Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Agesti PP_1402408184_BAB V_tataraN LINGUISTIK Oktober 20, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:50 pm

Disusun Oleh

Nama : Agesti Purnaning Putri

NIM : 140.240.8184

TATARAN LINGUISTIK (2)

MORFOLOGI

1. MORFEM

1.1 Identifikasi Morfem

Untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalah morfem atau bukan,kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain.Kalau bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain,maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem.Sehingga dapat disimpulkan morfem adalah satuan bentuk yang hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain,dengan tetap memiliki makna yang sama.

1.2 Morf dan Alomorf

Untuk mengetahui apa itu morf dan alomorf perhatikan bentuk dibawah ini;

-melihat -membawa -menyanyi

-merasa -membantu -menyikat

Bentuk mem- pada membawa dan membantu merupakan distribusi me- pada bentuk dasar yang fonem awalnya /b/ dan juga /p/,begitu juga dengan bentuk meny- pada menyanyi dan menyikat merupakan distribusi me- pada bentu dasar yang fonem awalnya /s/.Sehingga bentuk-bentuk tersebut memiliki makna yang sama.Dapat dikatakan alomorf adalah bentuk-bentuk realisasi berlainan dari morfem yang sama.Selain itu juga bisa dikatakan adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama.morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya,sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

1.3 Klasifikasi Morfem

1.3.1 Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem Bebas adalah Morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan,misalnya,bentuk pulang,makan,rumah, dan bagus adalah termasuk morfem bebas.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.Semua imbuhan dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.

1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Untuk mengetahui maksud dari morfem utuh dan terbagi lihat contoh di bawah :

Kepulauan → (ke) + (pulau) + (an)

morfem (ke) dan (an) adalah morfem terbagi,karena berperan sebagai awalan dan akhiran dari morfem dasar.Sedangkan morfem (pulau) adalah morfem utuh,karena tetap menjadi satu kesatuan.Namun pada contoh lain seperti gerigi,yang mempunyai morfem dasar (gigi) lalu diberi infiks (-er-) sehingga menjadi gerigi.Dalam hal ini morfem (gigi) merupakan morfem terbagi karena dipisahkan oleh infiks (-er-) menjadi (g-/-igi)

1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental,seperti morfem (lihat), (lah), (sikat), dan (ber).Jadi,semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental.Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan,nada,durasi, dan sebagainya.

1.3.4 Morfem Beralomofr Zero

Dalam linguistic deskriptif ada konsep mengenai morfem beralomorf zero atau nol (lambangnya berupa Ø),yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental),melainkan berupa “kekosongan’.

Alomorf zero banyak terdapat pada bahasa inggris untuk bentuk jamak dan lampau.Sebagai contoh bentuk jamak sheep adalah sheep,sehingga dapat ditulis

Sheep → sheep + Ø

Atau bentuk lain seperti foot yang bentuk jamaknya feet,dapat dituliskan sebagai berikut;

Feet → Foot + Ø

1.3.5 Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Yang dimaksud dengan morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.Misalnya morfem seperti kuda,pergi,lari .

Sebaliknya, morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri .Morfem ini baru mempunyai makna dalam gabungannya dengan morfem lain dalam suatu proses morfologi.Yang biasa dimaksud dengan morfem tak bermakna leksikal ini adalah morfem-morfem afiks,seperti (ber-),(me-), dan (ter-).

1.4 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal(Stem), dan Akar (Root)

Istilah Bentuk dasar atau dasar (base) adalah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi.Umpamanya pada kata berbicara yang terdiri dari morfem ber- dan bicara, maka bicara adalah menjadi bentuk dasar dari kata berbicara itu,atau disebut sebagai morfem dasar.

Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi,contohnya kata menangisi bentuk pangkalnya adalah tangisi dan morfem me- adalah sebuah afiks inflektif.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi,artinya akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya ditanggalkan.Misalnya kata inggris untouchables akarnya adalah touch.

2. KATA

2.1. Hakikat Kata

Para linguis hingga dewasa ini kiranya tidak pernah mempunyai kesamaan pendapat mengenai konsep apa yang disebut kata itu.Disamping itu,menurut para tata bahasawan tradisional kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian, atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti.

2.2 Klasifikasi Kata

Klasifikasi kata dalam sejarah linguistik selalu menjadi salah satu topik yang tidak pernah terlewatkan.Sejak zaman aristoteles hingga kini ,termasuk juga dalam kajian linguistik indonesia, persoalannya tidak pernah bisa tertuntaskan.Hal ini terjadi, karena, pertama setiap bahasa mmiliki cirinya masing-masing,kedua karena kriteria yang digunakan untuk membuat klasifikasi kata itu bisa bermacam-macam.

Para tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi.Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasikan kelas verba,nomina, dan ajektifa.Sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasi preposisi,konjungsi,adverbia,pronomina, dan lain-lainnya. Begitulah, menurut tata bahasawan tradisional ini,yang disebut verba kata adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan; yang disebut nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan; dan yang disebut konjungsi adalah kata yang bertugas atau berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata, atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain.

Namun rumusan verba nomina, dan konjungsi seperti di atas untuk bahasa Indonesia ternyata banyak menimbulkan masalah,sebab ciri morfologi bahasa Indonesia ternyata tidak dapat menolong untuk menentukan kelas-kelas kata itu.Contohnya dalam bahasa Indonesia , kata yang berprefiks ter- belum tentu termasuk verba,sebab ada juga yang termasuk nomina seperti terdakwa dan tertuduh.Malah adverbia dalam bahasa Indonesia tidak memiliki ciri-ciri morfologis.

Selain para tata bahasawan tradisional di atas ada juga para tata bahasawan strukturalis dan linguis yang mencoba untuk membuat klasifikasi kata.Namun tetap saja banyak menimbulkan persoalan dalam pengidentifikasiannya.

2.3 Pembentukan Kata

2.3.1 Inflektif

Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba disebut konyugasi, sedangkan pada nomina dan ajektifa disebut deklinasi.Inflektif dapat dikatakan morfem yang memiliki alomorf sehingga bermakna berbeda namun masih dalam satu kelas, dan memiliki identitas leksikal yang sama.

2.3.2 Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya,selain maknanya berbeda,kelasnya juga tidak sama.Contohnya morfem dasar makan,diberi afiks me- menjadi memakan dan diberi afiks –an menjadi makanan, sama-sama berasal dari kelas verba (makan) berubah menjadi memakan kelas verba dan makanan kelas nomina.Kedua kata tersebut jelas beda makna dan kelas.

3. PROSES MORFEMIS

3.1. Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.afiks dibedakan menjadi dua jenis, yaitu afiks inflektif dan afiks derivatif.Yang dimaksud dengan afiks inflektif adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional.sedangkan afiks derivatif adalah afiks yang digunakan untuk membentuk kata baru, yaitu kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.

Afiks menurut posisi melekatnya pada bentuk dasar biasanya dibedakan menjadi prefiks, infiks, sufiks, konfiks, interfiks, dan transfiks.Berikut pengertiannya ;

· Prefiks : afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar.

¨ Contoh, me- pada menangis; di- pada dimakan.

· Infiks : afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar.

¨ Contoh, -er- pada gerigi ; -el- pada seruling.

· Sufiks : afiks yang diimbuhkan pada akhir bentuk dasar.

¨ Contoh, -kan pada maafkan ; -an pada makanan.

· Konfiks: afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awa bentuk dasar, dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar.

¨ Contoh, ke-/-an pada kehujanan ; me-/-an pada memalukan.

· Interfiks: sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur.

¨ Contoh,dalam bahasa indo German liebe+brief = liebe.s.brief

· Transfiks: afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar.

3.2. Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi. Reduplikasi penuh contohnya meja-meja dari dasar meja, reduplikasi sebagian lelaki dari dasar laki, dan reduplikasi dengan perubahan bunyi bolak-balik dari dasar balik.

