Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Revi Artha Astuti; 1402408325 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 1:17 pm

Nama : Revi Artha Astuti

NIM : 1402408325

BAB 4 TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Kalau kita mendengar orang berbicara, maka akan kita dengar runtutan bunyi bahasa yang terus menerus, kadang-kadang terdengar suara menaik dan menurun, kadang-kadang terdengar hentian sejenak atau hentian agak lama, kadang-kadang terdengar tekanan keras atau lembut, dan kadang-kadang terdengar pula suara pemanjangan dan suara biasa. Runtutan bunyi bahasa ini dapat dianalisis atau disegmentasikan berdasarkan tingkatan-tingkatan kesatuannya yang ditandai dengan hentian-hentian atau jeda yang terdapat dalam runtutan bunyi itu, yang akan dibahas dalam suatu bidang linguistik yang disebut fonologi. Secara etimologi, terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi debedakan menjadi fonetik dan fonemik.

4.1 FONETIK

Adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Misalnya, pada bunyi [i] yang terdapat pada kata-kata [intan], [angin], dan [batik] dalah tidak sama. Dan inilah salah satu contoh objek atau sasaran studi fonetik. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu :

a. Fonetik artikulatoris, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Sehingga fonetik artikulatoris sering disebut fonetik organis atau fonetik fisiologis.

b. Fonetik akustik, mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dan timbrenya. Fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika.

c. Fonetik auditoris, mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran, yaitu neurologi.

Dari ketiga jenis fonetik di atas, yang paling berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik artikulatoris, meskipun tidak menutup kemungkinan linguistik bekerja dalam bidang fonetik akustik ataupun auditoris.

4.1.1 Alat Ucap

Dalam fonetik artikulatoris, alat ucap manusia digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa. Alat-alat ucap yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut :

- Paru-paru (lung)

- Batang tenggorok (trachea / larynx) : laringal

- Pangkal tenggorok (larynx)

- Pita suara (vocal cord)

- Krikoid (cricoid)

- Tiroid (thyroid) : lekum

- Aritenoid (arythenoid)

- Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx) : faringal

- Epiglottis (epiglottis)

- Akar lidah (root of the tongue)

- Pangkal lidah (dorsum) : dorsal

- Tengah lidah (medium) : medial

- Daun lidah (laminum) : laminal

- Ujung lidah (apex) : apikal

- Anak tekak (uvula) : uvular

- Langit-langit lunak (velum) : velar

- Langit-langit keras (palatum) : palatal

- Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum) : alveolar

- Gigi atas (upper teeth / dentum) : dental

- Gigi bawah (lower teeth / dentum)

- Bibir atas (upper lip / labium) : labial

- Bibir bawah (lower lip / labium)

- Mulut (mouth)

- Rongga mulut (oral cavity)

- Rongga hidung (nasal cavity)

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara.

Selanjutnya untuk memperoleh bunyi bahasa, bergantung pada ada atau tidaknya hambatan setelah udara terpompa. Hambatan yang pertama adalah pada pita suara itu sendiri. »Jika pita suara dalam posisi terbuka lebar, maka tidak ada hambatan apa-apa, artinya udara yang dipompa bisa terus keluar bebas, sehingga tidak ada bunyi yang dihasilkan, selain bunyi napas secara normal. »Jika pita suara terbuka dalam posisi agak lebar, maka akan terjadi bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara. Disebut bunyi tak bersuara karena tidak ada getaran apa-apa pada pita suara itu. »Jika pita suara dalam posisi terbuka sedikit, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi bersuara. Disebut bunyi bersuara karena terjadi getaran pada pita suara ketika arus udara melewatinya. »Jika pita suara dalam posis tertutup rapat, maka akan terjadilah bunyi hamzah atau glottal stop.

Sehingga dalam memperoleh bunyi bahasa, dalam prosesnya butuh hambatan atau gangguan terhadap arus udara yang dipompakan dari paru –paru, yang kemudian arus udara itu diteruskan ke alat-alat ucap tertentu yang terdapat di rongga mulut / rongga hidung. Tempat bunyi bahasa dihasilkan disebut tempat artikulasi, proses terjadinya disebut proses artikulasi, dan alat-alat nya disebut alat artikulasi / artikulator.

Dalam proses artikulasi, ada dua macam artikulasi. ¹ Artikulasi aktif : alat ucap yang bergerak atau digerakan. Misalnya, bibir bawah, ujung lidah, dan daun lidah. ² Artikulasi pasif : alat udap yang tidak dapat bergerak, atau yang didekati oleh artikulasi altif. Misalnya, bibir atas, gigi atas, dan langit-langit keras. Baik artikulasi aktif maupun pasif, adalah bunyi tunggal sebagi hasil satu proses artikulasi. Dalam prosesnya, setelah berlangsung artikulasi pertama, disusul artikulasi kedua. Yang sering disebut artikulasi sertaan dan bunyi yang dihasilkan adalah bunyi sertaan. Contohnya, dalam proses labialisasi, palatalisasi, velarisasi, dan faringalisasi.

4.1.3 Tulisan Fonetik

Dalam studi linguistic dikenal adanya beberapa macam system tulisan dan ejaan, diantaranya tulisan fonetik untuk ejaan fonetik, tulisan fonemis untuk ejaan fonemis, dan system aksara tertentu (seperti aksara lain, dan sebagai nya) untuk ejaan ortografis.

* Dalam tulisan fonetik, setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa. Setiap bunyi, baik yang segmental maupun yang suprasegmental, dilambangkan secara akurat, artinya setiap bunyi mempunyai lambing-lambangnya sendiri, menskipun perbedaannya hanya sedikit. * Dalam tulisan fonemik, hanya perbedaan bunyi yang distingtif saja, yakni yang membedakan makna, yang diperbedakan lambangnya. Bunyi-bunyi yang mirip tapi tidak membedakan makna kata tidak diperbedakan lambangnya. * Dalam tulisan ortografi, dibuat untuk digunakan secara umum di dalam masyarakat suatu bahasa.

4.1.4 Klasifikasi Bunyi

Bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit, yang menjadi bergetar ketika dilalui arus udara yang dipompakan dari paru-paru. Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan di tempat-tempat artikulasi tertentu.

4.1.4.1 Bunyi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Menurut posisi lidah bisa bersifat : ¹ Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya : bunyi [i] dan [u], vokal tengah, misalnya : bunyi [e] dan [∂], dan vokal rendah, misalnya : bunyi [a]. ² Secara horosontal dibedakan adanya vokal depan,misalnya : bunyi [i] dan [e], vokal pusat, misalnya : bunyi [∂], dan vokal belakang, misalnya : bunyi [u] dan [o]. Menurut bentuk mulut dibedakan adanya : ¹ vokal bundar, bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu. Misalnya : vokal [o] dan vokal [u]. ² vokal tak bundar, bentuk mulut tak membundar, melainkan melebar pada waktu mengucapkan vokal tersebut. Misalnya : vokal [i] dan vokal [e].

Sehingga, kita bisa memberi nama akan vokal-vokal tersebut :

[i] adalah vokal depan tinggi tak bundar

[e] adalah vokal depan tengah tak bundar

[∂] adalah vokal pusat tengah tak bundar

[o] adalah vokal belakang tengah bundar

[a] adalah vokal pusat rendah tak bundar.

4.1.4.2 Diftong Atau Vokal Rangkap

Disebut Diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Diftong sering dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsure-unsurnya, sehingga dibedakan adanya : ¹ Diftong naik, karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari bunyi yang kedua. ² Diftong turun, karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.

4.1.4.3 Bunyi Konsonan

Bunyi konsonan biasanya dibedakan berdasarkan :

  1. Posisi pita suara, yang terdiri atas : ¹ Bunyi bersuara dan ² Bunyi tidak bersuara.
  2. Tempat artikulasi, kita mengenal konsonan :

o Bilabial : konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir (bibir bawah merapat pada bibir atas). Contoh : bunyi [b], [p], dan [m].

o Labiodental : konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas (gigi bawah merapat pada bibir atas). Contoh : bunyi [f], dan [v].

o Laminoalveolar : konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi (daun lidah menempel pada gusi). Contoh : bunyi [t], dan [d].

o Dorsovelar : konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum / langit-langit lunak. Contoh : bunyi [k], dan [g].

  1. Cara artikulasi, kita bedakan adanya konsonan :

- Hambat (letupan, plosif, stop) : artikulator menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat di belakang tempat penutupan itu. Contoh : bunyi [p], [b], [t], [d], [k], dan [g].

- Geseran atau Frikatif : artikulator aktif mendekati artikulator pasif, membentuk celah sempit, sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di celah itu. Contoh : bunyi [f], [z], dan [s].

- Paduan atau Frikatif : artikulator aktid menghambat sepenuhnya aliran udara, lalu membentuk celah sempit dengan artikulator pasif. Contoh : bunyi [c], dan [j].

- Sengauan atau Nasal : artikulator menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut, tetapi membiarkannya keluar melalui rongga hidung dengan bebas. Contoh : bunyi [m], [n], dan [ŋ].

- Getaran atau Trill : artikulator aktif melakukan kontak berurutan dengan artikulator pasif, sehingga getaran bunyi itu terjadi berulang-ulang. Contoh : konsonan [r].

- Sampingan atau Lateral : artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut, allu membiarkan udara keluar melalui samping lidah. Contoh : konsonan [l].

- Hampiran atau Aproksiman : artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal, tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonan geseran. Contoh : bunyi [x], dan [y].

4.1.5 Unsur Suprasegmental

Yaitu suatu arus ujaran yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Dalam studi mengenai bunyi atau unsur suprasegmental biasanya dibedakan pula atas :

4.1.5.1 Tekanan atau Stres

Menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras, begitupun sebaliknya.

4.1.5.2 Nada atau Pitch

Berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segemental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang tinggi, begitupun sebaliknya.

4.1.5.3 Jeda atau Persendian

Berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda karena adanya hentian itu, disebut persendian karena di tempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain. Biasanya dibedakan adanya : ¹ Sendi dalam (internal juncture) : menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel yang lain. Sendi dalam ini yang menajdi batas silabel, biasanya diberi tanda tambah (+). Misalnya : /am+bil/, /lam+pu/, dan /pe+lak+sa+na/. ² Sendi luar (open juncture) : menunjukkan batas yang lebih besar dari segmen silabel. Biasanya diberi tanda sebagai berikut :

a. Garis miring tunggal ( / ) untuk jeda antarkata dalam frase.

b. Garis miring ganda ( // ) untuk jeda antarfrase dalam klausa.

c. Garis silang ganda ( # ) untuk jeda antarkalimat dalam wacana.

Misalnya : # buku // sejarah / baru #

# buku / sejarah // baru #

4.1.6 Silabel

Yaitu satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran, yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi lain di depannya, di belakangnya, atau sekaligus di depan dan di belakangnya. Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang biasanya jatuh pada sebuah vokal. Namun, dalam satuan ritmis tertentu, sebuah konsonan, baik yang bersuara maupun yang tidak, mempunyai kemungkinan juga untuk menjadi puncak silabis.

