adanya The Linguistics Society of America yang menerbitkan majalah Language, wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka.

8.2.7 Aliran Tagmemik

Aliran tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics. Aliran ini bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem (kata ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti susunan). Tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut.

Rumus = S : FN + P : FV + O : FN

Rumus tersebut dibaca : Fungsi subjek diisi oleh frase nominal diikuti oleh fungsi predikat yang diisi oleh frase verbal dan diikuti pula oleh fungsi objek yang diisi oleh frase nominal.

8.3 Linguistik Tranformasional dan Aliran-aliran Sesudahnya

Dunia ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis melainkan merupakan kegiatan yang dinamis, berkembang terus sesuai dengan fisafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki.

8.3.1 Tata Bahasa Transformasi

Tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku “Noam Chomsky” yang berjudul Syntactic Strukture pada tahun 1957, yang kemudian dikembangkan karena adanya kritik dan saran dari berbagai pihak didalam buku Chomsky yang kedua berjudul “Aspect of The Theory of Syntax pada tahun 1965. nama yang dikembangkan untuk model tata bahasa yang dikembangkan oleh Chomsky adalah “Transformational Generative Grammar” dalam tata bahsa Indonesia lazim disebut “ Tata bahasa transformasi / tata bahasa generatif. Syarat yang harus dipenuhi dalam tata bahasa :

1. Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.

2. Tata bahasa itu harus berbentuk sedemikian rupa sehingga satuan / istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistic tertentu.

8.3.2 Sistematik Generatif

Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengankaidah transformasi saja.

Menurut teori semantik generatif argument adalah segala sesuatu yang dibicarakan, sedangkan predikat yang menunjukan hubungan, perbuatan, sifat, keanggotaan dan sebagainya.

8.3.3 Tata Bahasa Kasus

Tata bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Case For Case” tahun 1968 Dalam karangan itu Fillmore membagi kalimat atas :

1. modalitas yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek dan adverbin.

2. proposisi yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus.

Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina. Verba disini sama dengan predikat sedangkan nomina sama dengan argument dalam teori semantik generatif.

Makna sebuah kalimat dalam teori ini dirumuskan dalam bentuk :

+ [- -X,Y,Z]

Tanda — dipakai untuk menandai posisi verba dalam struktur semantik,

sedangkan X,Y,Z adalah argumen yang berkaitan dengan verba atau predikat

itu yang biasanya diberi label kasus.

OPEN, + [- - - A, I,O]

A = agent, pelaku

I = instrument, alat

O = object, tujuan

Dari uraian diatas dapat kita lihat adanya persamaan antara teori semantik generatif dengan teori kasus yaitu sama-sama menumpukkan teorinya pada predikat atau verba.

8.3.4 Tata Bahasa Relasional

Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Menurut teori tata bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relasional network) yang melibatkan tiga macam maujud (entity) yaitu :

a. Seperangkat simpai (notes) yang menampiklan eleman-elemen di dalam suatu struktur.

b. Seperangkat tanda relasional (relational sign0 yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain.

c. Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukan pada tataran yang manakah elemen-elemen itu mengandung relasi gramatikal tertentu terhadap element yang lain.

Chomeur adalah konstituen yang tidak memiliki atau kehilangan fungsi gramatikalnya, sehingga dijuluki “konstituen yang menganggur”. Demikian secara singkat teori tata bahasa rasional mengenai sintaksis.

8.4 Tentang Lingustik Di Indonesia

Sebagai negeri yang sangat luas yang dihuni oleh berbagai suku bangsa dengan berbagai bahasa daerah yang berbeda pula maka Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. Pada awalnya penelitian bahasa si Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya, dengan tujuan untuk kepentingan pemerintah colonial, dan untuk melancarkan jalannya pemerintahan colonial di Indonesia. Selain itu juga untuk penyebaran agama Nasrani. Apa yang telah dilakukan para peneliti Barat itu dapat kita lihat dalam sejumlah buku “Bibliographical series” terbitan Koninkliijk Instituut Voor Taal, Land, en Volkenkunde (KITLV) Belanda, antara lain yang disusun oleh Teeuw (1961), Unnlenbeck (1964), Voorhove (1955) dan Cense (1958). Tampaknya cara pendeskripsian terhadap bahasa-bahasa daerah di Indonesia seperti yang dilakukan oleh para peneliti terdahulu masih berlanjut terus pada tahun tujuh puluh dan delapan puluhan, seperti yang dilakukan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Pusat Bahasa). Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini baik didalam negeri maupun luar negeri. Secara nasional bahasa Indonesia telah mempunyai sebuah buku tata bahasa baku dan sebuah kamus besar yang disusun oleh para pakar yang handal.

Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercatat namanama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjowidjojo, dan Soedarjanto, yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai berbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

SHOLIHAH DHIAN _1402408113_ Bab 7 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 9:48 pm

SHOLIHAH DHIAN
(1402408113)

TATA RAN LINGUISTIK SEMANTIK
Letak semantik yaitu dengan objeknya yakni makna, berada di seluruh atau semua tataran yang bangun-membangun ini: makna berada di dalam tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis. Oleh karena itu, penamaan tataran untuk semantik agak kurang tepat. Sebab dia bukan satu tataran dalam arti unsur pembangun satuan lain yang lebih besar, melainkan unsur yang berada pada semua tataran itu, meskipun sifat kehadirannya pada tiap tataran tidak sama. oleh karena itu para linguis strukturalis tidak begitu peduli dengan masalah makna ini, karena dianggap tidak termasuk atau menjadi tataran yang sederajat dengan tataran yang bangun-membangun itu. Hockett (1954), salah seorang tokoh struktiralis menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan. Sistem bahasa ini terdiri dari lima subsistem, yaitu subsistem gramatika, subsistem fonologi, subsistem morfofonemik, subsistem semantik, dan subsistem fonetik. Kedudukan kelima subsistem itu tidak sama derajatnya. Subsistem gramatika, fonologi, dan morfofonemik bersifat sentral. Sedang subsistem semantik dan fonetik bersifat periferal. Subsistem semantik disebut bersifat periferal adalah karena seperti pendapat kaum strukturalis umumnya, bahwa makna yang menjadi objek semantik adalah sangat tidak jelas, tidak dapat diamati secara empiris, sebagaimana subsistem gramatika (morfologi dan sintaksis). Demikian juga dengan Chomsky, bapak linguistik transformasi, dalam buku yang pertama (1957) tidak menyinggung masalah makna. Dalam buku kedua (1965) beliau menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa (dua komponen lain adalah sintaksis dan fonologi) dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen semantik ini.
Sejak Chomsky menyatakan betapa pentingnya semantik dalam studi linguistik, maka studi semantik sebagai bagian dari studi linguistik menjadi semarak. Teori Bapak Linguitik Modern Ferdinand de Saussure, bahwa tanda linguistik (sign linguistique) terdiri dari komponen signifian dan signifie. Sesungguhnya studi linguistik tanpa disertai dengan studi semantik adalah tidak ada artinya, sebab kedua komponen itu merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

7.1. Hakikat Makna
Menurut de Saussure setiap tanda linguistik/tanda bahasa terdiri dari dua komponen, yaitu kompenen signifikan atau “yang mengartikan” yang wujudnya berupa runtutan bunyi, dan komponen signifie atau “yang diartikan” yang wujudnya berupa pengertian atau konsep. Tanda linguistik berupa(ditampilkan dalam bentuk ortografis) <meja>, terdiri dari runtutan fonem /m/, /e/, /j/, dan /a/ dan signifie berupa makna/konsep sejenis perabot kantor/rumah tangga.

