Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Siti_Kumaeroh-1402408310-Bab_5 Oktober 26, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 8:43 pm

Disusun Oleh :

Nama                  : Siti Kumaeroh

NIM                   : 1402408310

Rombel               : 03

Kelas                  : 1E

Mata Kuliah        : Bahasa Indonesia

Pengampu           : Bapak Umar Samadhy

Jurusan                : Pend. Guru SD

Fakultas              : FIP UNNES

Alamat                : Ds. Brumbung Rt/Rw.03/IV   Mranggen, Demak

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2);

MORFOLOGI

Kita kembali dulu melihat arus ujaran yang diberikan pada bab fonologi yang lalu { kedua orang itu meninggalkan ruang siding meskipun belum selesai}. Secara bertahap telah kita segmentasikan ujaran itu, sehngga akhirnya kita dapatkan suatu bunyi terkecil dari arus ujaran itu disebut Fonem. Diatas satuan fonem yang fungsional itu ada satuan yang lebih tinggi yang disebut silabel.

Diatas satuan silabel itu secara kualitas ada satuan lain yang fungsional yang disebut morfem. Sebagai satuan fungsional, morfem ini merupakan satuan grametikal terkecil yang mempunyai makna.

5.1 MORFEM

Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun istilah morfom, karena konsep morfem baru diperkenalkan oleh kaun struktualis pada abad ke duapuluhan.

5.1.1 Identifikasi Morfem

Untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalah morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut didalam kehadirannya dengan bentuk – bentuk yang lain. Kalau bentuk tersebut ternyata berulang – ulang maka  bentuk itu adalah sebuah morfem. Selain itu kita juga harus mengenal maknanya.

5.1.2 Morf dan Alomorf

Morfem adalah bentuk yang sama, yang terdapat berulang – ulang dalan satuan yang lain. Sedangkan alomorf adalah perwujudan konkret dari sebuah morfem. Selain itu bias juga morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama. Morf merupakan nama untuk semua bentuk yang belum diketahui. Sedangkan alomorf merupakan nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

5.1.3 Klsifikasi Morfem

Morfem – morfem dalam setiap bahasa diklasifikasikan berdasarkan beberapa criteria, Antara lain:

1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat.

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Misalnya, bentuk pulang, makan, runah, dan bagus. Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

Menurut Vehaar kalimat imperative adalah kalimat ubahan dari kalimat deklaratif. Dalam kalimat deklaratif  harus digunakan prefiks inflektif, sedangkan dalam kalimat imperative, juga dalam kalimat parsitif harus digunakan prefiks inflektif Ө. Sedangkan yang disebut klitika adalah bentuk – bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel, secara fonologis tidak mendapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat pada bentuk lain tetapi dapaat dipisahakan.

2. Morfem Utuh  dan Morfem Terbagi

Semua morfem dasar bebas yang dibicarakan adalah termasuk morfem utuh. Seperti {meja}, {kursi},{kecil}, dll.Begitu juga dengan sebagian morfem terikat seperti {ber -},{henti},{juang}. Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah.

3. Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang terbentuk oleh fonem – fonem segmental, seperti morfem {lihat},{lah}, dan {sikat}. Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfeM suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsure – unsure suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi dan sebagainya.

4. Morfem Beralomorf Zero

Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsure suprasegmental), melainkan berupa kekosongan.

5. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem – morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu terproses dulu dengan morfem lain. Sedangkan, morfem tidak bermakna leksikal biasanya tidak mempunyai makna apa – apa pada dirinya sendiri.

5.1.4 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (stem) dan Akar (root)

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Istilah bentuk dasar biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Istilah Pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif.

Sedangkan akar digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh.

5.2 KATA

5.2.1 Hakikat Kata

Menurut bahasawan tradisional, kata adalah suatu bahasa yang memiliki suatu pengertian. Sedangkan, menurut Bloomfild, kata adalah satuan bebas terkecil yang tidak pernah diulas atau dikomentari, seolah – olah batasan itu sendiri bersifat final.

5.2.2 Klasifikasi Kata

Dalam mengklasifikasikan kata tidak pernah tertuntaskan karena bahasa mempunyai  cirinya masing – masing dan criteria yang digunakan untuk membuat klasifikasi kata itu bias bermacam – macam.

Dengan mengenal kelas sebuah kata, yang dapat kita identifikasikan dari ciri – cicinya. Selain itu kita dapat memprediksikan penggunaan kata itu dalam ujaran.

5.2.3 Pembentukan Kata

Pembentukan itu mempunyai dua sifat yaitu :

1. Inflektif

Alat yang digunakan untuk penyesuaian bentuk itu biasanya berupa afiks, yang mungkin berupa prefiks, infiks atau juga berupa modifikasi internal, yakni perubahan yang terjadi didalam bentuk  dasar itu.

2. Derivatif

Pembentukan kata secara inflektif itu tidak membentuk kata baru atau kata lain yang berbeda. Sedangkan pembentukan kata secaea derivative membentuk kata baru, kata identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

5.3 PROSES MORFEMIS

Proses Morfemis ini berkenaan dengan :

1. Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsure – unsur yaitu:

(1) Bentuk dasar atau dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi.

(2) Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar  dalam proses penbentukan kata.

(3) Makna Grametikal yang dihasilkan

Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasr biasanya dibedakan adanya

a.) Prefiks, adalah afiks yang diimbuhkan dimuka bentuk dasar.

b.) Infiks, adalah afiks yang diimbuhkan ditengah bentuk dasar.

c.) Sufiks, adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar.

d.) Konfiks, adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang baguan pertama berposisi  pada awal bentuk dasar dan bagian yang kedua pada akhir bentuk dasar.

e.) Interfika, adalah afiks yang berwujud vocal – vocal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar.

2. Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian, maupun dengan perubahan bunyi. Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatic (infleksional) dan dapat pula bersifat derivasional. Reduplikasi yang paradigmatic tidak mengubah identitas leksikal, melainkan hanya memberi makna gramatikal. Sedangkan yang bersifat derivasional membentuk kata baru atau kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya.

3. Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar, baik yang bebas maupun terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru. Vehaar (1978) menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk kalau hubungan kedua unsurenya tidak bersifat sintaksis. Sedangkan Kridalaksana (1985) menyatakan kata majemuk haruslah tetap berstatus kata. Selain itu kata majemuk harus dibedakan dari idiom, sebab kata majemuk adalah konsep sintaksis, sedangkan idiom adalah konsep semantis.

4. Konversi, Modifikasi internal, dan Suplesi

Korversi, sering disebut juga derivasi zero, transmutasi, dan transposisi, adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsure segmental. Modifikasi Iternal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsure – unsure kedalam morfem yang berkerangka tetap. Ada jenis modifikasi internal lain yang disebut suplesi. Dalam proses suplesi perubahannya sangat ekstrem karena cirri – cirri bentuk dasar itu berubah total.

5. Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya.

6. Produktifitas Proses Moprfemis

Produktifitas proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi, digunakan berulang – ulang yang secara relative tak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru drngan proses tersebut. Proses Inflektif tidak dapat dikatakan proses yang produktif karena tidak dapat membentuk kata baru. Jdi daftarnya adalh daftar tertutup. Misalnya, street hanya mempunyai dua alternal yaitu street dan jamaknya : streets. Lain halnya dengan derivasi. Proses derivasi bersifat terbuka. Artinya penutur bahasa dapat membuat kata – kata baru, bersifat produktif. Misalnya, kemenarikan akan segera mengerti kata itu karena mereka sudah tahu kata menarik dan tahu fungsi penominalan konfiks ke- / -an.

D. Morfofonemik

Morfofonemik adalh peristiwa berubahnya wujud morfemis dalan suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Perubahan fenom dalam proses morfofnemik ini dapat berwujud :

  1. Pemunculan fenom, misalnya : me- dengan bentuk dasar baca; dimana muncul konsonan sengau / m /, me- + baca → membaca.
  2. Pelepasan fenom, misalnya : akhiran wan pada kata sejarah; dimana fenom / h / menjadi hilang, sejarah + wan → sejarawan.
  3. Peluluhan fenom, misalnya : me – pada kata sikat; dimana fenom / s / diluluhkan menjadi / ny /, me- + sikat → menyikat.
  4. Perubahan fenom, misalnya : ber- pada kata ajar; dimana fenom / r / berubah menjadi fenom / l /, ber- + ajar → belajar.
  5. Pergeseran fenom, misalnya : sufiks / i / pada kata lompat; dimana fenom / t / yan semula berada pada silabel / pat / pindah kesilabel berikutnya / ti /, lom.pat + -i→ lom.pa.ti

 

Siti Mu’awanah_1402408022_bab 5 Oktober 25, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 12:13 pm

Disusun Oleh :

Nama : Siti Mu’awanah

NIM : 1402408022

Mata Kuliah : Bahasa Indonesia

Dosen : Drs. Umar Samadhy, M.Pd.

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) : MORFOLOGI

1. MORFEM

Morfem adalah satuan bentuk terkecil dalam sebuah bahasa yang masih memiliki arti dan tidak bisa dibagi menjadi satuan yang lebih kecil lagi.

1.1. Identifikasi Morfem

a) Morfem bebas dan morfem terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.

Contoh: pulang, makan, rumah.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dengan morfem lain tidak muncul dalam pertuturan.