4.2 FONEMIK

Adalah cabang studi fonologi yang meneliti apakah perbedaan bunyi itu mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Jika bunyi itu membedakan makna, amka bunyi tersebut disebut fonem, dan jika tidak membedakan makna adalah bukan fonem.

4.2.1 Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, harus mencari sebuah satuan bahasa / pasangan minimal nya. Yaitu sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut, kemudian dibandingkan dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. Jika kedua satuan sahasa itu berbeda makna, maka bunyi tersebut adalah sebuah fonem. Tapi, ada juga pasangan minimal yang tidak mempunyai jumlah bunyi persis sama. Misalnya : kata muda dan mudah merupakan pasangan minimal. Tiadanya bunyi [h], menyebabkan perbedaan makna. Sehingga, bunyi [h] termasuk sebuah fonem. Contoh :

[l], [a], [b], [a]

[r], [a], [b], [a]

Perbedaannya hanya pada bunyi pertama, yaitu pada bunyi [l], dan [r]. Ternyata bisa membedakan makna. Maka bunyi [l], dan [r] adalah dua buah fonem yang berbeda dalam konteks kalimat tersebut.

4.2.2 Alofon

Yaitu bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem. Maka dapat dikatakan bahwa yang bersifat abstrak adalah fonem, akrena fonem hanyalah abstraksi dari alofon-alofon itu. Sehingga alofon adalah wujud konkret atau nyata yang ada dalam bunyi bahasa, karena alofon-alofon itulah yang diucapkan. Contoh : fonem [i] memiliki empat buah alofon, yaitu bunyi [i] pada kata cita, bunyi [I] pada kata tarik, bunyi [ī] pada kata ingkar, dan bunyi [i:] pada kata kali. Alofon-alofon dari sebuah fonem tersebut, banyak memiliki kesamaan dalam pengucapannya (kemiripan fonetis). Untuk itu, distribusinya pun dapat berupa komplementer atau juga bersifat bebas.

  • Distribusi komplementer : distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan, meskipun dipertukarkan, juga tidak akan menimbulkan perbedaan makna. Contoh : fonem /o/ yang berada pada silabel terbuka diucapkan [o] pada kata toko dan loyo, dan yang berada pada silabel tertutup diucapkan [Э] pada kata tokoh dan bodoh.
  • Distribusi bebas : distribusi yang alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Contoh : bunyi [o] dan [Э] merupakan alofon dari fonem /o/, pada kata obat dapat dilafalkan [obat] dan juga [Эbat], begitu juga kata orang dapat dilafalkan [orang] juga bisa [Эrang].

4.2.3 Klasifikasi Fonem

Terbagi atas fonem vokal dan fonem konsonan. Klasifikasi fonem ini agak terbatas, sebab ahnya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem. Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat dari hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental, sedangkan fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental.Contoh : pada kata greenhouse, bila ditekankan pada unsur green maka akan berarti ‘rumah kaca;, dan jika ditekankan pada unsur house maka akan berarti ‘rumah hijau’. Jadi, tekanan dalam bahasa Inggris itu bersifat fonemis atau fungsional, yaitu dapat membedakn makna.

Jika kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan kriteria yang dipakai untuk klasifikasi bunyi (fon), maka penamaan fonem pun sama dengan penamaan bunyi. Jadi, kalau ada bunyi vokal depan tinggi bundar, maka akan ada pula fonem vokal depan tinggi bundar, dan seterusnya.

4.2.4 Khazanah Fonem

Yaitu banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem yang dimiliki suatu abhasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain., karena adanya perbedaan tafsiran menurut pakar satu dengan pakar yang lain.

Contohnya dalam bahasa Indonesia ada yang menghitung jumlah fonem hanya 24 buah, yaitu terdiri dari 6 buah fonem vokal (a, i, u, e, ∂, dan o), dan 18 buah fonem konsonan (p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, ŋ, s, h, r, l, w, dan y), ada juga yang menghitung jumlah fonem ada 28 buah yakni dengan menambahkan 4 buah fonem yang berasal dari abhasa asing, yaitu fonem f, z, ∫, dan x. Dan masih banyak lagi pendapat para pakar yang lain.

4.2.5 Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau pada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya. Dalam bahasa-bahasa tertentu ada dijumpai perubahan fonem yang mengubah identitas fonem itu menjadi fonem yang lain. Berikut ini akan dibicarakan beberapa kasus perubahan fonem itu :

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

* Asimilasi merupakan peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang emmepengaruhinya. Contoh : pada kata Sabtu lazim diucapkan [saptu], terlihat bahwa bunyi [b] berubah menjadi [p] sebagai akibat pengaruh bunyi [t]. Yaitu bunyi [b] adalah bunyi hambat bersuara, sedangkan bunyi [t] adalah bunyi hambat tak bersuara. Sehingga bunyi [b] berubah menjadi bunyi [p] yang juga tidak bersuara. Dapat disimpulkan, bahwa bunyi [b] dan [p] adalah dua buah fonem yang berbeda yaitu fonem [b] dan fonem [p], maka perubahan tersebut merupakan asimilasi fonemis. Yaitu jika perubahan itu menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem. Dan jika perubahan itu tidak menyebabkan berubahnya identitas sebuah fonem, maka merupakan perobahan fonetis atau alomorfemis. * Disimilasi merupakan perubahan yang menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan. Contoh : pada kata cipta dan cinta (berasal dari bahasa Sansekerta ‘citta’), dapat dilihat bahwa setelah melalui penyesuaian dalam versi bahasa indonesia, bunyi [tt] pada kata citta berubah menjadi bunyi [pt] pada kata cipta dan menjadi bunyi [nt] pada kata cinta.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Dalam bahasa Belanda ada kata hard (keras) yang dilafalkan [hart], juga ada kata hurt (jantung) yang dilalafalkan [hart]. Padahal, kedua kata itu dieja dalam bentuk yang berbeda, tapi dalam pelafalannya sama. Hal ini karena, dalam bahasa Belanda, konsonan hambat bersuara seperti [d] itu tidak mungkin, sehingga diubah menjadi konsonan yang homorgan tak bersuara yakni [t]. Kemudian, pada posisi akhir, akan terjadi oposisi bunyi [d] bersuara yang dinetralkan menjadi bunyi tak bersuara [t]. Jadi, adanya bunyi [t] pada posisi akhir kata yang dieja hard itu adalah hasil netralisasi itu. Fonem /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam peristilahan linguistik disebut arkifonem. Contoh lain : pada kata jawab dilafalkan /jawap/ atau juga bisa /jawab/, tetapi jika diberi akhiran –an, maka bentuknya menjadi jawaban, sehingga di sini ada arkifonem yang ditulis /B/, yang realisasinya bisa menjadi /b/ atau /p/.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

* Umlaut adalah perubahan vokal sedemikian rupa, sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi. * Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Jadi: perbedaanAblaut dengan Umlaut adalah kalau Umlaut terbatas pada peninggian vokal akibat pengaruh bunyi berikutnya, sedangkan Ablaut bukan akibat pengaruh bunyi berikutnya, dan bukan pula terbatas pada peninggian bunyi, melainkan bisa juga pada pemanjangan, pemendekan, atau penghilangan vokal. * Harmoni vokal adalah keselarasan vokal yang bisa berlangsung dari kiri ke kanan, atau dari silabel yang mendahului ke arah sialbel yang menyusul, ada juga yang bisa berlangsung dari kanan ke kiri. Contoh : dalam bahasa Jawa, ada perubahan vokal /o/ menjadi vokal /a/ dalam proses pengimbuhan akhiran –e atau akhiran –ne. Yaitu pada kata amba yang dilafalkan [o-mbo] ’lebar’ menjadi ambane yang dilafalkan [a-mbane] ’lebarnya, sega yang dialfalkan [se-go] ’nasi’ menjadi segane yang dilafalkan [s-gane] ’nasinya’.

4.2.5.4 Kontraksi

Umpamanya dalam bahasa Indonesia, ungkapan tidak tahu diucapkan menjadi ndak tahu, ungkapan itu tadi diucapkan menjadi tutadi. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen denagn pelafalannya sendiri-sendiri.

4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis : mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu akat. Contoh : selain bentuk sapu, ada bentuk apus dan usap ; selain bentuk berantas ada bentuk banteras. Proses epentesis : biasanya yang homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata. Contoh : ada kata sampi di samping kata sapi, yaitu terdapat bunyi [m] yang disisipkan di tengah kata.

KESIMPULAN

Dari uraian terdahulu dapat disimpulkan bahwa fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan, harus dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda, sedangkan yang lainnya sama. Bila ternyata kedua kata itu memiliki makna yang berbeda, maka kedua kata itu adalah dua buah fonem yang berbeda. Fonem dianggap sebagai konsep abstrak, yang di dalam pertuturan direalisasikan oleh alofon, atau alofon-alofon yang sesuai dengan lingkungan tempat hadirnya fonem tersebut.

Dalam studi fonologi, alofon-alofon yang merealisasikan sebuah fonem itu, dapat dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau transkripsi fonetik. Dalam transkripsi fonetik ini setiap alofon, termasuk unsur-unsur suprasegmentalnya, dapat digambarkan secara tepat, tidak meragukan. Dalam transkripsi fonemik, penggambaran bunyi-bunyi itu kurang akurat, sebab alofon-alofon yang bunyinya jelas tidak sama, dari sebuah fonem dilambangkan dengan lambang yang sama. Yang dialmbangkan adalah fonemnya, bukan alofonnya. Misalnya : alofon [k] dan [?] dari fonem /k/ bahasa Indonesia dilambangkan dengan huruf yang sama, yaitu huruf <k>.

Yang paling tidka akurat adalan transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa.

 

TAUFIQ SHOFYAN HADI;1402408291

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 1:11 pm

NAMA : TAUFIQ SHOFYAN HADI

NIM : 1402408291

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Kalau kita mendengar orang berbicara, entah berpidato atau bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtunan bunyi bahasa yang terus-menerus, kadang-kadang terdengar suara menaik dan menurun, kadang-kadang terdengar hentian sejenak atau hentian agak lama, kadang-kadang terdengar tekanan keras atau lembut, dan kadang-kadang terdengar pula suara pemanjangan dan suara biasa.

Silabel merupakan satuan runtunan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi bunyi lain di depannya., di belakangnya, atau sekaligus di depan dan di belakangnya. Adanya puncak kenyaringan atau sonoritas inilah yang menandai silabel itu. Puncak kenyaringan itu biasanya ditandai dengan sebuah bunyi vocal. Karena itu, ada yang mengatakan, untuk menentukan ada beberapa silabel pada sebuah kesatuan runtunan bunyi kita lihat saja ada beberapa bunyi vokal yan terdapat di dalamnya.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa ini disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi obyek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Secara umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

4. 1 FONETIK

Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi pembeda makna atau tidak. Kemudian menurut proses terjadinya bunyi bahsa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu : fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.

Fonetik artikulatoris, disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat – alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi – bunyi itu diklasifikasikan.

Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagi peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi – bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dan timbrenya.

Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Dalam fonetik altikultoris hal pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi – bunyi bahsa yang terjadi pad alat – alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Namun, tidk biasa disebut “ bunyi gigi” atau “ bunyi bibir”, melainkan bunyi dental dan bunyi labial, yakni istilah bentuk ajektif dari bahsa latinnya.

Selanjutnya, sesuai dengan bunyi bahsa itu dihasilkan, maka harus kita gabungkan istilah dari dua nama alat ucap itu. Misalnya, bunyi apikodental yaitu gabungan antara ujung lidah dengan gigi atas; labiodental yaitu gabungan antara bibir bawah dengan gigi atas; dan laminopalatal yaitu gabungan antara dun lidah dengan langit – langit keras.

4. 1. 2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkalan tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara. Supaya udara bisa terus keluar, pita suara itu harus berada dalam posisi terbuka. Setelah melalui pita suara, yang merupakan jalan satu-satunya untuk bisa keluar, entah melalui rongga mulut atau rongga hidung, udara tadi diteruskan ke udara bebas. Kalau udara yang dari paru-paru keluar tanpa mendapat hambatan apa-apa, selain barangkali bunyi napas. Hambatan terhadap udara atau arus udara yang keluar dari paru-paru itu dapat terjadi mulai dari tempat yang paling di dalam, yaitu pita suara, sampai tempat yang paling luar, yaitu bibir atas dan bawah.

Kalau posisi pita suara terbuka, maka tidak akan terjadi bunyi bahasa. Posisi ini adalah posisi untuk bernapas secara normal. Kalau pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara (voiceless). Kalau pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi bersuara (voice). Kalau pita suara tertutup rapat, maka akan terjadilah bunyi hamzah atau global stop.

Dalam proses artikulasi ini, biasanya, terlibat dua macam artikulator, yaitu artikulator aktif dan artikulator pasif. Yang dimaksud dengan artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak atau digerakkan, misalnya, bibir bawah, ujung lidah, dan daun lidah. Sedangkan yang dimaksud artikulator pasif adalah alat ucap yang tidak dapat bergerak, atau yang didekati oleh artikulator aktif, misalnya, bibir atas, gigi atas, dan langit-langit keras.

Keadaan, car, atau posisi bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif disebut striktur. Dalam hal ini ada beberapa striktur, ada yang strikulator aktif hanya menyentuh sedikit artikulator pasif itu, ada yang merapat, tetapi ada juga artikulator aktif itu sesudah menyentuh artikulator aktif, lalu dihempaskan kembali ke bawah. Jenis striktur akan melahirkan jenis bunyi yang berbeda.

4. 1. 3 Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin, yang ditambah sejumlah tanada diakritik dan sejumlah modofikasi terhadap huruf latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau huruf yang digunakan melambangkan satu bunyi bahasa. Atau, dibalik, setiap bunyi bahasa, sekecil apapun bedanya dengan bunyi yang lain, akan juga dilambangkan hanya dengan satu huruf atau lambang.

Kalau dalam tulisan fonetik, setiap bunyi, baik yang segmental maupun yang supersegmental, dilambangkan secara akurat, artinya, setiap bunyi mempunyai lambang-lambangnya sendiri, meskipun perbedaannya hanya sedikit, tetapi dalam tulisan fonetik hanya perbedaaan bunyi yang distingif saja, yakni yang membedakan makna, yang diperbedakan lambangnya.Bunyi-bunyi yang mirip tetapi tidak membedakan makna kata tidak diperbedakan lambangnya. Selain tulisaan fonetik, ada tulisan lain, yaitu tulisan ortografi. Sistem tulisan ortografi dibuat untuk digunakan secara umum di dalam suatu masyarakat suatu bahasa.

4. 1. 4 Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa pertama-pertama dibedakan atas vokal dan konsonan. Beda terjadinya vokal dan konsonan adalah; arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa; sedangkan dalam pembentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

4. 1. 4. 1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal bisa bersifat horizontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya bunyi [i] dan [u]; vokal tengah , misalnya, bunyi [e] dan [o]; dan vokal rendah, misalnya, bunyi [a]. Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan, misalnya, bunyi [i] dan [e], vokal pusat; misalnya, bunyi [o]; dan vokal belakang, misalnya, bunyi [u] dan [o]. Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar. Disebut vokal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya, bunyi [o] dan vokal [u]. Disebut vokal tak bundar karena bentuk mulut tidak membundar, melainkan melebar, pada waktu mengucapkan vokal tersebut, misalnya, vokal [i] dan vokal [e].

4. 1. 4. 2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut vokal diftong atau rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Ketidaksamaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturnya. Namun, yang dihasilkan bukan dua buah bunyi, melainkan hanya sebuah bunyi karena berada dalam satu silabel.

Diftong serring dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, sehingga adanya diftong naik dan diftong turun. Disebut diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua; sebaliknya disebut diftong turun karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.

Diftong naik atau diftong turun vukan ditentukan berdasarkan posisi lidah, melainkan didasarkan atas kenyaringan (sonoritas) bunyi itu. Kalau sonoritasnya terletak di muka atau pda unsur yang pertama, maka dinamakan diftong turun; kalau sonoritasnya terletak pada unsur kedua, maka namanya diftong naik.

4. 1. 4. 3 Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdaasarkan tiga patokan atau kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Tempat artikulasi tidak lain daripada alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bunyi itu. Berdasrkan tempat artikulasinyakita mengenal antara lain, konsonan :

1. bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi [b], [p], dan [m].

2. labiodental, yakni konsonan yang terjadi pad gigi bawah dan bibir atas; gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental adalah bunyi [f] dan [v].

3. laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi; dalam hal ini, daun lidah menempel pada gusi. Yang termasuk konsonan laminoveolar adalah bunyi [t] dan [d].

4. dorsovelar, yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atu langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi [k] dan [g].

Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana gangguan atu hambatan yang dildkukan terhadap arus udara itu, dapatlah kita bedakan adanya konsonan :

1) hambat (letupan, plosif, stop). Disini artikulator menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat di belakang tempat penutupan itu. Kemudian penutupan itu dibuka secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan terjadinya letupan. Yang termasuk konsonan letupan ini, antara lain, bunyi [p], [b], [t], [d], [k], dan [g].

2) Geseran atau frikatif. Di sini artikulator aktif mendekati artikulator pasif, membentuk celah sempit, sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di celah itu. Contoh yang termasuk konsonan geseraan adalah bunyi [f], [s], dan [t].

3) Paduan atau frikatif. Di sini artilulator aktif menghambat sepenuhnyaa aliran udara, lalu membentuk celah sempit dengan membentuk artikulator pasif. Cara ini merupakaan gabungan antara hambatan dan frikatif. Yang termasuk konsonan paduan, antara lain, bunyi [c], dan [j].

4) Sengauan atau nasal. Di sini artikulator menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut, tetapi membiarkannya keluar melalui rongga hidung dengan bebas. Contoh konsonan nasaal adalah bunyi [m],dan [n]

5) Getaran atu trill. Di sini artikulator aktif melakukan kontak beruntun dengan artikulator pasif, sehingga getaran bunyi itu terjadi berulang-ulang. Contohnya adalah konsonan [r].

6) Sampingan atau lateral. Di sini artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut; lalu membiarkan udaraa keluar melalui samping lidah. Contohnya adalah [r].

7) Hampiran atau aproksiman, di sini artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal, tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonaan geseran.

4. 1. 5 Unsur Suprasegmental

Sudah disebutkan di muka bahwa arus ujaran merupakan suatu runtunan bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau jeda agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, dan sebagainya. Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental; tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi.


4. 1. 5. 1 Tekanan atau Stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti dibarengi dengan tekanan lunak.

4. 1. 5. 2 Nada atau Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang tinggi. Sebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi getaran yang rendah, tentu akan disertai juga dengan nada rendah.

4. 1. 5. 3 Jeda atau Persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda karena ada hentian itu, dan disebut persendian karena di tempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain. Jeda ini dapat bersifat pebyh dan dapt juga bersifat sementara.

Silabel atau suku kata itu adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran. Satu silabel biasanya meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang biasanya jatuh pada sebuah vokal. Kenyaringan atau sonoritas, yang menjadi puncak selabel, terjadi karena adanya ruang resonansi yang berupa rongga mulut, rongga hidung, atau rongga-rongga lain, di dlam kepala dan dada.

Menentukan batas silabel sebuah kata kadang-kadang memang agak sukar karena penentuan batas itu bukan hanya soal fonetik, tetapi juga soal fonemik, morfologi, dan ortografi.

4. 2. FONEMIK

Objek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa pada umumnya tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak. Sebaliknya, objek penelitian foneti adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

4. 2. 1 Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari satuan bahasa, biasnya sebuah, yang mengandung bunyi tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. Kalau ternyata kedua bahasa itu berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah bunyi fenom, karena dia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua satuan bahsa itu.

4. 2. 2 Alofon

Sebuah fonem disebut juga alofon. Identitas alofon juga hanya berlaku pada satu bahasa tertentu, sebab seperti juga sudah dibicarakan di atas.

Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Atau kalau kita melihatnya dalam peta fonem, letaknya masih berdekatan atau saling berdekatan. Tentang distribusinya, mungkin bersikap komplementer, mungkin juga bersifat bebas.

Yang dimaksud dengan distribusi komplementer, atau biasa disebut distribusi saling melengkapi, adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan. Distribusi komplementer ini bersifat tetap pada lingkungan tertentu.

Yang dimaksud dengan distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Dalam hal distribusi bebas ini ada oposisi bunyi yang jelas merupakan dua buah fonem yang berbeda karena ada pasangan minimalnya, tetapi dalam pasangan yang lain ternyata hanya merupakan varian bebas. Alofon adalah realisasi dari fonem, maka dapat dikatakan bahwa fonem bersidat abstrak karena fonem ini hanyalah abstraksi dari alofon atau alofon-alofon itu.

4. 2. 3 Klasifikasi Fonem

Kriteria dan prosedur fonem sebenarnya sama dengan cara klasifikasi bunyi. Bedanya kalau bunyi-bunyi vokal dan konsonan itu banyak sekali, maka fonem vokal dan fonem konsonan ini agak terbatas.

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sebaliknya fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental. Pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional, alias dapat membedakan makna.

Kalau kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan kriteria yang dipakai untuk klasifikasi bunyi (fon), maka penamaan fonem pun sama dengan penamaan bunyi. Jadi, kalau ada bunyi vokal depan tinggi bundar, maka juga ada atau akan ada fonem vokal depan tinggibundar; kalau ada bunyi konsonan hambat bilabial bersuara, maka juga ada atau akan ada fonem konsonan hambat bilabial bersuara.

4. 2. 4 Khazanah Fonem

Yang dimaksud dengan khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.

4. 2. 5 Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau pada fonem-fonem lain yang berada disekitarnya. Dalam bahasa-bahasa dada dijumpai perubahan fonem yang mengubah identitas fonem itu menjadi fonem yang lain.

