Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

VERA RAHMA FAULATA_1402408302_BAB IV Oktober 20, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 7:21 pm

NAMA : VERA RAHMA FAULATA

NIM : 1402408302

TATARAN ILMU LINGUASTIK (1) :

FONOLOGI

Runtutan bunyi bahasa dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkatan-tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-hentian atau jeda yang terdapat dalam runtutan bunyi itu.

Silabel merupakan satuan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi lain didepan, belakang, atau sekaligus di depan dan dibelakangnya.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa disebut fonologi. Fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik.

  1. FONETIK

Adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fumgsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Menurut urutan proses terjadinya dibagi menjadi tiga jenis fonetik yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.

  1. Alat Ucap

Alat-alat yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut :

§ Paru-paru

§ Batang tenggorok

§ Pangkal tenggorok

§ Pita suara

§ Krikoid

§ Tiroid

§ Aritenoid

§ Dinding rongga kerongkongan

§ Epiglotis

§ Akar lidah

§ Pangkal lidah

§ Tenggah lidah

§ Daun lidah

§ Ujung lidah

§ Anak tekak

§ Langit-langit lunak

§ Langit-langit keras

§ Gusi, lengkung kaki gigi

§ Gigi atas

§ Gigi bawawh

§ Bibir atas

§ Bibir bawah

§ Mulut

§ Rongga mulut

§ Rongga hidung

Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat ucap itu diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu.

  1. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses pemompaan uadara keluar dari paru-paru melalui pangakal tenggorok yang di dalamnya terdapat pita suara diteruskan ke udara bebas. Jika udara yang keluar tidak mendapat hambatan apa-apa, maka kita tidak akan mendengar bunyi apa-apa.

Ada empat macam posisi pita suara yaitu pita suara terbuka lebar, pita suara terbuka agak lebar, pita suara terbuka sedikit dan pita suara tertutup rapat-rapat.

Tempat bunyi bahasa dihasilkan disebut tempat artikulasi, proses terjadinya disebut proses rstikulasi dan alat-alat yang digunakan disebut alat artikulasi (artikulator).

  1. Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik tiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Dalam tulisa fonetik, setiap bunyi, baik yang segmental maupun suprasegmental, dilambangkan secara akurat, artinya setiap bunyi mempunyai lambang sendiri.

  1. Klasifikasi bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsona. Beda bunyi vokal dan konsonan adalah arus udara dalam pembentukan bunyu vokal setelah melewati pita suara tidak mendapat hambatan apa-apa. Sedangkan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan.

    1. Klasifikasi vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan dan diberi nama berdasarka posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah dapat berposisi vertikal atau horisontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, vokal tengah, dan vokal rendah. Secara horisontal ada vokal depan, vokal pusat, dan vokal belakang. Menurut bentuk mulut ada vokal bundar dan tak bundar.

    1. Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pad abagian awal dan akhrnya tidak sama.

Diftong dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, ada diftong naik dan diftong turun.

    1. Klasifikasi Konsonan

Bunyi konsonan dibedakan berdasarkan tiga kriteria yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.

Berdasarkan tempat artikulasi kita mengenal, antara lain, konsonan:

§ Bilabial

§ Labiodental

§ Laminoalveolar

§ Dorsovelar

` Berdasarkan cara artikulasi dapat dibedakan adanya konsonan :

§ Hambat

§ Geseran

§ Paduan

§ Sengauan atau nasal

§ Getaran atau trill

§ Sampingan atau lateral

§ Hampiran atau aproksiman

§

  1. Unsur Suprasegmental

Arus ujaran merupakan suatu runtutan bunyi yang sambung bersambung terus menerus diselang-seling oleh jeda singkat atau agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, dsb. Dalam arus bunyi tersebut ada yang dapat disegmentasikan dan ada yang tidak,bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi.

    1. Tekanan atau stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi.

    1. Nada atau pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Nada dalam bahasa tertentu bisa bersifat fonemis maupun morfemis.

Dala bahasa tonal dikenal lima macam nada, yaitu :

§ Nada naik

§ Nada turun

§ Nada turun naik

§ Nada naik turun

    1. Jeda atau persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Dibedakan menjadi sendi dalam (internal juncture) dan sendi luar (open juncture)

  1. Silabel

Adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran.

  1. FONEMIK

Objek penelitian fonetik adalah fon, dan objek penelitian fonemik adalah fonem.

  1. Identifikasi fonem

Untuk mengetahui suatu bunyi merupakan fonem atau bukan harus mencari sebuah satuan bahasa biasanya kata kemudian dibandingkan dengan satuan bahasa lain yang mirip.

  1. Alofon

Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya.

  1. Klasifikasi fonem

Fonem yang berupa bunyi yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Fonem yang sebaliknya yang berupa unsur supra segmental disebut fonem suprasegmental atau fonem non segmental.

  1. Khasanah Fonem

Adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa

  1. Perubahan Fonem
    1. Asimilasi dan disimilasi
    2. Netralisasi dan arkifonem
    3. Umlaut, ablaut, dan harmoni vokal.
    4. Kontraksi
    5. Metatesis dan epentesis
  1. Fonem dan Grafem

Fonem adalah suatu bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata.

 

UMI CHOLIFAH 1402408020 BAB 4

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 7:18 pm

Nama : Umi Cholifah

NIM : 1402408020

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK FONOLOGI

A. Pengertian Fonologi

Bagian linguistik yang mempelajari, manganalisa dan membicarkan runtutan bunyi-bunyi bahasa.

Secara Etimologi

Fon: bunyi dan Logi: ilmu

Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, Fonologi dibedakan menjadi dua yaitu: Fonetik dan Fonemik.

B. Bagian-bagin dari Fonologi.

  1. Fonetik:

Bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Menurut urutan proes terjadinya bunyi bahasa dibedakan 3 jenis Fonetik:

a) Artikulasi :Bagaimana mekanisme alat-alat bicara.

b) Akustik :Mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam.

c) Auditoris :Penerimaan bunyi bahasa oleh telinga.

* Alat Ucap

Alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa ini, mempunyai fungsi utama lain yang bersifat biologis.(1)Paru-paru: bernafas ; (2)Lidah: mengecap : (3)Gigi: mengunyah.

* Proses Fonasi.

Jika terjadi hambatan terhadap udara atau arus udara yang keluar dari paru-paru itu dapat terjadi mulai dari tempat yang paling di dalam, yaitu pita suara, sampai pada tempat yang paling luar yaitu bibir atas dan bawah, maka akan timbul suara. Jika tidak, maka tidak akan mendengar bunyi apa-apa selain mungkin bunyi nafas.

* Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik untuk studi fonetik (berdasarkan hu ruf-huruf latin)

Tulisan Fonemis untuk ejaan fonemis

Tulisan Ortografis untuk ejaan yang disempurnakan..

* Klasifikasi Bunyi

Vokal: Arus udara setelah melewati pita suara tidak mendapat hambatan apa-apa.

Konsonan: Arus udara seelah melewati pita suara mendapat hambatan/ gangguan.

1. Klasifikasi Vokal :Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

2. Diftong/Vokal Rangkap :Posisi lidah ketika memproduksi bunyi, bagian awal dan akhir tidak sama.

3. Klasifikasi Konsonan

Berdasarkan (a)Posisi pita suara (b) tempat artikulasi (c) cara artikulasi.

* Unsur Suprasegmental

  1. Tekanan/ stress keras lunaknya bunyi.
  2. Nada/ pitch tinggi rendahnya suatu bunyi.
  3. Jeda/ Persendian hentian bunyi.

* Silabel/ suku kata.

Satuan ritmis terkecil daalm suatu arus ujaran/ runtutan bunyi ujaran.

1 silabel : (1 vokal) atau (1 vokal dan 1 konsonan atau lebih)

  1. Fonemik

Objek penelitian adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat/ berfungsi membedakan makna kata .

a). Identifikasi Fonem.

Dikatakan sebuah fonem apabila dia berfungsi membedakan makna.

b). alofon.

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem alofon berlaku pada satu bahasa tertentu.

c). Klasifikasi Fonem

Fonem Segmental

Fonem Suprasegmental, terdapat unsure prosodi(tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional).

Bahasa Mandarin WEI nada datar berarti kayu kutu.

nada naik berarti bahaya.

d). Khazanah Fonem

Banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa.

e). Perubahan Fonem.

Tergantung pada lingkungan/ fonem-fonem lain yang berada disekitarnya.

Macam-macam perubahan fonem

* 1). Assimilasi dan Dissimilasi.

Assimilasi : berubahnya suatu bunyi menjadi bunyi lain (sabtu*saptu).

Dissimilasi: perubahan yang menyebbkan 2 buah fonem yang sama menjdi berbeda.

Citta(tt) : cipta (pt) cinta(nt)

* 2). Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi Oposisi bunyi antara bersuara dan tidak bersuara. (hard,hart)

Arkifonem Perlambangan suatu bunyi dari sebuah fonem (d~berwujud t/d)

* 3). Umlaut, Ublaut, Harmoni Vokal.

Umlaut Perubahan vocal menjadi lebih tinggi(handje(a) lebih tinggi dari pada (a) bahasa Belanda.

Ablaut Perubahan vokal dalam bahasa dengan cara pemanjangan, pemendekan/ penghilangan vokal. Sing(sang , sung)

Harmoni vokal Perubahan bunyi (dari tunggal ke jamak).

* 4). Kontraksi : Perubahan bentuk dari formal menjadi infofmal atau penyingkatan suatu fonem.

Contoh: tidak tahu~ndak tahu

Itu tadi~tu tadi

* 5). Metafisis dan Epentesis.

Metafisis : Mengubah urutan fonem yang terdapat disebuah kata (variasi).

Contoh: sapu, usap, apus ~ lajur, jalur.

Epentesis : sebuah fonem yang disisipkan pada sebuah kata.

Contoh: kampak, kapak.

* 6). Fonem dan Grafem

Fonem : Suatu bunyi terkecil yang dapat mrmbedakan makna kata.

 

Nur Fajriana Wahyu Ardiani_1402408045_bab 4

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 6:57 pm


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”Monotype Corsiva”; panose-1:3 1 1 1 1 2 1 1 1 1; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:27.0pt 36.0pt 27.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} @page Section2 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:45.35pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-columns:3 even 36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section2 {page:Section2;} @page Section3 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:45.35pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-columns:3 even 36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section3 {page:Section3;} @page Section4 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:18.0pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section4 {page:Section4;} @page Section5 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:18.0pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section5 {page:Section5;} @page Section6 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:18.0pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section6 {page:Section6;} @page Section7 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:18.0pt 36.0pt 72.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-columns:2 even 36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section7 {page:Section7;} @page Section8 {size:612.0pt 1008.0pt; margin:18.0pt 36.0pt 36.0pt 36.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section8 {page:Section8;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:164249330; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-140580344 1898627778 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:image; list-style-image:url(“file:///C:/DOCUME~1/CLIENT~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif”); mso-level-text:; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:”Courier New”;} @list l1 {mso-list-id:186646655; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1407982252 -70646230 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:image; list-style-image:url(“file:///C:/DOCUME~1/CLIENT~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif”); mso-level-text:; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l2 {mso-list-id:246158683; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-587052010 722114996 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:image; list-style-image:url(“file:///C:/DOCUME~1/CLIENT~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif”); mso-level-text:; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l2:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:”Courier New”;} @list l3 {mso-list-id:846864710; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1188961198 -265369438 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:75.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:75.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Wingdings;} @list l3:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:”Courier New”;} @list l4 {mso-list-id:944263428; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-908434174 -1185499292 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:image; list-style-image:url(“file:///C:/DOCUME~1/CLIENT~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.gif”); mso-level-text:; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:108.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l5 {mso-list-id:2002855559; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1471348828 326648044 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l5:level1 {mso-level-number-format:image; list-style-image:url(“file:///C:/DOCUME~1/CLIENT~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.gif”); mso-level-text:; mso-level-tab-stop:135.35pt; mso-level-number-position:left; margin-left:153.0pt; text-indent:-145.8pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} @list l5:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:”Courier New”;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Nama : Nur Fajrina Wahyu Ardiani

NIM : 1402408045

BAB 4

Tataran Linguistik :

F O N O L O G I

Fonologi : bidang linguistic yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa.

Fonologi dibedakan menjadi :

* fonetik

* fonemik (ada juga pakar yang menggunakan istilah fonologi)

4.1. FONETIK

Adalah bidang linguistic yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Contoh : Bunyi ( i ) pada kata-kata ( intan ) , ( angin ) , ( batik ) adalah tidak sama.

Dalam kajiannya, fonetik akan berusaha mendeskripsikan perbedaan bunyi-bunyi itu serta menjelaskan sebab-sebabnya.