Contoh: (ter-), (ber-), (henti), (juang)

b) Morfem utuh dan morfem terbagi

Perbedaan morfem utuh dan morfem terbagi berdasarkan bentuk format yang dimiliki morfem tersebut, yaitu apakah merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi karena disusupi morfem yang lain.

Contoh morfem utuh: (meja), (kursi), (kecil)

Sedangkan morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri atas dua buah bagian yang terpisah, satu di awal dan satu di belakang. Contoh morfem terbagi : kata perbaikan terdiri atas satu morfem utuh yaitu baik dan satu morfem terbagi yaitu (per- / -an)

c) Morfem segmental dan suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental.

Contoh: lihat, lah, sikat, ber

Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental.

Contoh: tekanan, nada, durasi.

d) Morfem beralomorf zero

Yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun suprasegmental.

e) Morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri.

Contoh: kuda, pergi, lari, merah

Sedangkan morfem tak bermakna leksikal adalah morfem yang tak bermakna apa-apa pada dirinya sendiri. morfem ini baru memiliki makna dalam gabungannya dengan bentuk lain dalam ujaran.

Contoh: (ber-), (me-), (ter-)

Kata

Merupakan kumpulan bunyi ujaran atau satuan bahasa yang memiliki satu pengertian, mengandung arti, atau dalam bahasa tulis. Kata dinyatakan sebagai susunan huruf-huruf yang mempunyai arti yang jelas (huruf konsonan dan vokal)

1.2. Morfem Dasar, bentuk dasar, pangkal (stem), dan akar (root)

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. Istilah bentuk dasar atau dasar (base) saja biasanya digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi.

Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi atau proses pembubuhan afiks inflektif.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiksnya, baik afiks infleksional maupun afiks derivasionalnya ditanggalkan.

Dilihat dari status dalam proses gramatika terdapat tiga macam morfem dasar bahasa Indonesia:

1. Morfem dasar bebas yakni morfem dasar yang secara potensial dapat langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat digunakan dalam ujaran. Contoh: morfem meja, kursi, pergi, dan kuning.

2. Morfem dasar yang kebebasannya dipersoalkan

Yang termasuk dalam kalimat imperatif tidak perlu diberi imbuhan dan dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat ditanggalkan.

3. Morfem dasar terikat, yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi.

Contoh: morfem juang, henti, gaul dan abai

2. KATA

1. Hakikat Kata

Menurut para tata bahasawan tradisional, kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi.

2. Klasifikasi kata

Menurut tata bahasawan tradisional:

a. Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan

b. Nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang dibendakan

c. Konjungsi adalah kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata atau bagian kaliman yang satu dengan bagian yang lain.

Sedangkan para kelompok linguis yang menggunakan kriteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menggolongkan kata.

Fungsi subyek diisi oleh kelas nomina, fungsi predika diisi oleh verba atau adjektifa, fungsi objek diisi oleh kelas nomina dan keterangan diisi leh adverbia.

3. Pembentukan kata

Pembentukan kata mempunyai dua sifat, yaitu membentuk kata-kata yang bersifat inflektif dan yang bersifat derivatif.

a. Inflektif

Dalam penggunaan bahasa-bahasa berinfleksi biasanya disesuaikan dengan afiks yang mungkin berupa prefiks, infiks, dan sufiks, atau juga berupa modifikasi internal yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasar itu. Dalam bahasa-bahasa berfleksi biasanya juga ada penyesuaian bentuk-bentuk kata untuk menunjukkan pertalian sintaksis.

b. Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

3. PROSES MORFEMIS

1. Afiksasi

Afiksasi adalah pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Beberapa unsur dalam proses ini:

a. Dasar atau bentuk dasar

b. Afiks

c. Makna gramatikal yang dihasilkan

Bentuk dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar yaitu bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi.

Afiks adalah sebuah bentuk biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata dibedakan atas:

1. Afiks intensif yaitu afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional.

2. Afiks derivatif yaitu kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.

2. Reduplikasi

Yaitu proses morfemis yang mengulang bentuk dasar baik secara keseluruhan, sebagian, maupun dengan perubahan bunyi.

Proses reduplikasi dapat berupa atau bersifat paradigmatis yang tidak mengubah leksikal dan yang bersifat derivasional yang membentuk kata baru atau kata yang identitas leksikalnya berbeda dengan bentuk dasarnya.

3. Komposisi

Yaitu hasil dan proses penggolongan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat.

Produk sisanya proses komposisi dalam bahasa Indonesia menimbulkan berbagai masalah dan berbagai pendapat karena komposisi itu memiliki jenis dan makna yang berbeda-beda.

4. Konversi, Modifikasi Internal dan Suplesi

Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental ke dalam morfem yang berkerangka ketat.

Suplesi adalah modifikasi internal yang perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

5. Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan bentuk utuhnya.

Singkatan adalah hasil proses pemendekan antara lain:

1. Pengekalan huruf awal dari sebuah leksem atau gabungan leksem

Contoh: Km (kilometer), H (haji)

2. Pengekalan beberapa huruf dari sebuah leksem

Contoh : bhs (bahasa)

3. Pengekalan huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk pengganti huruf yang sama. Misalnya: P4 (pedoman penghayatan pengamalan pancasila)

4. Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem. Misalnya : As (asisten)

5. Pengekalan huruf pertama dan terakhir dari sebuah leksem

Misal: Fa (firma), Pa (perwira)

Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dihafalkan sebagai kata. Contoh: wagub (wakil gubernur).

6. Produktifitas proses morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi, digunakan berulang secara tidak terbatas. Ada kemungkinan menambah bentuk baru dalam proses tersebut.

Proses inflektif atau paradigmatis karena tidak membentuk kata baru tidak dapat dikerjakan proses yang produktif. Lain halnya proses derivasi yang dapat membuat kata-kata baru dengan proses tersebut.

Perubahan fonem

1. Pemunculan fonem

2. Pelesapan fonem

3. Peluluhan fonem

4. Perubahan fonem

5. Pergeseran fonem

 

MUHAMMAD OKTO GUNANTO 1402408243 BAB V TATARAN LINGUISTIK = MORFOLOGI Oktober 24, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 7:35 pm


NAMA : MUHAMMAD OKTO GUNANTO

NIM : 1402408243

ROMBEL : 3

BAB V

TATARAN LINGUISTIK (2) :

MORFOLOGI

I. MORFEM

a. Identifikasi Morfem

Untuk menentukan sebuah satuan morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain. Apabila bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain dan mempunyai makna yang sama, maka bentuk tersebut adalah morfem.

Contoh: kedua “ke” disini dapat disegmentasikan sebagai satuan

ketiga tersendiri dan mempunyai makna yang sama

kelima (tingkat/derajat) maka “ke” disini disebut sebagai

ketujuh morfem.

Jadi, kesamaan arti dan kesamaan bentuk merupakan ciri atau identitas sebuah morfem. Dalam studi morfologi, morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya pada kurung kurawal.

Misal: masjid {masjid}

kedua ({ke} + {dua})

b. Morf dan Alomorf

Morf dan Alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama.

a. Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya.

b. Alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya, atau dapat disebut juga bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama.

Contoh: melihat, membawa, mendengar, menyanyi, menggali, mengelas.

Pada contoh tersebut terdapat kesamaan makna walaupun bentuk agak berbeda dari bentuk me –, mem –, men –, meny –, meng –, menge –. Bentuk-bentuk ini disebut sebagai alomorf dan disebut morfem meN – (dibaca: me – nasal; N besar melambangkan nasal).

Partikel {Al} dalam bahasa Arab mempunyai dua bentuk alomorf:

Ø tetap berbentuk {al}: al – hilal, al – qur’an, an – insan.

Ø berubah/berasimilasi dengan fonem awal bentuk dasarnya: ar – rahman, an – nisa, at – taqwa.

c. Klasifikasi Morfem

Ø Morfem Bebas dan Morfem Terikat (Kebebasannya)

Morfem Bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Misalnya: pulang, makan, rumah, dan bagus.

Morfem Terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam penuturan.

Contoh: semua afiks dalam bahasa Indonesia.

Ø Morfem Utuh dan Morfem Terbagi (Bentuk Formalnya)

Morfem Utuh adalah morfem yang merupakan satu kesatuan yang utuh.

Contoh: {meja}, {kursi}, {kecil}, {ter – }, {ber – }, {henti}.

Morfem Terbagi adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah.

Contoh: kesatuan terdiri dari satu morfem utuh yaitu {satu} dan satu morfem terbagi yakni {ke – / – an}

Ø Morfem Segmental dan Suprasegmental (Jenis Fonem Pembentuknya)

Morfem Segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental atau semua morfem yang berwujud bunyi.

Contoh: {lihat}, {lah}, {sikat}, {ber}

Morfem Suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsure-unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya.

Contoh: Bahasa Ngbaka dari Kongo Utara, verbenya diikuti kala (tense) berupa nada.

Kala kini = à, kala lampau = ā, kala nanti = ǎ, imperatif = á.

Ø Morfem Beralomorf Zero

Morfem beralomorf zero adalah morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental) melainkan berupa kekosongan. Lambangnya: ø.

Ø Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri tanpa harus berproses dulu dengan morfem lain.

Morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri, baru bermakna dalam gabungannya dengan morfem lain.

d. Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem) dan Akar (Root)

Ø Morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengna morfem afiks, dan terdiri atas morfem nenas dan terikat.

Morfem

Afiks

Dasar

Afiks

Afiks

Ø Bentuk Dasar atau Dasar (Base) biasa digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi, bentuk dasar dapat berupa morfem tunggal atau gabungan.

Ø Pangkal (Stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif.

Contoh: books pangkalnya adalah book.

Ø Akar (Root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.

Contoh:

touch (akar yang tidak dapat dianalisis lagi)

able (sufiks derivasional)

touchable (akar yang dapat dianalisis lagi)

un – (prefiks derivasional)

untouchable (pangkal (stem))

– s (sufiks infleksional)

untouchables

II. KATA

a. Hakikat Kata

Menurut bahasawan tradisional, kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi dan mempunyai satu arti. Menurut Bloomfield, kata adalah satuan bebas terkecil yang tidak pernah diulas atau dikomentari, seolah-olah batasan itu sudah bersifat final. Pada buku Linguistik Eropa, kata merupakan bentuk yang, kedalam mempunyai susunan fonologis, yang stabil dan tidak berubah dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat.

b. Klasifikasi Kata

Tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria makna dan criteria fungsi. Tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur atau konstruksi. Kelompok linguis menggunakan kriteria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata.

c. Pembentukan Kata

Untuk dapat digunakan di dalam kalimat atau pertukaran tertentu, maka setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa fleksi dan aglutunasi, harus dibentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi. Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat, yaitu: bersifat infleksif dan derivatif.

III. PROSES MORFEMIS

a. Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada dasae dalam proses pembentukan kata. Afiks dapat dibedakan menjadi: prefix, infiks, sufiks, konfiks, interfiks dan transfiks. Unsure yang terdapat pada afiksasi adalah dasar /bentuk dasar, afiks, dan makna gramatikal yang dihasilkan.

b. Reduplikasi

Reduplikasi adalahn proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi.

c. Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun terikat, sehingga berbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru.

Contoh: lalu lintas, akhimulkalam, bluebird.

d. Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi

Ü Konfersi sering jiga disebut derivasi zero, transmutasi dan transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Misal: drink merupakan nomina pada kalimat: have a drink.

drink merupakan verba pada kalimat: if you’re thirsty, you must drink.

Ü Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dengna penambahan unsur-unsur (yang biasanya berupa vokal) ke dalam morfem yang berkerangka tetap (yang biasanya berupa konsonan).

Contoh:

B. arab dengan kerangka k–t–b = tulis katab = dia laki-laki menulis

maktaba = toko buku

ka tib = penulis

Ü Suplesi merupakan modifikasi internal namun perubahannya sangat ekstrem karena ciri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

Misal: bentuk kala lampau dari kata Inggris “go” yang menjadi “went”.

e. Pemendekan

Pemendekan adalah proses pemenggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya. Hasil proses pemendekan disebut kependekan.

Contoh: laboratorium lab.

f. Produktifitas Proses Morfemis

Yang dimaksud produktifitas dalam proses morfemis ini adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi, digunakan berulang-ulang yang secara relative tak terbatas; artinya, ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

Proses inflektif atau paradigmatis, karena tidak membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya tidak dapat dikatakan proses yang produktif. Proses inflektif bersifat tertutup berbeda dengan derivasi yang bersifat terbuka demana penutur suatu bahasa dapat membuat kata-kata baru dengan proses tersebut.

Misal: gramatikal kegramatikalan.

Jadi bisa dikatakan proses derivasi adalah produktif sedangkan proses infleksi tidak produktif.

IV. MORFOFONEMIK

Morfofonemik, disebut juga morfonemik, morfofonologi atau morfonologi atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi maupun komposisi. Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud:

1. Pemunculan fonem, contoh: me – + baca = membaca (muncul konsonan sengau /m/).

2. Pelepasan fonem, contoh: sejarah + wan = sejarawan (fonem /h/ menjadi hilang).

3. Peluluhan fonem, contoh: me – + sikat = menyikat (fonem /s/ diluluhkan dengan bunyi nasal /ny/).

4. Perubahan fonem, contoh: ber – + ajar = belajar (fonem /r/ berubah menjadi fonem /l/).

5. Pergeseran fonem yaitu pindahnya sebuah fonem dari silabel satu ke silabel yang lain, contoh: ja. wab + – an ja. wa. ban.

 

Ruwaida hikamah 1402408236 bab 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 6:49 pm


BAB 5.

TATANAN LINGUISTIK (2) MORFOLOGI

Morfem

Adalah bentuk yang sama, yang terdapat berulang-ulang dalam satuan bentuk yang lain.

Istilah morfem tidak dikenal dalam linguistik tradisional, karena morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis, dan tidak semua morgem mempunyai makna secara filosofis.

Identifikasi Morfem

Untuk menentukan sebuah bentuk adalah morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain.

Kalau bentuk tersebut bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain, maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem.

Contoh 1: Kedua

Kelima

Ketiga

Bentuk ke pada daftar di atas mempunyai makna yang sama, yaitu menyatakan tingkat atau derajat. Dengan demikian bentuk ke pada daftar di atas disebut sebagai morfem.

Contoh 2 : Ke pasar

Ke kampus

Ke dapur

Contoh ke pada daftar di atas mempunyai makna yang sama, yaitu menyatakan arah atau tujuan. Dengan demikian ke pada daftar di atas adalah sebuah morfem.

Bentuk ke pada kata kedua dan ke pasar tidak sama, maka kedua ke itu bukanlah morfem yang sama. Keduanya merupakan dua buah morfem yang berbeda. Ciri sebuah morfem adalah kesamaan arti dan kesamaan bentuk.

Contoh: (1) Mereka mandi di kali

(2) Sepagi ini dia sudah dua kali makan

Kali pada kedua kalimat di atas tidak mempunyai makna yang sama, maka kedua “kali” itu bukanlah morfem yang sama.

Morf dan Alomorf

Alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem.

Contoh : melihat mendengar menggali

merasa menduda menggoda

membawa menyanyi mengelas

membantu menyikat mengetik

Setiap morfem tentu mempunyai alomorf, karena alomorf adalah perwujudan konkret dari sebuah morfem.

Morfem awalan me- dalam bahasa Indonesia mempunyai enam buah morfem, yaitu : me-, mem-, meny-, dan menge-, distribusinya :

me- : melihat ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /l/

merasa ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /r/

mem- : membaca ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/

membantu ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /p/

men- : mendengar ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /d/

menduda ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /t/

meny- : menyanyi ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /s/

menyikat ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /s/

meng- : menggali ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /g/

menggoda ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /k/

menge- : mengelas ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan e kasuku

mengetik ð pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan e kasuku

Klasifikasi Morfem

Morfem dalam setiap bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan kebebasannya, keutuhannya, maknanya, dan sebagainya.

1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.

Contoh: pulang, makan, rumah, dan bagus

Kita dapat menggunakan morfem-morfem tersebut tanpa harus terlebih dahulu menggabungkannya dengan morfem lain.

Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.

Contoh: - Semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.

- Morfem penanda jamak dalam bahasa Inggris: Cats, books, tacks, dogs, cows

Berkenaan dengan morfem terikat ini dalam bahasa Indonesia ada beberapa hal yang perlu dikemukakan, yaitu:

1. Bentuk Prakategorial

Bentuk-bentuk seperti juang, henti, gaul, dan baur juga termasuk morfem terikat, karena bentuk tersebut, meskipun bukan afiks, tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi, seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.

2. Kalimat imperalif

Adalah kalimat ubahan dari kalimat deklaratif.

- Kalimat deklaratif aktif harus digunakan prefiks inflektif me-

- Kalimat deklaratif pasif harus digunakan prefiks inflektif di- atau ter-

- Kalimat imperaktif dan dalam kalimat partisif, harus digunakan prefiks inflektif ә.

3. Bentuk morfem unik

Bentuk-bentuk seperti renta (hanya muncul dalam tua renta)

Bentuk-bentuk seperti kerontang (hanya muncul dalam kering kerontang)

Bentuk-bentuk seperti bugar (hanya muncul dalam segar bugar)

Karena hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu maka disebut morfem unik. Tetapi dalam pengembangan istilah dewasa ini, beberapa morfem unik seperti bugar mulai dikembangkan menjadi kebugaran jasmani. Dengan demikian sifat keunikannya menjadi lenyap.

4. Bentuk preposisi dan konjungsi

Seperti ke, dari, pada, dan, kalau, atau secara morfologis termasuk morfem bebas, tetapi secara sintaksis merupakan bentuk terikat.

5. Klitika

Merupakan morfem yang agak sukar ditentukan statusnya.

Klitika adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel, secara fonologis tidak mendapat tekanan. Kemunculannya dalam pertuturan selalu melekat pada bentuk lain, tetapi dapat dipisahkan.

Contoh: klitika –lah ð Ayahlah yang akan datang

Dapat dipisah dari kata ayah, misalnya:

Ayahmulah yang akan datang

Menurut posisinya klitika dibedakan atas proklitika dan enklitika

Proklitika : klitika yang berposisi di muka kata yang diikuti.

Contoh: ku bawa, kau ambil

Enklitika : klitika yang berposisi di belakang kata yang dilekati.

