Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

santi widi astuti;1402408014 Oktober 22, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 10:28 am

TATANAN LINGUISTIK (2)

MARFOLOGI

  • Satuan terkecil dari arus ujaran disebut fonem.

  • Silabel adalah satuan ritmis yang ditandai dengan adnya satu sonaritas atau punjak berada lebih tinggi dari fonem yang fungsional.

  • Morfem adalah merupakan satuan gratikal terkecil yang mempunyai makna berada diatas satuan silabel.

  • Morfem bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain.contoh : kepasar,kekampus,kedapur “memiliki arti arah atau tujuan maka disebut morfem.

  • Ciri-ciri morfem :

    1. kesamaan arti.

    2. kesamaan bentuk.

  • Satu satuan bentuk yang bersetatus sebagai biasanya dilambangkan dengan mengapitnya diantara kurung kurawal.Misal : kedua ; {ke}+{dua},books : {book}+{s}.

  • Alomorf : Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama yang merupakan perwujudan konkret (dadalam pertuturan)dari sebuah morfem.sudah diketahui setatusnya.

  • Morf : nama untuk bentuk yang belum diketahui setatusnya.

  • Contoh alomorf : meng ->me N ( menasal ) :Indonesia.

(-s) cats .

(-z) dogs,cows.

  • Klasifikasi Morfem.

    1. Berdasarkan Kebebasanya.

      1. Morfem Bebas .

Morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.contoh : pulang,makan,rumah dan bagus.

        1. Morfem Terikat.

Morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem yang lain tidak dapat manual dalam pertuturan.Contoh : semua afiks dalam bahasa Indonesia,morfem penanda jamak dalam b.Inggris.

          1. Bedasarkan Keutuhanya.

    1. Morfem Utuh.

Morfem yang merupakan satu kesatuan yang utuh.Contoh : semua morfem dasar bebas .(meja,kursi,kecil,laut,pensil),sebagian morfem terikat (ter-,ber-).

    1. Morfem Terbagi.

Morfem yang terdiri dari dua buah bagian yang terpisah.Contoh : satu (morfom utuh ),ke/-an (morfem yang terbagi).

        1. Berdasarkan maknanya.

  1. Morfen Segmental.

Morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental.Contoh : lihat,lah,sikat,dan ber ->morfem yang berwujud bunyi.

  1. Morfem Suprasegmental.

Morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasekmental.

Unsur-unsurnya : tekanan,nadas,durasi

        1. Morfem Neralomort Zero (Nd)

lambang (Q) yaitu alomorfnya tidak tidak berwujud bunyi sekmental

maupun berupaprosodi (unsur supra sekmental) tetapi berupa “kekosongan”.

Contoh : books -> morfem (book),morfem (-s) -> jamak.

        1. Morfem bermakna laksikal dan morfem tidak bermaka laksikal.

          1. Bermakna Laksikal

Adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna sendiri tanpa perlu proses dulu dengan morfem lain.

Contoh : kuda,pergi,lari dan merah.

          1. Tidak bermakna laksikal

Adalah morfem-morfem yang tidak bermakna sendiri,perlu berproses dulu dengan morfem lain.

Contoh : afkis : (ber-),(mer-),dan (ter-).

  • Morfen Dasar,Bentuk Dasar,Pangkal (stem) dan Akar (root)

  1. Bentuk Dasar (base): digunakan untuk menyebut sebuah bentuk yang

menjadi dasar dalam satu proses marfologi berupa morfem tunggal

dan gabungan morfem.Contoh : berbicara = ber + bicara ( bentuk

dasar).

  1. Pangakal (stem) = digunakan untuk menyebut bentuk dasar dalam

Proses infleksi atau proses pembubuhan inflektif.Contoh: menagisi =

me – (afiks inflektif)+menagisi.

  1. Akar (rood) ; digunakan untuk menyebut bentuk yang tidak dapat

dianalisis lebih jauh lagi,bentuk yang tersisi setelah semua

afiksnya.Contoh untouchables =un+toucht+able+s.

Macam-macam morfem dasar:

  1. Morfem dasar bebas ; morfem dasar yang secara potensial dapat langsung menjadi kata sehingga dapat langsung dapat digunakan dalam ujaran.Contoh : meja,kursi,pergi,kuning.

  2. Morfem dasar yang kebebesanya dipersoalkan : sejumlah morfem yang berakar verba yang dalam kalimat impertif atau kalimat sispan yang perlu diberi imbuan dan dalam kalimat deklaratif imbuanya dapat ditingalkan.Contoh : (-ajaran),(-tulisan),(-lihat),(-beli).

  3. Morfem dasar mterikat :morfem dasar yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kata lebih dahulu mendapat proses morfologi. Contoh : juang,hentyi,gaul,dan abai.

    • Kata

Pengertian Kata

Kata adalah deretan kata yang dihimpit oleh dua sepasi dan mempunyai 1 arti.

Kata (dalam bahasa arab) biasanya terdiri dari 3 huruf

Batasan kata dalam berbagai buku linguistik diEropa menyiratkan 2 hal :

  1. Setiap kata mempunyai susunan fonem yang urutannya teta dan tidak berubah.

  2. setiap kata mempumyai kebebasan berpindah tempat dari kalimat atau tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh kata lain atau juga dapat dipisahkan dengan kata lainnya.

Para tata bangsawan tradisional mengunakan 2 kriteria :

  1. Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasikan kelas Verba,nomina danajektifa.

    • Verba adalah kata yang menyatakan tindakan atau perbuatan.

    • Nomina adalah kata yang menyatakan benda atau dibendakan.

    • Ajektifa adalah kata-kata yang berdisbusi dibelakang kata sangat,atau dapat mengisi kontruksi sangat.

      1. Kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasikan preposisi,konjungsi,adverbia,pronomia.

Konjungsi adalah kata yang bertugas atau atau berfungsi menhubungkan kata dengan kata atau bagian kalimat yang satu dengan bagian yang lain.

        • Penbentukan kata mempunyai dua sifat yaitu:

          1. Inflektiktif

` Alat yang digunakan untuk penyesuaian bentuk biasanya berrupa afiks yang mungkin berupa prefiks,infiks, dan sufiks atau juga berupa modifikasi internal yakni perubahan yang terjadi di dalam bentuik dasar itu.

Konyugasi adalah perubahan atau penyesuaian bentuk pada

verba.Deklinasi adalah perubahan ataui penyesuaian pada nomina dan ajektifa.

Paradigma infleksional adalah sebuah kata yang sama, tapi bentuknya berbeda yang disesuaikan dengan kategori gramatikalnya.

