Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Wahyu Hidayat_1402408267_bab 8 Oktober 25, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 12:16 pm

Nama : Wahyu Hidayat

NIM : 1402408267

8. SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Pada bab 2 disebutkan bahwa studi linguistik mengalami 3 tahap pengembangan yaitu tahap spekulasi, tahap observasi dan klasifikasi dan yang terakhir disebut tahap perumusan masalah.

8.1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Istilah tradisional bertentangan dengan istilah struktural, sebagai akibat pendekatan keduanya yang tidak sama terhadap hakikat bahasa.

8.1.1. Linguistik Zaman Yunani

Studi bahasa zaman Yunani mempunyai sejarah yang sangat panjang kurang lebih sekitar 600 tahun, kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguistik yaitu (1) antara fisis dan nomos, dan (2) antara analogi dan anomali.

Sifat fisis atau alami maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri, tapi kaum konvensional, berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi. Artinya makna-makna itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

Pertentangan analogi dan anomali mengenai bahasa itu sesuatu teratur atau tidak teratur. Kaum analogi, antara lain Plato dan Aristoteles berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur.

8.1.1.1. Kaum Sophis

Kaum ini muncul pada abad ke-5 SM dan dikenal dalam studi bahasa, karena:

a) Mereka melakukan kerja secara empiris

b) Mereka melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran-ukuran tertentu

c) Mereka sangat mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa

d) Mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna

8.1.1.2. Plato (429 – 347 SM)

Dalam studi bahasa dikenal karena :

a) Memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya dialog. Juga masalah bahasa alamiah dan konvensional.

b) Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara anomata dan rhemata.

c) Dialah orang pertama kali membedakan kata dalam anoma dan rhema.

8.1.1.3. Aristoteles (384 – 322 SM)

Dia salah satu murid Plato yang terkenal, karena:

a) Ia menambahkan satu kelas kata yaitu dengan Syndemoi dengan pengertian adalah kata yang berhubungan dengan/bertugas dalam hubungan sintaksis.

b) Membedakan jenis kelamin kata menjadi tiga yaitu maskulin, feminin dan neutron.

8.1.1.4. Kaum Stoik

Kaum ini berkembang pada abad ke 4 SM, dan terkenal karena :

a. Membedakan studi bahasa secara logika dan tata bahasa.

b. Menciptakan istilah-istilah khusus.

c. Membedakan tiga komponen utama.

d. Membedakan legin.

e. Membagi jenis kata menjadi 4.

f. Mereka membedakan kata kerja komplet dan tak komplet.

8.1.1.5. Kaum Alexandrian

Dengan paham analoginya mereka mewariskan buku yang disebut tata bahasa Dionysius thrax sebagai hasil menyelidik kereguleran bahasa Yunani.

Sezaman dengan sarjana Yunani, Panini dari India tahun 400 SM sarjana hindu menyusun kurang lebih 4000 pemerian struktur bahasa Sanskerta, sehingga Leonard Boomfield (1887 – 1949) tokoh Amerika menyebutnya sebagai one of the greatest monuments of human intelligence dengan bukunya yang bernama Astdhyasi.

8.1.2. Zaman Romawi

Studi bahasa zaman romawi merupakan kelanjutan dari zaman Yunani. Tokoh zaman Romawi yang terkenal adalah Varro (116 – s75 SM) dan Priscia.

8.1.2.1. Varro dan “De Lingua Latin”

Dalam buku ini Varro memperdebatkan analogi dan anomali dalam tiga bidang antara lain bidang etimologi, morfologi, dan sintaksis.

a) Etimologi, adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal-usul kata beserta artinya.

b) Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya.

c) Sintaksis yaitu tata susunan kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai.

8.1.2.2. Tata Bahasa Priscia

Dalam sejarah studi bahasa, buku tata bahasa ini yang terdiri dari 18 jilid (16 jilid mengenai morfologi, dan 2 jilid mengenai sintaksis) dianggap sangat penting, karena:

a) Merupakan buku tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya.

b) Teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaaan bahasa secara tradisional.

8.1.3. Zaman Pertengahan

Studi bahasa pada zaman pertengahan di Eropa mendapat perhatian penuh terutama oleh filsuf skolastik dan bahasa Latin menjadi Lingua Franca, di zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi bahasa, antara lain adalah peranan kaum modistae, tata bahasa spekulativa, Petrus Hispanus.

8.1.4. Zaman Renaisans

Zaman Renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern. Dalam sejarah studi bahasa ada dua hal pada zaman Renaisans yang menonjol yang perlu dicatat, yaitu: 1) selain menguasai bahasa Latin sarjana-sarjana pada waktu itu juga menguasai bahasa Yunani, bahasa Ibrani, dan bahasa Arab. 2) selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani, dan Arab bahasa-bahasa Eropa lain juga mendapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusulan tata bahasa dan malah juga perbandingan.

8.1.5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Masa antara lahirnya linguistik modern dengan masa berakhirnya zaman renaisans, ada tonggak yang penting yaitu adanya hubungan kekerabatan antara bahasa Sanskerta dan Yunani, Latin dan Jerman lainnya yang ditemukan oleh sir William Jones dari East India Company di hadapan The Royal Asiatic di Kalkuta pada tahun 1786.

8.2. LINGUISTIK STRUKTURALIS

Linguistik strukturalis berusaha mendiskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Hal ini merupakan kaibat dari konsep-konsep atau pandangan-pandangan baru terhadap bahasa dan studi bahasa yang dikemukakan oleh bapak Linguistik Modern.

8.2.1. Ferdinand de Saussure (1857 – 1913)

Dianggap sebagai Bapak Linguistik modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Schehay tahun 1915 (jadi dua tahun setelah Saussure meninggal)

Buku tersebut memuat mengenai konsep:

1) Telaah sinkronik dan diakronik

2) Perbedaan langue dan parole

3) Perbedaan signifiant dan signifie

4) Hubungan sintagmatik dan paradikmatik

Telaah sinkran adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu. Telaah diakronik yaitu jauh lebih sukar dari pada telaah secara sinkron.

La langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak.

La parole adalah pemakaian atau releasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa. Sifatnya konkret karena parole tidak lain dari realitas fisis.

Signifiant adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita.

Signifie adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran kita

Signifie (makna)

Signie linguistique ………………….

(kata) Signifiant (bentuk)

Hubungan sintagmatik dan padikmatik. Yang disebut dengan hubungan sintagmatik adalah antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear.

Hubungan paradigmatik adalah hubungan antar unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.

8.2.2. Aliran Praha

Terbentuk pada tahun 1926 yang diprakarsai oleh Vilem Mathesius (1882 – 1945). Tokoh-tokoh lainnya adalah Nikoli S. Trubetskoy, Roman Jacobson dan Morris Halle.

Dalam bidang fonologi aliran ini yang pertama-tama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. Aliran Praha juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut morfonologi, bidang yang mempelajari/meneliti struktur fonologis morfem.

8.2.3. Aliran Glosematik

Lahir di Denmark, tokohnya antara lain, Louis Hjemslev (1899 – 1965) yang meneruskan ajaran Saussure, dia terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain dengan peralatan, metodologis dan terminologis, sejalan dengan pendapat Saussure. Hjemslev menganggap bahasa itu mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi (menurut de Saussure signifiant) dan segi isi (menurut de Saussure signifie). Masing-masing segi mengandung forma dan substansi sehingga diperoleh:

1) Forma ekspensi

2) Substansi ekspesi

3) Forma isi

4) Substansi isi

8.2.4. Aliran Firthain

Nama John F. Firth (1890 – 1960) guru besar pada Universitas London sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Aliran ini disamping dikenal aliran prosodi juga dikenal pula dengan nama aliran Firth, atau juga aliran London. Fonologi prosodi adalah suatu cara menentukan arti pada tataran fonetis.

Ada tiga macam pokok prosodi, yaitu :

1) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem : struktur kata, struktur suku katam gabungan konsonan dan gabungan vokal.

2) Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda.

3) Prosodi yang realisasi fenotisnya melampaui satuan yang lebih besar dari fenom-fenom suprasegmental.

Firth juga terkenal dengan bukunya The Tongues of Man and Speech (1934) dan Paper in Linguistics (1951).

8.2.5. Linguistik Sistemik Dengan Tokoh M.A.K Halliday sebagai penerus Firth dan berdasarkan karangannya Cathegories of The Theory of Grammar. Maka teori yang dikembangkan oleh Halliday dikenal dengan nama Neo-Firthian Linguistic atau Scale and Category Linguistics, namun kemudian diganti dengan nama Systemic linguistic dalam bahasa Indonesia disebut Linguistik Sistematik. Pokok-pokok pandangan Systemics Linguistics (SL)

1) SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa, terutama mengenai fungsi kemasyarakatan bahasa dan bagaimana fungsi kemasyarakatan itu terlaksana dalam bahasa.

2) SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”. SL mengakui pentingnya perbedaan langue dari prole (seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure) Prole merupakan perilaku kebangsaan yang sebenarnya, sedangkan langue adalah jajaran pikiran yang dapat dipilih oleh seorang penutur bahasa.

3) SL mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu berserta variasinya

4) SL mengenal adanya gradasi dan kontinum. Batasan butir-butir bahasa seing kali tidak jelas.

5. SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa yaitu substansi, forma, situasi.

Substansi adalah bunyi yang kita ucapkan waktu kita bicara, dan lambang yang kita gunakan waktu kita menulis. Substansi bahasa lisan disebut substansi fonis, sedangkan substansi bahasa tulisan disebut substansi grafis. Forma adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna. Forma dibagi menjadi dua, (1) leksis yakni yang menyangkut butir-butir lepas bahasa dan pada tempat butir-butir itu terletak, (2) gramatikal yakni yang menyangkut kelas-kelas butir bahasa dan pola-pola tempat terletaknya butir bahasa tersebut. Situasi meliputi tesis situasi langsung dan situasi luas. Tesis situasi langsung adalah situasi pada suatu tuturan benar-benar diucapkan orang, sedangkan situasi luas adalah suatu tuturan menyangkut semua pengalaman pembicaraan atau penulisan yang mempengaruhinya untuk memakai tuturan yang diucapkannya atau ditulisnya.

Selain tiga tataran utama itu, ada dua tataran lain yang menghubungkan tataran-tataran utama. Yang menghubungkan substansi fonik dengan forma adalah fonologi dan yang menghubungkan substansi grafik dengan forma adalah grafologi. Sedangkan yang menghubungkan forma dengan situasi adalah konteks.

8.2.6. Leonard Bloomfield dan Struktural Amerika

Leonard Bloomfield (1877 – 1949) sangat terkenal karena bukunya yang berjudul Language (terbit pertama kali tahun 1933) dan selalu berkaitan dengan struktur Amerika. Namun nama strukturalisme lebih dikenal dengan nama aliran linguistik. Aliran ini berkembang pesat di Amerika karena beberapa faktor antara lain :

1) Pada masa itu para linguistik Amerika menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa Indian yang belum diperikan.

2) Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika yaitu filsafat strukturalisme.

3) Diantara linguis-linguis itu ada hubungan yang baik, karena adanya the linguistic society of America, yang menerbitkan majalah Language, wadah tempat melaporkan hasil kerja mereka.

Aliran strukturalis yang dikembangkan Bloomfield dengan para pengikutnya sering juga disebut aliran taksonomi dan aliran Bloomfieldian, karena bermula atau bersumber pada gagasan Bloomfield. Disebut aliran taksonomi karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hierarkinya.