4. 2. 5. 1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada dilingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Kalau perubahan dalam proses asimilasi menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya maupun sebagian dari cirinya, maka dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

4. 2. 5. 2 Netralisasi dan Arkifonem

Sudah dibicarakan di muka bahwa fonem mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata.

4. 2. 5. 3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahasa Jerman. Dalam studi fonologi kata ini mempunyai pengertian: perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

4. 2. 5. 4 Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.


4. 2. 5. 5 Metatesis dan Epetetis

Proses metatesis buka mengubah bentuk fonem menjadi fonem yang lain, melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat dalam bahasa tersebut variasi. Perubahan bunyi atau fonem yang dibicarakn di atas hanya terjadi pada bahas-bahasa tertentu, yang tidak harus terjadi pad bahasa lain.

4. 2. 6 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda, sedangkan yang lainnya sama.

Dalam transkripsi fonemik penggambaran bunyi-bunyi itu sudah kurang akurat, sebab alofon-alofon, yang bunyinya jelas tidak sama, dari sebuah fonem dilambangkan dengan lambang yang sama. Yang paling tidak akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa.

 

Windy Reviyanti Sukarta;1402408115

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 12:28 pm

Nama : Windy Reviyanti Sukarta

NIM : 1402408115

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Fonologi secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu. Jadi fonologi adalah cabang dari linguistic yang menyelidiki ciri-ciri bahasa, cara terjadinya dan fungsinya dalam system kebahasaan secara keseluruhan. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibagi menjadi Fonetik dan Fonemik.

4.1. FONETIK

Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa, fonetik dibedakan menjadi 3 jenis yaitu Fonetik artikulatoris, Fonetik akustik, dan Fonetik auditoris. Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik artikulatoris karena fonetik ini berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia.

4.1.1. Alat Ucap

Sebenarnya alat ucap itu juga memiliki fungsi utama lain yang bersifat biologis. Namun, secara kebetulan alat-alat itu digunakan juga untuk berbicara. Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan alat ucap itu namun disesuaikan dengan nama latinnya.

4.1.2. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahsa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok yang di dalamnya terdapat pita suara.Ketika pita suara terbuka, udara bias keluar. Setelah itu entah melalui rongga mulut atau rongga hidung, udara tadi diteruskan ke udara bebas. Kalau udara keluar tanpa hambatan, maka kita tidak dapat mendengar bunyi apa-apa kecuali bunyi nafas. Sesudah melewati pita suara, arus udara diteruskan ke alat-alat ucap tertentu yang terdapat di rongga mulut atau rongga hidung, dimana bunyi bahasa tertentu akan dihasilkan. Tempat bunyi bahasa ini terjadi atau dihasilkan disebut tempat artikulasi.

4.1.3. Tulisan Fonetik

Tulisan yang dibuat untuk studi fonetik biasanya berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin dengan menambahkan tanda diakritik dan modifikasi pada huruf latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau lambang hanya digunakan untuk melambangkan satu bunyi bahasa.

4.1.4. Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adalah arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara tidak mendapat hambatan apa-apa sedangkan dalam pembentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

4.1.4.1. Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal bisa bersifat horizontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi (I dan u), vokal tengah (e dan o) dan vokal rendah (a). Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan (i dan e), vokal pusat (ә), dan vokal belakang (u dan o).

4.1.4.2. Diftong dan Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Diftong sering dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, sehingga dibedakan adanya diftong naik dan diftong turun.

4.1.4.3. Klasifikasi Konsonan

Berdasarkan posisi pita suara dibedakan adanya bunyi bersuara dan tak bersuara. Berdasarkan tempat artikulasinya, konsonan dibedakan menjadi:

1. Bilabial

2. Labiodental

3. Laminoalveolar

4. Dorsovelar

Berdasarkan cara artikulasinya, konsonan dibedakan menjadi:

1.Lambat (letupan, plosif, stop)

2.Geseran atau frikatif

3.Paduan atau frikatif

4.Sengaran atau nasal

5.Getaran atau trill

6.Sampingan atau lateral

7.Hampiran atau aproksiman

4.1.5. Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek dan jeda bunyi tidak disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi atau unsur suprasegmental atau prosodi.

4.1.5.1. Tekanan atau Stes

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras dan sebaliknya.

4.1.5.2. Nada dan Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Dalam bahasa tonal ada lima macam nada, yaitu:

1. Nada naik atau meninggi, tandanya / . . . /

2. Nada datar, tandanya / . . . /

3. Nada turun atau merendah, tandanya / . . . /

4. Nada turun naik, tandanya / . . . /

5. Nada naik turun, tandanya / . . . /

4.1.5.3. Jeda atau Persendian

Jeda berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Biasanya dibedakan atas sendi dalam atau internal juncture dan sendi luar atau open juncture. Dibedakan menjadi jeda antar kata dalam frase (/), jeda antar frase dalam klausa (//), jeda antar kalimat (#).

4.1.6. Silabel

Silabel adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Bunyi yang paling banyak menggunakan ruang resonansi adalah bunyi vokal. Karena itulah disebut bunyi silabis atau puncak silabis.

4.2. FONEMIK

Objek penelitian fonemik adalah fonem yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna.

4.2.1. Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, bisanya sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama dan mencari pasangan minimalnya. Kalau ternyata satuan bahasa tersebut berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah sebuah fonem.

4.2.2. Alofon

Alofon adalah bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem. Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapan atau kalau kita lihat dalam peta fonem, letaknya masih berdekatan.

4.2.3. Klasifikasi Fonem

Kriteria dan prosedur klasifikasi bunyi fonem sama dengan cara klasifikasi bunyi dan unsure suprasegmental, hanya dibedakan menjadi fonem vokal dan konsonan. Ini agak terbatas sebab hanya bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna saja yang dapat menjadi fonem. Pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, seperti tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional.

4.2.4. Khazanah Fonem

Khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.

4.2.5. Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau ada fonem-fonem lain yang berada di sekitarnya.

4.2.5.1. Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Biasanya dibedakan adanya asimilasi profresif, asimilasi regresif, dan asimilasi resiprokal. Kalau perubahan dalam proses asimilasi menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya maupun sebagian dari cirinya, maka dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

4.2.5.2. Netralisasi dan Arkifonem

Misal dalam bahasa Belanda ada kata yang dieja hard “keras” dan dilafalkan /hart/ dan hart “jantung” dan diucapkan /hart/. Jadi pelafalan kedua kata yang dieja berbeda itu adalah sama. Dalam bahasa Belanda, konsonan lambat bersuara seperti (d) itu adalah tidak mungkin. Oleh karena itu, diubah menjadi konsonan yang homorgan tak bersuara yakni (t). Jadi, adanya bunyi (t) pada posisi akhir kata yang dieja hard itu adalah hasil netralisasi itu. Fonem /d/ pada kata hard yang bisa berwujud /t/ atau /d/ dalam pengistilahan linguistik disebut arkifonem. Dalam hal ini biasanya dilambangkan dengan huruf besar /D/

4.2.5.3. Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Umlaut yaitu perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya tinggi. Ablaut adalah perubahan vokal yang kita ditemukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal. Perubahan bunyi yang disebut harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki.

4.2.5.4. Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya. Dalam pemendekan seperti ini yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4.2.5.5. Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis yaitu mengubah urutan fonem yang terdapat dalam satu kata. Bukan mengubah bentuk fonem menjadi bentuk fonem lain. Dalam proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgen dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata.

4.2.6. Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Dalam transkripsi fonemik penggambaran bunyi-bunyi itu sudah kurang akurat, sebab alofon-alofon yang bunyinya jelas tidak sama. Yang paling tidak akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut system ejaan yang berlaku pada suatu bahasa. Grafem adalah huruf yang digunakan dari aksara latin.

 

Setiaji .R_1402408108BAB_IV Oktober 20, 2008

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 8:35 pm

Nama : Setiaji Rahmawan

NIM : 1402408108

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Kalau kita mendengar orang berbicara, entah berpidato atau bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtunan bunyi bahasa yang terus-menerus, kadang-kadang terdengar suara menaik dan menurun, kadang-kadang terdengar hentian sejenak atau hentian agak lama, kadang-kadang terdengar tekanan keras atau lembut, dan kadang-kadang terdengar pula suara pemanjangan dan suara biasa.

Silabel merupakan satuan runtunan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi bunyi lain di depannya., di belakangnya, atau sekaligus di depan dan di belakangnya. Adanya puncak kenyaringan atau sonoritas inilah yang menandai silabel itu. Puncak kenyaringan itu biasanya ditandai dengan sebuah bunyi vocal. Karena itu, ada yang mengatakan, untuk menentukan ada beberapa silabel pada sebuah kesatuan runtunan bunyi kita lihat saja ada beberapa bunyi vokal yan terdapat di dalamnya.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa ini disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi obyek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Secara umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

4. 1 FONETIK

Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi pembeda makna atau tidak. Kemudian menurut proses terjadinya bunyi bahsa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu : fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.

Fonetik artikulatoris, disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat – alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi – bunyi itu diklasifikasikan.

Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagi peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi – bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dan timbrenya.

Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Dalam fonetik altikultoris hal pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi – bunyi bahsa yang terjadi pad alat – alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Namun, tidk biasa disebut “ bunyi gigi” atau “ bunyi bibir”, melainkan bunyi dental dan bunyi labial, yakni istilah bentuk ajektif dari bahsa latinnya.

Selanjutnya, sesuai dengan bunyi bahsa itu dihasilkan, maka harus kita gabungkan istilah dari dua nama alat ucap itu. Misalnya, bunyi apikodental yaitu gabungan antara ujung lidah dengan gigi atas; labiodental yaitu gabungan antara bibir bawah dengan gigi atas; dan laminopalatal yaitu gabungan antara dun lidah dengan langit – langit keras.

4. 1. 2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkalan tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara. Supaya udara bisa terus keluar, pita suara itu harus berada dalam posisi terbuka. Setelah melalui pita suara, yang merupakan jalan satu-satunya untuk bisa keluar, entah melalui rongga mulut atau rongga hidung, udara tadi diteruskan ke udara bebas. Kalau udara yang dari paru-paru keluar tanpa mendapat hambatan apa-apa, selain barangkali bunyi napas. Hambatan terhadap udara atau arus udara yang keluar dari paru-paru itu dapat terjadi mulai dari tempat yang paling di dalam, yaitu pita suara, sampai tempat yang paling luar, yaitu bibir atas dan bawah.

Kalau posisi pita suara terbuka, maka tidak akan terjadi bunyi bahasa. Posisi ini adalah posisi untuk bernapas secara normal. Kalau pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara (voiceless). Kalau pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi bersuara (voice). Kalau pita suara tertutup rapat, maka akan terjadilah bunyi hamzah atau global stop.

Dalam proses artikulasi ini, biasanya, terlibat dua macam artikulator, yaitu artikulator aktif dan artikulator pasif. Yang dimaksud dengan artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak atau digerakkan, misalnya, bibir bawah, ujung lidah, dan daun lidah. Sedangkan yang dimaksud artikulator pasif adalah alat ucap yang tidak dapat bergerak, atau yang didekati oleh artikulator aktif, misalnya, bibir atas, gigi atas, dan langit-langit keras.

