Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Ifa Nurcahyanti_1402408083_BAB 4 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 6:52 pm

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK (1)

FONOLOGI

Fonologi berasal dari kata fon : bunyi dan logi : ilmu. Fonologi dibagi menjadi dua yaitu :

Ÿ Fonetik yaitu studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperha-tikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna.

Ÿ Fonemik yaitu studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi-bunyi tersebut.

I. FONETIK

Menurut proses terjadinya bunyi fonetik dibedakan menjadi tiga :

1. Fonetik artikulatoris / fonetik organis / fonetik fisiologis : mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara menghasilkan bunyi bahasa dan bagaimana bunyi-bunyi diklasifikasikan.

2. Fonetik akustik : bunyi sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam.

3. Fonetik auditoris : bagaimana peristiwa penerimaan bunyi oleh telinga.

Tempat bunyi terjadi disebut tempat artikulasi, prosesnya adalah proses artikulasi dan alat-alatnya disebut artikulator yang dibedakan menjadi dua, yaitu:

Ÿ Artikulator aktif : alat ucap yang bergerak, contoh bibir bawah.

Ÿ Artikulator pasif : alat ucap yang tidak dapat bergerak, contoh bibir atas.

Bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif disebut striktur.

# Tulisan fonetik

Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan 1 bunyi bahasa.

# Klasifikasi bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adalah pembentukan bunyi vokal, arus udara setelah melewati pita suara tidak mendapat hambatan apa-apa. Sedang pembentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan. Bunyi konsonan bersuara jika pita suara terbuka sedikit dan tidak bersuara jika pita suara terbuka agak lebar, sedangkan bunyi vokal semuanya bersuara.

# Klasifikasi vokal

Penamaannya berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

# Diftong dan vokal rangkap

Disebut seperti ini karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi pada bagian awal dan akhir tak sama. Ketidaksamaan terletak pada tinggi rendah lidah, bagian lidah yang bergerak serta strikturnya. Diftong dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya yaitu diftong naik dan diftong turun.

# Klasifikasi konsonan

Bunyi konsonan biasanya dibedakan dalam 3 kriteria yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.

# Unsur suprasegmental

Suprasegmental adalah bagian yang memiliki unsur-unsur sebagai berikut :

a. Tekanan atau stres

b. Nada atau pitch

c. Jeda atau persendian

# Silabel

Salah satu dari satuan bunyi adalah silabel atau suku kata, yaitu satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran. Onset adalah bunyi pertama pada sebuah silabel.

II. FONEMIK

Ÿ Fonemik adalah pembeda makna kata

Ÿ Identitas fonem

Untuk mengetahui apakah bunyi itu fonem atau tidak harus dicari sebuah satuan bahasa dengan membandingkan kata lain yang mirip dengan satuan bunyi pertama, kalau berbeda makna maka termasuk fonem.

Ÿ Alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem, seperti bunyi (t) dan (th). untuk fonem (t) bahasa inggris disebut alofon. Identitasnya hanya berlaku pada satu bahasa tertentu.

Ÿ Klasifikasi fonem

Kriteria dan prosedur klasifikasi fonem sebenarnya sama dengan cara klasifikasi bunyi, bedanya kalau bunyi-bunyi vokal dan konsonan itu banyak sekali, maka fonem vokal konsonan agak terbatas karena hanya bunyi-bunyi yang membedakan makna saja yang disebut fonem.

Ÿ Khazanah fonem

Yaitu banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa.

Ÿ Perubahan fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda tergantung pada lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang ada di sekitarnya. Kasus-kasus dalam perubahan fonem:

1) Asimilasi dan disimilasi

Asimilasi adalah berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu memiliki ciri-ciri dan bunyi yang sama dengan bunyi yang mempengaruhi.

Ÿ Asimilasi fonemis adalah perubahan yang menyebabkan berubahnya identitas suatu fonem.

Ÿ Asimilasi alomorfemis adalah perubahan yang tidak menyebabkan berubahnya identitas suatu fonem.

Asimilasi juga biasanya dibedakan menjadi :

a. Asimilasi progresif : bunyi yang diubah terletak di belakang bunyi yang mempengaruhi.

b. Asimilasi regresif : bunyi yang diubah terletak di muka bunyi yang mempengaruhi.

c. Asimilasi resiprokal : perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi.

2) Netralisasi dan Arkifonem

Dalam bahasa Belanda kata yang dieja hard “keras” dan hart “jantung” pengucapannya sama yaitu [hart]. Konsonan hambat bersuara (d) dalam bahasa Belanda adalah tidak mungkin maka diubah menjadi konsonan yang homorgan tak bersuara [t]. Oposisi antara bunyi [t] pada posisi akhir kata yang dieja hard itu adalah hasil netralisasi. Dan fonem (d) pada kata hard yang bisa berwujud (t) atau (d) dalam peristilahan linguistik disebut arkifonem.

3) Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya lebih tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita ditemukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki. Contoh “kuda” bentuk jamaknya antara lain “kuda-kuda”. Bunyi (a) pada bentuk tunggal menyebabkan bentuk jamaknya juga berbunyi (a).

4) Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penuturan menyingkat atau memperpendek ujaran, misalnya ungkapan tidak tahu menjadi ndak tahu. Dalam kontraksi pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri, misal shall not menjadi shan’t. dimana fonem (e) dari shall diubah menjadi /a/ dalam shan’t.

5. Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis bukan merubah fonem menjadi fonem yang lain, melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Contoh: selain bentuk sapu ada kata apus dan usap.

Dalam proses epentesis sebuah fonem tertentu biasanya yang homogran dengan lingkungannya disisipkan dalam sebuah kata. Contoh : dalam bahasa Indonesia ada kata sampi disamping kata sapi, ada kampak disamping kata kampak. Kata-kata ini ada bunyi [m] yang disisipkan di tengah kata.

Ÿ Fonem dan Gramer

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Dalam studi fonologi, alofon-alofon yang merealisasikan sebuah fonem dapat dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Yang dilambangkan adalah fonemnya, bukan alofonnya. Misal, alofon [o] dan [,] dari fonem /o/ bahasa Indonesia dilambangkan dengan huruf yang sama,

 

AHMAD ALFIYAN_1402408299_BAB 4

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 6:36 pm

BAB 4

TATARAN LINGUISTIK (1): FONOLOGI

Disusun oleh AHMAD ALFIYAN (1402408299)

Silabel adalah satuan runtunan bunyi yang ditandai dengan satu-satuan bunyi yang paling nyaring.Adanya puncak kenyaringan/sonoritas yang menandai silabel.

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtunan bunyi bahasa.

Fonologi memiliki 2 cabang yaitu: Fonetik dan Fonemik.

Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi pembeda makna atau tidak.

Fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna.

Contoh : a. Fonetik

Intan, batik, angin sehingga fonetik akan mempelajari perbedaan bunyi tersebut sertya sebabnya

b. Fonemik

(p)dan (b) dalam kata PARU dan BARU bunyi(P) dan (B) dalam 2 kata tersebut menyebabkan berbedanya makna.

4.1. FONETIK

Menurut urutan proses terjadinya bunyi dibagi menjadi 3, yaitu:

a. Fonetik artikulatoris/biologis mempelajari mekanisme alat ucap dalam menghasilkan bunyi bahasa.

b. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam

c. Fonetik auditoris mempelajari mekanisme bunyi bahasa diterima telinga

4.1.1 ALAT UCAP

Fonetik artikulatoris mempelajari alat-alat ucap. Bunyi diberi nama sesuai nama alat ucap tersebut.