3.3. Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru.Misalnya, lalu lintas, daya juang, dan rumah sakit.

3.4. Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi

Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi Internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur ke dalam morfem yang berkerangka tetap.Ada sejenis modifikasi internal lain yang disebut suplesi, suplesi adalah sejenis modifikasi internal yang proses perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak nampak lagi.Misalnya dalam bahasa inggris go bentuk lampaunya went,atau verba be menjadi was dan were.

3.5. Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya.Hasil proses pemendekan ini kita sebut kependekan.Miswalnya bentuk lab utuhnya laboratorium, hlm utuhnya halaman, L utuhnya liter, SD utuhnya Sekolah Dasar.

Hasil proses pemendekan ini biasanya dibedakan atas penggalan, sngkatan, dan akronim. Penggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang dipendekkan itu,misalnya lab dari laboratorium.Yang dimaksud dengan singkatan adalah hasil proses pemendekan,contohnya SD( Sekolah Dasar), kg (kilogram). Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata,misalnya ABRI(Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), Wagub (Wakil Gubernur).

3.6. Produktivitas Proses Morfemis

Proses inflektif bersifat tertutup karena tidak membentuk kata baru.Lain halnya dengan derivasi,proses derivasi bersifat terbuka karena dapat membuat kata-kata baru.Oleh karena itu boleh dikatakan proses derivasi adalah produktif sedangkan proses infleksi tidak produktif.

4. MORFOFONEMIK

Morfofonemik adalah peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.Perubahab fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud;

· Pemunculan Fonem,dapat dilihat prosesnya dalam pengimbuhan prefiks me- dengan bentuk dasar baca yang menjadi membaca,dimana terlihat muncul konsonan sengau /m/.

· Pelepasan Fonem, dapat dilihat prosesnya dalam pengimbuhan akhiran –wan pada bentuk dasar sejarah yang menjadi sejarawan,di mana fonem /h/ pada kata sejarah itu menjadi hilang.

· Peluluhan Fonem, dapat dilihat prosesnya pada pengimbuhan prefiks me- pada bentuk dasar sikat menjadi menyikat,dimana fonem /s/ pada sikat diluluhkan dan disenyawakan dengan bunyi nasal /ny/ dari prefiks tersebut.

· Perubahan Fonem, dapat dilihat prosesnya pada pengimbuhan prefiks ber- pada kata ajar menjadi belajar, dimana fonem /r/ dari prefiks itu berubah menjadi fonem /l/.

· Pergeseran Fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel yang lain, biasanya ke silabel berikutnya.Peristiwa itu dapat dilihat dalam proses pengimbuhan sufiks /an/ pada kata jawab di mana fonem /b/ yang semula berada pada silabel /wab/ pindah ke silabel /ban/.

 

Titin Indrawati _1402408194_TATARAN LINGUISTIK BAB 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:13 pm

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

Satuan bunyi terkecil dari arus ujaran disebut fonem. Sedangkan satuan yang lebih tinggi dari fonem disebut silabel. Namun silabel berbeda dengan fonem karena tidak bersifat fungsional. Di atas satuan silabel terdapat satuan yang fungsional disebut morfem (satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna)

5.1. MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun morfem, sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem punya makna secara filosofis. Morfem dikenalkan oleh kaum strukturalis pada awal abad ke 20.

5.1.1. Identifikasi Morfem

Untuk menentukan bahwa sebuah satuan bentuk merupakan morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam bentuk lain. Bila bentuk tersebut dapat hadir secara beruang dan punya makna sama, maka bentuk tersebut merupakan morfem. Dalam studi morfologi satuan bentuk merupakan morfem diapit dengan kurung kurawal. Misalnya kata ketiga menjadi: {ke} + {tiga}

5.1.2. Morf dan Alomorf

Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya. Alomorf adalah nama untuk bentuk yang sudah diketahui status morfemnya (bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama)

Melihat ð Me Menyanyi ð Meny-

Membawa ð Mem- Menggoda ð Meng-

5.1.3. Klasifikasi Morfem

Klasifikasi morfem didasarkan pada kebebasannya, keutuhannya, maknanya dsb.

5.1.3.1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

5.1.3.2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh adalah morfem dasar, merupakan kesatuan utuh.

Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari 2 bagian yang terpisah.

Catatan yang perlu diperhatikan dalam morfem terbagi :

1) Semua afiks disebut konfiks termasuk morfem terbagi. Untuk menentukan konfiks atau bukan, harus diperhatikan makna gramatikal yang disandang.

2) Ada afiks yang disebut infiks yaitu afiks yang disisipkan di tengah morfem dasar.

5.1.3.3. Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental.

Morfem Suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, dan durasi.

5.1.3.4. Morfem Beralomorf Zero

Adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi melainkan kekosongan.

5.1.3.5. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.

Morfem tidak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.

5.1.4. Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem), dan Akar (Root)

Morfem dasar bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, bisa diulang dalam suatu reduplikasi, bisa digabung dengan morgem yang lain dalam suatu proses komposisi. Pangkal digunakan untuk menyebut bentuk dasar dari proses infleksi. Akar digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.

5.2. KATA

Dalam tata bahasa tradiusional, satuan lingual yang selalu dibicarakan adalah kata.

5.2.1. Hakikat Kata

Tata bahasawan tradisional memberi arti bahwa kata deretan huruf yang diapit 2 spasi, memiliki 1 arti. Menurut tata bahasawan struktural (Bloomfield) kata adalah satuan bebas terkecil tidak pernah diulas, seolah batasan itu sudah bersifat final.

5.2.2. Klasifikasi Kata

Tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna yang digunakan untuk mengidentifikasi kelas verba, nomina, ajektiva, sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasi preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina. Tata bahasawan struturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata dalam suatu struktur. Sedangkan kelompok linguis lain menggunakan kriteria fungsi sintaksis untuk menentukan kelas kata. Klasifikasi kata memang perlu dengan mengenal sebuah kata, kita dapat memprediksi penggunaan kata tersebut dalam ujaran.

5.2.3. Pembentukan Kata

Pembentukan kata bersifat inflektif dan derivatif.

5.2.3.1. Inflektif

Kata-kata dalam bahasa berfleksi mengalami penyesuaian bentuk dengan kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu. Penyesuaian tersebut berupa afiks, infiks dan sufiks. Penyesuaian pada verba disebut konjugasi. Penyesuaian pada nomina dan ajektiva disebut deklinasi.

Sebuah kata yang sama hanya bentuknya saja yang berbeda dalam morfologi infleksional disebut paradigma infleksional.

5.2.3.2. Derivatif

Pembentukan kata secara inflektif tidak membentuk kata baru/kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasar. Pembentukan kata secara derivatif/ derivasional membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya. Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna, sebab meskipun kelasnya sama, seperti kata makanan dan pemakan, yang sama-sama berkelas nomina, tetapi mknanya tidak sama.

5.3. PROSES MORFEMIS

5.3.1. Afiksasi

Adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar/bentuk dasar.

Unsur-unsur dalam proses ini : (1) dasar/bentuk dasar, (2) afiks, (3) makna gramatikal yang dihasilkan.

Proses ini bisa bersifat inflektif dan derivatif tapi tidak berlaku untuk semua bahasa. Bentuk dasar/dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar (bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi) misalnya : meja, beli, dst. Berupa bentuk kompleks, seperti aturan pada kata beraturan. Dapat juga berupa frase, seperti ikut serta dalam keikutsertaan. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata.

Jenis afiks berdasarkan sifat kata yang dibentuk :

a) Afiks inflektif adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif/paradigma infleksional.

b) Afiks derivatif adalah afiks yang digunakan dalam membentuk kata baru (kata leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya).