8.2.7. Aliran Tagmemik

Aliran Tagmemik dipelopori oleh Kenneth L. Pike seorang tokoh dari Summer Institute of Linguistics, yang mewarisi pandangan-pandangan Bloomfield, sehingga aliran ini bersifat strukturalis, tetapi juga antropologis. Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem.

Yang disebut tagmem adalah korelasi antara fungsi gramatikal dan slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertemukan untuk mengisi slot tersebut.

Kalimat “Saya menulis surat dengan pensil” dianalisis secara tagmemik.

S KG P Kkt O KB K FD

Pel ak tuj al

Saya menulis surat dengan pensil

Keterangan :

S = Fungsi subjek pel = pelaku

P = Fungsi predikat ak = aktif

O = Fungsi objek tuj = tujuan

K = Fungsi keterangan al = alat

KG = Kata ganti

Kkt = Kata kerja transitif

KB = Kata benda

FD = Frase depan

8.3. LINGUISTIK TRANSFORMAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

Dunia ilmu, termasuk linguistik bukan merupakan kegiatan yang statis, melainkan merupakan kegiatan yang dinamis; berkembang terus menerus sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki. Perubahan total terjadi dengan lahirnya linguistik transformasional yang mempunyai pendekatan dan cara yang berbeda dengan linguistik struktural.

8.3.1. Tata Bahasa Transformasi

Setiap tata bahasa dari suatu bahasa menurut Chomsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu:

1. Kalimat yang dihasilkan harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut.

2. Tata bahasanya harus berbentuk sedemikian rupa tidak berdasarkan bahasa tertentu saja dan sejajar dengan teori linguistik.

Komponen rematik memberikan terpretasi semantik pada deretan unsur yang dihasilkan oleh sub kompeten dasar. Kata pensil dan kursi, maka kita lihat kata ayah dan ibu mempunyai ciri semantik /+makhluk/ sedangkan pensil dan kursi tidak memiliki ciri itu.

8.3.2. Semantik Generatif

Menurut semantik generatif, seudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantik itu serupa dengan struktur logika berupa ikatan tidak berkala, antara predikat dan seperangkat argumen dalam suatu prosisi.

Menurut teori semantik generatif, argumen predikat adalah segala sesuatu yang dibicarakan. Sedangkan predikat itu semua yang menunjukkan hubungan, perbuatannya, sifat, keanggotaan. Dalam mengabstraksikan predikatnya, teori ini berusaha untuk menguraikan lebih jauh sampai diperoleh predikat yang tidak dapat diuraikan lagi, yang disebut predikat inti.

8.3.3. Tata Bahasa Kasus

Yang dimaksud dengan dalam teori ini, adalah hubungan antara verba dengan nomina. Verba disini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argumen dalam teori semantik generatif. Hanya argumen dalam kasus ini diberi label khusus.

Maka sebuah kalimat dalam teori ini dirumuskan dalam bentuk :

+ [ ...... X, Y, Z]

Tanda ….. dipakai untuk menandai posisi verba dalam struktur semantis; sedangkan X, Y, Z adalah argumen yang berkaitan dengan verba/predikat itu yang biasanya diberi label kasus.

Misalnya: OPEN, + [...... A, I, O]

A = Agent, pelaku

I = Instrumen, alat

O = Object, tujuan

Dari uraian di atas dapat kita lihat adanya persamaan antara semantik, generatif dan teori kasus.

8.3.4. Tata Bahasa Relasional

Sama halnya dengan tata bahasa transformasi tata bahasa relasional juga berusaha mencari kaedah kesemestaan bahasa. Menurut tata bahasa rasional, setiap struktur melibatkan tiga macam maksud, yaitu :

a) Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur.

b) Seperangkat tanda relasional (relational sign)

c) Seperangkat “Coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran manakah elemen itu menyandang relasi gramatikal.

Misal: Saya diberi roti oleh Rina

Jika dianalisis kalimat tersebut merupakan hasil dari dua macam transformasi yaitu transformasi datif dan pasif dan terlibat tiga konstruksi yaitu 1) konstruksi kalimat inti, b) konstruksi kalimat hasil transformasi datif, dan c) kalimat hasil transformasi pasif dari konstruksi datif.

8.4. TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Hingga saat ini linguistik di Indonesia belum ada catatan yang lengkap, meskipun linguistik di Indonesia sudah berlangsung lama dan cukup semarak.

8.4.1. Sesuai dengan masanya, penelitian bahasa-bahasa daerah itu baru sampai pada tahap deskripsi sederhana mengenai sistem fonologi, morfologi, dan sintaksis serta pencatatan butir-butir leksikal beserta terjemahan maknanya dalam bahasa Belanda dalam bentuk kamus.

Tampaknya cara pendiskripsian terhadap bahasa-bahasa daerah di Indonesia seperti yang dilakukan para peneliti terdahulu masih berlanjutan terus pada tahun tujuh puluh dan delapan puluh. Informasi yang lengkap dan luas mengenai bahasa daerah itu, terutama bahasa daerah yang penuturannya banyak, adalah sangat penting dalam menjalankan administrasi dan roda pemerintahan kolonial.

8.4.2. Perkembangan waktulah yang kemudian menyebabkan konsep-konsep linguistik modern dapat diterima, dan konsep-konsep linguistik tradisional mulai agak tersisih, setelah buku Keraf itu, sejumlah buku Ramlan, juga menyajikan analisis bahasa secara struktural, menyebabkan kedudukan linguistik modern dalam pendidikan formal menjadi semakin kuat, mesti konsep linguistik tradisional masih banyak yang memperhatikan.

8.4.3. Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya linguistik, yang tentu saja dibarengi bermunculnya linguis Indonesia baik dari tamatan luar negeri atau dalam , maka semakin dirasakan perlunya suatu wadah untuk berdiskusi, bertukar pengalaman dan mempublikasikan hasil penelitian yang telah dilakukan. Majalah linguistik Indonesia dengan pengantar bahasa Inggris sering dikenal dengan nama NUSA yang dirintis oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar SJ dan dieditor oleh sejumlah linguis Indonesia, antara lain Amran Halim, Poenjono Dardjowidjojo, Ignatius Soeharno, dan Soepomo Poejosoedarmo. Isi majalah tersebut antara 1975 sampai 1989 dapat dilihat dalam Kaswanti Purwa (1990)

8.4.4 Penyelidikan bahasa daerah Indonesia dan bahasa Indonesia banyak pula dilakukan oleh orang luar negeri. Universitas Leiden di Negeri Belanda telah mempunyai sejarah panjang dalam penelitian bahasa-bahasa Nusantara, antara lain ada Uhlenbeck, Voorhove, Rolvink dan Grijins.

8.4.5. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional Indonesia, bahasa persatuan dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercata nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purwo, Darjowidjojo, dan Soedarjanto yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai berbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

 

Pudyastuti_Kusuma_Wardhani-1402408019-Bab_8 Oktober 24, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 8:24 pm

Pudyastuti Kusuma Wardhani

1402408019

Rombel 3

BAB 8

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Studi linguistik telah mengalami 3 tahap perkembangan, yaitu:

1. Tahap pertama tahap spekulasi.

2. Tahap kedua tahap observasi dan klasifikasi.

3. Tahap ketiga perumusan teori.

Ü Tahap spekulasi

Pernyataan-pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris melainkan pada dongeng/rekaan belaka. Contoh: pernyataan Andreas Kemke, ahli fisiologi dari Swedia abad ke 17, menyatakan bahwa Nabi Adam dulu di Surga berbicara dalam bahasa Denmark, sedangkan Ular berbicara dalam bahasa Perancis. Hal itu tidak dapat dibuktikan katena tidak ada bukti empiris.

Ü Tahap klasifikasi dan observasi

Para ahli bahasa mengadakan pengamatan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki tetapi belum pada tahap merumuskan teori, maka dari itu tahap tersebut belum dikatakan bersifat ilmiah..

Ü Tahap perumusan teori

Dimana bahasa yang diteliti itu bukan hanya diamati dan diklasifikasi, tetapi juga telah dibuatkan teori-teorinya.

LINGUISTIK TRADISIONAL

Pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu. Tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan, sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “dengan”, “bagaimana”, dll.

LINGUISTIK ZAMAN YUNANI

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguistik pada waktu zaman Yunani yaitu:

1. Pertentangan antara fisis dan nomos

Para filsuf Yunani mempertanyakan, apakah bahasa itu bersifat alami (fisis) atau konvensi (nomos), bersifat alami/fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usu, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri. Yang menganut paham ini adalah kaum naturalis. Kaum konvensional berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi (nomos) artinya makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi/kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

2. Pertentangan antara analogi dan anomali

Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur sehingga dapat menyusun tata bahasa. Misal: Bos Boys, Girl Girls, Book Books dan lain-lain.

Kelompok anomali berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur. Misal: Child Children, bukan Childs. Dari keterangan di atas tampak bahwa kaum anomali sejalan dengan kaum naturalis dan kaum analogi sejalan dengan kaum konvensional.

KAUM SOPHIS

Mereka dikenal karena: Mereka melakukan kerja secara empiris, Melakukan kerja secara pasti, Mementingkan bidang retorika, Membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna. Tokoh Sophis yaitu Protogoras membagi kalimat menjadi kalimat narasi, kalimat tanya, kalimat jawab, kalimat perintah, kalimat laporan, doa dan undangan. Tokoh lain Georgias.

PLATO

Ü Memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya Dialoag.

Ü Dialah orang yang pertamakali membedakan kata anoma dan rhema.

ARISTOTELES

Dia adalah murid Plato. Menurut Aristoteles ada 3 macam kelas kata, yaitu anoma, rhema, dan syndesmoi. Aristoteles juga membedakan jenis kelamin kata (gender) menjadi 3 yaitu maskulin, feminin, dan neutrum.

KAUM STOIK

Ü Membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa.

Ü Menciptakan istilah khusus dalam studi bahasa.

Ü Mereka membedakan legein dan propheretal.

KAUM ALEXANDRIAN

Mereka ini mewarisi kita dengan sebuah buku tata bahasa yang disebut “Tata Bahasa Dionysius Thrax” sebagai hasil mereka dalam menyelidik kereguleran bahasa Yunani.

VARRO DAN “DE LINGUA LATINA”

Ü Etimologi: cabang linguistik yang menyelidiki asal usul kata beserta artinya. Varro mencatat adanya perubahan bunyi yang terjadi dari zaman dan perubahan makna kata. Perubahan bunyi misalnya dari akta dvellum menjadi belum yang artinya perang. Perubahan makna misalnya kata hostis yang semula berarti orang asing, kemudian menjadi musuh.

Ü Morfologi: cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya

Varro membagi kelas kata latin dalam 4 bagian, yaitu:

v Kata benda, kata kerja, partisipel, adverum.

Dalam bahasa Latin menurut Varro ada 6 buah yaitu:

1. Nominativus

2. Genetivus

3. Dativus

4. Akusativus

5. Vokativus

6. Ablativus

Varro juga membedakan adanya 2 macam deklinasi yaitu:

v Deklinasi naturalis: perubahan yang bersifat alamiah.

v Deklinasi voluntaris: perubahan yang bersifat selektif dan mana suka.