Contoh: -lah, -nya, dan –ku ð dialah, duduknya, dan nasibku

2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Semua morfem bebas yang dibicarakan pada bab ini adalah morfem utuh.

Conth: meja, kursi, kecil, laut, pensil

Begitu juga dengan sebagian morfem terikat, seperti ter-, ber-, henti dan juang

Morfem terbagi

Adalah sebuah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah.

Contoh: kesatuan ð terdapat satu morfem utuh, yaitu “satu” dan satu morfem terbagi yaitu {ke- / -an}

Semua morfem akar untuk verba adalah morfem terbagi, yang terdiri atas tiga buah konsonan yang dipisahkan oleh tiga buah vokal, yang merupakan morfem terikat yang terbagi pula.

Catatan:

Pertama, semua afiks yang disebut konfiks seperti {ke- / -an}, {ber- / -an}, {per- / -an}, dan {pe- / -an} termasuk morfem terbagi.

Kedua, dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut intiks, yaitu afiks yang disisipkan di tengah morfem dasar.

Contoh: afiks {-er- } pada kata gerigi

Infiks { -el- } pada kata pelatuk

Infiks { -em- } pada kata gemetar

Dengan demikian infiks tersebut telah mengubah morfem untuk {gigi} menjadi morfem terbagi {e- / -atuk}, dan mengubah morfem utuh {getar} menjadi morfem terbagi (g- / -etar).

3. Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morgem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem {lihat}, {lah}, {sikat}, dan {ber}.

Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental.

Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur supra segmental. Seperti tekanan, nada, durasi dan sebagainya.

4. Morfem Beralomorf Zero

Adalah morfem yang selalu satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan” lambangnya berupa Ø.

Misal: bentuk sheep ð bentuk jamaknya adalah morfem {sheep} dan morfem {Ø}

5. Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tidak Bermakna Leksikal

Morfem bermakna leksikal

Adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain.

Misal: {kuda}, {pergi}, {lari}, dan {merah}

Morfem tak bermakna leksikal

Tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri.

Misal: morfem-morfem afiks, seperti {ber-}, {me-}, dan {ter-}

Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (stem), dan Akar (root)

Morfem dasar, bentuk dasar, pangkal dan akar adalah empat istilah yang biasa digunakan dalam kajian morfologi.

Istilah morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks.

Contoh: {juang}, {kucing}, dan {sikat}

Dasar

Dasar

Morfem Terikat

Afiks

Sebuah morfem dasar dapat menjadi sebuah bentuk dasar atau dasar (base) dalam suatu proses morfologi.

Ÿ bisa diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi

Ÿ bisa diulang dalam suatu proses reduplikasi

Ÿ bisa digabung dengan morfem lain dalam suatu proses komposisi

Pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infeksi, atau proses pembubuhan afik inflektif.

Akar (root) digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya akar itu adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiknya, baik afiks infleksional maupun afiks derivasionalnya ditanggakan.

Kata

Para tata bahasawan tradisional mengartikan kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasi, dan mempunyai satu arti.

Klasifikasi kata

Adalah penggolongan kata, atau penjenisan kata.

Para tata bahasawan menggunakan kriteria makna dan kriteria fungsi.

Kriteria makna: digunakan untuk mengidentifikasi kelas :

- Verba ð kata kerja

- Nomina ð kata benda

- Ajektiva ð kata sifat

Kriteria fungsi: digunakan untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina.

Klasifikasi kata itu perlu, sebab dengan mengenal kelas sebuah kata, yang dapat kita identifikasikan dari ciri-cirinya, kita dapat memprediksikan penggunaan atau pendistribusian kata itu di dalam ujaran.

Pembentukan kata

Inflektif

Perubahan atau penyesuaian bentuk verba disebut konyugasi, dan perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektifa disebut deklinasi.

Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

Proses Morfemis

1. Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.

1. Infiks : afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar.

2. Sufiks : afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar.

3. Konfiks : afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar.

4. Interfiks : sejenis infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur.

5. Transfiks : afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan dasar.

2. Reduplikasi

Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi.

3. Komposisi

Adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru.

4. Konversi, Modifikasi Internal, dan Suplesi

Konversi ð sering juga disebut deviasi zero, transmutasi, dan transposisi

Adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmental.

Modifikasi internal ð proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur ke dalam morfem yang berkerangka tetap.

5. Pemendekan

Adalah proses penggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya.

6. Produktivitas Proses Morfemis

Adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.

Morfofonemik

Disebut juga morfonemik, morfofonologi, atau morfonologi, atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi.

Ÿ Proses peluluhan fonem ð dapat dilihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me- pada kata sikat, dimana fonem /s/ pada kata sikat itu diluluhkan dan disenyawakan dengan bunyi nasal /ny/ dari prefiks tersebut.

Ÿ Proses perubahan fonem ð dapat dilihat pada proses pengimbuhan prediks ber- pada kata ajar dimana fonem /r/ dan prefiks itu berubah menjadi fonem /l/.

Ÿ Proses pergeseran fonem ð adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel yang lain, biasanya ke silabel berikutnya.

 

Nurlaili_1402408334_bab 5 Oktober 23, 2008

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 1:41 pm

Disusun oleh :

Nurlaili

NIM : 1402408334

Bab 5

Tataran Linguistik (2)

MORFOLOGI

*) Morfem adalah bentuk yang hadir secara berulang – ulang dengan bentuk lain dan mempunyai makna yang sama. Contoh : kedua, ketiga,….: ke pasar, ke alun – alun. Ciri atau identitas sebuah morfem adalah kesamaan arti dan kesamaan bentuk konsep maupun istilah morfem tidak di kenal dalam tata bahasa tradisional sebab n = morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis dan tidak semua morfem mempunyai makna secara filosofis.

Sebuah bentuk di katakana morfem meskipun bentuknya tidak persis sama, asalkan perbedaannya dapat di jelaskan secara fonologis : misalnya, bentuk me berdistribusin pada bentuk dasar yang fonem awalna konsonan (l ) dan (r) ; bentuk mem- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan (b) dan (p).

Alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem (setiap morfem mempunyai alomorf). Contoh alomorf me-, mem-, men-, morfemnya di sebut morfem meN (me – nasal : N)

*) Klasifikasi Morfem

a) Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan (contoh kata pulang, makan), morfem terikat adalah morfem yang tanpa di gabung dulu dengan morfem yang lain tidak dapat muncul dalam pertuturan (contoh baca, juang). Klitika merupakan morfem yang agak sukar di tentukan statusnya, apakah terikat atau bebas (contoh klitika – lah, ayahmulah). Klitika di bedakan atas proklitika (yaitu klitika yang berposisi di muka kata yang di ikuti, seperti ku dan kau dalam konstruksi kubawa dan kuambil, dan enklitika yaitu klitika yang berposisi di belakang kata yang di lekati, seperti – lah pada konstruksi dialah.

b) Morfem utuhadalah morfem yang merupakan satu kesatuan yang utuh, contoh : meja, kursi. Morfem terbagi adalah morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah. Contoh : morfem {ke- / -an} pada kata kesatuan.

c) Morfem segmental adalah semua morfem yang berwujud bunyi, contoh : {lihat}, {lah}, morfem suprasegmental adalah morfem yang di bentuk oleh unsur – unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya. Misalnya dalam bahasa Nybaka di Kongo Utara, setiap verba selalu di sertai dengan menunjuk kala (tense) yang berupa nada aturannya, nada turun (\) untuk kala kini, nada diatur (-) untuk kala lampau, nada turun naik (v) untuk kala nanti, dan nada naik (/) untuk bentuk imperaktif, contoh a’ (menaruh).

d) Morfem beralomorf zero atau nol (o) yaitu morfem yang salah satu alomorf nya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsur suprasegmental), melainkan berupa “ kekosongan” . missal bentuk tunggal untuk sheep adalah sheep dan bentuk jamaknya adalah sheep juga, yang terdiri dari morfem {sheep} dan morfem {o}.

e) Morfem bermakna lesikal adalah morfem – morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain, contoh : kudu pergi, lari. Morfem tak bermakna lesika adalah sebaliknya. Contoh morfem – morfem afiks, seperti {ber-}, {me-}dan {ber-}.

· Morfem dasar biasanya di gunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks, contoh {juang}, {lari}. Morfem dasar dapat menjadi sebuahn bentuk dasar atau dasar dalam suatu proses morfologi, contoh : bentuk dasar dari berbicara adalah bicara. Pangkal (stem) di gunakan untuk menyeut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks inflektif, contoh : books, pangkalnya adalah book. Akar (root) di gunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebihn jauh lagi. Contoh : untouchables, pangkalnya adalah touch.

*) Kata menurut para tata bahasawan tradisional adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian; atau deretan huruf yang diapit oleh dua buah dan mempunyai satu arti. Batasan kata dalam buku linguistik Eropa adalah bahwa kata mer bentuk yang, ke dalam mempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat.

Fungsi dari klasifikasi katayang dapat di identifikasikan dari cirri – cirinya, kita dapat memprediksikan penggunaan atau pendistribusian kata itu di dalam ujaran, sebabnya kata – kata yang berciri atau beridentifikasi yang sama saja yang dapat menduduki semua fungsi atau suatu distribusi dalam hal. Untuk membuat klasifikasi kata para tata bahasawan tradisional menggunakan kriteria malena (di gunakan untuk mengidentifikasikan kelas verba, nomina dan adjektiva) dan kriteria fungsi (di gunakan untuk mengidentifikasikan preposisi, konjungsi, adverbia, pronomina, dan lain – lain). Para tata bahasawan strukturalis berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu stuktur atau konstruksi.