          1. Derivatif

Pembentukan kata secara derivatif membe ntuk kata baru, kata yang identitas leksikalnya tidak sama dengan kata dasarnya.

Contoh: dalam bahasa Inggris sing “menyanyi” terbentuk kata singer “penyanyi”

Kata untouchable; touch dibubuhkan sufiks derivasional able menjadi touchable dan dibubuhkan prefiks derivasional un menjadi untouchable.

        • Proses Morfemis

          1. Afiksasi

Adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar.

Unsurnya adalah sebagai berikut:

      1. dasar atau bentuk dasar dapat berupa akar yakni bentuk terkecil yang tidak dapat disegmentasikan lagi, misalnya: meja, beli, makan, sikat.

      2. Afiks adalah berupa morfem terikat yang diimbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata.

Macam-macam afiks :

  1. afiks inflektif: digunakan dalam pembentukan kata-kata inflektif atau paradigma infleksional.

  2. afiks derivatif: membentuk kata baru yang identitas leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya.

    • Dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasarnya biasanya dibedakan :

  1. prefiks adalah afiks yang diimbuhkan dimuka bentuk dasar

contoh: me- pada menghibur

  1. infiks adalah afiks yang diimbuhkan ditengah bentuk dasar.

contoh:-el- pada telunjuk

  1. sufiks adalah afiks yang diimbuhkan di akhir bentuk dasar

contoh:-an pada bagian

  1. konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi yang bagian pertananya berposisi pada awal bentuk dasar dan bagian keduanya pada posisui akhir.

Contoh: pe-/-an pada pertemuan

  1. interfiks adalah sejenis infiks atau elemen penyaambung yang muncul dalam proses penggabungan dua buah unsur.

  2. transfiks adalah afiks yang berwujud vokal-vokal yang diimbuhkan pada keseluruhan pada keseluruhan dasar.

    • Reduplikasi

Adalah proses morfemis yang mengulang bentuk dasar, baik keseluruhan secara sebagian (parsial) maupun dengan perubahan bunyi.

Macam-macam reduplikasi:

  1. reduplikasi sebagian(parsial), misalnya: lelaki

  2. reduplikasi penuh, misalnya: meja-meja

  3. reduplikasi dengan perubahan bunyi, misalnya: bolak-balik.

    • Komposisi

Adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru.

  • Konversi(derivasi zero,transmutasi, dan transposisi)

Adalah proses pembentukan kata dari sebuah kata menjadi kata lain tanpa perubahan unsur segmentalnya.

  • Modifikasi internal(penambahan internal/ perubahan internal)

Adalah proses pembentukan kata dengan penambahan unsur-unsur (vokal) kedalam morfem yang berkerangka tetap (konsonan).

  • Modifikasi internal suplesi

Perubahan sangat ekstrem karena ciriu-ciri bentuk dasar tidak atau hampir tidak tampak lagi.

  • Pemendekan

Adalah proses penanggalan bagian-bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi bentuk singkat tetapi maknanya tetap sama dengan makna utuhnya.

Contoh: lab (labolatorium), hlm (halaman)

Macam-macam pemendekan:

  1. singkatan adalah hasil proses pemendekan, misalnya:

    1. pengekalan huruf awal dari sebuah leksem, misalnya R (Radius)

    2. pengeklalan beberapa huruf dari sebuah leksem, misalnya hlm (halaman), rhs (rahasia)

    3. pengekalan huruf awal dikombinasi dengan angka untuk pengganti huruf yang sama, misalnya P3 (Partai Persatuan Pembangunan)

    4. pengekalan dua, tiga, atau empat huruf pertama dari sebuah leksem, misalnya As (Asisten), Ny (Nyonya)

    5. pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir dari sebuah leksem, misanya Ir (Insinyur), Fa (Firma)

  2. akronim adalah hasil pemendekan yang berupa kata atau dapat dilafalkan sebagai kata.contoh : ABRI (ankatan bersenjata republik Indonesia),Inpres ( instruksi inseden ),wagub (wakil gubernur ).

      • Produktivitas proses morfermis

Adalah dapat tidakny proses pembentukan kata itu,terutama afiksasi,reduplkasi dan komposisi,digunakan berulang-ulang yang secara relatif tak terbatas;artinya ada kemungkinan menambah bentuk baru dengan proses tersebut.

  • Morfofonemik (morfonemik,morfofonologi,morfonologi)

Adalah peristiwa berubahnya wujud morfenis dalam suatu proses morfologis,baik akfiksasi,redukplikasi maupun komposisi.

Macam-macam proses morfofonenik :

  1. Peluruhan fonem

Terlihat dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me-

Contoh : me-+sikat =menyikat

  1. Perubahan fonem

Terlihat dalam proses pengimbuan prefiks ber-

Contoh : ber-+ajar=belajar

  1. Pergeseran fonem

Pindahnya sebuah fonem dari silabel yang satu kesilabel yang lain,biasanya kesilabel berikutnya,terlihat dalam proses pengimbuan sefik/an/dan(i),(t).

Contoh : ja.wab+-an = ja.wa.ban

 

Yuni listyoningrum;1402408006 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 9:07 pm

BAB 2

LINGUISTIK SEGAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.

KEILMUAN LINGUISTIK

Ilmu linguistik telah mengalami 3 tahap perkembangan :

a. Tahap pertama

Tahap spekulasi artinya pengambilan kesimpulan tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.

b. Tahap kedua

Tahap observasi dan klasifikasi artinya tahap mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

c. Tahap ketiga

Tahap perumusan teori. Tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan mengenai masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan dan menyusun tes untuk menguji hipotesis terhadap fakta yang ada.

· Linguistik mementingkan data empiris dalam penelitiannya. Kegiatan empiris bekerja secara induktif dan deduktif. Kegiatan dimulai dengan mengumpulkan data empiris, dianalisis, dan diklasifikasikan kemudian ditarik kesimpulan umum. Biasa disebut kesimpulan induktif.

Dalam ilmu logika terdapat penalaran induktif dan penalaran deduktif.

Penalaran induktif yaitu data-data khusus yang dikumpulkan lalu ditarik kesimpulan umum. Penalaran deduktif yaitu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang ada.

Kesimpulan deduktif dari premis mayor terhadap data khusus (premis Minor).