INSTITUTIONES GRAMMATICAE (TATA BAHASA PRISCIA)

Beberapa segi yang patut dibicarakan mengenai buku itu yaitu:

v Fonologi dibicarakan huruf/tulisan yang disebut literae. Literae yaitu bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. Nama huruf itu disebut Figurae.

Nilai bunyi disebut potestas. Bunyi dibedakan menjadi 4 macam:

1. vozartikulata, 2. Vox martikulata, 3. Vox litterata, 4. Vox illiterata.

v Morfologi dibicarakan mengenai dictio/kata.

Dictio yaitu bagian yang minimum dari sebuah ujaran dan harus diartikan terpisah dalam makna sebagai 1 keseluruhan. Kata dibedakan 8 jenis: 1. Nomen, 2. Verbum, 3. Participum, 4. Pronomen, 5. Adverbum, 6. Praepositio, 7. Interjectio, 8. Conjunctio.

v Sintaksis dibicarakan mengenai oratio yaitu tata susunan kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai.

ZAMAN PERTENGAHAN

Membicarakan studi bahasa antara lain:

Ü Kaum Modistae

Membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomali.

Ü Tata Bahasa Spekulativa

Merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin (seperti yang dirumuskan oleh Priscia).

Ü Petrus Hispanus

Pernah menjadi Paus dengan gelar Paus Johannes XXI, bukunya berjudul Summulae Logicales.

ZAMAN RENAISANS

a. Bahasa Ibrani dan bahasa Arab banyak dipelajari orang pada akhir abad pertengahan.

b. Linguistik Arab berkembang pesat karena kedudukan bahasa Arab sebagai bahasa kitab suci agama Islam (Alquran).

c. Bahasa-bahasa Eropa

d. Bahasa-bahasa diluar Eropa

LUNGUISTIK STRUKTURALIS

1) Ferdinand de Saussure merupakan Bapak Linguistik modern. Bukunya berjudul “Course de Linguistique Generale“, buku tersebut membahas mengenai konsep: 1) telaah sinkronik dan diakronik, 2) perbedaan language dan parae, 3) perbedaan signifiant dan signifie, 4) hubungan sintagmatik dan paradigmatik.

2) Aliran Praha

Tokoh aliran Praha yaitu Vilem Mathesius, Aliran Praha membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem.

3) Aliran Glosematik

Tokohnya Louis Hjemslev. Analisis bahasa dimulai dengan wacana kemudian ujaran itu dianalisis atas konstituen-konstituen yang mempunyai hubungan paradigmatis dalam rangka forma, ungkapan dan isi.

4) Aliran Firthian

Terkenal dengan teorinya mengenai Fonologi prosodi yaitu suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada 3 macam pokok prosodi yaitu:

a) Prosodi yang menyangkut gabungan fonem struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan dan gabungan vokal.

b) Prosodi yang terbentuk oleh sendi/jeda.

c) Prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar dari pada fonem-fonem suprasegmental.

5) Linguistik Sistematik

Ü Pokok-pokok pandangan linguistik sistematik yaitu:

v Pertama, SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarkatan bahasa,

v Kedua, SL memandang bahasa sebagai pelaksana

v Ketiga, SL lebih menguatamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya.

v Keempat, SL mengenal adanya gradasi/kontinum.

v Kelima, SL menggambarkan 3 tataran utama bahasa.

6) Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

Faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran linguistik:

1. Pertama: Pada masa itu para linguis di Amerika menghadapi masalah yang sama yaitu banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diberikan.

2. Kedua: Sikap Bloomfield yang menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat yang berkembang pada masa itu di Amerika.

3. Ketiga: Adanya The Linguistic Society of America, yang menerbitkan majalah Language.

7) Aliran Tagtemik

Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem yaitu korelasi antara fungsi gramatikal/slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut.

LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

1) Tata Bahasa Transformasi

Tata bahasa itu harus memenuhi 2 syarat:

Ü Pertama: Kalimat yang dihasilkan dari tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.

Ü Kedua: Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa.

Tata bahasa dari setiap bahasa terdiri dari 3 komponen:

a) komponen sintaksis, b) komponen semantik, c) komponen fonologis.

2) Semantik Generatif

Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen, dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja.

3) Tata Bahasa Kasus

Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina. Verba disini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argumen.

4) Tata Bahasa Relasional

Tata bahasa relasional berusaha mencari kaidah kesemestaan bahasa. Teori tata bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional yang melibatkan 3 macam maujud yaitu:

a. Seperangkat simpai (nodes)

b. Seperangkat tanda relasional

c. Tanda coordinates

TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. Awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa. Tujuannya untuk kepentingan pemerintah kolonial. Sesuai dengan masanya, penelitian bahasa-bahasa daerah itu baru sampai pada tahap deskripsi sederhana mengenai fonologi, morfologi, sintaksis serta pencatatan butir-butir leksikal.

Gema konsep linguistik modern itu baru tiba di Indonesia akhir sekali tahun lima puluhan. Linguistik modern juga menyatakan bahwa bentuk silakan (tanpa h) dan bentuk silahkan (dengan h) adalah 2 bentuk yang sama-sama digunakan dalam bahasa Indonesia, tetapi mereka tetap berkeras bahwa silahkan adalah bentuk yang salah dan silakan yang benar.

Atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI).

Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik dewasa ini, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

 

KHILDA FAUZIYA 1402408102 BAB VIII

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 7:26 pm


NAMA : KHILDA FAUZIYA

NIM : 1402408102

ROMBEL : 3

BAB VIII

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Tiga tahap perkembangan studi linguistik yaitu

  1. Tahap pertama disebut tahap spekulasi.
  2. Tahap kedua disebut tahap observasi dan klasifikasi.
  3. Tahap ketiga disebut tahap perumusan materi.

LINGUISTIK TRADISIONAL

Pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu.

a. Zaman Yunani

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis adalah

  1. Pertentangan antara fisis dan nomos.
  2. Pertentangan antara analogi dan anomali.

¬ Pendapat kaum naturalis : setiapa kata mempunyai hubungan dengan benda yang ditunjukkannya. Sedangkan pendapat kaum konvensional : bahasa bersifat konvensi.

¬ Pendapat kaum analogi yaitu Plato dan Aristoteles : bahasa itu bersifat teratur. Misal : boy menjadi boys, girl menjadi girls

Kaum anomali : bahasa itu tidak teratur. Misal : child menjadi children

Jadi : kaum anomali sejalan dengan kaum konvensional.

F Kaum Sophis

Dikenal dalam studi bahasa karena :

a. Mereka melakukan kerja secara empiris.

b. Melakukan kerja secara pasti.

c. Mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa.

d. Membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna.

Tokoh sophis : Protogoras, membagi kalimat menjadi kalimat narasi, kalimat tanya, kalimat jawab, kalimat perintah, kalimat laporan, doa, dan undangan.

: Georgias, membicarakan gaya bahasa seperti yang kita kenal.

F Plato (429-347 S.M)

Dikenal karena :

a. Memperdebatkan analogi dan anomali “dia loog”

b. Menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira.

c. Membedakan kata dalam onoma dan rhema.

- Onoma (bentuk tunggalnya Onomata) dapat berarti :

a. Nama, dalam bahasa sehari-hari.

b. Nomina, nominal, dalam istilah tata bahasa.

c. Subjek, dalam hubungan subjek logis.

- Rhema (bentuk tunggalnya rhemata)

a. Ucapan, dalam bahasa sehari-hari.

b. Verba, dalam istilah tata bahasa.

c. Predikat, dalam hubungan predikat logis.

Jadi onoma dan rhema : anggota dari logos yaitu klausa atau kalimat.

F Aristoteles (384 – 322 SM)

Murid Plato terkenal karena :

a. Menurut Aristoteles ada 3 macam kelas kata, yaitu onoma, rhema dan syndesmoi.

b. Membedakan jenis kelamin kata (gender) menjadi tiga yaitu maskulin, feminin, dan neutrum.

F Kaum Stoik

Kelompok ahli filsafat berkembang abad ke-4 SM. Terkenal karena :

a. Membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa.

b. Menciptakan istilah-istilah khusus untuk studi bahasa.

c. Tiga komponen utama dari studi bahasa :

1. Tanda, simbol, sign atau semainon.

2. Makna, apa yang disebut, semainomen, atau lekton.

3. hal-Hal di luar bahasa, yakni benda atau situasi.

d. membedakan legein : bunyi yang merupakan bagian fonologi tetapi tidak bermakna, Propheretal : ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna.

e. Membagi jenis kata menjadi 4 yaitu kata benda, kata kerja, ayndesmoi, dan arthoron.

f. Membedakan kata kerja komplet dan kata kerja tidak komplet.

F Kaum Alexandrian

Menganut paham analogi dalam studi bahasa.”Tata Bahasa Dionysius Thrax. Lahir lebih kurang tahun 100 SM. Leonard Bloomfield (1887 – 1949) Amerika, menyebut Panini yaitu Astdhyasi : deskripsi lengkap dari bahasa sansekerta.

b. Zaman Romawi

Abad pertama Remmius Palaemon menerjemahkan “Dionysius Thrax” ke bahasa latin “Ars Grammatika. Tokoh zaman Romawi : Varro (116 – 27 SM) karyanya De Lingva Latina dan Priscia”. “Institutiones grammaticae”.

a. Varro dan “De Lingua Latina”.

1. Etimologi : cabang linguistik = asal-usul kata beserta aslinya.

2. Morfologi : cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya.

Varro membagi kelas kata latin dalam empat bagian yaitu :

a. Kata benda.

b. Kata kerja.

c. Partisipel.

d. Adverbium.

- Kategori kata dibedakan atas tense, time dan aspect serta aktif dan pasif.

- Bahasa latin ada 6 buah yaitu nominativus, genetivus, dativus, akusativus, vokativus, dan ablativus.

- Deklinasi : perubahan bentuk kata berkenaan dengan kategori, kasus, jumlah, dan jenis.

Dua macam deklinasi yaitu deklinasi naturalis (bersifat alamiah) dan deklinasi voluntaris morfologis bersifat selektif dan manasuka.

b. Institutions Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

1. Buku tata bahasa latin yang paling lengkap dituturkan oleh pembicara aslinya.

2. teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicara bahasa secara tradisional.

Beberapa segi yang patut dibicarakan :

a. Fonologi (tulisan atau huruf) litterae = bagian terkecil dari bunyi yang dapat ditulis.

- nama huruf = figurae

- nilai bunyi = potestas

Bunyi dibedakan menjdi empat, yaitu :

1. Vox Artikulata = membedakan makna.

2. Vox Artikulata = menunjukkan makna.

3. Vox Litterata

4. Vox Illiterata = bunyi yang tidak dapat diucapkan.

b. Morfologi

Membicarakan mengenai dictio (kata) yaitu bagian yang minimum dari sebuah ujaran dan harus diartikan terpisah dalam makna sebagai satu keseluruhan. Kata dibedakan menjadi 8 jenis (Partes Orationis), yaitu :

1. Nomen (kata benda atau kata sifat).

2. Verbum (perbuatan atau dikenai perbuatan).

3. Participium (verbum dan nomen).

4. Pronomen (pengganti nomen).

5. Adverbium (atribut verbum).

6. Praepositio (bentuk yang berkasus).

7. Interjectio (perasaan, sikap, atau pikiran).

8. Konjunction (hubungan sesamanya).

c. Sintaksis

Oratio yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selaras.