Untuk dapat di gunakan di dalam kalimat atau pertuturan tertentu maka setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa feksi dan aglutunasi harus di bentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi,proses reduplikasi, maupun proses komposisi. Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat, yaitu pertama membentuk kata – kata yang bersifat inflektif dan derivatif. Perubahan / penyesuaian bentuk pada verba disebut deklinasi. Pembentukan kata secara inflektif, tidak membentuk kata baru atau kata lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya sedangkan pembentukan kata secara derivatif membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

*) Proses Morfemis

* Aflikasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar, di lihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar biasanya di bedakan adanya prefiks (afiks yang di imbuhkan di muka bentuk dasar), infiks (afiks yang di imbuhkan di tengah bentuk dasar), konfiks (afiks yang berupa morfem terbagi, diawal dan akhir bentuk dasar), interfiks (infiks atau elemen penyambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur), transfiks (afiks yang berwujud vokal – vokal yang di imbuhkan pada keseluruh dasar).

* Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian (parsial), maupun perubahan bunyi, paradigmatis / derivasigne

* Komposisi adalah hasil dalam proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun terikat, sehingga berbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru. Masalah dari proses kompoisisi antara lain : masalah kata majemuk, aneksi, dan frase. Para ahli tata bahasa tradisional seperti Sutan Takdir Alisjahbana, berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak menggabungkan makna unsur – unsurnya, kelompok linguis lain yang berpijak pada tata bahasa struktural menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk, kalau di antara unsur – unsur pembentuknya tidak dapat di sisipkan apa – apa tanpa merusak komposisi itu, bisa juga suatu komposisi di sebut kata majemuk kalau unsur – unsurnya tidak dapat dipertukarkan tempatnya.Dalam bahasa Inggris, kata majemuk dan bukan kata majemuk berbeda dalam hal adanya tekanan. Linguis kelompok lain, ada juga yang menyatakan sebuah komposisi adalah kata majemuk kalau identitas leksikal komposisi itu sudah berubah dari identitas unsur – unsurnya. Verhaar menyatakan suatu komposisi di sebut kata mejemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaksis (contoh matahari tidak bisa dikatakan matanya hari). Kridalaksana menyatakn kata majemuk haruslah tetap berstatus kata; kata majemuk harus di bedakan dari idiom (suatu ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna unsur – unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal), sebab kata majemuk adalah konsep sintaksis, sedangkan idiom adalah konsep semantis.

* Konversi sering juga di sebut derivasi zero, transmutasi dan transp[osisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa peruvahan unsure segmental. Modifikasi internal / penambahan internal / perubahan internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur – unsur (biasanya berupa vokal) dalam morfem yang berkerangaka tetap (biasanya berupa konsonan) . Peruahan bersifat derivatif, karena makna identitas leksikalnya sudah berbeda. Ada sejenis modifikasi internal lain yang di sebut suplesi, dalam proses suplesi perubahannya sangat ekstrem karena ciri – ciri bentuk dasar tidak / hampir tidak tampak lagi (bentuk dasar berubah total)

* Pemendekan adalah proses penanggalan bagian – bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya (hasilnya di sebut kependekan). Dalam berbagai kepustakaan, hasil proses pemendekan ini biasanya di bedakan atas penggalan, singkatan dan akronim. Penggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertaam dari bentuk yang di pendekkan itu. Singkatan adalah hasil proses pemendekan. Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat di lafalkan sebagai kata.

* Produktivitas dalam proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu, terutama aflikasi, reduplikasi, dan komposisi di gunakan berulang – ulang yang secara relatif tak tebatas; artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut. Proses inflektif atau paradigmatis karena tidak membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya, tidak dapat di katakana proses yang produktif, Proses inflektif bersifat tertutup (tidak mempunyai bentuk lain dan tidak bisa di ada – adakan). Proses derivasi bersifat terbuka, artinya penutursuatu bahasa dapat membuat kata – kata baru dengan proses tersebut. Proses derivasi adalah produktif, sedangkan proses infleksi tidak produktif. Bentuk – bentuk yang menurut kaidah gramatikal di mungkinkan keberadaannya, tetapi ternyata tidak pernah ada, seperti mencantikkan, di sebut bentuk yang potensial, yang pada suatu saat kelak mungkin dapat muncul sedangkan bentuk – bentuk yang nyata ada, seperti bentuk menjelekkan di sebut bentuk – bentuk aktual.

*) Morfotonemik di sebut juga mofonemik, morfotonologi atau morfonologi atau peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Perubahan fonem dalam proses merfotonemi ini dapat berwujud :

(1) pemunculan fonem (dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan prefiks me- dengan bentuk dasar baca yang menjadi membaca)

(2) pelepasan fonem (dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan akhiran wan pada kata sejarah dimana fonem (h) pada kata sejarah menjadi hilang

(3) pelulihan fonem (dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me- pada kata sikat dimana fonem (s) pada kata sikat itu diluluhkan dan di senyawakan dengan bunyi nasal (ny)

(4) perubahan fonem (dapat kita lihat pada proses pengimbuhan prefiks ber- pada kata ajar di mana fonem (s) dari prefiks itu berubah menjadi fonem (l )

(5) pergeseran fonem adalah pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu ke silabel yang lain biasanya ke silabel berikutnya, contoh : pengimbuhan sufiks (an) pada kata jawab

 

FAZA SAIDAH-1402408247-bab 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 1:26 pm

NAMA : FAZA SAIDAH

NIM : 1402408247

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK(2): MORFOLOGI

A.Morfologi

1.Identifikasi Morfem

Untuk menentukan morfem atau bukan,maka harus membandingkan bentuk tersebut di dalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain.Kalau bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain,maka bentuk tersebut adalah morfem.Misal,/kedua/ dapat kita bandingkan dengan bentuk: kedua,ketiga,kelima,…, ternyata ke pada daftar tersebut mempunyai makna yang sama yaitu menyatakan tingkat.Lain halnya ke pada bentuk-bentuk:kepasar,kekampunng,kedapur,…,ternyta ke tersebut juga mempunyai arti yang sama yaitu menyatakan tujuan.dalam Hal ini,karena makna bentuk ke pada kedua dan kepasartidak sama,maka kedua ke itu bukanlah morfem yang sama.Jadi,kesamaan arti dan persamaan bentuk merupakan cirri atau identitas sebuah morfem.

Dalam studi morfologi satuan bentuk yang sebagai morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya diantara kurung kurawal.Misal,mesjid dilambangkan {mesjid},kata kedua dilambangkan {ke}+{dua}; books dilambangkan {book}+{s}.

2.Morf dan Alomorf

Alomorf adalah nama bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.Sedangkan morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya.Sebagai contoh, me- pada malihat,mam- pada membawa,men- pada mendengar,meny- pada menyikat,menng- pada menggali,dan menge- pada mengelas.Tersebut dalam linguistic disebut meN- (dibaca: me-Nasal).

3.Klasifikasi Morfem

a. Morfem bebas dan morfem tak bebas

Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan, missal:pulang,makan,rumah. Morfem terikat adalah morfewm yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan,missal: kerontang(yang hanya muncul dalam kering kerontang), preposisi dan konjungsi seperti ke,dari,pada,dan,kalau,dan atau.

b. Morfem utuh dan morfem terbagi

Morfem utuh seperti {meja},{kursi},dan {laut}. Sedangkan morfem terbagi adalah morfem yang terdiri dari dua buah bagian terpisah.Umpamanya pada kata kesatuan terdapat satu morfem utuh,yakni b{satu} dan morfem terbagi yakni {ke-/-an}.

c. Morfem Segmentaal dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk fenom-fenom segmental, seperti {lihat},{lah},dan {ber}.Morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh unsure-unsur suprasegmental, sepertio tekaanan,nada,adurasi,dsb. Misal: dalam bahasa Ngbaka di kongo utar. Aturannya (/) untuk kal ini,nada datar (-) untuk maasa lampau, nada turun naik (v) untuk kala nanti.

d.Morfem beralomorf zero

morfem beralomorf zero atau nol (lambangnya 0) yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak terwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsure suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan”. Misal: kata lampau hit berasal dari morfem {hit} dan {0}.

e.Morfem bermakna leksikal dan morfem tak bermakna leksikal

Morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inhern talah memiliki makna pada diri sendiri,tanpa perlu diproses dulu dengan morfem lain. Morfem tak bermakna leksikal tak mempunyai makna apa-apa pada diri sendiri. Misal: morfem-morfem seperti {juang},{henti}, dan {gaul}, secara semaantik morfem-morfem itu mempunyai makna, tetapi secara gramatikal morfem-morfem tersebut tidak mempunyi kabebasan dan otonomi.