7.2. JENIS MAKNA
Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual
Makna Leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. Misalnya leksem kuda memiliki makna leksikal ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’. Dari contoh itu dapat juga dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sebenarnya yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya. Banyak orang yang mengatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang ada dalam kamus. Makna Gramatikal baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi. Makna Kontekstual adalah makna sebuah leksem yang berada di dalam satu konteks. Contoh:
Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.
Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.
Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa itu.
Makna Referensial dan Non-Referensial
Sebuah kata atau leksem dikatakan bermakna referensial kalau ada referensnya atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata-kata seperti dan, atau, dan karena adalah termasuk kata-kata yang tidak bermakna referensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referens. Kata deiktik: kata yang acuannya tidak menetap pada satu maujud melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu ke maujud yang lain. Yang termasuk kata deiktik adalah kata pronomina seperti disini, disana, dan kamu; kata yang menyatakan ruang: disini, disana, disitu; kata yang menyatakan waktu seperti sekarang, besok, nanti; kata yang disebut kata penunjuk seperti ini dan itu.
Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Contoh: Kata babi bermakna denotatif sejenis binatang yang biasa diternakkan untuk diambil dagingnya. Makna konotatif adalah makna yang “ditambahkan” pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa seseorang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Kata babi, oleh orang Islam mempunyai konotasi negatif, ada rasa atau perasaan tidak enak saat mendengar kata itu.
Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Leech (1976) membagi makna menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Kata kuda memiliki makna konseptual ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’ dan kata rumah memiliki makna konseptual ‘bengunan tempat tinggal manusia’. Jadi makna kontekstual sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Misal kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesucian; kata merah berasosiasi dengan berani atau juga paham komunis. Oleh Leech (1976) kedalam makna asosiasi ini dimasukkan juga yang disebut konotatif, makna stilistika, makna afektif dan makna koloaktif.
Makna asosiatif: karena kata-kata berasosiasi dengan nilai rasa terhadap kata lain.
Makna stilistika: berkenaan dengan pembedaan penggunaan kata sehubungan dengan perbedaan sosial atau bidang kegiatan.
Makna efektif: berkenaan dengan perasaan pembicara terhadap lawan bicara atau terhadap objek yang dibicarakan. Makna efektif lebih nyata terada dalam bahasa lisan.
Contoh: “Tutup mulut kalian!” bentaknya pada kami.
“Coba, mohon diam sebentar!” katanya pada kami.
Makna koloaktif: berkenaan dengan ciri-ciri makna tertentu yang dimiliki sebuah kata dari sejumlah kata-kata yang bersinonim, sehingga kata tersebut cocok untuk digunakan berpasangan dengan kata tertentu lainnya.
Makna Kata dan Makna Istilah
Setiap kata atau leksem memiliki makna. Pada awalnya yang dimiliki sebuah kata adalah makna leksikal, makna denotatif, atau makna konseptual. Namun dalam penggunaannya makna kat itu baru menjadi jelas kalau kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya atau konteks situasinya.
Contoh: “Tangannya luka kena pecahan kaca”
” Lengannya luka kena pecahan kaca”
Jadi, kata tangan dan lengan pada kedua kalimat di atas adalah bersinonim, atau bermakna sama.
Makna yang disebut istilah mempunyai makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan, meskipun tanpa konteks kalimat. Sering dikatakan bahwa istilah itu bebas konteks, sedangkan kata tidak bebas konteks.
Makna Idiom dan Peribahasa
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Idiom dibedakan menjadi 2 yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Yang dimaksud dengan diom penuh adalah idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan sehingga makna yang dimilikin berasal dari seluruh kesatuan itu. Contoh idiom penuh : membanting tulang, menjual gigi, meja hijau. Sedangkan idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri misalkan buku putih yang bermakna ‘buku yang memuat keterangan resmi mengenai suatu kasus’.

7.3. RELASI MAKNA
Relasi makna adalah hubungan semantik yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa lainnya. Satuan bahasa disini dapat berupa kata frase maupun kalimat; dan relasi semantik itu dapat menyatakan kesamaan makna. Pertentangan makna, ketercakupan makna, kegandaan makna atau juga kelebihan makna. Relasi makna biasanya dibicarakan masalah-masalah yang disebut sinonim, antonim, polisemi, homonimi, hiponimi, ambiguiti, dan redundansi.
Sinonim
Sinonim atau sinonimi adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satu satuan ujaran lainnya. Misalnya antara kata betul dengan kata benar. Contoh dalam bahasa Inggris antara kata freedom dan liberty.
Relasi sinonimi bersifat dua arah, maksudnya kalau satu ujaran A bersinonim dengan satuan ujaran B dan sebaliknya. Secara konkret kalau kata betul bersinonim dengan kata benar, kata benar bersinonim dengan kata betul.

Dua buah ujaran yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. kesamaan itu terjadi karena berbagai faktor.

Faktor waktu
Faktor tempat atau wilayah
Faktor keformalan
Faktor sosial
Faltor bidang kegiatan
Faktor nuansa makna
Antonim
Antonim adalah hubungan semantikatau antonimi antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misalnya kata buruk berantonim dengan kata baik, kata mati berantonim dengan kata hidup. Sifat antonim dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain:
Antonim yang bersifat mutlak. Umpamanya kata hidup berantonim dengan kata mati, sebab segala sesuatu yang masih hidup tentu belum mati, dan sesuatu yang sudah mati tentu sudah tidak hidup lagi.
Antonim yang bersifat relatif atau bergradasi. Umpamanya kata besar dan kecil berantonimi secara relatif. Jenis antonim ini disebut bersifat relatif, karena batas antara satu dengan lainnya tidak dapat ditentukan secara jelas. Batasnya itu dapat bergerak menjadi lebih atau kurang. Karena itu, sesuatu yang tidak besar belum tentu kecil, dan sesuatu yagng tidak dekat belum tentu jauh. Karena itu pula kita dapat mengatakan misalnya lebih dekat, sangat dekat, atau juga paling dekat.
Antonim yang bersifat hierarkial. Umpama kata tamtama dan bintara berantonim secara hierarkial. Antonimi jenis ini disebut bersifat hierarkial karena kedua satuan ujaran yang berantonim itu berada dalam satu garis jenjang atau hierarki.
Polisemi
Dalam kasus ini biasanya makna pertama (yang didaftarkan di dalam kamus) adalah makna sebenarnya, makna leksikalnya, makna denotatifnya atau makna konseptualnya. Yang lain adalah makna-makna yang dikembangkanberdasarkan salah satu komponen makna yang dimiliki kata atau satuan ujaran itu.
Homonimi
Homonimi adalah 2 buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata atau bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata pacar yang bermakna “inai” dan kata pacar dan yang bermakna “kekasih”.Jadi kalau pacar yang bermakna “inai”berhomonim dengan kata pacar yang bermakna “kekasih”.Maka,pacar yang bermakna “kekasih” berhomonim dengan kata yang bermakna “inai”
· Homofoni
Adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran tanpa memperhatikan ejaan.
Homografi
Mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya tetapi ucapan dan maknanya tidak sama.
~ Hiponimi
Adalah hubungan sematik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam makna bentuk ujaran yang lain.
Misalnya:kata merpati mencakup dalam kata burung jadi merpati adalah hiponim dari burung dan burung berhipernim dengan merpati.
~Ambiguiti dan ketaksaan
Adalah gejala dapat terjadinya kegandaan makna akibat tefsiran gramatikal yang berbeda.
Contoh:buku sejarah baru
Dapat ditafsirkan:1 buku sejarah itu baru terbit.
2 buku itu memuat sejarah zaman baru.
~ Redundansi
Istilah redudansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihan penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran.
Misal:kalimat bola itu ditendang oleh dika tidak akan berbeda maknanya bila dikatakan bola itu ditendang Dika.Jadi tanpa penggunaan preposisi”oleh”.Penggunaan kata “oleh”inilah yang dianggap redudansi,berlebih-lebihan.
7.4. PERUBAHAN MAKNA
Dalam masa yang relatif singkat,makna sebuah kata akan tetap sama,tidak berubah tetapi dalam waktu yang relatif lama ada kemungkinan makna sebuah kata akan berubah.Kemungkinan ini berlaku hanya terjadi pada sejumlah kata yang disebabkan oleh berbagai faktor,antara lain:
a. Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi
b. Perkembangan sosial budaya
c. Perkembangan pemakaian kata
d. Pertukaran tanggapan indra
e. Adanya asosiasi