Jadi buku Institutions Grammaticae adalah dasar tata bahasa latin dan filsafat zaman pertengahan.

c. Zaman Pertengahan

Dibicarakan dalam studi bahasa : Peranan Kaum Modistae, tata bahasa spekulative dan Petrus Hispanus pernah menjasi Paus tahun 1276 – 1277 (Paus Johannes XXI) “Summulae Logicales”. Perananya dalam bidang linguistik :

1. Memasukkan psikologi dalam analisis makna berbahasa dan membedakan antara signifikasi utama dan konsignifikasi.

2. Membedakan nomen atas dua macam, yaitu nomen substantium dan nomen adjectivum.

3. Membedakan Partes Orationes atas Categorematik dan Syntategorematik.

d. Zaman Renaisans

Sejarah studi bahasa ada dua hal, yaitu :

1. Selain menguasai bahasa latin.

2. Selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani dan Arab, bahasa-bahasa Eropa.

Sebuah bahasa dapat dipakai sebagai bahasa perhubungan (Lingua Franca) antar bangsa.

e. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Ferdinand de Saussure (Bapak Linguistik Modern). Pendapat Sir William Jones dari East India Company di hadapan The Royal Asiatic Society di Kalkuta pada tahun 1786. “hubungan kekerabatan antara bahasa sansekerta dengan bahasa-bahasa Yunani, latin dan bahasa-bahasa Jerman”.

Simpulkan Linguistik Tradisional :

  1. tata bahasa tradisional tidak dikenal adanya perbedaan anatara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan.
  2. Bahasa disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain.
  3. Kaidah-kaidah bahasa dibuat secara preskriptik yaitu benar atau salah.
  4. Persoalan kebahasaan sering kali dideskripsikan dengan melibatkan logika.
  5. Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.

LINGUISTIK STRUKTURALIS

Mendiskripsikan berdasarkan ciri atau sifat khas yang memiliki bahasa.

¨ Ferdinand de Saussure

Pandangan-pandangan “Course de Linguistique Generale” oleh Charles bally dan Albert Sechehay tahun 1915. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut adalah :

1. Telaah sinkronik dan diakronik.

2. Perbedaan langue dan parole.

3. Perbedaan signifiant dan signifie.

4. Hubungan sintagmatig dan paradigmatik.

¨ Aliran Praha

Vilem Mathesius (1882 – 1945) dan Nikolai S. Trubetskoy, Roman Jakobson dan Morris Halle. Fonem dapat dikelompokkan ke dalam kelas-kelas sesuai dengan ciri-ciri pembeda dan hubungan oposisi yang ada misal : p,t,k,b,d,,g,m,b

¨ Aliran Glosematik

Tokoh : Louis Hjemslev (1899 – 1965)

Forma dan substansi yaitu :

1. Forma ekspresi.

2. Substansi ekspresi.

3. Forma isi.

4. Substansi isi.

¨ Aliran Firthian

John R. Firth (1890-1960) guru besar pada Universitas London. Aliran prosodi yaitu aliran Firth atau Aliran Firthian atau aliran London. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Satuan-satuan fonematis berupa unsur-unsur segmental, yaitu konsonan dan vokal. Sedangkan satuan prosodi berupa ciri-ciri atau sifat-sifat truktur. Tiga macam pokok prosodi yaitu :

1. Prosodi yang menyangkut gabungan fonem.

2. Prosodi sendi atau jeda.

3. Prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar daripada fonem-fonem suprasegmental.

¨ Linguistik Sistematik

Pokok-pokok pandangan systemic linguistics (SL) adalah :

1. SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa.

2. SL memandang bahasa sebagai pelaksana.

3. SL mengutamakan pemberian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya.

4. SL mengenal adanya gradasi atau kantinum.

5. SL menggambarkan tiga tatacara utama bahasa.

Substansi adalah bunyi yang kita ucapkan waktu kita berbicara dan lambang untuk menulis. Substansi lisan (fonis), substansi bahasa tulis (grafis). Sedangkan forma adalah susunan substansi dalam pola yang bermakna. Terbagi dua, yaitu:

  1. Leksis (butir-butir lepas bahasa).
  2. Gramatika (kelas-kelas butir bahasa).

¬ Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika

“Language” tahun 1933. faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran, antara lain :

  1. Para linguis di amerika menghadapi masalah sama.
  2. Bloomfield menolak mentalistik.
  3. Hubungan yang baik antara linguis-linguis.

Kata kerja adalah kata yang diikuti oleh frase “dengan…”, dan kata sifat adalah kata yang didahului oleh kata “sangat” atau “paling”. Disebut aliran taksonomi karena menganalisis data dan mengklasifikasikan unsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan hierarkinya.

¬ Aliran Tagmemik

S:FN+P:FV+O:FN

Kenneth l. pike dari summer institute of linguistics. Satuan dasar dari sintaksis adalah tagmen (susunan dari yunani). Tagmen adalah korelasi antara fungsi dan gramatikal atau slot, contoh : pena itu berada diatas meja

S P O

LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA.

* Tata Bahasa Transformasi

1. Lahir dengan terbitnya buku “noam chomsky” syntactic structure tahun 1957.

2. Aspect of the theory of syntax tahun 1965. model tata bahasa adalah transformational generative grammar. (tata bahasa transformasi). Teori dan tata bahasa memenuhi 2 syarat :

1. Dapat diterima oleh pemakai bahasa.

2. Harus dibentuk sedemikian rupa.

Konsep langue dan parole, chomsky membedakan kemampuan (competence) adalah pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa. Perbuatan berbahasa adalah (performance) adalah pemakaian bahasa dalam keadaan yang sebenarnya. Yang menjadi objek adalah kemampuan.

Tiga komponen bahasa :

1. Kemampuan sintaksis.

2. Komponen semantik.

3. Komponen fonologis.

Komponen sintaksis merupakan “sentral” karena :

1. Komponen inilah yang menentukan arti kalimat.

2. Komponen ini pulalah yang menggambarkan aspek kreativitas. Komponen semantik adalah ayah dan ibu mempunyai ciri semantik kurang lebih makhluk.

* Semantik Generatif

Struktur logika proposisi

Predikat Argumen1 Argumen

Dirumuskan sebagai predikat (arg1…arg2…arg). Contoh nenek minum kopi.

Argumen adalah segala sesuatu yang dibicarakan, predikat adalah perbuatan.

* Tata Bahasa Kasus

kalimat

modalitas proposisi

- negasi

- kala

- aspek

- adverbia verba kasus1 kasus2 kasus

open, + [ - A , I, O ]

fillmore dibatasi atas kasus agent, experiences, object, means source, goal dan referential.

* Tata Bahasa Relasional

Jaringan relasional 3 macam wujud (entity) adalah :

1. Seperangkat simpai (nodes).

2. Seperangkat tanda relasional (relational sign).

3. Seperangkat “coordinates”.

Tiga bentuk konstruksi yaitu:

1. Konstruksi kalimat inti.

2. Konstruksi kalimat hasil transformasi datif.

3. Kalimat hasil transformasi pasif dari konstruktif datif.

TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

Sebagai negeri yang luas yang dihuni oleh berbagai suku konsep-konsep linguistik modem oleh ferdinand de saussure sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya studi linguistik. Penyelidikan terhadap bahasa-bahasa daerah indonesia dan bahasa nasional indonesia. Sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa negara, maka bahasa indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kajian linguistik baik didalam negeri maupun dalam negeri.

 

Muhammad Platori R_1402408144_bab 8

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 6:45 pm

Muhammad Platori R

1402408144

BAB 8.

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

8.1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik. Tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu. Tata bahasa tradisional menyatakan kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian, sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistrilasi dengan frase “dengan. . .”

8.1.1. Linguistik Zaman Yunani

Masalah pokok kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis pada waktu itu (1) pertentangan antara fisis dan nomos, (2) pertentangan antara analogi dan anomali. Bersifat alami (fisis) maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri. bahasa bersifat konvensi (nomos) artinya makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

8.1.1.1. Kaum Sophis (abad ke-5 SM), dikenal dalam studi bahasa karena:

- Melakukan kerja secara empiris

- Mengerjakan secara pasti dengan menggunakan ukuran tertentu

- Sangat mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa

- Mereka membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna

8.1.1.2. Plato (429 – 347 SM) dalam studi bahasa terkenal antara lain:

- Memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya dialog juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konvensional.

- Bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perantara anomata dan rhemata.

- Plato adalah orang pertama yang membedakan kata dalam anoma dan rhema.

Anoma (bentuk tunggalnya anomata) dapat berarti (1) nama, dalam bahasa sehari-hari, (2) nomina, nominal dalam istilah tata bahasa, (3) subjek, dalam hubungan subjek logis. Rhema adalah bentuk tunggalnya rhemata dapat berarti (1) ucapan, dalam bahasa sehari-hari, (2) verba, dalam istilah tata bahasa, (3) predikat, dalam hubungan predikat logis.

8.1.1.3. Aristoteles (384 – 322 SM) terkenal dalam studi bahasa karena:

- Dia menambahkan satu kelas kata lagi atas pembagian yang dibuatnya, Plato yaitu dengan Syndemoir yaitu kata yang lebih banyak bertugas dalam semantik.

- Dia membedakan jenis kelamin kata menjadi tiga yaitu maskulin, feminin dan neutrin.

8.1.1.4. Kaum Stoik (permulaan abad ke 4 SM)

- Mereka membedakan studi bahasa secara logika dan studi secara tata bahasa.

- Mereka menciptakan istilah khusus untuk studi bahasa.

- Membedakan 3 komponen utama dalam studi bahasa (1) tanda, simbol, sign, semainon, (2) makna, apa yang disebut, semainomen atau lekton (3) hal-hal di luar bahasa, yakni benda atau situasi.

- Mereka membedakan legein yaitu bunyi merupakan bagian dari fonologi tetapi tidak bermakna dan propheretal yaitu ucapoan bunyi bahasa yang mengandung makna.

- Membagi kata menjadi 4 yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi, dan arthoron (jenis kelamin)

- Membedakan kata kerja komplit dan tak komplit serta kata kerja aktif dan pasif.

8.1.1.5. Kaum Alexandrian

Kaum Alexandrian menganut paham analogi dalam studi bahasa. Mereka mewarisi buku tata bahasa diagnosis thrax sebagai hasil menyelidiki keragaman bahasa Yunani. Buku ini lahir ± 100 SM. Kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Ralaeman permulaan masehi dengan judul Ars Grammatika. Di India tahun 400 SM Panini seorang sarjana hindu, telah menyusun ± 4000 pemerian tentant struktur bahasa Sanskerta dengan prinsip dan gagasan linguistik modern. Leonard Bloomfield (1887 – 1949) tokoh linguis struktural Amerika, menyebut Panini sebagai One of the greatest momments of the human intelligence, karena buku ini Panini yaitu Astdhyasi merupakan deskripsi lengkap dari bahasa Sanskerta yang pertama kali ada.

8.1.2. Zaman Romawi

Tokoh yang terkenal pada masa ini antara lain Varro (116 – 27 SM) dengan karya Delingue Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.

8.1.2.1. Varro dan “De Lingua Latina”

Dalam buku ini dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi dan sintaksis

- Etimologi, adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal-usul kata beserta artinya.

- Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya.

8.1.2.2. Institutiones Grammaticae atau tata bahasa Priscia

Buku ini terbagi dalam 18 jilid (16 jilid mengenai morfologi dan 2 jilid mengenai sintaksis)

Dianggap penting karena:

- Merupakan buku tata bahasa Latin paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya.

