Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Ayu Candra Sartika_1402408132_BAB 6 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 6:54 pm

BAB 6

TATARAN LINGUISTIK (3) SINTAKSIS

Morfologi dan sintaksis adalah bidang tataran linguistik yang secara tradisional disebut tata bahasa dan gramatikal. Karena perbedaan keduanya tidak terlihat jelas maka muncul morfosintaksis. Morfosintaksis adalah gabungan dari morfologi dan sintaksis, untuk menyebut keduanya sebagai bidang satu pembahasan. Morfologi membicarakan struktur internal kata, sedangkan sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain sebagai suatu satuan ujaran.

Sintaksis berasal dari bahasa Yunani yaitu “Sun” = dengan, “Tattein” = menempatkan. Sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata/kalimat.

Pembahasan dalam sintaksis :

1) Struktur sintaksis, mencakup masalah fungsi, kategori, dan pesan sintaksis serta alat-alat yang digunakan dalam membangun struktur itu.

2) Satuan-satuan sintaksis yang berupa kata, frase, klausa, kaliman dan wacana.

3) Hal-hal yang berkenaan dengan sintaksis, seperti masalah modus, aspek, dsb.

6.1. STRUKTUR SINTAKSIS

Ada beberapa kelompok dalam sintaksis

Ÿ Kelompok pertama yaitu subyek, predikat, obyek dan keterangan adalah kelompok fungsi sintaksis.

Ÿ Kelompok kedua yaitu nomina, verba, ajektiva dan numeralia adalah peristilahan dengan kategori sintaksis.

Ÿ Kelompok ketiga yaitu pelaku, penderita dan penerima adalah peristilahan yang berkenaan dengan peran sintaksis.

Menurut Verhaar (1978) fungsi sintaksis terdiri dari S, P, O, K merupakan kotak-kotak kosong atau tempat kosong yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya.

Contoh:

Nenek melirik kakek tadi pagi

S P O K

Nomina verba nomina nomina

Kata nenek memiliki peran “pelaku” atau agentif, melirik mempunyai peran “aktif”, kakek memiliki peran “sasaran”, tadi padi memiliki peran “waktu”.

Fungsi sintaksis tidak harus selalu berurutan S, P, O, dan K.

Urutannya harus selalu tidak adalah fungsi P dan O. Keempat fungsi itu tidak harus selalu ada pada setiap fungsi sintaksis. fungsi-fungsi mana yang bisa tidak muncul dan fungsi-fungsi mana yang harus selalu muncul, sehingga konstruksi tersebut bisa disebut sebagai sebuah struktur sintaksis.

Ÿ Chafe (1970) menyatakan bahwa yang paling penting dalam struktur sintaksis adalah fungsi predikat. Bagi Chafe predikat harus berupa verba, atau kategori lain yang diverbakan. Verba yang transitif memunculkan fungsi obyek dan verba yang menyatakan lokasi dan akan pula memunculkan fungsi keterangan yang berperan lokatif.

Ÿ Akibat dari pandangan ini, kalimat tanpa predikat = salah. Kata adalah merupakan verba kopula yang sepadan dengan to be dalam bahasa Inggris. Secara deskriptif dalam bahasa Inggris kata kerja to be memang harus selalu digunakan tetapi dalam bahasa Indonesia kata adalah bisa dilepaskan dalam konstruksi kalimat. begitu pula dengan kata menjadi.

Ÿ Akibat lain dari konsep bahwa subyek harus selalu diisi oleh nomina, maka kata berenang pada kalimat adik berenang, dianggap sebagai kategori nomina atau verba yang berfungsi sebagai nomina.

Dalam bahasa Indonesia urutan kata sangat penting tapi dalam bahasa Latin urutan kata tidak diperlukan karena yang memegang peranan penting dalam sintaksis bukan urutan tapi bentuk katanya.

Ÿ Alat sintaksis 3 dalam bahasa tulis tidak dapat digambarkan secara akurat dan teliti sehingga timbul salah paham dalam intonasi. Intonasi dalam bahasa Indonesia itu penting untuk memahami dari suatu kalimat.

Contoh: Kucing / makan tikus mati. Akan berbeda arti dari :

Kucing makan tikus / mati

Kesalahanpahaman terhadap suatu konstruksi sebagai akibat dari kesalahan dalam pemberian tekanan. Konstruksi ambigu/ganda adalah konstruksi yang bisa bermakna ganda sebagai akibat dari tafsiran gramatikal yang berbeda.

Ÿ Alat taksis ke 4 adalah konektor, yang biasanya berupa morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas yang tertutup.

Menurut sifat hubungannya morfem dibedakan menjadi 2 : konektor koordinatif dan konektor subkoordinatif. Konektor koordinatif yaitu konektor yang menghubungkan 2 klausa yang sederajat. Konjungsi yang dipakai : dan, atau, tetapi. Konektor subkoordinatif yaitu konektor yang menggabungkan 2 klausa yang tidak sederajat. Konjungsi yang dipakai: meskipun, karena, kalau.

6.2. Kata Sebagai Satuan Sintaksis

Dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil yang menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar yaitu frase. Ada 2 macam kata : kata penuh (full word) dan kata tugas (function word). Kata penuh adalah kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup dan tidak dapat bersendiri sebagai sebuah satuan tuturan.

Kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup dan tidak dapat bersendiri.

Kata penuh : nomina, verba, adverbia, dan numeralia, ajektifa.

Kata tugas : kata-kata yang berkategori preposisi dan konjungsi

Kata tugas selalu terikat kata yang ada di belakangnya.

Kata-kata yang termasuk kata penuh dapat mengisi salah satu fungsi sintaksis dapat pula berdiri sendiri sebagai jawaban, atau kalimat perintah atau kalimat minor lainnya.

6.3. FRASE

6.3.1. Pengertian Frase

Frase adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif atau lazim disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. karena frasa adalah satuan gramatikal bebas terkecil, maka frase berupa morfem bebas, bukan morfem terikat. Frase tidak terdiri dari subyek – predikat atau predikat – objek. Karena frase merupakan salah satu fungsi sintaksis maka frase tidak dapat dipindah sendirian harus digunakan secara keseluruhan.

Contoh: kamar mandai, tidak boleh dipisah kamar dan mandi.

Perbedaan frase dan kata majemuk yaitu :

Ÿ Kata majemuk: komposisi yang memiliki makna baru atau memiliki satu makna, merupakan morfem terikat.

Ÿ Frase : tidak memiliki makna baru melainkan merupakan fungsi sintaksis dan makna gramatikal, merupakan morfem bebas yang benar-benar berstatus kata.

Contoh: - Meja hijau : pengadilan (kata majemuk)

- Meja saya : saya punya meja (frase)

6.3.2. Jenis Frase

Jenis frase yaitu:

1. Eksontrik

2. Endosentrik (subordinatif)

3. Koordinatif

4. Apositif

6.3.2.1. Frase Eksontrik

Adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengankeseluruhannya. Frase ini dapat mengisi fungsi keterangan.

Contoh: Ayah berdagang di pasar

Komponen di- maupun komponen pasar tidak dapat berdiri sendiri mengisi kata keterangan.

Frase Eksosentrik dibedakan menjadi 2:

1. Frase eksosentrik yang direktif ð komponen pertamanya berupa preposisi seperti di, ke, dan dari, komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata yang berkategori nomina. Karena komponen pertama berupa preposisi maka disebut juga frase preposisional.

Contoh: di pasar, dari kertas

2. Frase eksosentrik nondirektif: komponen pertamanya artikulus (sebutan) komponen ke 2 berupa kata/kelompok kata kategori nomina, ajektifa, atau verba. Misal: si miskin, sang mertua.

6.3.2.2. Frase Endosentrik (Modifikatif) adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya (satu komponen dapat menggantikan keseluruhannya)

Contoh: Harga buku itu murah sekali

Harga buku itu murah

Frase modifikatif karena komponen keduanya yaitu bukan komponen yang bukan inti atau hulu.

Kata lain dari frase endosentrik (modifikatif) yaitu frase subordinatif karena salah satu komponennya yaitu yang merupakan inti frase berlaku sebagai komponen atasan, komponen lainnya : komponen yang membatasi (komponen bawahan)

Contoh: sedang membaca teh celup

Frase dilihat dari kategori intinya yaitu :

Ÿ Frase nominal : frase endosentrik yang intinya berupa nomina atau pronomina. Contoh: sepeda motor.

Ÿ Frase verbal : frase yang intinya berupa kata verba.

Contoh: sudah mandi, sedang makan.

Ÿ Frase ajektiva : frase endosentrik yang intinya berupa kata ajektiva

Contoh: sangat cantik, merah jambu, dll.

Ÿ Frase numeralia : frase endosentrik yang intinya berupa kata numeral

Contoh: tiga belas, dua puluh, dll.

6.3.2.3. Frase koordinatif

Adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama atau sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif baik yang tunggal seperti: dan, atau, maupun konjungsi terbagi seperti baik . . . baik, makin . . . makin, dan baik . . . maupun.

Contoh: sehat dan kuat, makin terang makin baik, dll.

Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut frase parataksis. Contoh: hilir mudik, sawah ladang, dll.

6.3.2.4. Frase Apositif

Adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya dan oleh karena itu urutan komponen dapat dipertukarkan.

Contoh: Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali

Guru saya, Pak Ahmad, rajin sekali.

6.3.3. Perluasan Frase

Frase dapat diperluas artinya frase dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan.