· Ciri-ciri hakiki bahasa :

1. Bahasa adalah bunyi ujaran, bahas lisan (primer) dan bahasa tulis (sekunder).

2. Bahasa bersifat unik, setiap bahasa memiliki ciri khas masing-masing meski terdapat beberapa kesamaan.

3. Bahasa adalah suatu sistem, bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan.

4. Bahasa bersifat dinamis (berubah dari waktu ke waktu). Secara sinkronik : mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada masa waktu tertentu atau terbatas. Studi sinkronik bersifat deskreptif, memberikan gambaran keadaan bahasa itu apa adanya. Secara diakronik : mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangan sepanjang kehidupan bahasa itu. Studi diakronik disebut studi historis komparatif.

5. Bersifat empiris, mendekati bahasa secara deskriptif tidak preskriptif.

SUBDISIPLIN LINGUISTIK

a. Berdasarkjan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya / bahasa tertentu.

ü Linguistik umum : mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum.

ü Linguistik khusus : mengkaji kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu.

b. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa.

ü Linguistik sinkronik : mengkaji bahasa pada masa terbatas (linguistik deskriptif).

ü Linguistik diakronik : mengkaji bahasa pada masa tidak terbatas (bersifat historis dan komparatif)

Tujuannya untuk mengetahui sejarah struktural dengan segala perubahan dan perkembangannnya.

c. Berdasarkan objek kajiannya, struktur internal bahasa (hubungannya dengan faktor di luar bahasa)

ü Linguistik mikro : Kajiannya pada struktur internal bahasa.

ü Linguistik makro : menyelidiki bahasa yang berkaitan dengan faktor di luar bahasa.

Sub disiplin linguistik makro :

a. sosiolinguistik : mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.

b. Antropolinguistik : mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.

c. Stilistika : mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk karya sastra.

d. Filologi : mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa terdapat dalam bahan tertulis.

e. Dialektologi : mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

d. Berdasarkan tujuannya

ü Linguistik teoretis : beruasaha untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu.

ü Linguistik terwapan :beruasaha memecahkan masalah-masal praktis yang terdapat di dalam masyarakar.

e. Berdasarkan aliran atau teori

ü Linguistik tradisional

ü Linguistik struktural

ü Linguistik transformasional

ü Linguistik generatif semantik

ü Linguisti relasional

ü Linguistik sistemik

ANALISIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa (semua tataran tingkat bahasa) yaitu fonetik, fenemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

a. Struktur, Sistem dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dalam buku Course de Linguistique General. Membedakan dua jenis hubungan antara satuan-satuan bahasa relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkrit. Relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa namun tidak tampak dalam susunan kalimat.

b. Analisis bawahan langsung

Sering disebut juga analisis unsur langsung yaitu suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur yang membangun suatu satuan bahasa, kata, frase, klausa, kalimat. Manfaatnya menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada wacana.

c. Analisis rangkaian unsur : bahwa setiap satuan bahasa ditata dari unsur-unsur laijn.

Analisi persis unsur : merupakan hasil dan proses pembentukan.

MANFAAT LINGUISTIK

Linguistik akan memberi manfaat langsung bagi mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa (linguis, guru bahasa, penyusun buku dan lain-lain).

 

Yuni listyoningrum,1402408006_BAB 2

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 8:56 pm

Nama : Yuni listyoningrum

NIM : 1402408006

Rombel : 04

Kelompok : 02

BAB 2

LINGUISTIK SEGAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.

KEILMUAN LINGUISTIK

Ilmu linguistik telah mengalami 3 tahap perkembangan :

a. Tahap pertama

Tahap spekulasi artinya pengambilan kesimpulan tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.

b. Tahap kedua

Tahap observasi dan klasifikasi artinya tahap mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

c. Tahap ketiga

Tahap perumusan teori. Tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan mengenai masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan dan menyusun tes untuk menguji hipotesis terhadap fakta yang ada.

· Linguistik mementingkan data empiris dalam penelitiannya. Kegiatan empiris bekerja secara induktif dan deduktif. Kegiatan dimulai dengan mengumpulkan data empiris, dianalisis, dan diklasifikasikan kemudian ditarik kesimpulan umum. Biasa disebut kesimpulan induktif.

Dalam ilmu logika terdapat penalaran induktif dan penalaran deduktif.

Penalaran induktif yaitu data-data khusus yang dikumpulkan lalu ditarik kesimpulan umum. Penalaran deduktif yaitu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang ada.

Kesimpulan deduktif dari premis mayor terhadap data khusus (premis Minor).

· Ciri-ciri hakiki bahasa :

1. Bahasa adalah bunyi ujaran, bahas lisan (primer) dan bahasa tulis (sekunder).

2. Bahasa bersifat unik, setiap bahasa memiliki ciri khas masing-masing meski terdapat beberapa kesamaan.

3. Bahasa adalah suatu sistem, bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan.

4. Bahasa bersifat dinamis (berubah dari waktu ke waktu). Secara sinkronik : mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada masa waktu tertentu atau terbatas. Studi sinkronik bersifat deskreptif, memberikan gambaran keadaan bahasa itu apa adanya. Secara diakronik : mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangan sepanjang kehidupan bahasa itu. Studi diakronik disebut studi historis komparatif.

5. Bersifat empiris, mendekati bahasa secara deskriptif tidak preskriptif.

SUBDISIPLIN LINGUISTIK

a. Berdasarkjan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya / bahasa tertentu.

ü Linguistik umum : mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum.

ü Linguistik khusus : mengkaji kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu.

b. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa.

ü Linguistik sinkronik : mengkaji bahasa pada masa terbatas (linguistik deskriptif).

ü Linguistik diakronik : mengkaji bahasa pada masa tidak terbatas (bersifat historis dan komparatif)

Tujuannya untuk mengetahui sejarah struktural dengan segala perubahan dan perkembangannnya.

c. Berdasarkan objek kajiannya, struktur internal bahasa (hubungannya dengan faktor di luar bahasa)

ü Linguistik mikro : Kajiannya pada struktur internal bahasa.

ü Linguistik makro : menyelidiki bahasa yang berkaitan dengan faktor di luar bahasa.

Sub disiplin linguistik makro :

a. sosiolinguistik : mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.

b. Antropolinguistik : mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.

c. Stilistika : mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk karya sastra.

d. Filologi : mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa terdapat dalam bahan tertulis.

e. Dialektologi : mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

d. Berdasarkan tujuannya

ü Linguistik teoretis : beruasaha untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu.