- Teori-teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

8.1.3. Zaman Pertengahan

Dalam zaman ini ada peranan dari kaum modistae, tata bahasa spekulativa, Petrus Hispans.

- Kaum Modistae, masih mempertentangkan antara fisis dan nomos. Mereka menerima konsep analogi karena menurut mereka bahasa itu bersifat reguler dan universal.

- Tata bahasa spekulativa, merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa Latin (seperti Priscia) ke dalam filsafat skolastik.

Petrus Hispans dalam bukunya Simmulae Logicales yang intinya antara lain :

- Dia telah memasukkan psikologis dalam analisis makna bahasa

- Membedakan nomen atas dua macam yaitu nomen substantinum dan nomen adjectivum.

- Membedakan partes orationes atas categorematik dan syntakgorematik

8.1.4. Zaman Renaisans

Dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern, yang di masa ini terdapat berbagai bahasa seperti :

- Bahasa ibrani adalah bahasa Arab pada akhir abad pertengahan

- Linguistik Arab dibadi menjadi 2 ð Basra dan Kifah

- Bahasa-bahasa Eropa terdapat bahasa Latin dan Yunani

- Bahasa-bahasa di luar Eropa.

8.1.5. Menjelang Lahirnya Linguistik Modern

Simpulan dari linguistik tradisional secara singkat adalah:

- Bahasa tradisional tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan tulisan.

- Dideskripsikan dengan patikan bahasa lain.

- Kaidah bahasa dibuat secara prespektif.

- Seringkali dideskripsikan melibatkan logika.

- Penemuan kaidah terdahulu selalu dipertahankan.

8.2. LINGUISTIK STRUKTURALIS

8.2.1. Ferdinand de Saussure

Dia membedakan telaah bahasa secara sinkronik dan diakronik. Sinkronik mempelajari bahasa dalam satu kurun waktu. Sedangkan diakronik adalah telaah bahasa sepanjang masa. Dia juga membedakan la langue dan la paroke. La langue adalah sistem tanda sebagai alat komunikasi. La parole adalah realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa. Signifiant adalah citra bunyi yang timbul dalam pikiran kira. Sedangkan signifie adalah kesan makna dalam pikiran kita. Hubungan sitafmatik dan paradigmatik, sintagmatik adalah hubungan antar unsur dalam suatu tuturan. Paradigmatik adalah hubungan unsur dalam tuturan dengan unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan.

8.2.2. Aliran Praha

Prakarsanya oleh Vilem Mathesius (1882 – 1945) Nikolai S. Trubetskoy, Roman Jakobson, Morris Halle. Aliran Praha adalah yang pertama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Dalam bidang fonologi mereka memperkenalkan suatu istilah yang disebut morfologi yaitu bidang yang meneliti struktur fonologis morfem. Dalam bidang sintaksis Villem mencoba menelaah kalimat melalui pendekatan fungsional.

8.2.3. Aliran Glosematik

Tokohnya antara lain Louis Hjemslev (1899 – 1965). Prosedur analisis dan semi aljabar yang menghasilkan satuan dasar yang disebut glosem. Sama seperti de Saussure, Hjemslev juga menganggap bahasa sebagai suatu sistem hubungan.

8.2.4. Aliran Firthian/Firth/London

John F. Firth (1890 – 1960) guru besar Universitas London sangat terkenal dengan teorinya mengenai fonologi prosodi adalah satu cara menentukan arti pada tataran fonetis. Satuannya terdiri dari konsonan dan vokal.

8.2.5. Linguistik Sistemik

Tokohnya M.A.K Halliday salah satu murid Firth, ia mengembangkan teorinya yaitu Neo-Firthian Linguistic/scale and category linguistics kemudian berubah menjadi systemic linguistic (SL)

1. SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa

2. SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”

3. SL mengutamakan pemerian ciri-ciri tertentu berserta variasinya

4. SL mengenal adanya gradasi dan kontinum

5. SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa yaitu substansi, forma, situasi.

8.2.6. Leonard Bloomfield (1877 – 1949) dengan bukunya Language (1933)

Faktor yang menyebabkan berkembangan aliran ini:

1. Banyak sekali bahasa Indian yang belum diberikan.

2. Bloomfield menolak mentalistik sejalan dengan iklim filsafat behaviorisme.

3. Adanya the linguistic society of America

Aliran Bloomfield/strukturalis disebut juga taksonomi, Bloomfieldian/post Bloomfilediom.

8.2.7. Aliran Tagmemik

Tokohnya adalah Kenneth L. Pike dari Summer Institute of Linguistics. Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmem (dari bahasa Yunani berarti “susunan”). Menurut Pike satuan dasar sintaksis tidak dapat dinyatakan dengan fungsi-fungsi saja seperti subjek+predikat+objek; tidak dapat dinyatakan dengan deretan bentuk-bentuk saja, seperti frase benda + frase kerja + frase benda, melainkan harus diungkapkan bersamaan dalam rentetan rumus seperti: S = FN + P = FV + O = FN

8.3. LINGUISTIK TRANSFORMAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

8.3.1. Tata Bahasa Transformasi

Ditandai lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky berjudul Syntatic Structure tahun 1957. Dikembangkan karena adanya kritik dan saran, dalam buku keduanya berjudul Aspect of the Theory of Syntax tahun 1965 menurut Chomsky salah satu tujuan dari penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut, dan harus memenuhi syarat:

1. Kalimat yang dihasilkan harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut.

2. Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa.

8.3.2. Semantik Generatif

Postal, Lakof, Mc Crawly dan Kipersky memisahkan diri dari kelompok Chomsky dan membentuk aliran yang disebut kaum semantik generatif karena merasa tidak pas tergadap gurunya Chomsky, bahwa semantik mempunyai eksistensi yang lain dari sintaksis dan bahwa struktur batin tidak sama dengan struktur semantis. Menurut teori generatif semantik, struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen, untuk menghubungkan keduanya cukup hanya dengan kaidah tranformatif saja seperti yang diajarkan Chomsky. Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu.

8.3.3. Tata Bahasa Kasus

Pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Case for Case” tahun 1968 dimuat dalam buku Bach E. dan R. Harms Universal in Linguistic Theory terbitan Holt Rinehart and Winston, direvisi tahun 1970 selain itu J. Anderson dalam bukunya The Grammar of Case (Cambridge University Press, 1971) dan W.L. Chafe dalam bukunya Meaning and The Structure of Language (the University of Chicago Prestasi belajar, 1970) memperkenalkan pula teori kasus yang agak berbeda. Fillmore dalam karangannya tahun 1968 membagi kalimat atas (1) modalitas, berupa unsur negasi, kala, aspek, adverbia, (2) proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus.

8.3.4. Tata Bahasa Relasional (1970-an)

Tokohnya antara lain David M. Perl Mutter dan Paul M. Postal dalam karangan mereka antara lain Lectures an Relational Grammar (1974), “Relational Grammar” dalam syntax dan semantics vol. 13 (1980) dan Studies in Relational Grammar I (1983). Menurut teori tata bahasa relasional setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam maujud (entity), yaitu:

- Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur.

- Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal.

- Seperangkat “Coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tataran elemen yang menyandang relasi gramatikal terhadap elemen yang lain.

8.4. TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

8.4.1. Indonesia wilayah sangat luas dan terdapat bermacam-macam bahasa. Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. Penelitian awalnya dilakukan ahli Belanda dan Eropa lainnya. Hal ini dimaksudkan agar pemerintahan kolonial dan penyebaran agama nasrani berjalan lancar. Van der Tuk, Brandsletter, Dempnolf, dan Kem telah melampui batas tahap observasi dan klasifikasi, sampai merumuskan teori, ingat “hukun Van der Tuuk” atau “hukum R-G-H dan hukum R-D-L”. Hasil penelitian itu dapat dilihat dalam sejumlah buku bibliographical series terbitan Kominklijk Institut voor Taahland en Volkenkunde (KITLV) Belanda, antara yang disusun Tecuw (1961), Uhlenbeck (1964), Voor Hove (1955) dan Cense (1958) Pusat pembinaan dan pengembangan bahasa (disingkat pusat bahasa) biasanya mendelegasikan pekerjaan itu pada para peneliti yang ada di perguruan tinggi di daerah masing-masing. Hasilnya tentu lebih baik, karena peneliti menguasai penggunaan bahasa yang ditelitinya.

8.4.2. Konsep linguistik modern baru tiba di Indonesia pada akhir tahun lima puluhan. Pada masa itu, lembaga pendidikan formal masih terpaku pada konsep bahasa tradisional yang sangat bersifat normatif. Para guru bahasa Indonesia saat itu sukar menerima konsep linguistik modern. Awal tahun tujuh puluhan dengan terbitnya buku tata bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf, perubahan sikap terhadap linguistik modern mulai banyak terjadi. Buku tata bahasa baru Indonesia karangan Sutan Takdir Alisjahbana, sejak tahun 1947 banyak digunakan dalam pendidikan formal, mulai ditinggalkan. Kedudukannya diganti oleh buku Keraf, yang isinya memang banyak menyodorkan kekurangan bahasa tradisional, dan menyajikan kelebihan analisis bahasa secara struktural.

8.4.3. Seiring berkembangnya studi linguistik, tentu saja dibarengi bermunculnya linguis Indonesia baik dari tataran dalam maupun luar negeri. Pada tanggal 15 November 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang bernama Masyarakat Lingustik Indonesia (MLI) dan mengadakan musyawarah nasional tiap tiga tahun sekali. Tahun 1983, MLI menerbitkan sebuah jurnal yang bernama Linguistik Indonesia tujuannya adalah untuk melaporkan atau mempublikasikan hasil penelitiannya. Sebelum muncul linguistik Indonesia, sebenarnya di Indonesia sudah ada majalah linguistik berbahasa Inggris yang bernama NUSA dirintis oleh Prof. Dr. J.W.M. Verhaar S) dan diedit oleh Amran Halim, Soenjono Dardjowidjojo, Ignatius Soeharno, dan Soepomo Soedarmo yang semuanya adalah linguis Indonesia. Selain majalah itu ada yang lain lagi yakni bahasa dan sastra serta pengajaran bahasa dan sastra. Majalan pembinaan bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh organisasi profesi Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) sejak tahun 1980.

8.4.4 Penyelidikan bahasa-bahasa daerah Indonesia dan bahasa Indonesia banyak pula dilakukan oleh orang luar Indonesia. Universitas Leiden di Negeri Belanda telah mempunyai sejarah panjang dalam penelitian bahasa-bahasa Nusantara.

8.4.5. Secara nasional bahasa Indonesia telah mempunyai sebuah buku tata bahasa baku dan sebuah kamus besar yang disusun oleh para pakar handal. Dalam kajian bahasa nasional Indonesia di Indonesia tercatat nama-nama seperti Kridalaksana, Kaswanti Purno, Dardjowidjojo, dan Soedarjanto yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai pelbagai segi dan aspek bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Abdul Chaer. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

 

Toba,1402408129, bab 8 Oktober 23, 2008

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 2:03 pm

BAB 8

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Dalam sejarah perkembangannya, linguistik di penuhi dengan berbagai aliran, paham, pendekatan, dan teknik penyelidikan yang dari luar tampaknya sangat ruwet, saling berlawanan dan membingungkan , terutama bagi para pemuda. Berikutnya akan dibicarakan sejarah,, perkembangan , paham dan beberapa aliran linguistik zaman purba sampai zaman mutakhir secara singkat dan bersifat umum.