Misal bunyi dental,bunyi labial

.

4.1.2 PROSES FONASI

Proses fonasi adalah proses dalam menghasilkan bunyi bahasa. Dimulai dari proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorokan yang terdapat pita suara sampai keluar ke udara bebas.

Berkenaan dengan hambatan pada pita suara ada 4 posisi pita suara:

a. Terbuka lebar sehingga tidak dihasilkan suara/bunyi

b.Terbuka agak lebar sehingga menghasilkan bunyi tak bersuara

c. Terbuka sedikit sehingga dihasilkan bunyi bersuara

d.Tertutup rapat sehingga langsung dihasilkan bunyi hamzah/glotal

Tempat bunyi bahasa terjadi disebut tempat artikulasi sedang alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa disebut artikulator

Macam artikulator,yaitu:

a. Artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak/digerakkan

b.Artikulator pasif adalah alat ucap yang tidak bergerak/didekati artickulator aktif.

Artikulasi tidak terjadi hanya satu kali saja melainkan ada komposisi dari artikulasi.

Artikulasi kedua/ artikulasi sertaan adalah

a. Labialisasi adalah dengan membulatkan bentuk mulut

b.Palatalisasi adalah dengan jalan menaikkan bagian depan lidah sesudah artikulasi pertama

c. Velarisasi adalah dengan cara menaikkan bagian belakang lidah ke arah langit-langit lunak

d.Faringalisasi adalah dengan cara menaikkan bagian belakang lidah ke dinding faring

4.1.3 TULISAN FONETIK

Tulisan fonetikditulis dengan huruf latin yang diberi tanda diakritik atau modifikasi huruf tersebut.

Setiap bunyi yang berbeda pada tulisan fonetik memiliki lambang sendiri.

4.1.4 KLASIFIKASI BUNYI

Bunyi vokal dihasilkan oleh pita suara terbuka sedikit dengan arus udara tidak mendapat hambatan

Klasifikasi vokal antara lain :

Berdasarkan Posisi lidah vertikal

a. Vokal tinggi yaitu (I) dan (U)

b.Vokal tengah yaitu (E)dan (O)

c. Vokal rendah yaitu(A)

Berdasarkan Posisi lidah horizontal

a. Vokal depan yaitu (I) dan (E)

b.Vokal pusat yaitu (A)

c. Vokal belakang yaitu (U) dan (O)

Berdasarkan Bentuk mulut

a. Vokal bundar yaitu(O) dan (U)

b.Vokal tak bundar yaitu (I),(E),(A)

Diftong( vokalrangkap )

Contoh:

Balai (ai)

Kerbau (au )

Sekoi (oi)

Bunyi konsonan dihasilkan pita suara terbuka sedikit atau agak lebar.dengan arus udara mendapat hambatan pada titik artikilasi tertentu.

Klasifikasi konsonan

Berdasarkan posisi pitasuara

a. Bunyi bersuara yaitu B,D,G,C

b.Bunyi tak bersuara yaitu S,P,K,F

Berdasarkan artikulasinya

a. Konsonan Bilabial yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir

Contoh: B,P,M

b.Konsonan Dental yaitu konsonan antara bibir bawah dan gigiatas

Contoh: F,V

c.Konsonan LaminoAlveolar yaitu konsonan antara daun lidah dan gusi

Contoh: T,D

d.Konsonan Dorsevelar yaitu konsonan antara pangkal lidah dengan langit-langit lunak

Contoh: K,G

Berdasarkancara artikulasinya:

a. Hambatan yaitu artikulator aktif menutup penuh arus udara,kemudian dibuka tiba-tiba

Contoh: P,B,T,D,K,G

b.Geseran yaitu artikulator aktif mendekati artikulator pasif membentuk celah sempit

Contoh: F,S,Z

c.Paduan yaitu artikulator aktif menghambat arus udara lalu membentuk celah sempit.

Contoh: C,J

d.Sengauan yaitu artikulator menghambat aliran udara di mulut dan membiarkan lewat hidung.

Contoh: M,N
e.Getaran yaitu artikulator melakukan kontak beruntun dengan artikulator pasif.

Contoh: R

f.Sampingan yaitu artikulator aktif menghambat arus udara pada tengah mulut dan membiarkan lewat samping.

Contoh: L

g.Hampiran yaitu artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka.

Contoh: W,Y

4.1.5 UNSUR SUPRA SEGMENTAL

Bagian bunyi yang tak dapat disegmentasikan/Bunyi prosodi

Nada/Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya bunyi

Dalam bahasa tonal / bahasa bernada dikenal 5 macam nada, yaitu:

a. Nada naik

b.Nada turun

c. Nada datar

d.Nada turun naik

e. Nada naik turun

Jeda/ Persendian

Jeda berkenaan dengan perhentian bunyi dalam arus ujar

Sendi Dalam (internal juncture) yaitu menunjukkan batas antara satu silabel

Contoh: LAMPU>>>LAM+PU

Sendi Luar yaitu menunjukkan batas dari segmen silabel.

a. Jeda antar kata dalam frase

b.Jeda antar kata dalam klausa

c. Jeda antar kata dalam kalimat

4.2 FONEMIK

Fonemik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi sebagai pembeda makna.

4.2.1 KLASIFIKASI FONEM

Dua buah kata mirip seperti LABA dan RABA

Atau BAKU dan BAHU disebut kata berkontras minim.

4.2.2 ALOFON

Alofon adalah bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem

4.2.3 KHAZANAH FONEM

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat pada satu bahasa

4.2.4 PERUBAHAN FONEM

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda sebab sangat tergantung pada lingkungannya/pada fonem lain yang berada di sekitarnya

4.2.4.1 ASIMILASI DAN DISIMILASI

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya sehingga bunyi tersebut menjadi sama / punya ciri yang sama

Contoh: SABTU dan SAPTU

FIKIR dan PIKIR

Disimilasi adalah jika perubahan bunyi tersebut menyebabkan 2 bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya atau sebagian.

Contoh : CIPTA dan CINTA dari kata CITTA

4.2.4.2 UMLAUT dan ABLAUT

Amlaut adalah perubahan vocal demikian hingga vocal berubah jadi vocal yang lebih tinggi

Ablaut adalah perubahan vocal yang ditemukan dalam bahasa indo-jerman untuk menandai fungsi gramatikal.

4.2.4.3 KONTRAKSI

Kontraksi adalah pemendekan fonem yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem/lebih

Contoh: SHALL+NOT menjadi SHALLN’T

4.2.4.4 METASIS DAN EPENTESIS

Metasis adalah mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata

Contoh: SAPU,APUS,USAP

BERANTAS,BANTERAS

JALUR,LAJUR

Epentasis adalah penyisipan fonem tertentu kedalam sebuah kata

Contoh: SAMPI,SAPI

KAMPAK,KAPAK

JUMBLAH,JUMLAH.

Sekian terima kasih…

 

SYAFAATUN NIKMAH;1402408319 Oktober 17, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 3:21 pm

NAMA : SYAFAATUN NIKMAH

NIM : 1402408319

KELAS : E

BAB 4. TATARAN LINGUISTIK: FONOLOGI

Pembicaraan merupakan runtutan bunyi bahasa yang terus-menerus, kadang terdengar suara naik dan turun, hentian sejenak atau agak lama, tekanan keras atau lembut dan kadang suara pemanjangan atau biasa. Runtutan bunyi bahasa dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkatan kesatuannya ditandai dengan hentian atau jeda dalam runtutan bunyi.

