Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Wahyu Prihantini_1402408007_bab 3 Oktober 25, 2008

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 12:21 pm

Nama : Wahyu Prihantini

NIM : 1402408007

3. OBJEK LUNGUISTIK BAHASA

3.1. Pengertian Bahasa

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.

3.2. Hakikat Bahasa

3.2.1. Bahasa Sebagai Sistem

Bahasa bersifat sistematis dan sistemis. Sistemis artinya bahasa tersusun menurut polam sistemis artinya bahasa terdiri dari subsistem atau sistem bawahan.

3.2.2. Bahasa Lambang

Lambang atau simbol tidak bersifat langsung dan alamiah, tetapi bersifat arbitrer yaitu tidak adanya hubungan langsung yang bersifat antara lambang dengan yang dilambangkannya.

3.2.3. Bahasa Adalah Bunyi

Dalam linguistik yang disebut bahasa, yang primer adalah yang diucapkan, dilisankan yang keluar dari alat ucap manusia.

3.2.4. Bahasa itu Bermakna

Fungsi bahasa adalah menyampaikan pesan, konsep, ide, atau pemikiran.

3.2.5. Bahasa itu Arbitrer

Bahasa itu arbitrer jika hubungan antara signifiant atau penanda dengan signifie petanda, sewenang-wenang atau tidak ada hubungan wajib diantara keduanya.

3.2.6. Bahasa itu Konvensional

Artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

3.2.7. Bahasa itu Produktif

Maksudnya meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas dapat dibuat satuan-satuan bahasa dengan jumlah yang tidak terbatas.

3.2.8. Bahasa itu Unik

Artinya bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki bahasa lainnya.

3.2.9. Bahasa itu Universal

Artinya ada ciri-ciri yang sama yang ada di dunia ini.

3.2.10. Bahasa itu Dinamis

Bahasa disebut dinamis karena jika dalam masyarakat kegiatan manusia tidak tetap dan selalu berubah, maka bahasa itu menjadi ikut berubah.

3.2.11. Bahasa itu Bervariasi

Variasi bahasa ada 3 istilah yaitu idiolek, dialek, dan ragam

1. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan

2. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.

3. Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu.

3.2.12. Bahasa Manusiawi

Alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusia, dalam arti hanya milik manusia dan hanya digunakan oleh manusia.

3.3. Bahasa dan Faktor Luar Bahasa

3.3.1. Masyarakat Bahasa

Adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama.

3.3.2. Variasi dan status sosial bahasa

Variasi bahasa berdasarkan pemakaiannya dibagi menjadi variasi bahasa tinggi digunakan dalam situasi resmi, dan variasi rendah digunakan dalam situasi non formal.

3.3.3. Penggunaan Bahasa

Dalam berkomunikasi lewat bahasa harus diperhatikan faktor-faktor siapa lawan atau mitra bicara kita, tentang atau topiknya apa, situasinya bagaimana, tujuannya apa, jalurnya apa lisan atau tulisan, dan ragam bahasa yang digunakan yang mana.

3.3.4. Bahasa dan Budaya

Bahasa itu menguasai cara berpikir dan bertindak manusia. Apa yang dilakukan manusia selalu dipengaruhi oleh sifat-sifat bahasanya.

3.4. Klasifikasi Bahasa

3.4.1. Klasifikasi Genetis

Suatu bahasa protoctual akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih.

3.4.2. Klasifikasi Tipologis

Dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa.

3.4.3. Klasifikasi Areal

Dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antar bahasa yang satu dengan yang lain dalam suatu wilayah.

3.4.4. Klasifikasi Sosiolinguistik

Berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, berdasarkan status.

3.5. Bahasa Tulis dan Sistem Aksara

1. Bahasa tulis sebenarnya merupakan rekaman bahasa lisan sebagai usaha manusia untuk menyimpan bahasanya untuk bisa disampaikan kepada orang lain yang berada dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Sistem aksara :

1. Abjad adalah urutan huruf-huruf dalam suatu sistem aksara.

2. Grafem adalah satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku kata.

3. Alograf adalah varian dari grafem misal aksara Arab.

4. Grafiti adalah corat-coret didinding, tembok, pagar, dsb.

 

Nadzifa Ulfah_bab 3 Oktober 24, 2008

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 9:18 pm

BAB 3.

OBJEK LINGUISTIK BAHASA

Sebelum kita bahas sebagai objek linguistik kita harus mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan bahasa itu sendiri, maka dari itu kita akan menampilkan pengertian bahasa. Menurut Kridalaksana (1985, dan Djoko Kentjono, 1982) bahasa adalah sistem lambang bunyi arbiter yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.

Berbeda dengan pengertian bahasa menurut Kridalaksana, maka yang dimaksud dengan bahasa sebagai objek linguistik yaitu:

1. Bahasa sebagai langue

Yaitu suatu objek yang abstrak karena langue itu merupakan sistem suatu bahasa tertentu secara keseluruhan.

2. Bahasa sebagai languge

Merupakan objek yang paling abstrak karena dia berwujud sistem bahasa secara universal.

3. Bahasa sebagai parole yaitu merupakan ujaran yang nyata yang diucapkan oleh para bahasa dari suatu masyarakat bahasa.

Hakikat Bahasa

Berdasarkan definisi bahasa dari Kridalaksana dan dari beberapa pakar lain maka dapat disebutkan ciri-ciri atau sifat yang hakiki dari suatu bahasa, ciri dan sifat itu antara lain sebagai berikut:

1. Bahasa itu adalah sebuah sistem

Yaitu bahasa itu tersusun menurut suatu pola/aturan serta terdiri dari sub-sub sistem atau sistem bawahan.

2. Bahawa berwujud lambang

Yaitu bahasa itu dilambangkan atau disampaikan dalam bentuk bunyi bahasa bukan dalam wujud yang lain yaitu berupa bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

3. Bahasa berupa bunyi

Yang dimaksud disini adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam fonemik sebagai “fonem”

4. Bahasa itu bersifat arbitrer

Yaitu tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa yang berwujud bunyi itu dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

5. Bahasa itu bermakna

Ditinjau dari fungsinya yaitu menyampaikan pesan, konsep, ide atau pemikiran. Jadi bentuk-bentuk bunyi yang tidak bermakna yang disampaikan dalam bahasa apapun tidak bisa disebut sebagai bahasa.

6. Bahasa itu bersifat unik

Setiap bahasa di dunia itu mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh bahasa lain.

7. Bahasa itu bersifat produktif

Unsur-unsur yang terkandung di dalam bahasa itu dapat dikembangkan menjadi satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas sesuai dengan sistem yang berlaku di dalam bahasa tersebut.

8. Bahasa itu bersifat universal

Pada suatu bahasa yang ada di dunia ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa dan tentunya ciri-ciri itu adalah unsur bahasa yang paling umum.

9. Bahasa itu variasi

Bahasa di dunia ini beragam dan bermacam-macam.

10. Bahasa itu bersifat dinamis

Karena bahasa itu selalu berkaitan dengan semua kegiatan manusia dan kegiatan manusia itu selalu berubah hingga akhirnya bahasa juga ikut berubah menjadi tidak tetap, dan menjadi tidak statis tetapi dinamis.

11. Bahasa sebagai alat interaksi sosial

Hal ini sesuai dengan fungsi bahasa itu sendiri sebagai alat komunikasi.

12. Bahasa itu merupakan identitas penuturnya.

BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

Dalam sub bab ini akan dibicarakan tentang masalah bahasa dalam kaitannya dengan kegiatan sosial di dalam masyarakat atau tentang hubungan bahasa dengan masyarakat itu, yang antara lain meliputi:

1. Masyarakat Bahasa

Yang dimaksud masyarakat bahasa yaitu sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama.

2. Variasi dan status sosial bahasa

Dalam suatu masyarakat tertentu telah membedakan adanya 2 macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakainya yaitu:

a) Variasi bahasa tinggi (T)

Variasi bahasa tinggi (T) biasa digunakan dalam situasi-situasi resmi. Misalnya pada pidato kenegaraan, bahasa pengantar dalam pendidikan, khotbah, surat-surat resmi dan buku-buku pelajaran.

b) Variasi bahasa tingkat rendah (R)

Variasi bahasa tingkat rendah (R) biasa digunakan dalam situasi yang tidak formal, seperti di rumah, di warung, di jalan dalam surat-surat pribadi dan dalam catatan-catatan pribadi.

3. Pengguna bahasa

Menurut Hymnes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan 8 unsur yang diakronimkan menjadi speaking, yaitu:

Ÿ Setting and scene yaitu dalam berkomunikasi kita harus memperhatikan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

Ÿ Participant : orang yang diajak berkomunikasi

Ÿ Ends : maksud dan hasil percakapan

Ÿ Act sequences : maksud (isi) dan bentuk percakapan

Ÿ Key : cara/semangat dalam melakukan percakapan

Ÿ Instrumentalities: jalur percakapan, apakah secara lisan atau bukan

Ÿ Norms : norma perilaku peserta percakapan

Ÿ Genres : ragam bahasa yang digunakan

4. Kontak Bahasa

Kontak bahasa hanya akan terjadi pada masyarakat yang terbuka maksudnya yaitu para anggota masyarakat yang dapat menerima kedatangan anggota baru dari masyarakat lain, dari sinilah akan terjadi yang namanya kontak bahasa sebab bahasa dari masyarakat penerima akan saling mempengaruhi dengan bahasa masyarakat pendatang.

5. Bahasa dan budaya

Sapir-Whorf dalam hipotesisnya menyatakan bahwa bahasa mem-pengaruhi kebudayaan. Jadi segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia itu selalu dipengaruhi oleh sifat-sifat bahasanya. Akan tetapi hipotesis ini tidak diikuti banyak orang sehingga muncul suatu pendapat yang merupakan kebalikan dari hipotesis Sapir-Whorf yaitu bahwa kebudayaanlah yang mempengaruhi bahasa. Hal ini dibuktikan bahwa masyarakat yang kegiatannya terbatas seperti masyarakat suku bangsa yang terpencil hanya mempunyai suku kata yang terbatas jumlahnya dibandingkan dengan masyarakat yang terbuka yang kegiatannya sangat luas.

Karena hubungannya yang sangat erat maka kedua hal tersebut dapat dikatakan sebagai sekeping mata uang; sisi yang satu adalah bahasa dan sisi yang lain adalah kebudayaan.

KLASIFIKASI BAHASA

Klasifikasi bahasa itu dibedakan menjadi 4, yaitu:

1. Klasifikasi genetis (geneologis)

Klasifikasi ini didasarkan pada garis keturunan suatu bahasa, artinya suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori ini suatu bahasa Proto (bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih, lalu bahasa pecahan ini pun akan menurunkan pula bahasa-bahasa yang lain. Yang apabila digambarkan akan seperti batang pohon terbalik (A. Schleicher).

Kelompok bahasa yang termasuk ke dalam klasifikasi genetis, yaitu:

1) Rumpun Indo Eropa (bahasa-bahasa German, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavik, Roaman).

2) Rumpun Hamito Semit atau Afro – Asiatik

3) Rumpun Chari-Nil

4) Rumpun Dravida

5) Rumpun Austronesia

6) Rumpun Kaukasus

7) Rumpun Finno-Ugris

8) Rumpun Paleo Asiatis atau Hiperbolis

9) Rumpun Ural-Altai

10) Rumpun Sino-Tibet

11) Rumpun bahasa-bahasa Indian

Dari klasifikasi genetis ini dapat diketahui bahwa perkembangan bahasa-bahasa di dunia ini bersifat divergensif yaitu memerah dan menyebar menjadi banyak.

2. Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis ini didasarkan pada kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang dalam suatu bahasa, unsur itu dapat mengenai bunyi, morfem, kata, frase, kalimat, dsb.

Klasifikasi pada tataran morfologi dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:

1) Kelompok I : yang menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi nya.

2) Kelompok II : yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.

3) Kelompok III: yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi.