Fonetik dibedakan menjadi 3 :


Fonetik Artikulatoris

Fonetik Akustik

Fonetik Audiotoris


mempelajari bagaimana bunyi bahsa dihasilkan

mempelajari bunyi sebagai bahasa sebagai peristiwa alam

mempelajari penerimaan bahsa oleh telinga kita


( penutur ) ( getaran udara yang dihasilkan ) ( pendengar )

4.1.1. Alat ucap



Untuk menghasilkan bunyi bahasa diperlukan alat ucap yang antara lain terdiri dari :


o Paru-paru ( lung )

o Pita suara ( vocal cord )

o Pangkal tenggorok

o Pangkal kerongkongan

o Daun lidah

o Gusi

o Gigi

o Rongga mulut


4.1.2. Proses Fonasi

Proses terjadinya bunyi bahasa :

Udara dipompa keluar dari paru-paru → melewati pita suara ( harus sedikit terbuka ) →udara diteruskan ke rongga mulut → bunyi

Macam-macam posisi pita suara :

A B C D

A : pita suara terbuka lebar tidak ada bunyi

B : Terbuka agak lebar bunyi tidak bersuara

C : Terbuka sedikit bunyi bersuara

D : Tertutup sama sekali bunyi hamzah / bunyi glottal

Artikulator : alat untuk menghasilkan bunyi bahasa

* artikulator aktif : alat ucap yang bergerak / digerakkan

misal : bibir bawah, ujung lidah, daun lidah

* artikulator pasif : alat ucap yang tidak dapat bergerak

misal : bibir atas, gigi atas, langit-langit keras

4.1.3.Tulisan Fonetik

dibuat untuk keperluan studi fonetik. Dalam tulisan fonetik, setiap huruf / lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa.

Misal: /e/ pada kata sate dan kera berbeda.

4.1.4. Klasifikasi Bunyi

4.1.4.1.Bunyi vokal

dihasilkan oleh pita suara yang terbuka sedikit → udara tidak mendapat hambatan

4.1.4.2. Bunyi konsonan

dihasilkan setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka agak lebar → arus udara mendapat hambatan

4.1.4.3. Diftong / Vokal rangkap

disebut vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awal dan akhir tidak sama

4.1.5. Unsur Suprasegmental

* tekanan / stress ↔ keras lunaknya bunyi

* nada / pitch ↔ tinggi rendahnya suatu bunyi

* jeda / persendian ↔ hentian bunyi dalam arus ujar

4.1.6. Silabel

Slabel / suku kata : satuan ritmis terkecil dalam suatu ujaran / runtunan bunyi ajaran

o onset : bunyi pertama pada sebuah silabel.

contoh : bunyi /s/ pada silabel (sum) pada kata sumpah

o koda : bunyi akhir pada sebuah silabel.

contoh : bunyi /n/ pada silabel (man) oada kata paman

o interlude : bunyi yang sekaligus dapat menjadi onset dan koda pada 2 buah silabel yang berurutan

contoh : /de+mon+stra+si/

bunyi /s/ bisa menjadi onset pada silabel /stra/ dan menjadi koda pada silabel

/ mons/

4.2. FONEMIK

Adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

4.2.1.Identifikasi Fonem

contoh : /l/a/b/a/ /r/a/b/a/

Pada contoh di atas (l) dan (r) adalah 2 buah fonem yang berbeda, karena (l) dan (r) membedakan makna kedua kata di atas.

4.2.2.Alofon

Adalah pembedaan pelafalan, meskipun secara huruf adalah sama.

contoh : fonem /o/ mempunyai dua buah alofon, yaitu bunyi (É) seperti pada tokoh, dan bunyi (o) seperti pada kata toko

4.2.3.Klasifikasi Fonem

- fonem vokal

- fonem konsonan

Bila dibandingkan dengan bunyi vokal dan bunyi konsonan, fonem vokal dan fonem konsonan jumlahnya lebih terbatas, karena hanya bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem.

4.2.4.Khazanah Fonem

Adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam suatu bahasa.

4.2.5.Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem yang berbeda-beda sangan tergantung pada lingkungan sekitar.

4.2.5.1.Asimilasi dan Disimilasi

o Asimilasi Fonemis : perubahan yang menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama.

contoh : kata sabtu dalam bahasa Indonesia lazim diucapkan /saptu/, di mana terlihat bunyi /b/ berubah menjadi /p/

o Disimilasi Fonemis : perubahan yang menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda.

contoh : kata cipta dan cinta berasal dari bahasa Sansekerta citta.

Bunyi (tt) pada kata citta berubah menjadi bunyi (pt) pada kata cipta dan menjadi bunyi (nt) pada kata cinta.

4.2.5.2.Netralisasi dan Arkifonem

o Netralisasi

Bunyi /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda. Namun dalam pasangan /sabtu/ dan /saptu/ atau /lembab/ dan /lembap/ kedua bunyi itu tidak membedakan makna. Di sini tampaknya fungsi pembeda makna itu menjadi batal. Untuk menetralisasinya dijelaskan dengan keterangan : yang benar adalah bentuk /sabtu/ karena berasal dari bahasa Arab. Bsgitu pula, yang betul adalah bentuk lembap karena berasal dari bahasa Melayu asli.

o Arkifonem

Dalam bahasa Indonesia ada kata jawab yang diucapkan /jawap/ atau juga /jawab/ ; tetapi bila diberi akhiran –an bentuknya menjadi jawaban. Jadi di sini ada arkifonem /B/ yang realisasinya bisa menjadi /b/ atau /p/.

4.2.5.3.Kontraksi

Berupa pemendekan/penyingkatan ujaran.

Contoh : tidak tahu diucapkan menjadi ndak tahu

4.2.6. Fonem dan Grafem

Fonem → suatu bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata.

Grafem → huruf yang digunakan dari aksara latin.

Disusun Oleh : Nur Fajriana Wahyu Ardiani

NIM : 1402408045

Rombel : 04

 

Nugraheni Widyapangesti;1402408207 Oktober 19, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 4:04 pm

Nama : Nugraheni Widyapangesti

NIM : 1402408207

TATARAN LINGUISTIK

FONOLOGI

Runtutan bunyi dalam bahasa ini dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-hentian atau jeda.

Pada tahap pertama runtutan bunyi disegmentasikan bedasarkan adanya jeda yang paling besar dan disegmentasikan lagi pada tahap-tahap selanjutnya sehingga sampai pada kesatuan-kesatuan runtutan bunyi yang disebut silabel/suku kata.

Silabel merupakan satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring. Adanya puncak kenyaringan/sonoritas inilah yang menandai silabel itu. Puncak kenyaringan biasanya ditandai dengan sebuah bunyi vokal.