Pada tahap pertama, dapat disegmentasikan berdasarakan jeda yang paling besar kemudian pada tahap berikutnya dapat disegmentasikan lagi sampai pada kesatuan runtutan bunyi yang disebut silabel atau suku kata. Jadi, silabel merupakan satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring. Untuk menentukan ada berapa silabel pada sebuah kesatuan runtutan bunyi bisa dilihat dari jumlah vokal yang terdapat di dalamnya.

Bidang linguistik yang mempelajari runtuatan bahasa disebut fonologi.

Menurut hierarki satuan bunyi bahasa yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi dua, sebagai berikut:

  • fonetik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

  • fonemik yitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa denagn memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

4.1. FONETIK

Menurt proses terjadinya, bunyi bahasa dibedakan menjadi tiga jenis, sebagai berikut:

  1. Fonetik artikulatoris yaitu mempelajari bagaimana mekanisme alat bicara manusia dalam menghasilkan bunyi bahasa.

  2. Fonetik akustik yaitu mempelajari bunyi bahasa sebagai fenomena alam, misal frekuensi getaran, amplitudo, intensitas, dan timbrenya.

  3. Fonetik auditoris yaitu mempelajari mekanisme penerimaan bunyi bahasa oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Dalam fonetik artikulatoris yang dibicarakan adala alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Misalnya nama-nama alat ucap itu sebagai berikut:

  1. pangkal tenggorok (larynx)-laringal

  2. rongga kerongkongan (pharynx)-faringal

  3. pangkal lidah (dorsum)-doral

  4. tengah lidah (medium)-medial

  5. daun lidah (laminum)-laminal

  6. ujung lidah (apex)-apikal

  7. anak tekak (uvula)-uvulas

  8. langit-langit lunak (velum)-velas

  9. langit-langit keras (palatum)-palatal

  10. gusi (alveolum)-alveolar

  11. gigi (dentum)-dental

  12. bibir (labium)-labial

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok yang didalamnya terdapat pita suara. Agar dapat didengar suara bunyi yang keluar harus terdapat hambatan.

Berkenaan dengan hambatan pada pita suara, terdapat empat macam posisis pita suara yaitu:

  1. pita suara terbuka yaitu tidak terjadi bunyi bahasa

  2. pita suara terbuka agak lebar yaitu terjadi bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara (viceless)

  3. pita suara terbuka sedikit yaitu terjadi bnyi bahasa yang disebut bunyi bersuara (voice)

  4. pita suara tertutup rapat-rapat yaitu terjadi bunyi hamzah atau global stop.

sesudah melewati pita suara, tempat asal awal terjadinya bunyi bahsa, arus udara diteruskan ke alat ucap tertentu yang terdapat dirongga mulut atau rongga hidung. Tempat bunyi bahasa dihasilkan disebut tempat artikulasi, proses terjadinya disebut proses artikulasi dan alat-alat yang digunakan disebut artikulator. Terdapat dua artikulator yaitu artikulator aktif yaitu alat ucap yang bergerak dan artikulator pasif yaitu alat ucap ynag tidak bergerak.

Keadaan atau posisis bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif disebut stikur.

Selain bunyi-bunyi tunggal di atas juga dijumpai bunyi ganda. Artinya ada dua bunyi yang lahir dalam dua proses artikulasi yang berangkaian yaitu setelah artikulasi pertama segera disusul oleh artikulasi kedua. Pada artikulasi kedua itu terdapat beberapa proses yang disebut sebagai berikut:

  • labialisasi yaitu dengan membulatkan bentul mulut.

  • patalisasi yaitu dengan menaikkan bagian depan lidah

  • velarisasi yaitu dengan menaikkan belakang lidah ke langit-langit lunak

  • faringalisasi yaitu dengan menarik lidah ke arah didnding faring.

4.1.3. Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf dari akasara Latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan modifikasi terhadap huruf Latin itu. Dalam tulisan fonetik tiap huruf digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Setiap bunyi dilambangkan secara akurat, artinya setiap bunnyi mempunyai lambang-lambang sendiri. Dalam studi linguistik telah dikenalkan tulisan fonetik dari International Phonetic Alphabet (IPA) pada tahu 1886.

4.1.4. Klasifikasi Bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atau vokal dan konsonan. Perbedaan bunyi vokal dengan bunyi konsonan yaitu ada tidaknya hambatan pada arus udara setelah melewati pita suara.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Vokal diklasifikasikan berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah vertikal dibedakan menjadi vokal tinggi, vokal tengah dan vokal rendah. Sedangkan posisis horizontal dibedakan menjadi vokal depan, vokal pusat dan vokal belakang. Menurut bentuk mulut dibedakan menjadi vokal bundar (mulut membundar saat mengucap vokal itu) dan vokal tak bundar.

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut vokal rangkap karena posisi lidah ketika menghasilkan bunyi pada awal dan akhir tidak sama dalam hal tinggi rendahnya lidah tetapi dihasilkan hanya satu buah bunyi dalam satu silabel. Diftong dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, yaitu:

    • diftong naik (bunyi pertama posisisnya lebih rendah dari posisi kedua)

    • diftong turun (posisi pertama lebih tinggi dari posisi kedua)

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Konsonan dibedakan berdasarkan posisi pita suara, tempat artikulasi dan cara artikulasi.

  • berdasarkan posisi pita suara dibedakan adanya bunyi bersuara dan bunyi tidak bersuara.

  • berdasarkan artikulasi, dibedakan menjadi:

  1. bilabial yaitu konsonan terjadi pada kedua belah bibir.

  2. labiodental yaitu konsonan terjadi pada gigi bawah dan bibir atas.

  3. laminoalveolar yaitu konsonan terjadi pada daun lidah yang menempel pada gusi.

  4. dorsovelar yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak.

  • berdasarkan cara artikulasinya dibedakan menjdai konsonan hambat (plosif), geseran (frikatif), paduan, sengauan (nasal), getaran (trill), sampingan (lateral) serta hampiran (aproksiman).

4.1.5 Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran, bunyi yang dapat disegmentasikan disebut bunyi segmental sedangkan bunyi yang tidak dapat disegmentasikan disebut bunyi suprasegmental.

        1. Tekanan atau Stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Bunyi yang diucapkan denag arus udara kuat akan dihasilkan tekanan yang keras, begitu juga sebaliknya.

        1. Nada atau Piteh

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Suatu bunyi yang diucapkan dengan frekuensi getaran tinggi akan dihasilkan nada tinggi, begitu juga sebaliknya.

        1. Jeda atau Persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Persendian dibedakan menjadi:

- sendi dalam yang menunjuk batas antara satu silabel denagn silabel lain

- sendi luar yang menunjuk batas lebih besar dari segmen silabel yang terdiri atas jeda antarkata dalam frase, jeda antar frase dalam klausa serta jeda antarkalimat dalam wacana.

