Tugas Bahasa Indonesia’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Eryca Sherina P.;1402408094 Oktober 20, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 12:55 pm

Nama : Eryca Sherina P.

NIM : 1402408094

BAB 2

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

2. 1. Keilmiahan Linguistik

Pada dasarnya setiap limu, termasuk juga ilmu linguistik, tetap mengalami tiga tahap perkembangan sebagai berikut.

Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa prosedur-prosedur tertentu. Tindakan spekulatif seperti ini kita lihat misalnya, dalam bidang geografi dulu orang berpendapat bahwa bumi ini berbentuk datar seperti meja. Kalau ditanya apa buktinya, atau bagaimana cara membuktikannya, tentu tidak dapat dijawab, atau kalaupun dijawab akan secara spekulatif pula. Padahal seperti yang kita tahu, bahwa pandangan atau penglihatan kita seringkali tidak sesuai dengan kenyataan atau kebenaran faktual.

Dalam studi bahasa dulu orang mengira bahwa semua bahasa di dunia diturunkan dari bahasa Ibrani, maka orang juga mengira Adam dan Hawa memakai bahasa Ibrani di Taman Firdaus. Bahkan sampai akhir abad-17 seorang filosof Swedia masih menyatakan bahwa di Surga Tuhan berbicara dengan Swedia, Adam berbahasa Denmark, ular berbahasa Perancis. Semua itu hanyalah spekulasi yang pada zaman sekarang sukar diterima.

Tahap kedua, adalah tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli dibidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Kebanyakan ahli sebelum perang kemerdekaan baru bekerja sampai tahap ini. Bahasa-bahasa di Nusantara didaftarkan, ditelaah ciri-cirinya, lalu dikelompokkan berdasarkan kesamaan-kesamaan ciri yang dimiliki bahasa-bahasa tersebut. . Cara seperti ini belum dikatakan “ilmiah” karena belum sampai tahap penarikan suatu teori. Pada saat ini cara kerja tahap kedua ini tampaknya masih diperlukan bagi kepentingan dokumentasi kebahasaan di negeri kita, sebab masih banyak sekali bahasa di Nusantara ini yang belum terdokumentasikan.

Tahap ketiga, adalah tahap adanya perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dalam disiplin itu dirumuskan hipotesis atau hipotesis-hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu; dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Disiplin linguistik dewasa ini sudah mengalami ketiga tahap diatas. Artinya, disiplin linguistik itu sekarang sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah. Selain tiu bisa dikatakan ketidakspekulatifan dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu ciri keilmiahan. Tindakan spekulatif dalam kegiatan ilmiah berarti tindakan itu dalam menarik kesimpulan atau teori harus didasarkan pada data empiris, yakni data yang nyata ada, yang terdapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi. Jadi kesimpulan yang dibuat pada kegiatan ilmiah hanya berlaku selama belum ditemukannya data baru yang dapat membatalkan kesimpulan itu.

Kegiatan linguistik juga tidak boleh “dikotori” oleh pengetahuan atau keyakinan si peneliti. Umpamanya, menurut pengetahuan kita jika prefiks me – diimbuhkan pada kata dasar yang mulai dengan vokal maka akan muncul –ng–. oleh karena itu, bentuk merubah yang nyata-nyata secara empiris ada, kita katakan adalah bentuk yang salah. Seharusnya adalah mengubah, yaitu dari prefiks me – ditambah dengan bentuk dasar ubah.

Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu. Kesimpulan ini biasanya disebut kesimpulan induktif. Kemudian kesimpulan ini “diuji” lagi pada data empiris yang diperluas, maka kesimpulan itu berarti semakin kuat kedudukannya. Apabila data baru itu tidak cocok dengan kesimpulan itu, maka berarti kesimpulan itu menjadi goyah kedudukannya. Jadi, perlu diwaspadai dan direvisi.

Dalam ilmu logika atau ilmu menalar selain adanya penalaran secara induktif , mula-mula dikumpulkan data-data khusus, lalu dari data-data khusus ditarik kesimpulan umum, secara deduktif adalah kebalikannya. Artinya, suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif sangat bergantung pada kebenaran kesimpulan umum, yang lazim disebut premis mayor, yang dipakai untuk menarik kesimpulan deduktif itu.

Sebagai ilmu empiris, linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik sering disebut nomotetik. Kemudian sesuai dengan predikat keilmiahan yang disandangnya linguistik tidak pernah berhenti pada satu titik kesimpulan, tetapi akan terus menyempurnakan kesimpulan tersebut berdasarkan data empiris selanjutnya.

Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini, sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa, dapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut:

Pertama, karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya bagi linguistik, bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tulis adalah sekunder.

Kedua, karena bahasa bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.

Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan yang lainnya mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan, atau sebagai sistem itu, disebut pendekatan struktural. Lawannya disebut pendekatan otomatis, yaitu yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, yang berdiri sendiri-sendiri.

Keempat, karena bahasa dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Lalu karena itu pula linguistik mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik artinya mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada kurun waktu tertentu. Studi sinkronik bersifat deskriptif karena linguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya dalam kurun waktu terbatas. Secara diakronik, artinya mempelajari bahasa dengan berbagai aspek dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu. Secara diakronik sering juga disebut studi histori komparatif.

Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskripstif dan tidak secara prespektif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut si peneliti seharusnya diungkapkan.

2. 2. Subdisiplin Linguistik

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin) atau cabang-cabang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah-masalah lain. Pembagian atau pencabangan itu diadakan tentunya karena objek yang menjadi kajian disiplin ilmu itu sangat luas atau menjadi luas karena perkembangan dunia ilmu.