7.5. MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA
Kata yang berada dalam satu kelompok lazim dinamai kata –kata yang berbeda dalam satu medan makna atau satu medan leksikal.
Medan Makna
Adalah seperangkat unsur leksikal yang maknannya saling berhubungan.
Misalnya:nama-nama warna,nama perabot rumah tangga
Komponen Makna
Makna setiap kata terdiri dari sebuah komponen.yang membentuk keseluruhan makna kata itu.
Contoh:kata ayah memiliki komponen kata manusia,dewasa,jantan,kawin dan punya anak
Kesesuaian Sematik dan Sintaktik
Berterima tidaknya sebuah kalimat bukan hanya masalah gramatikal tetapi juga masalah semantik.
Amati keempat kalimat berikut yang akan tampak perbedaan ketidakterimaannya.
Kambing yang punya Pak Udin terlepas lagi.
Segelas Kambing minum setumpuk air.
Kambing itu membaca komik.
Penduduk DKI Jakarta sekarang ada 50 juta orang.
Kalimat (a) karena kesalahan gramatikal yaitu adanya konjungsi “yang”.
Kalimat (b) karena kesalahan persesuaian leksikan seharusnya bukan segelas
Kambing tetapi seekor kambing.
Kalimat (c) karena tidak adanya persesuaian semantik antara kata kambing dan
Membaca.
Kalimat (d) karena kesalahan informasi.Dewasa ini penduduk DKI Jakarta hanya 8
Juta,bukan 50 juta.


 

Windarti_ 1402408201_Bab II

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 9:46 pm


Nama : Windarti
NIM : 1402408201

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU
Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.

Keilmiahan Linguistik
. Pada dasarnya setiap ilmu, termasuk juga ilmu linguistik, telah mengalami tiga tahap perkembagan sebagai berikut.
Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Artinya kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa prosedur-prosedur tertentu. Tindakan spekulatif seperti ini kita lihat misalnya, dalam bidang geografi dulu orang berpendapat bahwa bumi ini berbentuk datar seperti meja.
Tahap kedua, adalah tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli dibidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Bahasa-bahasa di Nusantara didaftarkan, ditelaah ciri-cirinya, lalu dikelompokkan berdasarkan kesamaan-kesamaan ciri yang dimiliki bahasa-bahasa tersebut. .
Tahap ketiga, adalah tahap adanya perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan.
Disiplin linguistik itu sekarang sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah. Tindakan tidak spekulatif dalam kegiatan ilmiah berarti tindakan itu dalam menarik kesimpulan atau teori harus didasarkan pada data empiris, yakni data yang nyata ada, yang terdapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi.
Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Itulah sebabnya, bidang semantik tidak atau kurang mendapat perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna, yang menjadi objek semantik, tidak dapat diamati secara empiris.
Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu. Kesimpulan ini biasanya disebut kesimpulan induktif.. Dalam tata bahasa Indonesia selama ini banyak orang menggunakan kesimpulan umum bahwa kata yang berkelas ajektifa dapat diawali oleh kata sangat. Ini tentunya merupakan kesimpulan umum karena kata-kata seperti jauh, dekat, panjang, pendek, kuat, lemah, tua, dan hitam dapat diawali kata sangat itu.
Dalam ilmu logika atau ilmu menalar selain adanya penalaran secara induktif ada juga penalaran secara deduktif. Secara induktif, mula-mula dikumpulkan data-data khusus, lalu dari data-data khusus ditarik kesimpulan umum. Secara deduktif adalah kebalikannya. Artinya, suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada.

Premis Mayor : Semua mahasiswa lulusan SMA
Premis Minor (data khusus) : Nita seorang mahasiswa
Kesimpulan deduktif : Nita adalah lulusan SMA

Jelas, kesimpulan deduktif “Nita adalah lulusan SMA” adalah tidak benar, meskipun cara penarikan kesimpulanya benar dan sah. Mengapa? Sebab dalam kenyataannya tidak semua mahasiswa adalah lulusan SMA. Jadi kesimpulan itu tidak benar karena premis mayornya tidak benar. Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa dapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut:
Pertama, karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya bagi linguistik, bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tulis adalah sekunder.
Kedua, karena bahasa bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.
Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan yang lainnya mempunyai jaringan hubungan.
Keempat, karena bahasa dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Lalu, karena itu pula, linguistik mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada kurun yang waktu tertentu atau terbatas. Secara diakronik, artinya mempelajari bahasa dengan berbagai aspek dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu. Secara diakronik sering juga disebut studi histori komparatif.
Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskripstif dan tidak secara prespektif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut si peneliti seharusnya diungkapkan.

Subdisiplin Linguistik
Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin) atau cabang-cabang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah-masalah lain. Misalnya ilmu kimia dibagi atas kimia organik dan kimia anorganik; psikologi dibagi atas, antara lain, psikologi klinik dan psikologi sosial.
Mengingat bahwa objek linguistik, yaitu bahasa, merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat, sedangkan kegiatan itu sangat luas, maka cabang linguistik menjadi sangat banyak
Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus.
Linguistik umum: linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Sedangkan linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti bahasa Inggris, Indonesia, Jawa.
. Kajian umum dan khusus ini dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa atau juga hanya pada satu tataran dari sistem bahasa itu.

Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan diakronik.