Berdasarkan posisi melekatnya pada bentuk dasar :

1) Prefiks : afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar

2) Infiks : afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar

3) Sufiks : afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar

4) Konfiks : Afiks yang berupa morfem terbagi yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar, sehingga dianggap sebagai satu kesatuan dan pengimbuhannya dilakukan sekaligus.

Struktur ð untuk menyebut gabungan afiks yang bukan konfiks

Kridalaksana (1989) yang menggunakan untuk “Afik Nasal” contoh: ngopi, nembak.

Interfiks adalah sejenis infiks/elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan 2 buah unsur.

Transfiks adalah afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar ð bahasa-bahasa semit, dasar biasanya berupa konsonan.

Dalam kepustakaan linguistik ada istilah untuk bentuk-bentuk derivasi yang diturunkan dari kelas berbeda.

Misalnya : denominal : asal nominal

Verba : hasil proses afiksasi

5.3.2. Reduplikasi

Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsial) maupun dengan perubahan bunyi.

Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatis (infleksional) dan dapat pula bersifat derivasional. Reduplikasi yang paradigmatis tidak mengubah identitas leksikal tetapi hanya memberi makna gramatikal. Yang bersifat derivasional membentuk kata baru/kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya.

5.3.3. Komposisi

Adalah hasil dan proses pengabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda/yang baru.

Ÿ Dalam bahasa Indonesia proses komposisi ini sangat produktif karena dalam perkembangannya bahasa Indonesia banyak sekali memerlukan kosakata untuk menampung konsep-konsep yang belum ada kosakatanya/istilahnya dalam bahasa Indonesia.

Ÿ Sutan Takdir Alisjahbana (1953) yang berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan makna unsur-unsurnya.

Ÿ Kelompok linguis yang berpijak pada tata bahasa struktural menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk, kalau diantara unsur-unsur pembentuknya tidak dapat disisipkan apa-apa tanpa merusak komposisi itu. Bisa juga suatu komposisi disebut kata majemuk kalau unsur-unsurnya tidak dapat dipertukarkan tempatnya.

Ÿ Linguis kelompok lain ada yang menyatakan sebuah komposisi adalah kata majemuk kalau identitas leksikal komposisi itu sudah berubah dari identitas leksikal unsur-unsurnya.

Ÿ Verhaar (1978) menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaksis.

Ÿ Kridalaksana (1985) menyatakan kata majemuk haruslah tetap berstatus kata, kata majemuk harus dibedakan dari idiom sebab kata majemuk adalah konsep sintaksis sedangkan idiom adalah konsep semantis.

5.3.4. Konversi, Modifikasi internal dan Suplesi

Ÿ Konversi, derivasi zero, transmutasi, dan transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Ÿ Modifikasi internal, penambahan internal, dan perubahan internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (biasanya berupa konsonan)

Ada sejenis modifikasi internal lain yang disebut suplesi. Dalam suplesi perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi. Boleh dikatakan bentuk dasar itu berubah total.

5.3.5. Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya.

Pemendekan merupakan proses yang cukup produktif dan terdapat hampir pada semua bahasa. Produktifnya proses pemendekan ini karena keinginan untuk menghemat tempat (tulisan) dan tentu juga ucapan. Dalam bahasa Indonesia pemendekan ini menjadi sangat produktif adalah karena bahasa Indonesia seringkali tidak mempunyai kata untuk menyatakan suatu konsep yang agak pelik/sangat pelik.

5.3.6. Produktivitas Proses Morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi digunakan berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

Proses inflektif/paradigmatis karena tidak membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya,tidak dapat dikatakan proses yang produktif. Proses inflektif bersifat tertutup. Proses derivasi bersifat terbuka artinya penutur suatu bahasa dapat membuat kata-kata baru dengan proses tersebut sehingga boleh dikatakan produktif.

Bloking adalah tidak adanya sebuah bentuk yang seharusnya ada (karena menurut kaidah dibenarkan) (Aronoff, 1976 : 43, Bauer, 1983 : 87). Fenomena ini terjadi karena adanya bentuk lain yang menyebabkan tidak adanya bentuk yang dianggap seharusnya ada. Dalam bahasa Indonesia yang ada tampaknya bukan bloking tapi “persaingan” antara kata derivatif dengan bentuk/konstruksi frase yang menyatakan bentuk dasar dengan maknanya.

5.4. Morfofonemik

Morfofonemik, morfonemik, morfofonologi/morfonologi adalah peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud:

1. Pemunculan fonem 3. Peluluhan fonem 5. Pergeseran fonem

2. Pelepasan fonem 4. Perubahan fonem, dan

Proses pergeseran fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel yang lain, biasanya ke silabel berikutnya.

Masalah morfofonemik ini terdapat hampir pada semua bahasa yang mengenal proses-proses morfologis.

Nama : Titin Indrawati

NIM : 1402408194

 

SHELFI SEKAR AYU H_1402408028_BAB 5_ROMBEL 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:10 pm

Nama : Shelfy Sekar Ayu H

NIM : 1402408028

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

Satuan bunyi terkecil dari arus ujaran disebut fonem sedangkan satuan yang lebih tinggi dari fonem disebut silabel. Namun silabel berbeda dengan fonem karena tidak bersifat fungsional. Di atas satuan silabel terdapat satuan yang fungsional disebut morfem (satuan gramatikal yang memiliki makna).

5.1 MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun morfem. Sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem punya makna secara filosofis. Morfem dikenalkan oleh kaum strukturalis pada awal abad ke-20.

5.1.1 Identifikasi Morfem

Untuk menentukan bahwa sebuah satuan bentuk merupakan morfem atau bukan kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam bentuk lain. Bila satuan bentuk tersebut dapat hadir secara berulang dan punya makna sama, maka bentuk tersebut merupakan morfem. Dalam studi morfologi satuan bentuk yang merupakan morfem diapit dengan kurung kurawal ({ }) kata kedua menjadi {ke} + {dua}.

5.1.2 Morf dan Alomorf

Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya. Sedangkan Alomorf nama untuk bentuk bila sudah diketahui status morfemnya (bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama) .

Melihat → me-

Membawa → mem-

Menyanyi → meny-

Menggoda → meng-

5.1.3 Klasifikasi Morfem

Klasifikasi morfem didasarkan pada kebebasannya, keutuhannya, maknanya dan sebagainya.

5.1.3.1 Morfem bebas dan Morfem terikat

Morfem Bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Sedangkan yang dimaksud dengan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

Berkenaan dengan morfem terikat ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. Pertama bentuk-bentuk seperti : juang, henti, gaul, dan , baur termasuk morfem terikat. Sebab meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam petuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi. Bentuk lazim tersebut disebut prakategorial. Kedua, bentuk seperti baca, tulis, dan tendang juga termasuk prakategorial karena bentuk tersebut merupakan pangkal kata, sehingga baru muncul dalam petuturan sesudah mengalami proses morfologi. Ketiga bentuk seperti : tua (tua renta), kerontang (kering kerontang), hanya dapat muncul dalam pasangan tertentu juga, termasuk morfem terikat. Keempat, bentuk seperti ke, daripada, dan kalau secara morfologis termasuk morfem bebas. Tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat. Kelima disebut klitika. Klitka adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya satu silabel, secara fonologis tidak mendapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat tetapi tidak dipisahkan .

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh adalah morfem dasar, merupakan kesatuan utuh. Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua bagian terpisah. Catatan yang perlu diperhatikan dalam morfem terbagi.

Pertama, semua afiks disebut koufiks termasuk morfem terbagi. Untuk menentukan koufiks atau bukan, harus diperhatikan makna gramatikal yang disandang.

Kedua, ada afiks yang disebut sufiks yakni yang disisipkan di tengah morfem dasar

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem segmental.

Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi.

5.1.3.4 Morfem beralomorf zero

Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi melainkan kekosongan.