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa. Fonologi dibedakan menjadi 2 fonetik dan fonemik.

Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Fonemik adalah memperhatikan bunyi-bunyi tersebut sebagai pembeda makna, tetapi ada pakar yang menggunakan istilah fonologi untuk pengertian yang disini kita sebut fonemik.

A. FONETIK

Adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi pembeda makna atau tidak.

Fonetik dibedakan menjadi tiga, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik dan fonetik auditoris.

Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis/fisiologis mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis/alam. Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa oleh telinga kita. Fonetik organis sebagian besar termasuk linguistik. Fonetik akustik sebagian besar termasuk fisika. Fonetik auditoris sebagian besar termasuk neurologi.

1. Alat Ucap

Adalah hal pertama yang dibicarakan dalam fonetik artikulatoris alat yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut :

a. Paru-paru n. Ujung lidah

b. Batang tenggorok o. Anak tekak

c. Pangkal tenggorok p. Langit-langit lunak

d. Pita suara q. Langit-langit keras

e. Krikoid r. Gusi

f. Tiroid s. Gigi atas

g. Antenoid t. Gigi bawah

h. Dinding tenggorok u. Bibir atas

i. Epiglotis v. Bibir bawah

j. Akar lidah w. Mulut

k. Pangkal lidah x. Rongga mulut

l. Tengah lidah y. Rongga hidung

m. Daun lidah

Bunyi dibedakan menjadi dua yi bunyi dental dan bunyi labial

2. Proses Fonasi

Ÿ Dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok yang di dalamnya terdapat pita suara (dalam keadaan terbuka agar bisa keluar bunyi)

Ÿ Empat macam posisi pita suara

a. Pita suara terbuka lebar

b. Pita suara agar lebar

c. Pita suara terbuka sedikit

d. Pita suara tertutup sama sekali

Ÿ Jika pita suara terbuka lebar maka tidak akan terjadi bunyi. Jika terbuka agak lebar maka terjadi bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara. Jika pita suara terbuka sedikit maka akan terjadi bunyi bersuara. Jika pita suara tertutup rapat maka akan terjadi bunyi hamzah.

Ÿ Tempat bunyi bahasa terjadi disebut tempat artikulasi alatnya disebut artikulator. Artikulator ada dua yaitu artikulator aktif dan artikulator pasif. Artikulator aktif adalah alat ucap yang digerakkan/bergerak. Artikulator pasif adalah alat ucap yang tidak dapat bergerak yang didekati artikulator aktif.

3. Tulisan Fonetik

Ÿ Dalam tulisan fonetik setiap huruf/lambang nny digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa.

Ÿ Dalam tulisan fonetik setiap bunyi, baik yang segmental maupun yang suprasegmental dilambangkan secara akurat.

Selain tulisan fonetik dan tulisan fonetik adalah tulisan lain yaitu tulisan ortografi.

Sistem tulisan ortografi dibuat untuk digunakan secara umum di dalam masyarakat suatu bahasa.

4. Klasifikasi Bunyi

Dibedakan atas konsonan dan vokal.

Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit.

Bunyi konsonan terjadi setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar diteruskan ke rongga mulut/rongga hidung dengan mendapat hambatan di tempat-tempat artikulasi tertentu.

a. Klasifikasi vokal

- dibedakan berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut

- posisi lidah bisa bersifat vertikal / horizontal

- secara vertikal dibedakan menjadi vokal tinggi, vokal tengah dan vokal rendah.

- secara horizontal dibedakan menjadi vokal depan, vokal pusat dan vokal belakang.

- menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar.

b. Diftong atau vokal rangkap

- disebut vokal rangkap karena posisi lidah pada bagian awal dan bagian akhir berbeda.

- diftong dibagi dua, yaitu diftong naik dan diftong turun. Disebut diftong naik karena posisi pertamanya lebih rendah di posisi kedua dan sebaliknya.

Contoh: au, ai, au, oi.

c. Klasifikasi konsonan

- Berdasarkan posisi pita suaranya dibedakan menjadi bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara.

- Berdasarkan tempat artikulasinya dibedakan menjadi:

Ÿ Bilabilal : terjadi pertemuan bibir bawah yang merapat pada bibit atas.

Ÿ Labiodental : terjadi pada gigi bawah dan bibir atas. Gigi bawah merapat pada bibit atas.

Ÿ Laminoalveolar : terjadi pada pangkal lidah dan langit-langit lunak.

- Berdasarkan cara artikulasinya:

Ÿ hambat (letup, plosif, stop) Ÿ getaran/trill

Ÿ geseran/frikatif Ÿ sampingan/lateral

Ÿ paduan/afrikatif Ÿ hampiran/aproksiman

Ÿ sengauan/nasal

5. Unsur Suprasegmental

Dibedakan menjadi:

a. Tekanan/stress

Menyangkut masalah keras lunaknya bunyi.

b. Nada/pitch

- Berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi.

- Empat macam nada, yaitu:

Ÿ Nada yang paling tinggi, diberi tanda dengan angka 4

Ÿ Nada tinggi, diberi tanda dengan angka 3

Ÿ Nada sedang/biasa, diberi tanda dengan angka 2

Ÿ Nada rendah, diberi tanda angka 1

c. Jeda/persendian

- Berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar

- Disebut jeda karena ada hentian disebut persendian karena di tempat perhentian itu terjadi persambungan dibedakan menjadi sendi dalam dan sendi luar.

- Sendi luar dibedakan menjadi:

Ÿ Jeda antar kata (/)

Ÿ Jeda antar frase (//)

Ÿ Jeda antar kalimat (#)

6. Silabel atau Suku Kata

Silabel adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Salu silabel biasanya meliputi satu vokal atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Bunyi yang paling banyak mengguna-kan ruang resonansi itu adalah bunyi vokal, oleh karena itu bunyi vokal disebut bunyi silabis/puncak silabis.

B. FONEMIK

Objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Jika bunyi itu membedakan makna, maka bunyi tersebut kita sebut fonem.

1. Identifikasi fonem

Untuk mengetahuinya kita harus mencari sebuah satuan bahasa lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. jika kedua satuan bahasa itu berbeda maka berarti bunyi tersebut adalah fonem, karena fonem berfungsi membedakan makna kedua satuan bahasa itu.

2. Alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem disebut alofon, seperti identitas fonem, identitas alofon juga digunakan pada satu bahasa tertentu.

Alofon-alofon dari sebuah fonem punya kemiripan fonetis. Artinya banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapan. Tentang distribusinya, mungkin bersifat komplementer, mungkin juga bersifat bebas.