        1. Silabel

Silabel yaitu satuan ritmis terkecil dalam arus ujaran atau runtutan bunyi. Satu silabel meliputi satu vokal atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Bunyi silabis atau puncak kenyaringan juga terdiri pada sebuah vokal. Bunyi yang sekaligus dapat menjadi aset dan koda pada dua buah silabel yang berurutan disebut interlude. Sedangkan pengertian onset yaitu bunyi pertama pada sebuah silabel dan koda yaitu bunyi akhir pada sebuah silabel.

4.2 FONEMIK

Objek penelitian yaitu fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat berfungsi untuk membedakan makna kata.

4.2.1 Indentifikasi Fonem

Untuk mengetahui sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa lalu membandingkan denagn satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. Kalau kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, maka bunyi tersebut adalah sebuah fonem. Misalnya kata laba dan raba.

Indentitas sebuah fonem hanya berlaku dalam satu bahasa tertentu saja.

4.2.2 Alofon

Alofon mempunyai kemipripan fonetis artinya banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Dalam distribusinya alofon memiliki 2 sifat yaitu:

  1. distribusi komplementer yaitu distribusi yang tidak bisa dipertukarkan

  2. distribusi bebas yaitu alofon bolh digunakan tanpaa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

Alofon adalah realisasi dari fonem sehingga dapat dikatakan bahwa fonem bersifat abstrka.

4.2.3 Klasifkasi Fonem

Klasifikasi fonem sama dengan klasifikasi bunyi yaitu vokal dan konsonan. Bedanya jika bunyi itu banyak sekali, sedangkan fonem agak terbatas sebab hanya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem.

4.2.4 Khazanah Fonem

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidaklah sama dengan bahasa lain.

4.2.5 Perubahan Fonem

Ucapan fonem dapat berubah atau berbeda tergantung pada lingkungnnya. Kasus perubahan itu sebagai berikut:

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya suatu bunyi menjadi sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Perubahan yang menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem disebut asimilasi fonemis sedangkan perubahan yang tidak menyebabkan berubahnya identitas suatu fonem dinamakan asimilasi fonetis.

Asimilasi dibedakan menjadi asimilasi progresif (bunyi yang ada dibelakang bunyi yang mempengaruhinya), asimilasi regresif (bunyi yang diubah ada didepan bunyi yang mempengaruhinya) dan asimilasi resiprokal (perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi)

Disimilasi adalah perubahan yang menyebabkan dua fonem yang sama menjadi berbeda.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Pelafalan kedua kata yang dieja berbeda itu menjadi sama merupakan suatu hasil penetralan. Apabila dalam linguistik, perubahan itu disebut arkifonem.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Umlaut yaitu perubahan vokal menjadi vokal yang lebih tinggi. Ablaut yaitu perubahan vokal dalam bahasa Indo Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal sedangkan untuk perubahan bunyi, harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turjki.

4.2.5.4 Kontraksi

Pemendekan berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih disebut kontraksasi. Pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesia dan Epentesis

Proses metatesis yaitu mengubah urtutan fonem yang terdapat dalam suatu kata sedangkan proses epentesis yaitu sebuah fonem tertentu biasanya yang homorgan dengan lingkungannya disisipkan ke dalam sebuah kata

4.2.6 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang dapat membedakan

makna / fungsional.

 

Diah Anggraeni;1402408210

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 3:01 pm

Nama :Diah Anggraeni

Nim :1402408210

Rombel:2

BAB IV

  1. FONETIK

Seperti sudah disebutkan di muka, fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya 3 jenis fonetik yaitu fonetik artikulatonis, fonetik akustik, dan fonetik auditonis.

Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis/fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya dan timbrenya. Sedangkan fonetik auditonis mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dari ketiga jenis fonetik ini, yang paling berurutan dengan dunia linguitik adalah fonetik artikuloris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika dan fonetik auditoris lebih berkenaan dengan bidang kedokteran, yaitu neurologi, meskipun tidak tertutup kemungkinan linguistik juga bekerja dalam kedua bidang fonetik itu.

  • Alat Ucap

Bunyi bahasa mempunyai fungsi utama yang bersifat biologis, misalnya paru-paru untuk bernapas, lidah untuk mengecap dan gigi untuk mengunyah. Secara kebetulan alat-alat itu digunakan juga berbicara. Kita perlu mengenal nama-nama alat-alat itu untuk bisa memahami bagaimana bunyi bahasa itu diproduksi. Nama alat-alat ucap/alat-alat yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut:

  1. Paru-paru (lung)

  2. Batang tenggorok (trachea)

  3. Pangkal tenggorok (larynx)

  4. Pita suara (vocal card)

  5. Krikoid (cricoid)

  6. Tiroid (thyroid atau lekum)

  7. Anak tekak (uvula)

  8. Langit-langit lunak (soft palate, velem)

  9. Langit-langit keras (hard palate, palatum)

  10. Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)

  11. Aritenoid (arythenoid)

  12. Dinding rongga kerongkongan (wall pf pharynx)

  13. Epiglotis (epiglottis)

  14. Akar lidah (root of the tongue)

  15. Pangkal lidah (back of the tongue, dorsum)

  16. Tengah lidah (middle of the tongue, medium)

  17. Daun lidah (blade of tongue, laminum)

  18. Ujung lidah (tip of the tongue, apex)

  19. Gigi atas (upper teeth, dentum)

  20. Gigi bawah (lower teeth, dentum)

  21. Bibir atas (upper lip, labilum)

  22. Bibir bawah (lower lip, labilum)

  23. Mulut (mouth)

  24. Rongga mulut (oral cavity)

  25. Rongga hidung (nasal cavity)

  • Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara Latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf Latin itu. Bahasa itu banyak sekali, melebihi jumlah huruf yang ada itu, misalnya saja abjad vokal yakni a, i, e, o, dan u. Padahal bahasa Indonesia hanya mempunyai 6 buah fonem vokal dengan sekian banyak alofonnya. Bergitupun bahasa Inggris dan bahasa Perancis memiliki lebih dari 10 buah vokal.

Bandingkan dengan sistem ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sekarang, misalnya huruf e digunakan untuk melambangkan lebih dari satu bunyi. Samakan bunyi huruf e pada kata keras, monyet dan sate? Samakan huruf u pada kata-kata but, put, dan hurt? Tentu saja tidak sebab huruf e dan huruf u dalam bahasa Indonesia dan bahas Inggris tersebut tidak digunakan secara fonetis.

  • Klasifikasi Bunyi

Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit agak lebar, diteruskan ke rongga mulut/rongga hidung dengan mendapat hambatan-hambatan di tempat artikulasi tertentu. Jadi, beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adlaah arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa sedangkan dalam menentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan/gangguan.

  • Klasifikasi Vokal

Posisi lidah bisa bersifat horisontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya [i] dan [u]; vokal tengah, misalnya bunyi [e] dan [o] dan vokal rendah, misalnya bunyi [a]. Secara horisontal dibedakan adanya vokal depan, misalnya bunyi [i] dan [e]; vokal, misalnya bunyi [d] dan vokal belakang, misalnya bunyi [u] dan [o]. Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar. Disebut vokal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya vokal [o] dan vokal [u]. Disebut vokal tak bundar karena bentuk mulut tidak bundar, melainkan melebar pada waktu mengucapkan vokal tersebut, vokal [i] dan vokal [e].

  • Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan dibedakan berdasarkan 3 patokan atau kriteria yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. dengan ketiga kriteria itu juga orang memberi nama akan konsonan itu.

  • Bilabial yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi [b], [r], dan [m].