3. Klasifikasi Areal

Klasifikasi areal ini pernah dilakukan oleh Wilhelm Schmidt (1868 – 1954) yang dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Yang terpenting yaitu adanya data pinjam-meminjam yang meliputi pinjaman bentuk apa saja dan arti apa saja.

4. Klasifikasi Sosiolinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik ini pernah dilakukan oleh William A. Stuart tahun 1962 yang didasarkan pada hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan 4 ciri atau kriteria yaitu:

1. Historisitas : sejarah pemakaian/perkembangan suatu bahasa

2. Standardisasi : statusnya sebagai bahasa baku/tidak baku atau dalam pemakaiannya yaitu formal/tidak formal.

3. Vitalitas : apakah merupakan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari secara aktif atau tidak.

4. Homogenesitas: berkenaan dengan leksikan dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.

BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

Dalam linguistik bahasa tulis adalah bahasa sekunder. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti yang terjadi dengan kalau kita merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman akan tetapi bahasa tulis sudah dibuat orang dengan pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati-hati, tanpa pertimbangan dan pemikiran, peluang untuk terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tulis sangat besar.

Para ahli memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambar-gambar yang terdapat di gua-gua di Altamira di Spanyol utara, dan di beberapa tempat lain. Gambar-gambar itu berbentuk sederhana yang secara tidak langsung menyampaikan maksud atau konsep yang ingin disampaikan. Gambar-gambar seperti itu disebut piktogram dan sebagai sistem tulisan disebut pictograf.

Dalam kehidupan manusia aksara ternyata tidak hanya dipakai untuk keperluan menulis saja, tetapi telah berkembang menjadi suatu karya seni yang disebut kaligrafi atau bisa diartikan sebagai seni menulis indah.

Jenis-jenis aksara antara lain:

1) Aksara Piktografis

2) Aksara Ideografis

3) Aksara Syabis

4) Aksara Fonemis

 

Fenthi Ayu Mustika_1402408233_bab 3

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 7:18 pm

Nama : Fenthi Ayu Mustika

NIM : 1402408233

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK BAHASA

1. Pengertian Bahasa

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.

2. Hakikat Bahasa

a. Bahasa sebagai sistem

Yaitu bahasa terdiri dari unsur-unsur/komponen-komponen yang teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk suatu kesatuan.

Bersifat sistematis adalah bahasa bukan merupakan sistem tunggal tapi terdiri dari subsitem/sistem bawahan.

Tataran pragmatik adalah kajian mempelajari penggunaan bahasa dengan berbagai aspeknya sebagai sarana komunikasi verbal bagi manusia.

b. Bahasa sebagai lambang

Ilmu semantika/semiologi adalah ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia termasuk bahasa.

Lambang menandai sesuatu yang lain secara konvensional, tidak secara alamiah/langsung.

Tanda adalah suatu/sesuatu yang dapat menandai/mewakili ide, pikiran, perasaan, benda dan tindakan secara langsung dan alamiah.

Tanda :

1. Sinyal / isyarat adalah tanda yang disengaja dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinya melakukan sesuatu.

2. Gerak isyarat/gesture adalah tanda yang dilakukan dengan gerakan anggota badan, tidak besifat imperatif seperti sinyal.

3. Gejala/sympton adalah tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan tanpa maksud tanpa alamiah menunjukkan/mengungkapkan sesuatu akan terjadi.

4. Ikon adalah tanda/gambar dari wujud yang diwakilinya.

5. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukkan adanya api.

Ciri kode sebagai tanda adalah adanya sistem, baik berupa simbol, sinyal, maupun gerak isyarat yang dapat mewakili pikiran, perasaan, ide, benda, dan tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu.

c. Bahasa adalah bunyi

Bahasa merupakan lambang yang wujudnya berupa bunyi

Bunyi bahasa adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

Bahasa yang primer adalah yang diucapkan sedangkan bahasa yang sekunder adalah bahasa tulisan.

d. Bahasa mempunyai makna

Bahasa mempunyai makna sebab mempunyai fungsi yaitu menyampaikan pesan, konsep, ide atau pikiran.

Berdasar perbedaan tingkatnya, makna bahasa dibedakan menjadi

Ÿ Makna leksikal : makna yang berkenaan dengan morfem atau kata.

Ÿ Makna gramatikal : makna yang berkenaan dengan frase, klausa dan kalimat.

Ÿ Makna pramatik : makna berkenaan dengan wacana.

e. Bahasa itu arbiter

Adalah tidak ada huungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep/pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

f. Bahasa itu konvensional

Artinya tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep/ pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

g. Bahasa itu produktif

Maksudnya meski unsur bahasa itu terbatas tapi dengan jumlah unsur yang terbatas dapat dibuat satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meskipun secara relatif sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa.

h. Bahasa itu unik

Artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Ciri khas meliputi sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat/sistem-sistem lain.

i. Bahasa itu universal

Artinya ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia. Ciri universal bahasa : bahasa mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.

j. Bahasa itu dinamis

Artinya bahasa ikut berubah sesuai dengan kehidupan dalam masyarakat yang tidak tetap dan selalu berubah.

k. Bahasa itu bervariasi

Bahasa menjadi bervariasi sebab latar belakang dan lingkungannya tidak sama.

Variasi bahasa meliputi:

1. Idiolek : variasi bahasa yang bersifat perseorangan

2. Dialek : variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat/waktu.

3. Ragam : variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan / keperluan tertentu.

l. Bahasa itu manusiawi

Artinya alat komunikasi manusia yang artinya bahasa tersebut hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan manusia.

3. Bahasa dan Faktor Luar Bahasa

a. Masyarakat bahasa

Adalah sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama.

b. Variasi dan status sosial bahasa

Bahasa bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa sangat beragam dan bahasa digunakan untuk keperluan yang beragam.

Diaglosia : perbedaan variasi bahasa T dan bahasa R, masyarakat yang mengadakan perbedaan disebut masyarakat diglosis.

c. Penggunaan Bahasa

Dalam penggunaan bahasa tidak hanya mematuhi kaidah gramatikal, karena bahasa yang digunakan mungkin tidak diterima dalam masyarakat. Unsur yang diperhatikan dalam suatu komunikasi menggunakan bahasa:

Menurut Hymes :

1. Setting / scene : berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

2. Participans : orang yang terlibat dalam percakapan.

3. Ends : maksud dan hasil percakapan.

4. Acs Sequences : hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.

5. Key : menunjuk pada cara/semangat dalam melaksanakan percakapan.

6. Instrumentalities : menunjuk pada jalur percakapan (lisan/bukan)

7. Norms : menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.

8. Genres : menunjuk pada kategori/ragam bahasa yang digunakan.

d. Kontak bahasa

Adalah anggota dari masyarakat dapat menerima kedatangan anggota masyarakat lain. Akibat adanya kontak bahasa :

1. Interferensi : terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah bahasa yang sedang digunakan.

2. Integrasi : unsur bahasa lain terbawa masuk, sudah dianggap, diperlukan, dan dipakai sebagai bagian bahasa yang menerimanya.

3. Alih kode : beralihnya penggunaan suatu kode dalam kode yang lain.

4. Campur kode : 2 kode / lebih digunakan bersama tanpa alasan, terjadi dalam situasi santai.

e. Bahasa dan budaya

Menurut Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf (hipotesis Sapir Whorf) bahasa mempengaruhi kebudayaan atau bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak dalam anggota masyarakat penuturnya.

4. Klasifikasi Bahasa

Menurut Greenberg klasifikasi mempunyai syarat yaitu non arbiter (tidak boleh semaunya/harus ada satu kriteria), ekshaustik (tidak ada sisanya), dan unik.

Jenis klasifikasi:

a. Klasifikasi genetis/geneologis

Dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa itu yaitu diturunkan dari bahasa yang lebih tua.

Klasifikasi ini menunjukkan perkembangan bahasa di dunia bersifat divergensif : memecah dan menyebar menjadi banyak, tapi pada masa mendatang situasi politik dan perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih dapat terjadi perkembangan yang konvergensif.

b. Klasifikasi tipologis

Dilakukan berdasarkan kesamaan tipe pada sejumlah bahasa. Tipe tersebut timbul berulang yang melipui bunyi, morfem, kata, frase, kalimat, dll. Klasifikasi ini dapat dilakukan pada semua tataran bahasa.

Klasifikasi ini bersifat arbiter tapi tetap ekshaustik dan unik.

c. Klasifikasi areal

Dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain dalam suatu areal/wilayah tanpa memperhatikan bahasa berkerabat secara genetik/tidak.

Klasifikasi ini bersifat arbiter karena kontak sejarah bahasa-bahasa memberikan pengaruh timbal balik dalam hal terbatas. Juga bersifat non ekshaustik, masih bersifat tertutup, belum menerima unsur luar, bersifat non unik kemungkinan sebuah bahasa dapat masuk dalam kelompok tertentu.

d. Klasifikasi sosiolinguistik

Dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor yang berlaku dalam masyarakat, berdasar status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap tersebut.

Klasifikasi ini dibedakan menjadi 4 ciri, yaitu:

Ÿ Historisitas : berhubungan dengan sejarah perkembangan/pemakaian bahasa.

Ÿ Standarisasi : berhubungan dengan statusnya sebagai bahasa baku/tidak baku atau status pemakaiannya formal/non formal.

Ÿ Vitalitas : berhubungan dengan bahasa mempunyai penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari secara aktif/tidak.

Ÿ Homogenesitas : berhubungan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.

Dari 4 ciri tersebut klasifikasi menjadi ekshaustik (bahasa di dunia dapat dikelompokkan dalam kelompok tertentu. Hasilnya tidak unik, sebab sebuah bahasa mempunyai status yang berbeda klasifikasi ini bersifat arbiter.

5. Bahasa Tulis dan Sistem Aksara

Dalam linguistik bahasa lisan adalah bahasa primer sedangkan bahasa tulisan adalah sekunder, tapi dalam peranannya dalam kehidupan modern sangat besar sekali. Bahasa tulis bisa menembus waktu dan ruang serta dapat disimpan lama sampai waktu yang tidak terbatas.

Piktogram : gambar-gambar dengan bentuk sederhana yang secara langsung menyatakan maksud/konsep yang disampaikan sebagai sistem tulisan disebut piktograf.

Aksara silabus : aksara paku yang tidak untuk menyatakan gambar, gagasan/ kata melainkan untuk menyatakan suku kata.

Aksara fenesia : setiap aksara melambangkan satu konsonan yang diikuti satu vokal terdiri dari 22 suku kata.

Tulisan silabis orang feneshia diambil oleh orang Yunani dan mengembangkan tulisan yang bersifat alfabetis : menggambarkan setiap konsonan dan vokal dalam satu huruf.

Aksara Yunani diambil orang Romawi/Latin disebarkan dan tiba di Indonesia dikenal dengan bahasa Jawa, bahasa sunda, dll.

Datangnya agama Islam di Indonesia menyebarkan aksara Arab yang digunakan di Malaysia disebut aksara Jawi, di Indonesia (dulu) disebut Arab Melayu/Arab Indonesia, dipakai bahasa Jawa disebut aksara pegon.

Ÿ Huruf : istilah umum graf dan grafem

Ÿ Abjad/alfabet : urutan huruf dalam suatu sistem aksara

Ÿ Graf : satuan terkecil dalam aksara yang belum ditentukan statusnya.

Ÿ Grafem : satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku kata/morfem.

Ÿ Alograf : variasi dari grafem

Ÿ Kaligrafi : seni menulis indah

Ÿ Grafiti : corat-coret di dinding, tembok, pagar, dan lainnya dengan huruf / kata-kata tertentu.

 

ERLINA NOVI K. 1402408111 BAB III OBJEK LINGUISTIK BAHASA

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 7:14 pm

NAMA : ERLINA NOVI K.