4.Morfem dasar,pangkal dan akar

morfem dasar biasa digunakan sebagai dikotomi dengan morfem aafiks,misal: {juang}dan {kucing}. Istilah pangkal (stem) digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi/proses pembubuhan afiks inflektif,missal: menangisi bentuk pangkalnya adalah tangisi,dan morfem adalah sebuah afiks inflektif. Akar (root)digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi, missal: untouchables. Un disebut prefiks derivasional, touch disebut akr yang tidak dapat dianalisis lagi(dasar), able disebut sufiks derivasiopnal, s disebut sufiks infleksional, touchable disebut dasar yang dapat dianalisis lagi,dan untouchable disebut pangkal (stem)/dasar.

B. Kata

1. Hakikat kata

kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua buah spasai dan mempunyai maknna. Batasannya:1)setiap kata mempunyai susunan fenom yang uruitannya tetap dan tidak dapat berubah. 2) setiap kata mempunyai kebebasan berubah tempat di dalam,atau tempatnya dapat diisi/diganti oleh kata lain. Misal: mengajar,diajar,dan terajar adalah 3 varian dari kata yang sama. Perbedaannya: mengajar untuk kalimat aktif traansitif, diajar untuk kalimat pasif berpelaku orang katiga, dan terajar untuk kalimat pasif yang menyatakan selesai. Dikatakan 3 kata yang berbeda karena kata-kata tersebut memilki identitas leksokal yang berbeda.

2.Klasifikasi Kata

Para tata bahasawan tradisional menggunakan criteria makna dan fungsi. Yang disebut verba adalah kata yang menyatakan tindakan, nomina adalah kata yang menyatakan benda atau dibendakaan, konjungsi adalah kata yang berfungsi menghubungkan kata dengan kat. Para tata bahasa strukturalis membuat klasufikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur/konstruksi. Yaaang disebut nomina adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata bukah, verba adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata tidak, adjektifa adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata sangat.

3.Pembentukan Kata

a.Inflektif

perubahan/penyesuaian pada verba disebut konyugasi, dan perubahan/panyesuaian pada nomina dan adjektifa disebut deklinasi. Bahasa Indonesia bukanlah bahasa yang berfleksi. Namun,Verhaar (1978) menyatkan bentuk-bentuk seperti membaca, dibaca, dan terbaca adalah paradigma infleksional atau merupakan kata yang sama. Perbedaannya bentuknya adalah berkenaan dengan modus kalimatnya. Denga demikian me-,di-, dan ter- adalah infleksional.

b.derivatif

pembentukan kata secara derivative membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tiodak sama dengan kata dasarnya. Misal: kata air yang berkelas nomina menjadi mengairi yang berkelas verba.

C.Proses Morfemis

1. Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan sebuah kata dasar atu bentuk dasar. Jenisnya adalah:

a.prefiks adaklah afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar, seperti me- pada kata menghibur

b.infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar, seperti –el- pada kata telunjuk.

c.sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada akhir bentuk dasar, seperti –an pada kata bagian

d.konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasr dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar.

2.Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasr, baik secara keseluruhan, secara sebagian (parsial), maupun dengan perubahan bunyi. Di Indonesia ada beberapa catatan yang perlu dikemukakan:

a.bentuk dasar reduplikasi yang berupa morfem dasar, seperti meja menjadi meja-meja.

b.bentuk reduplikasi yang disertai afiks prosesnya:

1.proses reduplikasi dan proses afiksasi itu terjadi bersamaan, seperti bermeter-meter.

2.prosese reduplikasi terjadi lebih dahulu, baru disusul oleh proses afiksasi, seperti berlari-lari.

3.proses afiksasi terjadi lebih dahulu,baru diikuti proses reduplikasi, seperti kesatuan-kesatuan.

c.pada dasar yang berupa gabungan kata. Ada dua macam: reduplikasi penuh, misalnya ayam itik-ayam itik.; dan reduplikasi parsial, misalnya surat-surat kabar.

d.bersifat derivasional, seperti mereka-mereka dan kamu-kamu.

e.reduplikasi semantic adalah 2 buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan granatikal. Contoh: ilmu pengetahuan dan hancur luluh.

3.Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar, baik yang bebas maupun terikat, sehinnga twerbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yng berbeda atau baru.Contoh: lalu lintas dan rumah sakit.

4. Konversi, Modifikasi Internal dan Suplesi

Konversi adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsure segmental. Misal kata cangkul dalam kalimat, “Ayah membeli cangkul” adalah sebuah nominal, tetapi dalam kalimat,”cangkul dulu baik – baik tanah itu “ adalah sebuah verba. Modifikasi internal adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsure ( biasanya berupa vocal ) kedalam morfe yang berkerangka tetap (biasanya berupa konsonan). Misalnya mouse menjadi mice. Suplesi adalh sejenis modifikasi internal yang sangat ekstrem karena cirri – cirri bentuk dasar tidak atau hamper tidak tampak lagi, contoh go menjadi went.

5. Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian – bagian leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya. Pemendekan dibedakan atas penggalan, singkatan, dan akronim. Penggalan adalah kependekan berupa pengekalan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang dipendekan itu, missal lab dari laboratorium. Singkatan adalah hasil proses pemendekan antara lain berupa :

  1. Pengekalan huruf awal dari sebuah leksem, atau huruf – huruf awal dari gabungan leksem, misalnya H (haji).
  2. Pengekalan berupa huruf dari sebuah leksem, missal = bhs ( bahasa ).
  3. Pengekalan berupa huruf pertama dikombinasi dengan penggunaan angka untuk mengganti huruf yang sama, misalnya P3 (Partai Persatuan Pembangunan ).
  4. Pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem, misalnya, Ny. ( nyonya ).
  5. Pengkalan huruf pertama dan huruf terakhir dari ebuah leksem, misalnya Ir. (Insiyur).

Akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata. Misalnya ABRI ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ).

6. Produktifitas Proses Morfemis

Produktifitas proses morfemis adalah dapat tidaknya proses pembentukan kata itu terutama afiksasi, reduplikasi dan komposisi, digunakan berulang – ulang yang secara relative tak terbatas artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru drngan proses tersebut. Proses Inflektif tidak dapat dikatakan proses yang produktif karena tidak dapat membentuk kata baru. Jdi daftarnya adalh daftar tertutup. Misalnya, street hanya mempunyai dua alternal yaitu street dan jamaknya : streets. Lain halnya dengan derivasi. Proses derivasi bersifat terbuka. Artinya penutur bahasa dapat membuat kata – kata baru, bersifat produktif. Misalnya, kemenarikan akan segera mengerti kata itu karena mereka sudah tahu kata menarik dan tahu fungsi penominalan konfiks ke- / -an.

D. Morfofonemik

Morfofonemik adalh peristiwa berubahnya wujud morfemis dalan suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Perubahan fenom dalam proses morfofnemik ini dapat berwujud :

  1. Pemunculan fenom, misalnya : me- dengan bentuk dasar baca; dimana muncul konsonan sengau / m /, me- + baca → membaca.
  2. Pelepasan fenom, misalnya : akhiran wan pada kata sejarah; dimana fenom / h / menjadi hilang, sejarah + wan → sejarawan.
  3. Peluluhan fenom, misalnya : me – pada kata sikat; dimana fenom / s / diluluhkan menjadi / ny /, me- + sikat → menyikat.
  4. Perubahan fenom, misalnya : ber- pada kata ajar; dimana fenom / r / berubah menjadi fenom / l /, ber- + ajar → belajar.
  5. Pergeseran fenom, misalnya : sufiks / i / pada kata lompat; dimana fenom / t / yan semula berada pada silabel / pat / pindah kesilabel berikutnya / ti /, lom.pat + -i→ lom.pa.ti

 

Ema 10402408237 bab 5

Filed under: BAB V — pgsdunnes2008 @ 1:23 pm

BAB 5

TATARAN LINGUISTIK (2) :

MORFOLOGI

Satuan bunyi terkecil dari aru ujaran fonem diatas satuan fonem yang fungsional silabel.Silabel hanyalah satuan ritmis yang ditandai dengan adanya satuan sonoritas atau puncak kenyaringan.Diatas satuan silabel itu secara kualitas ada satuan lain yang fungsional yang disebut morfem.

5.1. morfem

Morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis,dan tidak semua morfem mempunyai makna secara filosofis.

5.1.1 Identifikasi morfem

Bisa badir secara berulang-ulang dengan bentuk lain.Morfem sebagai contoh ambil bentuk kedua,ternyata benyuk kedua dapat banding-bandingkan dengan bentuk-bentuk sebagai berikut :

1. kedua

2. ketiga

3. kelima

Semua bentuk ke pada daftar di atas dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan yang mempunyai makna yang sama,menyatukan tingkat atau derajat.Dengan demikian bentuk ke pada daftar di atas, karena merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang dan mempunyai makna yang sama,bisa disebut sebagai sebuah morfem.Sekarang perhatian bentuk ke :

1. kepasar

2. kekampus

3. kemesjid

Bentuk ke pada daftar di atas dapat disegmentasikan sebaagai satuan tersendiri,dan juga mempunyai arti yang sama menyatakan arah dan tujuan.Makna bentuk ke pada kedua dan kepasar tidak sama,maka kedua ke itu bukanlah morfem yang sama.Keduanya merupakan dua buah morfem yang berbeda,meskipun bentuknya sama.Jadi kesamaan arti dan kesamaan bentuk merupakan ciri atau identitas sebuah morfem.