5.1.3.5 Morfem bermakna Leksikal dan Morfem tidak bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikaladalah morfem yang secara inheren memilikimakna pada dirinya sendiritanpa perlu berproses dengan morfem lain. Sedangkan morfem yang tidak bermakna leksikal adalah tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.

5.1.4 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal(stem), dan Akar(root)

Morfem dasar bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi bisa diulang dalam suatu reduplikasi, bisa digabung denganmorfem lain dalam suatu proses komposisi. Pangkal digunakan untuk menyebut bentuk dasar dari proses infleksi. Agar digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.

5.2 KATA

Dalam tata bahasa tradisional, satuan yang lingual yang selalu dibicarakan adalah kata.

5.2.1 Hakikat kata

Tata bahasawan tradisional memberi arti bahasa kata deretan huruf yang diapit 2 spasi memiliki 1 arti. Menurut tata bahasawan struktural (bloowfield) kata adalah satuan bebas terkecil tidak pernah diulas, seolah batasan itu bersifat final.

5.2.2 Klasifikasi Kata

Tata bahasawa tradisional menggunakafikan kriteria makna yang digunakan untuk mengidentifikasi kelas Verba, nomina, ajektif sedangkan kriteria fugsi digunakan untuk mengidentifiaksi preposisi, konjunksi, adverbia, pronoumia . tata bahasawan struktruralis membuat klasaifikasi kata berdasarkan distribusi kata dalam suatu struktur. Sedangkan kelompok linguis lalu menggunakan kriteria fungsi sintaksis untuk menentukan kelas kata. Klasifikasi kata memeng perlu , dengan mengenal sebuah kata , kita dapat memprediksi penggunakan kata tersebut dalam ujaran.

5.2.3 Pembentukan kata

Pembentukan kata nersifat Inflentif dan Derivatif.

5.2.3.1 Inflektif

Kata – kata dalam bahasa berfleksi mengalami penyesuaian bentuk dengan kategori gramatikal yang berlaku dalam bahasa itu. Penyesuaian tersebut berupa afiks,Infiks, dan sufiks. Penyesuaian pada verba disebut konjugasi . Penyesuaian pada uomsua dan asektifa disebut deklinasi.

Sebuah kata yang sama hanya bentuknya saja yang berbeda dalam morfologi infleksional disebut paradigma Infleksional.

5.2.3.2 Deriatif

Pembentukan kata secara deriatif membentuk kata baru , yang identitas lesikalnya tidak sama dengan kata dasarnya . Perbedaan identitas lesikal berkenaan dengan makna meskipun kelasnya sama , tetapi waktunya tidak sama.

5.3 PROSES MORFEMIS

5.3.1 Afiksasi

Adalah proses pembubuhan afiks pada kata dasar.

Unsur –unsur dalam proses ini : 1. Bentuk dasar

2. Afiks

3. Makna gramatikal yang dihasilkan

Proses ini dapat bersifat infletif dan derifatif . Afiks aalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat , yang di imbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata .

Jenis Afiks berdasarkan sifat kata yang dibentuk :

a. Afiks inflektif : Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata – kata inflektif .

b. Afiks Derivatif: Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata baru (kata leksikal tidak sama dengan bentuk dasarnya)

Afiks Berdasarkan melekatnya pada bentuk dasar :

a. Prefiks : Afiks yang diimbuhkan dimuka bentuk dasar .

b. Lufiks : afiks yang diinbuhkan ditengah bentuk dasar .

c. Sufiks : Afiks yang diimbukan pada posisi akhir bentuk dasar.

d. Koufiks : afiks yang berupa moffem terbagi yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar dan bagian kedua berposisi pada akhir bentuk daar sehingga dianggap sebagai satu kesatuan dan pengimbuhannya dilakukan sekaligus .

Sirkumfiks : untuk menyebutkan gabungan afiks yang bukan koufiks .

Luterfiks : sejenis sufiks / elemen penyambung yang muncul dalam proses pengganbungan dua buah unsur .

Tranfiks : afiks yang berwujud vokal – vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar (bahasa – bahasa semit, dasar biasanya berupa konsonan )

5.3.2 Reduplikasi

Adalah proses morfenis yang mengulang bentuk dasar , baik secara keseluruhan , secara sebagian (parsial) walaupun dengan perubahan bunyi .

Istilah sehubungan dengan reduplikasi :

a. Dwi Lingga : Pengulangan morfem dasar

b. Dwi Lingga Salin Suara : Pengulangan morfem dasar dengan perubahan vokal dan fonem lain.

c. Dwi Purwa : Pengulangan silabel Pertama

d. Dwi Sasana : Pengulangan pada akhir kata

e. Tri Lingga : Pengulangan morfem dasar sampai 2 kali

Proses reduplikasi dapat bersifat infleksional maupun derifasional. Reduplikasi infleksional tidak mengubah identitas flesikal tetapi memberi ,makna gramatikal . bersifat derifasional membentuk kata yang identitas lesikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya .

Catatan khusus mengenai reduplikasi :

1. Bentuk dasar Reduplikasi dalam bahasa indonesia dapat berupa morfem dasar .

2. Bentuk Reduplikasi yang disertai afiks bisa bersamaan / proses afiksasi dulu baru reduplikasi .

3. Pada dasar yang berupa gabungan kata, proses reduplikasi mungkin berupa reduplikasi penuh tetapi munkin berupa reduplikasi parsial .

4. Reduplikasi dalam bahasa indonesia bersifat paradikmatis, memberi makna jamak / kevariasian juga bersifat derivasional.

5. Adanya reduplikasi semantis : dua buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal .

6. bentuk reduplikasi atau bukan pada komponen yang berupa morfem beben dan terikat.

5.3.3 Komposisi

Adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang maupun terikat sehingga membentuk sebuah kontruksi yang memiliki identitas lesikal yang berbeda.

Sutan takdir AlisJahbana (1953), berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan nakna unsur – unsurnya .

Kelompok linguis tata bahasa struktural menyatakan komposisi disebut kata majemuk, kalau diantara unsur – unsur pembentuknya tidak dapat disisipkan apa – apa tanpa merusak komposisi itu.

Linguis kelompok lalu menyatakan komposisi adalah kata majemuk jika identitas lesikal komposisi itu sudah berubah dari identitas lesikal unsur – unsurnya.

Verhaar (1978) menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk kalau hubungan kedua ubsurnya tidak bersifat sintaksius.

Kridalaksana(1985) menyatakan kata majemuk haruslah tetap berstatus kata, kata majemuk harus dibedakan dari idiom sebab kata majemuk adalah konsep sitaksius , sedangkan idiom adalah konsep semantis.

5.3.5 Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian – bagian leksen / gabungan leksen sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama denan makna bentuk utuhnya.

Kependekan adalah proses pemendekan , dibedakan menjadi 3 :

a. penggalan : Kependekan berupa pengekalan satu / dua suku pertama dari bentuk yang dipendekan itu.

b. Singkatan : hasil prosess pemendekan yang berupa:

- Pengekalan huruf awal dari sebuah leksen / huruf – huruf awal dari gabungan leksem.

- Pengekalan beberapa huruf dari sebuah leksem .

- Pengekalan huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk pengganti huruf yang sama .

- Pengekalan dua , tiga , atau empat huruf perrtama dari sebuah leksem .

c. Akronim : hasil pemendekan yang berupa kata / dapat dilafalkan sebagai kata . Wujudnya berupa pengekalan huruf – huruf pertama, berupa pengekalan suku – suku kata dari gabungan leksem / bisa juga secara tak beraturan .

5.3.6 Produktifitas proses morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu , terutama afiksasi , reduplikaai dan komposisi, digunakan berulang – ulang yang secara lrelatif tidak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

Bloking adalah tidak adanya sebuah bentuk yang seharusnya ada (karena menurut kaiadah dibenarkan)(arronoff 1976 43.bauer 1983: 87 ) fenomena ini terjadi karena adanya bentuk lain yang menyebabkan tidak adanya bentuk yang dianggap seharusnya ada .