Contoh: Kereta api

Kereta api ekspres

Kereta api ekspres malam

Faktor yang menyebabkan perluasan frase :

1. Harus disesuaikan dengan konsep atau pengetahuan yang ditampilkan

2. Karena pengungkapan konsep kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar dan pembatas tidak dinyatakan dalam afiks seperti bahasa fleksi melainkan dinyatakan dengan unsur leksikal.

3. Keperluan untuk memberi deskripsi terperinci terhadap suatu konsep.

6.4. KLAUSA

6.4.1. Pengertian Klausa

Klausa adalah runtunan kata-kata yang berkonsentrasi predikatif. Artinya di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase yang berfungsi sebagai predikat dan lain sebagai subyek, sebagai objek dan sebagai keterangan.

Ÿ Klausa Verbal adalah klausa yang predikatnya berkategori verba. Berdasarkan tipe verba. Klausa verbal dibagi yaitu:

1) Klausa transitif : klausa yang predikatnya berupa verba transitif.

Contoh: nenek menulis surat.

2) Klausa intransitif : klausa yang predikatnya berupa verba intransitif

Contoh: adik menangis.

3) Klausa refleksif : klausa yang predikatnya berupa verba refleksi

Contoh: kakek sedang mandi

4) Klausa resiprokal : klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal

Contoh: keduanya bersalaman.

Ÿ Klausa nominal adalah klausa yang predikatnya berupa nominal/frase nominal. Contoh: dia dulu dosen di UNNES. Tapi kalimat yang menggunakan kata adalah / ialah bukan merupakan klausa nominal tetapi verba kopula.

Ÿ Klausa ajektiva adalah klausa yang predikatnya berupa ajektiva.

Ÿ Klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berupa adverbia. Contoh: bandelnya teramat sangat.

Ÿ Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berupa frase preposisi.

Ÿ Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berupa kata/frase numeralia.

Klausa berpusat adalah klausa yang subyeknya terikat pada predikatnya

6.5. KALIMAT

6.5.1. Pengertian Kalimat

Kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar yang biasanya berupa klausa, dilengkapi konjungsi, serta disertai intonasi final.

6.5.2. Jenis Kalimat

1. Kalimat Inti dan Kalimat Non Inti

Kalimat inti (kalimat dasar) adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif atau netral dan afirmatif.

Kalimat inti + proses transformasi = kalimat non inti

Kalimat noninti terjadi karena kalimat inti ditambah proses transformasi.

2. Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari satu klausa. Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari 2 klausa atau lebih.

Kalimat majemuk dibagi menjadi 3 :

a. Kalimat majemuk koordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama atau sederajat.

b. Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status tidak sederajat. Konjungsinya: kalau, ketika, meskipun, karena, namun.

c. Kalimat majemuk kompleks adalah kalimat majemuk yang terdiri dari 3 klausa atau lebih, mengandung kalimat majemuk koordinatif dan subordinatif.

S P O K (sebab)

Klausa 1 Klausa 2 + Klausa 3

3. Kalimat mayor dan kalimat minor (berdasarkan lengkap dan tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar kalimat)

Kalimat mayor adalah kalimat yang klausanya sekurang-kurangnya memiliki memiliki unsur subyek dan predikat.

Kalimat minor adalah kalimat yang klausanya hanya terdiri subyek saja, predikat, obyek atau keterangan saja. biasanya merupakan jawaban suatu pertanyaan.

4. Kalimat verbal dan kalimat non verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang predikatnya berupa kata/frase yang berkategori verba.

Kalimat nonverba adalah kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori nonverba yaitu meliputi nominal, adjektival, adverbial, dan numeralial.

Kalimat verbal ada bermacam-macam jenis antara lain:

Ÿ Kalimat transitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang biasanya diikuti oleh sebuah obyek kalau verba tersebut bersifat monotransitif dan diikuti oleh 2 obyek kalau verba tersebut bersifat bitransitif.

Ÿ Kalimat intransitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang tidak memiliki objek.

Ÿ Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja aktif, ditandai dengan prefiks me- dan memper-

Ÿ Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja pasif, ditandai dengan prefiks di- dan diper-

Ÿ Kalimat aktif anti pasif dan kalimat pasif anti aktif karena adanya kalimat aktif yang tidak bisa dipasifkan dan kalimat pasif yang tidak bisa diaktifkan.

Ÿ Kalimat dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan.

Ÿ Kalimat nonverba adalah kalimat yang predikatnya bukan verba.

5. Kalimat bebas dan kalimat terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konfeks lain yang menjelaskannya.

Kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap atau menjadi pembuka paragraf atau wacana tanpa bantuan konteks konjungsi yang digunakan maknanya, oleh karena itu dan jadi.

6.5.3. Intonasi Kalimat

Tekanan, nada, atau tempo bersifat fonemis pada bahasa tertentu. Artinya : ketiga unsur suprasegmental dapat membedakan makna kata karena berlaku sebagai fonem. Dalam bahasa Indonesia intonasi hanya berlaku pada tataran sintaksis.

Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan sebuah kalimat dari sebuah klausa sebab bisa dikatakan kalimat minus intonasi sama dengan klausa, jadi jika sebuah kalimat ditanggalkan bisa menjadi klausa.

Contoh intonasi.

Bacalah buku itu !

2 – 32 t / 21 lt #

n = naik

t = turun

/ = tekanan

Tekanan berbeda menyebabkan intonasi yang berbeda sehingga menimbulkan arti yang berbeda pula.

6.5.4. Modus, Aspek, Kala, Modalitas dan Diatesis

6.5.4.1. Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembaca atau sikap si pembicara tentang apa yang diucapkannya.

Macam-macam modus, antara lain:

1. Modus indikatif atau modus deklaratif yaitu modus yang menunjuk-kan sifat obyektif atau netral.

2. Modus optatif yaitu modus yang menunjukkan harapan atau keinginan.

3. Modus imperaktif yaitu modus yang menyatakan perintah, larangan atau tegahan.

4. Modus introgatif yaitu modus yang menyatakan pertanyaan.

5. Modus obligatif yaitu modus yang menyatakan keharusan.

6. Modus desideratif yaitu modus yang menyatakan keinginan/kemauan

7. Modus kondisional yaitu modus yang menyatakan persyaratan.

6.5.4.2. Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian atau proses.

Macam-macam aspek, antara lain:

1. Aspek kontinuatif yaitu yang menyatakan perbuatan terus berlangsung

2. Aspek insentif yaitu yang menyatakan peristiwa/kejadian yang baru dimulai.

3. Aspek progresif yaitu yang menyatakan perbuatan yang sedang berlangsung.

4. Aspek repetitif yaitu yang menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang.

5. Aspek prefektif yaitu yang menyatakan perbuatan sudah selesai.

6. Aspek imprefektif yaitu yang menyatakan perbuatan berlangsung sebentar.

7. Aspek sesatif yaitu yang menyatakan perbuatan berakhir

6.5.4.3. Kala

Kala atau tenses adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat. Biasanya menyatakan waktu kini, sekarang dan yang akan datang.

6.5.4.4. Modalitas

Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicaraan terhadap hal yang dibicarakan yaitu mengenai perbuatan, keadaan dan peristiwa atau juga sikap terhadap lawan bicaranya.

Macam-macam modalitas:

1. Modalitas intensional : modalitas yang menyatakan keinginan, harapan, permintaan atau juga ajakan.

2. Modalitas epistemik : modalitas yang menyatakan kemungkinan, kepastian dan keharusan.

3. Modalitas deontik : modalitas yang menyatakan kerajinan/ keperkenaan.

4. Modalitas dinamik : modalitas yang menyatakan kemampuan.

6.5.4.5. Fokus

Fokus adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar/pembaca tertuju pada bagian itu.

Cara memfokuskan diri pada kalimat:

1. Memberi tekanan pada kalimat yang difokuskan.

2. Mengedepankan bagian kaliman yang difokuskan.

3. Memakai partikel pun, yang, tentang, dan adalah pada bagian kalimat yang difokuskan.

4. Mengontraskan dua bagian kalimat.

5. Menggunakan konstruksi posesif anarforis gerateseden.

6.5.4.6. Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dilakukan dalam kalimat itu.

Macam-macam diatesis antara lain:

1. Diatesis aktif yakni jika subyek yang berbuat atau melakukan suatu perbuatan.

2. Diatesis pasif jika subyek menjadi sasaran perbuatan.

3. Diatesis reflektif : jika suatu subyek berbuat atau melakukan sesuatu terhadap dirinya sendiri.

4. Diatesis resiprokal : jika subyek yang terdiri dari dua pihak berbuat tindakan berbalasan.

5. Diatesis kausatif : jika subyek menjadi penyebab atas terjadinya sesuatu.

6.6. WACANA

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.

Kekoherensian yaitu adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana tersebut.

Kekoherensian wacana dilakukan dengan :

1. Mengulang kata kunci

2. Menggunakan konjungsi

3. Menggunakan kata ganti

6.6.2. Alat Wacana

Alat-alat gramatikal yang digunakan untuk membuat wacana menjadi kohesif, antara lain:

1. Konjungsi : menghubungkan antar kalimat, antar paragraf.

2. Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anaforis.