NIM : 1402408111

ROMBEL : 3

BAB III

OBJEK LINGUISTIK BAHASA

3.1 Pengertian Bahasa

Adalah sistem lambing bunyi yang arbitrer yang digunakan untuk kerjasama, komunikasi dan mengidentifikasi diri.

3.2 Hakikat Bahasa

Bahwa hakikat bahasa adalah bunyi atau bahasa lisan.

3.2.1 Bahasa sebagai sistem

Susunan yang teratur berpola dan membentuk suatu keseluruhan antar komponen yang berhubungan secara fungsional.

2. Bahasa sebagai lambang

Penggunaan lambing sebagai sarana komunikasi.

3. Bahasa sebagai bunyi

Bunyi yang dihasilak oleh alat ucap manusia.

4. Bahasa itu bermakna

Lambang bunyi bahasa yang bermakna berupa satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa, kalimat dan wacana.

5. Bahasa itu arbitrer

Tidak adanya hubungan antara lambing bahasa dengan konsep lambing tersebut.

6. Bahasa itu konvensional.

Semua anggota masyarakat bahasa memaki lambang sebagai konsep.

7. Bahasa itu produktif

Meskipun unsur bahasa terbatas tapi dapat dibuat tidak terbatas,.

8. Bahasa itu unik

Bahasa yang punya ciri khas yang spesifik.

9. Bahasa itu universal

Ada ciri yang sama yang dimilikioleh setiap bahasa didunia.

10. Bahasa itu dinamis

Bahasa berubah menjadi tidak stasis.

11. Bahasa itu bervariasi.

Penggunaan bahasa yang bervariasi yang sering punya perbedaan besar.

12. Bahasa itu manusiawi.

Hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan manusia.

3.3. Bahasa dan faktor luar bahasa.

3.3.1 Masyarakat Bahasa

Sekelompok orang yang menggunakan bahasa sama.

2. Variasi dan Status Sosial Bahasa.

Penggunaan bahasa sangat beragam untuk keperluan yang beragam pula.

3. Penggunaan Bahasa

4. Kontak Bahasa.

Penggunaan bahasa selain bahasa nasional sesuai kebutuhan.

5. Bahasa dan Budaya

Bahasa merupakan bagian erat dari hubungan

3.3 Klasifikasi bahasa

1. Klasfikasi Genetis

Suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua.

2. Klasifiksi Tipologis.

Dilaksanakan berdasarkan kesamaan tipe pada sejumlah bahasa yang digunakan pada semua tataran bahasa.

3. Klasifikasi Areal

Dilakukan berdasarkan hubungan timbal balik antar bahasa.

4. Klasifikasi Sosiolinguistik

Berdasarkan hubungan antar bahasa dengan faktor yang berlaku dalam masyarakat.

3.5 Bahasa tulis dan sistem aksara

Bahasa tulis merupakan rekaman bahasa lisan sebagai usaha manusia untuk menyimpan bahasa yang disampaikan kepada orang lain.

 

Dita_Priska_Pravita_Sari-1402408072-BAB_3

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 7:08 pm

Dita Priska Pravita Sari

1402408072

Rombel 3

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK : BAHASA

1. Pengertian Bahasa

Bahasa adalah sistem lambang yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.

2. Hakikat Bahasa

Ü Bahasa sebagai sistem

Bahasa sebagai sistem yaitu bahasa terdiri dari unsur-unsur/komponen-komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk suatu kesatuan.

Bahasa bersifat sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak, secara sembarangan.

Bahasa bersifat sistemik yaitu bahasa bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri juga dari sub-subsistem atau sistem bawahan.

Sub-sub sistem tersebut adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik.

Tataran pragmatik yaitu kajian yang mempelajari penggunaan bahasa dengan pelbagai aspeknya, sebagai sarana komunikasi verbal bagi manusia.

Ü Bahasa sebagai lambang

Ilmu semiatika/semiologi yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia termasuk bahasa.

Tanda menandai sesuatu secara langsung dan alamiah.

Lambang menandai sesuatu secara konvensional, tidak secara alamiah dan langsung.

Tanda-tanda lain dalam objek semiotika adalah:

* Sinyal/Isyarat tanda yang disengaja dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu.

* Gerak isyarat/geture tanda yang dilakukan dengan gerakan anggota badan, tidak bersifat imperatif seperti sinyal.

* Gejala/sympton tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan tanpa maksud, tapi alamiah menunjukkan/mengungkapkan sesuatu akan terjadi.

* Ikon tanda/gambar dari wujud yang diwakilinya.

* Indeks tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukkan adanya api.

Ciri kode sebagai tanda adanya sistem, baik yang berupa simbol, sinyal maupun gerak isyarat yang dapat mewakili pikiran, perasaan, ide, benda dan tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu.

Ü Bahasa adalah bunyi

Bahasa merupakan lambang yang wujudnya bunyi. Bunyi bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa yang primer adalah yang diucapkan dari alat ucap manusia. Bahasa sekuder adalah bahasa tulisan.

Ü Bahasa itu bermakna

Bahasa dikatakan mempunyai makna sebab mempunyai fungsi yaitu menyampaikan pesan, konsep, ide atau pikiran. Berdasarkan perbedaan tingkatannya, makna bahasa dibedakan menjadi:

* Makna leksikal: makna yang berkenaan morfem/kata.

* Makna gramatikal: makna yang berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat.

* Makna pragmatik: makna yang berkenaan dengan wacana.

Ü Bahasa itu arbitrer

Adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa dengan konsep/pengertian yang dimaksud oleh lambagn tersebut.

Ü Bahasa itu konvensional

Artinya semua anggota masyarakat bahasa ini mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya.

Ü Bahasa itu produktif

Maksudnya meski unsur bahasa itu terbatas tetapi dengan jumlah unsur yang terbatas dapat dibuat satuans bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa

Ü Bahasa itu unik

Artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh bahasa lain. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat atau sistem-sistem lainnya.

Ü Bahasa itu universal

Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Ciri universal bahasa: bahasa mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.

Ü Bahasa itu dinamis

Artinya bahasa ikut berubah sesuai dengan kehidupan dalam masyarakan yang tidak tetap dan selalu berubah.

Ü Bahasa itu bervariasi

Bahasa menjadi bervariasi sebab latar belakang dan lingkungannya tidak sama. Variasi bahasa meliputi:

a. Idialek : variasi bahasa yang bersifat perseorangan.

b. Dialek : variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada waktu dan tempat tertentu.

c. Ragam: variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu.

Ü Bahasa itu manusia

Artinya alat komunikasi manusia yang namanya bahasa tersebut hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.

3. Bahasa dan Faktor Luar Bahasa

Ü Masyarakat bahasa

Masyarakat bahasa artinya sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama.

Ü Variasi dan status sosial bahasa

Bahasa itu bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa sangat beragam dan bahasa digunakan untuk keperluan yang beragam.

Diglosia: perbedaan variasi bahasa T dan bahasa R, masyarakat yang mengadakan perbedaan disebut masyarakat diglosis.

Ü Penggunaan bahasa

Dalam penggunaan bahasa tidak hanya mematuhi kaidah gramatikal, karena bahasa yang digunakan mungkin tidak diterima dalam masyarakat. Unsur yang diperhatikan dalam suatu komunikasi menggunakan bahasa menurut Hymes:

a. Setting and Scene: berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan,

b. Paticipants: orang-orang yang terlibat dalam percakapan,

c. Ends: maksud dan hasil percakapan

d. Act Sequences: hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan,

e. Key: menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan,

f. Instrumentalities: menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan atau bukan,

g. Norms: menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan,

h. Genres: menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

Ü Kontak bahasa

Adalah anggota dari masyarakat dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain. Akibat adanya kontak bahasa:

a. Interferensi: terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah bahasa yang sedang digunakan.

b. Integrasi: unsur bahasa lain terbawa masuk, sudah dianggap, diperlukan dan dipakai sebagai bagian bahasa yang menerimanya.

c. Alih kode: beralihnya penggunaan suatu kode dalam kode yang lain.

d. Campur kode: 2 kode/lebih digunakan tanpa alasan, terjadi dalam situasi santai.

Ü Bahasa dan budaya

Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf (dan oleh karena itu disebut hipotesis Sapir – Whorf) menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan/bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya.

4. Klasifikasi Bahasa

Menurut Greenberg klasifikasi mempunyai syarat yaitu non-arbitrer (tidak bolah semaunya, harus ada kriteria), ekshautik (tidak ada lagi sisanya) dan unik.

Jenis klasifikasi:

Ü Klasifikasi genetis/geneologis

Dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa bahasa itu yaitu diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Bahasa-bahasa yang ada di dunia ini terbagi dalam sebelas rumpun besar, yaitu:

1. Rumpun Indo-Eropa

2. Rumpun Hamito-Semit

3. Rumpun Chari-Nil

4. Rumpun Dravida

5. Rumpun Austronesia (Melayu Polinesia)

6. Rumpun Kaukasus

7. Rumpun Finno-Ugris

8. Rumpun Paleo Asiatis (Hiperbolis)

9. Rumpun Ural-Altai

10. Rumpun Sino-Tibet

11. Rumpun Bahasa-Bahasa Indian.

Klasifikasi ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa-bahasa di dunia ini bersifat divergensif yakni memecah dan menyebar menjadi banyak. Pada masa mendatang kemungkinan besar akan ada bahasa-bahasa yang mati ditinggal penuturnya dan beralih menggunakan bahasa lain yang lebih menguntungkan.

Ü Klasifikasi tipologis

Dilakukan berdasarkan kesamaan tipe/tipe-tipe yang terdapat dalam sejumlah bahasa. Hasil klasifikasi ini menjadi bersifat arbitrer karena tidak terikat oleh tipe tertentu, namun masih tetap ekshautik dan unik. Klasifikasi pada tataran morfologi pada abad XIX dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Klasifikasi pertama menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi.

2. Kelompok kedua menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.

3. Kelompok ketiga menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi.

Pada abad XX, Sapir (1921) dan J. Greenberg (1954) mengklasifikasikan bahasa dengan menggunakan tiga parameter yaitu:

1. Konsep-konsep gramatikal.

2. Proses-proses gramatikal.

3. Tingkat penggabungan morfem dalam kata.

Ü Klasifikasi areal

Dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak.

Ü Klasifikasi sosiolinguistik

Dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan empat ciri atau kriteria yaitu:

1. Historisitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa/sejarah pemakaian bahasa itu.

2. Standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku/tidak baku.

3. Vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari secara aktiv atau tidak.

4. Homogenesitas berkenaan dengan apakan leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.

5. Bahasa Tulis dan Sistem Aksara

Bahasa tulis sebenarnya merupakan rekaman bahasa lisan sebagai usaha manusia untuk menyimpan bahasanya untuk disampaikan kepada orang lain yang berada dalam ruang dan waktu berbeda. Bahasa tulis dibuat dengan pertimbangan dan pemikiran agar tidak terjadi kesalahan karena dalam bahasa tulis tidak ada intonasi, tekanan dan mimik.

* Piktograf gambar-gambar dengan bentuknya yang sederhana secara langsung menyatakan maksud/konsep yang ingin disampaikan dan sebagai sistem tulisan.

* Ideograf piktograf yang menggambarkan gagasan, ide, atau konsep.

* Aksara silabis sistem yang menggambarkan suku kata.

Aksara Latin tiba di Indonesia sekitar abad XVI bersamaan dengan penyebaran agama Kristen oleh orang Eropa. Sebelum tulisan Romawi atau Latin tiba di Indonesia, berbagai bahasa di Indonesia telah mengenal aksara, seperti yang dikenal dalam bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bugis, bahasa Makasar, bahasa Lampung, bahasa Batak, dan bahasa Sasak.

 

RINI PUJIASTUTIK_1402408138_bab 3

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 6:38 pm

RINI PUJIASTUTIK

( 1402408138 )

BAB 3.