5.4 MORFOFONEMIK

Morfofonemik , morfonemik, morfofonologi / morfologi adalah peristiwa berubahnya wujud morfenis dalan suatu proses morfologis, baik afiksasi , reduplikasi mauoun komposisi.

Perubahan fonem adalah proses morfofonemik ini dapat berwujud :

a. Pemunculan fonem

b. Pelepasan fonem

c. Peluluhan fonem

d. Perubahan fonem

e. Pergeseran fonem

Proses Pergeseran fonem adalah perubahan sebuah fonem dari silabel yang satu kesilabel yang lain biasanya kesilabel berikutnya.

 

Saodah;1402408127;bab 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:08 pm

Nama : Saodah

NIM : 1402408127

Rombel : 2

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK(2)MORFOLOGI

5.4 MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun istilah morfem, sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem mempunyai makna secara filosofis.

5.1.1 Untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalah morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut didalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain. Jika bentuk tersebut bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain,maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem.

Contoh:

1.Kedua,ketiga,kelima,…..,bentuk ke adalah sebuah morfem yang menyatakan tingkat atau derajat.

2.Ke kampus,ke pasar,ke dapur,…..,bentuk ke juga sebuah morfem yang menyatakan arah/ tujuan.

Akan tetapi bentuk ke pada contoh 1 dan 2 adalah dua morfem yang berbeda meskipun bentuknya sama.

Jadi,kasamaan arti dan bentuk merupakan ciri sebuah morfem.

3.Meninggalkan ,ditinggalkan, tertinggal

Bentuk tinggal adalah sebuah morfem karena bentuknya sama dan maknanya juga sama.

Jadi,untuk menentukan sebuah bentuk morfem atau buka kita juga harus tahu maknanya.

5.1.2 MORF dan ALOMORF

Contoh 4:melihat,membawa,mendengar,menyanyi,menggoda,mengelas.

Keenam awalan tersebut adalah sebuah morfem, sebab bentuknya tidak persis sama, tetapi perbedaannya dapat dijelaska secara fonologis.

Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama disebut alomorf.Dengan perkataan lain alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan ) dari sebuah morfem. Bisa juga dikatakan morf dan alomorf adalah dua bilah nama untuk sebuah bentuk yang sama.Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui ststusnya : sedanagkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

5.1.3 Klasifikasi Morfem

Morfem dikelompokkan berdasarkan kriteria, antara lain berdasarkan kebebasannya, keutuhannya,maknanya, dan sebagainya.

5.1.3.1 Morfem bebas dan morfem terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertukaran.

Contoh :Pulang,makan,rumah.Sedangkan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung duldu dimorfem lain dapat muncul dalam penuturan.Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalaha morfem terikat,termasuk juga morfem penanda jamak dalam bahasa inggris:[-s],[-z],[iz].

Berkenaan dengan morfem terikat ini dalam bahasa Indonesia, ada beberapa hal yang perlu dikemukakan :

  1. Bentuk-bentuk seperti juang, henti dan baur termasuk morfem terikat, karena meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam penuturan tanpa proses morfologi.
  2. Bentuk-bentuk seperti baca, tulis juga baru bisa muncul setelah proses morfologi.
  3. Bentuk-bentuk seperti renta, kerontangjuga termasuk morfem terikat/ morfem unik karena bisa muncul dalam pasangan tertentu.
  4. Bentuk-bentuk yang termasuk preposisi dan konjungsi termasuk morfem bebas,tetepi secara sintaksis merupakan bentuk-bentuk terikat.
  5. Klitika, merupakan morfem yang agak sukar dijelaskan statusnya, apakah bebas atau terikat.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Pembedaan morfem utuh dan morfem terbagi berdasarka bentuk formal yang dimiliki morfem tersebut, apakah merupakan satu kesatuan yang utuh atau merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi karena disisipi morfem lain .Semua morfem dasar bebas (meja,kursi,pensil,dll) dan sebagian morfem terikat (ter-, ber-,…) adalah termasuk morfem utuh.Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian terpisah.Misalnya pada kata kesatuan terdapat morfem utuh, yaitu (satu) dan satu morfem terbagi yaitu (ke-/-an)

Sehubungan dengan morfem terbagi,ada catatan yang perlu diperhatikan:

Pertama semua afiks yang disebutkan konfiks (ke-/-an,ber-/-an, dan pe-/-an) termasuk morfem terbagi.

Kedua,dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut infiks,yaitu afiks yang disisipkan ditengah morfem dasar.Misalnya,afiks (-er-) pada kata gerigi,(-em) pada kata gemetar, dll.

Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem (lihat),(lah), (sukat) dan 9ber).Sedankan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental,seperti tekana,nada,durasi, dsb.

Morfem Beralomorf Zero

Dalam linguistik deskriptif ada konsep mengenai morfem beralomorf zero/nol (lambangnya o).Yaitu morfem yang salah satu alomorf tidak berwujud bunyi segmental,melainkan berupa “kekosongan”.

Morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri,tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.Contoh :pergi,maka dll.Sebaliknya morfem tak berwarna leksikal tidak mempunyai makna pada dirinya sendiri.Contohnya adalah pada morfem-morfem afiks:(ber,me,ter)

5.1.4 Morfem dasar,bentuk dasar,pangkal(stem) dan akar (roof)

- Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks.

- Istilah bentuk dasar/dasar (base) saja biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam sebuah dasar dalam suatu proses morfologi

- Istilah pangkal/stem digunakan untuk menyebutkan bentuk dasar dalam proses infleksi/proses gramatikalyang dapat terjadi pada morfem dasar.

5.2 KATA

5.2.1 Hakikat kata

Menurut bahasawan tradisional kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti/kata adalah satuan bahasa yang mempunyai satu pengertian.

Bahasa kata yang umam kita jumpai dalam berbagai buku linguistik eropa adalah bahwa kata merupaka bentuk yang,kedalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berubah dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas didalam kalimat.

5.2.2 Klasifikasi kata

Para tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam satu struktur/konstruksi.Ada juga kelompok linguis yang menggunakan kriteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata

5.2.3 Pembentuk kata

Pembentuk kata ini mempunyai dua sifat ,membentuk kata-kata.

5.2.3.1 Pembentukan Inflektif

Adalah pembentukan kata yang tidak membentuk kata baru kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya.

5.2.3.2 Derivatif

Pembentukan kata yang membentuk kata bar/kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

5.3PROSES MORFEMIS

5.3.1 Afiksasi

Proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar/bentuk dasar.

5.3.2 Reduplikasi

Proses morfermis yang mengulang beentuk dasar secara keseluruhan,maupun dengan perubahan bunyi.

5.3.3 Komposisi

Hasil dan proses penggabunagn morfe dasar dengan morfem dasar.

5.3.4 Konversi,Modifikasi Internal dan Suplesi

Konversi adalah pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi Internal :Proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur kedalam morfem yang berkerangka tetap.

Suplesi sejenis denagn modifikasi internal.

5.3.5 Pemendekan

Proses penaggalan bagian-bagian leksem/gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya

5.3.6 Produktifitas proses morfermis

Dapat tidaknya pembentukan kata itu ,terutama afiksasi,reduplikasi dan komposisi.

5.2Morfofonemik

Peristiwa berubahnya wujud morfermis dalam suatu proses morfologis.Terdiri dari:

-Pemunculan fonem

-peluluhan fonem

-Perubahan fonem

Pelepasan fonem

Pergeseran fonem

 

RAHADIAN GHANIY F_1402408023_BAB 4_ROMBEL 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:01 pm

Nama : Rahadian Ghaniy F

NIM : 1402408023

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa. Fonologi terbentuk dari kata fon = bunyi dan logi = ilmu.

Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi:

1. Fonetik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

2. Fonemik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tesebut sebagai pembeda.

4.1 FONETIK

adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Menurut terjadinya bunyi bahasa itu, fonetik dibedakan menjadi :

  1. Fonetik Artikularis / Fonetik Organis / Fonetik Fisiologis

Mempelajari bagaimana alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.

  1. Fonetik Akustik

Mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau feomena alam.

  1. Fonetik Auditoris

Mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Nama-nama alat ucap yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa :

  1. Paru-paru (lung)
  2. Batang tenggorok (trachea)
  3. Pangkal tenggorok (larynx)
  4. Pita suara (vocal cord)
  5. Krikoid (cricoid)
  6. Tiroid (thyroid) atau lekum
  7. Aritenoid (arythenoid)
  8. Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx)
  9. Epiglotis (epiglottis)
  10. Akar lidah (root of the tongue)
  11. Pangkal lidah (back of the tongue, dorsum)
  12. Tengah lidah (middle of the tongue, medium)
  13. Daun lidah (blade of the tongue, laminum)
  14. Ujung lidah (tip of the tongue, apex)
  15. Anak tekak (uvula)
  16. Langit-langit linak (soft palate, velum)
  17. Langit-langit keras (hard palate, palatum)
  18. Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)
  19. Gigi atas (upper teeth, dentum)
  20. Gigi bawah (lower teeth, dentum)
  21. Bibir atas (upper lip, labium)
  22. Bibir bawah (lower lip, labium)
  23. Mulut (mouth)
  24. Rongga mulut (oral cavity)
  25. Rongga hidung (nasal cavity)

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara yang harus berada dalam posisi terbuka,melalui rongga mulut atau rongga hidung, udara diteruskan ke udara bebas.

4.1.3 Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara Latin, yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf Latin itu.

4.1.4 Klasifikasi Bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas vocal dan konsonan. Beda terjadinya bunyi vocal dan konsonan adalah arus udara dalm pembentukan bunyi vocal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa, sedangkan pembentukan bunyi konsonan, arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut, vocal-vokal itu diberi nama :

[i] adalah vokal depan tinggi tak bundar

[e] adalah vokal depan tengah tak bundar

[∂] adalah vokal pusat tengah tak bundar

[o] adalah vokal belakang tengah bundar

[a] adalah vokal pusat rendah tak bundar

4.1.4.2 Diftong Atau Vokal Rangkap

Karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, Diftong dibedakan menjadi :

1. Diftong niak, karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua.

2. Diftong turun, karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Dibrdakan berdasarkan 3 patokan / criteria :

1. Berdasarkan posisi pita suara :

a. Bunyi bersuara, apabila pita suara hanya terbuka sedikit, sehingga terjadi getaran pada pita suara.

b. Bunyi tidak bersuara, apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getyaran pada pita suara.

2. Berdasarkan tempat artikulasinya :

a. Bilabial, konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas.bunyi [b], [p], dan [m].

b. Labiodental, konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi bawah merapat pada bibir atas, bunyi [f] dan [v].

c. Laminoalveolar, konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, daun lidah menempel pada gusi, bunyi [t] dan [d].

d. Dorsovelar, konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan vlum langit-langit lunak, bunyi [k] dan [g].

3. Berdasarkan cara artikulasinya :

a. Hambat (letupan, plosive, stop), bunyi [p], [b], [t], [d], dan [g].

b. Geseran atau frikatif, bunyi [f], [s], dan [z].

c. Paduan atau frikatif, bunyi [c] dan [j].

d. Sengauan atau nasal, bunyi [m], [n], dan [η].

e. Getaran atau trill, bunyi [r].

f. Sampingan atau lateral, bunyi [l].

g. Hampiran atau aproksiman, bunyi [w] dan [y].

4.1.5 Unsur Suprasegmental

Dalam suatu runtutan bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau agak singklat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, ada bunyi yang dapat disegmentasikan yang disebut bunyi segmental.

4.1.5.1 Tekanan atau Stres

Menyangkut masalah keras lunaknya bunyi.

4.1.5.2 Nada atau Pitch

Berkenaan dengan tinggi rendahnya bunyi.

4.1.5.3 Jeda atau Persendian

Berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.

1. Jeda antar kata, diberi tanda ( / )

2. Jeda antar frase, diberi tanda ( // )

3. Jeda antar kalimat, diberi tanda ( # )

4.1.6 Silabel

Silabel atau suku kata adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Satu silabel meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih.

4.2 FONEMIK

adalah bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Objek penelitian fonemik adalah fonem.

4.2.1 Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonematau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan bahasa pertama, kalau kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, berarti bunyi tersebut adalah fonem.

4.2.2 Alofon

adalah dua buah bunyi dari sebuah fonem yang sama. Alofon-alofon dari sebuah fonem memiliki kemiripan fonetis, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Distribusi alofon bisa bersifat komplementer dan bebas.

Distribusi komplementer / distribusi saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan dan bersifat tetap pada lingkungan tertentu.

Distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

Alofon adalah realisasi dari fonem, maka dapat dikatakan bahwa fonem bersifat abstrak karena fonem hanyalah abstraksi dari alofon itu dan yang konkret atau nyata ada dalam bahasa adalah alofon itu, sebab alofon itulah yang diucapkan.

4.2.3 Klasifikasi Fonem

Kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan criteria yang dipakai untuk klasifikasi bunyi (fon) dan panamaan fonem juga sama dengan penamaan bunyi.

4.2.4 Khazanah Fonem

adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.jumlah fonem bahasa Indonesia ada 24 buah, terdiri dari 6 buah fonem vokal (a, i. u, e, ∂, dan o) dan 18 fonem konsonan (p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, n, η, s, h, r, l, w, dan z).

4.2.5 Perubahan Fonem

Sebuah fonem dapat berbeda-beda tergantung pada lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang berada disekitarnya. Perubahan yang terjadi pada fonem bersifat fonetis, tidak mengubah fonem itu menjadi fonem lain.

Beberapa kasus perubahan finem antara lain :

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu sama atau mempunyai cirri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Dalam proses disimilasi, perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Umlaut = perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal iti diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal berikutnya yang tinggi.

Ablaut = perubahan vokal yang kita temikan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal.

Harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki yang berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke arah silabel yang menyusul

4.2.5.4 Kontraksi

adalah hilangnya sebuah fonem atau lebih yang menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.

Proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata.

4.2.6 Fonem dan Grafem

1. Grafem e dipakai untuk melambangkan dua buah foe\nem yang berbeda, yaitu fonem /e/ dan fonem /∂/.

2. Grafem p selain dipakai untuk melambangkan fonem /p/, juga dipakai untuk melambangkan fonem /b/ untuk alofon /p/.

3. Grafem v digunakan juga untuk melambangkan fonem /f/ pada beberapa kata tertentu.

4. Grafem t selain digunakan untuk melambangkan fonem /t/ digunakan juga untuk melambangkan fonem /d/ untuk alofon /t/.

5. Grafem k selain digunakan untuk melambangkan fonem /k/ digunakan juga untuk melambangkan fonem /g/ untuk alofon /k/ yang biasanya berada pada posisi akhir.

6. Grafem n selain digunakan untuk melambangkan fonem /n/ digunakan juga untuk melambangkan posisi /n/ pada posisi di muka konsonan /j/ dan /c/.

7. Gabungan grafem maih digunakan : ng untuk fonem /η/; ny untuk fonem /n/; kh untuk fonem /x/; dan sy untuk fonem /∫/.

8. Bunyi glottal stop diperhitungkan senagai alofon dari fonem /k/; jadi, dilambangjan dengan grafem k.

 

TITIS AIZAH;1402408143

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 12:07 pm

Nama : TITIS AIZAH

NIM : 1402408143

LINGUISTIK UMUM

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

I. MORFEM

Morfem adalah bentuk terkecil berulang dan mempunyai makna yang sama.