Mengingat bahwa objek linguistik, yaitu bahasa, merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan manusian bermasyarakat, sedangkan kegiatan itu sangat luas, maka subdisiplin atau cabang linguistik itu sangat luas atau menjadi luas karena perkembangan dunia ilmu. Dalam buku ini kita akan mencoba mengelompokkan nama-nama subdisiplin linguistik itu.

2. 2. 1. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus.

Linguistik umum: linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Kajian umum dan khusus ini dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa atau juga hanya pada satu tataran dari sistem bahasa itu. Pembicaraan dalam buku ini terutama hanya mengenai fonologi, morfologi, dan sintaksis bahasa pada umumnya.

2. 2. 2. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan diakronik.

Linguistik sinkronik/deskriptif: mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. misalnya mengkaji bahasa pada tahun dua puluhan, bahasa Jawa dewasa ini. Studi linguistik sinkronik ini biasa disebut juga linguistik deskriptif, karena berupaya mendeskripsikan bahasa secara apa adanya pada masa tertentu.

Linguistik diakronik: berupaya mengkaji bahasa (atau bahasa-bahasa) pada masa tidak terbatas. Kajian linguistik diakronik ini biasanya bersifat historis dan komparatif. Tujuan linguistik diakronik ini terutama adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa itu beserta dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya.

2. 2. 3. Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa/bahasa itu hubungannya dengan faktor-faktor diluar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro (Mikrolinguistik dan makrolinguistik).

Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya. Fonologi menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa, cara terjadinya dan fungsinya dalam sistem kebahasaan secara keseluruhan. Morfologi menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya serta cara pembentukannya. Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain diatas kata, hubungan satu dengan yang lainnya, serta cara penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran. Morfologi dan sintaksis dalam peristilahan tata bahasa tradisional biasanya berada dalam satu bidang yaitu gramatika atau tata bahasa. Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun kontekstual. Leksikologi menyelidiki liksikon atau kosakata suatu bahasa dari berbagai aspek.

Studi linguistik mikro ini sesungguhnya merupakan studi dasar linguistik sebab yang dipelajari adalah struktur internal bahasa itu. Sedangkan linguistik makro yang menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor diluar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar bahasanya daripada struktur internal bahasa. Karena banyaknya masalah yang terdapat diluar bahasa, maka subdisiplin linguistik makropun menjadi sangat banyak.

Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Sosiolinguistik ini merupakan ilmu interdisipliner antara sosiologi dan linguistik. Psikolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia, termasuk bagaimana kemampuan berbahasa itu dapat diperoleh. Jadi, psikolinguistik ini merupakan ilmu interdisipliner antara psikologi dan linguistik. Antropolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia. Antropolinguistik merupakan ilmu interdisipliner antara antropologi dan linguistik. Stilistika adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra. Jadi, stilistika adalah ilmu interdisipliner antara linguistik dan ilmu susastra. Filologi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Filologi merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik, sejarah, dan kebudayaan. Filsafat bahasa adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Dialektologi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu. Dialektologi ini merupakan ilmu interdisipliner antara linguistik dan geografi.

2. 2. 4. Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoretis dan linguistik terapan

Linguistik teoretis: mengadakan penyelidikan terhadap bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya. Kegiatannya hanya untuk kepentingan teori belaka.

2. 2. 5. Berdasarkan teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional dan linguistik sistemik.

Bidang sejarah linguistik ini berusaha menyelidiki perkembangan seluk beluk ilmu linguistik itu sendiri dari masa ke masa, serta mempelajari pengaruh ilmu-ilmu lain, dan pengaruh pelbagai pranata masyarakat (kepercayaan, adat istiadat, pendidikan, dsb) terhadap linguistik sepanjang masa.

Dari uraian di atas kita lihat betapa luasnya bidang, cabang, atau subdisiplin linguistik itu. Ini terjadi karena objek linguistik itu, yaitu bahasa, memang mempunyai jangkauan hubungan yang sangat luas di dalam kehidupan manusia.

2. 3. ANALISIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

2. 3. 1. Struktur, Sistem, dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dalam bukunya Course de Linguitique Generale (terbit pertama kali 1916, terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit 1988) membedakan adanya dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa. Relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkret tertentu; sedangkan relasi asosiatif adalah hubugan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat.

Hubungan-hubungan yang terjadi di antara satuan-satuan bahasa bersifat sintagmatis. Jadi, hubungan sintagmatis ini bersifat linear, atau horizontal antara satuan yang satu dengan yang lain yang berada di kiri dan kanannya.

Louis Hjelmslev, seorang linguis Denmark, mengambil alih konsep de Saussure itu, tetapi dengan sedikit perubahan. Beliau mengganti istilah asosiatif dengan istilah paradigmatik, serta memberinya pengertian yang lebih luas. Hubungan paradigmatik tidak hanya berlaku pada tataran morfologi saja, tetapi juga berlaku untuk semua tataran bahasa.

2. 3. 2. Analisis Bawahan Langsung

Analisis bawahan langsung sering disebut juga analisis unsur langsung, atau analisis bawahan terdekat (Inggrisnya Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan frase, satuan klausa, maupun satuan kalimat. Setiap satuan bahasa secara apriori diasumsikan terdiri dari dua buah konstituen yang langsung membangun satuan itu.