OBJEK LINGUISTIK BAHASA

Sebelum kita bahas sebagai objek linguistik kita harus mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan bahasa itu sendiri, maka dari itu kita akan menampilkan pengertian bahasa. Menurut Kridalaksana (1985, dan Djoko Kentjono, 1982) bahasa adalah sistem lambang bunyi arbiter yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri.

Berbeda dengan pengertian bahasa menurut Kridalaksana, maka yang dimaksud dengan bahasa sebagai objek linguistik yaitu:

1. Bahasa sebagai langue

Yaitu suatu objek yang abstrak karena langue itu merupakan sistem suatu bahasa tertentu secara keseluruhan.

2. Bahasa sebagai languge

Merupakan objek yang paling abstrak karena dia berwujud sistem bahasa secara universal.

3. Bahasa sebagai parole yaitu merupakan ujaran yang nyata yang diucapkan oleh para bahasa dari suatu masyarakat bahasa.

Hakikat Bahasa

Berdasarkan definisi bahasa dari Kridalaksana dan dari beberapa pakar lain maka dapat disebutkan ciri-ciri atau sifat yang hakiki dari suatu bahasa, ciri dan sifat itu antara lain sebagai berikut:

1. Bahasa itu adalah sebuah sistem

Yaitu bahasa itu tersusun menurut suatu pola/aturan serta terdiri dari sub-sub sistem atau sistem bawahan.

2. Bahawa berwujud lambang

Yaitu bahasa itu dilambangkan atau disampaikan dalam bentuk bunyi bahasa bukan dalam wujud yang lain yaitu berupa bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

3. Bahasa berupa bunyi

Yang dimaksud disini adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam fonemik sebagai “fonem”

4. Bahasa itu bersifat arbitrer

Yaitu tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa yang berwujud bunyi itu dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

5. Bahasa itu bermakna

Ditinjau dari fungsinya yaitu menyampaikan pesan, konsep, ide atau pemikiran. Jadi bentuk-bentuk bunyi yang tidak bermakna yang disampaikan dalam bahasa apapun tidak bisa disebut sebagai bahasa.

6. Bahasa itu bersifat unik

Setiap bahasa di dunia itu mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh bahasa lain.

7. Bahasa itu bersifat produktif

Unsur-unsur yang terkandung di dalam bahasa itu dapat dikembangkan menjadi satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas sesuai dengan sistem yang berlaku di dalam bahasa tersebut.

8. Bahasa itu bersifat universal

Pada suatu bahasa yang ada di dunia ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa dan tentunya ciri-ciri itu adalah unsur bahasa yang paling umum.

9. Bahasa itu variasi

Bahasa di dunia ini beragam dan bermacam-macam.

10. Bahasa itu bersifat dinamis

Karena bahasa itu selalu berkaitan dengan semua kegiatan manusia dan kegiatan manusia itu selalu berubah hingga akhirnya bahasa juga ikut berubah menjadi tidak tetap, dan menjadi tidak statis tetapi dinamis.

11. Bahasa sebagai alat interaksi sosial

Hal ini sesuai dengan fungsi bahasa itu sendiri sebagai alat komunikasi.

12. Bahasa itu merupakan identitas penuturnya.

BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

Dalam sub bab ini akan dibicarakan tentang masalah bahasa dalam kaitannya dengan kegiatan sosial di dalam masyarakat atau tentang hubungan bahasa dengan masyarakat itu, yang antara lain meliputi:

1. Masyarakat Bahasa

Yang dimaksud masyarakat bahasa yaitu sekelompok orang yang merasa menggunakan bahasa yang sama.

2. Variasi dan status sosial bahasa

Dalam suatu masyarakat tertentu telah membedakan adanya 2 macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakainya yaitu:

a) Variasi bahasa tinggi (T)

Variasi bahasa tinggi (T) biasa digunakan dalam situasi-situasi resmi. Misalnya pada pidato kenegaraan, bahasa pengantar dalam pendidikan, khotbah, surat-surat resmi dan buku-buku pelajaran.

b) Variasi bahasa tingkat rendah (R)

Variasi bahasa tingkat rendah (R) biasa digunakan dalam situasi yang tidak formal, seperti di rumah, di warung, di jalan dalam surat-surat pribadi dan dalam catatan-catatan pribadi.

3. Pengguna bahasa

Menurut Hymnes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan 8 unsur yang diakronimkan menjadi speaking, yaitu:

Ÿ Setting and scene yaitu dalam berkomunikasi kita harus memperhatikan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

Ÿ Participant : orang yang diajak berkomunikasi

Ÿ Ends : maksud dan hasil percakapan

Ÿ Act sequences : maksud (isi) dan bentuk percakapan

Ÿ Key : cara/semangat dalam melakukan percakapan

Ÿ Instrumentalities: jalur percakapan, apakah secara lisan atau bukan

Ÿ Norms : norma perilaku peserta percakapan

Ÿ Genres : ragam bahasa yang digunakan

4. Kontak Bahasa

Kontak bahasa hanya akan terjadi pada masyarakat yang terbuka maksudnya yaitu para anggota masyarakat yang dapat menerima kedatangan anggota baru dari masyarakat lain, dari sinilah akan terjadi yang namanya kontak bahasa sebab bahasa dari masyarakat penerima akan saling mempengaruhi dengan bahasa masyarakat pendatang.

5. Bahasa dan budaya

Sapir-Whorf dalam hipotesisnya menyatakan bahwa bahasa mem-pengaruhi kebudayaan. Jadi segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia itu selalu dipengaruhi oleh sifat-sifat bahasanya. Akan tetapi hipotesis ini tidak diikuti banyak orang sehingga muncul suatu pendapat yang merupakan kebalikan dari hipotesis Sapir-Whorf yaitu bahwa kebudayaanlah yang mempengaruhi bahasa. Hal ini dibuktikan bahwa masyarakat yang kegiatannya terbatas seperti masyarakat suku bangsa yang terpencil hanya mempunyai suku kata yang terbatas jumlahnya dibandingkan dengan masyarakat yang terbuka yang kegiatannya sangat luas.

Karena hubungannya yang sangat erat maka kedua hal tersebut dapat dikatakan sebagai sekeping mata uang; sisi yang satu adalah bahasa dan sisi yang lain adalah kebudayaan.

KLASIFIKASI BAHASA

Klasifikasi bahasa itu dibedakan menjadi 4, yaitu:

1. Klasifikasi genetis (geneologis)

Klasifikasi ini didasarkan pada garis keturunan suatu bahasa, artinya suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori ini suatu bahasa Proto (bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih, lalu bahasa pecahan ini pun akan menurunkan pula bahasa-bahasa yang lain. Yang apabila digambarkan akan seperti batang pohon terbalik (A. Schleicher).

Kelompok bahasa yang termasuk ke dalam klasifikasi genetis, yaitu:

1) Rumpun Indo Eropa (bahasa-bahasa German, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavik, Roaman).

2) Rumpun Hamito Semit atau Afro – Asiatik

3) Rumpun Chari-Nil

4) Rumpun Dravida

5) Rumpun Austronesia

6) Rumpun Kaukasus

7) Rumpun Finno-Ugris

8) Rumpun Paleo Asiatis atau Hiperbolis

9) Rumpun Ural-Altai

10) Rumpun Sino-Tibet

11) Rumpun bahasa-bahasa Indian

Dari klasifikasi genetis ini dapat diketahui bahwa perkembangan bahasa-bahasa di dunia ini bersifat divergensif yaitu memerah dan menyebar menjadi banyak.

2. Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis ini didasarkan pada kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Tipe ini merupakan unsur tertentu yang dapat timbul berulang-ulang dalam suatu bahasa, unsur itu dapat mengenai bunyi, morfem, kata, frase, kalimat, dsb.

Klasifikasi pada tataran morfologi dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:

1) Kelompok I : yang menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi nya.

2) Kelompok II : yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.

3) Kelompok III: yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi.

3. Klasifikasi Areal

Klasifikasi areal ini pernah dilakukan oleh Wilhelm Schmidt (1868 – 1954) yang dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Yang terpenting yaitu adanya data pinjam-meminjam yang meliputi pinjaman bentuk apa saja dan arti apa saja.

4. Klasifikasi Sosiolinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik ini pernah dilakukan oleh William A. Stuart tahun 1962 yang didasarkan pada hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan 4 ciri atau kriteria yaitu:

1. Historisitas : sejarah pemakaian/perkembangan suatu bahasa

2. Standardisasi : statusnya sebagai bahasa baku/tidak baku atau dalam pemakaiannya yaitu formal/tidak formal.

3. Vitalitas : apakah merupakan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari secara aktif atau tidak.

4. Homogenesitas: berkenaan dengan leksikan dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.

BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

Dalam linguistik bahasa tulis adalah bahasa sekunder. Bahasa tulis bukanlah bahasa lisan yang dituliskan seperti yang terjadi dengan kalau kita merekam bahasa lisan itu ke dalam pita rekaman akan tetapi bahasa tulis sudah dibuat orang dengan pertimbangan dan pemikiran, sebab kalau tidak hati-hati, tanpa pertimbangan dan pemikiran, peluang untuk terjadinya kesalahan dan kesalahpahaman dalam bahasa tulis sangat besar.

Para ahli memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambar-gambar yang terdapat di gua-gua di Altamira di Spanyol utara, dan di beberapa tempat lain. Gambar-gambar itu berbentuk sederhana yang secara tidak langsung menyampaikan maksud atau konsep yang ingin disampaikan. Gambar-gambar seperti itu disebut piktogram dan sebagai sistem tulisan disebut pictograf.

Dalam kehidupan manusia aksara ternyata tidak hanya dipakai untuk keperluan menulis saja, tetapi telah berkembang menjadi suatu karya seni yang disebut kaligrafi atau bisa diartikan sebagai seni menulis indah.

Jenis-jenis aksara antara lain:

1) Aksara Piktografis

2) Aksara Ideografis

3) Aksara Syabis

4) Aksara Fonemis

 

KHILDA FAUZIYA;1402408102

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 4:27 pm

NAMA : KHILDA FAUZIYA

NIM : 1402408102

BAB III

TATARAN LINGUISTIK (1) :

FONOLOGI

Kalau kita mendengar orang berbicara, entah berpidato atau bercakap-cakap, maka akan kita dengar runtunan bunyi bahasa yang terus-menerus, kadang-kadang terdengar suara menaik dan menurun, kadang-kadang terdengar hentian sejenak atau hentian agak lama, kadang-kadang terdengar tekanan keras atau lembut, dan kadang-kadang terdengar pula suara pemanjangan dan suara biasa.

Silabel merupakan satuan runtunan bunyi yang ditandai dengan satu satuan bunyi yang paling nyaring, yang dapat disertai atau tidak oleh sebuah bunyi bunyi lain di depannya., di belakangnya, atau sekaligus di depan dan di belakangnya. Adanya puncak kenyaringan atau sonoritas inilah yang menandai silabel itu. Puncak kenyaringan itu biasanya ditandai dengan sebuah bunyi vocal. Karena itu, ada yang mengatakan, untuk menentukan ada beberapa silabel pada sebuah kesatuan runtunan bunyi kita lihat saja ada beberapa bunyi vokal yan terdapat di dalamnya.

Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa ini disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi, dan logi yaitu ilmu. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi obyek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Secara umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

4. 1 FONETIK

Fonetik adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi pembeda makna atau tidak. Kemudian menurut proses terjadinya bunyi bahsa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu : fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.

Fonetik artikulatoris, disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat – alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi – bunyi itu diklasifikasikan.

Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagi peristiwa fisis atau fenomena alam. Bunyi – bunyi itu diselidiki frekuensi getarannya, amplitudonya, intensitasnya, dan timbrenya.

Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

4.1.1 Alat Ucap

Dalam fonetik altikultoris hal pertama yang harus dibicarakan adalah alat ucap manusia untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi – bunyi bahsa yang terjadi pad alat – alat ucap itu biasanya diberi nama sesuai dengan nama alat ucap itu. Namun, tidk biasa disebut “ bunyi gigi” atau “ bunyi bibir”, melainkan bunyi dental dan bunyi labial, yakni istilah bentuk ajektif dari bahsa latinnya.