8.1 LINGUISTIK TRADISIONAL

Istilah tradisional dalam linguistic sering di pertentangkan dengan istilah structural, sehinhgga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan structural, keduanya merupakan dua hal dan structural, keduanya merupakan dua hal yang bertentangan, sebagai akibat dari pendekatan keduanya yang tidak sama terhadap hakikat bahasa.

8.1.1 LINGUISTIK ZAMAN YUNANI

Masalah pokok kebahasan yang menjadi pertentangan pada linguistic pada waktu itu adalah.

(1) Pertantangan antara fisis dan nomos

· Bersifat fisis dengan maksud bahasanya mempunyai hubungi dengan asal-usul sumber dalam prinsip –prinsip pribadi dan tidak dapat di ganti.

· Bersifat nomos dengan maksud makna-makna kata itu di peroleh dari kasihtradisi yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

(2) Pertentangan antara analogi dan anomaly

· Analogi, bahwa bahasa itu bersifat teratur karena dengan

keterangan itu orang dapat menyusun tata bahasa

· Anomali, berpendapat bahwa bahasa itu tidak teratur, kalau bahasa itu teratur kenapa bahasa inggris child menjadi children bukannya childs

8.1.1.1 KAUM SAPHIS

Muncul pada abad ke-5 SM mereka dikenal dalam studi bahasa, karena:

a) Melakukan kerja secara empiris

b) Melakukan kerja secara pasti

c) Mementingkan bidang reterika dalam studi bahasa

d) Membedakan tipe-tipe kalimat berdasar isi dan makna

8.1.1.2 PLATO ( 429 – 347 S.M )

Plato dapat terkenal dalam studi bahasa, karena:

a) Memperdebatkan analogi dan anomaly

b) Menyadarkan batasan bahasa

c) Orang yang pertama kali membedakan kata anoma rhema

8.1.1.3 ARISTOTELES ( 384 – 322 S.M )

Aristoteles dapat terkenal dalam studi bahasa, karena:

a) Dia menambahkan satu kelas kata atas pembagian yang dibuat gurunya

b) Dia membedakan jenis kelamin kata (gender) menjadi tiga, yaitu maskulin, femirin dan neutrum

8.1.1.4 KAUM STOIK

Berkembang pada abad ke-4 S.M dalam studi bahasa terkenal, karena:

a) Membedakan studi bahasa secara logika dan tata bahasa

b) Menciptakan istilah khusus untuk studi bahasa

c) Membedakan komponen studi bahasa

d) Membedakan legein yaitu bunyi bagian fanologi tapitak bermakna dan propheretal

e) Membagi jenis kata menjadi empat

f) Membedakan adanya kata kerja komplet dan tak komplet

Kaum stoik lebih jauh daripada yang telah dihasilkan oleh Aristoteles

8.1.1.5 KAUM ALEXANDRIAN

Kaum ini menganut paham analogi dalam studi bahasa oleh karena itu mereka mewarisi sebuah buku tata bahasa yang disebut Tata Bahasa Dianysius Thrax sebagai hasil mereka dalam menyelidik kereguleran bahasa yunani

8.1.2 ZAMAN ROMAWI

Studi bahasa pada zaman romawi dapat dianggap kelanjutan dari zaman yunani, sejalan dangan jatuhnya yunani, dan munculny Kerajaan Romawi

8.1.2.1 VARRO DAN “ DE LINGUA LATINA “

Buku ini di bagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi dan sintaksis

a) Etimologi yaitu cabang linguistic yang menyelidik asal usul kata beserta artinya

b) Morfologi yaitu cabang linguistic yang mempelajari kata dan pembentukannya

Mengenai deklinasi yaitu perubahan bentuk kata berkenan dengan kategori , kasus, jumlah dan jenis cara membedakan adanya dua macam deklinasi, yaitu naturalis dan valuntaris.Naturalis yaitu perubahan bentuk kata yang bersifat alamiah, bersifat regular. Valuntaris yaitu perubahannya secara morfologis, bersifat selektif dan manasuka.

8.1.2.2 INSTITUSIONES GRAMMATICAE ATAU TATA BAHASA PRISCIA

Buku priscia ini terdiri dari 18 jilid (16 jilid morfologi dan 2 jilid mengenai sintaksis ) dianggap sangat penting karena:

a) Merupakan buku tata bahasa latin yang paling lengkap yang di tuturkan oleh pembicara aslinya

b) Teori tata bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional

Beberapa segi yang patut di bicarakan mengenai buku ini yaitu:

a) Fanalogi, hal yang di bicarakan pertama masalah huruf yang disebut litterae yaitu bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan

b) Morfologi, yang di bicarakan dalam hal ini antara lain mengenai dictia atau kata, dictia adalah bagian yang minimum dari sebuah ujaran dan diartikan terpisah dalam makna sebagai satu keseluruhan

c) Sintaksis, bidang ini membicarakan hal yang di sebut oratio, yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai

Akhirnya buku Institutiones Grammaticae ini telah manjadi dasar tata bahasa latin dan filsafat zaman pertengahan

8.1.3 ZAMAN PERTENGAHAN

Zaman pertengahan ini yang patut dibicarakan dalam studi bahasa, antara laun adalah peranan kaum Modistae, tata bahasa Spekulativa dan Petrus Hispanus

1. Kaum Modistae

Membicarakan pertentangan fisis dan nomos dan antara analogi dan anomoli

2. Tata Bahasa Spekulativa

Merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa latin ke dalam filsafat skalastik

3. Petrus Hispanus

Peranannya dalam bidang linguistik:

a) Dia telah memasukkan psikologi dalam analisis bahasa

b) Dia telah membedakan nomen atas dua macam, yaitu nomen substantivum dan adjectivum

c) Dia juga membedakan partes orations atas categorematik dan syntategorematik

8.1.4 ZAMAN RENAISANS

Zaman ini dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran abad modern.

Bahasa Ibrani dan Arab banyak di pelajari orang pada akhir abad pertengahan dan sesungguhnya bahasa Ibrani dan bahasa Arab memang dua bahasa yang serumpun dan perkembangannya studi bahasa Ibrani sejalan dengan perkembangan linguistic bahasa Arab yang memang sudah lebih dahulu memperoleh kemajuan, karena kedudukannya sebagai bahasa kitab suci agama islam, yaitu Qur’an, sedangkan bahasa kitab suciitu, menurut pendapat ulama islam, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Bahasa Eropa sebetulnya sudah menarik perhatian sejak sebelum zaman Renaisans yang mendapat perhatian secara khusus dan serius adalah studi mengenai bahasa roman atau neolatin. Bahasa roman bukanlah bahasa latin yang telah rusak, melainkan bahasayang atanomi dan mempunyai jasa sendiri.

8.1.5 Menjelang lahirnya linguistik modem sejak awal buku ini sudah menyebut-nyebut bahwa Ferdinand de sanssure dianggap sebagai bapak linguistic modem masa lahirnya linguistic modem dengan berakhirnya jaman renai fans.

Bila disimpulkan mengenal linguistic tradisional bahwa.:

a) bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujuran dan tulisan.

b) bahasa yang disusun tata bahasanya dideskripsikan dengan mengambil patokan dari bahasa lain.

c) kaidah bahasanya dibuat secara preskriptif,yakni salah/benar.

d) persoalannya kebasaan sering di deskripsikan dg logika.

e) pertemuan terdahulu cenderung untuk slalu dipertahankan.

8.2 LINGUISTI STRUKTURALIS

Llinguistik strukturalis berusa mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan cirri yang dimiliki bahasa itu.pandangan ini adalah sebagai sakibat konsep atau pandangan baru terhadap bahasa dan studi bahasa yang si kemukakan oleh bapak linguistik modern.

8.2.1 Ferdinand de saussure.

Ferdinand de saussure (1857-1913) dianggap sebagai bapak linguistic modern berdasarkan pandangan yang dimuat bukunya caurse de linguistic generak.

Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep:

1) telalah sinkronik dan diakronik

2) perbedaan langue dan parak

3) perbedaan signifiant dan signifie

4) hubungan sintagmatikg dan para digmatik

Telah sinkronik dan dia kronik, telah sinkronik adalah mempelajari suatu bahasa pada sewaku kurun waktu tertentu saja. Sedangkan telah diakronik adalah telah bahasa sepanjang masa, atau sepanjang jaman.

La langue dan la parale, la langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal, sifatmya abstrak. Sedangkan laparole adalah pemakaian langue oleh masing-masing anggota masyarakat sifatnya konkret.

Significant dan signifie, signifiat adalah citra bunyi yang timbul dalam pikiran kita, sedangkan signifie adalah kesan Magna yang ada dalam pikiran kita.

Hubungan sitamatig paradigmatic,hubungan sigtamatik yaitu hubungan atara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuntunan, secara berurutan bewrsifat linier, misal :

· k-i-t-a

· k-i-a-t

· k-a-i-t

Hubungan paradigmatic adalah hubungan antara unsur-unsur yang trdapat dalam suatu tuntunan dengan unsur-unsur dsejenis yang tidak terdapat dalam tuntunan yang bersangkutan missal :

· R a t a

· K a t a

Secara lengkap hubungan keduanya dapat di gambarkan sebagai berikut :

AL; -membawa – buku

D ; -membeli - baju

8.2.2 Aliran praha

Dalam bidang fonologi aliran praha adalah yang pertama membedakan dengan tegas akan fametik dan fonologi. Fanetik mempelajari bunyi itu sendiri, fonologi mempelajari bunyi fungsi tersebut dalam suatu system.

Perbedaan bunyi yang tidak menimbulkan perbedaan makna adalah distngtif,jadi bersifat fenomis.

Fonem dapat dikelompokan keadan kelas sesuai dengan cirri poembeda dan hubungan aposisi yang ada. Dalam bahasa Indonesia misalnya,kontas antara p dan b, dan diatara t dan d. missal :

Pak >< baku – antara p dan b

Tepas >< tebas- antara p dan b

Tari >< dari - antara t dan b

Adad >< abat – antara t dan d

Dalam bidang fanologi aliran Praha ini juga memperkenalkan dan mengembangkan suatu istilah yang disebut marfologi, bidang yang meneliti struktur fanologi marfem. Missal, kita lihat fonem /p/ dan /b/ tidak berkontras, tetapi kata /jawa/ yang mungkin dihafalkan /jawab/ atau /jawab/ diimbuhi sufiks –an, maka hasilnya /jawaban/ dan bukannya /jawapan/ .

8.2.3 ALIRAN GLOSEMATIK

Analisis bahasa dimulai dari wacana,kemudian ujaran itu dianalisis atas konstituen yang mempunyai hubungan paradigmatic dalam rangka formal (hubungan gramatikal intern), substansi, ungkapan, dan isi. Prosedur yang bersifat analisis dan semi aljabar ini menghasilkan satuan dasar yang disebut glosem.

Menurut hjelmslev menganggap bahsa itu mengandung 2 segi, yaitu segi ekspresi dan segi isi. Masing-masing segi mengandung forma dan substansi, maka hjelmslev menganggap bahasa sebagai system hubungan dan mengakui hubungan sintagmatik dan paradigmatik.