2. 3. 3. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur (Inggrisnya: item-and-arrangement) mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain. Misalnya, satuan tertimbun terdiri dari ter – + timbun, satuan kedinginan terdiri dari dingin + ke –/– an, dan rumah-rumah terdiri dari rumah + rumah. Jadi, dalam analisis rangkaian unsur ini setiap satuan bahasa “terdiri dari . . . “, bukan “dibentuk dari . . . ” sebagai hasil dari suatu proses pembentukan.

Berbeda dengan analisis rangkaian unsur, maka analisis proses unsur (bahasa Inggrisnya: item-and-process) menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi, bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter – dengan dasar timbun, bentuk kedinginan adalah hasil dari proses konfiksasi ke –/– an dengan dasar dingin, dan bentuk rumah-rumah adalah hasil dari reduplikasi terhadap dasar rumah.

2. 4. MANFAAT LINGUISTIK

Bagi linguis sendiri pengetahuan yang luas mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya. Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik, sebab bahasa, yang menjadi objek penelitian linguistik itu, merupakan wadah pelahiran karya sastra.

Bagi guru, terutama guru bahasa, pengetahuan linguistik sangat penting, mulai dari subdisiplin fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi, sampai dengan pengetahuan mengenai hubungan bahasa dengan kemasyarakatn dan kebudayaan. Kalau mereka mempunyai pengetahuan linguistik, maka mereka akan dapat dengan lebih mudah menyampaikan mata pelajarannya.

Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik linguistik, tetapi juga yang berkenaan dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik. Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperlukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya. Tanpa pengetahuan semua aspek linguistik kiranya tidak mungkin sebuah kamus dapat disusun.

Pengetahuan linguistik juga memberi manfaat bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks. Pengetahuan linguistik akan memberi tuntunan bagi penyusun buku teks dalam menyusun kalimat yang tepat, memilih kosakata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku tersebut.

Manfaat linguistik bagi para negarawan atau politikus: Pertama, sebagai negarawan atau politikus yang harus memperjuangkan ideologi dan konsep-konsep kenegaraan atau pemerintahan, secara lisan dia harus menguasai bahasa dengan baik. Kedua, kalau politikus atau negarawan itu menguasai masalah linguistik dan sosiolinguistik, khususnya, dalam kaitannya dengan kemasyarakatan, maka tentu dia akan dapat meredam dan menyelesaikan gejolak sosial yang terjadi dalam masyarakat akibat dari perbedaan dan pertentangan bahasa.

 

Sri Sulistyono;1402408139 Oktober 19, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 3:56 pm

Nama : Sri Sulistyono

NIM : 1402408139

Rombel : 4

BAB 2

LINGUSTIK SEBAGAI ILMU

2 PENGERTIAN

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.Atau lebih tepatnya seperti dikatakan Martinet (1987:19) telaah ilmiah mengenai bahasa manusia

2.1 KEILMIAHAN LINGUISTIK

Sebelum membicarakan keilmiahan lingustik ada baiknya dibicarakan dulu tahap-tahap perkembangan yang pernah terjadi dalam setiap disiplin ilmu, telah mengalami tiga tahap sebagai berikut.

Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Dalam tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu. Misalnya dalam bidang geografi dulu orang berpendapat bahwa bumi ini berbentuk datar seperti meja kalau ditanya apa buktinya atau bagaimana cara membuktikan tentu tidak dapat di jawab atau jika dijawab akan secara spekulatif pula.

Tahap kedua yakni tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli dibidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Pada saat ini cara kerja tahap kedua ini tampaknya masih diperlukan bagi kepentingan dokumentasi kebahasan di negeri ini yang belum terdokumentasikan.

Tahap ketiga adalah tahap adanya perumusan teori.pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan mengenai masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan.

2.2 SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Dalam buku ini kita akan mencoba mengelompokkan nama subdisiplin linguistik itu berdasarkan : (a) objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu, (b) objek kajiannya adalah pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa, (c) objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannya dengan berbagai faktor di luar bahasa,(d) tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori belaka atau untuk tujuan terapan dan (e) teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisa objeknya

2.2.1 Berdasarkan objek kajiannya,apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus.

Lingustik umum adalah lingustik yang berusaha mengkaji kaidah bahasa secara umum.pernyataan teoritis yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya, bukan bahasa tertentu

Linguistik khusus adalah berusaha mengkaji kaidah bahasa tertentu, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, atau Bahasa Jawa

2.2.2 Berdasarkan objek kajian, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan diakronik.

Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas ,biasanya juga lingustik deskriptif. Misalnya mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan, Bahasa Jawa dewasa ini, Bahasa Inggris pada masa William Shakespare.

Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas bisa sejak bahasa itu lahir sampai zaman punahnya bahasa tersebut seperti latin dan sanskerta.

2.2.3 Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro.

Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya.

Linguistik makro yang menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor di luar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar bahasanya itu daripada struktur internal bahasa

2.2.4 Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoritis dan linguistik terapan.

Linguistik teoritis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau terhadap hubungan bahasa dengan faktor yang berada diluar bahasa hanya untuk menemukan kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu. Jadi, kegiatannya hanya untuk kepentingan teori belaka .

Linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah praktis yang terdapat didalam masyarakat.

2.2.5 Berdasarkan aliran atau teoritis yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif, linguistik sematik, lingustik relasional,dan linguistik sistemik.

Dari uraian di atas kita lihat betapa luasnya bidang, cabang, atau subdisiplin linguistik itu. Ini terjadi karena objek linguistik itu yaitu bahasa memang mempunyai jangkauan hubungan yang sangat luas didalam kehidupan manusia.Karena luasnya cabang atau bidang linguistik ini maka jelas tak akan ada yang bisa menguasai semua cabang atau linguistik itu.