Selanjutnya, sesuai dengan bunyi bahsa itu dihasilkan, maka harus kita gabungkan istilah dari dua nama alat ucap itu. Misalnya, bunyi apikodental yaitu gabungan antara ujung lidah dengan gigi atas; labiodental yaitu gabungan antara bibir bawah dengan gigi atas; dan laminopalatal yaitu gabungan antara dun lidah dengan langit – langit keras.

4. 1. 2 Proses Fonasi

Terjadinya bunyi bahasa pada umumnya dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paru-paru melalui pangkalan tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara. Supaya udara bisa terus keluar, pita suara itu harus berada dalam posisi terbuka. Setelah melalui pita suara, yang merupakan jalan satu-satunya untuk bisa keluar, entah melalui rongga mulut atau rongga hidung, udara tadi diteruskan ke udara bebas. Kalau udara yang dari paru-paru keluar tanpa mendapat hambatan apa-apa, selain barangkali bunyi napas. Hambatan terhadap udara atau arus udara yang keluar dari paru-paru itu dapat terjadi mulai dari tempat yang paling di dalam, yaitu pita suara, sampai tempat yang paling luar, yaitu bibir atas dan bawah.

Kalau posisi pita suara terbuka, maka tidak akan terjadi bunyi bahasa. Posisi ini adalah posisi untuk bernapas secara normal. Kalau pita suara terbuka agak lebar, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi tak bersuara (voiceless). Kalau pita suara terbuka sedikit, maka akan terjadilah bunyi bahasa yang disebut bunyi bersuara (voice). Kalau pita suara tertutup rapat, maka akan terjadilah bunyi hamzah atau global stop.

Dalam proses artikulasi ini, biasanya, terlibat dua macam artikulator, yaitu artikulator aktif dan artikulator pasif. Yang dimaksud dengan artikulator aktif adalah alat ucap yang bergerak atau digerakkan, misalnya, bibir bawah, ujung lidah, dan daun lidah. Sedangkan yang dimaksud artikulator pasif adalah alat ucap yang tidak dapat bergerak, atau yang didekati oleh artikulator aktif, misalnya, bibir atas, gigi atas, dan langit-langit keras.

Keadaan, car, atau posisi bertemunya artikulator aktif dan artikulator pasif disebut striktur. Dalam hal ini ada beberapa striktur, ada yang strikulator aktif hanya menyentuh sedikit artikulator pasif itu, ada yang merapat, tetapi ada juga artikulator aktif itu sesudah menyentuh artikulator aktif, lalu dihempaskan kembali ke bawah. Jenis striktur akan melahirkan jenis bunyi yang berbeda.

4. 1. 3 Tulisan Fonetik

Tulisan fonetik yang dibuat untuk keperluan studi fonetik, sesungguhnya dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara latin, yang ditambah sejumlah tanada diakritik dan sejumlah modofikasi terhadap huruf latin itu. Dalam tulisan fonetik setiap huruf atau huruf yang digunakan melambangkan satu bunyi bahasa. Atau, dibalik, setiap bunyi bahasa, sekecil apapun bedanya dengan bunyi yang lain, akan juga dilambangkan hanya dengan satu huruf atau lambang.

Kalau dalam tulisan fonetik, setiap bunyi, baik yang segmental maupun yang supersegmental, dilambangkan secara akurat, artinya, setiap bunyi mempunyai lambang-lambangnya sendiri, meskipun perbedaannya hanya sedikit, tetapi dalam tulisan fonetik hanya perbedaaan bunyi yang distingif saja, yakni yang membedakan makna, yang diperbedakan lambangnya.Bunyi-bunyi yang mirip tetapi tidak membedakan makna kata tidak diperbedakan lambangnya. Selain tulisaan fonetik, ada tulisan lain, yaitu tulisan ortografi. Sistem tulisan ortografi dibuat untuk digunakan secara umum di dalam suatu masyarakat suatu bahasa.

4. 1. 4 Klasifikasi Bunyi

Pada umumnya bunyi bahasa pertama-pertama dibedakan atas vokal dan konsonan. Beda terjadinya vokal dan konsonan adalah; arus udara dalam pembentukan bunyi vokal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa; sedangkan dalam pembentukan bunyi konsonan arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

4. 1. 4. 1 Klasifikasi Vokal

Bunyi vokal biasanya diklasifikasikan dan diberi nama berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut. Posisi lidah bisa bersifat vertikal bisa bersifat horizontal. Secara vertikal dibedakan adanya vokal tinggi, misalnya bunyi [i] dan [u]; vokal tengah , misalnya, bunyi [e] dan [o]; dan vokal rendah, misalnya, bunyi [a]. Secara horizontal dibedakan adanya vokal depan, misalnya, bunyi [i] dan [e], vokal pusat; misalnya, bunyi [o]; dan vokal belakang, misalnya, bunyi [u] dan [o]. Kemudian menurut bentuk mulut dibedakan adanya vokal bundar dan vokal tak bundar. Disebut vokal bundar karena bentuk mulut membundar ketika mengucapkan vokal itu, misalnya, bunyi [o] dan vokal [u]. Disebut vokal tak bundar karena bentuk mulut tidak membundar, melainkan melebar, pada waktu mengucapkan vokal tersebut, misalnya, vokal [i] dan vokal [e].

4. 1. 4. 2 Diftong atau Vokal Rangkap

Disebut vokal diftong atau rangkap karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Ketidaksamaan itu menyangkut tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, serta strikturnya. Namun, yang dihasilkan bukan dua buah bunyi, melainkan hanya sebuah bunyi karena berada dalam satu silabel.

Diftong serring dibedakan berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, sehingga adanya diftong naik dan diftong turun. Disebut diftong naik karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua; sebaliknya disebut diftong turun karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.

Diftong naik atau diftong turun vukan ditentukan berdasarkan posisi lidah, melainkan didasarkan atas kenyaringan (sonoritas) bunyi itu. Kalau sonoritasnya terletak di muka atau pda unsur yang pertama, maka dinamakan diftong turun; kalau sonoritasnya terletak pada unsur kedua, maka namanya diftong naik.

4. 1. 4. 3 Klasifikasi Konsonan

Bunyi-bunyi konsonan biasanya dibedakan berdaasarkan tiga patokan atau kriteria, yaitu posisi pita suara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Tempat artikulasi tidak lain daripada alat ucap yang digunakan dalam pembentukan bunyi itu. Berdasrkan tempat artikulasinyakita mengenal antara lain, konsonan :

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>bilabial, yaitu konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan bilabial ini adalah bunyi [b], [p], dan [m].

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>labiodental, yakni konsonan yang terjadi pad gigi bawah dan bibir atas; gigi bawah merapat pada bibir atas. Yang termasuk konsonan labiodental adalah bunyi [f] dan [v].

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi; dalam hal ini, daun lidah menempel pada gusi. Yang termasuk konsonan laminoveolar adalah bunyi [t] dan [d].

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>dorsovelar, yaitu konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan velum atu langit-langit lunak. Yang termasuk konsonan dorsovelar adalah bunyi [k] dan [g].

Berdasarkan cara artikulasinya, artinya bagaimana gangguan atu hambatan yang dildkukan terhadap arus udara itu, dapatlah kita bedakan adanya konsonan :

<!–[if !supportLists]–>1) <!–[endif]–>hambat (letupan, plosif, stop). Disini artikulator menutup sepenuhnya aliran udara, sehingga udara mampat di belakang tempat penutupan itu. Kemudian penutupan itu dibuka secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan terjadinya letupan. Yang termasuk konsonan letupan ini, antara lain, bunyi [p], [b], [t], [d], [k], dan [g].

<!–[if !supportLists]–>2) <!–[endif]–>Geseran atau frikatif. Di sini artikulator aktif mendekati artikulator pasif, membentuk celah sempit, sehingga udara yang lewat mendapat gangguan di celah itu. Contoh yang termasuk konsonan geseraan adalah bunyi [f], [s], dan [t].

<!–[if !supportLists]–>3) <!–[endif]–>Paduan atau frikatif. Di sini artilulator aktif menghambat sepenuhnyaa aliran udara, lalu membentuk celah sempit dengan membentuk artikulator pasif. Cara ini merupakaan gabungan antara hambatan dan frikatif. Yang termasuk konsonan paduan, antara lain, bunyi [c], dan [j].

<!–[if !supportLists]–>4) <!–[endif]–>Sengauan atau nasal. Di sini artikulator menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut, tetapi membiarkannya keluar melalui rongga hidung dengan bebas. Contoh konsonan nasaal adalah bunyi [m],dan [n]

<!–[if !supportLists]–>5) <!–[endif]–>Getaran atu trill. Di sini artikulator aktif melakukan kontak beruntun dengan artikulator pasif, sehingga getaran bunyi itu terjadi berulang-ulang. Contohnya adalah konsonan [r].

<!–[if !supportLists]–>6) <!–[endif]–>Sampingan atau lateral. Di sini artikulator aktif menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut; lalu membiarkan udaraa keluar melalui samping lidah. Contohnya adalah [r].

<!–[if !supportLists]–>7) <!–[endif]–>Hampiran atau aproksiman, di sini artikulator aktif dan pasif membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal, tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonaan geseran.

4. 1. 5 Unsur Suprasegmental

Sudah disebutkan di muka bahwa arus ujaran merupakan suatu runtunan bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselang-seling dengan jeda singkat atau jeda agak singkat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, dan sebagainya. Dalam arus ujaran itu ada bunyi yang dapat disegmentasikan, sehingga disebut bunyi segmental; tetapi yang berkenaan dengan keras lembut, panjang pendek, dan jeda bunyi tidak dapat disegmentasikan. Bagian dari bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau prosodi.

4. 1. 5. 1 Tekanan atau Stres

Tekanan menyangkut masalah keras lunaknya bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras. Sebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat sehingga amplitudonya menyempit, pasti dibarengi dengan tekanan lunak.

4. 1. 5. 2 Nada atau Pitch

Nada berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. Bila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang tinggi. Sebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi getaran yang rendah, tentu akan disertai juga dengan nada rendah.

4. 1. 5. 3 Jeda atau Persendian

Jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar. Disebut jeda karena ada hentian itu, dan disebut persendian karena di tempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen yang satu dengan segmen yang lain. Jeda ini dapat bersifat pebyh dan dapt juga bersifat sementara.

Silabel atau suku kata itu adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtunan bunyi ujaran. Satu silabel biasanya meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Silabel sebagai satuan ritmis mempunyai puncak kenyaringan atau sonoritas yang biasanya jatuh pada sebuah vokal. Kenyaringan atau sonoritas, yang menjadi puncak selabel, terjadi karena adanya ruang resonansi yang berupa rongga mulut, rongga hidung, atau rongga-rongga lain, di dlam kepala dan dada.

Menentukan batas silabel sebuah kata kadang-kadang memang agak sukar karena penentuan batas itu bukan hanya soal fonetik, tetapi juga soal fonemik, morfologi, dan ortografi.

4. 2. FONEMIK

Objek penelitian fonetik adalah fon, yaitu bunyi bahasa pada umumnya tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata atau tidak. Sebaliknya, objek penelitian foneti adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

4. 2. 1 Identifikasi Fonem

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari satuan bahasa, biasnya sebuah, yang mengandung bunyi tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. Kalau ternyata kedua bahasa itu berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah bunyi fenom, karena dia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua satuan bahsa itu.

4. 2. 2 Alofon

Sebuah fonem disebut juga alofon. Identitas alofon juga hanya berlaku pada satu bahasa tertentu, sebab seperti juga sudah dibicarakan di atas.

Alofon-alofon dari sebuah fonem mempunyai kemiripan fonetis. Artinya, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Atau kalau kita melihatnya dalam peta fonem, letaknya masih berdekatan atau saling berdekatan. Tentang distribusinya, mungkin bersikap komplementer, mungkin juga bersifat bebas.