Yang dimaksud dengan distribusi komplementer adalah distribusi yang tempatnya tidak ditukarkan, jika ditukarkan juga tidak menimbulkan perbedaan makna.

Distribusi bebas adalah alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

3. Klasifikasi Fonem

Kriteria prosedur klasifikasi fonem sebenarnya sama dengan cara klasifikasi bunyi.

Fonem-fonem berupa bunyi yang didapat sebagai hasil segmental terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sebaliknya yang disebut fonem suprasegmental yaitu yang berupa unsur suprasegmental. Tapi dalam bahasa Indonesia unsur suprasegmental tampaknya tidak bersifat fonemis maupun morfemis, namun intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis.

4. Khazanah Fonem

Adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan bahasa lain.

5. Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem berbeda sebab tergantung pada lingkungannya/pada fonem-fonem yang lain yang berbeda di sekitarnya.

a. Asimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya. Contoh: sabtu (lazim diucapkan saptu)

b. Netralisasi dan arkifonem

Contohnya pada kata hard. Fonem pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam istilah linguistik disebut arkifonem.

Fonem punya fungsi sebagai pembeda makna kata akan tetapi pada kata pasangan /sabtu/ dan /saptu/ keduanya tidak membedakan makna sehingga disebut netralisasi.

c. Umlaut, ablaut dan harmoni vokal

Umlaut : perubahan vokal sehingga berubah menjadi vokal yang lebih tinggi.

Misal: bunyi /a/ pada kata handje lebih tinggi dari kata /hand/

Ablaut : perubahan vokal untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal.

Misal: dalam bahasa Jerman vokal /a/ menjadi /ä/

Harmoni vokal: keselarasan vokal yang terdapat dalam bahasa Turki.

d. Kontraksi

Yaitu menyingkat atau memperpendek ujarannya.

e. Metatesis dan epentetis

Metatesis : proses mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.

Contoh: bentuk kata sapu, ada bentuk apus dan usap.

Epentetis : yang homorgen dengan lingkungannya disisipkan dalam sebuah kata.

Contoh : kampak dan kapak.

g. Fonem dan Grafem

Fonem : satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata.

Grafem : lambang alofon-alofon uang merealisasikan sebuah fonem itu.

Contoh : grafem e dipakai untuk melambangkan dua buah fonem yang berbeda yakni fonem /e/ dan fonem /ә/

 

Noor Hesty Setya Dewi;1402408086

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 3:39 pm

Nama : Noor Hesty Setya Dewi

NIM : 1402408086

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK (1): FONOLOGI

Linguistik adalah ilmu tentang bahasa atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya.Pada bidang linguistic yang mempelajari, menganalisis,dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa ini disebut Fonologi.Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi obyek studinya fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik.

1. Fonetik→cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa

memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai

fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

2. Fonemik→cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa

yang memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai

pembeda makna.

A. FONETIK

Berdasarkan urutan proses terjadinya bunyi bahasa,fonetik dibedakan menjadi 3,yaitu:

1. Fonetik artikulatoris

Mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja

dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu

diklasifikasikan.

2. Fonetik akustik

Mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam.

Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya,amplitudonya, timbrenya,dan intensitasnya.

3. Frekuensi auditoris

Mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh

telinga kita.

Dari ketiga macam fonetik ini,yang paling berhubungan dengan dunia linguistic adalah fonetik artikulatoris.Hal ini dikarenakan fonetik artikulatoris berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan atau diucapkan manusia.Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika.

· Alat Ucap

Dalam fonetik artikulatoris hal pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa.Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat ucap itu biasanya disebut sebagai bunyi dental dan bunyi labial.

· Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok yang di dalamnya terdapat pita suara.Dan selanjutnya udara diteruskan ke udara bebas lewat mulut/hidung.Jika udara dari paru-paru keluar tanpa hambatan maka tidak akan keluar bunyi.Hambatan ini biasanya berkenaan dengan pita suara.

Ada 4 macam posisi pita suara:

*Pita suara terbuka lebar:tidak ada bunyi yang dihasilkan.

*Pita suara terbuka agak lebar:tidak ada getaran pada pita suara.

*Pita suara terbuka sedikit:menghasilkan bunyi jika diteruskan ke hidung.

*Pita suara tertutup rapat:langsung menghasilkan bunyi hamzah/glottal.

Alat-alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi disebut articulator.

Artikulator ini dibedakan menjadi 2,yaitu:

a. articulator aktif: alat ucap yang bergerak/digerakkan.

Contoh: bibir bawah,ujung lidah,daun lidah.

b. articulator pasif: alat ucap yang tidak dapat bergerak dan didekati

articulator aktif.

Contoh: bibir atas,gigi atas,langit-langit keras.

Dalam berbagai bahasa ada pula yang menjumpai adanya bunyi ganda. Artinya,dua buah bunyi yang lahir dalam dua proses yang berangkaian yaitu artikulasi pertama dan artikulasi kedua.Dalam prosesnya,setelah berlangsung artikulasi pertama langsung disusul oleh artikulasi kedua.

Artikulasi kedua ini dapat berupa proses:

a. Labialisasi: membulatkan bentuk mulut.

b. Palatalisasi: menaikkan bagian depan lidah sesuai artikulasi pertama.

c. Velarisasi: artikulasi susulan (menaikkan lidah ke langit-langit lunak).

· Tulisan Fonetik

Dalam studi linguistic dikenal adanya beberapa macam system tulisan dan ejaan:

a. Tulisan fonetik: setiap bunyi mempunyai lambangnya sendiri-sendiri

meskipun perbedaannya hanya sedikit.

b. Tulisan fonemik: hanya perbedaan bunyi yang distingtif saja yakni

membedakan makna,yang diperbedakan lambangnya.

c. Tulisan ortografi: digunakan secara umum di dalam masyarakat suatu

bahasa.

· Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa dibedakan atas vocal dan konsonan.

Perbedaannya,jika pada bunyi vocal setelah melewati pita suara arus udara tidak mengalami hambatan apa-apa.Sedangkan pada bunyi konsonan arus udara masih mendapat gangguan.

@ Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan

Posisi lidah dan bentuk mulut.

Posisi lidah: – vertikal (vocal tinggi,tengah,rendah)

- horizontal (vocal depan,pusat,belakang)

Pada bunyi-bunyi vocal terdapat istilah diftong/vocal rangkap.

Yaitu,ketika posisi lidah memproduksi bunyi pada bagian awal dan akhir

tidak sama.