  • Labiodental, yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental: /f/ dan /v/.

  • Laminoalveolar yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, dalam hal ini daun lidah menempel pada gusi. Yang termasuk konsonan laminoalvelar adalah bunyi /t/ dan /d/.

  • Dorsovelar yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum/langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi /k/ dan /g/.

  • Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi suprasegmental atau prosodi.

Nama:Hayyu widya pratiwi

Nim : 1402408190

Rombel : 2

BAB 8

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

  1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur/ciri formal yang ada pada suatu bahasa tertentu.

  1. LINGUISTIK ZAMAN YUNANI

Studi bahasa pada zaman Yunani mempunyai sejarah yang sangat panjang, kurang lebih sekitar 600 tahun. Bahasa bersifat alami atau fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri. Kaum konvensional, berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi. Artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang kemungkinan bisa berubah. Beberapa kaum/tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa pada zaman Yunani:

  1. Kaum Sophis (5 SM)

Dikenal dalam studi bahasa, antara lain karena:

  1. Mereka melakukan kerja secara empiris,

  2. Melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran tertentu,

  3. Mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa,

  4. Membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna.

  1. Plato (429 – 347 SM)

Dalam studi bahasa terkenal, antara lain karena:

      1. Dia memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya Dialoog juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan konvensional.

      2. Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perencanaan anomata dan rhemata.

      3. Dialah orang yang pertamakali membedakan kata anoma dan rhema.

  1. Aristoteles (384 – 322 SM)

Dalam studi bahasa dia terkenal, antara lain karena:

  1. Menurut Aristoteles ada tiga macam kelas kata, yaitu anoma, rhema, dan syndesmoi (kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis).

  2. Membedakan jenis kelamin kata (gender) menjadi 3 yaitu maskulin, feminin, dan neutrum.

  1. Kaum Stoik ( 4 SM)

Kaum Stoik terkenal, antara lain karena:

  1. Membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa.

  2. Menciptakan istilah khusus dalam studi bahasa.

  3. Membedakan 3 komponen utama dari studi bahasa, yaitu 1) tanda, simbol, sign, atau semainon, 2) makna, apa yang disebut smainomen/lekton, 3) hal-hal di luar bahasa yakni benda-benda/situasi.

  4. Mereka membedakan legein, yaitu bunyi yang merupakan bagian fonologi tetapi tidak bermakna dan propheretal yaitu ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna.

  5. Mereka membagi jenis kata menjadi empat yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi, dan arthoron yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah.

  6. Membedakan kata kerja komplek dan kata kerja tak komplek. Serta kata kerja aktif dan pasif.

  1. Kaum Alexandrian

Kaum ini menganut paham analogi dalam studi bahasa. Tata Bahasa Dionysius Thrax sebagai hasi kereguleran bahasa Yunani. Buku Dionysius Thrax lahir lebih lebih kurang tahun 100 SM. Buku ini deterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Remmius Palaemon dengan judul Ars Grammatika.

  1. ZAMAN ROMAWI

Tokoh pada jaman Romawi yang terkenal antara lain, Varro (116 – 27 SM) dengan karyanya, De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.

  1. Varro dan “De Lingua Latina”

Dalam buku De Lingua Latina terdiri dari 25 jilid. Buku ini dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi, dan sintaksis.

  1. Etimologi, adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal usul kata beserta artinya. Varro mencatat adanya perubahan bunyi yang terjadi dari zaman dan perubahan makna kata. Perubahan bunyi misalnya dari akta dvellum menjadi belum yang artinya perang.

  2. Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya, yaitu kata benda, kata kerja, partisipel, adverbium.

  1. Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Dianggap sangat penting karena:

  1. Merupakan buku tata bahasa Latin paling lengkap yang dituturkan pembicara aslinya.

  2. Teori-teori tata bahasa yang merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Beberapa segi yang patut dibicarakan mengenai buku itu yaitu:

  1. Fonologi. Dalam bidang fonologi pertama-tama dibicarakan huruf atau tulisan atau huruf yang disebut literae, yaitu bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. Bunyi dibedakan empat macam, yaitu:

  1. Vox artikulata, yaitu bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukkan makna;

  2. Vox martikulata, yaitu bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukkan makna;

  3. Vox litterata, bunyi yang dapat dituliskan baik yang artikulata maupun yang martikulata; dan

  4. Vox illiterate, bunyi yang tidak dapat dituliskan.

  1. Morfologi. Dalam bidang ini dibicarakan mengenai dictio atau kata. Kata dibedakan delapan jenis yang disebut partes orationes. Kedelapan jenis kata itu adalah:

  1. Nomen;

  2. Verbum;

  3. Participum;

  4. Pronomen;

  5. Adverbum;

  6. Praepositio;

  7. Interjectio;

  8. Conjunctio.

  1. Sintaksis. Bidang sintaksis membicarakan mengenai hal yang disebut oratio, yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai

  1. ZAMAN PERTENGAHAN

Dari zaman pertengahan ini yang patut di bicarakan dalam studi bahasa, antara lain, peranan kaum Modiste, Tata Bahasa Spekulativa, dan Petrus HIspanus.

Kaum Modistae membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomali.

Tata Bahasa Spekulativa, menyatakan kata tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuk.

Petrus Hispanus, dengan bukunya yang berjudul Summulae Logicales. Peranannya antara lain:

      1. Dia telah memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa.

      2. Dia telah membedakan nomen atas dua macam yaitu nomen substantivum dan nomen edjektivum.

      3. Dia telah membedakan prates orationes atas categorematik dan syntategorematik.

  1. ZAMAN RENAISANS

  1. Bahasa Ibrani dan bahasa Arab banyak dipelajari orang pada akhir abad pertengahan. Beberapa buku tata bahasa Ibrani telah ditulis orang pada zaman Renaisans, antara lain Roger Bacon, Reuchlin, dan N. Clenard. Buku tata bahasa yang ditulis Reuchlin berjudul De Rudimentis Hebraicis.

  2. Linguistik Arab. Studi bahasa Arab mencapai puncaknya pada abad ke-8 dengan terbitnya buku tata bahasa Arab berjudul Al-Kitab, atau yang lebih dikenal dengan nama Kitab Al Ayn, karya Si Bawaihi dari kelompok linguistik Basra.

  3. Bahasa-bahasa Eropa. Dante menulis buku berjudul De Vulgari Eloquentia pada permulaan abad ke-14.

  4. Bahasa-bahasa di luar Eropa.

  1. LINGUISTIK STRUKTURALIS

Tokoh-tokoh linguistik strukturalis antara lain:

  1. Ferdinand de Saussure

Dianggap sebagai Bapak Linguistik modern, dalam bukunya Course de Linguistique Generale diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay pada tahun 1915. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep: 1) telaah sinkronik dan diakronik, 2) perbedaan language dan parae, 3) perbedaan signifiant dan signifie, 4) hubungan sintagmatik dan paradigmatik.

  1. Aliran Praha (1926)

Salah satu tokohnya, yaitu Vilem Mathesius (1882 – 1945). Tokoh-tokoh lainnya adalah Nikalai S. Trubetskoy, Roman Jakob dan Morris Halle. Aliran Praha membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. Dalam bidang fonologi aliran praha memperkenalkan dan mengembangkan morfologi, bidang yang meneliti perubahan-perubahan fonologis yang terjadi sebagai akibat hubungan morfem dengan morfem. Misalnya, jawab X jawap: abad X abat.