Yang dimaksud dengan distribusi komplementer, atau biasa disebut distribusi saling melengkapi, adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan. Distribusi komplementer ini bersifat tetap pada lingkungan tertentu.

Yang dimaksud dengan distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu. Dalam hal distribusi bebas ini ada oposisi bunyi yang jelas merupakan dua buah fonem yang berbeda karena ada pasangan minimalnya, tetapi dalam pasangan yang lain ternyata hanya merupakan varian bebas. Alofon adalah realisasi dari fonem, maka dapat dikatakan bahwa fonem bersidat abstrak karena fonem ini hanyalah abstraksi dari alofon atau alofon-alofon itu.

4. 2. 3 Klasifikasi Fonem

Kriteria dan prosedur fonem sebenarnya sama dengan cara klasifikasi bunyi. Bedanya kalau bunyi-bunyi vokal dan konsonan itu banyak sekali, maka fonem vokal dan fonem konsonan ini agak terbatas.

Fonem-fonem yang berupa bunyi, yang didapat sebagai hasil segmentasi terhadap arus ujaran disebut fonem segmental. Sebaliknya fonem yang berupa unsur suprasegmental disebut fonem suprasegmental atau fonem nonsegmental. Pada tingkat fonemik, ciri-ciri prosodi itu, tekanan, durasi, dan nada bersifat fungsional, alias dapat membedakan makna.

Kalau kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan kriteria yang dipakai untuk klasifikasi bunyi (fon), maka penamaan fonem pun sama dengan penamaan bunyi. Jadi, kalau ada bunyi vokal depan tinggi bundar, maka juga ada atau akan ada fonem vokal depan tinggibundar; kalau ada bunyi konsonan hambat bilabial bersuara, maka juga ada atau akan ada fonem konsonan hambat bilabial bersuara.

4. 2. 4 Khazanah Fonem

Yang dimaksud dengan khazanah fonem adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Berapa jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.

4. 2. 5 Perubahan Fonem

Ucapan sebuah fonem dapat berbeda-beda sebab sangat tergantung pada lingkungannya, atau pada fonem-fonem lain yang berada disekitarnya. Dalam bahasa-bahasa dada dijumpai perubahan fonem yang mengubah identitas fonem itu menjadi fonem yang lain.

4. 2. 5. 1 Asimilasi dan Disimilasi

Asimilasi adalah peristiwa berubahnya bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada dilingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai ciri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya.

Kalau perubahan dalam proses asimilasi menyebabkan dua bunyi yang berbeda menjadi sama, baik seluruhnya maupun sebagian dari cirinya, maka dalam proses disimilasi perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.

4. 2. 5. 2 Netralisasi dan Arkifonem

Sudah dibicarakan di muka bahwa fonem mempunyai fungsi sebagai pembeda makna kata.

4. 2. 5. 3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal

Kata umlaut berasal dari bahasa Jerman. Dalam studi fonologi kata ini mempunyai pengertian: perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal itu diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal yang berikutnya yang tinggi.

Ablaut adalah perubahan vokal yang kita temukan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai berbagai fungsi gramatikal.

4. 2. 5. 4 Kontraksi

Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur menyingkat atau memperpendek ujarannya. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi, pemendekan itu menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.

4. 2. 5. 5 Metatesis dan Epetetis

Proses metatesis buka mengubah bentuk fonem menjadi fonem yang lain, melainkan mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Lazimnya, bentuk asli dan bentuk metatesisnya sama-sama terdapat dalam bahasa tersebut variasi. Perubahan bunyi atau fonem yang dibicarakn di atas hanya terjadi pada bahas-bahasa tertentu, yang tidak harus terjadi pad bahasa lain.

4. 2. 6 Fonem dan Grafem

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang fungsional atau dapat membedakan makna kata. Untuk menetapkan sebuah bunyi berstatus sebagai fonem atau bukan harus dicari pasangan minimalnya, berupa dua buah kata yang mirip, yang memiliki satu bunyi yang berbeda, sedangkan yang lainnya sama.

Dalam transkripsi fonemik penggambaran bunyi-bunyi itu sudah kurang akurat, sebab alofon-alofon, yang bunyinya jelas tidak sama, dari sebuah fonem dilambangkan dengan lambang yang sama. Yang paling tidak akurat adalah transkripsi ortografis, yakni penulisan fonem-fonem suatu bahasa menurut sistem ejaan yang berlaku pada suatu bahasa.

 

tri diarto adi_1402908221_bab III Oktober 23, 2008

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 2:05 pm

Disusun oleh

Tri Diarto Adi

NIM : 1402908221

Rombel : 5

BAB III

OBJEK LINGUISTIK BAHASA

Pengertian Bahasa

Secara umum fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi, tapi “sosok” bahasa sendiri dalam pengertiannya adalah “sistem lambang bunyi yang arbiteryang digunakan para anggota kelompok social untuk kerjasama, komunikasi, dan mengidentifikasi diri” (Kridalaksana 1983 dan Djoko Kentjono 1982).

Hakikat Bahasa.

Menurut Kridalaksana, definisi bahasa didapat beberapa sifat hakikat dari bahasa, a.l :

1. Bahasa adalah sebuah sistem.

2. Bahasa bersifat konvensional.

3. Bahasa bersifat unik.

4. Bahasa bersifat unifersal.

5. Bahasa bersifat sebagai alat interaksi social.

6. Bahasa itu berwujud lambang.

7. Bahasa itu berupa bunyi.

8. Bahasa bersifat produktif.

9. Bahasa bersifat dinamis.

10. Bahasa itu bervariasi.

BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

Secara mikro objek kajian bahasa adalah sosok bahasa itu sendiri, sedang secara mikro objeknya adalah berhubungan dengan factor dari luar bahasa, missal : hubungan bahasa dengan masyarakat.

Masyarakat berarti (sekelompok orang yang merasa sama sebangsa, sewilayah, dan satu kepentingan). Jadi dalam masyarakat yang bervariasi dengan pengguna bahasa dengan macam-macam dialek, kebudayaan sangat berpengaruh dalam penggunaan bahasa sebagai komunikasi.

Klasifikasi Bahasa

Ada beberapa criteria dalam klasifikasi bahasa Breenberg (1957=66) membagi tiga syarat :

1. Pendekatan genetis :

pendekatan yang menurunkan atau terpecah jadi bahasa-bahasa lain atas dasar persamaan bentuk bunti dan makna yang sama.

2. Klasifikasi tipologis :

berdasarkan persamaan tipe, missal mengenai bunyi, morfem kata, frase, kalimat, dsb.

3. klasifikasi area :

berdasarkan hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain dalam satu areal (wilayah).

4. klasifikasi sosiolinguistik :

berdasarkan hubungan dengan factor-faktor yang berlaku dalam masyarakat

 

Siti Asrofah_1402408288_objek linguistik

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 1:53 pm

RANGKUMAN BAHASA INDONESIA

BAB III

OBJEK LINGUISTIK: BAHASA

3.1 PENGERTIAN BAHASA

Kata “bahasa” dalam bahasa Indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian, sehingga seringkali membingungkan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan pemakaian kata bahasa dalam kalimat-kalimat berikut.

1. Dika belajar bahasa Inggris, Nita belajar bahasa Jepang.

2. Manusia mempunyai bahasa, sedangkan binatang tidak.

3. hati-hati bergaul dengan anak yang tidak tahu bahasa.

4. Dalam kasus ini ternyata lurah dan camat tidak mempunyai bahasa yang sama.

5. Katakanlah dengan bahasa bunga!

6. Pertikaian itu tidak bisa diselesaikan dengan bahasa militer.

7. Kalau dia memberi kuliah bahasanya penuh dengan kata daripada dan akhiran ken.

8. Kabarnya, Nabi Sulaiman mengerti bahasa semut.

Kata bahasa pada kalimat (1) jelas menunjuk pada bahasa tertentu, yaitu merupakan sebuah langue, (2) menunjuk bahasa pada umumnya, jadi suatu langange, (3) berarti sopan santun, (4) bahasa berarti kebijakan bertindak, (5) bahasa berarti maksudmaksud dengan bunga sebagai lambang, (6) kata bahasa berarti dengan cara, (7) kata bahasa berarti ujarannya, yang sama dengan parole menurut de Saussure, (8) kata bahasa berarti hipotesis.

3.2 HAKIKAT BAHASA

Ciri dan sifat bahasa yang hakiki dari bahasa yaitu (1) bahasa adalah sebuah sistem, (2) bahasa itu berwujud lambang, (3) bahasa itu berupa bunyi, (4) bahasa itu brsifat arbitrer, (5) bahasa itu bermakna, (6) bahasa itu bersifat konvensional, (7) bahasa itu bersifat unik, (8) bahasa itu bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10) bahasa itu bervariasi, (11) bahasa itu bersifat dinamis, (12) bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, dan (13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya.

3.2.1 Bahasa sebagai Sistem

Sistem berarti cara atau aturan. Sebagai sebuah sitsem, bahasa sekaligus bersifat sistematis artinya, bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak, secara sembarangan, sedangkan sistemis artinya, bahasa itu bukan merupakan sistemtunggal, tetapi terdiri juga sebagai sb-sistem, atau sistem bawahan. Kajian linguistik dibagi ke dalam beberapa tataran, yaitu tataran fonologi, morfologi, sintaksis, sematik, dan leksikon.

3.2.2 Bahasa sebagai Lambang

Kata lambang sering dipadankan dengan kata simbol dan pengertian yang sama. Lambang dengan pelbagai seluk beluknya dikaji orang dalam kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang disebut ilmu semiotika atau semiologi, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa.

Lambang bersifat arbitrer, yaitu tidak adanya hubungan langsung yang bersifat wjib antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dalam kepustakaan, ada yang menyatakan bahasa adalah sistem tanda.

Sinyal atau isyarat adalah tanda yang disengaja yang dibuat oleh pemberi sinyal agar si penerima sinyal melakukan sesuatu.

Gerak isyarat atau gesture adalah tanda yang dilakukan dengan gerakananggota badan, dan tidak bersifat imperatif seperti pada sinyal.

Gejala atau symptom adalah suatu tanda yang tidak disengaja, yang dihasilkan tanpa maksud tetapi alamiah untuk menunjukkan atau mengungkapkan bahwa sesuatu akan terjadi.

Ikon adalah tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripannya dengan sesuatu yang diwakili.

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukkan adanya api.

Ciri kode sebagai tanda adalah adanya sistem, baik yang berupa simbol, sinyal, amupun gerak isyarat yang dapat mewakili pikiran perasaan, ide, benda, dan tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu.

3.2.3 Bahasa adalah Bunyi

Bahasa adalah sistem lambang bunyi. Menurut Kridalaksana bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi, bunyi yang bukan dihasilkan oleh alat ucap manusia tidak termasuk bunyi biasa. Bunyi bahasa atau bunyi ujaran adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang didalam fonetik diamati sebagai “fon” dan di dalam fonemik sebagai “fonem”. Dalam linguistik yang disebut bahasa, yang pimer, adalah yang diucapkan, yang dilisankan, yang keluar dari alat ucap manusia. Sedangkan bahasa tulisan hanyalah bersifat sekunder.

3.2.4 Bahasa itu Bermakna

Sebagai lambang tentu ada yang dilambangkan dan yang dilambangkan adalah suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi itu. Oleh karena lambang-lambang mengacu pada suatu konsep, ide,a atau pikiran, maka dapat dikatakan bahwa bahasa mempunyai makna. Makna yangh berkenaan dengan morfem dan kata disebut makna leksikal yang berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat disebut makna gramatikal, yamg berkenaan dengan wacana disebut makna pragmatik, atau makna konteks.