 

Larrysa Devi_1402408206_Bab 7

Filed under: BAB VII — pgsdunnes2008 @ 9:42 pm

Nama : Larrysa Devi
No : 1402408206
SINTAKSIS

Morfologi dan sintaksis disebut tata bahasa atau gramatika. Batas keduanya sering kabur, sehingga muncullah istilah morfosintaksis. Morfologi membicarakan struktur internal kata. Sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kta lain.
Secra etimologi sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjai kelompok kata atau kalimat (dari bahasa Yunani “Sun = dengan”, “tattein = menempatkan”).
6.1 Struktur Sintaksis
Terdiri dari S-P-O-K, dimana fungsi sintaksis tersebut masih kosong, sehingga nantinya diisi oleh kategori dn memiliki peranan tertentu.
Contoh : Nenek melirik kakek tadi pagi
S P O K
Keterangan : tempat kosong, subjek diisi oleh kata nenek yang berkategori nenek, dan seterusnya.
Peran : “Subjek = pelaku, predikat = aktif, objek = sasaran, keterangan waktu = waktu”. Tapi apabila ada perubahan kalimat aktif menjadi kalimat pasif, susunan fungsi berubah, sedangkan perannya tetap.
Sususnan tidak harus urut S-P-O-K, tapi antara P dan O harus urut.
Susunan S-P-O-K tidak harus munculsecara lengkap, minimal punya S dan P.
P berupa v intransitif, maka objek tidak perlu muncul. Tapi kalau v transitif maka di belakang verba harus ada objek, kecuali verba yang secara semantik (meyatakan kebiasaan) atau mengenai orang pertama tunggal/ orang banyak secara umum.
Contoh : Sekretaris itu sedang mengetik (pastinya yang diketik adalah surat).
Menurut Djoko Kertjono: hadir tidaknya suatu fungsi sintaksis bergantung pada konteksnya seperti kalimat jawaban, kalimat perintah, kalimat seruan.
Mengenai fungsinya, S diisi nomin, P diisi V, O diisi nomina, K diisiadverbia. Peran sintaksis berkaitan dengan makna gramatikal yang dimilikinya.
Urutan kata dalam bahasa Indonesia sangat pentng karena bisa memepengaruhi makna. Sedangkan dalam bahasa latin yang penting adalah bentuk katanya, karena dalam bentuk kata-kata tersebut sudah menyatakan fungsi, peran dan kategorinya.
Ambigu : konstruksi yang bisa bermakna ganda sebagai akibat dari tafsiran gramatikal yang berbeda.
Contoh : Buku sejarah baru.
Korektor ada dua : 1) Koordinatif : menghubungkan dua konstikuen yang kedudukannya sama. Contoh : dan, atau, tetapi.
2) K. Subordinatif : menghubungkan dua konstituen yang tidak sederajat (kalau, meskipun, karena).

6.2 Kata sebagai satuan sinteksis

kata sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, sebagai pengisi fungsi, sebagai penanda kategori, sebagai perangkai.
Kata penuh : kata yang mempunyai makna, merupakan kelas terbuka, dapat berdiri sendiri sebagai satuan (nomina, verba, adjektiva, numeralia).
Kata tugas : kata yang tidak punya makna, tidak punya kemungkinan mengalami proses morfologi kelas tertutup, tidak dapat berdiri sendiri (konjungsi, proposisi)
6.3 Frase
6.3.1 dibuat dari morfem bebas, bukan terikat belum makan, bukan tata boga
Struktur P dan O, bukan S dan P. contoh : Adik mandi bukan frase
Bisa diselipi unsur lain. Contoh : Nenek saya = nenek dari saya
Tidak bisa dipindahkan sendiri
Berpotensi menjadi kalimat minor
Memiliki makna gramatikal, berbeda dengan kata majemuk yang memiliki makna baru
6.3.2 Jenis Frase
6.3.2.1 Frase eksosentrik : komponennya tidak memiliki perilaku yang sama dengan keseluruhannya. Contoh : di pasar (masing-masing komponen tidak bisa menduduki fungsi keterangan)
Frase preposional : komponen pertama preposisi, komponen kedua nomina
Frase eksosentrik nondirektif : komponen 1 artikulus (si, sang, para), komponen kedua nomina, adjektifa, verba.
6.3.2.2 Frase Endosentrik : salah satu komponenbisa mengartikan kedudukan keseluruhan. Contoh : sedang membaca.
Kalau dilihat dari inti : frase nomina, frase verba, frase adjektifa, frase numeralia.
6.3.2.3 Frase Koordinatif : dihubungkan oleh konjungsi koordinatif dan sederajat. Contoh : sehat dan kuat.
Frase parataksis : tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit. Contoh : sawah ladang.
6.3.2.4 Frase apositif : kedua komponen saling merujuk, urutan dapat dipertukarkan.
6.3.3 Ciri-ciri Frase
Dapat diperluas : – Untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus
Pengungkapan konsep dinyatakan dengan leksikal
Memberi deskripsi secara terperinci
Contoh : kereta – kereta api – kereta api ekspres – dst.
6.4 Klausa
6.4.1 Klausa : satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi produktif (kata + frase) s + P wajib – berpotensi menjadi kalimat.
Beda objek dengan pelengkap
- 25 Berada di belakang verba transitif – 27 Tidak berada di belakang verba transitif
-26 Dapat dijadikan Subjek Objek Pelengkap -28 Tidak dapat dijadikan subjek

6.4.2 Jenis Klausa
Klausa bebas : unsur-unsur lengkap, berpotensi menjadi kalimat mayor.
Klausa terikat : tidak punya potensi menjadi kalimat mayor.
Klausa atasan, klausa bawahan : ada dalam kalimat majemuk.
Klausa non verbal : predikatnya bukan verbal lazim
Klausa verbal : predikatnya berupa verbal
Klausa verbal transitif, intransitif, refleksif, resiprokal.
Klausa nominal : predikat berupa nominal
Klausa adjektifal : predikat berupa adjektif
Klausa adverbal : predikat berupa adverbia
Klausa preposional : predikat berupa frase yang berkategori preposisi (biasanya berubah menjadi klausa verbal yang dilengkapi keterangan).
Klausa numeral : predikat berupa frase numeralia (biasanya berubah menjadi klausa verbal).
6.5 Kalimat
6.5.1 Kalimat : susunan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi konjungsi, disertai dengan nasi final.
6.5.2 Jenis kalimat
6.5.2.1 Kalimat inti dan kalimat non inti
Kalimat inti : kalimat dasar
Kalimat non inti : sudah mengalami transformasi (pemasifan, pengingkaran, penanyaan, pemerintahan, penambahan dll).
6.5.2.2 Kalimat tunggal : klausanya tunggal
Kalimat majemuk : klausanya lebih dari satu .
Kalimat setara : dihubungkan dengan kojungsi dan, atau, tetapi, lalu.
Kalimat bertingkat : dihubungkan dengan kojungsi kalau, karena, meskipun (campuran koordinatif dan campuran subordinatif)
6.5.2.3 Kalimat mayor : sedikitnya memiliki S + P
Kalimat minor : bisa berupa kata
6.5.2.4 Kalimat verba : predikat berupa verba (verba transitif, intransitif, aktif, pasif, dinamis)
Kalimat non verba : predikat berupa nomina, ajektif, adverbia, numeralia
6.5.2.5 Kalimat bebas : dapat berdiri sendiri (biasanya sebagai pemula paragraf)
Kalimat terikat : tidak dapat berdiri sendiri
6.5.3 Intonasi kalimat : tekanan, tempo, nada
6.5.4 modus, aspek, kala, modalitas, fokus dan diatesis
Modus : pengungkapan suasana psikologis seseorang
Macam : modus deklaratif, modus optatif, modus imperatif, modus obligatif, modus desideratif, modus kondisional.
Aspek : cara pandang terhadap sesuatu kondisi, kejadian, proses.
Macam : aspek kontinuatif, aspek inseptif, aspek progesif, aspek repetitif, aspek perfektif, aspek imperfektif, aspek sesatif.
Kala/ Tenses : menyatakan waktu terjadinya kejadian (lampau, sekarang dan yang akan datang).
Modalitas : menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan.
Macam : modalitas intersional, modalitas epistemik, modalitas deontik, modalitas dinamik.
Fokus : menonjolkan bagian kalimat dengan cara memberikan tekanan pada kalimat yang difokuskan, mengedepankan bagian kalimat, memakai partikel “pun, yang, tetang, adalah”, mengontraskan dua bagian kalimat, menggunakan konstruksi posesif.
Diatesis : gambaran pelaku dengan perbuatan.
Macam : diatesis aktif, diatesis pasif, diatesis refleksi, diatesis resiprokal, diatesis kausatif.
6.6 Wacana
6.6.1 Wacana : satuan bahasa yang lengkap (grametika tertinggi)
6.6.2 Untuk membuat wacana yang kohesif (baik) dan koherens (utuh dan dalam satu ujaran) alat-alat gramatikalnya adalah konjungsi, kata ganti, elipsin (penghilangan kata yang sama).
Sedangkan dalam sematik kita bisa menggunakan : hubungan perbandingan, pertentangan, generik spesifik atau sebaliknya, sebab akibat, tujuan, rujukan.
6.6.3