3. Menggunakan elipsis : penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat kalimat yang lain.

Sebuah wacana kohesif dan koherens dapat juga dibuat dengan bantuan pelbagai aspek semantif. Caranya:

1. Menggunakan hubungan pertentangan

2. Menggunakan hubungan generik-spesifik/sebaliknya

3. Menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat

4. Menggunakan hubungan sebab akibat diantara isi kedua bagian kalimat

5. Menggunakan hubungan tujuan di dalam isi sebuah wacana

6. Menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat atau pada 2 kalimat pada satu wacana.

6.6.3. Jenis Wacana

Jenis wacana berkenaan sarananya:

1. Wacana lisan

2. Wacana tulisan

Jenis wacana dilihat dari penggunaan bahasa

1. Wacana prosa

2. Wacana puisi

Wacana puisi ini dilihat dari penyampaian isinya dibedakan menjadi:

1. Wacana narasi bersifat menceritakan sesuatu topik atau hal.

2. Wacana eksposisi bersifat memaparkan topik atau fakta.

3. Wacana persuasi bersifat mengajak, menganjurkan atau melarang.

4. Wacana argumentasi bersifat memberi argumen atau alasan terhadap sesuatu hal.

6.6.4. Subsatuan Wacana

Subsatuan wacana meliputi:

1. Bab

2. Subbab

3. Paragraf

4. Subparagraf

6.7. CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN

Urutan hierarki adalah urutan normal teoritis. faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan urutan.

1. Pelompatan tingkat

2. Pelapisan tingkat

3. Penurunan tingkat

Bagian urutan hierarki satuan

- Wacana

- Kalimat

- Klausa

- Frase

- Kata

- Morfem

 

Zainia Mardiani;1402408167 Oktober 17, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 3:23 pm

BAB 6 SINTAKSIS

Istilah morfosintaksis merupakan gabungan dari morfologi dan sintaksis. Istilah ini muncul untuk menyebut kedua bidang itu sebagai satu bidang pembahasan. Meskipun demikian, orang biasa membedakan kedua tataran itu dengan pengertian morfologi membicarakan struktur internal kata sedangkan sintaksis membicarakan kata dalam hubungannnya dengan kata lain atau unsur-unsur lain sebagai suatau satuan ujaran. Secara etimologi, istilah sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.

6.1 Struktur Sintaksis

Secara umum struktur sintaksis terdiri dari susunan subjek (s), predikat (p), objek (o) dan keterangan (k). istilah nomina, verba ajektiva dan numeralia adalah istilah yang berhubungan dengan kategori sintaksis. sedangkan peran sintaksis berhubungan dengan istilah pelaku, penderita dan penerima.

Menurut Verhaar (1978) fungsi sintaksis yang terdiri dari S, P, O dan K merupakan kotak-kotak kosong atau tempat-tempat kosong yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu.

Keempat fungsi tidak harus selalu ada dalam setiap struktur sintaksis. Banyak pakar yang mengatakan bahwa suatu struktur sintaksis minimal harus memiliki fungsi subjek dan predikat, sedangkan objek dan keterangan boleh tidak muncul.

6.2 Kata sebagai Satuan Sintaksis

Dalam tataran morfologi kata adalah satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem) tetapi dalam tataran sintaksis merupakan satuan terkecil yaitu dalam hubungannnya dengan unsur-unsur pembentuk satuan yang lebih besar yaitu frase, klausa dan kalimat. Kata berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis, penanda kategori sintaksis dan perangkai dalam penyatuan satuan atau bagian dari satuan sintaksis. Ada dua macam kata yaitu kata penuh dan kata tugas.

6.3 Frase

6.3.1 Pengertian Frase

Frase adalah gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintakasis di dalam kalimat, sehingga salah satu unsur tidak dapat dipindahkan sendirian. Frase tidak memiliki makna baru melainkan makna sintaksis atau gramatikal komponen-komponen frase dapat disela unsure lain dan selalu terdiri dari morfem bebas.

6.3.2 Jenis Frase

6.3.2.1 Frase Eksosentrik

Frase yang komponen-komponennnya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannnya. Secara keseluruhan atau secara utuh frase dapat mengisi fungsi keterangan.

6.3.2.2 Frase Endosentrik

Frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Artinya salah satu unsur dapat menggantikan kedudukan keseluruhannnya. Biasa disebut juga frase subordinatif. Dilihat dari kategori intinya dapat dibedakan adanya frase nominal, verbal, abjektival dan numeral.

6.3.2.3 Frase Kooordinatif

Frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal maupun terbagi. Frase ini tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit (ftrase parataksis)

6.3.2.4 Frase Apositif

Frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya, sehingga urutan komponennya dapat dipertukarkan.

6.3.3 Perluasan Frase

Frase dapat diperluas artinya frase dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan.

6.4 Klausa

tataran di dalam sintaksis yang berada di atas tataran frase dan dibawah tataran kalimat.

6.4.1 Pengertian Klausa

Satuan sintaksis yang berupa runtutan kata-kata berkontruksi predikatif. Artinya ada komponen berupa kata atau frase yang berfungsi sebagai predikat dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek dan keterangan. Klausa berpotensi untuk menjadi kalimat mayor, letak klausa adalah didalam kalimat. Klausa berpotensi sebagai kalimat tunggal karena didalamnya sudah ada fungsi sintaksis wajib yaitu subjek dan predikat.

6.4.2 Jenis Klausa

Berdasarkan strukturnya dibedakan menjadi klausa bebas (strukturnya lengkap) dan klausa terikat (strukturnya tidak lengkap). Sedangkan berdasarkan kategori unsur segmentalyang menjadi predikatnya dapat dibedakan menjadi klausa verba, nominal, ajektifal, adverbial dan preposisional.

6.5 Kalimat

6.5.1 Pengertian Kalimat

Secara umum berarti susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. Secara khusus berarti satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan serta disertai dengan intonasi final. Intonasi final yang memberi ciri kalimat ada tiga yaitu intonasi deklaratif (tanda titik), intonasi interogatif (tanda tanya), dan intonasi seru (tanda seru)

6.5.2 Jenis Kalimat

6.5.2.1 Kalimat Inti dan Kalimat Non-Inti

Kalimat inti/dasar adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, akif atau netral dan afirmatif. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non inti dengan proses transformasi misalnya pemasifan, pengingkaran, penanyaan, pemerintahan, penginversian, pelepasan dan penambahan. Kalimat inti yang ditambah proses transformasi akan menbentuk kalimat non inti.

6.5.2.2 Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Kalimat tunggal memiliki satuan klausa sedangkan kalimat majemuk memiliki lebih dari satu. Kalimat majemuk berdasarkan sifat hubungan klausa-klausa dalam kalimat terbagi menjadi kalimat majemuk koordinatif (setara), subordinatif (bertingkat) dan kompleks.

6.5.2.3 Kalimat Mayor dan Kalimat Minor

Kalimat mayor memiliki klausa yang lengkap minimal ada subjek dan predikat sedangkan kalimat minor klausanya tidak lengkap.

6.5.2.4 Kalimat Verbal dan Non Verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal atau kalimat yang yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verba sedangkan kalimat non verbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal.

        1. Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap atau menjadi pembuka paragraf atau wacana tanpa bantuan konteks.

6.5.3 Intonasi Kalimat

Salah satu alat sintaksis yang penting dan merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa. Aapbila intonasi daris ebuah kalimat ditanggalkan maka sisanya yang tinggal adalah klausa.

Ciri-ciri intonasi antara lain tekanan yaitu ciri suprasegmental yang menyertai bunyi ujaran. Tempo yaitu waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran. Dan nada yaitu unsur suprasegmental yang diukur berdasarkan kenyaringan suatu segmen dalam suatu arus ujaran.

6.5.4 Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus dan Diatesis

6.5.4.1 Modus

Pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara atau sikap si pembicara tentang apa yang diucapkannnya. Ada beberapa modus yaitu modus indikatif dan deklaratif, optatif, imperatof, interogatif, obligatif, desideratif dan kondisional.

6.5.4.2 Aspek

Cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian atau proses. Ada beberapa aspek yaitu aspek kontinuatif, inseptif, progresif, porfektif, imperfektif dan sesatif.

6.5.4.3 Kala

Informasi alam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat.

6.5.4.4 Modalitas

Keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan yaitu mengenai perbuatan, peristiwa atau keadaan atau juga sikap terhadap lawan pembicaranya. Ada beberapa modalitas yaitu modalitas intensional, opistemik, deontik dan dinamik.

6.5.4.5 Fokus

Unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar atau pembaca tertuju pada bagian itu.

6.5.4.6 Diatesis

Gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu. Ada bebarapa diatesis yaitu diatesis aktif, pasif, refleksif, resiprokaf dan kausatif.

6.6. Wacana

6.6.1 Pengertian Wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap sehingga dalam hirearki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Sebagai satuan terbesar maka dalam wacana itu terdapat konsep, gagasan, pikiran atau ide yang utuh yang bisa dipahami oleh pembaca dan pendengar tanpa keraguan apapun. Kekohesian yaitu adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana.

6.6.2 Alat Wacana

Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif antara lain:

  1. konjungsi yakni alat untuk menghubungkan bagian kalimat atau paragraf.

  2. menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini dan itu sebagi rujukan anaforis

  3. menggunkan elipsis yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat pada kalimat yang lain.

dan bisa dengan bantuan aspek semantik yaitu menggunakan hubungan pertentangan dan perbandingan, generik-spesifik, sebab dan akibat, tujuan di dalam isi sebuah wacana, rujukan yang sama.

6.6.3 Jenis Wacana

Sesuai dengan sudut pandang dilihatnya ada wacana lisan dan tulis, prosa dan puisi, narasi eksposisi persuasi dan argumentasi.

6.6.4 Subsatuan Wacana

Dalam karangan ilmiah subsatuannya disebut sebagai bab, subbab, paragraf atau juga subparagraf. Tapi dalam wacana singkat tidak ada.