3.2.5 Bahasa itu Arbitrer

Kata arbitrer bisa diartikan sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka. Arbitrer adalah tidak adanya hubungan wajib anatara lambang bahasa dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

Signifiant adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie adalah konsep yang dikandung oleh signifiant. Dalam peristilahan bahasa Indonesia dewasa ini ada digunakan istilah penanda untuk lambang bunyi dan signifiant itu dan istilah penanda untuk konsep yang dikandungnya, atau diwakili oleh penanda tersebut. Hubungan anatara signifiant atau penanda dengan signifie atau petanda itulah yang disebut arbitrer, sewenangwenang, atau tidak ada hubungan wajib di antara keduanya.

3.2.6 Bahasa itu Konvensional

Penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu digunakan untuk mewakili kosep yang diwakilinya. Kekonvensionalan bahasa terletak pada kepatuhan para penutur bahasa untuk menggunakan lambang itu sesuai dengan konsep yang dilambangkannya. Sebuah istilah yang dibuat tentu dimaksudkan untuk melambangkan suatu konsep, bisa digunakan atau tidak digunakan dalam pertuturan tergantung dari keperluan penggunaannya, bukan dari kepatuhan atau tidak terhadap konvensinya.

3.2.7 Bahasa itu Produktif

Unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang jumlahnya tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

Keproduktifan bahasa ada batasnay. Ada dua macam keterbatasan, yaitu keterbatasan pada tingkat parole dan keterbatasan pada tingkat langue. Keterbatasan pada tingkat parole adalah pada ketidaklaziman bentuk-bentuk yang dihasilkan. Pada tingkat langue keproduktifan itu dibatasi karena kaidah atau sistem yang berlaku.

3.2.8 Bahasa itu Unik

Unik artinya mempunyai ciri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Maksudnya, kalau pada kata tertentu di dalam kalimat kita berikan tekanan, maka makna kata itu tetap. Yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat. Kalu keunikkan terjadi pada sekelompok bahasa yang berada dalam satu rumpun atau satu kelompok bahasa, lebih baik jangan disebut keunikan, melainkan ciri dari rumpun atau golongan bahasa itu.

3.2.9 Bahasa itu Universal

Bahasa itu juga bersifat universal, artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Karena bahasa itu berupa ujaran, maka ciri universal dari bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan. Tetapi banyaknya vokal dan konsonan yang dimiliki oleh setiap bahasa bukanlah persoalan keuniversalan.

3.2.10 Bahasa itu Dinamis

Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Perubahan yang paling jelas, dan paling banyak terjadi adalah pada bidang leksikon dan semantik. Hal ini mudah dipahami, karena kata sebagai satuan bahasa terkecil, adalah sarana atau wadah untuk menampung suatu konsep yang ada dalam masyarakat bahasa.

Perubahan dalam bahasa juga dapat terjadi dengan adanya kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat bahasa yang bersangkutan. Berbagai alasan sosial dan politis menyebabkan banyak orang meninggalkan bahasanya.

3.2.11 Bahasa itu Bervariasi

Yang termasuk dalam satu masyarakat bahasa adalah mereka yang merasa menggunakan bahasa yang sama. Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai oatang dengan berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Mengenai variasi bahasa ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idiolek, dialek, dan ragam. Idiolek adalah variasi atau ragam bahasa yang bersifat perseorangan. Dialek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggoota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.

Ragam atau ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan, atau untuk keperluan tertentu. Untuk situasi formal digunakan ragam bahasa yang disebut ragam baku atau ragam standar, untuk situasi yang tidak formal digunakan ragam yang tidak baku atau ragam nonstandar.

3.2.12 Bahasa itu Manusiawi

Sebetulnya yang membuat alat komunikasi manusia itu, yaitu bahasa, produktif, dan dinamis, dalam arti dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru, berbeda dengan alat komunikasi binatang, yang hanya itu-itu saja dan statis, tidak dapat dipakai untuk menyatakan sesuatu yang baru, bukanlah terletak pada bahasa itu dan alat komunikasi binatang itu. Oleh karena itu disimpulkan bahwa alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusia san hanya dapat digunakan ole manusia.

3.3 BAHASA DAN FAKTOR LUAR BAHASA

Objek kajian linguisti mikro adalah struktur intern bahasa atau sosok bahasa itu sendiri, sedangkan kajian linguistik makro adalah bahasa dalam hubungannya dengan

faktor-faktor di luar bahasa.

3.3.1 Masyarakat Bahasa

Kata masyarakat biasanya diartikan sebagai sekelompok orang yang merasa sebangsa, seketurunan, sewilayah tempat tinggal, atau yang mempunyai kepentingan sosial yang sama.

Karena titik berat pengertian masyarakat bahasa pada “merasa menggunakan bahasa yang sama”, maka konsep masyarakat bahasa dapat menjadi luas dan dapat menjadi sempit. Akibat lainnya adalah patokan linguistik umum mengenai bahasa menjadi longgar.

3.3.2 Variasi dan Status Sosial Bahasa

Bahasa bervariasi karena anggota masyarakat penutur bahasa itu sangat beragam, dan bahasa itu sendiri digunakan untuk keperluan yang beragam-ragam pula. Dalam beberapa masyarakat tertentu ada semacam kesepakatan untuk membedakan adanya dua macam variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan status pemakaiannya. Variasi T (Tinggi) digunakan dalam situasi resmi, sedangkan variasi R (rendah) dipelajari langsung oleh masyarakat umum. Adanya pembedaan variasi T dan R disebut diglosia.

3.3.3 Penggunaan Bahasa

Hymes (1974) seorang pakar sosiolinguistik mengatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur SPEAKING, yaitu :

1. Settng and Scene adalah unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

2. Participants adalah orang-orang yang terlibat dalam percakapan

3. Ends adalah maksud dan hasil percakapan

4. Act Sequences adalah hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.

5. Key adalah yang menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.

6. Instrumaentalities adalah yang menunjuk pada jalur percakapan, apakah secara lisan atau bukan.

7. Norms adalah yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.

8. Genres adalah yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

3.3.4 Kontak Bahasa

Dalam masyarakat yang terbuka , artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggiota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat , akan terjadilah kontak bahasa. Kefasihan seseoarng untuk menggunakan dua bahasa sangat tergantung pada adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu.

Dalam masyarakat yang bilingual atau mulilangual sebagai akibat adanya kontak bahasa adapat terjadi peristiwa interferensi, integrasi, alihkode, dan campurkode. Interferensi biasanya dibedakan dari integrasi. Dalam integrasi unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk itu, sudah dianggap, diperlakukan, dan dipakai sebagai bagian dari bahasa yang menerimanya atau dimasukinya.

Alih kode yaitu beralihnya penggunaan suatu kode ke dalam kode yang lain. Alih kode dibedakan dari campur kode. Alih kode terjadi karena bersebab. Dalam campur kode ini dua kode atau lebih digunakan bersama tanpa alasan, dan biasanya terjadi dalam situasi santai. Kalau dibandingkan, campur kode dan interferensi memang tampak sama. Namun, kalau diteliti ada bedanya. Dalam interferensi, pembicara melakukannya karena tidak tahu, dan terjadi dari bahasa yang dikuasdainya. Dalam campur kode, terjadi dengan disadari oleh pembicara. Dia memasukkan unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakannya.

3.3.5 Bahasa dan Budaya

Dalam sejarah linguistik ada suatu hipotesis yang sangat terkenal mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan. Hipotesis ini dikeluarkan ole Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf yang menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan. Atau lebih jelasnya dapat mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Jadi, bahasa menguasai cara berpikir dan bertindak manusia.

3.4 KLASIFIKASI BAHASA

Klasifikasi dilakukan denagn melihat kesamaan ciri yang ada pada setiap bahasa.Dalam hal ini tentunya di samping kelompok, akan ada subkelompok, atau subsubkelompok

yang lebih kecil. Pendekatan untuk membuat klasifikasi terdiri dari: pendekatan genetis, tipologis, areal, dan sosiolinguistik.

3.4.1 Klasifikasi Genetis

Klasifikasi genetis, disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa-bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa proto (bahasa tua atau bahsa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih. Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti, yaitu atas kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya.

Sejauh ini klasifikasi yang telah dilakukan, dan banyak diterima orang secara umum, adalah bahwa bahasa-bahasa yang ada di dunia terbagi dalam sebelas rumpun besar. Klasifikasi genetis ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa –bahasa di dunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan menyebar menjadi banyak.

3.4.2 Klasifikasi Tipologis

Klasifikasi tipologis dilakukan berdasarkan kesamaan tipe atau tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa. Klasifikasi pada tataran morfologi yang telah dilakukan pada abad XIX secara garis besar dapat dibagi tiga kelompok, yaitu:

1. Kelompok pertama adalah yang semata-mata menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi.

2. Kelompok kedua adalah yang menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi.

3. Kelompok ketigaadalah yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifiksi.

3.4.3 Klasifikasi Areal

Klasifikasi areal dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Klasifikasi ini bersifat arbitrer karena dalam kontak sejarah bahasa-bahasa itu memberikan pengaruh timbal-balik dalam hal-hal yertentu yang terbatas.

3.4.4 Klasifikasi Sosiolinguistik

Klasifikasi sosiolinguistik dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. Historisitas berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atau pemakaian bahasa itu.

Kriteria standardisasi berkenaan dengan statusnya sebagai bahasa baku, atau tidak baku, atau statusnya dalam pemakaian formal atau tidak formal.

Vitalitas berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari secara aktif, atau tidak. Sedangkan homogenesitas berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa itu diturunkan. Dengan menggunakan keempat ciri di atas, hasil klasifikasi bisa menjadi nekshaustik sebab semua bahasa yang ada di dunia dapat dimasukkan ke dalam kelompok-kelompok tertentu.

3.5 BAHASA TULIS DAN SISTEM AKSARA

Meskipun dikatakan bahasa lisan adalah primer dan bahasa tulis sekunder, tetapi peranan atau fungsi bahasa tulis di dalam kehidupan modern sangat besar sekali. Bahasa tulis pun sebenarnya merupakan “rekaman” bahasa lisan, sebagai usaha manusia untuk “menyimpan” bahasanya atau untuk bisa disampaikan kepada orang lain yang berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Namun, ternyata rekaman bahasa tulis sangat tidak sempurna.

Mengenai asal mula tulisan, hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan manusia mulai menggunakan tulisan. Para ahli dewasa ini memperkirakan tulisan itu berawal dan tumbuh dari gambar-gambar yang terdapat di gua-gua di Altamira di Spanyol utara, dan di beberapa tempat lain. Jauh sebelum tulisan Romawi atau Latin tiba di Indonesia, berbagai bahasa di Indonesia telah mengenal aksara, seperti yang dikenal dalam bahasa Jawa, Sunda, bahasa Bugis, bahasa Makasar, bahasa Lampung, bahasa Batak, dan bahasa Sasak. Aksaraaksara tersebut diturunkan dari aksara Pallawa.

Datangnya agama Islam di Indoni\esia menyebabkan tersebarnya pula aksara Arab. Aksara Arab ini dengan berbagai modifikasi digunakan dalam bahasa Melayu, Jawa, dan beberapa bahasa daerah lain. Dalam pembicaraan mengenai bahasa tulis dan tulisan kita menemukan istilah-istilah:

· Huruf adalah isilah umum untuk graf dan grafem.

· Abjad atau alfabet adalah urutan huruf-huruf dalam suatu sistem aksara.

· Aksara adalah keseluruhan sistem tulisan.

· Graf adalah satuan terkecil dalam aksara yang belum ditentukan statusnya.

· Grafem adalah satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku

kata atau morfem, tergantung dari sistem akasara yang bersangkutan.

· Kaligrafi dapat diartikan sebagai seni menulis indah.

· Grafiti adalah corat-coret di dinding, tembok, pagar, dan sebagainya dengan huruf-huruf dan kata-kata tertentu.