Keadaan, car, atau posisi bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif disebut striktur. Dalam hal ini ada beberapa striktur, ada yang strikulator aktif hanya menyentuh sedikit artikulator pasif itu, ada yang merapat, tetapi ada juga artikulator aktif itu sesudah menyentuh artikulator aktif, lalu dihempaskan kembali ke bawah. Jenis striktur akan melahirkan jenis bunyi yang berbeda.

4. 1. 3 Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin, yang ditambah sejumlah tanada diakritik dan sejumlah modofikasi terhadap huruf latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau huruf yang digunakan melambangkan satu bunyi bahasa. Atau, dibalik, setiap bunyi bahasa, sekecil apapun bedanya dengan bunyi yang lain, akan juga dilambangkan hanya dengan satu huruf atau lambang.

Kalau dalam tulisan fonetik, setiap bunyi, baik yang segmental maupun yang supersegmental, dilambangkan secara akurat, artinya, setiap bunyi mempunyai lambang-lambangnya sendiri, meskipun perbedaannya hanya sedikit, tetapi dalam tulisan fonetik hanya perbedaaan bunyi yang distingif saja, yakni yang membedakan makna, yang diperbedakan lambangnya.Bunyi-bunyi yang mirip tetapi tidak membedakan makna kata tidak diperbedakan lambangnya. Selain tulisaan fonetik, ada tulisan lain, yaitu tulisan ortografi. Sistem tulisan ortografi dibuat untuk digunakan secara umum di dalam suatu masyarakat suatu bahasa.

4. 1. 4 Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa pertama-pertama dibedakan atas vokal dan konsonan. Beda terjadinya vokal dan konsonan adalah; arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa; sedangkan dalam pembentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

4. 1. 4. 1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal bisa bersifat horizontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya bunyi [i] dan [u]; vokal tengah , misalnya, bunyi [e] dan [o]; dan vokal rendah, misalnya, bunyi [a]. Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan, misalnya, bunyi [i] dan [e], vokal pusat; misalnya, bunyi [o]; dan vokal belakang, misalnya, bunyi [u] dan [o]. Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar. Disebut vokal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya, bunyi [o] dan vokal [u]. Disebut vokal tak bundar karena bentuk mulut tidak membundar, melainkan melebar, pada waktu mengucapkan vokal tersebut, misalnya, vokal [i] dan vokal [e].

4. 1. 4. 2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut vokal diftong atau rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Ketidaksamaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturnya. Namun, yang dihasilkan bukan dua buah bunyi, melainkan hanya sebuah bunyi karena berada dalam satu silabel.

Diftong serring dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, sehingga adanya diftong naik dan diftong turun. Disebut diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua; sebaliknya disebut diftong turun karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.

Diftong naik atau diftong turun vukan ditentukan berdasarkan posisi lidah, melainkan didasarkan atas kenyaringan (sonoritas) bunyi itu. Kalau sonoritasnya terletak di muka atau pda unsur yang pertama, maka dinamakan diftong turun; kalau sonoritasnya terletak pada unsur kedua, maka namanya diftong naik.

4. 1. 4. 3 Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdaasarkan tiga patokan atau kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Tempat artikulasi tidak lain daripada alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bunyi itu. Berdasrkan tempat artikulasinyakita mengenal antara lain, konsonan :

1. bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi [b], [p], dan [m].

2. labiodental, yakni konsonan yang terjadi pad gigi bawah dan bibir atas; gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental adalah bunyi [f] dan [v].

3. laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi; dalam hal ini, daun lidah menempel pada gusi. Yang termasuk konsonan laminoveolar adalah bunyi [t] dan [d].

4. dorsovelar, yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atu langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi [k] dan [g].

Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana gangguan atu hambatan yang dildkukan terhadap arus udara itu, dapatlah kita bedakan adanya konsonan :

1) hambat (letupan, plosif, stop). Disini artikulator menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat di belakang tempat penutupan itu. Kemudian penutupan itu dibuka secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan terjadinya letupan. Yang termasuk konsonan letupan ini, antara lain, bunyi [p], [b], [t], [d], [k], dan [g].

2) Geseran atau frikatif. Di sini artikulator aktif mendekati artikulator pasif, membentuk celah sempit, sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di celah itu. Contoh yang termasuk konsonan geseraan adalah bunyi [f], [s], dan [t].

3) Paduan atau frikatif. Di sini artilulator aktif menghambat sepenuhnyaa aliran udara, lalu membentuk celah sempit dengan membentuk artikulator pasif. Cara ini merupakaan gabungan antara hambatan dan frikatif. Yang termasuk konsonan paduan, antara lain, bunyi [c], dan [j].

4) Sengauan atau nasal. Di sini artikulator menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut, tetapi membiarkannya keluar melalui rongga hidung dengan bebas. Contoh konsonan nasaal adalah bunyi [m],dan [n]

5) Getaran atu trill. Di sini artikulator aktif melakukan kontak beruntun dengan artikulator pasif, sehingga getaran bunyi itu terjadi berulang-ulang. Contohnya adalah konsonan [r].

6) Sampingan atau lateral. Di sini artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut; lalu membiarkan udaraa keluar melalui samping lidah. Contohnya adalah [r].

7) Hampiran atau aproksiman, di sini artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal, tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonaan geseran.

4. 1. 5 Unsur Suprasegmental

Sudah disebutkan di muka bahwa arus ujaran merupakan suatu runtunan bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau jeda agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, dan sebagainya. Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental; tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi.


4. 1. 5. 1 Tekanan atau Stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti dibarengi dengan tekanan lunak.

4. 1. 5. 2 Nada atau Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang tinggi. Sebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi getaran yang rendah, tentu akan disertai juga dengan nada rendah.

4. 1. 5. 3 Jeda atau Persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda karena ada hentian itu, dan disebut persendian karena di tempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain. Jeda ini dapat bersifat pebyh dan dapt juga bersifat sementara.

Silabel atau suku kata itu adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran. Satu silabel biasanya meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang biasanya jatuh pada sebuah vokal. Kenyaringan atau sonoritas, yang menjadi puncak selabel, terjadi karena adanya ruang resonansi yang berupa rongga mulut, rongga hidung, atau rongga-rongga lain, di dlam kepala dan dada.

Menentukan batas silabel sebuah kata kadang-kadang memang agak sukar karena penentuan batas itu bukan hanya soal fonetik, tetapi juga soal fonemik, morfologi, dan ortografi.

4. 2. FONEMIK

Objek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa pada umumnya tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak. Sebaliknya, objek penelitian foneti adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

4. 2. 1 Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari satuan bahasa, biasnya sebuah, yang mengandung bunyi tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. Kalau ternyata kedua bahasa itu berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah bunyi fenom, karena dia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua satuan bahsa itu.

4. 2. 2 Alofon

Sebuah fonem disebut juga alofon. Identitas alofon juga hanya berlaku pada satu bahasa tertentu, sebab seperti juga sudah dibicarakan di atas.

Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Atau kalau kita melihatnya dalam peta fonem, letaknya masih berdekatan atau saling berdekatan. Tentang distribusinya, mungkin bersikap komplementer, mungkin juga bersifat bebas.

Yang dimaksud dengan distribusi komplementer, atau biasa disebut distribusi saling melengkapi, adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan. Distribusi komplementer ini bersifat tetap pada lingkungan tertentu.

Yang dimaksud dengan distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Dalam hal distribusi bebas ini ada oposisi bunyi yang jelas merupakan dua buah fonem yang berbeda karena ada pasangan minimalnya, tetapi dalam pasangan yang lain ternyata hanya merupakan varian bebas. Alofon adalah realisasi dari fonem, maka dapat dikatakan bahwa fonem bersidat abstrak karena fonem ini hanyalah abstraksi dari alofon atau alofon-alofon itu.

4. 2. 3 Klasifikasi Fonem

Kriteria dan prosedur fonem sebenarnya sama dengan cara klasifikasi bunyi. Bedanya kalau bunyi-bunyi vokal dan konsonan itu banyak sekali, maka fonem vokal dan fonem konsonan ini agak terbatas.

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sebaliknya fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental. Pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional, alias dapat membedakan makna.

Kalau kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan kriteria yang dipakai untuk klasifikasi bunyi (fon), maka penamaan fonem pun sama dengan penamaan bunyi. Jadi, kalau ada bunyi vokal depan tinggi bundar, maka juga ada atau akan ada fonem vokal depan tinggibundar; kalau ada bunyi konsonan hambat bilabial bersuara, maka juga ada atau akan ada fonem konsonan hambat bilabial bersuara.

4. 2. 4 Khazanah Fonem

Yang dimaksud dengan khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.

4. 2. 5 Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau pada fonem-fonem lain yang berada disekitarnya. Dalam bahasa-bahasa dada dijumpai perubahan fonem yang mengubah identitas fonem itu menjadi fonem yang lain.

4. 2. 5. 1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada dilingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Kalau perubahan dalam proses asimilasi menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya maupun sebagian dari cirinya, maka dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

4. 2. 5. 2 Netralisasi dan Arkifonem

Sudah dibicarakan di muka bahwa fonem mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata.

4. 2. 5. 3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahasa Jerman. Dalam studi fonologi kata ini mempunyai pengertian: perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

4. 2. 5. 4 Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.


4. 2. 5. 5 Metatesis dan Epetetis

Proses metatesis buka mengubah bentuk fonem menjadi fonem yang lain, melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat dalam bahasa tersebut variasi. Perubahan bunyi atau fonem yang dibicarakn di atas hanya terjadi pada bahas-bahasa tertentu, yang tidak harus terjadi pad bahasa lain.

4. 2. 6 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda, sedangkan yang lainnya sama.

Dalam transkripsi fonemik penggambaran bunyi-bunyi itu sudah kurang akurat, sebab alofon-alofon, yang bunyinya jelas tidak sama, dari sebuah fonem dilambangkan dengan lambang yang sama. Yang paling tidak akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa.

 

MAOIDATUL DWI K_1402408303_BAB 4

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 8:25 pm

Nama : MAOIDATUL DWI K

NIM : 1402408303

BAB 4

FONOLOGI

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari tentang runtutan bunyi-bunyi bahasa. Fonologi dibedakan menjadi dua berdasarkan objek studinya, yaitu fonetik dan fonemik.

A. FONETIK

Fonetik adalah cabang fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi itu memiliki funsi pembeda makna atau tidak. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa, fonetik dibedakan menjadi tiga yaitu fonetik antikulatoris, fonetik akustik dan fonetik auditoris. Yang paling berurusan dengan dunia linguistik adalah fonetik antikulatoris.

1. Alat Ucap

Alat ucap manusia menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi-bunyi yang terjadi diberi nama sesuai dengan nama alat ucap.