Macam diftong:

- Diftong naik: bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi

bunyi yang kedua.

- Diftong turun: posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi

Bunyi yang kedua.

@ Bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan 3 kriteria,yaitu:

- Posisi pita suara: bunyi bersuara dan bunyi tidak bersuara.

- Tempat artikulasi (konsonan)

- Cara artikulasi

Unsur Suprasegmental

Dalam studi mengenai bunyi/unsur,suprasegmental biasanya dibedakan atas:

a. Tekanan/stress: menyangkut masalah keras lunaknya bunyi

b. Nada/pitch: berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi.

c. Jeda/persendian: berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.

Silabel

Silabel/suku kata adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran/runtunan bunyi ujaran.Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan yang biasanya jatuh pada sebuah vocal.

- Onset: bunyi pertama pada sebuah silabel

- Koda: bunyi akhir pada sebuah silabel

- Interlude: bunyi yang sekaligus dapat menjadi onset dan koda pada

Sebuah silabel yang berurutan.

B. FONEMIK

Fonem adalah objek penelitian yang merupakan bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

· Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi termasuk fonem/bukan fonem,kita harus mencari sebuah satuan bahasa yang biasanya sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut dan membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama.

Contoh: kata laba dan raba.Kedua kata tersebut dibedakan oleh bunyi yang pertama yaitu [l] dan [r].Ternyata maknanya berbeda.Demikianlah yang disebut fonem [l] dan fonem [r].

· Alofon

Alofon adalah bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem.Distribusi alofon-alofon dari sebuah fonem dibedakan menjadi 2,

yaitu:

a. Distribusi Komplementer: distribusi yang tidak bias dipertukarkan

Juga tidak akan menimbulkan perbedaan makna.

b. Distribusi Bebas: disebutkan bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

Kalau diperhatikan bahwa alofon adalah realisasi dari fonem,maka dapat dikatakan bahwa fonem bersifat abstrak karena fonem itu hanyalah abstraksi dari alofon.Dengan kata lain yang konkret atau nyata ada dalam bahasa adalah alofon itu sebab alofon itulah yang diucapkan.

Klasifikasi Fonem

Kriteria klasifikasi fonem sebenarnya sama dengan criteria klasifikasi bunyi,maka penanaman fonempun sama dengan penanaman bunyi.Kalau ada bunyi vocal dan konsonan maka ada juga fonem vocal dan konsonan.

Bedanya kalau bunyi-bunyi vocal dan konsonan itu banyak sekali maka fonem vocal dan konsonan agak terbatas.Sebab hanya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem.Itupun hanya pada bahasa tertentu saja.

· Khazanah Fonem

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa.

Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.Hal ini diperkirakan adanya perbedaan tafsiran.Maka jumlah fonem dalam suatu bahasa menjadi tidak sama banyaknya menurut pakar yang satu dengan pakar yang lain.

· Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya.

Beberapa kasus perubahan fonem,diantaranya:

a. Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada dilingkungannya.

Sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai cirri-ciri yang sama dengan bunyi-bunyi yang mempengaruhinya.

Asimilasi dibedakan menjadi 3,yaitu:

a.Asimilasi progresif (bunyi yang diubah terletak di belakang bunyi

yang mempengaruhinya).

b.Asimilasi Regresif (bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang

mempengaruhinya).

c.Asimilasi Resiprokal (perubahan itu terjadi pada kedua bunyi yang

mempengaruhi sehingga menjadi fonem atau bunyi yang lain).

Kalau perubahan dalam proses asimilasi menyebabkan 2 bunyi yang berbeda

menjadi sama,baik seluruhnya maupun sebagian dari cirinya.Maka dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan 2 buah fonem yang sama menjadi berbeda.

· Umlaut,Ablaut,dan Harmoni Vokal

Dalam studi fonologi,Umlaut berarti perubahan vocal sedemikian rupa sehingga vocal itu diubah menjadi vocal yang tidak tinggi sebagai nakibat dari vocal yang berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vocal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indonesia Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

Umlaut berbeda dengan Ablout.Kalau amlout terbatas pada peninggian vocal akibat pengaruh bunyi berikutnya dan bukan pula terbatas pada peninggian bunyi.,

· Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis bukan mengubah bentuk fonem menjadi fonem lain melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.

Proses Epentesis sebuah fonem tertentu biasanya yang homorgan dengan lingkungannya dan disisipkan dalam sebuah kata.

 

Galih Nur Asih;1402408223

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 3:33 pm

Nama : Galih Nur Asih

NIM : 1402408223

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1): FONOLOGI

Kalau kita mendengar orang berbicara, entah berpidato atau bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtunan bunyi bahasa yang terus menerus.runtunan bunyi bahasa ini dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkatan-tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-hentian atau jeda yang terdapat dalam runtunan bunyi tersebut.

Siliabel merupakan satuan runtunan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi lain di depannya, di belakangnya, atau sekaligus di depan dan di belakangnya. Adanya puncak kenyaringan atau sonoritas inilah yang menandai siliabel itu. Puncak kenyaringan itu biasanya ditandai dengan sebuah bunyi vokal.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa ini disebut fonologi. Menurut hirearki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik.

1. Fonetik

Fonetik dalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Kemudian, menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan menjadi adanya tiga jenis fonetik, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.

Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi diklasifikasikan. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dan timbrenya. Sedangkan fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

a. Alat Ucap

Dalam fonetik artikulatoris hal pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Namun, tidak biasa disebut “bunyi gigi” atau “bunyi bibir” melainkan bunyi dental dan bunyi labial, yakni istilah berupa bentuk ajektif dari bahasa latinnya.

Selanjutnya, sesuai dengan bunyi bahasa itu dihasilkan, maka harus kita gabungkan istilah dari dua nama alat ucap itu. Misalnya, bunyi apikodental yaitu gabungan antara ujung lidah dengan gigi atas, labiodental yaitu gabungan antara bibir bawah dengan gigi atas, dan laminopalatal yaitu gabungan antara daun lidah dengan langit-langit keras.

b. Proses Fonasi

Tejadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorokan ke pangkal tenggorokan, yang di dalamnya terdapat pita suara. Supaya uadara bisa terus keluar, pita suara itu harus berada dalam posisi terbuka. Setelah melalui pita suara, yang merupakan jalan satu-satunya untuk bisa keluar, entah melalui rongga mulut atau rongga hidung, udara tadi diteruskan ke udara bebas.

Kalau posisi pita suara terbuka lebar maka tidak terjadi bunyi bahasa. Posisi ini adalah posisi untuk bernafas secara normal. Kalau pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi tidak bersuara. Kalau pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi bersuara.

c. Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin, yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf latin itu.