Sekarang perhatikan bentuk meninggalkan,lalu bandingkan dengan bentuk-bentuk lain :

1. meninggalkan

2. ditinggal

3. tertinggal

4. peninggalan

Dari daftar tersebut ternyata ada bentuk yang sama,bagian yang sama itu adalah bentuk tinggal atau ninggal.Maka bentuk tinggal adalah sebuah morfem,karena bentuknya sama dan maknanya juga sama.

Untuk menentukan sebuah bentuk adalah morfem atau bujan,kita memang harus mengetahui atau mengenal maknanya.Pehatikan contoh berikut :

1. menelantarkan

2. telantar

3. lantaran

Meskipun bentuk lantar terdapat berulang-ulang pada daftar tersebut, tetapi bentuk lantar itu bukanlah sebuah morfem karena tidak ada maknanya.Lalu bentuk menelantarkan memang punya hubungan dangan terlantar,tetapi tidak punya hubungan dengan lantaran.

Dalam studi morfologi suatu satuan bentuk yang bersatus sebagai morfem biasanya dilambangkan dengan mengapitnya di antara kurung kurawal.

5.1.2 Morf dan Alomorf

Morfem adalah bentuk yang sama,yang terdapat berulang-ulang dalam satuan bentuk yang lain. :

1. melihat

2. merasa

3. membawa

4. membantu

Kita lihat ada bentu-bentuk yang mirip atau hampir sama maknanya juga sama.Bentuk-bentuk itu adalah me pada melihat dan merasa, mem- pada membawa dan membantu.apakah me-, mem-, itu sebuah morfem atau bukan,sebab meskipun maknanya sama tetapi bentukanya tidak persis sama.Bentuk itu adalah sebuah morfem, sebab ,meskipun bentuknya tidak persis sama,tetapi berbedaannya dapat dijelaskan secara fonologis.Bentuk me- berdistrbusi,antara lain,pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan/1/dan/r/; bentuk mem- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/dan juga/p/;

Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama itu di sebut alomorf. Dengan perkataan lain alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertuturan) dari sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu mempunyai alomorf,bisa juga dikatakan morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya,alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

Dalam tata bahasa tradisional nama yang digunakan adalah awalan me-, dengan penjelasan,awalan me- ini akan mendapat sengau sesuai dengan lingkungannya. Dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dipilih almorf meng- sebagai nama morfem itu, dengan alasan alomorf meng- paling banyak distribusinya,dalam studi linguistik lebih umum disebut morfem meN-.

5.1.3 klasifikasi morfem

morfem-moerfem dalam setiap bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan kebebasannya,keutuhannya,maknanya,dan sebagai.berikut ini akan dibacakan secara singkat.

5.1.3.1 Morfem bebas dan morfem terikat

Morfem bebas adalah : morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam ertuturan. Misalnya,bentuk pulang,makan,rumah,dan bagus. Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan.semua afiks dalam bahasa Indonesia adalah morfem terikat.

Berkenaan dengan morfem terikat ini dalam bahasa Indonesia ada berapa hal yang perlu dikemukakan. Yaitu :

1) Bentuk-bentuk seperti juang, henti, gaul, danbaur juga termasuk morfem terikat, karena bentuk-bentuk tersebut,meskipun bukan afiks,tidak dapat muncul dalam pertuturan tanpa terlebih dahulu mengalami proses morfologi, seperti aflikasi, reduplikasi, dan kompesisi. Bentubentuk lazim disebut bentuk prakate gorial.

2) Bentuk-bentuk seperti baca, tulis, dan tending juga termasuk bentuk prakategorial, sehingga baru bisa muncul dalam pertuturan sesudah mengalami proses morfologi.

3) Bentuk-bentuk seperti renta, kerontang, bugar juga termasuk morfem terikat. Lalu, karena hanya bisa muncul dalam pasangan tertentu, maka bentuk-bentuk tersebut disebut juga morfem unik.

4) Bentuk-bentuk yang termasuk preposisi dan konjungsi, seperti ke, dari, dan, kalau, dan atau secara morfelogis termasuk morfem bebas, tetapi secara sinteksis merupakan bentuk trikat.

5) Yang disebut klitika mereupakan morfem yang agak sukar ditentukan setatusnya. Klitika adalah bentuk-bentuk singkat, biasanya hanya satu silabel, secara vonologis tidak mendapat tekanan, kemunculannya dalam pertuturan slalu melekat pada bentuk lain, tetapi dapat dipisahkan. Umpamanya klitika, lah, ku. Menurut posisinya klitika klitika biasanya dibedakan atas proklitika dan enklitika. Proklitika adalah klitika yang berposisi di muka kata yang diikuti : Ku dan kau, kubawa dan kuambil. Enklitika klitika yang berposisi di belakang kata yang dilekati , seperti –lah,-nya,-dan –ku dialah duduk nya, dan nasibku.

5.1.3.2 Morfem Utuh dan Terbagi

Semua morfem dasar bebas yang dibicarakan termasuk morfem utuh, seperti {meja}, {kursi}, {kecil], {laut}, dan {pensil}. Morfem terbagi adalah sebuah morfem yang terbagi dari dua buah bagian yang terpisah. Umpamanya kesatuan terdapat satu. Morfem ituh, yaitu satu morfem terbagi, yakni (ke-/-an). Dalam bahasa Arab, dan juga bahasa Ibrani, semua morfem akar untuk verba adalah morfem terbagi, yang terdiri atas tiga buah konsunan yang dipisahkan oleh tiga buah vocal, yang merupakan morfem terikat yang terbagi pula.

Sehubungan dengan morfem terbagi ini, untuk bahasa Indonesia , ada catatan yang perlu diperhatikan, yaitu;

Pertama, semua afiks yang disebut konfiks seperti (ke-/-an),(ber-/-an),(per-/-an), dan (per-/-an) adalah termasuk morfem terbagi.

Kedua , dalam bahasa Indonesia ada afiks yang disebut infiks yakni afiks yang disisikan ditengah morfem dasar. Misalnya (-er-) pada kata gerigi, infiks (-er-) pada kata pelatuk. Dengan demikian infiks tersebut telah mengubah morfem utuh (gigi) menjadi morfem terbagi (g-/-igi-) morfem utuh (patuk) menjadi morfem terbagi(p-/-atuk),dalam bahasa Indonesia infiks ini tidak produktif, bisa dikenakan pada kata benda apa saja.

5.1.3.3 Morfem Segmental dan Suprasegmental

Morfem segmental adalah morfem yang di bentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem(lihat), (lah), (sikat), dan (ber). Jadi semua morfem yang berwujud bunyi adalh morfem segmental . Sedangkan morfem suprasegmental, seperti tekanan,nada, durasi dan sebagainya.Dalam bahasa Indonesia tampaknya tidak ada suprasegmental ini. Morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosudi (unsure suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan). Morfem bermakna leksikal adalah morfem –morfem yang secara inheren memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu proses dulu dengan morfem lain, misalnya dalam bahasa Indonesia ,morfem-morfem seperti (kuda), (pergi), (lari) , dan (merah) . Oleh karena itu dengan sendirinya sudah dapat di gunakan secara bebas dan mempunyai kedudukan yang atonom didalam pertuturan.

Morfem tak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri. M orfem lain dalam suatu proses morfologi.Yang biasa dimaksud denganmorfem tak bermakna leksikal ini adalah morfemorfem afiks, seperti (ber-), (me-), dan (ter-).

5.1.4 Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal (Stem, dan Akar (Root)

orfem adalah dasar biasanya di gunakan sebagai dikotomi dengan mporfem afikls. Jadi , bentuk-bentuk seperti(juang), (kucing) dan (sikat) adalah morfem dasar. Morfem dasar ini ada yang termasuk morfem terikat, seperti(juang),(henti), dan (abai);tetapi ada juga yang termasuk morfem bebas seperti (beli), (lari),dan (kucing), sedangkan morfem afiks, seperti( ber-), dan (-kan ) jelas semuanya termasuk morfem terikat.

Bentuk dasar atau dasr(base) saja biasanya di gunakan untuk menyebut sebuah yang menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. Bentuk dasar ini dapat berupa morfem tunggal, tetapi dapat juga berupa gabungan morfen. Istilah pangkal (stem) di gunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam proses infleksi, atau proses pembubuhan afiks infleksi. Dalam bahasa Indonesia kata menangisi bentuk pangkalnya adalah tangisi; dalam morfem me- adalah sebuah afiks inflektif. Mengakhiri subbab ibi perlu di ketengahkan adanya tiga macam morfem dasar bahasa Indonesia dilihat dari status atau potensinya dalam proses gramatika yang dapat terjadi pada morfem dasar itu. Pertyama adalah morfem dasar bebas, yakni morfem dasar yang secara potensial dapat langsung menjadi kata, sehingga langsung dapat di gunakan dalam ujaran.Kedua , morfem dasar yang kebebasannya di persoalkan yang ternasuk ini adalah sejumlah morfem berakar verba, yang dalam kalimat imperatif atau kalimat sisipan, tidak perlu di beri imbuhan; dan dalam kalimat deklaratif imbuhannya dapat ditanggalkan. Ketiga , morfem dasar terikat , yakni morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata tanpa terlebih dahulu mendapat proses morfologi.

5.2 KATA

tilah dan konsep morfem ini tidak dikenal oleh para tata bahasawan tradisional yang ada dalam tata bahasa bahasa tradisional sebagai satuan lingual yang selalu dibicarakan adalah satuan yang disebut kata.