Contoh : ”Bunyi gigi” disebut ”bunyi dental”

”Bunyi bibir” disebut ”bunyi labial”

2. Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses kemampuan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok, yang didalamnya terdapat pita suara. Bunyi bahasa akan dihasilkan jika pita suara dalam posisi terbuka agak lebar, terbuka sedikit, atau tertutup sama sekali. Setelah melewati pita suara, arus udara diteruskan ke alat-alat ucap yang terdapat di rongga mulut atau rongga hidung, sehingga bunyi bahasa tertentu akan dihasilkan.

Alat yang digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa disebut antikulator. Ada dua macam antikulator yaitu antikulator aktif dan antikulator pasif (struktur). Sebagai contoh jika arus udara dihambat bibir bawah (antikulator aktif) yang merapat pada bibir atas, akan terjado bunyi “bilabial” seperti [b] dan [w].

3. Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf aksara .atin yang di tambah sejumlah tanda dia kritik dan modifikasi, karena abjad latin hanya memiliki 26 huruf atau grafen, sedangkan bunyi bahasa sangat banyak, melebihi huruf yang ada. Tulisan fonetik adalah setiap bunyi yang memiliki lambang-lambang sendiri, meskipun perbedaanya hanya sedikit. Tulisan fonemik yaitu setiap perbedaan bunyinya yang membedakan makna yang diperbedakan lambang. Sedangkan tulisan ontografi merupakan sistem tulisan yang dibuat untuk digunakan secara umum di dalam masyarakat suatu bahasa.

4. Klasifikasi Bunyi

Umumnya bunyi bahasa dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara yang terbuka sedikit dan arus udara keluar dari rongga tanpa hambatan.

a. Vokal

Bunyi vokal diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut.

TB B

TB B

TB B

Tinggi

Tengah

Rendah

i

I

u

U

e

E

a

o

O

a

* TB = tak bundar * B = bundar

* Nama-nama vokal

[i] = vokal depan tinggi tak bundar

[e] = vokal depan tengah tak bundar

[d] = vokal pusat tengah tak bundar

[o] = vokal belakang tengah bundar

[a] = vokal pusat rendah tak bundar

b. Diftong atau Vokal Rangkap

Yaitu keadaan ketika posisi lidah ketika memproduksi bunyi pada bagian awal dan akhir tidak sama. Bunyi yang dihasilkan hanya satu, karena berada dalam satu silabeh. Contohnya pada kata terbau, pantai, dan sepoi. namun apabila ada dua vokal berurutan, tetapi vokal pertama terletak pada suku kata yang berlainan dengan vokal kedua, maka tida ada diftong, contohnya pada kata bau dan lain. Ada dua macam diftong, yaitu diftong naik dan diftong turun.

c. Konsonan

Bunyi-bunyi konsonsn dibedakan dan diberi nama berdasarkan tiga kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi.

* Peta Konsonan

Tempatartikulasi

Cara artikulasi

Bilabial

labiodental

Apikoental

laminoalveolar

laminopalatal

borsovelar

faringal

glontal

Hambat

Geseran

Paduan

Sengauan

getaran

Sampingan

hampiran

P b

M

w

F v

t d

t z

n

r

l

c j

y

k g

x

h

?

[P] adalah konsonan hambat bilabial tak bersuara, sedangkan [b] merupakan konsonan hambat bilabial bersuara. Perbedaan bunyi [P] dan [b] terletak pada bersuara dan tidaknya bunyi itu. Karena itu, dalam bahasa Indonesia, kedua bunyi itu pada posisi akhir s/label sering tertukar-tukar tanpa berbeda maknanya.

Contoh :

¬ [sabtu] lazim dilafalkan [sabtu]

¬ [lembap] lazim dilafalkan [lembab]

Kebanyakan orang indonesia menganggap bunyi [f] adalah bunyi asing yang ada di dalam bahasa Arab, Belanda, atau Inggris. Karena itu bunyi [f] diganti dengan bunyi [P]

Contoh : # [fitnah] menjadi [pitnah]

# [fikir] menjadi [pikir]

5. Unsur Suprasegmental

Unsur suprasegmental yaitu unsur yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek dan jeda bunyi.

a. Tekanan atau stres, yaitu keras lunaknya bunyi.

b. Nada atau pitch, yaitu tinggi rendahnya bunyi.

c. Persendian atau jeda, yaitu bantuan dalam arus ujaran.

¬ Sendi dalam

Menunjukan batas antara 1 selabel dengan selabel lain.

Contoh : /am = bil/

¬ Sendi luar

Menunjukan atas lebih besar dari segmen silabel.

Contoh : #sepatu // kuda / liar#

6. Silabel (suku kata)

Selabel adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu runtutan bunyi ujaran. Puncak kenyaringan 9sonoritas) silabel jatuh pada bunyi vokal, karena bunyi vikal memiliki ruang vesonansi yang lebih besar.

Interlude merupakan bunyi yang sekaligus dapat menjadi onset dan koda pada dua buah selabel yang berurutan. Misalnya pada kata “Bundar” dapt bersilabel /bun + ndar/. Bunyi /n/ disebut interlude. Onset adalah bunyi pertama pada sebuah silabel, sejdangkan koda merupakan bunyi akhin sebuah silabel.

B. FONEMIK

Fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dnengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Objek penelitian fonemik adalah fonem, yaitu bunyi bahasa yang berfungsi untuk membedakan makna.

1. Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui sebuah bunyi fonem atau bukan, kita dapat membandingkan sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut dengan kata lain yang mirip. Jika kedua kata berbeda makna, maka bunyi itu adalah sebuah fonem. Misalnya pada kata “Laba” dan “Raba”, masing-masing terdiri dari empat huruf atau bunyi, dimana huruf pertamanya berbeda. Hal tersebut menyebabkan kedua kata memiliki makna yang berbeda. Berarti, bunyi /L/ dan /R/ adalah dua fonem yang berbeda.

2. Alofon

Alofon merupakan realisasi dari sebuah fonem. Fonem /o/ dalam bahasa Indonesia setidaknya mempunyai dua alafon, yaitu bunyi /j/ pada kata ”tokoh” dan bunyi /o/ pada kata ”toko”.

3. Klasifikasi fonem

Prosedur klasifikasi fonem sama dengan cara klasifikasi bunyi, yaitu ada fonem vokal dan fonem konsonan. Tetapi bunyi yang dapat menjadi fonem hanya terbatas pada bunyi-bunyi yang dapat membedakan makna dan hanya dalam bahasa tertentu.

4. Khazanah Fonem

Khazanah fonem yaitu banyaknya fonem yang terdapat dalam saku bahasa. Jumlah fonem yang dimiliki oleh suatu bahasa berveda dengan jumlah fonem pada bahasa lain. Karena perbedaan penafsiran jumlah fonem dalam suatu bahasa memiliki jumlah fonem yang berbeda menurut pakar-pakar yang berbeda.

5. Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat bereda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungan, atau paa donem-fonem di sekitarnya.

a. Asmilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi lain akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Misalnya kata ”sabtu” dalam bahasa Indonesia lazim diucapkan /sabtu/. Ada perubahan bunyi /b/ menjadi /p/ kearena pengaruh bunyi /t/. Asimilasi dibedakan menjadi asimilasi progresif, asimilasi regresif dan asimilasi repirokal.

Disimilasi merupakan perubahan yang menyebabkan dua fonem yang sama menjadi berbeda. Sebagai contoh, kata ”cinta” dan ”cipta” berasal dari bahasa sansekerta ”cinta”. Bunyi /tt/ berubah menjadi bunyi /nt/ pada kata “cinta” dan bunyi /pt/ pada kata “cipta”.

b. Netralisasi dan Arkifonem

Netralisasi perubahan konsonan hambat bersuara menjadi konsonan hambat tak bersuara pada posisi akhir oposisi burici. Sebagai contoh kata yang dieja “hard” (kertas) dalam bahasa Belanda, di lafalkan /hart/.

Arkifonem adalah perwujudan atau kalisari dari fonem, misalnya kata “jawab” yang diucapkan /jawab/ atau /jawap/ : tetapi bila diberi akhiran –an menjadi jawaban. Jadi, arkitonemnya /B/ yang realisasinya bisa menjadi /b/ atau /P/.

c. Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokat

Umlaut berarti perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal berikutnya yang tinggi. Ablaut yaitu perubahan vokal dalam bahasa-bahasa Indo-Jerman untuk menilai berbagai fungsi gramatikal. Harmoni vokal yaitu keselarasan vokal.

d. Kontraksi

Kontraksi adalah menyingkat atau memperpendek ujaran. Misalnya ungkapan ”tidak tahu” diucapkan ”cdak tahu”. Bentuk ’will not” menjadi ”won’t”.

e. Matatesis dan Epentesis

Metatesis yaitu mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Misalnya selain bentuk ”tebak”, ada juga bentuk ”tabel”, ”balet”, dan ”lebat’.

Epentesis merupakan proses penyisipan sebuah fonem tertentu yang homongan degan lingkungannya ke dalam sebuah kata. Misalnya kata ”kapak” yang disisipi bunyi /m/ menjadi kata ”kampak”.

6. Fonem dan Grafen

Fonem dianggap sebagai konsep abstrak, yang di dalam pentuturan direalisasikan oleh alafon-alafon dapat dilambangkan secara akurat dalam wujud tulisan atau Hanskripel fonetik. Dalam transkripsi fonemik penggambaran alofon sudah kurang tepat dan akurat, karena alfon yang bunyinya tidak sama dari sebuah fonem di lambangkan dengan lambang yang sama. Yang paling tidak akurat adalah transkripsi antografis, yaitu penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa.

 

DIAH ANGGRAENI_1402408210_BAB IV

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 8:07 pm

Nama :  Diah Anggraeni

Nim :  1402408210

Rombel :  2

BAB IV

TATARAN LINGUISTIK (1)

FONOLOGI

4. 1. FONETIK

Seperti sudah disebutkan di muka, fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya 3 jenis fonetik yaitu fonetik artikulatonis, fonetik akustik, dan fonetik auditonis.

Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis/fenomena alam. Bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya dan timbrenya. Sedangkan fonetik auditonis mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dari ketiga jenis fonetik ini, yang paling berurutan dengan dunia linguitik adalah fonetik artikuloris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika dan fonetik auditoris lebih berkenaan dengan bidang kedokteran, yaitu neurologi, meskipun tidak tertutup kemungkinan linguistik juga bekerja dalam kedua bidang fonetik itu.

v Alat Ucap

Bunyi bahasa mempunyai fungsi utama yang bersifat biologis, misalnya paru-paru untuk bernapas, lidah untuk mengecap dan gigi untuk mengunyah. Secara kebetulan alat-alat itu digunakan juga berbicara. Kita perlu mengenal nama-nama alat-alat itu untuk bisa memahami bagaimana bunyi bahasa itu diproduksi. Nama alat-alat ucap/alat-alat yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa adalah sebagai berikut:


1. Paru-paru (lung)

2. Batang tenggorok (trachea)

3. Pangkal tenggorok (larynx)

4. Pita suara (vocal card)

5. Krikoid (cricoid)

6. Tiroid (thyroid atau lekum)

7. Anak tekak (uvula)

8. Langit-langit lunak (soft palate, velem)

9. Langit-langit keras (hard palate, palatum)

10. Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)

11. Aritenoid (arythenoid)

12. Dinding rongga kerongkongan (wall pf pharynx)

13. Epiglotis (epiglottis)

14. Akar lidah (root of the tongue)

15. Pangkal lidah (back of the tongue, dorsum)

16. Tengah lidah (middle of the tongue, medium)

17. Daun lidah (blade of tongue, laminum)

18. Ujung lidah (tip of the tongue, apex)

19. Gigi atas (upper teeth, dentum)

20. Gigi bawah (lower teeth, dentum)

21. Bibir atas (upper lip, labilum)

22. Bibir bawah (lower lip, labilum)

23. Mulut (mouth)

24. Rongga mulut (oral cavity)

25. Rongga hidung (nasal cavity)


v Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara Latin yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf Latin itu. Bahasa itu banyak sekali, melebihi jumlah huruf yang ada itu, misalnya saja abjad vokal yakni a, i, e, o, dan u. Padahal bahasa Indonesia hanya mempunyai 6 buah fonem vokal dengan sekian banyak alofonnya. Bergitupun bahasa Inggris dan bahasa Perancis memiliki lebih dari 10 buah vokal.

Bandingkan dengan sistem ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sekarang, misalnya huruf e digunakan untuk melambangkan lebih dari satu bunyi. Samakan bunyi huruf e pada kata keras, monyet dan sate? Samakan huruf u pada kata-kata but, put, dan hurt? Tentu saja tidak sebab huruf e dan huruf u dalam bahasa Indonesia dan bahas Inggris tersebut tidak digunakan secara fonetis.

v Klasifikasi Bunyi

Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit agak lebar, diteruskan ke rongga mulut/rongga hidung dengan mendapat hambatan-hambatan di tempat artikulasi tertentu. Jadi, beda terjadinya bunyi vokal dan konsonan adlaah arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa sedangkan dalam menentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan/gangguan.

v Klasifikasi Vokal

Posisi lidah bisa bersifat horisontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya [i] dan [u]; vokal tengah, misalnya bunyi [e] dan [o] dan vokal rendah, misalnya bunyi [a]. Secara horisontal dibedakan adanya vokal depan, misalnya bunyi [i] dan [e]; vokal, misalnya bunyi [d] dan vokal belakang, misalnya bunyi [u] dan [o]. Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar. Disebut vokal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya vokal [o] dan vokal [u]. Disebut vokal tak bundar karena bentuk mulut tidak bundar, melainkan melebar pada waktu mengucapkan vokal tersebut, vokal [i] dan vokal [e].

v Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan dibedakan berdasarkan 3 patokan atau kriteria yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. dengan ketiga kriteria itu juga orang memberi nama akan konsonan itu.

Ø Bilabial yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi [b], [r], dan [m].

Ø Labiodental, yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental: /f/ dan /v/.

Ø Laminoalveolar yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, dalam hal ini daun lidah menempel pada gusi. Yang termasuk konsonan laminoalvelar adalah bunyi /t/ dan /d/.

Ø Dorsovelar yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum/langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi /k/ dan /g/.

v Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental, tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi suprasegmental atau prosodi.

Nama:Hayyu widya pratiwi

Nim : 1402408190

Rombel : 2

BAB 8

SEJARAH DAN ALIRAN LINGUISTIK

8. 1. LINGUISTIK TRADISIONAL

Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur/ciri formal yang ada pada suatu bahasa tertentu.

8. 1. 1. LINGUISTIK ZAMAN YUNANI

Studi bahasa pada zaman Yunani mempunyai sejarah yang sangat panjang, kurang lebih sekitar 600 tahun. Bahasa bersifat alami atau fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tidak dapat diganti di luar manusia itu sendiri. Kaum konvensional, berpendapat bahwa bahasa bersifat konvensi. Artinya, makna-makna kata itu diperoleh dari hasil-hasil tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang kemungkinan bisa berubah. Beberapa kaum/tokoh yang mempunyai peranan besar dalam studi bahasa pada zaman Yunani:

8. 1. 1. 1. Kaum Sophis (5 SM)

Dikenal dalam studi bahasa, antara lain karena:

(a) Mereka melakukan kerja secara empiris,

(b) Melakukan kerja secara pasti dengan menggunakan ukuran tertentu,

(c) Mementingkan bidang retorika dalam studi bahasa,

(d) Membedakan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan makna.

8. 1. 1. 2. Plato (429 – 347 SM)

Dalam studi bahasa terkenal, antara lain karena:

(a) Dia memperdebatkan analogi dan anomali dalam bukunya Dialoog juga mengemukakan masalah bahasa alamiah dan konvensional.

(b) Dia menyodorkan batasan bahasa yang bunyinya kira-kira bahasa adalah pernyataan pikiran manusia dengan perencanaan anomata dan rhemata.

(c) Dialah orang yang pertamakali membedakan kata anoma dan rhema.

8. 1. 1. 3. Aristoteles (384 – 322 SM)

Dalam studi bahasa dia terkenal, antara lain karena:

(a) Menurut Aristoteles ada tiga macam kelas kata, yaitu anoma, rhema, dan syndesmoi (kata-kata yang lebih banyak bertugas dalam hubungan sintaksis).

(b) Membedakan jenis kelamin kata (gender) menjadi 3 yaitu maskulin, feminin, dan neutrum.

8. 1. 1. 4. Kaum Stoik ( 4 SM)

Kaum Stoik terkenal, antara lain karena:

(a) Membedakan studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara tata bahasa.

(b) Menciptakan istilah khusus dalam studi bahasa.

(c) Membedakan 3 komponen utama dari studi bahasa, yaitu 1) tanda, simbol, sign, atau semainon, 2) makna, apa yang disebut smainomen/lekton, 3) hal-hal di luar bahasa yakni benda-benda/situasi.

(d) Mereka membedakan legein, yaitu bunyi yang merupakan bagian fonologi tetapi tidak bermakna dan propheretal yaitu ucapan bunyi bahasa yang mengandung makna.

(e) Mereka membagi jenis kata menjadi empat yaitu kata benda, kata kerja, syndesmoi, dan arthoron yaitu kata-kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah.

(f) Membedakan kata kerja komplek dan kata kerja tak komplek. Serta kata kerja aktif dan pasif.

8. 1. 1. 5. Kaum Alexandrian

Kaum ini menganut paham analogi dalam studi bahasa. Tata Bahasa Dionysius Thrax sebagai hasi kereguleran bahasa Yunani. Buku Dionysius Thrax lahir lebih lebih kurang tahun 100 SM. Buku ini deterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Remmius Palaemon dengan judul Ars Grammatika.

8. 1. 2. ZAMAN ROMAWI

Tokoh pada jaman Romawi yang terkenal antara lain, Varro (116 – 27 SM) dengan karyanya, De Lingua Latina dan Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.

8. 1. 2. 1. Varro dan “De Lingua Latina”

Dalam buku De Lingua Latina terdiri dari 25 jilid. Buku ini dibagi dalam bidang-bidang etimologi, morfologi, dan sintaksis.

(a) Etimologi, adalah cabang linguistik yang menyelidiki asal usul kata beserta artinya. Varro mencatat adanya perubahan bunyi yang terjadi dari zaman dan perubahan makna kata. Perubahan bunyi misalnya dari akta dvellum menjadi belum yang artinya perang.

(b) Morfologi, adalah cabang linguistik yang mempelajari kata dan pembentukannya, yaitu kata benda, kata kerja, partisipel, adverbium.

8. 1. 2. 2. Institutiones Grammaticae atau Tata Bahasa Priscia

Dianggap sangat penting karena:

(a) Merupakan buku tata bahasa Latin paling lengkap yang dituturkan pembicara aslinya.

(b) Teori-teori tata bahasa yang merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.

Beberapa segi yang patut dibicarakan mengenai buku itu yaitu:

(a) Fonologi. Dalam bidang fonologi pertama-tama dibicarakan huruf atau tulisan atau huruf yang disebut literae, yaitu bagian terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. Bunyi dibedakan empat macam, yaitu:

(1) Vox artikulata, yaitu bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukkan makna;

(2) Vox martikulata, yaitu bunyi yang tidak diucapkan untuk menunjukkan makna;

(3) Vox litterata, bunyi yang dapat dituliskan baik yang artikulata maupun yang martikulata; dan

(4) Vox illiterate, bunyi yang tidak dapat dituliskan.

(b) Morfologi. Dalam bidang ini dibicarakan mengenai dictio atau kata. Kata dibedakan delapan jenis yang disebut partes orationes. Kedelapan jenis kata itu adalah:


(1) Nomen;

(2) Verbum;

(3) Participum;

(4) Pronomen;

(5) Adverbum;

(6) Praepositio;

(7) Interjectio;

(8) Conjunctio.


(c) Sintaksis. Bidang sintaksis membicarakan mengenai hal yang disebut oratio, yaitu tata susun kata yang berselaras dan menunjukkan kalimat itu selesai

8. 1. 3. ZAMAN PERTENGAHAN

Dari zaman pertengahan ini yang patut di bicarakan dalam studi bahasa, antara lain, peranan kaum Modiste, Tata Bahasa Spekulativa, dan Petrus HIspanus.

Kaum Modistae membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomali.

Tata Bahasa Spekulativa, menyatakan kata tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuk.

Petrus Hispanus, dengan bukunya yang berjudul Summulae Logicales. Peranannya antara lain:

(a) Dia telah memasukkan psikologi dalam analisis makna bahasa.

(b) Dia telah membedakan nomen atas dua macam yaitu nomen substantivum dan nomen edjektivum.

(c) Dia telah membedakan prates orationes atas categorematik dan syntategorematik.

8. 1. 4. ZAMAN RENAISANS

1. Bahasa Ibrani dan bahasa Arab banyak dipelajari orang pada akhir abad pertengahan. Beberapa buku tata bahasa Ibrani telah ditulis orang pada zaman Renaisans, antara lain Roger Bacon, Reuchlin, dan N. Clenard. Buku tata bahasa yang ditulis Reuchlin berjudul De Rudimentis Hebraicis.

2. Linguistik Arab. Studi bahasa Arab mencapai puncaknya pada abad ke-8 dengan terbitnya buku tata bahasa Arab berjudul Al-Kitab, atau yang lebih dikenal dengan nama Kitab Al Ayn, karya Si Bawaihi dari kelompok linguistik Basra.

3. Bahasa-bahasa Eropa. Dante menulis buku berjudul De Vulgari Eloquentia pada permulaan abad ke-14.

4. Bahasa-bahasa di luar Eropa.

8. 2. LINGUISTIK STRUKTURALIS

Tokoh-tokoh linguistik strukturalis antara lain:

8. 2. 1. Ferdinand de Saussure

Dianggap sebagai Bapak Linguistik modern, dalam bukunya Course de Linguistique Generale diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay pada tahun 1915. Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep: 1) telaah sinkronik dan diakronik, 2) perbedaan language dan parae, 3) perbedaan signifiant dan signifie, 4) hubungan sintagmatik dan paradigmatik.