Wacana
Prosa Puisi
Narasi
Eksposisi
Persuasif
Argumentasi

6.6.4 Sub satuan wacana
Bab

Sub bab

Paragraf terdiri dari kalimat utama dan kalimat penjelas

Sub paragraf
6.7 Catatan mengenai hierarki satuan
Urutan hierarki
Fonem – morfem – kata – frase – klausa – kalimat – wacana

 

DinarDwieSantoso_1402408092I_bab 8

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 9:37 pm

Nama :DinarDwieSantoso
NIM : 1402408092

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK
Ada yang tahu tentang perkembangan sejarah linguistik? Dalam sejarah perkembangannya, linguistik dipenuhi dengan berbagai aliran, paham, pendekatan dan teknik penyelidikan yang dari luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan. Namun untuk mengetahui lebih jelas sejarah dan aliran linguistik dari zaman purba sampai zaman mutakhir, ayo kita pelajari bersama.

Linguistik Tradisional
Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik. Untuk lebih tahu bagaimana terbentuknya tata bahasa tradisional yang telah melalui masa yang sangat panjang, zaman per zaman, mulai zaman Yunani sampai masa menjelang munculnya linguistik modern. Mari kita pelajari bersama:
Linguistik Zaman Yunani (± abad ke – 5 SM)
Pada masa ini yang menjadi pertentangan para linguis adalah:
Bersifat Fisis dan Nomos
Bersifat fisis/alami maksudnya bahasa itu mempuyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti diluar manusia itu sendiri sedangkan bahasa yang bersifat nomos/konvensi artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi/kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.
Berikut ini beberapa kaum/tokoh yang mempunyai peranan besar pada zaman Yunani:
Kaum Sophis
Mereka dikenal antara lain karena mereka bekerja secara empiris, pasti, mementingkan bidang retorika dan bisa membedakan tipe kalimat berdasarkan isi dan makna. Tokoh: Protogoras, Georgias.
Plato (429 – 347 SM)
Aristoteles (384 – 322 SM)
Aristoteles selalu bertolak dari logika.
Kaum Stoik
Kaum Alexandrian
Kaum ini mewarisi Dionysius Thrax, buku ini yang kemudian dijadikan model dalam penyusunan buku tata bahasa Eropa lainnya.

Zaman Romawi
Tokoh yang terkenal pada zaman ini
Varro dan “De Lingua Latina”
Institutiones Grammaticase/Tata Bahasa Priscia
Buku ini menjadi dasar tata bahasa latin dan filsafat zaman pertengahan.

Zaman Pertengahan
Dari zaman pertengahan ini yang patut di bicarakan dalam studi bahasa, antara lain adalah:
Kaum Modistae yang masih membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomali.
Tata bahasa Spekulativa, merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin (seperti yang dirumuskan oleh Priscia) ke dalam filsafat skolastik.
Petrus Hispanus. Peranannya di bidang linguistik antara lain:
Memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa
Membedakan nomen atas 2 macam
Membedakan prates orationes atas categorematik dan syntategorematik.

Zaman Renainans
Pada zaman ini ada 2 hal yang menonjol yaitu:
Selain menguasai bahasa latin, sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, Ibrani, dan Bahasa Arab.
Selain bahasa di atas, bahasa-bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa, dan membandingkan.

Menjelang Lahirnya Linguistik Modern
Konsep dan pegangan tata bahasa tradisional terhadap bahasa tidak sama dengan konsep menurut linguistik modern.

Linguistik Strukturalis
Linguistik strukturalis berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri yang dimiliki bahasa itu. Bapak linguitik modern, yaitu Ferdinand de Saussure.
Ferdinand de Saussure
Dianggap sebagai Bapak Linguistik modern karena pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya “Course de Linguistique Generale” berisi mengenai konsep: 1) telaah sinkronik dan diakronik, 2) perbedaan language dan parae, 3) perbedaan signifiant dan signie, 4) hubungan sintagmatik dan paradigmatik banyak berpengaruh dalam perkembangan linguistik di ekmudian hari.

Aliran Glosematik
Tokohnya: Louis Hjemslev (1899 – 1965), karena usahanya membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis dan terminologis sendiri. Hjemslev menganggap bahasa sebagai suatu sistem hubungan dan mengakui adanya hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik.

Aliran Firthian
Namanya John R. Firth (1890 – 1960) guru besar Universitas London yang sangat terkenal karena teorinya mengenai fonolofi prosodi, karena itu aliran yang dikembangkannya dikenal dengan nama Aliran Prosodi; tetapi disamping itu dikenal pula dengan nama Aliran Firth, atau Aliran Firthian, atau Aliran London. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Firth berpendapat telaah bahasa harus memperhatikan komponen sosiologis.

Linguistik
Tokoh: M. A. K. Halliday, karangannya “Categories of the Theory of Grammar”.
Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika
Beberapa faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran ini antara lain:
Pada masa itu para linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika.
Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika, yaitu filsafat behaviorisme.
Diantara linguis-lingui itu ada hubungan yang baik karena adanya The Linguistic Society of America, yang menerbitkan majalah Language.

Aliran Tagmemik
Dipelopori oleh Kenneth L. Pike.

Linguistik Transformasional dan Aliran-Aliran Sesudahnya
Tata Bahasa Transformasi
Tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Structure. Menurut Chomsky tata bahasa harus memenuhi 2 syarat yaitu:
Kalimat yang dihasilkan dari tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.
Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan/istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguitik tertentu. Tata bahasa transformasi berusaha mendeskripsikan ciri-ciri kesemestaan bahasa.