  1. Aliran Glosematik

Aliran Glosematik lahir di Denmark, tokohnya Louis Hjemslev (1899 – 1965). Namanya menjadi terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis, dan terminologis sendiri. Hjemslev menganggap bahasa mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi (menurut desaussure isignifiant) dan segi isi (menurut desaussure signifie). Sehingga diperoleh (1) forma ekspresi, (2) substansi ekspresi, (3) forma isi dan (4) substansi isi.

  1. Aliran Firthian

Nama John R. Firth terkenal karena teorinya mengenai fonolofi prosodi. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada tiga macam pokok prosodi , yaitu (1) prosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan dan gabungan vokal. (2) prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda, (3) prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar dari pada fonem-fonem suprasegmental.

  1. Linguistik Sistemik

Pokok-pokok pandangan systemic linguistic (SL) adalah: pertama, SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa, kedua SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”, ketiga SL mengutamakan pemberian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya, keempat SL mengenal adanya gradasi/kontinum, dan kelima SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa sebagai substansi

.

  1. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika (1877 – 1949)

Leonard Bloomfield terkenal karna bukunya yang berjudul Language. Strukturalisme lebih dikenal dan menyatu kepada nama aliran linguistik yang dikembangkan oleh Bloomfield dan kawan-kawannya di Amerika. Faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran linguistik: pertama, banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diberikan. Kedua, karena adanya The Linguitics Sosiety of Amerika yang menerbitkan majalah Language.

  1. Aliran Tagtemik

Dipelopori oleh Kenneth L. Pike, seorang tokoh dari Summer Institure of Linguistics. Tagmen adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Misalnya, dalam kalimat pena itu berada di atasnya meja, bentuk itu mengisi fungsi subjek, dan tagmen subjeknya dinyatakan dengan pena itu.

  1. LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

  1. Tata Bahasa Transformasi

Tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Structure. Menurut Chomsky tata bahasa harus memenuhi 2 syarat yaitu:

Pertama, Kalimat yang dihasilkan dari tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat, kedua tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja.

  1. Sematik Generatif

Menurut teori generatif semantik, argument adalah segala sesuatu yang dibicarakan, sedangkan predikat itu semua yang menunjukkan hubungan, perbuatan, sifat, keanggotaan, dsb. Dalam menganalisis sebuah kalimat, teori ini berusaha mengabstraksikan predikatnya dan menentukan argumen-argumennya. Dalam mengabstraksikan predikat, teori ini berusaha untuk menguraikannya lebih jauh sampai memperoleh predikat yang tidak dapat diuraikan lagi.

  1. Tata Bahasa Kasus

Teori bahasa kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Cese for Case” tahun 1968. Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu Fillmore membagi kalimat atas (1) Modalitas, yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia; dan (2) Proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus, yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan verba dengan nomina. Verba di sini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argumen dalam terori semantik generatif.

  1. Tata Bahasa Relasional

Muncul pada tahun 1970-an. Menurut teori bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam maujud (entry), yaitu:

  1. Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur;

  2. Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain;

  3. Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tatara yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain.

  1. TENTANG LINGUITIK DI INDONESIA

Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya, untuk kepentingan pemerintahan kolonial.

Konsep-konsep linguistik modern seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure sudah bergema sejak awal abad XX (buku de Saussure terbit 1913). Konsep linguitik modern melihat bahasa secara deskriptif sukar diterima oleh para guru bahasa dan pakar bahasa Indonesia, yang melihat bahasa secara preskriptif/normatif.

Pada tanggal 15 November tahun 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia.

Berbagai segi dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak pakar dengan menggunakan pelbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis.

 

Kartika Suluh Pertiwi;1402408151 Oktober 16, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 6:15 pm

Nama : Kartika Suluh Pertiwi

NIM : 1402408151

Rombel : 4

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Apabila kita mendengar orang berbicara,maka kita akan mendengar runtunan bunyi bahasa yang terus-menerus, kadang-kadang suara terdengar menaik dan menurun bahkan kadang bunyi atau suara terhenti sejenak atau agak lama, tekanan mengeras dan melembut dan pemanjangan dan suara biasa. Runtunan bunyi bahasa tersebut, dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkatan-tingkatan yang ditandai dengan jeda-jeda yang terdapat runtunan bunyi tersebut.

Silabel merupakan satuan runtunan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi lain di depannya, di belakangnya atau sekaligus di depan atau di belakangnya. Silabel ditandai dengan adanya sonoritas atau puncak kenyaringan yang biasanya ditandai dengan sebuah bunyi vokal.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa ini disebut fonologi. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi obyek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

4.1. FONETIK

Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda mekna atau tidak. Menurut proses terjadinya bunyi bahasa, fonetik dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik dan fonetik auditoris.

4.1.1. Alat Ucap

Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat ucap biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu.

4.1.2. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok, ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara. Bila udara dari paru-paru keluar tanpa mendapat hambatan apa-apa, maka kita tidak akan mendengar bunyi apa-apa selain barangkali bunyi napas.

Dalam proses artikulasi biasanya terlibat dua macam articulator, yatu artikulator aktif dan artikulator pasif. Artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak atau digerakkan. Sedangkan artikulator pasif adalah alat ucap yang tidak dapat bergerak. Keadaan, cara, posisi bertemunya articulator aktikulator aktif dan artikulator pasif disebut striktur.

4.1.3. Tulisan Fonetik

Dalam studi linguistik dikenal adanya beberapa macam sistem tulisan dan ejaan, diantaranya tulisan fonetik untuk ejaan fonetik, tulisan fonemis untuk ejaan fonemis, dan sistem aksara tertentu (seperti aksara latin) untuk ejaan artografis. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa.

4.1.4. Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa pertama-tama dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar. Jadi, beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adalah arus udara dalam pembentukan bunyi vokal.

4.1.5. Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi pada bagian awal dan bagian akhirnya tidak sama. Ketidaksamaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturya.

Diftong sering dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, sehingga dibedakan adanya diftong naik dan diftong turun. Diftong naik karena posisinya bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua. Disebut diftong turun karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.

4.1.6. Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan bisanya dibedakan berdasarkan tiga patokan, yaitu posisi pita suara, tepat artikulasi, dan cara artikkulasi.

Berdasarkan tempat artikulasinya kita mengenal, antara lain bilabial, labiodental, laminoalveolar, dorsovelar. Berdasarkan cara artikulasinya yaitu hambat (letupan, plosif, stop), geseran (frikatif), paduan, sengauan (nasal), getaran (trill), sampingan (lateral), hampiran (aproksiman).

4.1.7. Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek,dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasemental atau prosodi.

Dalam studi mengenai bunyi suprasegmantal biasanya dibedakan atas tekanan (stress), nada (pitch), jeda (persendian).

4.1.8. Silabel

Silabel atau suku kata adalah satuan ritis terkecil dalam suatau arus ujaran. Satu silabel biasanya meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Kenyaringan atau sonoritas biasanya jatuh pada sebuah vokal. Puncak silabis adalah bunyi vokal.

4.2. FONEMIK

Obyek penelitian foneik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi untuk mebedakan makna kata. Jika bunyi membedakan makna,maka bunyi tersebut disebut fonem. Jika tidak membedakan makna kata, maka bukan fonem. Untuk membuktikan sebuah bunyi fonem atau bukan haruslah dicari pasangan minimalnya.