Kalau dalam tulisan fonetik, setiap bunyi baik yang segmental maupun yang suprasegmental, dilambangkan secara akurat artinya setiap bunyi mempunyai lambang-lambangnya sendiri, meskipun perbedaannya hanya sedikit, tetapi dalam tulisan fonemik hanya perbedaan bunyi yang distingtif saja, yakni yang membedakan makna, yang diperbedakan lambangnya.

d. Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa pertama-tama dibedakan atas vocal dan konsonan. Jadi, beda terjadinya bunyi vocal dan konsonan adalah arus udara dalam pembentukan bunyi vocal setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa, sedangkan dalam pembentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

Ø Kalsifikasi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasufikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal bisa bersifat horizontal. Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tidak bundar.

Ø Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Ketidaksamaan ini menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strukturnya.

Ø Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan tiga patokan atau kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.

e. Unsur Suprasegmental

Arus ujaran merupakan suatu runtunan bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau jeda agak singkat, disertai dengan keras lembutnya bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, dan sebagainya. Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi.

Ø Tekanan atau Stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudinya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti dibarengi dengan tekanan lunak.

Ø Nada atau Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang tinggi. Sebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi getaran yang rendah, tentu akan disertai juga dengan nada rendah.

Ø Jeda atau Persendian

Jeda berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda karena adanya hentian itu, dan disebut persendian karena di tempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain. Jeda ini dapat bersifat penuh dan dapat bersifat sementara.

f. Silabel

Silabel adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran. Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang biasanya jatuh pada sebuah vokal. Kenyaringan atau sonoritas yang menjadi pucak silabel terjadi karena adanya ruang resonansi berupa rongga mulut, rongga hidung, atau rongga-rongga lain, di dalam kepala dan dada.

2. Fonemik

Objek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa pada umunya tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak. Sebaliknya, objek penelitian fonemikadalah fonem, yaitu bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

a. Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bikan, kita harus mencari sebuah bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. Kalau ternyata kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, makaberarti bunyi tersebut adalah sebuah fonem, karena dia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua satuan bahasa itu.

b. Alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem disebut alofon. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Atau kalau kita melihatnya dalam peta fonem, letaknya masih berdekatan atau saling berdekatan. Tentang distribusinya, mungkin bersifat komplementer, mungkin juga bersifat bebas.

c. Klasifikasi Fonem

Kriteria dan prosedur klasifikasi fonem sebenarnya sama dengan cara klasifikasi bunyi. Bedanya kalau bunyi-bunyi vokal dan konsonan itu banyak sekali, maka fonem vokal dan vonem konsonan ini agak terbatas, sebab hanya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem.

d. Khazanah Fonem

Yang dimaksud dengan khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.

e. Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya.

Ø Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bumyi yang mempengaruhinya.

Ø Netralisasi dan Arkifonem

Ø Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahasa Jerman. Dalam studi fonologi kata ini mempunyai pengertian perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sehingga akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Harmoni vokal ialah perubahan bunyi.

Ø Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

Ø Metatesis atau Epentesis

Proses metatesis bukan mengubah bentuk fonem menjadi fonem yang lain, melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Lazimnya, bentuk dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat dalam bahasa tersebut sebagai variasi.

Ø Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda, sedangkan yang lain sama.

 

KRISTINA MURTI ANISSA_1402408188_BAB 4 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 7:44 pm

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1) : FONOLOGI

A. Pengertian

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa.

Fonologi dibentuk dari Fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu.

Rututan bunyi bahasa dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkat-tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-hentian atau jeda yang terdapat pada runtutan bunyi tersebut.

Misal:

(1) [kedua orang itu meninggalkan ruang sidang meskipun rapat belum selesai].

Tahap pertama, runtutan bunyi disegmentasikan berdasarkan adanya jeda yang paling besar.

(1a) [kedua orang itu meninggalkan sidang] (1b) [meskipun rapat belum selesai]

Tahap kedua, segmen (1a) dan (1b) dapat disegmenkan lagi.

(1a1) [kedua orang] (1b1) [meskipun]

(1a2) [meninggalkan ruang sidang] (1b2) [rapat belum selesai]

Tahap ketiga,segmen (1a1) dan (1ba) dapat disegmenkan lagi.

(1a11) [kedua orang] (1b11) [meski]

(1a12) [itu] (1b12) [pun]

(1a21) [meninggalkan] (1b21) [rapat]

(1a22) [ruang sidang] (1b22) [belum selesai]

Tahap keempat, segmen (1a21) dapat menghadilkan silabel.

[meninggalkan] = [me], [ning], [gal], [kan]

Silabel adalah satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring.

Silabel sering disebut juga dengan suku kata.

Adanya puncak kenyaringan (sonoritas) inilah yang menandai silabel, yang biasanya ditandai dengan vokal.

B. Objek Studi Fonologi

Fonetik : yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut memiliki fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Contoh : bunyi [i] yang terdapat kata [intan], [angin], dan [batik] tidaklah sama

Fenomik : mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi tersebut sebagai pembeda makna.

Contoh : perbedaab bunyi [p] dan [b] yang terdapat pada kata [paru] dan [baru]

1. Fonetik

Ada 3 jenis fonetik, yaitu:

a) Fonetik artikulatoris/fonetik organ/fonetik fisiologis

Mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklarifikasikan.

b) Fenotik akuistik

Mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam.

c) Fenotik auditoris

Mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

a. Alat ucap

Alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa (pada fenotik artikulatoris)


- Dorsal : pangkal lidah

- Medial : tengah lidah

- Laminal : daun lidah

- Apikal : ujung lidah

- Uvular : anak tekak

- Dental gigi

- Bibir : labial



b. Proses fonasi

Agar tercipta bunyi maka pita harus berada dalam posisi terbuka. 4 macam posisi pita suara:

- Terbuka lebar : tidak akan terjadi bunyi bahasa.

- Terbuka agak lebar : terjadi bunyi bahasa yaitu bunyi tak berusara (voiceless).

- Terbuka sedikit : terjadi bunyi bahasa yaitu bunyi bersuara (voice).

- Tertutup rapat : terjadi bunyi hamzah atau global stop.

Tempat bunyi bahasa terjadi disebut tempat artikulasi (artikulator)

- Artikulator aktif : alat ucap bergerak.