Segmantik Generatif
Tokoh: Postal, Lakkoff, Mc Cawly, dan Kiparsky. Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen, dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantik itu serupa dengan struktur logika, berupa ikatan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat argumen dalam suatu proposisi. Menurut teori semantik generatif, argumen adalah segala sesuatu yang dibicakan: sedangkan predikat itu semua yang menunjukkan hubungan, perbuatan, sifat, keanggotaan, dan sebagainya. Jadi, dalam menganalisis sebuah kalimat, teori ini berusaha mengabstrasikan predikatnya dan menentukan argumen-argumennya.

Tata Bahasa Kasus
Tata bahasa kasus atau teori kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Cese for Case” tahun 1968 yang dimuat dalam buku Bach, E. dan R. Harms Universal in Linguistic Theory, terbitan Holt Rinehart dan Winston. Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu Fillmore membagi kalimat atas (1) modalitas, yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia; dan (2) proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus. Persamaan antara teori semantik generatif dengan teori kasus, yaitu sama-sama menumpukkan teorinya pada predikat atau verba.

Tata Bahasa Relasional
Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi. Tokoh-tokoh aliran ini, antara lain, David M. Perlmutter dan Paul M. Postal. Buah pikiran mereka tentang tata bahasa ini dapat dibaca dalam karangan mereka, antara lain, Lectures onRelational Grammar (1974), “Relational Grammar” dalam syntax and Semantics vol. 13 (1980), dan Studies in Relational Grammar I (1983). Dalam hal ini tata bahasa relasional (TR) banyak menyerang tata bahasa transformasi (TT), karena menganggap teori-teori TT itu tidak dapat diterapkan pada bahasa-bahasa lain selain bahasa Inggris. Menurut teori bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam maujud (entry), yaitu:
Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur;
Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain;
Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tatara yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain.

Tentang Linguistik di Indonesia
Sebagai negeri yang sangat luas yang dihuni oleh berbagai suku bangsa dengan berbagai bahasa daerah yang berbeda pula, maka Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. Sesuai dengan masanya, penelitian bahasa-bahasa daerah itu baru sampai pada tahap deskripsi sederhana mengenai sistem fonologi, morfologi, sintaksis, serta pencatatan butir-butir leksikal beserta terjemahan maknanya dalam bahasa Belanda atau bahasa Eropa lainnya, dalam bentuk kamus.

Konsep-konsep linguistik modern seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure sudah bergema sejak awal abad XX (buku de Saussure terbit 1913). Awal tahun tujuh puluhan dengan terbitnya buku Tata Bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf, perubahan sikap terhadap linguistik modern mulai banyak terjadi. Buku Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia karangan Sutan Takdir Alisjahbana, yang sejak tahun 1947 banyak digunakan orang dalam pendidikan formal, mulai ditinggalkan. Kedudukannya diganti oleh buku Keraf, yang isinya memang banyak menyodorkan kekurangan-kekurangan tata bahasa tradisional, dan menyajikan kelebihan-kelebihan analisis bahasa secara struktural.

Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya studi linguistik, yang tentu saja dibarengi dengan bermunculannya linguis-lingui Indonesia, baik yang tamatan luar negeri maupun dalam negeri, pada tanggal 15 November tahun 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). Anggotanya adalah para linguis yang kebanyakan bertugas sebagai pengajar di perguruan tinggi negeri atau swasta dan di lembaga-lembaga penelitian kebahasaan.

Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa nasional Indonesia, banyak pula dilakukan orang di luar Indonesia.

Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pelbagai segi dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak pakar dengan menggunakan pelbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis. Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Dardjowidjojo, dan Soedarjanto, yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai pelbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

Indah Restu Utami_1402408316_Bab 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 8:18 pm

Nama : Indah Restu Utami

NIM : 1402408316

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

1. MORFEM

Morfem adalah satuan bentuk terkecil dalam sebuah bahasa yang masih

memiliki arti dan tidak bisa dibagi menjadi satuan yang lebih kecil lagi.

5.1.1. Identifikasi Morfem

untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalahmorfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain.kesamaan arti dan kesamaan bentuk merupakan identitas sebuah morfem.

5.1.2Morf dan alomorf

Morf adalah nama untuk suatu bentuk yang belum diketahui statusnya

Alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

5.1.3 Klasifikasi morfem

5.1.3.1 Morfem bebas dan morfem terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat

muncul dalam pertuturan.

Contoh: pulang, makan, rumah.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dengan morfem lain

tidak muncul dalam pertuturan.

Contoh: (ter-), (ber-), (henti), (juang)

5.1.3.2 Morfem utuh dan morfem terbagi

Perbedaan morfem utuh dan morfem terbagi berdasarkan bentuk format

yang dimiliki morfem tersebut, yaitu apakah merupakan dua bagian yang

terpisah atau terbagi karena disusupi morfem yang lain.

Contoh morfem utuh: (meja), (kursi), (kecil)

morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri atas dua

buah bagian yang terpisah, satu di awal dan satu di belakang. Contoh

morfem terbagi : kata perbaikan terdiri atas satu morfem utuh yaitu baik

dan satu morfem terbagi yaitu (per- / -an)

5.1.3.3 Morfem segmental dan suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem

segmental.

Contoh: lihat, lah, sikat, ber

Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental.

Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh

unsur-unsur suprasegmental…

Contoh: tekanan, nada, durasi.

5.1.3.4Morfem beralomorf zero

Yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi

segmental maupun suprasegmental. ,melainkan berupa”kekosongan”

5.1.3.5 Morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren

telah memiliki makna pada dirinya sendiri.

Contoh: kuda, pergi, lari, merah

Sedangkan morfem tak bermakna leksikal adalah morfem yang tak

bermakna apa-apa pada dirinya sendiri. morfem ini baru memiliki makna

dalam gabungannya dengan bentuk lain dalam ujaran.

Contoh: (ber-), (me-), (ter-)

5.1.4 Morfem Dasar, bentuk dasar, pangkal (stem), dan akar (root)

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem

afiks. Istilah bentuk dasar atau dasar (base) saja biasanya digunakan untuk

menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi.

Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses

infleksi atau proses pembubuhan afiks inflektif.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis

lebih jauh lagi. Akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya,

baik afiks infleksional maupun afiks derivasionalnya ditanggalkan.

Dilihat dari status dalam proses gramatika terdapat tiga macam morfem

dasar bahasa Indonesia:

1. Morfem dasar bebas yakni morfem dasar yang secara potensial dapat

langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat digunakan dalam ujaran.

Contoh: morfem meja, kursi, pergi, dan kuning.

2. Morfem dasar yang kebebasannya dipersoalkan

Yang termasuk dalam kalimat imperatif tidak perlu diberi imbuhan dan

dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat ditanggalkan.

3. Morfem dasar terikat, yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi

untuk menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi.

Contoh: morfem juang, henti, gaul dan abai

5.2. KATA

5.2.1. Hakikat Kata

Menurut para tata bahasawan tradisional, kata adalah satuan bahasa yang

memiliki satu pengertian atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua

buah spasi.

5.2.2. Klasifikasi kata

Menurut tata bahasawan tradisional:

a. Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan

b. Nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan

c. Konjungsi adalah kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata dengan

kata atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain.

Sedangkan para kelompok linguis yang menggunakan kriteria fungsi

sintaksis sebagai patokan untuk menggolongkan kata.

Fungsi subyek diisi oleh kelas nomina, fungsi predika diisi oleh verba atau

adjektifa, fungsi objek diisi oleh kelas nomina dan keterangan diisi leh

adverbia.