2.3 ANALISIS LINGUISTIK .

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa atau lebih tepat terhadap semua tatanan tingkat bahasa yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis dan semantik. Semua tataran sistematika itu akan dibicarakan pada bab-bab selanjutnya. Namun, dalam bab 3 akan di bicarakan dulu apa hakikat bahasa sebagai objek studi linguistik.

2.3.1 Struktur , Sistem, dan Distribusi.

Menurut Verhaar (1978) istilah struktur dan sistem ini lebih tepat untuk digunakan karena istilah tersebut dapat digunakan atau diterapkan pada semua tataran bahasa. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear.

Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi.Distribusi yang merupakan istilah utama dalam analisis bahasa menurut model strukturalis Leonard Bloomfield (tokoh linguis Amerika) adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatau konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya

2.3.2 ANALISIS BAWAHAN LANGSUNG.

Analisis bawahan langsung sering disebut juga analisis unsur langsung atau analisis bawahan terdekat adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen yang membangun suatu satuan bahasa.

Meskipun teknik analisis bawahan langsung ini banyak kesalahannya, tetapi analisis ini cukup memberi manfaat dalam memahami satuan bahasa bermanfaat dalam menghindari keambiguan karena satuan bahasa yang terikat pada konteks wacananya dapat di pahami dengan analisis tersebut

2.3.3 Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur.

Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur lain. Misalnya, satuan tertimbun terdiri dari ter- + timbun, satuan kedinginan terdiri dari dingin + k-/-an

Analisis proses unsure menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun, bentuk kedinginan adalah hasil dari proses konfiksasi ke-/-an

2.4 MANFAAT LINGUISTIK.

Setiap ilmu betapapun teoritisnya tentu mempunyai manfaat praktis bagi kehidupan manusia. Begitu juga dengan linguistik

Bagi linguis sendiri pengetahuan yang luas mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya. Bagi peneliti, kritikus dan peminat sastra linguistik dan membantunya dalam memahami karya sastra dengan lebih baik.

Bagi guru terutama guru bahasa, pengetahuan linguistik sangat penting mulai dari subdisiplin sampai dengan pengetahuan mengenai hubungan bahasa dengan kemasyarakatan dan kebudayaan .

Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan. Seorang penerjemah bahasa inggris – indonesia harus memilih terjemahan, misalnya my brother itu menjadi “kakak saya”,”adik saya”,atau cukup “saudara saya”.

Bagi penyusun kamus atau leksikograf menguasai semua aspek linguistik mutlak diperlukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya untuk menyelesaikan tugasnya, memahami seluk beluk bentuk dan pembentukan kata, struktur frase, struktur kalimat.

 

Khairulia Lutfiyani;1402408332

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 3:34 pm

Nama : Khairulia Lutfiyani

NIM : 1402408332

BAB II

LINGUISTIK SEBAGAI BAHASA

1. Keilmiahan Linguistik

Pada dasarnya setiap ilmu termasuk juga ilmu linguistik, telah mengalami tiga tahap perkembangan sebagai berikut.

Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Dalam tahap ini, pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan di­ lakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan, prosedur-prosedur tertentu.

Tahap kedua, adalah observasi dan klasifikasi, Pada tahap ini para ahli dibidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

Tahap ketiga, adalah tahap adanya perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dalam disiplin itu dirumuskan hipotesis atau hipotesis-hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Ketidakspekulatifan dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu ciri keilmiahan. Tindakan tidak spekulatif dalam kegiatan ilmiah berarti tindakan itu dalam menarik kesimpulan atau teori harus didasarkan pada data empiris, yakni data yang nyata ada, yang didapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi.

Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan fata empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifrkasikan. Lalu, titarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu. esimpulan ini biasanya disebut kesimpulan induktif. Kemudian kesimpulan ini ”diuji” lagi pada data empiris yang diperluas. Bila dengan data empiris baru ini kesimpulan itu tetap berlaku, maka kesimpulan itu berarti semakin kuat kedudukannya. Apabila data baru itu tidak cocok dengan kesimpulan itu, maka berarti kesimputan itu menjadi goyah kedudukanya. Jadi, perlu diwaspadai dan direvisi.

Secara deduktif adalah kebalikannya Artinya, suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasar­kan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum yang lazim disebut premis mayor, yang dipakai untuk menarik kesimpulan deduktif itu.

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik sering juga disebut sebagai ilmu nomotetik.

Bahwa linguistik mendekati bahasa, yang menjadi objek kajiannya, bukan sebagai apa-apa, melainkan hanya sebagai bahasa. Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini, sejaian dengan ciri-ciri hakiki bahasa seperti yang akan diuraikan dan dapat dijabarkan dalam sejurriiah konsep sebagai berikut :

Pertama, karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya bagi linguistik bahasa lisan adalah yang primer sedangkan bahasa tulis hanya sekunder.

Kedua, karena bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada, bahasa lain.

Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik men­dekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya mempunyai jaring­an hubungan.

Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan, atau sebagai sistem itu, disebut pendekatan struktural. Lawannya, disebut pendekatan atomistis, yaitu yang melihat ”Bahasa sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, yang berdiri sendiri-sendiri.

Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Lalu, karena itu pula, linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronik dan secara diakronik. Secara sinkronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada masa waktu atau kurun waktu yang tertentu atau terbatas. Studi sinkronik ini bersifat deskriptif karena tinguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pada kurun wakiu yang terbatas itu. Secara diakronik, artinya, mempelajari bahasa dengan pelbagai aspeknya dan perkem­bangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu. Studi bahasa secara diakronik lazim juga disebut studi historis komparatif. Dengan memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang tidak statis, maka linguistik mempunyai pandangan bahwa apa yang telah dirumuskan oieh para ahli terdahulu tentang bahasa belum tentu berlaku untuk masa sekarang atau masa yang akan datang.

Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif dan tidak secara preskriptif.

1. Subdisiplin Linguistik

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin) atau cabang-cabang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah-masalah lain.

Demikian puia dengan linguistik. Mengingat bahwa objek lingu­istik yaitu bahasa merupakan fenomena yang tidak dapat dileoaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat, sedangkan kegiatan itu, sangat luas, maka subdisiplin atau cabang linguistik itu pun menjadi sangat banyak.

a. Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannyas dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro (dalam kepustakaan lain disebut mikrolinguistik dan makrolinguistik)

Liguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya. Sejalan dengan adanya subsistem bahasa, maka dalam linguistik mikro ada subdisiplin linguistik fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Fonologi menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa cara terjadinya, dan fungsinya dalam sistem kebahasaan secara keseluruhan. Morfologi menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya. Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain di atas kata hubungan satu dengan lainnya, serta cara penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran

Semantik menye­lidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal gramatikal maupun kontekstual. Sedangkan leksikologi menyelidiki leksikon atau kosa kata suatu bahasa dari berbagai aspeknya.

Sedangkan linigustik makro, yang menyelidiki bahasa dalam kaitan­nya dengan faktor-faktor di luar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar-bahasanya itu daripada struktur internal bahasa.

Dalam berbagai buku teks biasanya kita dapati subdisiplin seperti sosiolinguistik, psikolinguistik, antro­polinguistik, etnolinguistik, stilistika, filologi, dialektologi, fitsafat ba­hasa, dan neurolonguistik. Semua subdisiplin itu bisa bersifat teoretis maupun bersifaf terapan.

Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Sosiolinguistik ini merupakan ilmu interdisipliner antara sosiologi dan linguistik.

Antropolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasadengan budaya dan pranata budaya manusia. Stilistika adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra.

Filologi adalah subdisiplin linguistik yang, mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat daiam bahan-bahan tertulis.

Filsafat bahasa merupakan subdisiplin linguistik yang mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Dalam filsafat bahasa ini terlibat ilmu linguistik dan ilmu filsafat.

Dialektologi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

b. Berdasarkan tujuan, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori atauhkah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakanadanya linguistik teoretis dan linguistik terapan.

Linguistik teoretis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu, Jadi, kegiat­annya hanya untuk kepentingan teori belaka. Berbeda dengan linguistik teoretis, maka linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor­-faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat.

2. Analisis Linguistik

a. Struktur, Sistem dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dalam bukunya Course de Linguistique Generale (terbit pertama kali 1916, terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit 1988) membe­dakan adanya dua jenis hubungan arau relasi yang terdapat antara satuan­-satuan bahasa yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiatif. Yang dimaksud dengan relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkret tertentu; sedangkan relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat

Firth seorang linguis Inggris, menyebut hubungan yang bersifat sintagmatik itu dengan istilah struktur, dan hubungan paradigmatik itu dengan istilah sistem. Menurut Verhaar (1978) istilah struktur dan sistem ini lebih tepat untuk digunakan. Mengapa? Karena istilah tersebut dapat digunakan atau diterapkan pada semua tataran bahasa, yaitu tataran fonetik, fonologi, morfologi sintaksis juga pada tataran leksikon.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear. Hubungan antara bagian­bagian kalimat tertentu dengan kalimat lainnya kita sebut sistem.

Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis menurut susunan alofonis, menurut susunan morfemis, dan menurut susunan sintaksis.

Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi, yang merupakan istilah utama dalam analisis bahasa menurut model strukturalis Leonard Bloomfield (tokoh linguis Amerika de­ngan bukunya Language, terbit 1933), adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu. konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.

b. Analis Bawahan Langsung

Analisis bawahan langsung, sering disebut juga analisis unsur langsung, atau analisis bawahan terdekat (Inggrisnya Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur­-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa. Entah satuan kata, satuan frase satuan klausa maupan satuan kalimat.

3. Manfaat Linguistik

Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karva-karya sastra dengan lebih baik sebab bahasa yang menjadi objek penelitian linguistik itu merupakan wadah pelahiran karya sastra.

Bagi guru terutama guru bahasa, pengetahuan linguistik sangat penting, mulai dari subdisiplin fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi, sampai dengan pengetahuan mengenai hubungan bahasa dengan kemasyarakatan dan kebudayaan.

Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik saja, tetapi juga yang berkenaan dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik.

Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperlukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya.

Pe ngetahuan linguistik juga memberi manfaat bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks. Pengetahuan linguistik akan memberi tuntunan bagi penyusun buku teks dalam menyusun kalimat yang tepat, memilih kosa kata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku tersebut.