Hubungan antara fonem (yaitu satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna dalam suatu bahasa) dengan huruf atau grafem (yaitu satuan unsur terkecil dalam aksara) ternyata juga bermacam-macam. Ada pendapat umum yang mengatakan bahwa ejaan yang ideal adalah ejaan yang melambangkan tiap fonem hanya dengan satu huruf atau sebaliknya setiap huruf hanya dipakai untuk melambangkan satu fonem.

 

Safarina, 1402408168, bab 3

Filed under: BAB III — pgsdunnes2008 @ 1:52 pm

NAMA : Safarina

NIM : 1402408168

ROMBEL : 04

BAB 3

OBJEK LINGUISTIK

BAHASA

  1. Prenertian Bahasa

Bahasa memiliki lebih dari satu makna, diantaranya adalah sebagai PAROLE,LANGUE,dan LANGAGE. Sebagai objek kajian linguistic , PAROLE merupakan onjek konkret, karena parole berwujud ujaran nyata yang di gunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. LANGUE merupakan objek yang abstrak , karena langue berwujud system suatu bahasa tertentu bahasa tertentu secara keseluruhan. Sedangkan LANGAGE merupakan objek yang paling abstrak, karena dia berwujud system bahasa secara unwersal.

Kajian terhadap PAROLE dilakukan untuk mendapatkan kaidah suatu LANGUE, dan dari kajian terhadap LANGUE akan diperoleh kaidah LANGAGE.

Madsalah lain yang berkenaan dengan pengertian bahasa adalah bila mana tuturan tersebut bahasa, yang berbeda dengan bahasa lainya. Dua buah patokan, yaitu patokan linguistik dan patokan politis. Secara LINGUISTIK, dua buah tuturan di anggap sebagai dua bahasa yang berbeda kalau anggota dari dua masyarakat tuturan itu tidak saling mengerti : Misalnya penduduk asli jawa tengah . Sedangkan secara POLITIS misalnya adalah bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia, walaupun sama-sama dari bahasa melayu , bahasa Indonesa dan bahasa Malaysia adalah dua bahasa yang berbeda. Bahasa Indonesia dan bahasa nasional bangsa Indonesia , sedangkan bahasa Malaysia adalah bahasa Nasional bangsa Malaysia.

  1. Hakikat Bahasa

Sifat atau cirri-ciri bahasa antara lain :

    1. Bahasa adalah sebuah system

Sistem adalah susunan teratur berpola yang membentuk suatu kesatuan yang bermakna atau berfungsi sebagai sebuah system bahasa bersifat soistematis dan sistemis. SISTEMATIS artinyaBahasa tersebut tersususn menurut pola atau tidak sembarang sedangkan SISTEMIS artinya bahasa bukan merupakan system tunggal tetapi terdiri dari sub- subsistem atau system bawahan , antara lain subsistemfonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem semantic.

b. Bahasa sebagai lambing

Lambang dikaji orang kegiatan ilmiah dalam bidang kajian yang di sebut ILMU SEMIOTIKA atau SEMIOLOGI yaitu ilmu yang mempelajari tanda yang ada dalam kehidupan manusia, termasuk bahasa. Dalam SMIOTIKA dibedakan adanya beberapa jenis tanta, antara lain :

· Tanda , adalah sesuatu yang dapat menandai atau memakili ide, pikiran, perasaan, benda, dan tindakan secara langsung dan alamiah.

· Lambang, tidak bersifat langsung dan alamiah, lambing menandai sesuatu yang lain secara konversional.

· Sinyal atau isyarat, adalah tanda yang sengaja di buat oleh pemberi sinyal, agar si penerima sinyal melakukan sesuatu.

· Gerak isyarat (gesture), adalah tanda yang di lakukan dengan gerakan anggota badan.

· Gejala (symplom), adalah suatu tanda yang tidak disengaja , yang di hasilkan tanpa maksud ,tetapi alamiah untuk menunjukan atau mengungkapkan bahwa sesuatu yang diwakilinya.

· Ikon, adalah tanda yang paling mudah pahami karena kemiripanya dengan sesuatu yang di wakilinya.

· Indeks , adalah tanda yang menunjukan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukan adanya api.

· Kode, citri kode sebagai tanda adalah adanya system,baik yang berupa symbol,sinyal , maupun gerak isyarat yang dapat memakili pikiran, perasaan, ide, benda, dan tindakan yang disepakati untuk maksud tertentu.

c. Bahasa Adalah Bunyi

Bunyi bahasa atau bunyi ujaran adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh ucap manusia. Tetapi tidak semua bunyi yang dihasilakan oleh ucap manusia termasuk bunyi bahasa. Bunyi teriak, bersin, batuk-batuk, dan arokan bukan termasuk bunyi.bahasa ,meskipun dihasilakan oleh ucap manusia, karena semuanya itu tidak termasuk ke dalam system bunyi bahasa.

d. Bahas Itu Bermakna

Karena lambing-lambang itu mengacu pada suatu konsep, ede, atau pikiran , maka dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna,. Lambang bunyi yang bermakna itu didalam bahasa berupa morfem ,kata ,frase, klausa, kalimat, dan wacana. Mkana yang berkenaan dengan frase, klausa, dan kalimat disebut makna GRAMATIKAL dan yang berkenaan dengan wacana disebut makna PARADIGMA atau makna KONTEKS.

e. Bahasa Itu Arbitrer

Arbitrer adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambing bahasa dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambing tersebut. Ferdinana de saussure membedakan aoa yang di sebut significant dan signifie. SIGNIFIANT adalah lambing bunyi itu, sedangkan SIGNIFIE adalah konsep yang di kandung oleh significant. Hubungan antar significant (petanda) yang di sebut bersifat arbitrer, sewenang-wenang,atau tidak ada hubungan wajib diantara keduanya.

f. Bahasa Itu Konfensional

Penggunaan lembaga untuk suatu konsep tertentu bersifat konversional, artinya semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambing tertentu itu digunakan untuk memakili konsep yang diwakilinya

g. Bahasa Itu Produktif

Bahasa dikatakan produktif, maksudnya, meskipun unsure-unsur bahasa itu terbatas ,tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnyatidak terbatas , sesui denhgan system yang berlaku dalam bahasa itu. Keterbatasan ada dua macam, yaitu keterbatasan pada tingkat PAROLE dan keterbatasan pada tingkat LANGUE, keterbatasan padatingkat PAROLE adalah pada kertidaklaziman atau kebelulaziman bentukyang di hasilkan. Pada tingkat LANGUE keprodutipan itu dibatasi karena kaidah atau system yang berlaku.

h. Bahasa Itu Unik

Bahasa dikatakan bersifat unik, artinya setiap bahasa memiliki cirikas sendiri yang tidak alimiliki oleh bahasa lainnya. Salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah bahwa tekanan kata tidak bersifat morfemis. Melainkan siktensis, maksudnya kalau pada kata tertentu didalam kalimat kita berikan tekanan, maka makna kata itu tetap, yang berubah adalah makna keseluruhan kalimat.

i Bahasa itu universal

Bahasa itu bersifat universal,artinya ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia. Cirri universal bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan juga bahwa setiap bahasa satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah satuan yangbernama kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana yang dimiliki oleh sejumlah bahasadalam satu rumpun atau satu golongan bahasa.

G Bahasa itu dinamis

Di dalam masyarakat, kegiatan manusia itu tidak tetap dan slalu berbah maka bahasa itu juga menjadi ikut berubah,tidak tetap, dan yidak status, karena itulah bahasa itu disebut dinamis.

k Bahasa itu berfariasi

Ada tiga istilah mengenai variasi bahasa yaitu IDIOLEK, DIALEK, dan, RAGAM. Idiolek adalah variasi atau ragam yang bersifat perseorangan. DIALEK adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu temapy atau suatu waktu. RAGAM atau RAGAM BAHASA adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi keadaan, atau untuk keperluan tertentu.

L Bahasa itu manusiawi

Alat komunikasi manusia yang namanya bahasa adalah bersifat manusiawi, dalam arti hanya milik manusua, dan hanya digunakan oleh manusia.

  1. Bahasa dan faktor luar bahasa

a. Masyarakat bahasa

Adalah sekelompok orang yang merasa mengenakan bahasa yang sama.

b. Variasi dan status social bahasa

Ada dua macam variasi bahasa berdasarkan status sosialnya yaitu VARIASI BAHASA TINGGI (T) digunakan dalam situasi resmi dan VARIASI BAHASA RENDAH (R) digunakan dalam situasi tidak formal.

c. Penggunaan Bahasa

Hymes, seorng pakar sosiolinguistik menyatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan 8 unsur yang diakronim menjadi “SPEAKING” yakni

· SETTING and SCENE yaitu unsure yang berkenaan dengan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan.

· PARTICIPANT, yaitu orang-orang yang terlibat dalam percakapan.

· ENDS, yaitu maksud dan hasil percakapan.

· ACT SQUENCES, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan.

· KEY, menujuk pada cara / semangat dalam melaksanakan percakapan.

· INSTRUMENTALITIES, menujuk pada jalur percakapan, lisan atau bukan.

· NORMS, menujukan pada norma perilaku peserta percakapan.

· GENRES ,menujuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

d. Kontak Bahasa

Orang yang hanya menguasai satu bahasa disebut MONOLINGUAL, UNILINGUAL, atau MONOGLOT, yang menguasai dua bahasa disebut BILINGUAL, yang menguasai lebih dari dua bahasa MULTILINGUAL, PLURILIGUAL, atau POLIGLOT. Akibatnya adanya kontak bahasa, dapat terjadi peristiwa atau kasus, salah satunya adalah INTERFERENSI, yaitu adanya unsur bahasa dalam bahasa yang digunakaan, sehingga tampak adanya penyimpangan kaldan dari bahasa yang digunakan itu.

e. Bahasa dan budaya

Bahasa dan budaya memiliki hubungan yang sangtat erat, ada dua pendapat yang berbeda mengenai bahasa dan budaya, yaitu menurut hipotensis sapir-whorf menyatakan bahwa, bahasa mempengaruhi kebudayaan dan pendapat yang berlawanan dari hipotesis sapir-whorf yaitu bahwa kebudayaan mempengaruhi bahasa. Oleh karenanya ada pakar yang menyebut bahwa dan budaya sebagai kembar siam.

  1. Klasifikasi Bhasa
    1. Klasifikasi genetis / geneologis

Dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa itu. Artinya suatu bahasa yang berasal dari bahasa yang lebih tua. Klasifikasi bahasa bersifat DIVERGENSIF yakni memecah dan menyebar menjadi banyak.

    1. Klasifikasi Tripologis

Dilakukan berdasarkan persamaan / tipe-tipe yang terdapat pada sejumlah bahasa.

    1. Klasifikasi Areal

Dilakukan berdasarkan adanya hubungan timbal balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain didalam suatu areal atau wilayah, tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetick atau tidak.

    1. Klisifikasi Sosiolinguistik

Dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang belaku dalam masyarakat, tepatnya berdasarkan status , fubgsi, pendaian yang diberkan masyarakat terhadap bahasa itu.

  1. Bahasa Tulis dan Sistem Akasana

Kelebihan bahasa tulis antara lain, bahasa tulis mampu menembus ruang dan waktu, bahasa tulis dapat disimpan lama sampai waktu yang tak terbatas. Aksana sendiri, awalnya tidak untuk menyatakan gambar, gagasan atau kata,melainkan untuk mmenyatakan suku kata. Salah satu aksara adalah aksara arab,aksara arab tersebar bersama datang nya agama islam. Adanya beberapa istilah antara lain : HURUF adalah istilah umum untuk graf dan grafem. ABJAD atau ALFABET adalah urutan huruf-huruf dalam suatu aksana. AKSARA adalah keseluruhan sistem tulisan. GRAF adalah satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku kata, atau morfem yang tergantung dari sistem aksara yang bersangkutan. ALOGRAF adalah varian dari graham.KALIGRAFI adalah dalam bentuk karya seni. GRAFITI adalah tulisan corat-coret di dinding atau tembok dengan huruf tertentu.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.