- Artikulator pasif : alat ucap tak bergerak

c. Tulisan fonetik

Dalam tulisan fenotik, lambang atau huruf digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Dalam tulisan fenotik, setiap bunyi, baik yang segmental maupun suprasegmental, dilambangkan secara akurat, meskipun perbedaan hanya sedikit.

d. Klarifikasi bunyi

Bunyi vokal, semuanya adalah bersuara, sebab dihasilkan dengan pita suara terbuka sekikit.

v Klasifikasi vokal.

§ Posisi lidah secara vertikal:

- Vokal tinggi: (i) dan (u)

- Vokal tengah: (e) dan (^)

- Vokal rendah: (a)

§ Posisi lidah horizontal

- Vokal depan: (i) dan (e)

- Vokal pusat: (^)

- Vokal belakang: (u) dan (o)

§ Bentuk mulut

- Vokal bundar: (o) dan (u)

- Vokal belakang: (i) dan (e)

v Diftong atau vokal rangkap

Disebut demikian karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama.

Diftong ada 2, yaitu :

a) Diftong naik: bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua.

b) Diftong turun: bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi pertama.

v Klarifikasi konsonan

Bunyi-bunyi konsonan diibedakan berdasarkan 3 patokan, yaitu: posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.

Berdasarkan tempat artikulasinya kita mengenal, antara lain, konsonan:

1) Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah, merapat pada biar atas. Antara lain (b), (p) dan (m).

2) Labiodental, yaitu konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi merapat pada bibir atas. Antara lain (f) dan (v).

3) Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi antara lain (t) dan (d).

4) Darsovelar, yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan volum atau langit-langit lunak. Antara lain (k) dan (g).

Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana hambatan yang dilakukan terhadap arus udara itu, dapat kita bedakan adanya konsonan.

1) Hambatan ( letupan, plosif, stop ) : bunyi p, b,t,d,k, dan g.

2) Geseran atau frikatif : bunyi f, s, dan z.

3) Paduan atau frikatif : bunyi c, dan j.

4) Sengauan atau nasal : bunyi m, dan n.

5) Getaran atau trill : bunyi r.

6) Sampingan atau lateral : bunyi l.

7) Hampiran atau aproksimal : bunyi w, dan y.

v Unsur Suprasegmental

Adalah bunyi yang dapat disegmentasikan di dalam arus ujaran.

1) Tekanan atau stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi, suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, asti dibarengi dengan tekanan keras, begitu juga sebaliknya.

2) Nada atau Pitch.

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi

Macam-macam nada yaitu :


a. Nada naik /

Nada datar –

Nada turun \

Nada turun naik ^

Nada turun v


b. Nada paling tinggi, angka 4

Nada tinggi, angka 3

Nada sedang, angka 3

Nada rendah, angka 1

3) Jeda atau persendian

Berkenan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.

Macam-macam sendi:

a. Sendi dalam (internal juncture)

Menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel lain. Biasanya diberi tanda (+).

b. Sendi luar (open juncture)

Menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel.

Antara lain: jeda antar kata (/)

Jeda antar frase dalam klausa (//)

Jeda antar kalimat dalam wacana (#)

v Silabel

Adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Bunyi vokal selalu menjadi puncak silabis atau kenyaringan dalam suatu silabel.

2. Fonemik

a. Identifikasi fonem

Identitas sebuah fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu saja.

· Alofon

Alofon-alofon dari sebuah fonem memiliki banyak kesamaan dalam pengucapannnya. Dimana alofon adalah rediasi dari fonem, yang konkret dalam bahasa.

Contoh: fonem (i) setidaknya memiliki 4 buah alofon, yaitu:

§ Bunyi (i) dalam kata cita

§ Bunyi (I) dalam kata tarik

§ Bunyi (i) dalam kata ingkar

§ Bunyi (i:) dalam kata kali

· Klasifikasi fenom

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut segmental. Dan fonem supra segmental atau fonem non segmental adalah fonem yang berupa unsur supra segmental.

Yang membedakan suatu konstruksi adalahkata majemuk atau bukan adalah pada tekanan itu. Kalau tekanan dijatuhkan pada unsur pertama, maka kontruksi itu adalah kata majemuk,kalau dijatuhkan pada unsur kedua maka itu bukan majemuk.

Dalam bahasa Indonesia unsur supra segmental tampaknya tidak bersifat fenomis maupun morfemis, namun intonasi mempunyai peranan pada tingkat sintaksis.

· Khazanah fenom

Adalah banyaknya fenom yang terdapat dalam satu bangsa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bangsa tidak sama jumlahnya dengan ynag dimiliki bangsa lain.

Jumlah fonem bahasa Indonesia adalah 24 buah, dimana:

- 6 buah fonem vokal: a, i, u, e, …. dan o

- 18 buah fonemkonsonan: p,t,c,k,b,d,j,g,m,n, ….s,h,r,l,w dan y

· Perubahan fenom

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya.

Macam-macam kasus perubahan fonem, antara lain:

1) Asimilasi dan disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya. Sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Kalau perubahan itu menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka perubahan itu disebut asimilasi fenomis. Jika tidak menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka disebut asimilasi fonetid atau asimilasi alomorfemis.

Macam-macam asimilasi.

a) Asimilasi progresif: bunyi yang diubah itu terletak di belakang bunyi yang mempengaruhinya.

b) Asimilasi regresif: bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang mempengaruhinya.

c) Asimilasi resipokal: perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi.

Proses disimilasi perubahan menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

2) Netralisasi dan arkifonem

Contoh dalam bahasa Belanda ada kata yang dieja “hard” keras dilafalkan /hart/. Adanya bunyi /t/ pada posisi akhir kata yang dieja hard itu adalah hasil netralisasi.

Fenom /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam peristilahan linguistik disebut arkifonem.

3) Umlaut, ablaut, dan harmoni vokal

Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo-Jerman. Untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki. Contohnya kata at ‘kuda’ bentuk jamaknya adalah atlar’kuda-kuda’. Dalam bahasa Turki harmoni vokal berlangsung dari kiri ke kanan, atau dari silabel yang mendahului ke arah silabel yang menyusul.

4) Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi informal, seringkali penutur memperpendek ujarnya. Misal tidak tahu diucapkan ndak tahu. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih ada yang berupa kontrkasi. Dalam kontrkasi, pendekatan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

5) Metatesis dan Epentesis

Metatesis mengubah urutan fenom yang terdapat dalam suatu kata. Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat dalam bahasa tersebut sebagai variasi.

Dalam proses epentesis sebuah fonem tert3entu, biasanya yang homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata.

6) Fonem dan grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda. Sedangkan yang lainnya sama.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.