Adakah manfaat linguistik bagi para negarawan atau politikus? Ya tentu saja ada. Pertama, sebagai negarawan atau politikus yang harus memperjuangkan ideologi dan konsep-konsep kenegaraan atau pemerintahan, secara lisan dia harus menguasai bahasa dengan baik. Kedua, kalau politikus atau negarawan itu menguasai masalah linguisiik dan sosiolinguistik, khususnya, dalam kaitannya dengan kemasyara­katan, maka tentu dia akan dapat meredam dan menyelesaikan gejolak sosial yang terjadi dalam masyarakat akibat dari perbedaan dan perten­tangan bahasa. Di beberapa negara yang multilingual, seperti India dan Belgia, pemah terjadi bentrokan fisik akibat masalah pertentangan bahasa. Sayang sekali, kalau hanya masalah bahasa, orang harus bentrok secara fisik.

 

Erma Yunita_1402408314_BAB 2 Oktober 18, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 7:15 pm

Nama : Erma Yunita

NIM : 1402408314

BAB 2

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik: ilmu yang mengambil bahasa sebagai obyek kajiannya.

Linguistik (Martinet, 1987 : 19): telaah ilmiah mengenai bahasa manusia.

2. 1. KEILMIAHAN LINGUISTIK

Tahap-tahap perkembangan dalam disiplin ilmu:

· Pertama :) tahap spekulasi pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa prosedur-prosedur tertentu. Padahal pandangan atau penglihatan kita seringkali tidak sesuai dengan kenyataan/kebenaran faktual. Dalam studi bahasa, dulu orang mengira bahwa semua bahasa di dunia diturunkan dari bahasa Ibrani, maka orang juga mengira Adam dan Hawa memakai bahasa Ibrani di Taman Firdaus. Bahkan sampai akhir abad-17 seorang filosof Swedia masih menyatakan bahwa di Surga Tuhan berbicara dengan Swedia, Adam berbahasa Denmark, ular berbahasa Perancis. Semua itu hanyalah spekulasi yang pada zaman sekarang sukar diterima.

· Kedua :) Tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli dibidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Cara ini belum dikatakan ilmiah karena belum sampai tahap penarikan suatu teori. Cara kerja tahap kedua ini masih diperlukan bagi kepentingan dokumentasi kebahasaan di negeri ini sebab masih banyak sekali bahasa di Nusantara ini yang belum terdokumentasikan.

· Ketiga :) Perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dirumuskan hipotesis-hipotesis yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Dewasa ini disiplin linguistik telah mengalami ketiga tahap diatas, sehingga disiplin linguistik sekarang sudah bisa dikatakan kegiatan ilmiah. Karena tindakan tidak spekulatif dalam penarikan kesimpulan merupakan didasarkan pada data empiris/data yang nyata ada, yang didapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi. Kesimpulan yang dibuat pada kegiatan ilmiah hanya berlaku selama belum ditemukannya data baru yang dapat membatalkan kesimpulan itu.

Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya dan tidak boleh dikotori oleh pengetahuan/keyakinan si peneliti. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu, ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu. Kesimpulan ini biasanya disebut kesimpulan induktif. Kemudian kesimpulan ini diuji lagi pada data empiris yang diperluas. Bila dengan data empiris baru ini kesimpulan itu tetap berlaku, maka kesimpulan itu berarti semakin kuat kedudukannya. Apabila data baru itu tidak cocok dengan kesimpulan itu, maka berarti kesimpulan itu menjadi goyah kedudukannya. Jadi, perlu diwaspadai dan direvisi.

Dalam ilmu logika selain adanya penalaran secara induktif ada juga penalaran deduktif. Induktif mula-mula dikumpulkan data-data khusus, lalu ditarik kesimpulan umum. Deduktif kebalikannya, artinya kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif sangat bergantung pada kebenaran kesimpulan umum, yang dipakai untuk menarik kesimpulan deduktif.

Sebagai ilmu empiris, linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu linguistik sering disebut nomotetik. Linguistik tidak pernah berhenti pada satu titik kesimpulan, tetapi akan terus menyempurnakan kesimpulan tersebut berdasarkan data empiris selanjutnya.

Pendekatan bahasa sebagai bahasa, dijabarkan dalam sejumlah konsep:

· Pertama; Bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya bagi linguistik, bahasa lisan adalah primer, sedangkan bahasa tulis adalah sekunder.

· Kedua; Karena bahasa bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.

· Ketiga; Karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur-unsur yang satu dengan yang lainnya mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan disebut pendekatan struktural. Lawannya disebut pendekatan otomatis, yaitu yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, yang berdiri sendiri-sendiri.

· Keempat; Karena bahasa dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Lalu karena itu pula linguistik mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik: mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada kurun waktu tertentu. Studi sinkronik bersifat deskriptif karena linguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya dalam kurun waktu terbatas. Secara diakronik, artinya mempelajari bahasa dengan berbagai aspek dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu. Secara diakronik sering juga disebut studi histori komparatif. Karena bahasa bersifat dinamis, linguistik berpandangan bahwa apa yang telah dirumuskan para ahli terdahulu tentang bahasa belum tentu berlaku untuk masa sekarang atau yang akan datang.

· Kelima; Karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskripstif dan tidak secara prespektif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut si peneliti seharusnya diungkapkan.

2. 2. SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Mengingat bahwa objek linguistik, yaitu bahasa, merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat, sedangkan kegiatan itu sangat luas, maka cabang linguistik menjadi sangat banyak, seperti:

· Linguistik Umum

· Linguistik Deskriptif

· Linguistik Komparatif

· Linguistik Struktural

· Linguistik Antropologis, dsb.

Penamaan subdisiplin itu berdasarkan kriteria/dasar tertentu, misalnya berdasarkan obyek kajiannya (bahasa tertentu/pada umumnya), bahasa masa tertentu/sepanjang masa, struktur internal bahasa itu, tujuan pengkajiannya (keperluan teori/terapan), teori yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

2. 2. 1. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus.