ü Linguistik terwapan :beruasaha memecahkan masalah-masal praktis yang terdapat di dalam masyarakar.

e. Berdasarkan aliran atau teori

ü Linguistik tradisional

ü Linguistik struktural

ü Linguistik transformasional

ü Linguistik generatif semantik

ü Linguisti relasional

ü Linguistik sistemik

ANALISIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa (semua tataran tingkat bahasa) yaitu fonetik, fenemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

a. Struktur, Sistem dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dalam buku Course de Linguistique General. Membedakan dua jenis hubungan antara satuan-satuan bahasa relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkrit. Relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa namun tidak tampak dalam susunan kalimat.

b. Analisis bawahan langsung

Sering disebut juga analisis unsur langsung yaitu suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur yang membangun suatu satuan bahasa, kata, frase, klausa, kalimat. Manfaatnya menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada wacana.

c. Analisis rangkaian unsur : bahwa setiap satuan bahasa ditata dari unsur-unsur laijn.

Analisi persis unsur : merupakan hasil dan proses pembentukan.

MANFAAT LINGUISTIK

Linguistik akan memberi manfaat langsung bagi mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa (linguis, guru bahasa, penyusun buku dan lain-lain).

 

yuyun amalia_1402408067_BAB II

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:43 pm

NAMA : YUYUN AMALIA

NIM : 1402408067

BAB II

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

A. Keilmiahan Linguistik

Pada dasarnya setiap ilmu,termasuk ilmu linguistik,telah mengalami tiga tahap perkembangan, melip[uti :

1. tahap spekulasi ; tahap pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spikulatif artinya kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.

2. tahap observasi dan klasifikasi ; para ahli dibidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

3. tahap adanya perumusan teori ; setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Dari tiga tahap tersebut disiplin linguistik dapat dikatakan merupakan kegiatan ilmiah atau ketidak spekulatifan dalam penarikan kesimpulan juga merupakan ciri keilmiahan. Tindakan tidak spekulatif berarti tindakan itu dalam menarik kesimpulan harus didasarkan pada data empiris yakni data yang nyata adanya, yang didapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi.

B. Subdisiplin Linguistik

Beberapa pengelompokan nama-nama subdisiplin linguistik didasarkan pada :

1. Objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu, dapat dibedakan :

a. Linguistik umum

Linguistik yang ebrusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Pernyataan-pernyataan teoritis yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya.

b. Linguistik khusus

Linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu. Kajian khusus ini bisa juga dilakukan terhadap satu rumpun atau subrumpun bahasa.

2. objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa, dapat dibedakan :

a. Linguistik sinkronik

Mengkaji bahasa pada masa terbatas. Studi linguistik sinkronik ini biasa juga disebut linguistik deskriptif kerena berupaya mendiskripsikan bahasa secara apa adanya pada suatu masa tertentu.

b. Linguistik diakronik

Berupaya mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas. Kajian linguistik diakronik ini biasanya bersifat historis dan komparatif. Hasil kajian diakronik sering kali diperlukan untuk menerangjelaskan diskripsi studi sinkronik.

3. objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannta dengan berbagai faktor diluar bahasa, dapat dibedakan :

a. Linguistik mikro

Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal pada umumnya. Dalam linguistik mikro ada disiplin linguistik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan leksikologi. Studi linguistik mikro sesungguhnya merupakan studi dasar linguistik sebab yang dipelajari adalah struktur internal bahasa itu.

b. Linguistik makro

Linguistik makro menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor di luar bahasa. Linguistik makro terdapat subdisiplin yang sangat banyak seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, antropolinguistik,etnolinguistik, stilistika, filologi, dialektilogi, filsafat bahasa dan neurolonguistik

4. tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori belaka atau untuk tujuan terapan, dapat dibedakan :

a. Linguistik teoretis

Linguistik teoretis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk kepentingan teori belaka.

b. Linguistik terapan

Linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat.

5. teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis obyeknya

Dalam hal ini linguistik memiliki cabang atau bidang subdisiplin yang sangat luas. Karena luasnya cabang atau bidang linguistik ini, maka jelas tak akan ada yang bisa menguasai semua cabang atau bidang linguistik itu. Subdisiplin itu diantaranya linguistik tradisional, relasional, dan linguistik sistemik.

Meskipun cabang atau bidang linguistik itu sangat luas, yang dianggap inti dari ilmu linguistik itu hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa.

C. Analisis Linguistik

1. Struktur, Sistem dan Distribusi

Struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear. Struktur dapat dibedakan menurut tatanan sistematik bahasanya yaitu menurut susunan fonetis, alofonis, morfemis dan sintaksis. Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusu adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.

Dapatlah dikatakan akan adanya substitusi fonemis, morfemis dan sintaksis. Substitusi fonemis menyangkut penggantian fonem dengan fonem lain. Distribusi morfemis menyangkut masalah penggantian sebuah morfem dengan morfem lain. Distribusi sintaksis menyangkut masalah penggantian kata dengan kata, frase dengan frase atau klausa dengan kluasa lainnya.

2. Analisis Bawahan Langsung

Adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, baik satuan kata, frase, klausa ataupun satuan kalimat. Setiap satuan bahasa secara apriori diasumsikan terdiri dari dua buah konstituen yang langsung membangun satuan itu. Misalnya satuan bahasa kata “dimakan”. Unsur langsungnya di dan makan. Contoh satuan yang lebih besar, yang secara kuantitatif terdiri dari beberapa unsur seperti bentuk “dimakani” dimungkinkan unsur langsungnya “di” dan “makani” atau “dimakan” dan “–I”

Perbedaan tafsiran analisis lebih mungkin lagi dapat terjadi pada satuan bahasa yang lebih kompleks. Misalnya :

· Guru baru // datang atau Guru // baru datang

· Istri lurah // yang nakal atau Istri // lurah yang nakal

· Anak // dukun beranak atau Anak dukun // beranak

Maknanya tentu sudah jelas. Meskipun teknik analisis ini banyak kelmahannya tetapi analisis ini cukup memberi manfaat dalam menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada konteks wacananya dapat dipahami dengan analisis tersebut..

3. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain. Sedangkan analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun.

D. Manfaat Linguistik

Linguistik akan memberi manfaat langsung kepada mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa, diantaranya :

· Bagi linguistik sendiri pengetahuan yang luas mengenai linguistik sangat membantu dalam menyelasaikan dan melaksanakan tugasnya.

· Bagi peneliti, kritikus dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik.

· Bagi guru, pengetahuan linguistik sangat penting, mulai dari subdisiplin fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi sampai dengan pengetahuan mengenai hubungan bahasa dengan kemasyarakatan dan kebudayaan.

· Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik diperlukan yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, semantik, sosiolinguistik, kontrstif linguistik.

· Bagi penyusun kamus, semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya.

· Bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks karena memberi tuntunan dalam menyusun kalimat yang tepat, memilih kosa kata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku

· Bagi para politikus, dapat meredam dan menyelesaikan gejolak sosial yang tejadi dalam masyarakat akibat dari perbedaan dan pertentangan bahasa.

 

alvi islami ni’mah 1402408088 bab 2

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:36 pm

Nama  :  alvi islami ni’mah
NIM    :   1402408088

2. LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu tentang bahasa; atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya; atau lebih tepat lagi seperti yang dikatakan Martinet (1987; 19), telaah ilmiah mengenai bahasa manusia.

2.1 KEILMIAHAN LINGUISTIK

Tiga tahap yang terjadi dalam setiap disiplin ilmu, termasuk juga ilmu disiplin, agar kita bisa memahami bagaimana sifat – sifat atau ciri – ciri keilmiahan dari suatu kegiatan yang disebut ilmiah

1. Tahap Spekulasi

Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti - bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur - prosedur tertentu.

Dalam studi bahasa dulu orang mengira bahwa semua bahasa di dunia ini diturunkan dari Bahasa Ibrani. Akan tetapi, itu hanya spekulasi yang pads zaman sekarang sukar diterima.

2. Tahap Observasi dan Klasifikasi

Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apa pun.

3. Tahap Perumusan Teori

Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah - masalah dasar dan mengajukan pertanyaan - pertanyaan mengenai masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dalam disiplin ilmu itu dirumuskan hipotesis atau hipotesis - hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan - pertanyyan itu, dan menyusun tes untuk menguji hipotesis - hipotesis terhadap fakta – fakta yang ada.

Disiplin linguistik dewasa ini sudah mengalami ketiga tahap di atas. Artinya, disiplin linguistik itu sekarang sudah bisa dikatakan merupakan Selain itu, ketidakspekulatifan dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu ciri keilmiahan. Tindakan tidak spekulatif dalam kegiatan ilmiah berarti tindakan itu dalam menarik kesimpulan atau teori harus didasarkan pads , yakni data yang nyata ada, yang didapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi.

Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara deduktif dan induktif yang dikerjakan secara beruntun.. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu baru ditarik suatu kesimpulan berdasarkan data empiris itu.

Dalam ilmu logika ada dua penalaran, deduktif dan induktif.

a. Induktif (khusus - umum

Mula - mula dikumpulkan data – data khusus; lalu, dari data - data khusus itu ditarik kesimpulan umum.

b. Deduktif (umum - khusus

Kebalikan dari induktif. Suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung Pada kebenaran kesimpulan umum yang lazim disebut premis mayor.

Premis Mayor Semua mahasiswa lulusan SMA

Premis Minor Nita seorang mahasiswa (data khusus)

kesimpulan deduktif Nita adalah lulusan SMA

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah - kaidah yang hakiki

dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik Bering juga disebut sebagai

Di muka sudah disebutkan bahwa linguistik mendekati bahasa. Pendekatan bahasa sebagai bahasa

ini, sejalan dengan ciri - ciri hakiki bahasa, dfapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut

1. Pertama, karma bahasa adalah bunyi ajaran, maka linguistik melihat bahasa sebgai bunyi. Artinya, bagi linguistik bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tubs adalah sekunder.

2. Kedua, karma bahasa itu bersifat unik, maka linguistic tidak beruasaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.

3. Ketiga, karma bahasa adalab suatu system, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsure yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsure yang sate dengan lainnya mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsure yang saling berhubungan, atau sebagai sitem itu, disebut. Lawannya, yaitu yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsure – unsure yang terlepas, yang berdiri sendiri - sendiri.

4. Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu (dinamis). Karena itu, linguistik mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik.

Sinkronik, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dalam kurun waktu tertentu, Studi ini bersifat deskriptif karma, hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pads kurun waktu yang terbatas itu.

Diakronik, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu. Studi ini lazim disebut

5. Kelima, karma sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif bukan secara peskriptif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang dan bukan apa yang menurut si peniliti seharusnya diungkapkan.

2.2 SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang - bidang bawahan (subdisiplin) atau cabang - cabang berkenaan dengan adnya hubungan disiplin itu dengan masalah - masalah lain. Pencababgan itu diadakan karma objek yang menjadi kajian disiplin ilmu. itu sangat luas atau menjadi luas karena perkembangan dunia ilmu.

Pengelompokan subdisiplin linguistik berdasarkan

a. objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu,

b, objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau sepanjang masa,

c. objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannya dengan

berbagai faktor di luar bahasa,

d, tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori atau untuk tujuan terapan, e, teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

2.2.1 Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistic umum dan linguistik khusus

Linguistik umum, linguistik yang berusaha mengkaji kaidah - kaidah bahasa secara umum.

Linguistik khusus, berusaha mengkaji kaidah - kaidah bahasa yang berlaku pads bahasa tertentu, seperti Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, atau Bahasa Jawa.

Kajian umum dan khusus ini dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa atau juga hanya pada tataran dari sistem bahasa itu. Oleh karena itu, mungkin ada studi mengenai fonologi umum atau khusus, morfologi umum atau khusus.

2.2.2 Berdasarkan objek kajiannya, apakah babasa pads mesa tertentu atau bahasa pads
sepanjang mass dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik den linguistik diakronik

Linguistik sinkronik, mengkaji bahasa pads mesa yang terbatas. Misal, mengkaji Bahasa Indonesia pads tahun due puluhan, Bahasa Inggris pads zaman William Shakespeare. Studi linguistik sinkronik ini biasa disebut , karena berupaya mendeskripsikan bahasa secara spa adanya pads mass tertentu.

Linguistik diakronik, mengkaji bahasa pads mesa yang tak terbatas. Kajian Iniguistik diakronik ini bersifat histories den komparatif. Sering disebut . Tujuan linguistik diakronik ini adalah untuk mengetahui sejarah struckural bahasa itu beserta dengan segala bentuk perubahan den perkembangannya.

2.2.3 Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu deism hubungannya dengan faktor – faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro den linguistik makro

Linguistik mikro, mengarahkan kajiannya pads struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal suatu bahasa pads umumnya. Sejalan dengan adanya subsistem bahasa, make deism linguistic mikro terdapat subdisiplin

a. Fonologi : menyelidiki ciri – ciri bunyi bahasa, cars terjadinya, den fungsinya deism sistem ketatabahasaan secara keseluruhan.

b. Morfologi : menyelidiki struktur kata, bagian - bagiannya, serfs cars pembentukannya.

c. Sintaksis : menyelidiki satuan - satuan kata den satuan – satuan lain di atas kata, hubungan seta dengan yang lainnya, serfs care penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran. Morfologi den sintaksis deism peristilahan tradisional biasanya berada deism seta bidang yaitu gramatika atau tats bahasa.

d. Semantik : menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun

kontekstual.

e. Leksikologi : menyelidiki leksikon atau kosa-kata suatu bahasa dari berbagai aspeknya.