6.7 Catatan Mengenai Hierarki Satuan

Satuan yang kecil akan membentuk satuan yang lebih besar. Fonem akan membentuk morfem lalu membentuk kata lalu frase kemudian klausa selanjutnya akan membentuk kalimat dan pada akhirnya akan membentuk wacana.

Dalam praktek bahasa banyak terjadi faktor penyebab penyimpangan urutan yaitu pelompatan tingkat, pelapisan tingkat dan penurunan tingkat.

Zainia Mardiani

1402408167

 

KHALIFATUL UNSA;1402408333

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 3:04 pm

NAMA :KHALIFATUL UNSA

NIM :1402408333

BAB 6

TATARAN LINGUISTIK (3)

SINTAKSIS

Morfologi dan sintaksis adalah bidang tataran linguistik yang secara tradisional di sebut tata bahasa atau gramatika.

Perbedaan morfologi dan sintsksis :

morfologi membicarakan struktur internal kata

sintaksis membicarakan kata dalam hubugannya denga kata lain atau unsur lain sebagai satuan ujaran.

Dalam pembahasan sintaksis yang baiasa di bicarakan adalah (1)struktur sintsksis ysng mencakup masalah fungsi ,kategori ,dan peran sintaksis,serta alat-alat yang di gunakan dalam membamngun strutur itu.(2)satuan sintaksis yang berupa kata frase,klausa ,kalimat dan wacana.(3)hal lain yang berkenaan dengan sintaksis seperti modus aspek dan sebagainya.

STRUKTUR SINTAKSIS

Stuktur sintaksis terdiri dari subjek(s),predikat(p),objek(o),dan keterangan (k)

Contoh kalimat :adik membeli nasi di warung

Struktur kalimat :adik:subjek,mermbeli=predikat ,nasi=objek,di warung=keterangan

KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS

Pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis,harua kita bedakan dulu 2macam —— kata,yaitu kata penuh (fullward)dan kata tugas(functionward)

Kata penuh adalah kata yang secara leksikal memiliki makna mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses metologi.merupakan kelas terbuka dan dapat berdiri sendiri sebagai sebuah satuan tuturan.kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna tidak mengalami proses morfologi merupakan kelas tertutup dari dalam penuturan tidak dapat berdiri sendiri

Yang termasuk kategori nomina,verba ,adjektiva,adverbial,dan numeralia.sedangkan yang termasuk kata tugas kata-kata yang berkategori preposisi dan konjungsi sebaga kata penuh,kata-kata yang berkategori nomina,verba,adjektiva memiliki makna leksikal masing2 misalnya,kucing dan masjid.

FRASE

Di sini istilah frase di gunakan sebagai satuan sintaksis yang satu tingkat berada di bawah satuan klausa,atau 1tingkat berada di atas satuan kata satuan klausa,atau 1tingkat berada di atas satuan kata:

PENGERTIAN FRASE

Frase sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif atau gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat .pembentuk frase harus berupa morfom bebes,bukan berupa morfem terikat.

JENIS FRASE

Di bedakam menjafi 4:

  1. frase eksosentik

  2. frase endosentik

  3. frase koordinatif

  4. frase opositif

  1. frase eksosentrik adalah frase yang komponen2nya tidak mempunyai perilaku sintaksis yamg sama dengan keseluruhannya

  2. frase endosentrik adalah frase yang salah1 unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.

c) Frase kopordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari 2 komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secra potensial dapat di hubungkan oleh konjungsi koordinatif maupun kanjungsi terbagi frase koordinatif

Yang tidak mengunakan konjungsi secara eksplisit .biasanya di sebut frase parataksis

d)frase opositif adalah frase koordinatif yang ke 2 komponennya saling merujuk sesamanya oleh karena itu urutan komponennya dapat di pertukarkan .

PERLUASAN FRASE

Dalam bahasa Indonesia perluasan frase sangat produktif karena untuk menyatukan konsep2 khusus biasanya di terangkan secara leksikal dan ke2 produk sanagt produket pengugkapan konsep kala,modalitas ,aspek,jenis ,jumlah dan lain2.

KLAUSA

Klausa meripakan tataran di dalam sintaksis yang berada di atas tataran frase dan di bawah tataran kalimat.

PENGERTIAN KALUAS

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata2 berkonstruksi prediktif artinya di dalam konstruksi itu ada komoonen berupa kata frase

JENIS KLAUSA

Klausa dapat di bedakan berdasar stukturnya.yang di maksud klausa bebas adalah klausa mempuyai unsur2 lengkap.mempunyai predikat danb kalimat mayor

PENGERTIAN KALIMAT

Kalimat adalah satuan sintaksis yang di susun dari konstituen dasar

JENIS KALIMAT

a)Kalimat inti dan kalimat non inti

b)kalimat mayor dan minor

c)kalimat verbal dan non verbal

d)kalimat bebas dan kalimat terikat

INTONASI KALIMAT

Intonasi kalimat adalah tekanan ,nada,tempo,pada bahasa2 tertentu tidak berlaku pada tatarn fonologi dan morfologi pada tataran sintaksis

MODUS

Modus adalah pengugkapan /pengammbaran suasana pisokologis perbutan menurut tafsiran si pembicara tentang apa yang diucapkannya.

Macam-macam modus :

-modus indikatif

-modus optatif

-modus imperative

-modus interagatif

-modus obligatif

-modus desideratif

-modus kondisionsal

ASPEK

Adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi keadaan,kejadian,proses.

Mmacam2 aspek:

-aspek kontinuatif

-aspek progesif

-aspek repetitive

-aspek prefektif

-aspek imperfektif

-aspek srsatif

KALA

Adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktuterjadinay perbuatan pada waktu lampau ,.sekarang,dan akan lampau

MODALITAS

Adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang di bicarakan.

Jenis2 modalitas :

-modalitas internasional

-modalitas episcemik

-modalitas deontik

-modalitas dinamik

FOKUS

Adalah unsur yang menonjolkan bagian kaliamt sehingga perhatian pendengar atau pembaca tertuju pada bagian itu.

DIATESIS

Adalah gambaran hubungan antar pelaku dalam perbuatan yang din kemukakan dalam kalimat itu.

Macam diatesis :

-diatesis aktf

-diatesis pasif

-diatesis refleksif

-diatesis resiprokal

-diatesis kausatif

WACANA

Adalah satuan bahasa yang lengkap dalam hierrki gramatikal meruoakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar

ALAT WACANA

1)konjugasi

2)mengunakan kata ganti

3)mengunakan ellipsis

JENIS WACANA

1.Wacana narasi

2. wacana eksposisi

3. wacana persusi

4. wacana argumentasi

CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN

Sebuah kata/frase dengan persaratan tertentu dapat menjadi sebuah kalimat.Urutanhierarki adalah urutan norma teoritis dalam praktek bahsa banyak faktor yang menyebakan terjadinya penyimpangan urutan.urutan normal bisa di catat adanya kasus (1)pelompatan tingkat (2)pelapisan tingkat (3)penurunan tingkat.

Pelapisan tingaktb tertjadi kalau sebuah konstituen menjadi unsur pada konstruksi yang tingkatanya sama.penurunan tingakat terjadi apabila sebuah konstituen menjadi unsur konstituen lain yang tingkatanya lebih renda dari tinkatan konstituen asalnya.

 

Tri Hartanti;1402408060

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 9:39 am

Nama : Tri Hartanti

NIM : 1402408060

Rombel : 1

6. TATARAN LINGUISTIK (3): SINTAKSIS

6.1 Struktur Sintaksis

Struktur sintaksi terdiri dari fungsi, kategori dan peran sintaksis, serta alat-alat untuk membangun struktur tersebut.

Fungsi sintaksis terdiri dari subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K) yang diibaratkan seperti kotak-kotak kosong yang tidak punya arti.

Kategori sintaksis adalah sesuatu yang akan mengisi fungsi sintaksis sehingga menjadi bermakna. Yang termasuk kategori sintaksis yaitu : nomina, verba, ajektiva, dan numeralia.

Peran sintaksis yaitu peran kategori pada sintaksis, misalnya sebagai pelaku, sasaran, waktu, dan sebagainya.

Contoh :

Ibu menyapu halaman tadi pagi.

Fungsi subjek diisi oleh kata ibu yang berkategori nomina dan berperan sebagai pelaku.

Susunan fungsi sintaksis tidak harus S, P, O, K. Yang tampak urutannya harus tetap adalah predikat dan objek. Suatu struktur sintaksis minimal harus memiliki fungsi predikat.

Alat-alat yang digunakan dalam pembangunna struktuk sintaksis adalah urutan kata, bentuk kata,intonasi dan konektor.

Urutan kata merupakan letak atau posisi kata satu dengan yang lainnya dalam suatu konstruksi sintaksis. Dalam Bahasa Indonesia, perbedaan urutan kata dapat menimbulkan makna yang berbeda.

Bentuk kata di dalam Bahasa Indonesia juga mempengaruhi makna. Misal: melirik menjadi dilirik.

Intonasi menentukan perbedaan modus kalimat apakah itu kalimat deklaratif, interogatif atau yang lainnya.

Konektor biasanya berupa morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas tertutup, yang bertugas menghubungkan satu konstituen dengan lainnya. Ada dua macam konektor yaitu :

  1. Konektor koordinatif : menghubungkan dua konstituen setara. Kata hubung yang digunakan biasanya adalah dan, atau, tetapi.
  2. Konektor subkoordinatif : menghubungkan dua konstituen yang tidak setara atau bertingkat. Kata hubung yang digunakan adalah kalau, meskipun, karena.