5.2.3. Pembentukan kata

Pembentukan kata mempunyai dua sifat, yaitu membentuk kata-kata

yang bersifat inflektif dan yang bersifat derivatif.

5.2.3.1 Inflektif

Dalam buku –buku tata bahasa ,infleksi biasanyapembahasan hanya berkisar pada konyugasi dan deklinasi.biasanya juga disesuaikan dengan

afiks yang mungkin berupa prefiks, infiks, dan sufiks, atau juga berupa

modifikasi internal yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasar itu.

Dalam bahasa-bahasa berfleksi biasanya juga ada penyesuaian bentukbentuk

kata untuk menunjukkan pertalian sintaksis.

5.3.2.1 Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang

identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

5.3. PROSES MORFEMIS

5.3.1. Afiksasi

Afiksasi adalah pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.

Beberapa unsur dalam proses ini:

a. Dasar atau bentuk dasar

b. Afiks

c. Makna gramatikal yang dihasilkan

Bentuk dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar yaitu bentuk

terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi.

Afiks adalah sebuah bentuk biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan

pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata dibedakan atas:

1. Afiks inflektif yaitu afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata

inflektif atau paradigma infleksional.

2. Afiks derivatif yaitu kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan

bentuk dasarnya.

5.3.2. Reduplikasi

Yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik secara

keseluruhan, sebagian, maupun dengan perubahan bunyi.

Proses reduplikasi dapat berupa atau bersifat paradigmatis yang tidak

mengubah leksikal dan yang bersifat derivasional yang membentuk kata baru

atau kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya.

5.3.3. Komposisi

Yaitu hasil dan proses penggolongan morfem dasar dengan morfem dasar

baik yang bebas maupun yang terikat.

Produk sisanya proses komposisi dalam bahasa Indonesia menimbulkan

berbagai masalah dan berbagai pendapat karena komposisi itu memiliki jenis

dan makna yang berbeda-beda.

5.3.4. Konversi, Modifikasi Internal dan Suplesi

Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata

lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi

kata lain tanpa perubahan unsur segmental ke dalam morfem yang berkerangka

ketat.

Suplesi adalah modifikasi internal yang perubahannya sangat ekstrem karena

ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

5.3.5. Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem menjadi sebuah bentuk

singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan bentuk utuhnya.

Singkatan adalah hasil proses pemendekan antara lain:

1. Pengekalan huruf awal dari sebuah leksem atau gabungan leksem

Contoh: Km (kilometer), H (haji)

2. Pengekalan beberapa huruf dari sebuah leksem

Contoh : bhs (bahasa)

3. Pengekalan huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk

pengganti huruf yang sama. Misalnya: P4 (pedoman penghayatan

pengamalan pancasila)

4. Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem.

Misalnya : As (asisten)

5. Pengekalan huruf pertama dan terakhir dari sebuah leksem

Misal: Fa (firma), Pa (perwira)

Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat

dihafalkan sebagai kata. Contoh: wagub (wakil gubernur).

5.3.6. Produktifitas proses morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi,

reduplikasi, dan komposisi, digunakan berulang secara tidak terbatas. Ada

kemungkinan menambah bentuk baru dalam proses tersebut.

Proses inflektif atau paradigmatis karena tidak membentuk kata baru

tidak dapat dikerjakan proses yang produktif. Lain halnya proses derivasi yang

dapat membuat kata-kata baru dengan proses tersebut.

5.4 MORFOFONEMIK

yaitu peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis,baik afiksasi,reduplikasi maupun komposisi.prubahan fonem dalam proses morfofonemik dapat berwujud;

1. Pemunculan fonem

2. Pelesapan fonem

3. Peluluhan fonem

4. Perubahan fonem

5. Pergeseran fonem

NAMA ;INDAH RESTU UTAMI

NIM ;1402408316

ROMBEL ;5

 

Nanang Sholikhin_1402408304_BAB 2

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 8:09 pm

Nama : Nanang Sholikhin
Nim : 1402408304


BAB 2
Fonologi

Ketika kita mendengar orang berbicara, kita akan mendengar rentetan bunyi yang terus menerus yang kadang naik turun dan ada jeda sejenak. Runtutan bunnyi ini dapat disegmentasikan yang didasari dengan tingkatan-tingkatan kesatuan yang ditandai dengan adanya jeda yang ada dalam rentetan bunyi. Segmentasi ini selanjutnya dapat dibagi bagi menjadi silabels. Silabels adalah satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi lain di depannya, di belakangnya atau sekaligus keduanya.
Runtutan bunyi-bunyi ini selanjutnya dikaji lebih lanjut dalam bidang linguistik oleh Fonologi yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yang artinya bunyi dan logi yang artinya ilmu. Menurut hiaerarki satuan bunyi yang menjadi objek fonologi dibagi dua yakni fenotik dan fenomenik. Secara umum dapat dijelaskan fenotik berarti cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatiakan apakah bunyi tersebut memiliki fungsi sebagai pembeda makna. Sedangkan fenomenik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna.

1.1 Fenotik

Seperti sudah disebut di muka fenotik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut memiliki fungsi pembeda makna atau tidak. Kemudian menurut proses pembuatan bunyi fenotik dibagi menjadi tiga fenotik yakni fenotik artiokularis, fenotik akustik dan fenotik auditoris. Fenotik artikularis mempelajari mekanisme bagaimana alat bicara manusia menghasilkan bunyi bahasa serta klarifikasi. Sedangkan fenotik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa alam. Sedangkan fenotik auditoris mempelajari penerimaan bunyi bahasa oleh telinga kita. Dalam linguistik fenotik yang lebih ditekankan adalah fenotik artikularis, hal ini disebabkan fenotik artikularis yang berkenaan dengan masalah pembentukan bunyi bahasa, fenotik akustik lebih berkenaan dengan ilmu fisika sedangkan fenotik auditoris dengan ilmu kedokteran.

Dalam fenotik artikularis yang pertama harus dibahas adalah alat ucap, yakni yang berfungsi sebagai bunyi bahsa. Bunyi-bunyi yang dihasilkan alat ucap dinamai sesuai alat ucap yang menghasilkan bunyi tersebut, tapi sistem penamaannya dengan bahasa latin misal bunyi yang dihasilkan gigi dinamai dentis sedang mulut labio dan seterusnya. Dan bila buny dihasilkan oleh dua alat ucap maka system penamaannya menggabung kedua nama latin alat tersebut misal bunyi yang dihasilkan oleh gigi dan bibir bagian atas labiodental. Dalam studi linguistik dikenal adanya beberapa macam sistem tulisan dan ejaan diantaranya tulisan fenotik untuk ejaan fenotik, tulisan fenomis untuk ejaan fenomisdan system aksaraq tertentu untuk ejaan ortografis. Tulisan fenotik yang dibuat untuk kajian feotik merupakan dibut berdasarkan huruf-hurf aksara latin yang ditambah dan sejumlah modifikasi terhadap huruflatin. Dalam tulisan fenotik melambangkan satu bunyi bahasa berbeda dengan tulisan fenomis hanya yang distingtif saja yang bersimbol.