4.2.1. Alofon

Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis, artinya banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Yang dimaksud distribusi komplementer adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan, meskipun dipertukarkan juga tidak akan menimbulkan perbedaan makna. Distribusi komplementer bersifat tetap pada lingkungan tertentu.

Distribusi bebas adalah alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.

4.2.2. Klasifikasi Fonem

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmantasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sebaliknya, fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental.

4.2.3. Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Kalau perubahan bunyi menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka perubahan itu disebut asimilasi fonemis. Kalau perubahan itu tidak manyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka perubahan itu bukan asimilasi fonemis, melainkan mungkin asimilasi fonetis atau asimilasi alomorfemis.

4.2.4. Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Dalam studi fonologi, umlaut mempunyai pengertian perubahan vokal sedemikian rupa sehinga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi. Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa indo-jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

4.2.5. Kontraksi

Kontraksi adalah pemendekan kata yang menghilangkan sebuah fonem atau lebih yang dilakukan dalam situasi yang informal.

4.2.6. Metatesis dan Epentesis

Metatesis adalah bukan mengubah bentuk fonem menjadi fonem yang lain, melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Dalam proses epentesis,sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgan dengan lingkungannya disisipkan ke dalam sebuah kata.

4.2.7. Fonem dan Grafem

Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda , sedangkan yang lainnya sama. Bila ternyata kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda, maka kedua kata itu adalah dua buah fonem yang berbeda.

Fonem dianggap senagai konsep abstrak, yang di dalam pertuturan direalisasikan oleh alofon, yag sesuai dengan lingkungan tempat hadirnya fonem tersebut.

 

Adi Setiawan;1402408075

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 1:26 pm

Nama : Adi Setiawan

NIM : 1402408075

Rombel : 1

4. TATARAN LINGUISTIK (1): FONOLOGI

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu. Fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Secara umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

4.1 FONETIK

Fonetik dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.

Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Sedang fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Misalnya, bunyi apikodental yaitu gelombang antara ujung lidah dengan gigi atas.

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok kepangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara.

4.1.3 Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dan aksara latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf latin itu.

4.1.4 Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa pertama-tama dibedakan atas vokal dan konsonan.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

4.1.4.2 Ditfong Atau Vokal Rangkap

Disebut ditfong karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsona

Berdasarkan tempat artikulasinya n kita mengenal konsonan:

  1. Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir bawah merapat pada bibir atas.
  2. Labiodental, yaitu konsonan yang terjadi pada gigi bawah merapat pada bibir atas.
  3. Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, daun lidah menempel pada gusi.
  4. Dorsavelar, yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan langit-langit lunak.

Berdasarkan cara artikulasinya kita mengenal konsonan:

  1. Hambat (letupan, plosive, stip)
  2. Geseran atau frikatif.
  3. Paduan atau frikatif.
  4. Senggauan atau nasal.
  5. Getaran atau trill.
  6. Sampingan atau lateral.
  7. Hampiran atau aproksiman.

4.1.5 Unsur suprasegmental

4.1.5.1 Tekanan atau setress

4.1.5.2 Nada atau pitch

4.1.5.3 Jeda atau persediaan

4.1.6 Silabel

Silabel adalah satuan ritmiz terkescil dalam satua arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran

4.2 FONEMIK

4.2.1 Identifikasi fonem

Identifikasi sebuah fonem hanya berlaku dalam bahasa tertentu saja. Dalam bahasa Indonesia terdapat pada kata bebek lafalnya [bebek] dan kata bebe lafalnya [bebe].

4.2.2 Alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem seperti bunyi [t] dan [th] untuk fonem [t] bahasa inggris diatas disebut alofon.

4.2.3 Klasifikasi fonem

Klasifikasi fonem sebenarnya sama dengan cara klasifikasi bunyi. Bedanya kalau bunyi-bunyi vocal dan kkonsonan itu banyak sekali,

maka fonem fokal dan fonem konsonan ini agak terbatas, sebab bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem.

4.2.4 Khasanah fonem

Adalah banyak fonem yang terdapat dalam satu bahasa.

4.2.5 Perubahan Fonem

4.2.5.1 asilimasi dan Disilimasi

Asilimasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya sehingga bunyi itu menjadi sama atau menjadi ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

4.2.5.2 Netralisasi dn Akrofonem

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang lebih tinggi.

Ablaud adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa ido Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal.

Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki.

4.2.5.4 Kontraksi

4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis

4.2.5.6 Fonem dan Grafem

 

MAOIDATUL DWI K;1402408303

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 9:45 am

Nama : MAOIDATUL DWI K

NIM : 1402408303

BAB 4

FONOLOGI

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari tentang runtutan bunyi-bunyi bahasa. Fonologi dibedakan menjadi dua berdasarkan objek studinya, yaitu fonetik dan fonemik.

A. FONETIK

Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi itu memiliki funsi pembeda makna atau tidak. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa, fonetik dibedakan menjadi tiga yaitu fonetik antikulatoris, fonetik akustik dan fonetik auditoris. Yang paling berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik antikulatoris.

1. Alat Ucap

Alat ucap manusia menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi-bunyi yang terjadi diberi nama sesuai dengan nama alat ucap.

Contoh : ”Bunyi gigi” disebut ”bunyi dental”

”Bunyi bibir” disebut ”bunyi labial”

2. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses kemampuan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok, yang didalamnya terdapat pita suara. Bunyi bahasa akan dihasilkan jika pita suara dalam posisi terbuka agak lebar, terbuka sedikit, atau tertutup sama sekali. Setelah melewati pita suara, arus udara diteruskan ke alat-alat ucap yang terdapat di rongga mulut atau rongga hidung, sehingga bunyi bahasa tertentu akan dihasilkan.

Alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa disebut antikulator. Ada dua macam antikulator yaitu antikulator aktif dan antikulator pasif (struktur). Sebagai contoh jika arus udara dihambat bibir bawah (antikulator aktif) yang merapat pada bibir atas, akan terjado bunyi “bilabial” seperti [b] dan [w].

3. Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf aksara .atin yang di tambah sejumlah tanda dia kritik dan modifikasi, karena abjad latin hanya memiliki 26 huruf atau grafen, sedangkan bunyi bahasa sangat banyak, melebihi huruf yang ada. Tulisan fonetik adalah setiap bunyi yang memiliki lambang-lambang sendiri, meskipun perbedaanya hanya sedikit. Tulisan fonemik yaitu setiap perbedaan bunyinya yang membedakan makna yang diperbedakan lambang. Sedangkan tulisan ontografi merupakan sistem tulisan yang dibuat untuk digunakan secara umum di dalam masyarakat suatu bahasa.

4. Klasifikasi Bunyi

Umumnya bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara yang terbuka sedikit dan arus udara keluar dari rongga tanpa hambatan.

a. Vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

TB B

TB B

TB B

Tinggi

Tengah

Rendah

i

I

u

U

e

E

a

o

O

a

* TB = tak bundar * B = bundar

* Nama-nama vokal

[i] = vokal depan tinggi tak bundar

[e] = vokal depan tengah tak bundar

[d] = vokal pusat tengah tak bundar

[o] = vokal belakang tengah bundar

[a] = vokal pusat rendah tak bundar

b. Diftong atau Vokal Rangkap

Yaitu keadaan ketika posisi lidah ketika memproduksi bunyi pada bagian awal dan akhir tidak sama. Bunyi yang dihasilkan hanya satu, karena berada dalam satu silabeh. Contohnya pada kata terbau, pantai, dan sepoi. namun apabila ada dua vokal berurutan, tetapi vokal pertama terletak pada suku kata yang berlainan dengan vokal kedua, maka tida ada diftong, contohnya pada kata bau dan lain. Ada dua macam diftong, yaitu diftong naik dan diftong turun.

c. Konsonan

Bunyi-bunyi konsonsn dibedakan dan diberi nama berdasarkan tiga kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi.