6.2 Kata sebagai Satuan Sintaksis

Kata adalah satuan terkecil dan bebas dalam sintaksis. Terkecil karena tidak dapat dibagi lebih kecil lagi. Bebas karena dapat berdiri sendiri dalam kalimat atau sebagai penuturan.

Ada dua macam kata, yaitu :

  1. kata penuh

Kata yang dapat mengalami proses morfologi (bisa diberi imbuhan), dan dapat berdiri sendiri sebagai tuturan. Yang termasuk kata penuh yaitu kata yang berkategori nomina, verba, ajektiva, numeralia dan adverbia. Contoh : masak, memasak.

  1. Kata tugas

Kata yang tidak mengalmi proses morfologi, dan tidak dapat berdiri sebagai tuturan. Yang termasuk kata tugas yaitu kata yang berkategori preposisi dan konjungsi. Contoh : dan, meskipun.

Dari kedua kata tersebut, hanya kata penuh yang dapat mengisi fungsi sintaksis.

6.3 Frase

6.3.1 Pengertian

Frase adalah satuan gramatikal berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif yang mengisi salah satu fungsi sintaksis. Pembentuk frase adalah morfem bebas. Frase tidak mempunyai predikat. Contoh : kamar mandi, bukan sepeda.

Frase mungkin untuk diselipi kata lain. Contoh : adik saya menjadi adik milik saya.

Salah satu unsur frase tidak dapat dipindahkan sendiri, melainkan harus bersama-sama. Contoh :

Nenek membaca koran di teras depan.

Depan nenk membaca koran di teras. (tidak berterima)

6.3.2 Jenis Frase

6.3.2.1Frase eksosentrik

Yaitu frase yang komponennya tidak memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misal frase di pasar. Secara utuh dapat mengisi fungsi keterangan, tapi komponen di atau pasar saja tidak dapat menduduki fungsi tersebut. Frase eksosentrik dibedakan menjadi :

- frase eksosentrik direktif

Frase eksosentrik yang komponen pertama berupa preposisi (di, dari, ke) dan komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina.

Frase ini disebut juga frase preposisional karena komponen pertama berupa preposisi. Contoh : di pasar, dari kayu jati, demi kemakmuran, dsb.

- frase eksosentrik non direktif

Frase eksosentrik yanga komponen pertama berupa artikulus si, sang atau kata lain seperti yang, para, kaum, sedang komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, ajektifa, dan verba. Contoh : si miskin, para jurnalis,kaum cendekiawan.

6.3.2.2 Frase endosentrik

Yaitu frase yang salah satu unsurnya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Salah satu unsurnya dapat menggantikan kedudukan keseluruhan. Contoh : sedang membaca menjadi membaca.

Frase endosentrik disebut juga frase modifikasi karena komponen kedua mengubah atau membatasi makna komponen pertama. Contoh : membaca, diberi sedang berarti pekerjaan sedang berlangsung.

Selain disebut sebagai frase modofikasi, juga sering disebut sebagai frase subordinatif karena salah satu komponennya berlaku sebagai komponen atasan (inti) dan yang lainnya sebagai komponen bawahan. Frase subordinatif, dilihat dari kategori intinya ada frase nomina, verba, ajektifa, dan numeral.

6.3.2.3 Frase koordinatif

Yaitu frase yang terdiri dari dua atau lebih komponen yang sederajat dan dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif (dan, atau, tetapi, baik…maupun). Contoh : sehat dan kuat, buruh atau majikan.

Frase koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut frase parataksis. Contoh : hilir mudik, tua muda.

6.3.2.4 Frase apositif

Yaitu frase yang kedua komponmennya saling merujuk sesamanya sehingga urutannya dapat dipertukarkan. Contoh :

Pak Ahmad, guru saya, sedang sakit, menjadi

Guru saya, Pak Ahmad,sedang sakit.

6.3.3 Perluasan Frase

Biasanya dilakukan di sebelah kanan atau kiri. Dalam Bahasa Indonesia, perluasan frase sangat produktif karena :

1) untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus.

2) pengungakapan konsep kala, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar dan pembatas tidak dinyatakan dengan afiks.

3) keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci.

6.4 Klausa

6.4.1 Pengertian

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata berkonstruksi predikatif. Artinya dalam konstruksi itu wajib ada komponen (kata atau frase) yang berfunsi sebagai predikat. Dalam klausa, subjek juga wajib ada. Objek wajib ada jika predikat berupa verba transitif. Jika bukan verba transitif, maka yang muncul adalah pelengkap. Keterangan tidak wajib dalam klausa.

Klausa jika diberi intonasi final akan berpotensi menjadi kalimat mayor,sedang kata akan menjadi kalimat minor.

6.4.2 Jenis klausa

1) berdasarkan strukturnya :

- klausa bebas

yaitu klaua yang punya unsur-unsur lengkap sekurang-kurangnya subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat mayor.

- klausa terikat

struktur tidak l;engkap, mungkin hanya S saja, P saja, O saja, aau K saja dan tidak berpotensi menjadi kalimat mayor. Klausa ini biasa dikenali dengan adanya konjungsi subordinatif di depannya disebut klausa subordinatif (bawahan) yang hadir bersama klausa atasan.

2) berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya :

Dibedakan menjadi klausa verbal, numeral, nominal, ajektifal, advertbial, dan proposisional.

Klausa verbal dibedakan menjadi klausa transitif, intransitive, refleksif, dan resiprokal.

6.5 Kalimat

6.5.1 Pengertian

Kalimat adalah satuan yang langsung digunakan dalam berbahasa. Atau satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar , klausa, dilengkapi konjungsi bila diperlukan. Kalimat bisa berasal dari klausa yang diberi intonasi final.

6.5.2 Jenis kalimat

6.5.2.1 Kalimat inti dan non inti

K alimat inti (dasar) adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif/netral, dan afirmasif. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non inti dengan berbagai transformasi : pemasifan, pengingkaran, penanyaan, dsb.

Kalimat inti + transformasi = kalimat non inti

6.5.2.2 Kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Perbedaan keduanya berdasarkan banyaknya klausa dalam kalimat. Jika terdiri dari satu klausa, disebut kalimat tunggal. Jika terdiri dari dua atau lebih klausa disebut kalimat majemuk.

Berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa dalam kalimat, kalimat majemuk dibedakan menjadi :

- kalimat majemuk koordinatif (setara)

Klausa-klausanya punya status yang sama. Biasanya dihubungkan dengan konjungsi dan, atau, tetapi dan lalu. Bisa juga tanpa menggunakan konjungsi.

- kalimat majemuk subkoordinatif (bertingkat)

Klausa-klausanya punya status yang tidak sama. Klausa satu disebut klausa atasan, sedang lainnya disebut klausa bawahan. Konjungsi yang digunakan : kalau, ketika, meskipun, dan karena.

Proses terbentuknya kalimat majemuk subkoordinatif ada dua sudut yang bertentangan :

- sebagai hasil penggabungan dua klausa atau lebih

- hasil proses perluasan terhadap salah satu unsur klausanya

Kalimat majemuk kompleks yaitu kalimat yan terdiri dari tiga klausa atau lebih, ada yang dihubungkan secara koordinatif dan juga subkordinatif sehingga merupakan campuran dari koordinatif dan subkoordinatif dan disebut sebagai kalimat majemuk campuran.

6.5.2.3Kalimat mayor dan minor

Perbedaannya berdasarkan lengkap tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar. Kalimat mayor harus punya subjek dan predikat.Jika tidak ada salah satunya, maka termasuk kalimat minor.

6.5.2.4 Kalimat verbal dan nonverbal

Kalimat verbal dibentuk dari klausa verbal, predikat berkategori verba. Kalimat verbal dibedakan menjadi kalimat intransitive, trnsitif, pasif, aktif, dinamis, dan statis.

Kalimat non verbal yaitu kalimat yang predikatnya bukan verba.

6.5.2.5Kalimat bebas dan terikat

Pembedaan dikaitkan dengan paragraf yang kalimat-kalimatnya adalah satuan-satuan yang berhubungan.

Kalimat bebas dapat disendirikan, dapat memulai suatu paragraf dan berpotensi menjadi ujaran lengkap.

Sedang kalimat terikat tidak dapat disendirikan, harus terikat dengan kalimat lain, tidak dapat memulai suat paragraf, dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah ujaran lengkap.

6.5.3Intonasi kalimat

Intonasi merupkan ciri utama yang membedakan kalimat dari klausa.

Macam intonasi :

- Tekanan : ciri-ciri suprasegmental yang menyertai ujaran

- Tempo : waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan suatu arus ujaran

- Nada : diukur berdasarkan kenyarinagn ssuatu segmen.

6.5.4 Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis

6.5.4.1Modus

Modus adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara. Atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya. Beberapa macam modus antara lain :

- modus indikatif / deklaratif : menunjukkan sikap objektif / netral.

- modus optatif : menunjukkan harapan / keinginan

- modus imperative : menunjukkan perintah / larangan

- modus anterogatif : menyatakan pertanyaan

-modus obligatif : menyatakan keharusan

- modus desideratif : menyatakan keinginan / kemauan

- modus kondisional : menyatakan persyaratan

6.5.4.2 Aspek

Aspek adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal dalam suatu situasi. Macam aspek antara lain :

- aspek kontinuatif : menyatakan perbuatan terus berlangsung

- aspek repetitive : menyatakan perbuatan berulang-ulang

-aspek insentif : menyatakan perbuatan baru dimulai

- aspek progresif : menyatakan perbuatan sedang berlangsung

- aspek imperfektif : menyatakan perbuatan hanya berlangsunga sebentar

- aspek sesatif : menyatakan perbuatan sudah berakhir

6.5.4.3 Kala

Kala adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan yang disebutkan dalam predikat. Kala menyatakan waktu sekarang (sedang), sudah lampau (sudah), dan akan datang (akan).