Linguistik makro, yang menyelidiki bahasa deism kaitannya dengan faktor – faktor di luar bahasa. Subdisiplin linguistik makro

a. Sosiolinguistik subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa deism hubungan pemakaiannya di masyarakat, mambahas tentang pemakai den pemakaian bahasa, tempat pernakaian bahasa, tats tingkat bahasa, berbagai akibat adanya kontak due bush bahasa atau lebih, den ragam serfs waktu pemakaian ragam bahasa itu. Ilmu interdisipliner enters sosiologi den linguistik.

b. Psikolinguistik : subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku den akal budi manusia, termasuk bagaimana kemampuan berbahasa itu dapat diperoleh. Ilmu interdipliner enters psikologi den linguistik.

c. Antropolinguistik : subdisiplin linguistic yang mempelajari hubungan bahasa dengan budaya den pranata manusia. Ilmu interdisipliner enters antropologi den linguistik.

d. Stilistika subdisiplin linguistik yang rnempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk - bentuk karya sastra. Ilmu disipliner linguistik den susastra.

e. Filologi subdisiplin linguisti yang mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, din se iarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan - bahan tertulis. Bahan atau teks yang dikaji biasanya adlah naskah kuno atau naskah klasik yang dimiliki suatu bangsa. Ilmu disipliner enters linguistik, se iarah, den kebudavaan.

f. Filsafat bahasa subdisiplin linguistik yang mempelaiari kodrat hakiki den kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serfs dasar - dasar konseptul den teoritis linguistik. Dalam filsafat bahasa ini terlibat ilmu linguistic din ilmu filsafat.

g. Dialektologi subdisiplin linguistik yang mempelajari Batas - bates dialek den bahasa dalam suatu wilayah tertentu. Ilmu interdisipliner enters linguistik den geografi.

2.2.4 Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata - mate untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari - hari hiss dibedakan adanya linguistik teoritis den linguistik terapan

Linguistik teoritis, mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa – bahasa, atau iuQa terhadap hubungan bahasa dengan faktor - faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah - kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu (teori belaka ).

Linguistik terapan, mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor - faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah - masalah praktis yang terdapat dalam masyarakat. Missal, pemyelidikan linguistik untuk kepentingan pengajaran bahasa, penyusunan buku ajar.

2.2.5 Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistic structural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, den linguistik sistemik

Di luar bidang atau cabang yang sudah dibicarakan di atas masih ada bidang lain, yaitu yang menggeluti sejarah linguistik. Bidang sejarah linguistik ini berusaha menyelidiki perkembangan seluk beluk ilmu linguistik itu sendiri dari masa ke masa, serta mempelajari pengaruh ilmu - ilmu lain, dan pengaruh berbagai pranata masyarakat terhadap linguistik sepanjang masa.

2.3 ANALISTS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, vaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, den semantic.

2.3.1 Struktur. Sistem, dan Distribusi

Bapak linguistik modern, dalam bukunya Course de LinQuistiq_ue Generate membedakan adanya dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat anatara satuan - satuan bahasa, vaitu

1 Relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat enters satuan bahasa di dalam kalimat yang

kpnkret

1 Relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat. Hubungan asosiatif ini baru tampak bila suatu kalimat dibandingkan dengan kalimat lain. Misalnya, dalam kalimat : Dia mengikut ibunya terdapat 15 buah fonem yang berkaitan dengan cara tertentu; ada 3 buah kata yang hubungannya tertentu pula; dan ada 3 fungsi sintaksis, yaitu subjek, predikat, den objek, yang mempunvai hubungan yang tertentu pula.

Hubungan - hubungan yang teriadi di antara satuan - satuan bahasa itu, baik antara fonem yang satu dengan yang lain, maupun antara kata yang satu dengan yang lain, disebut bersifat sintagmatis. Jadi, hubungan sintagmatis ini bersifat linear, atau horizontal antara satuan yang satu dengan yang lain.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa struktur adalah susunan bagian - bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear. Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis. menurut susunan alofonis, menurut susunan morfemis. den menurut susunan sintaksis.

Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Ditribusi, menurut Leonard Bloomfield adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnva. Dari keterangan tersebut dapat dibedakan menjadi 3 penggantian (substitusi) suatu konstituen, yaitu

o Subtitusi fonemis

Menyangkut penggantian fonem dengan fonem yang lain.

Misalnya, dalam pasangan minimal dari Vs lari, kuda Vs kura, den tambal Vs tambat.

o Subtitusi morfemis

Menyangkut masalah penggantian sebuah modem dengan modem yang lainnva.

Misalnya, mengikut Vs diikuti Vs terikut; daya juang Vs medan juang; den tuna karya Vs

Tuna wisma.

o Distribusi Sintaksis

Menyangkut masalah penggantian kata dengan kata, frase dengan frase, atau klausa dens_ an klausa lainnya.

2.3.2 ANALISIS BAWAHAN LANGSUNG

Sering disebut jugA analisis unsur langsung, atau analisis bawahan terdekat adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur - unsur atau konstituen - konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan fase, satuan klausa, maupun satuan kalimat. Setiap satuan bahasa secara apriori diasumsikan terdirir dari due bush konstituen yang langsung membangun satuan itu.

Meskipun teknik analisis bawahan langsung ini banyak kelemahannya, tetapi analisis ini cukup memberi manffat dalam memahami satuan - satuan bahasa, bermanfaat dalam menghindari keambiguan karma satuan - satuan bahasa yang terikat pads konteks wacananya dapat dipahami dengan ‘analisis tersebut. Tanpa konteks wacana atau konteks paragraph tafsiran ganda memang bisa raja terjadi, tetapi dengan konteks wacan tafsiran ganda itu tidak mungkin terjadi. Misalnya pads kalimat : Istri lurah yang nakal. Setelah membacaa kalimat tersebut pasti akan muncul pertanyaan, yang nakal si lurch atau si istri?

233 Analisis Rangkaian Unsur den Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setai satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur - unsur lain. Misalnya, satuan tertimbun terdiri dari ter + timbun, satuan kedinginan terdiri dari dingin + ke­/-an. Jadi, dalam analisis rangkaian unsure ini setiap satuan “terdiri dari …” bukan “dibentuk dari …” sebagai hasil dari suatu proses.

Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan kata dasar timbun, bentuk kedinginan adalah hasil proses konfiksasi ke - /-an dengan loser dingin.

Dalam bahasa Indonesia ads sate persoalan sehubungan dengan analisis proses unsur ini. Misainya pads kata membangun din pembangunan.Membangun basil prefikasasi me- dengan bentuk dasar bangun. Make apakah bentuk pembanganan adalah basil proses konfiksasi pe- / -an dengan bentuk bentuk dasar bangun atau bukan, sebab makna pembangunan adalah ‘hal membangun’ atau ‘proses mambangun’. Jadi, secara semantis pembangunan adalah basil proses konfiksasi Iv-/ -an dengan dasar membangun. Atau setidaknya hares dikatakan bentuk pembangunan berasal dari verbs membangun, bukan dari verbs bangun.

Membangun => prefiksasi me- + bangun

Pembangunan => konfiksasi pe- /-an + membangun

2.4 MANFAAT LINGUISTIK

Linguistik akan memberi manfaat langsung kepada mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa, seperti linguis itu sendiri, guru bahasa, penerjemah, penyusun buku pelajaran, den sebagainya.

Bagi linguis sendiri pengetahuan yang loss mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan den melaksanakan tugasnya.

Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya - karya sastra dengan lebih baik, sebab bahasa, yang menjadi objek penelitian linguistik itu, merupakan wadah pelahiran karya sastra.

Bagi guru, terutama guru bahasa, pengetahuan linguistik sangat penting. Mereka yang menguasai pengetahuan linguistik akan daoat dengan lmudah menyampaikan mats pelajarannya.

Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik saja, tetapi juga yang berkenaan dengan sosiolinguistik din konstratif memilih terjemahan.

Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperlukan, sebab semua pengetahuan lingistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya.untuk big menyusun sebuah kamus dia hares mulai dengan menentukan fonem - fonem bahasa yang akan dikamuskan, menentukan ejaan atau grafem fonem - fonem tersebut memahami seluk beluk bentuk den pembentukan kata, struktur Erase, struktur kalimat, makna leksikal, makna gramatikal, makna konstektual, dan makna idiomatical, serta latar belakang social bahasa tersebut.

Bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks linguistik akan memberi tuntunan dalam menyusun kalimat yang tepat, memilih kosakata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku tersebut.

Bagi para negarawan atau politikus yang harUs memperiuangkan ideologi dAn konsep - konse kenegaraan atau Pemerintahan. secara lisan dia harUs menguasai bahasa dengan baik. Selanjutnya, kalau politikus atau negarawan itu menguasai masalah linguistic dan sosiolinguistik, khususnya, dalam kaitannya dengan kemasyarakatan, maka tentu dia akan dapat meredam dan menyelesaikan gejolak social yang terjadi dalam masyarakat akibat dari vperbedaan dan pertentangan bahasa. Di beberapa Negara yang multilingual, seperti India dan Belgia, pernah terjadi bentrokan fisik akibat masalah pertentangan bahasa.

 

WRESTA PERMANA _1402408008_BAB 2_ROMBEL 5

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:34 pm

Nama : Wresta Permana

NIM : 1402408008

BAB 2

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Lingusitik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai obyek kajiannya.

BENARKAH LINGUISTIK ADALAH SEBAGAI ILMU ???

A. Keilmiahan linguistik

Pada dasarnya setiap ilmu telah mengalami 3 tahap perkembangan,yaitu :

1. Tahap Spekulasi

Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif .

Artinya : kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa prosedur-prosedur tertentu .

2. Tahap observasi dan klarifikasi

Dalam tahap ini para ahli dibidang bahasa dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun .

3. Tahap adanya perumusan teori

Dalam tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha mendalami / memahami masalah-masalah dasar dan mengjukan pertanyaan – pertanyaan mengenai masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan . Kemudian dalam disiplin ilmu itu dirumuskan hipotesis / hipotesis-hipotesis yang berusaha menjawab pertanyanaan-pertanyaan itu dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada .

B. Metode yang digunakan dalam Linguistik

1. Metode Secara Induktif

Mula-mula dikumpulkan data khusus lalu dari data-data khusus ditarik kesimpulan umum .

2. Metode secara deduktif

Mula – mula dikumpulkan data-data umum lalu dari data – data umum ditarik kesimpulan khusus.

Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya itulah sebabnya bidang semantik tidak / kurang mendapatkan perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna yang menjadi obyek simantik yidak dapat diamati secara empiris .

Linguistik berusaha mencari keteraturan / kaidah – kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya karena itu linguistik linguistik sering disebut ilmu sebagai ilmu Nomotenik .

Pendekatan dan pandangan linguistik terhadap objek kajiannya yaitu bahasa . Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini sejalan dengan ciri – ciri hakiki bahasa . Pertama karenabahasa adalah bunyi ajaran ,kedua karena bahasa itu bersifat unik , ketiga karena bahasa adalah suatu sistem , keempat karena bahasa berubah dari waktu kewaktu ,kelima karena sifat empirisnya .

C. Subdisiplin Linguistik

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang – bidang bawahan / cabang – cabang berkenanan dengan masalah- masalah lain pembagian itu dilakukankarena obyek menjadikan disiplin ilmu itu sangant luas / menjadi luas karena perkembangan dunia ilmu.

Bahasa sepanjang masa dapat dibedakan adanya Linguisik sinkronik dan linguistik diakronik .

1. Linguistik Sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas . Studi Linguistik Sinkronik ini disebut juga linguistik Deskriptif .

2. Linguistik Diakronik berupaya mengkaji bahasa paa masa yang tidak terbatas . Kajian linguistik Diakronik ini biasanya bersifat historis dan komparatif .

Bahasa itu dalam hubungan dengan faktor – faktor luar bahasa itu dalam hubunganya dengan faktor – faktor diluar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan Linguistik Makro .

1. Linguistik Mikro mengarahkan kajiannya pada struktur Internalsuatu bahan tertentu .

2. Linguistik Makro menyelidiki bahasa dalam kajiannya dengan faktor – faktor dari luar .

Berdasarkan tujuannya penyelidikan Linguistik dapat dibedakan menjadi dua :

1. Linguistik Teoritis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa / bahasa – bahasa juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor – faktor yang berada diluar bahasa hanya untuk menemukan kaidah – kaidah yang berlaku dalam obyek kajiannya itu .

2. Linguistik Terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa / hubungan bahasa dengan faktor – faktor yang berada diluar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah – masalah praktis yang terdapat di masyarakat.