Bunyi diklasifikasikan menjadi dua yakni bunyi vocal dan bunyi konsonan. Bunyi vocal terbentuk dari arus udara yang melewati pita suara yang terbuka sempit, sehinga menyebabkan pita suara bergetar lalu kemudian arus udara keluar melalui rongga mulut tanpa mendapat hambatan. Bunyi konsonan terbentuk dari arus udara yang melewati pita suara yang terbuka sempit atau terbuka agak lebar kemudian arus udara diteruskan ke ronga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan dari artikulasi tertentu. Bunyi konsonan ada yang bersuara ada yang tidak, yang brsuara terjadi saat pita suara terbuka sedikit dan yang tidak bersuara terjadi saat pita suara terbuka agak lebar.
Klasifikasi vokal, bunyi vokal diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidahdan bentuk mulut menurut poisi lidah bisa bersifat vertical dan horizontal. Vertikal dibagi lagi menjadi vokal tinggi,tengah dan rendah. Secara horizontal dibagi menjadi vokal depan, pusat dan belakang. Menurut bentuk mulut dibagi atas vokal bundar dan tak bundar, disebut vokal bundar karena mulut membundar saat mengucakan vokal ini dan sebaliknya mulut tidak membundar waktu mengucapkan vokal.

Diftong atau vokal rangkap keragaman bunyi ini diseut demikaian karena terjadi karena posisi lidah waktu mengucapkan vokal pda awal dan akhir berbeda. Walaupun posisi lidah tidak sama tetapi hanya mengahasilkan satu bunyi hal ini karena hanya terdapat dalam satu silabel. Misalnya (au) pada kata kerbau serta (ai) pada kata landai diftong dibagi dua berdasarkan letak unsurnya. Diftong naik dan diftong turun, disebut diftong naik karena bunyi pertam,a lebih rendah posisinya daripada bunyi kedua. Sebaliknya diftong turun karena unsur pertama lebih tinggi dari pada unsur. Pembagian ini tida menurut posisi lidah melainkan kenyaringan unsur-unsurnya.

Klasifikasi konsonan, pembagian konsonan terdiri dari tiga criteria yakni posisi pita suara,tempat artikulasi dan cara artikulasi. Berdasarkan posisi pita suara bunyi konsonan dibagi menjadi bunyi bersuara dan tidak bersuara. Berdasarkan tempat artikulasi dibagi menjadi bilabial(kedua bibir), laboiodental(gigi bawah dan bibir atas), laminoalveolar(daun lidah dan gusi), dorsovelar(pangkal lidah dan velum). Berdasarkan cara artikulasi bunyi konsonan dibagi atas hambat, geseran., paduan, sengauan, getaran, samping dan hampiran.

Unsur suprasegental dalam fenomenik biasanya dibagi atas 3 bagian yakni tekanan manyangkut keras lunaknya bunyi, nada berkenaan dengan tinggi rendahnya bunyi, jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam Arus ujaran.

1.2.1 Fenomenik

Seperi yang tertulis diatas fonemenik adalah cabang fonologi yang mengkaji bunyi yang memiliki fungsi sebagai pembeda makna.dalam fonemik ini kita pertama akan mengkaji fonem yakni bunyi yang berfungsi sebagai pembeda makna.
Identifikasi fonem, untuk mengetahui bunyi itu sebagai fonem atau tidak kita harus mencari sebuah satu satuan bahasa biasanya kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkan dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan kata yang pertama dengan kata lain kita harus membandingkan dengan pasangan minimalnya. Kalau ternyata kedua satuan bahasa ini berbeda satuan maknanya, makabunyi tersebut adala fonem.

Alofon adalah bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari fonem. Pendistribusian alofon terbagi menjadi duayakni bersifat komplementer dan bersifat babas. Yang disebut bersifat komplementer adalah distri busi saling melengkapi distribusi yang tidak dapat dipisahkan meskipun dipisahkan juga tidak akan menimbulkan perubahan makna.Yang dimaksut bersifat pendistribusian bebas adalah alofon alaofon itu dapat digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Kalau diperhatkan bahwa alofon merupakan realisasi dari fonem maka dapat dikatakan bahwa fonem bersifat abstrak karena fonem itu hanyalah abstraksi dari alofon atau alofon-alofon lain. Dengan kata lain yang nyata dalam bahasa adalah alofon.

Klasifikasi fonem klasifikasi fonem pada dasarnya sama dengan klasifikasi bunyi yakni fonem vokal dan fonem konsonan, bedanya bila bunyi vokal dan konsnan itu banyak sekali maka fonem vokal dan konsonan agak terbatas yakni bunyi yang membedakan makna saja. Fonem-fonem yang merupakan segmentasi dari arus ujaran disebut fonem segmental. Sebaliknya fonem yang berupa unsur-usur supra segmental disebut fonem supra semental. Jadi pada tingkatan fonemik ciri-ciri persodi seperti tekanan, durasi serta nada bersifat fungsional atau yang dapat membedakan makna. Penamaannya juga mirip dengan proses penamaan bunyi.

Khasanah fonem, yang dimaksut khasanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam suatu bahasa, fonem suatu bahasa tidak tergatung dengan bahasa lain. Perbedaan jumlah ini jua bias terjadikarena perbedaan tafsir para ahli yang mengkaji suatu bahasa.

Perubahan fonem, hal ini berarti suatu fonem berubah identitasnya menjadi fonem yang lain. Perubahan yang pertama adalah asimilasi, peristiwa berubahnya bunyi menjadi bunyi yanglain sebagai akibat dari bunyi yang da dilingkungannya. Menurut perubahan identitas fonemnya asimilasi dibagi menjadi dua yakni asimilasi fonemis dan asimilasi fonetis. Menurut letak bunyi yang berubah dan yang mempengaruhi perubahan dibagi menjadi tiga yakni asimilasi progresif, asimilasi regresif dan asimilasi resiprok. Perubahan yang kedua yakni netralisasi dan aukifonem. Netralisasi adalah suatu fonem dilafalkan sama tetapi menjadi berbeda waktu dieja karena suatu system bahasa. Aukifonem adalah suatu fonem yang bisa memiliki dua wujud dalam peristilahan linguistik. Umlaut, ablaut dan haromi vokal ketiganya adlah perubahan fonem yang ketiga. Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga menyebabkan vokal menjadi yang lebih tinggi akibat vokal yang brikutnya lebih tinggi.

Ablaut adalah perubahan vikal yang kita temukan dala bahasa indo jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal. Berbeda dengan amlaut, amlaut hanya terbatas pada peinggian vokal karena karena pengaruh bunyi berikutnya tinggi. Tidak terbatas eninggian bunyi ablaut bisa juga pemanjangan, pemendekan atau penghilangan vokal. Harmoni vokal hal ini berarti keselarasan vokal yang dikarenakan penambahan imbuhan (misal pada basa jawa akhiran –en) dan perubahan sifat (tunggal menjadi jamak pada bahasa turki) Perubahan yang keempatn yakni kontraksi, kontraksi berarti menyingkat atau memperpendek kata dalam proses percakapan pemendekan ini biasanyahilangnya sebuah fonem atau lebih. Dari uraian datas kita mengetahi bahwa fonem adalah satuan bunyi terkecil yang fungsional atau berarti dapat membedakan makna serta grahem yakni huruf yang digunakan dari aksara latin untuk menuliskan fonem sesuai sistem bahasa yang berlaku.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.