Perbedaan kala dengan keterangan waktu adalah kala terikat pada predikatnya, sedang keterangan dapat berpindah di awal atau akhir kalimat.

6.5.4.4 Modalitas

Modalitas adlah keterangan yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, dapat berupa pernyataan kemungkinan, keinginan, keizinan dan yang lainnya. Jenis-jenis modalitas :

- intensional (keinginan, harapan, permintaan, dan ajakan)

- epistemik ( kemungkinan, kepastian, dan keharusan)

- deontik (keizinan, keperkenaan)

- dinamik (kemampuan)

6.5.4.5Fokus

Fokus adalah unsure yang menonjolkan bagian kalimat sehinggas perhatian pendengar / pembaca tertuju pada bagian itu. Dalam Bahasa Indonesia pemberian fokus dapat dilakukan dengan berbagai cara :

- pemberian tekanan

- mengedepankan bagian yang ditonjolkan

- memakai pertikel pun,yang,tentang dan adalah pada bagian tersebut

- mengontraskan dua bagian kalimat

- menggunakan konstruksi posesifanaforis beranteseden

6.5.4.6 Diatesis

Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku dengan perbuatan. Macam diatesis :

- aktif (subjek melakukan pekerjaan)

- pasif (subjek dikenai pekerjaan)

- refleksif ( subjek berbuat untuk dirinya sendiri)

- resiprokal (subjek terdiri dari 2 pihak berbuat berbalasan)

- kausatif (subjek penyebab terjadinya sesuatu)

6.6Wacana

6.6.1Pengertian

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap dan merupakan satuan gramatikal teringgi. Wacana dibentuk oleh kalimat-kaliamat yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyaratan kewacanaan lainnya.

Persyaratan gramatikal dipenuhi jika wacana sudah terbina kekohesian yang ditandai dengan keserasian hubungan antar kalimat.

6.6.2 Alat wacana

Alat wacana digunakan untuk membuat wacana yang kohesif dan kohern. Ada 2 aspek, yaitu :

1) aspek gramatikal

- konjungsi (penghubung)

- kata gantio dia,-nya, mereka, ini dan itu sebagai rujukan anaforis

- menggunakan elipssis (penghilangan bagian kalimat yang sama)

2) aspek semantic

- hubungan pertentangan

- generic-spesifik dan sebaliknya

- hub. Perbandingan

- hub sebab-akibat

- hub tujuan

- rujukan yang sama

6.6.3 Jenis wacana

1) Berdasarka sarana : wacana lisan dan tulis

2) Berdasarkan penggunaan bahsa : wacana prosa dan puisi

3) Berdasarkan isi : narasa, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

6.6.4 Subsatuan wacana

Wacana yang berupa karangan ilmiah, dibangun oleh subsatuan bab, subbab,. paragraph, subparagarf. Wacana singkat tidak ada subsatuannya.

6.7 Catatan mengenai Hierraki Satuan

Satuan yang satu tingkat lebih kecil akan membentuk satuan yang lebih besar. Fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, wacana.

 

CANDRA JULIANSYAH;1402408239 Oktober 16, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 1:02 pm

Nama : CANDRA JULIANSYAH

NIM : 1402408239

BAB 6

SINTAKSIS

Sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu “sun” yang berarti “dengan” dan kata “tattein” yang berarti “menempatkan”. Secara etimologi sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata / kalimat.

Pembahasan sintaksis meliputi :

A. STRUKTUR SINTAKSIS

Meliputi tentang fungsi sintaksis, kategori sintaksis dan peran sintaksis. Menurut Verhaar (1978) fungsi-fungsi sintaksis itu yang terdiri dari unsur-unsur SPOK itu merupakan ”kotak-kotak kosong” atau ”tempat-tempat kosong” yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat-tempat kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu.

Contoh :

ü Nenek melirik kakek tadi pagi.

Tempat kosong yang bernama subjek diisi oleh kata ”nenek” yang berkategori ”nomina” yang memiliki peran ”pelaku (agentif). ”Predikat diisi oleh kata ”melirik” yang berkategori ”verba” yang memiliki peran ”aktif”. Objek diisi oleh kata ”kakek” yang berkategori ”nomina” yang memiliki peran ”sasaran”. Tempat kosong yang bernama keterangan diisi oleh frase ”tadi pagi” yang berkategori ”nomina” yang memiliki peran ”waktu”.

Struktur sintaksis menimal harus memiliki fungsi subjek dan predikat. Sedangkan objek dan keterangan boleh tidak muncul.

Konektor adalah alat sintaksis yang biasanya berupa sebuah morfem atau gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas yang tertutup. konektor itu bertugas menghubungkan satu konstituen dengan konstituen lain, baik yang beada diluar kalimat. Dilihat dari sifat hubungannya koektor ada dua macam :

  1. Konektor koordinatif

Adalah konektor yang menghubungkan dua buah konstituen yang sama kedudukannya atau sekerajat. Konjungsi koordinatif seperti dan, atau, & tetapi dalam bahasa Indonesia adalah konektor koordinatif.

Contoh :

ü Nenek ”dan kakek pergi berburu.

ü Dia memang galak tetapi hatinya baik.

  1. Konektor subordinatif

Adalah konektor yang menghubungkan dua buah konstituen yang kedudukannya tidak sederajat. Maksudnya konstituen yang satu merupakan konstituen atasan dan konstituen yang lain menjadi konstituen bawahan. Konjungsinya kalau, meskipun dan karena. Contoh :

ü Kalau diundang, saya tentu akan datang.

ü Dia pergi juga meskipun hari hujan.

B. KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS

Dalam tatasan morfologi ”kata’ merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem). Tetapi dalam tataran sintaksis ”kata” merupakan satuan terkecil, yang secara hierarkeal menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase. Dalam bab ini ”kata” hanya dibicarakan sebagai satuan terkecil dlam sintaksis, yaitu dalam hubungannya dengan unsur-unsur pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat.

Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, ”kata” berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis, sebagai penanda katerori sintaksis dan sebagai perangkai dalam penyatuan satuan-satuan / bagian-bagian dari satuan sintaksis. ”Kata” dibedakan menjadi 2 macam :

  1. Kata penuh (fullsord)

Adalah kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat bersendiri sebagai sebuah satuan tuturan. Seperti kata ”kucing” di beri prefiks ber-disetai perulangan, & di beri surfiks –an, menjadi ”berkucing-kucingan”.

  1. Kata tugas (function word)

Adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam peraturan dia tidak dapat berdiri sendiri. Sesuai dengan namanya, yaitu kata tugas, dia selalu terikat dengan kata yang ada dibelakangnya (untuk konjungsi), atau yang ada di depannya (untuk preposisi), dan dengan kata-kata yang dirangkaikannya (untuk konjungsi).

Contoh :

ü Bu Leoni sedang membahas penggunaan preposisi in, on dan at dalam bahasa Inggris. Maksudnya yang dibahas bu Leoni bukan in, on dan at itu, melainkan preposisi in, preposisi on, dan preposisi at.

C. FRASE

Frase Lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Jadi, hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase itu tidak berstruktur “SP” atau “PD”. Maka frase adalah konstituen pengisi fungsi-fungsi sintaksis, sehingga salah satu unsur frase itu tidak dapat dipindahkan “sendirian”.

Contoh frase :

Nenek saya sedang membaca buku humor di kamar tidur

S P O K

  1. Jenis-jenis frase.
    1. Frase Eksosentrik

Adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai prilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan. Misal : frase “di pasar”, terdiri dari komponen “di” & komponen “pasar”. Secara utuh frase ini dapat mengisi fungsi keterangan. Frase eksosentrik dibedakan menjadi:

1) Frase eksosentrik yang direktif

Komponen pertamanya berupa preposisi, seperti “di,ke dan dari” dan komponen berupa kata/kelompok kata yang biasanya berkategori nomina.

Contoh :

ü di pasar

ü dari kayu jati

ü demi keamanan

2) Frase eksosentrik yang non direktif

Komponen pertamanya berupa artikulus, seperti “si” dan “sang” atau”yang”, “para” dan “kaum”, sedangkan komponen keduanya berupa kata berkategori nomina, adjektiva atau verba

Contoh : – si miskin

- para remaja masjid

    1. Frase Endosentrik

Adalah frase yang salah satu komponennya memiliki perilaku sintaksias yang sama dengan keseluruhannya.

Misal :

ü Nenek sedang membaca komik di kamar.

ü Nenek membaca komik di kamar

yang berarti ”membaca” dapat menggantikan frase” sedang membaca”

    1. Frase Koordinatif

Adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal (dan, atau, tetapi) maupun konjungsi terbagi (baik….baik, makin…makin, baik….maupun….).

Contoh :

ü sehat dan kuat

ü makin terang makin baik.

    1. Frase Apositif

Adalah frase yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya, oleh karena itu urutan komponennya dapat dipartukarkan.

Contoh ::

ü Pak Ahmad, guru saya, rajin sekali.

  1. Perluasan Frase

Dalam Bahasa Indonesia perluasan frase ini tampakny sangat produktif, antara lain karena adanya faktor :

    1. Untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau sangat khusus atau sangat khusus sekali biasanya diterangkan secara leksikal.