D. Struktur , Sistem, dan Distribusi

Bapak Linguistik modern “ Ferdinand de Saurseire (1857 – 1913) dalam bukunya Course de Linguistik General (1916) membedakan adanya dua jenis hubungan / relasi yang terapan antara satuan – satuan bahasa yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiasif.

1. Relasi Sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa didalam kalimat yang konkret tertentu . Hubungan Sintagmatik bersifat Linear / Horizontal antara satuan yang satu dengan yang lain yang berada di kiri dan kanannya.

2. Relasi Asosiasif Adalah Hubungan yang terdapat dalam bahasa namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat. Hubungan asosiasif baru tampak bila suatu kalimat dibandingkan dengan kalimat yang lain.

Louis Hjmelm ,linguis denmark menganti istilah asosiasif menjadi Paradikmatik. Sruktur dapat dibedakan menurut tatanan sistematik bahasanya , sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi , Distribusi merupakan masalah dapat tidaknya pergantian suatu konsituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konsituen yang lain.

E. Analisis Bawahan Langsung

Adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur – unsur / konsituen – konsituen yang membangun satu satuan bahasa , entah suatu kata , satuan frase , satuan klusa maupun satuan kalimat.

F. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis dan Analisis Proses Unsur

Suatu bagasa dapat pula dianalisis menurut teknik analisis rangkaian unsur dan analisis proses unsur.

1. Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk / ditata dari unsur – unsur lain.

2. Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari proses pembentukan.

G. Manfaat Linguistik

Setiap Ilmu pasti mempunyi manfaat praktis bagi kehidupan manusia begitu juga dengan Linguistik . Bagi guru pengetahuan Linguistik sangatlah penting mulai supdisiplin fonologi , morfologi , sampai dengan pengetahuan mengenai hubungan bahasa dengan kemasyarakatan dan kebudayaan . Guru akan dapat merumuskan kaidah – kaidah preskriptif dari kaidah – kaidah deskriptif sehingga pelajaran dapat berhasil dengan baik . Manfaat Linguistik bukan hanya untuk atau bagi guru, penerjemah , penyusun kamus , dan politikus juga sangat bermanfaat.

 

WIWIN RETNANI 1402408187 BAB 2

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:31 pm

Nama : Wiwin Retnani

NIM : 1402408187

Rombel : 04

Kelompok : 7

BAB 2

LINGUISTIK SEGAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.

KEILMUAN LINGUISTIK

Ilmu linguistik telah mengalami 3 tahap perkembangan :

a. Tahap pertama

Tahap spekulasi artinya pengambilan kesimpulan tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.

b. Tahap kedua

Tahap observasi dan klasifikasi artinya tahap mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

c. Tahap ketiga

Tahap perumusan teori. Tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan mengenai masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan dan menyusun tes untuk menguji hipotesis terhadap fakta yang ada.

· Linguistik mementingkan data empiris dalam penelitiannya. Kegiatan empiris bekerja secara induktif dan deduktif. Kegiatan dimulai dengan mengumpulkan data empiris, dianalisis, dan diklasifikasikan kemudian ditarik kesimpulan umum. Biasa disebut kesimpulan induktif.

Dalam ilmu logika terdapat penalaran induktif dan penalaran deduktif.

Penalaran induktif yaitu data-data khusus yang dikumpulkan lalu ditarik kesimpulan umum. Penalaran deduktif yaitu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang ada.

Kesimpulan deduktif dari premis mayor terhadap data khusus (premis Minor).

· Ciri-ciri hakiki bahasa :

1. Bahasa adalah bunyi ujaran, bahas lisan (primer) dan bahasa tulis (sekunder).

2. Bahasa bersifat unik, setiap bahasa memiliki ciri khas masing-masing meski terdapat beberapa kesamaan.

3. Bahasa adalah suatu sistem, bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan.

4. Bahasa bersifat dinamis (berubah dari waktu ke waktu). Secara sinkronik : mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada masa waktu tertentu atau terbatas. Studi sinkronik bersifat deskreptif, memberikan gambaran keadaan bahasa itu apa adanya. Secara diakronik : mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangan sepanjang kehidupan bahasa itu. Studi diakronik disebut studi historis komparatif.

5. Bersifat empiris, mendekati bahasa secara deskriptif tidak preskriptif.

SUBDISIPLIN LINGUISTIK

a. Berdasarkjan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya / bahasa tertentu.

ü Linguistik umum : mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum.

ü Linguistik khusus : mengkaji kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu.

b. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa.

ü Linguistik sinkronik : mengkaji bahasa pada masa terbatas (linguistik deskriptif).

ü Linguistik diakronik : mengkaji bahasa pada masa tidak terbatas (bersifat historis dan komparatif)

Tujuannya untuk mengetahui sejarah struktural dengan segala perubahan dan perkembangannnya.

c. Berdasarkan objek kajiannya, struktur internal bahasa (hubungannya dengan faktor di luar bahasa)

ü Linguistik mikro : Kajiannya pada struktur internal bahasa.

ü Linguistik makro : menyelidiki bahasa yang berkaitan dengan faktor di luar bahasa.

Sub disiplin linguistik makro :

a. sosiolinguistik : mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.

b. Antropolinguistik : mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.

c. Stilistika : mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk karya sastra.

d. Filologi : mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa terdapat dalam bahan tertulis.

e. Dialektologi : mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

d. Berdasarkan tujuannya

ü Linguistik teoretis : beruasaha untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu.

ü Linguistik terwapan :beruasaha memecahkan masalah-masal praktis yang terdapat di dalam masyarakar.

e. Berdasarkan aliran atau teori

ü Linguistik tradisional

ü Linguistik struktural

ü Linguistik transformasional

ü Linguistik generatif semantik

ü Linguisti relasional

ü Linguistik sistemik

ANALISIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa (semua tataran tingkat bahasa) yaitu fonetik, fenemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

a. Struktur, Sistem dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dalam buku Course de Linguistique General. Membedakan dua jenis hubungan antara satuan-satuan bahasa relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkrit. Relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa namun tidak tampak dalam susunan kalimat.

b. Analisis bawahan langsung

Sering disebut juga analisis unsur langsung yaitu suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur yang membangun suatu satuan bahasa, kata, frase, klausa, kalimat. Manfaatnya menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada wacana.

c. Analisis rangkaian unsur : bahwa setiap satuan bahasa ditata dari unsur-unsur laijn.

Analisi persis unsur : merupakan hasil dan proses pembentukan.

MANFAAT LINGUISTIK

Linguistik akan memberi manfaat langsung bagi mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa (linguis, guru bahasa, penyusun buku dan lain-lain).

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.