5.2.1 Hakikat Kata

Para tata bahasawan tradisional biasanya memberi pengertian terhadap kata bardasarkan arti dan ortografi. Menurut mereka kata adalah satuan bahasa yang memiliki satu pengertian ; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh dua spasi, dan mempunyai satu arti.

Bahasa kata yang kita jumpai dalam berbagai buku linguistic Eropa adalah bahwa kata merupakan bentuk yang, ke dalammempunyai susunan fonologis yang stabil dan tidak berupa , dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas di dalam kalimat .Batasan tersebut menyiratan dua hal . Pertama, bahwa setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah , sertai tidak dapat diseliputi atau diselang oleh fonem lain. Kedua, setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat di dalam kalimat, atau tempatnya dapat di isi atau di gunakan oleh kata lain; atau juga dapat di pisahkan dari kata lainnya.

5.2.2 Klasifikasi Kata

Klasifikasi kata ini dalam sejarah linguistik selalu menjadi salah satu topic yang tidak pernah terlewatkan. Hal ini terjadi , karena pertama setiap bahasa mempunyai cirinya masing-masing ;dan kedua karena kreteria yang di gunakan untuk membuat klasifikasi kata itu bisa bermacam-macam.

Para tata bahasawan tradisional menggunakan kreteria makna dan kreteria fungsi kreteria makna di gunakan untuk mengidenfikasikan kelas verba, nomina, dan ajektifa, sdedangkan kreteria fungsi di gunakan untuk mengindenfikasikan preposi, konjongsi, adverbial, pronomia, dan lain-lainnya .

Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan , nomina adalah kata yang menyatakan benda atau yang di bendakan, konjungsi adalah kata yang berfungsi atau berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata,atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain.

Para tata bahasawan strukturalis membuat klasifikasi kata berdasarkan distribusi kata itu dalam suatu struktur atau konstruksi misalnya, nomona adalah kata yang dapat berditribusi di belakang kata bukan ; atau dapat mengisi konstruksi bukan…… jadi adalah kata yang dapat berdistribusi di belakang kata tidak , atau dapat mengisi konstruksi tidak …., ajektifa adalah kata yang dapat mengisi konstruksi sangay….

Ada juga kelompok linguis yang menggunakan krieria fungsi sintaksis sebagai patokan untuk menentukan kelas kata . Secara umum fungsi subyek diisi oleh kelas nomina; fungsi predikat diisi oleh verba atau ajektifa; fungsi objek oleh nomona; dan fungsi keterangan oleh adverbial.

5.2.3 Pembetukan Kata

Untuk dapat di gunakan didalam kalimat pertuturan tertentu maka setiap bentuk dasar, terutama bahasa fleksi dan aglutunasi, harus di bentuk lebih dahulu menjadi sebuah kata gramatika, baik melaui proses afiksasi, proses reduplikasi,maupun proses komposisi.

Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat , yaitu pertama membentuk kata-kata yang bersifat inflektif, dan kedua yang bersifat derivative.

5.2.3.1 Inflektif

Kata- kata dalam bahasa-bahasa berfleksi, untuk dapat di gunakan di dalam kalimat harus disesuaikan dulu bentuknya dengan kategori-kategori gramatikal yang berlaku dalan bahasa itu. Alat yang di gunakan untuk menyesuaikan bentuk itu biasanya berupa afiks, yang mungkin internal, yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuk dasr itu.

Perubahan atau penyesuaian bentuk pada verba di sebut konyungsi , perubahan atau penyesuaian pada nomina dan ajektifa di sebut deklinasi. Konyugasi pada verba biasanya berkenaan dengan kala (tense), aspek, modus , diatesis, persona, jumlah, jenis, dan kasus .

Bahasa Indonesia bukanlah bahasa berfleksi. Jadi, tidak ada masalah konyugasi dan deklinasi dalam bahasa Indonesia. Membaca, dibaca, terbaca, dan bacalah, bentuk-bentuk merupakan kata yang sama, yang berate juaga mempunyai identitas leksikal yang sam. Perbedaan bentuknya adalah berkenaan dengan modus kalimatnya . Dengan demikian prefiks me -,di-,ter-,ku-,dan kau- adalah infleksional.

5.2.3.2 Derivatif

Pembentukan kata secara infletif, tidak membentuk kata baru, atau lain yang berbeda identitas leksikalnya dengan bentuk dasarnya. Hal ini berbeda dengan pembentukan kata secara derivative atau derivasional. Pembentukan kata secara derivative membentuk kata baru, kata yang identitas leksikalnyatidak sama dengan kata dasarnya.

Perbedaan identitas leksikal terutama berkenaan dengan makna sebab meskipun kelasnya sama tetapi maknanya tidak sama.

5.3 Proses Morfemis

Bertikut ini akan di bicarakan proses-proses morfolis yang berkenan dengan afiksasi, reduplikasi, kompesisi, dan juga sedikit tentang konversi dan modifikasi intem. Kiranya perlu juga di bicarakan produktifitas proses-proses morfemis itu.

5.3.1 Afiksasi

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur (1) dasar atau bentuk dasar,(2) afiks,dan (3) makna gramatikal yang dihasilkan.

Bentuk-bentuk dasar atau dasar yang menjadi dasar dalam proses afiksasi dapat berupa akar, yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi. Dapat juga berupa bentuk kompleks, dapat juga berupa frase.

Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata. Sesuai dengan sifat kata yang dibentuknya. Dibedakan adanya dua jenis afiks, yaitu afiks inflektif dan afiks derivative. Denagn afiks inflektf adalah afiks yang digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau para digma infleksional. Dalam bahasa Indonesia dibedakan adanya prefiks me- yang inflektif dan prefiks me- yang derivative. Sebagai afiks inflektif prefiks me- menandai bentuk kalimat indikatif aktif, sebagai kebalikan dari prefiks di- yang menandai bentuk indikatif. Sebagai afiks derivative, prefiks me- membentuk kata baru, yaitu kata identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.

Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar biasanya dibedakan adanya prefiks,infliks, sufiks, konfiks, intrfiks, dan transfiks.

Yang dimaksud dengan infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar.

Yang dimaksud dengan sufiks adalah yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar.

Konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk, dan bagian yang kedua berposisi akhir bentuk dasar.

5.3.2 Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagaian (parsial) maupun dengan perubahan bunyi.

Proses reduplikasi dapat bersifat paradigmatic (infleksional) dan dapat pula bersifat derifasional. Reduplikasi yang paradigmatic tidak mengubah identitas leksikal. Melainkan hanya memberi makna gramatikal. Yang bersit derivasionl membentuk baru atau kuang identitas leksikalnya berbeda deng bentuk dasarnya.

5.3.3 Komposisi

Komposisi adalah hasil dan proses penghubung morfem dasar dengnmorfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat , sehingga berbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda , atau yang baru. Misalnya, lalu lintas daya juang, dan rumah sakit. Sutan Takdir Alisjahban (1953), yang berpendapat bahwa kata mejemuk adalah sebuah kata memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan makna unsur-unsurnya. Verhar (1978) menyatakan suatu komposisi di sebut kata majemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaktis.

5.3.4 Konversi, Modifikasi Internal,dan Suplesi

Konversi, sering juga di sebut derivasi zero.,transmutasi, dan transpotasi, adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsure segmental.

Modifikasi internal (sering di sebut juga penambahan interrnalatau perubahan internal) adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsure-unsur ( yang biasanya berupa vocal) kedalam morfem yang berkerangka tetap(yang biasanya berupa konsunan).

Ada jenis modifikasi internal lain yang di sebut suplesi..Dalam proses suplesi perubahannya sangan ekstrim cirri-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

5.3.5 Pemendekan

Pemendekan adalah proses penanggalan bagian-bagia leksimatau gabungan leksim sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya . Hasil proses pemendekan ini kita sebut kependekan. Misalnya, bentuk lab(utuhnya Laboratorium).

Dalam berbagai kepustakaan, hasil proses pemendekan ini biasanya di bedakan atas penggalan, singkatan, dan akronim . Penggalan adalah kependekan berupa pengekatan satu atau dua suku pertama dari bentuk yang di pendekan.

5.4 MORFOFONEMIK

Morfofonemik, di sebut juga morfonemik , morfofonologi, atau morfonologi, tau peristiwa perubahannya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi,reduplikasi, maupun komposisi.

Perubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud: (1) pemunculan fonem, (2) pelepasan fonem, (3) peluluhan fonem, (4) perubahan fonem, dan (5) pergeseran fonem. Pemunculan fonem dapat kita lihat dalam proses penghimbuhan prefiks me- dengan bentuk dasar baca yang menjadi membaca; dimana terlihat muncul konsonan sengau /m/. Pelesapan fonem dapat kita lihat dalam proses penghimbuhan akhiran wan pada kata sejarah di mana /h/ padakata sejarah itu menjadi hilang, peluluhan fonem dapat kita lihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me- pada kata sikat di mana fonem /s/ pada kata sikat itu diluluhkan dan disenyawakan dengan bunyi nasal /ny/dari prefiks tersebut.

Pergeseran perubahan fonem adalah pindahnya sebuah fonrm dari silabel yang satu ke silabel yang lain, biasanya ke silabel berikutnya.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.