Contoh :

ü kereta

ü Kereta api

ü Sebuah kereta api ekspres

    1. Bahwa pengungkapan konsep kata, modalitas, aspek, jenis, jumlah, ingkar, dan pembatas tidak dinyatakan dengan afiks seperti dalam bahasa-bahasa fleksi, melainkan dinyatakan dengan unsur leksikal.
    2. Keperluan untuk memberi deskripsi secara terperinci terhadap konsep terutama untuk konsep nomina, biasanya digunakan konjungsi “yang” untuk penyambung keterangan-keterangan tambahan.

Contoh :

ü Kakak saya meninggal minggu lalu.

ü Kakak saya yang bekerja di Jakarta meninggal seminggu yang lalu

D. KLAUSA

Adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif yang didalam konstruksi itu ada komponen berupa kata/frase yang berfungsi sebagai predikat, sebagai subjek yang dikatakan bersifat wajib, sebagai objek dan sebagai keterangan.

Contoh :

ü Kakek membaca koran tadi pagi.

Contoh dalam kalimat majemuk koordinatif yang terdapat dua buah klausa :

ü Nenek membaca komik

ü Kakek membaca koran

ð Nenek membaca komik sedangkan kakek membaca koran.

Contoh klausa yang terletak ditengah kalimat karena disisipkan sebagai keterangan tambahan :

ü Gadis itu bukan cucu nenek

ü Gadis itu duduk di depan

ð Gadis yang duduk di depan itu bukan cucu nenek.

1. Jenis Klausa

Berdasarkan strukturnya :

a. Klausa Bebas

Adalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap minimal mempunyai subjek dan predikat, karena itu mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor.

Contoh :

ü Nenekku masih cantik

ü Kakekku gagah berani

ð Nenekku masih cantik dan kakekku gagah berani.

b. Klausa Terikat

Adalah klausa yang mempunyai struktur yang tidak lengkap. Unsur yang ada dalam klausa ini mungkin hanya subjek saja/objek saja / keterangan saja.

Contoh :

ü Konstruksi “ tadi pagi” yang bisa menjadi kalimat jawaban untuk kalimat tanya “Kapan nenek membaca koran ?”

Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya dibedakan menjadi :

a. Klausa Verbal

Adalah klausa yang predikatnya berkategori verba. Misal : nenek mandi, matahari terbit.

Macam-macam tipe verba :

1) Klausa Transitif

Adalah klausa yang predikatnya berupa verba transitif. Misal : Kakak menulis surat.

2) Klausa Intrasitif

Adalah klausa yang predikatnya berupa verba intransitif. Misal : adik melompat-lompat ibu sedang berdandan.

3) Klausa Refleksif

Adalah klausa yang predikatnya berupa verba refleksif. Misal : ibu sedang berdandan.

4) Klausa Resiprokal

Adalah klausa yang predikatnya berupa verba resiprokal. Misal : mereka bertengkar sejak kemarin

b. Klausa Nominal

Adalah klausa yang predikatnya berupa nomina/frase nominal.

Contoh :

ü (Petani) Kakeknya petani di desa itu.

ü (dosen linguistik) Dia dulu dosen linguistik

a. Klausa Ajektifal

Adalah klausa yang predikatnya berkategori ajektifa baik berupa kata maupun frase.

Contoh :

ü Ibu dosen itu cantik sekali

b. Klausa Adverbial

Adalah klausa yang predikatnya berupa adverbial

Contoh :

ü Bandelnya teramat sangat.

c. Klausa Preposisional

Adalah klausa yang predikatnya berupa frase yang berkategori preposisi.

Contoh :

ü Nenek ada di kamar, dia datang dari Medan dan kakek pergi ke pasar baru

d. Klausa Numeral

Adalah klausa yang predikatnya berupa kata/frase numeralia.

Contoh :

ü Gajinya adalah lima juta sebulan, anaknya ada dua belas orang, dan taksinya ada delan buah.

E. KALIMAT

Adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. Disini dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil dengan mengikuti konsep, bahwa kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan serta disertai dengan intonasi final.

1. Jenis Kalimat

Kalimat inti dan kaliman non inti

Kalimat inti disebut juga kalimat dasar, adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif atau netral dan afirmatif. Dalam bahasa Indonesia paling tidak kalimat inti kita dapati dengan pola sebagai berikut :

* FN + FV = Nenek datang

* FN + FV + FN = Nenek membaca komik

* FN + FV + FN + PN = Nenek membacakan kakek komik

* FN + FN = Nenek dokter

* FN + FA = Nenek cantik

* FN + Fnum = Uangnya dua juta

* FN + FP = Uangnya di dompet

Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non inti dengan berbagai proses transformasi.

Dengan demikian dapat dibagankan :

Kalimat inti

+

Proses Transformasi

=

Kalimat non inti

a. Kalimat tunggal dan kalimat majemuk

Kalimat tunggal : klausanya hanya satu

Kalimat majemuk : klausa dalam kalimat terdapat lebih dari satu

Macam-macam kalimat majemuk :

1) Kalimat majemuk koordinatif.

2) Kalimat majemuk subordinatif

3) Kalimat majemuk kompleks.

b. Kalimat mayor dan kalimat minor

Kalimat mayor : klausanya lengkap, minimal mempunyai subjek dan predikat

Kalimat minor : klausanya tidak lengkap, hanya terdiri dari S/P/O/K saja.

c. Kalimat verbal dan kalimat non verbal

d. Kalimat bebas dan kalimat terikat.

2. Intonasi Kalimat

Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa. Jadi kalau intonasi dari sebuah kalimat ditinggalkan maka sisanya adalah klausa. Ciri-ciri intonasi berupa adanya tekanan, tempo dan nada.

3. Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus dan Diatesis

a. Modus

Adalah pengungkapan / penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara tentang apa yang diucapkannya.

Macam-macam modus :

1) Modus indikatif/ deklaratif (sikap objektif/netral)

2) Modus optatif ( harapan/keinginan ).

3) Modus imperatif ( perintah,larangan ).

4) Modus interogatif (pertanyaan).

5) Modus obligatif (keharusan).

6) Modus desideratif ( keinginan/kemauan ).

7) Modus kondisional (persyaratan).

b. Aspek

Adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian/proses.

Macam-macam aspek :

1) Aspek Kontinuatif (perbuatan truz berlangsung).

2) Aspek inseptif (peristiwa baru mulai).

3) Aspek progresif (perbuatan sedang berlangsung).

4) Aspek repetitif (perbuatan terjadi berulan-ulang)

5) Aspek perfektif (perbuatan sudah selesai).

6) Aspek imperfektif (perbuatan berlangsung sebentar).

7) Aspek sesasif (perbuatan berakhir).

c. Kala/Tenses

Adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan atau pengalaman yang disebutkan di dalam predikat.

d. Modalitas

Adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan terhadap lawan bicaranya.

Jenis-jenis modalitas :

1) Modalitas intensional (keinginan, harapan, ajakan).

2) Modalitas epistemik (kemungkinan, kepastian).

3) Modalitas deontik (keizinan/keperkenaan)

4) Modalitas dinamik (kemampuan)

e. Fokus

Adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian pendengar/pembaca tertuju pada bagian itu.

f. Diatesis

Adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu.

Macam-macam diatesis :

1) Diatesis aktif

2) Diatesis pasif

3) Diatesis refleksif

4) Diatesis resiprokal

5) Diatesis kausatif

F. WACANA

Adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.

1. Jenis Wacana

Berdasarkan sarananya :

a. Wacana lisan

b. Wacana tulisan

Berdasarkan penggunaan bahasanya :

a. Wacana prosa, meliputi :

1) Wacana narasi (menceritakan).

2) Wacana eksposisi (memaparkan).

3) Wacana persuasi (mengajak atau melarang )

4) Wacana argumentasi (berargumen atau alasan ).

G. CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN

Dalam pembahasan subbab di atas dapat dilihat bahwa sebuah kata atau frase dengan persyaratan tertentu dapat menjadi sebuah kalimat dengan urutan hierarki satuan-satuan linguistik, yaitu : fonem membentuk morfem, morfem membentuk kata, kata membentuk frase, frase membentuk klausa, klausa membentuk kalimat, akhirnya kalimat akan membentuk wacana.

 

Khoirudin A. Fauzi;1402408313 Oktober 15, 2008

Filed under: BAB VI — pgsdunnes2008 @ 12:08 pm

Nama : Khoirudin A. Fauzi

NIM : 1402408313

BAB VI

TATARAN LINGUISTIK SINTAKSIS

Pada bab terdahulu disebutkan bahwa morfologi dan sintaksis adalah bidang tataran linguistik yang secara tradisional disebut tata bahasa atau gramatika. Kedua bidang tataran itu memang berbeda namun seringkali batas keduanya menjadi kabur, karena pembicaraan bidang yang satu tidak dapat dilepaskan dari yang lain. Oleh karena itulah muncul istilah morfosintaksis yang merupakan gabungan dari dari morfologi dan sintaksis. Meskipun demikian orang biasa membedakan kedua tataran itu dengan pengertian : Morfologi membicarakan struktur internal kata sedangkan sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain, atau unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran.

Dalam pembahasan sintaksis yang biasa dibicarakan adalah

  1. struktur sintaskis : mencakup masalah fungsi, kategori, dan peran sintaksis, serta alat-alat yang digunakan dalam membangun struktur itu.
  2. satuan-satuan sintaksis yang berupa kata, frase, klausa, kalimat dan wacana
  3. hal-hal yang berkenaan dengan sintaksis seperti masalah modus, aspek, dan sebagainya.