8.2.4 ALIRAN FIRTHIAN

Fonologi prosadiadalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fanetis.ada 3 macam pokok prosadi, yakni (1) prosadi yang menyangkut gabungan fonem struktur kata, suku kata, gabungan konsanan dan vocal. (2) prosadi yang terentuk oleh sendi dan jeda. (3) prosadi yang realisi fenotisnya melampui satuan yang leih besar dari pada fonem suprasig mental

8.2.5 LINGUISTIK SISTEMIK

Pokok-pokok yang terdapat dalam linguistik sistemik :

1. SL (systemic linguistic) memberikan perhatian penuh dalam segi kemasyarakatan bahasa.

2. SL memandang bahasa sebagai pelaksana.

3. SL lebih mengutamakan pemberian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasinya.

4. SL mengenal adanya gradasi atau kontinum.

5. SL menggambarkan 3 tataran utama bahasa.

Yang dimaksud substansi adalah bunyi yang kita ucapkan waktu kitra berbicara dan lambang yang kita gunakan waktu kita menulis.

8.2.6 LEONARD BLOOMFIELD DAN STRUKTURALIS AMERIKA

Beberapa faktor yang menyebabkan aliran ini berkembang antara lain :

1. menghadapi masalah yang sama, yaitu banyak sekali bahasa Indian yang belum diserikan.

2. bloomfield ang menolak mentalistik, yaitu filsafat behaviorisme.

3. adanya hubungan yang baik, karena adanya the linguistic society of America yang menerbitkan majalah language.

Aliran strukturalis bloomfield juga disebut aliran taksonomi, karena aliran ini menganalisis dan mengklasifikasikan uinsur-unsur bahasa berdasarkan hubungan herarkinya.

8.2.7 ALIRAN TAGMATIK

Menurut aliran ini satuan dasar dari sintaksis adalah tagmen, yaitu korelasi antara fungsi gramatikal dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slad tersebut.

Menurut pike satuan dasar sintaksis tidak dinyatakan dengan fungsi-fungsi saja, seperti subjek + predikat + objek, melainkan harus diungkaapkan bersamaan dalam retetan rumus seperti :

S : FN + P : FV + O : FN. Rumus tersebut dibaca : Fungsi subjek diisi oleh frase nomilal diikuti oleh fungsi predikat yang diisi frase verbal dan ungsi objek yang diisi frase nominal.

8.3. LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN SESUDAHNYA

Dunia ilmu termasuk linguistic, bukan merupakan kegiatan yang statis, melainkan merupakan yang dinamis, berkembang terus, sesuai dengan filsafat ilmu itu sendiri yang selalu ingin mencari kebenaran yang hakiki.

8.3.1 Tata Bahasa Transformasi

Setiap tata bahasa dari suatu bahasa, menurut chonsky adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri, dan tata bahasa itu harus memenuhi 2 syarat yaitu :

1. kalimat yang dihasilkan harus dapat diterima oleh pemakai bahsa tersebut.

2. tata bahasanya harus dibentuk sedemikian rupa, bedasarkan bahasa tertentu saja dan sejajar dengan teori linguistic.

Komponen semantic memberikan interpretasi semantic pada deretan unsure yang dihasilkan oleh sub komponen dasar. Umpamanya, kata ayah dan ibu dibandingkandengan kata pensil dan kursi, maka kita lhat kata ayah dan ibu mempunyai cirri semantic /makhluk/ sedangkan pensil dan kursi tidak memiliki ciri itu.

8.3.2 Semantik genaratik

Menurut simentik generatif, sudah seharusnya semantic dan sinteksus diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur sematik itu serupa dengan logika, berupa iktan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat anggumen dalam suatu prosisi.

Menurut teori semantic generatif,anggumen adalah segala sesuatu yang di bicarakan : sedangkan predikat itu semua yang menunjukan hybungan, perbuatan,sifat,keanggotaan,dalam mengabstrasikan predikatnya teori ini berusaha untuk mengurangi karya lebih jauh sampai diperoleh perdikat yang tidak dapat diuraikanlagi,yang disebut predikat inti (atomit prediate).

8.3.3 Tata Bahasa Kusus

Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan nomina.verba disini samadengan predikat,sedangkannomina sama dengan argument dalam teori semantic generatif,hanya argument dalam kasus ini diberi label kasus.

Makna sebuah kalimat dalam teori ini dirumuskan dalam bentuk : * (…x,y,z)

tanda….dipakai untuk memenuhi posif ; verba dalam struktur sementis sedangkan x,ydanz adalah argument yang berkaitan dengan verba/predikat itu yang diberi label kasus. Misalnya : open , * (….A,I,0 )

A = Agent , Pelaku

I = Instrumen , alat

O = Object * , tujuan.

Dari uraian diatas dapat kita lihat adanya persamaan antara simentik generatif dan teori kusus.

8.3.4 Tata Bahasa Reasional

Sama halnya dengan tata bahasa tranformasi tata bahasa reasional juga berusaha mencari kaidah kesemestaan bahasa. Menurut tata bahasa rasional, setiap struktur melibatkan tiga macam maujud,yaitu ;

a) seperangkat simpai (modes) yang menampilkan elemen di dalam suatu struktur

b) seperangkat tanda relasional (relasional sign)

c) seperangkat tordinates yang dipakai untuk menunjukan pada tataran menakah elemen itu mengandung relasi gremetikal.

Missal :

Saya diberikan bila itu boleh oleh ayah

Jika di analisis kalimat tersebut merupakan hasil dari dua macam tranformasi yaitu tranformasi datif dan pasif, dan terlibay tiga bentuk kontruksi yaitu (a) kontruksi kalimat inti ,(b)kontruksi kalimat hasil tranformasi datif, dan (c) kalimat hasil tranformasi pasif dari kontruksi datif.

8.4 TENTANG UNGUISTIK DI INDONESIA

Hingga saat ini linguistic di Indonesia belum ada catatan yang lengkap, meskipun linguistic di Indonsia sudah berlangsung lama dan cukup semarak.

8.4.1 Sesuai dengan masanya, penelitian bahasa darah itu baru sampai pada tahap diskripsi sederhana mengenai sestem fanalogi , marfologi, sintaksis, serta pencatatan butir-butir leksikal beserta terjemahan maknanya dalam bahasa Belanda dalam bentuk kamus.

Tampaknya data pendeskripsian terhadap bahasa-bahasa daerah di Indonesia seperti yang di lakukan para peneliti terdahulu masih berlanjud terus pada tahun tuju pulu dan delapan puluh, informasai yang lengkap dan luas mengenai bahasa daerah yang penuturannya banyak ,adalah sangat penting dalam menjalankan administrasi dan roda pemerintahan kolarial.

8.4.2 Perkembangan waktu jualah yang kemudian menyebabkan konsep linguistic modern dapatdi terima, dan konsep-konsep linguistic tradisional mulai agat tersisih, selain buku keraf itu sejumlah buku Ramlan , juga menyajikan analisis bahasa secara stuktural , menyebabkan kedudukan linguistic semakin kuat, meski konsep linguistic tradisional masih banyak yang mempertahankanya.

8.4.3 Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya studi linguistik ,yang tentu sakja di banengi dengan bermunculannya linguistic – linguistic di Indonesia, baik yang tamata luar negeri maupun dalam negeri, maka semakin di rasakan perlunya seatu wadah untuk berdiskusi, berbentuk pengalama, dan mempublikasikan hasil penelitian yang telah di lakukan .

8.4.4 Penyelidikan terhadap bahasa daerah Indonesia, banyak pula di lakukan orang luar negeri .Universitas laiden Belanda telah mempunyai sejarah panjang dalam penelitian bahasa Nusantara.

8.4.5 Sesui dengan fungsinya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dam bahasa Negara, maka bahasa Indonesia tampaknya menduduki tempat sentral dalam kegiatan linguistic dewasa ini, baik dalam maupun luar negeru

Dalam kegiatan dalam bahasa nasional Indonesia tedapat nama kridalaksana, kaswati purwo,dardjowidjojo dan saedarjonto,yang telah banyak menghasilkan tulisan mengenai baebagai segi dan aspek bahasa Indonesia..

 

MONICA PRATNYA N_1402408069_BAB 8_ROMBEL 5

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 1:35 pm

Disusun oleh :

Monica Pratnya N (1402408069)

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

Dalam sejarah perkembangannya linguistik dipenuhi dengan berbagai aliran , paham , pendekatannya dan teknik penyelidikan yang dari luar tampaknya sangan ruwet . salins berlawanan . Beberapa aliran linguistik perba sampai zaman mutahir secara singkat dan bersifat umum .

8.1 LINGUISTIK TRADISIONAL

Istilah tradisional dalam linguistik sering dipertentangkan dengan istilah struktual, sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan struktual bahasanya merupakan dua hal yang bertentangan sebagai akibat dari pendekatan yang tidak sama terhadap hakikat bahasa.

8.1.1 Linguistik zaman yunani

Masalah pokok yang menjadi pertentangan adalah;

1. pertentangan antar fisis

- bahasanya mempunyai hubungan dengan asal-usul, sumberdalam prinsip-prinsip dan tidak dapat diganti

- bersifat nomos dengan maksud makna-makna kata itu diperoleh dari hasil tradisi yang mempunyai kemungkinan bisa berubah.

2. bertentangan antara analogi dan aromali

- analogi bahasa ini bersifat teratur karena dengan ini orang dapat menyusun tata bahasa.

8.1.1.1 Kaum sophis(abad ke-5 SM)

a. Melakukan kerja secara empiris

b. melakukan kerja secara pasti

c. mementingkan bidang retarika dalam studi bahasa.

d. membedakan tipe-tipe kalimat yang berdasarkan isi dan makna.

8.1.1.2 Plato(429-347 SM)

a. memperdebatkan analogi dan anomali.

b. menyadarkan batasan bahasa.

c. orang yang pertama kali membedakan kata aroma dan rhema.

8.1.1.3 Aristoteles(384-322 SM)

a. menambahkan satu kelas kata atas pembagian yang dibuat gurunya.

b. membedakan jenis kelamin kata (gender) menjadi tiga, yaitu maskulin, feminim, dan neutum.

8.1.1.4 kaum Staik abad-4 SM

a. membedakan studu bahasa secara logika dan tata bahasa.

b. menciptakan istilah khusus untuk studi bahasa.

c. membedakan komponen utama dari studi bahasa.

d.membedakan legein yaitu bunyi bagian fanologi tapitak bermakna dan properetal.

e. membagi jenis kata menjadi empat .

f. membedakan adanya kata kerja komplit dan tidak komplit

8.7.7.5 Kaum Alexandria

Kaum ini menganut paham anologi dalam studi bahasa.

8.1.2 Zaman Romawi

8.1.2.1 Varro dan “De Lingualatina”

a. Etimologi= cabang linguistik yang menyelidiki asal usul kata berupa artinya .

b. Morfologi= cabang lingistik yang mempelajari kata dan bentuknya.

8.1.2.2 Institusiones Granaticae atau tata bahasa Piscia

a. Merupakan buku tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara lainnya.

b. teori tata bahasanya merupakan tonggak – tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Sesuai yangn patut dibicakan mengenai buku ini yaitu :

a. Fanalogi : hal yang dibicarakan pertama masalah huruf yang disebut literrae yaitu bagian bunyi yang dapat ditulis .

b. Morfologi : mengenai dictio / kata .dictio adalah bagian yang minimum arti sebuah ujaran dan diartikan terpisah dalam makna sebagai satu keseluruhan.

c. Sintaktis : menbicarakan hal yang disebut oratio yaitutata susun tata yang berselaras dan menunjukan kalimat itu selesai .