Bahasawan tradisional tidak mengenal konsep morfem karena morfem bukan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem mempunyai makna secara panologis.

a. Identifikasi Morfem

Cara menentukan morfem :

1. Membandingkan bentuk tersebut dengan lain

2. Mengenal maknanya

Morfem dalam morfologi ditulis dengan mengapitnya dengan kurung kurawal.

Misalnya kata manusia ditulis {manusia}, kata ketiga ditulis {ke} + {tiga} atau ({ke} + {tiga}).

b. Alomorf dan Morf

Alomorf adalah perwujudan konkret dari sebuah morfem yang sudah diketahui morfemnya.

Setiap morfem mempunyai alomorf.

Morf adalah nama untuk bentuk yang belum diketahui statusnya.

c. Klasifikasi Morfem

1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang dapat muncul dalam pertuturan tanpa morfem lain.

Morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa morfem lain.

2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi.

Morfem utuh adalah morfem yang merupakan satu kesatuan utuh. Semua morfem dasar bebas termasuk morfem utuh.

Morfem terbagi adalah morfem yang terdiri dari dua bagian yang terpisah. Semua afiks dalam Bahasa Indonesia yang disebut konfiks dan infiks termasuk morfem terbagi.

3. Morfem Segmental dan Morfem Suprasegmental.

Morfem segmental adalah morfem dibentuk oleh forem-forem segmental. Semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental.

Morfem suprasegmental adalah morfem dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi dan sebagainya.

4. Morfem Beralomorf Zero

Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud (“kekosongan” = Æ).

5. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem tidak Bermakna Leksikal.

Morfem bermakna leksikal adalah morfem yang telah memiliki makna tanpa diproses dengan morfem lain, digunakan secara bebas dan mempunyai kedudukan yang otonom di dalam pertuturan.

Morfem tidak bermakna leksikal adalah morfem yang tidak mempunyai makna tanpa digabungkan dengan morfem lain dalam proses morfologi.

6. Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem) dan Akar (root).

Morfem

Dasar

Afiks

Bebas

Terikat

Morfem dasar digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Morfem dasar ada yang termasuk morfem terikat dan morfem bebas.

Bentuk dasar digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam proses morfologi dapat berupa morfem tunggal dan gabungan morfem.

Pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi atau proses pembubuhan afik infleksi.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis atau sisa setelah afiksnya ditanggalkan.

II. KATA

Menurut para bahasawan tradisional, berdasar pada arti dan ortografi, kata adalah satuan bahasa atau deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi yang memiliki satu arti. Menurut bahasawan struktural aliran Bloomfield kata adalah satuan bebas terkecil ( a minimal free form ) sedangkan Bahasawan Generatif yaitu Chomsky menyajikan kata dengan simbol V (verbal), N (nomina), A (ajektiva) dan sebagainya, pada dasarnya analisis kalimat.

a. Klasifikasi Kata

Para bahawawan struktural mengklasifikasikan kata berdasarkan distribusi kata dalam suatu struktur. Misalnya nomina adalah kata yang berdistribusi di belakang kata bukan, verba adalah kata yang berdistribusi dibelakang kata tidak, ajektiva adalah kata yang berdistribusi di belakang kata sangat dan sebagainya.

b. Pembentukan Kata

Pembentukan kata mempunyai dua sifat yaitu :

1. Iinflektif

Dalam bahasa berfleksi yang digunakan untuk menyesuaikan bentuk berupa afiks (prefiks, infiks dan sufiks, atau modifikasi internal/perubahan yang terjadi dalam bentuk dasar itu ). Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba berkenaan dengan kata (tense), aspek, modus, diatesis, persona, jumlah dan jenis disebut konyugasi. Perubahan pada nomina dan ajektiva berkenaan dengan jumlah, jenis dan kasus disebut deklinasi.

Paradigma infleksional adalah bentuk kata yang berbeda tapi mempunyai identitas leksikal yang sama yang disesuaikan dengan kategori gramatikalnya. Contohnya amo, amamus, amos, amatis, dan amat.

Identitas leksikal adalah bentuk kata yang mempunyai makna tanpa diproses dengan bentuk lain.

2. Derivatif

Pembentukan kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan kata dasarnya, membentuk kata baru, kelasnya sama tapi maknanya berbeda.

III. PROSES MORFEMIS

1. Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah bentuk dasar. Unsur yang terlibat adalah

a. Bentuk Dasar

Bentuk dasar adalah bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan berupa bentuk kompleks atau berupa frase.

b. Afiks

Afiks adalah bentuk yang diimbuhkan pada morfem dasar dalam proses pembentukan kata.

Berdasarkan posisi pada bentuk dasar afiks dibagi menjadi enam :

1. Prefiks

Adalah afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar.

2. Infiks

Adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar.

3. Sufiks

Adalah afiks yang diimbuhkan pada akhir bentuk dasar.

4. Konfiks

Adalah afiks berupa morfem terbagi, berposisi di awal dan akhir bentuk dasar.

5. Interfiks

Adalah sejenis infiks yang muncul dalam proses penggabungan dua buah dasar.

6. Transfiks

Adalah afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar.

2. Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik secara keseluruhan, parsial atau perubahan bunyi. Bersifat infleksional karena tidak mengubah identitas leksikal, bersifat derivasional membentuk kata baru.

3. Komposisi

Komposisi adalah penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik bebas maupun terikat, membentuk konstruksi yang mempunyai identitas leksikal berbeda.

4. Konversi, Modifikasi, Internal dan Supresi

Konversi disebut juga Dorivosi Zero, Transmutasi, Transposisi adalah pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internala adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur kedalam morfem yang berkerangka tetap (biasanya berupa konsonan)

Suplesi adalah modifikasi internal yang perubahannya sangat ekstrim karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi, berubah total.

5. Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap.

Proses pemendekan dibagi menjadi tiga yaitu :

a. Penggalan

Penggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang dipendekkan.

b. Singkatan

Singkatan adalah hasil proses pemendekan berupa :

1. Pengekalan huruf awal dari leksem.

2. Pengekalan beberapa huruf demi sebuah leksem.

3. Pengekalan huruf pertama dikombinasikan dengan penggunaan angka untuk pengganti huruf yang sama.

4. Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem.

5. Pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir dari sebuah leksem.

c. Akronim

Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata.

6. Produktivitas Proses Morfemis

Produktivitas proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi digunakan berulang-ulang secara relatif tidak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dalam proses tersebut.

Proses dorivasi bersifat terbuka dan produktif atau dapat membentuk kata-kata baru namun keproduktifan itu dibatasi oleh kaidah-kaidah tertentu seperti pembentukan kata dengan perfiks memper- terbatas pada dasar ajektival dan numeral, tidak dapat digunakan pada dasar verbal.

Bidang adalah tidak adanya sebuah kata yang seharusnya ada karena adanya bentuk lain. (Aronoff, 1976:43).

7. Morfofonemik

Morfofonemik adalah proses berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis.

Perubahan fonem dalam proses morfofonemik berwujud :

1. Pemunculan Fonem

Contoh dalam pengimbuhan prefiks ”me” dengan bentuk dasar ”baca” menjadi ”membaca” terdapat konsonan sengau /m/.

2. Pelepasan Fonem

Contohnya pada pembentukan kata sejarawan dari

sejarah + wan sejarawan

3. Peluluhan Fonem

Contoh dalam pengimbuhan prefiks ”me” pada kata ”sikat” menjadi ”menyikat”. Dimana /s/ diluluhkan dengan nasal /ny/.

4. Perubahan Fonem

Contoh pada pengimbuhan prefiks ”ber-” pada kata ”ajar” menjadi ”belajar”. Dimana fonem /r/ menjadi fonem /l/.

5. Pergeseran Fonem

Pergeseran fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel satu ke silabel yang lain (berikutnya).