Berikut ini hal-hal tersebut akan dibicarakan secara singkat

6.1 STRUKTUR SINTAKSIS

Dalam pembicaraan struktur sintaksis pertama harus dibicarakan masalah sitakasis, kategori sintasis, dan peran sintaksis.

Anda tentu telah mendengar istilah subjek, predikat, objek, dan keterangan; juga istilah nomina, verba, ajektiva, dan numeralia; begitu juga dengan istilah pelaku, penderita dan penerima. Kelompok istilah pertama yaitu subjek, predikat, objek, dan keterangan adalah peristilahan yang berkenaan dengan fungsi sintaksis. Kelompok ke-dua yaitu istilah nomina, verba, ajektiva, dan numeralia adalah peristilahan yang berkenaan dengan kategori sintaksis sedangkan kelompok ketiga yaitu istilah pelaku, penderita, dan penerima adalah peristilahan yang berkenaan dengan peran sintaksis. Secara umum struktur sintaksis terdiri dari susunan subjek, predikat, objek, dan keterangan.

6.2 KATA SEBAGAI SATUAN SINTAKSIS

Dalam tataran morflogi kata merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem), tetapi dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil, yang secara hirarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar yaitu frase. Maka di sini, kata hanya dibicarakan sebagai satuan terkecil dalam sintaksis. Sebagai satuan terkecil dalam sintaksis, kata berperanan sebagai fungsi pengisi sintaksis , sebagai penanda kategori sintaksis, dan sebagai perangkai dalam penyatuan satuan-satuan atau bagian-bagian dari satuan sintaksis.

6.3 FRASE

Dalam sejarah studi linguistic istilah frase banyak digunakan dengan pengertian yang berbeda-beda. Di sini istilah frase digunakan sebagai satuan sintaksis yang satu tingkat berada di bawah satuan klausa, atau satu tingkat berada di atas satuan kata

6.3.1 Pengertian frase

Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat non predikatif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat

6.3.2 Jenis Frase

Dalam pembicaraan tentang frase biasanya dibedakan adanya frase (1) eksosentrik, (2) endosentrik (disebut juga frase subordinatif atau frase modifikatif) (3) frase koordinatif dan (4) frase apositif

6.3.2.1 Frase Eksosentrik adalah frase yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya.

6.3.2.2 Frase Endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya artinya salah satu komponennya itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya.

6.3.2.3 Frase Koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari 2 komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif baik yang tunggal maupun konjungsi terbagi.

6.3.2.4 Frase Apositif adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya dan oleh karena itu urutan komponennya dapat dipertukarkan.

6.3.3 Perluasan Frase

Salah satu ciri frase adalah frase itu dapat diperluas. Maksudnya frase itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan.

6.4 KLAUSA

Merupakan tataran di dalam sintaksis yang berada di atas tataran frase dan di bawah tataran kalimat.

6.4.1 Pengertian Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase yang berfungsi sebagai predikat dan yang lain berfungsi sebagai objek dan sebagai keterangan

6.4.2 Jenis Klausa

Berdasarkan strukturnya dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsusr-unsur lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subjek dan predikat dan karena itu mempunyai potensi untuk itu menjadi kalimat mayor. Berbeda dengan klausa bebas yang strukturnya lengkap maka klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap unsure yang ada dalam klausa ini mungkin subjek, objek, atau keterangan saja.

6.5 KALIMAT

Kalimat merupakan satuan bahasa yang langsung digunakan sebagai satuan ajaran di dalam komunikasi verbal yang hanya dilakukan oleh manusia.

6.5.1 Pengertian Kalimat

Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap merupakan definisi umum yang biasa kita jumpai.

6.5.2 Jenis Kalimat

Jenis kalimat dapat dibedakan berdasarkan berbagai kriteria atau sudut pandang :

6.5.2.1 Kalimat Inti dan kalimat Non-Inti

Kalimat inti biasa juga disebut kalimat dasar adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, atau netral, dan afirmatif. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non-inti dengan berbagai proses transformasi.

6.5.2.2 Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Perbedaan Kalimat tunggal dan kalimat majemuk berdasarkan banyaknya klausa yang ada di dalam kalimat itu, kalau klausanya hanya satu maka disebut kalimat tunggal, kalau klausa dalam sebuah kalimat lebih dari satu maka disebut kalimat majemuk

6.5.2.3 Kalimat Mayor dan Kalimat Minor

Pembedaan kalimat mayor dan kalimat minor dilakukan berdasarkan lengkap dan tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar kalimat itu kalau klausanya lengkap sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan predikat maka kalimat itu disebut kalimat mayor. Kalau klausanya tidak lengkap entah terdiri dari subjek, predikat, objek, atau keterangan saja maka kalimat tersebut disebut kalimat minor

6.5.2.4 Kalimat Verbal dan Kalimat Non-Verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verbal sedangkan kalimat non verbal adalah kalimat y6ang predikatnya bukan kata atau frase verbal, bisa nominal, ajektifal, adverbial, atau juga numeralia.

6.5.2.5 Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap atau dapat memulai sebuah paragraph atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap atau menjadi pembuka paragraph atau wacana tanpa bantuan konteks.

6.5.3 Intonasi Kalimat

Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa, sebab bisa dikatakan : kalimat minus intonasi sama dengan klausa; atau kalau dibalik : klausa plus intonasi sama dengan kalimat. Jadi, kalau intonasi dari sebuah kalimat ditanggalkan maka sisanya yang tinggal adalah klausa.

6.5.4 Modus, Aspek, Kala, Modalitas, Fokus, dan Diatesis

Keenam istilah tersebut biasa muncul dalam pembicaraan mengenai sintaksis.

6.5.4.1 Modus

Adalah pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si pembicara atau sikap si pembicara atentang apa yang diucapkannya. Ada beberapa macam modus antara lain : Modus Indikatif atau Modus Deklaratif, Modus Optatif, Modus Imperatif, Modus Interogatif, Modus Obligatif, Modus Desideratif, Modus Kondisional.

6.5.4.2 Aspek

Adalah cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi, keadaan, kejadian, atau proses. Dari berbagai macam bahasa di kenal adanya berbagai macam aspek antara lain aspek kontinuatif, aspek inseptif, aspek progresif, aspek repetitive, aspek perfektif, aspek imperfektif, aspek sesatif.

6.5.4.3 Kala atau Tense

Adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu terjadinya perbuatan, kejadian, tindakan, pengalaman, yang disebutkan dalam predikat. Kala lazimnya menyatakan waktu sekarang, sudah lampau dan akan dating.

6.5.4.4 Modalitas

Adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan yaitu mengenai perbuatan, keadaan, dan peristiwa, atau juga sikap terhadap lawan bicaranya.

6.5.4.5 Fokus

Adalah unsur yang menonjolkan bagian kalimat kalimat sehingga perhatian pendengar atau pembaca tertuju pada bagian itu.

6.5.4.6 Diatesis

Adalah gambaran hubungan pelaku atau peserta dalam kalimat dengan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat itu. Ada beberapa macam diatesis antara lain diatesis aktif, diatesis pasif, diatesis refleksif, diatesis resiprokal, diatesis kausatif.

6.6 WACANA

6.6.1 Pengetian Wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Sebagai satuan bahas yang lengkap, maka dalam wacana itu berarti konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh. Yang bisa dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar (dalam wacana lisan), tanpa keraguan apapun.

6.6.2 Alat Wacana

Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif, antara lain adalah :

  1. Konjungsi : alat untuk menghubung-hubungkan bagian-bagian kalimat atau menghubungkan paragraf dengan paragraf
  2. Menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini, itu sebagai rujukan anaforis
  3. Menggunakan elepsis yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat kalimat yang lain.

6.6.3 Jenis Wacana

Pertama-tama dilihat adanya wacana lisan dan wacana tulis berkenaan dengan sarananya yaitu bahasa lisan atau bahasa tulis. Kemudian ada pembagian wacana prosa dan wacana puisi dilihat dari penggunaan bahasa apakah dalam bentuk uraian atau dalam bentuk puitik. Selanjutnya wacana prosa ini dilihat dari penyampaian isinya dibedakan lagi menjadi wacana narasi, wacana eksposisi, wacana persuasi, dan wacana argumentasi. Wacana narasi bersifat menceritakan suatu topik atau hal; wacana eksposisi bersifat memaparkan topik atau fakta, wacana persuasi bersifat mengajak, menganjurkan, atau melarang, dan wacana argumentasi bersifat memberi argument atau alasan terhadap suatu hal.

6.6.4 Subsatuan Wacana

Dari pembicaraan di atas dapat dikatakan wacana adalah satuan bahasa yang utuh dan lengkap. Maksudnya, dalam wacana ini satuan ide atau pesan yang disampaikan akan dapat dipahami pendengar atau pembaca tanpa keraguan atau tanpa merasa adanya kekurangan informasi dari ide atau pesan yang tertuang dalam wacana itu.

6.7 CATATAN MENGENAI HIERARKI SATUAN

Sebuah kata atau frase dengan persyaratan tertentu dapat menjadi sebuah kalimat. Satuan yang satu tingkat lebih kecil akan membentuk satuan yang lebih besar. Jadi, fonem membentuk morfem; lalu morfem akan membentuk kata; kemudian kata akan membentuk frase; selanjutnya frase akan membentuk klausa; sesudah itu klausa akan membentuk kalimat; dan akhirnya kalimat akan membentuk wacana.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.