8.1.3 Zaman Pertengahan

1. Kaum Modistai

Membicarakan tentang fisis dan nomos , analogi dan anomali

2. tata bahasa spekulatif

Merupakan hasil interaksi deskripsi gramatikal bahasa latin kedalam filsafat skalastik

3. Petrus Hispanus

a. dia telah memaksukkan psikologi dalam analisi bahasa

b. dia telah membedakan nomer

c. Dia juga membedakan partes orationes

8.1.4 Zaman renaisance

Zaman ini dianggap sebagai zaman pembukaan abat pemikiran abad modern

8.1.5 Menjelang Lahirnya linguistik modern

Linguistik tradisional bahwa:

a. bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara ujaran tulisan

b. tata bahasanya dideskripsikan denganmengambil patokan dari bahasa lain

c. kaidah bahasa dibuat secara deskriptif

d. persoalan kebahasaanya sering dideskripsikan dengan logika

e. pertemuan terdahulu cenderung untuk selalu dipartahankan

8.2 LINGUISTIK STRUKTURAL

8.2.1 Ferdinand de saussure (1857-1913)

1. telah sinkranik dan diakronik

2. perbedaan langue dan parole

3. perbedaan signifiant dan signifie

4. hubungan sintaggmating dan paradigmatik

Sintogmatik yaitu hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, secara berurutan bersifat linear. Masal:

k↔i↔t↔a

k↔i↔a↔t

k↔a↔i↔t

Hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapatdalam suatu tuturan dengan yang bersangkutan.

8.2.2 Aliran Praha

Misal: Paku X Buku

Tepas X Tepos

Tari X dari

Adad X Abat

8..2.3 Aliran Glasematik

Analisis bahasa dimulai dari wacana kemudian ujaran itu dianalisis atas Konstituen yang mempunyai hubungan paradikmatis dalam rangka forma.

8.2.4 Aliran Firthilan

Fonologi Prosadi yaitu cara untuk menentukan arti pada tataran fanetis

8.2.5 Linguistik Sistemik

1. SL (Sistematik Linguistik ) memberikan perhatian dalam segi Kemasyarakatan .

2. SL memandang bahasa sebagai “Pelaksana”

3.SL lebih mengutamakan pemberian ciri – ciri bahasa tertentu beserta varialinya.

4. SL mengenal adanya gradasi / Kontinum

5. Menggambarkan 3 tataran utama bahasa

8.2.5 Leonard bloom Field dan Strukturalis Amerika

1. Mendapatkan masalah yang sama

2. Bloom Field yang menolak Mentalistik .

3. Adanya Hubungan yang baik .

8.2.7 Aliran tagmetik

Menurut aliran ini satuan dasar dari Sintaksis adalah tagmen yaitu korelasi antara fungsi Gramatikal dengan sekelompok bentuk- bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan mengisi stat tersebut.

8.3 LINGUISTIK TRASFORMASIONAL DAN ALIRAN – ALIRAN SESUDAHNYA

8.3.1 Tata Bahasa Tradisional

1. Kalimat yang dihasilkan harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut .

2. Tata Bahasanya Harus dibentuk sedemikian rupa.

8.3.2 Simantik Generatif

8.3.3 Tata bahasa Kasus

Misal OPEN +(…A,I,O)

A: Agen , Pelaku

I :Instrumen , Alat

O: Obyek , Tujuan

8.3.4 Tata Bahasa Relasional

a. Seperangkat Simpal (nodes) yang menampilkan elemen dalam suatu struktur.

b. Seperangkat tanda Relasional

c. Seperangkat “coordinates “

8.4 TENTANG LINGUISTIK DI INDONESIA

8.4.1 Sesuai dengan hasilnya peneliti bahasa – bahasa daerah baru sampai pada tahap deskripsi sederhana mengenai morfologi , sitaksis , serta pencatatan butir – butir lesikal serta pencatatan butir – butir lesikal.

8.4.2 Perkembangan waktujualah yang kemudian mentebabkan kosep – konsep linguistik modern dapat diterima.

8.4.3 Sejalan dengan perkembangan dan makin semaraknya studi lingistik yang tentu saja dibenahi dengan bermunculnya linguistik – linguistik di Indonesia.

8.4.4 Penyelidikan terdapat bahasa darah indonesia dan bahasa nasional Indonesia.

8.4.5 Dalam kajian nahasa nasional Indonesia tercatat nam kridalaksana , kaswanti purwo, Djarwowijdojo.

 

Sulthon Al Farisi-1402908183-bab 8

Filed under: BAB VIII — pgsdunnes2008 @ 1:24 pm

Disusun oleh

Sulthon Al Farisi

NIM : 1402908183

Rombel : 5

BAB VIII

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

8.1 Linguistik tradisional

Dalam pendidikan formal istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa struktural. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan ciri-ciri formal bahasa tertentu.

8.1.1 Linguistik zaman yunani

Pada zaman ini terjadi pertentangan para linguis yaitu pertentangan antara fisis dan nomos, pertentangan antara analogi dan anomali.

8.1.1.1 Kaum sophis

Kaum yang terkenal dalam studi bahasanya karena melakukan kerja secara empiris, menggunakan ukuran tertentu,mementingkan bidang retorika dan membedakan isi kalimat berdasarkan isi atau maknanya.

8.1.1.2 Plato

Membuat buku yang isinya mengemukakan masalah bahasa alamiah dan bahasa konvensional, menyatakan bahwa pikiran manusia dengan perantaraan onomata dan rhemata, membedakan kata dalam onoma dan rhema.

8.1.1.3 Aristoteles

Seorang murid plato yang selalu bertolak dari logika. Dia memberikan pengertian, definisi, konsep, makna dan sebagainya selalu berdasarkan logika.

8.1.1.4 Kaum stoik

Kaum yang telah jauh lebih berhasil dari masa aristoteles karena telah berhasil membedakan tiga komponen utama dari studi bahasa yaitu (1) tanda, symbol, sign (2) semainomen atau lekton (3) hal-hal yang di luar bahasa.

8.1.1.5 Kaun Alexandrian

Mewariskan sebuah buku tata bahasa yang disebut tata bahasa “Dionysius thrax” yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa latin yang kemudian dijadikan model dalam penyusunan buku tata bahasa eropa lainnya.

8.1.2 Zaman romawi

Zaman romawi adalah zaman lanjutan dari zaman yunani setelah runtuh, mereka mendapat pengalaman linguistic dari zaman yunani. Tokoh yang terkenal adalah varro dan priscia.

8.1.2.1 Varro

Varro terkenal dengan karyanya yaitu “de lingua Latina” yang berisikan tentang etiomologi dan morfologi.

8.1.2.2 Priscia

Priscia terkenal dengan karyanya yaitu “institutions grammaticae” karena merupakan buku tata bahasa latin yang paling lengkap dan teori bahasanya merupakan tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

8.1.3 Zaman pertengahan

Pada zaman ini studi bahasa mendapat perhatian penuh dari para filsuf skolastik karena dipakai sebagai bahasa gereja, diplomasi, dan ilmu pengetahuan. Dari zaman pertengahan ini terdapat hal penting studi bahasa yaitu kaum modistae, tata bahasa spekulatifa, dan petrus hipanus.

8.1.4 Zaman renaisans

Zaman renaisans dianggap sebagai zaman pembukaan abad pemikiran modern. Ada dua hal pada zaman ini yang menonjol yaitu 1. Sarjana waktu itu menguasai bahasa yunani, ibrani dan bahasa arab. 2. Terdapat perhatian dalam bentuk pembahasan, penyusunan tata bahasa dan perbandingan.

8.2 Linguistik strukturalis

Linguistik strukturalis adalah tata bahasa yang berusaha mendiskripsikan suatu bahasa berdasarkan cirri atau sifat khas yang dimiliki bahasa tersebut.

8.2.1 Ferdinand de saussure

Beliau dianggap sebagai bapak linguistic modern karena pandangan yang dimuat dalam bukunya “course de linguistique generale”. Pandangan yang dimuat dalam buku itu antara lain:

1. telaah sinkronik dan diakronik

2. perbadaan langue dan parole

3. perbedaan significant dan signifie

4. hubungan sintagmatik dan paradigmatic

8.2.2 Aliran praha

Dalam bidang fonologi aliran praha inilah yang pertama membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi dalam suatu system. Pada aliran praha juga memperkenalkan dan mengembangkan istilah morfologi yaitu bidang yang meneliti struktur fonologis morfem.

8.2.3 Aliran glosematik

Aliran glosematik lahir di Denmark dan meneruskan ajaran Ferdinand de saussure dan dikembangkan ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lainnya.

8.2.4 Aliran firthian

Teori yang terkenal pada saat ini teori fonologi persodi yaitu suatu cara untuk menentukan arti pada tatanan fonetis.

8.2.5 Linguistik sistemik

Pokok pandangan linguistic sistemik adalah memberikan perhatian penuh segi kemasyarakatan bahasa, memandang bahasa sebagai pelaksana, mengutamakan pemberian cirri, dan mengenal adanya gradasi dan kontinum.

8.2.6 Strukturalis Amerika

Aliran ini berkembang pesat di amerika karena beberapa factor antara lain para linguis amerika mengalami masalah banyaknya bahasa Indian, penolakan mentalistik,sejalan dengan iklim filsafat dimasa itu, dan adanya hubungan baik antar linguis.

8.3 Linguistik transformasional dan aliran sesudahnya

Perubahan total terjadi dengan lahirnya linguistic transformal yang mempunyai pendekatan dan cara yang berbeda dengan linguistic structural.

8.3.1 Tata bahasa transformasi

Setiap tata bahasa dari suatu bahasa adalah merupakan teori dari bahasa itu sendiri dan harus memenuhi du syarat yaitu:

1. kalimat yang dihasilkan harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut sebagai bahasa yang wajar.

2. harus berbentuk sedemikian rupa sehingga istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja.

8.3.2 Semantik generatif

Kaum semantic generatif adalah sekekompok orang yang memisahkan diri mereka dari kelompok sebelumnya karena ketidakpuasan terhadap teori Chomsky. Menurut mereka struktur semantic dan sintaksis bersifat homogen dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja.

8.3.3 Tata bahasa kasus

Tata bahasa kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya yang berjudul “the case of case” . Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dan nomia, verba disni sama dengan predikat sedangkan nomia sama dengan argument.

8.3.4 Tata bahasa relasional

Tata bahasa yang muncul sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi mendasar dari teori sintaksis. Tata bahasa relasional juga berusaha mencari kaidah kesemestaan bahasa. Disini setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional yang melibatkan tiga macam wujud yaitu:

1. nodes

2. relational sign

3. coordinates

8.4 Tentang linguistik di Indonesia

Sebagai negeri yang luas yang dihuni oleh berbagai suku bangsa dan berbagai bahasa daerah yang beda pula, maka Indonesia menjadi medan penelitian linguistic. Awalnya penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli belanda dan eropa dengan tujuan kepentingan pemerintahan colonial dan penyebaran agama nasrani. Konsep de saussure kemudian disusul oleh teori dan aliran seperti strukturalisme bloomfield dan transformasi. Perkembangan waktu jualah yang kemudian menyebabkan konsep linguistic modern dapat diterima dan konsep linguistic tradisional mulai agak tersisih. Selain buku keraf sejumlah buku ramlan yang juga menyajikan analisis bahasa secara structural, menyebabkan kedudukan linguistic modern dalam pendidikan formal sangat kuat.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.