Contoh dalam proses pengimbuhan sufiks /an/ pada kata ”jawab” menjadi ”jawaban”, dimana fonem /b/ yang semula berada pada silabel /wab/ ke silabel /ban/.

Perhatikan !

Ja-wab + an =  ja wa ban

Lom pat + i = lom pa ti

 

Wara Rahma Puri;1402408195 Oktober 19, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 4:06 pm

Nama : Wara Rahma Puri

NIM : 1402408195

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK

  1. TATARAN LINGUISTIK (2):

MORFOLOGI

Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna.

5.1 MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun istilah morfem, sebab morfem bukan bagian sintaksis dan tidak semua morfem mempunyai makna secara filosofis.

5.1.1 Identifikasi Morfem

Untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalah morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut dengan bentuk lain. Jika bentuk tersebut bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem.

Contoh:

1) Kelima

Ketujuh

Kedelapan

Semua bentuk pada daftar diatas dapat disegmentasikan dan mempunyai makna yang sama yaitu menyatakan tingkat atau derajat. Bentuk ke pada daftar diatas merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang dan mempunyai makna yang sama, bisa disebut morfem.

2) Ke pasar

Ke dapur

Ke terminal

Bentuk ke pada daftar diatas dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan mempunyai arti yang sama yaitu menyatakan arah atau tujuan. Dengan demikian ke pada daftar diatas juga sebuah morfem.

Makna bentuk ke pada kelima dan kepasar tidak sama. Keduanya merupakan dua buah morfem yang berbeda, meskipun bentuknya sama. Jadi, ciri sebuah morfem adalah mempunyai kesamaan arti dan kesamaan bentuk.

5.1.2 Morf dan Alomorf

Perhatikan deretan bentuk berikut!

Melihat

Merasa

Membawa

Membantu

Mendengar

Menduda

Menyanyi

Menyikat

Menggali

Menggoda

Mengelas

Mengetik

Kita bisa melihat ada bentuk-bentuk yang mirip dan maknanya juga sama, antara lain

Me-pada melihat dan merasa → berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan (l) dan (r)

Mem-pada membawa dan membantu → berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan ( b) dan ( p)

Men-pada mendengar dan menduda → berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan ( d) dan ( t)

Meny-pada menyanyi dan menyikat → berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan ( s)

Meng-pada menggali dan menggoda → berdistribusi pada bentuk dasar yang ekasuku

Alomorf adalah perwujudan konkret dari sebuah morfem. Morf dan alomorf adalah dua buah nama pada bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya. Alomorf adalah nama untuk bentuk yang sudah diketahui status morfemnya.

5.1.3 Klasifikasi Morfem

Morfem diklasifikasikan berdasarkan kebebasannya, keutuhannya, maknanya dan sebagainya.

5.1.3.1 Morfem bebas dan Morfem terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Contoh: pulang, makan, dan rumah adalah termasuk morfem bebas. Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan. Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.

Dalam bahasa Indonesia ada beberapa hal yang perlu dikemukakan tentang morfem terikat. Pertama, bentuk-bentuk seperti juang, henti, dan gaul juga termasuk morfem terikat karena tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi. Kedua, bentuk-bentuk seperti baca, tulis, dan tending termasuk berikut prakategorial, karena merupakan pangkal kata, sehingga baru bisa muncul dalam peraturan sesudah mengalami proses morfologi.

Ketiga, bentuk-bentuk seperti renta (yang hanya muncul dalam tua renta) juga termasuk morfem terikat karena hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu disebut juga morfem unik. Keempat, secara morfologi bentuk-bentuk proporsi dan konjungsi termasuk morfem bebas.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Morfem utuh merupakan satu kesatuan yang utuh. Contoh: (meja), (kursi), (henti) dan (juang). Morfem terbagi merupakan dua bagian yang terpisah karena disisipi morfem lain. Semua afiks yang disebut konfiks dan infiks termasuk morfem terbagi.

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem (lihat), (lah), (sikat), dan (ber).

Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental.

Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur supra segmental, seperti tekanan, nada, durasi dan sebagainya.

5.1.3.4 Morfem beralomorf Zero

Adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmetal), melainkan berupa kekosongan. Lambangnya berupa ø.

Misal:

Bentuk sheep → bentuk jamaknya adalah morfem (sheep) dan morfem (ø) .

5.1.3.5 Morfem bermakna leksikal dan Morfem tidak bermakna leksikal

Adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.

Misal: (kuda), (pergi), (lari), dan (merah).

Morfem tak bermaksud leksikal

Tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri

Misal: morfem-morfem afiks seperti (ber-), (me-), (ter).

· Morfem dasar, bentuk dasar, pangkal (stem), dan akar (root)

Morfem dasar, bentuk dasar, pangkal dan akar adalah empat istilah yang biasa digunakan kajian morfologi.

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfe, afiks.

Contoh: (juang), (kucing), (sikat)

bebas

dasar

terikat

Morfem dasar

Afiks

Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau dasar (base) dalam suatu proses morfologi

Ø Bisa diberi afiks dalam suatu proses afiksasi

Ø Bisa diulang dalam suatu proses reduplikasi

Ø Bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi

Pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infeksi atu proses pembukuan afiks inflektif.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis dan lebih jauh lagi. Artinya akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya baik afiks infleksional maupun afiks denvasionalnya di sanggahan.

Kata

Para tata bahasawan tradisional mengartikan kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian, atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti.

Klasifikasi kata

Adalah penggolongan kata, atau penjenisan kata.

Para tata bahasawan menggunakan criteria makna dan criteria fungsi.

kriteria makna: digunakan untuk mengidentifikasikan kelas: – verba → kata kerja

- nomina → kata benda

- ajektifa → kata sifat

kriteria fungsi: digunakan untuk mengidentifikasikan proposisi, konjungsi, adverbial, pronominal

klasifikasi kata itu perlu, sebab dengan mengenal kelas sebuah kata, yang dapat kita identifikasikan dari cirri-cirinya, kita dapat memprediksi penggunaan atau pendistribusian kata itu didalam ujaran.

Pembentukan kata

Inflektif

Perubahan atau penyesuaian bentuk verba disebut konjugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektiva disebut deklinasi.

Derivatif

Pembentukan kata secara derivative membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

Proses morfemis:

1) afiksasi:

Pembentukan kata secara pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.

Ø Infiks: afiks yang diimbuhkan ditengah bentuk dasar

Ø Sufiks: afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar

Ø Konfiks: afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar dan bagian yang kedua berposisi pada akhir

Ø Interfiks: sejenis infiks atu elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsure

Ø Transfiks: afiks yang berwujud vocal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar.

2) Reduplikasi

Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian, maupun dengan perubahan bunyi.

3) Komposisi

Adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identifikasi leksikal yang berbeda atau yang baru

4) Konversi

Modifikasi internal dan suplei

Konversi → sering juga disebut derivasi zero, transmutan, dan transposisi adalah suatu proses pembentukan kata dan sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental

Modifikasi internal → proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur ke dalam morfem yang berkerangka tetap.

5) Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap samara dengan makna utuhnya.

6) Produktivitas proses morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi

Morfonemik

Disebut juga morfonemik, morfologi, atau morfonologi, atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologi, baik afiksasi , reduplikasi maupun komposisi.

→ proses peluluhan fonem → dapat dilihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me- pada kata sikat , dimana fonem is / pada kata sikat itu diluluhkan dan disenyawakan dengan bunyi nasal / ny / dan prefiks tersebut.

→ proses perubahan fonem → dapat dilihat pada proses pengimbuhan prefiks ber- pada kata agar dimana fonem /r/ dan prefiks itu berubah menjadi fonem /l/

→ proses pergeseran fonem → adalah pindahnya sebuah fonem dan silabel yang satu ke silabel yang lain biasanya ke silabel berikutnya.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.