* Peta Konsonan

Tempatartikulasi

Cara artikulasi

Bilabial

labiodental

Apikoental

laminoalveolar

laminopalatal

borsovelar

faringal

glontal

Hambat

Geseran

Paduan

Sengauan

getaran

Sampingan

hampiran

P b

M

w

F v

t d

t z

n

r

l

c j

y

k g

x

h

?

[P] adalah konsonan hambat bilabial tak bersuara, sedangkan [b] merupakan konsonan hambat bilabial bersuara. Perbedaan bunyi [P] dan [b] terletak pada bersuara dan tidaknya bunyi itu. Karena itu, dalam bahasa Indonesia, kedua bunyi itu pada posisi akhir s/label sering tertukar-tukar tanpa berbeda maknanya.

Contoh :

¬ [sabtu] lazim dilafalkan [sabtu]

¬ [lembap] lazim dilafalkan [lembab]

Kebanyakan orang indonesia menganggap bunyi [f] adalah bunyi asing yang ada di dalam bahasa Arab, Belanda, atau Inggris. Karena itu bunyi [f] diganti dengan bunyi [P]

Contoh : # [fitnah] menjadi [pitnah]

# [fikir] menjadi [pikir]

5. Unsur Suprasegmental

Unsur suprasegmental yaitu unsur yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek dan jeda bunyi.

a. Tekanan atau stres, yaitu keras lunaknya bunyi.

b. Nada atau pitch, yaitu tinggi rendahnya bunyi.

c. Persendian atau jeda, yaitu bantuan dalam arus ujaran.

¬ Sendi dalam

Menunjukan batas antara 1 selabel dengan selabel lain.

Contoh : /am = bil/

¬ Sendi luar

Menunjukan atas lebih besar dari segmen silabel.

Contoh : #sepatu // kuda / liar#

6. Silabel (suku kata)

Selabel adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu runtutan bunyi ujaran. Puncak kenyaringan 9sonoritas) silabel jatuh pada bunyi vokal, karena bunyi vikal memiliki ruang vesonansi yang lebih besar.

Interlude merupakan bunyi yang sekaligus dapat menjadi onset dan koda pada dua buah selabel yang berurutan. Misalnya pada kata “Bundar” dapt bersilabel /bun + ndar/. Bunyi /n/ disebut interlude. Onset adalah bunyi pertama pada sebuah silabel, sejdangkan koda merupakan bunyi akhin sebuah silabel.

B. FONEMIK

Fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dnengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Objek penelitian fonemik adalah fonem, yaitu bunyi bahasa yang berfungsi untuk membedakan makna.

1. Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui sebuah bunyi fonem atau bukan, kita dapat membandingkan sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut dengan kata lain yang mirip. Jika kedua kata berbeda makna, maka bunyi itu adalah sebuah fonem. Misalnya pada kata “Laba” dan “Raba”, masing-masing terdiri dari empat huruf atau bunyi, dimana huruf pertamanya berbeda. Hal tersebut menyebabkan kedua kata memiliki makna yang berbeda. Berarti, bunyi /L/ dan /R/ adalah dua fonem yang berbeda.

2. Alofon

Alofon merupakan realisasi dari sebuah fonem. Fonem /o/ dalam bahasa Indonesia setidaknya mempunyai dua alafon, yaitu bunyi /j/ pada kata ”tokoh” dan bunyi /o/ pada kata ”toko”.

3. Klasifikasi fonem

Prosedur klasifikasi fonem sama dengan cara klasifikasi bunyi, yaitu ada fonem vokal dan fonem konsonan. Tetapi bunyi yang dapat menjadi fonem hanya terbatas pada bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna dan hanya dalam bahasa tertentu.

4. Khazanah Fonem

Khazanah fonem yaitu banyaknya fonem yang terdapat dalam saku bahasa. Jumlah fonem yang dimiliki oleh suatu bahasa berveda dengan jumlah fonem pada bahasa lain. Karena perbedaan penafsiran jumlah fonem dalam suatu bahasa memiliki jumlah fonem yang berbeda menurut pakar-pakar yang berbeda.

5. Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat bereda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungan, atau paa donem-fonem di sekitarnya.

a. Asmilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi lain akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Misalnya kata ”sabtu” dalam bahasa Indonesia lazim diucapkan /sabtu/. Ada perubahan bunyi /b/ menjadi /p/ kearena pengaruh bunyi /t/. Asimilasi dibedakan menjadi asimilasi progresif, asimilasi regresif dan asimilasi repirokal.

Disimilasi merupakan perubahan yang menyebabkan dua fonem yang sama menjadi berbeda. Sebagai contoh, kata ”cinta” dan ”cipta” berasal dari bahasa sansekerta ”cinta”. Bunyi /tt/ berubah menjadi bunyi /nt/ pada kata “cinta” dan bunyi /pt/ pada kata “cipta”.

b. Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi perubahan konsonan hambat bersuara menjadi konsonan hambat tak bersuara pada posisi akhir oposisi burici. Sebagai contoh kata yang dieja “hard” (kertas) dalam bahasa Belanda, di lafalkan /hart/.

Arkifonem adalah perwujudan atau kalisari dari fonem, misalnya kata “jawab” yang diucapkan /jawab/ atau /jawap/ : tetapi bila diberi akhiran –an menjadi jawaban. Jadi, arkitonemnya /B/ yang realisasinya bisa menjadi /b/ atau /P/.

c. Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokat

Umlaut berarti perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal berikutnya yang tinggi. Ablaut yaitu perubahan vokal dalam bahasa-bahasa Indo-Jerman untuk menilai berbagai fungsi gramatikal. Harmoni vokal yaitu keselarasan vokal.

d. Kontraksi

Kontraksi adalah menyingkat atau memperpendek ujaran. Misalnya ungkapan ”tidak tahu” diucapkan ”cdak tahu”. Bentuk ’will not” menjadi ”won’t”.

e. Matatesis dan Epentesis

Metatesis yaitu mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Misalnya selain bentuk ”tebak”, ada juga bentuk ”tabel”, ”balet”, dan ”lebat’.

Epentesis merupakan proses penyisipan sebuah fonem tertentu yang homongan degan lingkungannya ke dalam sebuah kata. Misalnya kata ”kapak” yang disisipi bunyi /m/ menjadi kata ”kampak”.

6. Fonem dan Grafen

Fonem dianggap sebagai konsep abstrak, yang di dalam pentuturan direalisasikan oleh alafon-alafon dapat dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau Hanskripel fonetik. Dalam transkripsi fonemik penggambaran alofon sudah kurang tepat dan akurat, karena alfon yang bunyinya tidak sama dari sebuah fonem di lambangkan dengan lambang yang sama. Yang paling tidak akurat adalah transkripsi antografis, yaitu penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.