8. 2. 2. Aliran Praha (1926)

Salah satu tokohnya, yaitu Vilem Mathesius (1882 – 1945). Tokoh-tokoh lainnya adalah Nikalai S. Trubetskoy, Roman Jakob dan Morris Halle. Aliran Praha membedakan dengan tegas akan fonetik dan fonologi. Fonetik mempelajari bunyi-bunyi itu sendiri, sedangkan fonologi mempelajari fungsi bunyi tersebut dalam suatu sistem. Dalam bidang fonologi aliran praha memperkenalkan dan mengembangkan morfologi, bidang yang meneliti perubahan-perubahan fonologis yang terjadi sebagai akibat hubungan morfem dengan morfem. Misalnya, jawab X jawap: abad X abat.

8. 2. 3. Aliran Glosematik

Aliran Glosematik lahir di Denmark, tokohnya Louis Hjemslev (1899 – 1965). Namanya menjadi terkenal karena usahanya untuk membuat ilmu bahasa menjadi ilmu yang berdiri sendiri, bebas dari ilmu lain, dengan peralatan, metodologis, dan terminologis sendiri. Hjemslev menganggap bahasa mengandung dua segi, yaitu segi ekspresi (menurut desaussure isignifiant) dan segi isi (menurut desaussure signifie). Sehingga diperoleh (1) forma ekspresi, (2) substansi ekspresi, (3) forma isi dan (4) substansi isi.

8. 2. 4. Aliran Firthian

Nama John R. Firth terkenal karena teorinya mengenai fonolofi prosodi. Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada tiga macam pokok prosodi , yaitu (1) prosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan dan gabungan vokal. (2) prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda, (3) prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar dari pada fonem-fonem suprasegmental.

8. 2. 5. Linguistik Sistemik

Pokok-pokok pandangan systemic linguistic (SL) adalah: pertama, SL memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa, kedua SL memandang bahasa sebagai “pelaksana”, ketiga SL mengutamakan pemberian ciri-ciri bahasa tertentu beserta variasi-variasinya, keempat SL mengenal adanya gradasi/kontinum, dan kelima SL menggambarkan tiga tataran utama bahasa sebagai substansi

.

8. 2. 6. Leonard Bloomfield dan Strukturalis Amerika (1877 – 1949)

Leonard Bloomfield terkenal karna bukunya yang berjudul Language. Strukturalisme lebih dikenal dan menyatu kepada nama aliran linguistik yang dikembangkan oleh Bloomfield dan kawan-kawannya di Amerika. Faktor yang menyebabkan berkembangnya aliran linguistik: pertama, banyak sekali bahasa Indian di Amerika yang belum diberikan. Kedua, karena adanya The Linguitics Sosiety of Amerika yang menerbitkan majalah Language.

8. 2. 7. Aliran Tagtemik

Dipelopori oleh Kenneth L. Pike, seorang tokoh dari Summer Institure of Linguistics. Tagmen adalah korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut. Misalnya, dalam kalimat pena itu berada di atasnya meja, bentuk itu mengisi fungsi subjek, dan tagmen subjeknya dinyatakan dengan pena itu.

8. 3. LINGUISTIK TRANSFORMASIONAL DAN ALIRAN-ALIRAN SESUDAHNYA

8. 3. 1. Tata Bahasa Transformasi

Tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Structure. Menurut Chomsky tata bahasa harus memenuhi 2 syarat yaitu:

Pertama, Kalimat yang dihasilkan dari tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat, kedua tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja.

8. 3. 2. Sematik Generatif

Menurut teori generatif semantik, argument adalah segala sesuatu yang dibicarakan, sedangkan predikat itu semua yang menunjukkan hubungan, perbuatan, sifat, keanggotaan, dsb. Dalam menganalisis sebuah kalimat, teori ini berusaha mengabstraksikan predikatnya dan menentukan argumen-argumennya. Dalam mengabstraksikan predikat, teori ini berusaha untuk menguraikannya lebih jauh sampai memperoleh predikat yang tidak dapat diuraikan lagi.

8. 3. 3. Tata Bahasa Kasus

Teori bahasa kasus pertama kali diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore dalam karangannya berjudul “The Cese for Case” tahun 1968. Dalam karangannya yang terbit tahun 1968 itu Fillmore membagi kalimat atas (1) Modalitas, yang bisa berupa unsur negasi, kala, aspek, dan adverbia; dan (2) Proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus, yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan verba dengan nomina. Verba di sini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argumen dalam terori semantik generatif.

8. 3. 4. Tata Bahasa Relasional

Muncul pada tahun 1970-an. Menurut teori bahasa relasional, setiap struktur klausa terdiri dari jaringan relasional (relational network) yang melibatkan tiga macam maujud (entry), yaitu:

(a) Seperangkat simpai (nodes) yang menampilkan elemen-elemen di dalam suatu struktur;

(b) Seperangkat tanda relasional (relational sign) yang merupakan nama relasi gramatikal yang disandang oleh elemen-elemen itu dalam hubungannya dengan elemen lain;

(c) Seperangkat “coordinates” yang dipakai untuk menunjukkan pada tatara yang manakah elemen-elemen itu menyandang relasi gramatikal tertentu terhadap elemen yang lain.

8. 4. TENTANG LINGUITIK DI INDONESIA

Indonesia sudah lama menjadi medan penelitian linguistik. penelitian bahasa di Indonesia dilakukan oleh para ahli Belanda dan Eropa lainnya, untuk kepentingan pemerintahan kolonial.

Konsep-konsep linguistik modern seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure sudah bergema sejak awal abad XX (buku de Saussure terbit 1913). Konsep linguitik modern melihat bahasa secara deskriptif sukar diterima oleh para guru bahasa dan pakar bahasa Indonesia, yang melihat bahasa secara preskriptif/normatif.

Pada tanggal 15 November tahun 1975, atas prakarsa sejumlah linguis senior, berdirilah organisasi kelinguistikan yang diberi nama Masyarakat Linguistik Indonesia.

Berbagai segi dan aspek bahasa telah dan masih menjadi kajian yang dilakukan oleh banyak pakar dengan menggunakan pelbagai teori dan pendekatan sebagai dasar analisis.

 

Anis Silvia_1402408133_BAB 4

Filed under: BAB IV — pgsdunnes2008 @ 8:01 pm

Nama : Anis Silvia

NIM : 1402408133

BAB 4

TATANAN LINGUISTIK (1) : FONOLOGI

Kalau kita nmendengar orang berbicara, entah berpidato atau bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtutan bunyi bahasa yang terus menerus, kadang-kadang terdengar suara yang menarik dan menurun, kadang-kadang terdengar hentian sejenak atau agak lama, kadang-kadang terdengar tekanan keras atau lembut, dan kadang-kadang terdengar pula suara pemanjangan dan suara biasa.

Silabel merupakan satuan runtutan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi lain didepannya, dibelakangnya, atau sekaligus di depan dan dibelakangnya.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membiasakan runtunan bunyi-bunyi bahasa ini disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata dan yaitu bunyi dan lagi yaitu ilmu.

Bidang fonologi dibagi menjadi dua yaitu fonetik dan fonologi atau fonemik.

4.1 FONETIK

Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Fonetik dibagi menjadi 3 yaitu:

1. Fonetik artikulatoris, disebut juga fonetik atau fonetik fisiolagis. Mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.

2. Fonetik akustik, mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomina alam.

3. Fonetik auditoris, mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Dalam fonetik artikulatoris hal pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi-bunyi yang terjadi pada alat-alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu.

4.1.2 Proses Fonasi

Terjadi bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses penampaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok yang di dalamnya terdapat pita suara.

4.1.3 Tulisan Fonetik

Dalam studi linguistik di kenal adanya beberapa macam sistem tulisan dan ejaan, diantarnya tulisan fonetik untuk ejaan fonetik tulisan foremis untuk ejaan fonemis, dan sistem aksara tertentu (seperti aksara latin dan sebagainya) untuk ejaan ortografis.

4.1.4 Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa pertama-tama dibedakan atas vokal dan konsonan. Bunyi vokal dihasilkan dengan pita suara terbuka sedikit. Bunyi konsonan terjadi, setelah arus udara melewati pita suara yang terbuka sedikit atau agak lebar, diteruskan ke rongga mulut atau rongga hidung dengan mendapat hambatan di tempat-tempat artikulasi tertentu.

4.1.4.1 Klarifikasi Vokal

Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi dan vokal rendah. Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan, vokal pusat , dan vokal belakang.

4.1.4.2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut diftong atau vokal rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama.

4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan

Berdasarkan tempat artikulasinya:

1. Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas.

2. Labiodental, yaitu konsonan yanh terjadi pada gigi bawah dan bibir atas: gigi bawah merapat pada bibir atas.

3. Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi: dalam hal ini, daun lidah tidak menempel pada gusi.

4. Dorsovelar, yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atau langit-langit lunak.

Berdasarkan cara artikulasinya:

1. Hambat (letupan, plosit, stop)

2. Geseran atau frikatif

3. Paduan atau frikatif

4. Sengauan atau nasal

5. Getaran atau trill

6. Sampingan atau lateral

7. Hampiran atau aproksiman

4.1.5 Unsur Suprasegmental

Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental.

4.1.5.1 Tekanan atau Stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi.

4.1.5.2 Nada atau pitch

Nada berkenaan dengan tingi rendahnya suatu bunyi.

4.1.5.3 Jeda atau Persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi arus ujar.

4.1.6 Silabel

Silabel atau suku kata itu adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran.

4.2 FONEMIK

Sudah disebutkan dimuka bahwa objek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa pada umumnya tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak. Sebaliknya objek penelitian fonemik adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

4.2.1 Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita mencari sebuah satuan bahasa.

4.2.2 Alofon

Bunyi-bunyi yang merupakan realisasi dari sebuah fonem disebut alofon.

4.2.3 Klasifikasi Fonem

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental, sebaliknya fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nossegmental.

4.2.4 Khasanah Fonem

Khasanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa.

4.2.5 Perubahan Fonem

Dalam beberapa kasus lain, dalam bahasa-bahasa tertentu ada dijumpai perubahan fonem yang mengubah identitas fonem itu menjadi fonem yang lain.

4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada dilingkunganya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

4.2.5.2 Netralisasi dan Arkifonem

Adanya bunyi ( t ) pada posisi akhir kata dieja hard itu adalah hasil netralisasi. Fonem / d / pada kata hard yang bisa berwujut / t / atau / d / dalam peristilahan linguistik adalah arkifonem.

4.2.5.3 Umlaut, Ablaut dan Harmoni Vokal

Umlaut berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai pengertian, perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal.

Dalam bahasa Turki harmoni vokal itu berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke arah silabel yang menyusul.

4.2.5.4 Kontraksi

Kontraksi adalah penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya.

4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis

Proses metatesis adalah mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata.

4.2.6 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.