Linguistik umum: linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Pernyataan-pernyataan teoritis yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya, bukan bahasa tertentu.

Linguistik khusus: berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti bahasa Inggris, Indonesia, Jawa. Kajian khusus ini bisa juga dilakukan terhadap satu rumpun/subrumpun bahasa, ex: rumpun bahasa Austronesia, subrumpun Indo-Grmn.

2. 2. 2. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan diakronik.

Linguistik sinkronik/deskriptif: mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. ex: mengkaji bahasa pada tahun 20-an, bahasa Jawa dewasa ini. Studi linguistik sinkronik berupaya mendeskripsikan bahasa secara apa adanya pada masa tertentu.

Linguistik diakronik: berupaya mengkaji bahasa pada masa tidak terbatas, bisa sejak awal kelahiran, perkembangan, hingga punahnya bahasa itu. Kajian ini biasanya bersifat historis dan komparatif. Tujuan diakronik adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa itu beserta dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya.

2. 2. 3. Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa/bahasa itu hubungannya dengan faktor-faktor diluar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro (Mikrolinguistik dan makrolinguistik).

Linguistik mikro: mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya. Subdisiplin linguistik mikro:

a. Linguistik Fonologi: menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa, cara terjadinya.

b. Linguistik Morfologi: menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya serta cara pembentukan.

c. Linguistik Sintaksis: menyelidiki satuan kata-kata dan satuan-satuan lain diatas kata, hubungan satu dengan yang lainnya, serta cara penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran.

d. Linguistik Semantik: menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun kontekstual.

e. Linguistik Leksikologi: menyelidiki liksikon/kosakata suatu bahasa dari berbagai aspek.

f. Linguistik Morfosintaksis: gabungan Morfologi dan Sintaksis.

g. Linguistik Leksikosemantik: gabungan Leksikologi dan Sematik.

Linguistik Makro: menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor diluar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar bahasanya daripada struktur internal bahasa.

Subdisiplin Linguistik Makro:

a. Sosiolinguistik: mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat.

· Tempat pemakaian bahasa

· Tata tingkat bahasa

· Akibat adanya kontak dua bahasa atau lebih

· Waktu pemakaian ragam bahasa

b. Psikolinguistik: mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia, termasuk bagaimana kemampuan berbahasa itu dapat diperoleh.

c. Antropolinguistik: mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.

d. Stilistika: mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra.

e. Filologi: mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis (ex: naskah kuno).

f. Filsafat bahasa: mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik.

g. Dialektologi: mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

2. 2. 4. Penyelidikan linguistik berdasarkan tujuannya.

Linguistik teoretis: mengadakan penyelidikan terhadap bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya. Kegiatannya hanya untuk kepentingan teori belaka.

Linguistik terapan: mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor diluar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat. Kegiatannya lebih banyak untuk keperluan terapan. Misalnya penyelidikan linguistik untuk kepentingan pengajaran bahasa, penyusunan buku ajar, penerjemahan buku, penyusunan kamus, penelitian sejarah, penyelesaian masalah politik, dll.

2. 2. 5. Berdasarkan teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional dan linguistik sistemik.

Diluar bidang yang sudah dibicarakan di atas masih ada bidang lain, yaitu yang menggeluti sejarah linguistik. Bidang sejarah linguistik ini berusaha menyelidiki perkembangan seluk beluk ilmu linguistik itu sendiri dari masa ke masa, serta mempelajari pengaruh ilmu-ilmu lain, dan pengaruh pelbagai pranata masyarakat (kepercayaan, adat istiadat, pendidikan, dsb) terhadap linguistik sepanjang masa.

Dari serangkaian cabang linguistik tersebut di atas, yang dianggap inti dari ilmu linguistik itu hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa, atau cabang-cabang yang termasuk kelompok linguistik mikro di atas. Cabang atau bidang manapun yang kemudian akan kita geluti secara intensif dan mendalam, mau tidak mau harus mulai dengan cabang-cabang yang termasuk linguistik mikro itu.

2. 3. ANALISIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

2. 3. 1. Struktur, Sistem, dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dalam bukunya Course de Linguitique Generale (terbit pertama kali 1916, terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit 1988) membedakan adanya dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa, yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiatif. Yang dimaksud dengan relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkret tertentu; sedangkan relasi asosiatif adalah hubugan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat. Hubungan asosiatif ini tampak bila suatu kalimat dibandingkan dengan kalimat lain.

Hubungan-hubungan yang terjadi di antara satuan-satuan bahasa bersifat sintagmatis. Jadi, hubungan sintagmatis ini bersifat linear, atau horizontal antara satuan yang satu dengan yang lain yang berada di kiri dan kanannya.

Louis Hjelmslev, seorang linguis Denmark, mengambil alih konsep de Saussure itu, tetapi dengan sedikit perubahan. Beliau mengganti istilah asosiatif dengan istilah paradigmatik, serta memberinya pengertian yang lebih luas. Hubungan paradigmatik tidak hanya berlaku pada tataran morfologi saja, tetapi juga berlaku untuk semua tataran bahasa.

Firth, seorang linguis Inggris menyebut hubungan yang bersifat sintagmatik itu dengan istilah struktur, dan hubungan paradigmatik itu dengan istilah sistem. Menurut Verhaar (1978) istilah struktur dan sistem ini lebih tepat untuk digunakan. Karena istilah tersebut dapat digunakan atau diterapkan pada semua tataran bahasa, yaitu tataran fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, juga pada tataran leksikon.

Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linear.

Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis, menurut susunan alofonis, menurut susunan morfemis, dan menurut susunan sintaksis.

Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi, yang merupakan istilah utama dalam analisis bahasa menurut model strukturalis Leonard Bloomfield (tokoh linguis Amerika dengan bukunya Language, terbit 1933), adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.

Dengan keterangan di atas dapatlah dikatakan akan adanya substitusi fonemis, substitusi morfemis, dan substitusi sintaksis. Substitusi fonemis menyangkut penggantian fonem dengan fonem lain.

2. 3. 2. Analisis Bawahan Langsung

Analisis bawahan langsung sering disebut juga analisis unsur langsung, atau analisis bawahan terdekat (Inggrisnya Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan frase, satuan klausa, maupun satuan kalimat. Setiap satuan bahasa secara apriori diasumsikan terdiri dari dua buah konstituen yang langsung membangun satuan itu. Misalnya, satuan bahasa yang berupa kata dimakan. Unsur langsungnya adalah di dan makan.

di

makan

Tetapi untuk satuan yang lebih besar, yang secara kuantitatif terdiri dari beberapa unsur, mulai timbul masalah. Misalnya bentuk dimakani.

di

makan

i

di

makan

i

Jadi sufiks – i dilekatkan lebih dahulu daripada prefiks di –. Sedangkan yang kedua bersandar pada teori distribusi menurut urutan linear.

guru

baru

datang

guru

baru

datang

Meskipun teknik analisis bahawan langsung ini banyak kelemahannya, tetapi analisis ini cukup memberi manfaat dalam memahami satuan-satuan bahasa, bermanfaat dalam menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada konteks wacananya dapat dipahami dengan analisis tersebut.

2. 3. 3. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Satuan-satuan bahasa dapat pula dianalisis menurut teknik analisis rangkaian unsur dan analisis proses unsur. Analisis rangkaian unsur (Inggrisnya: item-and-arrangement) mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain. Misalnya, satuan tertimbun terdiri dari ter – + timbun, satuan kedinginan terdiri dari dingin + ke –/– an, dan rumah-rumah terdiri dari rumah + rumah.

Berbeda dengan analisis rangkaian unsur, maka analisis proses unsur (bahasa Inggrisnya: item-and-process) menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi, bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter – dengan dasar timbun, bentuk kedinginan adalah hasil dari proses konfiksasi ke –/– an dengan dasar dingin, dan bentuk rumah-rumah adalah hasil dari reduplikasi terhadap dasar rumah.

Kalau bentuk membangun adalah hasil prefiksasi me – dengan bentuk dasar bangun, maka secara semantis pembangunan adalah hasil proses konfiksasi pe –/– an dengan dasar membangun.

Bentuk pengembangan diturunkan dari verba mengembangkan karena bermakna “hal mengembangkan”, sedangkan bentuk perkembangan diturunkan dari verba berkembang atau memperkembangkan karena bermakna “hal berkembang” atau “hal memperkembangkan”.

2. 4. MANFAAT LINGUISTIK

Seperti sudah disinggung dimuka bahwa linguistik akan memberi manfaat langsung pada mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa, seperti linguis itu sendiri, guru bahasa, penerjemah, penyusun buku pelajaran, penyusun kamus, petugas penerangan, para jurnalis, politikus, diplomat, dan sebagainya.

Bagaimana mungkin seorang guru bahasa dapat melatih keterampilan berbahasa kalau dia tidak fonologi; bagaimana mungkin dia dapat melatih keterampilan menulis (mengarang) kalau tidak menguasai ejaan, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Selain itu, sebagai guru bahasa dia bukan hanya harus melatih keterampilan berbahasa, tetapi juga harus menerangkan kaidah-kaidah bahasa dengan benar.

Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik linguistik, tetapi juga yang berkenaan dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik. Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperlukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugasnya. Untuk bisa menyusun kamus dia harus mulai dengan menentukan fonem-fonem bahasa yang akan dikamuskannya. Tanpa pengetahuan semua aspek linguistik kiranya tidak mungkin sebuah kamus dapat disusun.

Adakah manfaat linguistik bagi para negarawan atau politikus? Ya tentu saja ada. Pertama, sebagai negarawan atau politikus yang harus memperjuangkan ideologi dan konsep-konsep kenegaraan atau pemerintahan, secara lisan dia harus menguasai bahasa dengan baik. Kedua, kalau politikus atau negarawan itu menguasai masalah linguistik dan sosiolinguistik, khususnya, dalam kaitannya dengan kemasyarakatan, maka tentu dia akan dapat meredam dan menyelesaikan gejolak sosial yang terjadi dalam masyarakat akibat dari perbedaan dan pertentangan bahasa.

 

Ulfa Dewi R_1402408116_BAB 2

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 6:48 pm

BAB 2

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Atau lebih tepat seperti dikatakan Martinet (1987 : 19) telaah ilmiah tentang bahasa manusia.

1.1. Keilmiahan Linguistik

Sebelum membicarakan keilmiahan linguistik ada baiknya dibicarakan dulu tahap-tahap perkembangan yang pernah terjadi dalam setiap disiplin ilmu, agar kita bisa memahami dari suatu kegiatan yang disebut ilmiah.

Tahap Pertama, yakni tahap spekulasi. Ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.

Tahap Kedua, tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.

Tahap ketiga, tahap adanya perumusan teori. Setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan, lalu dirumuskan hipotesis yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Disiplin linguistik dewasa ini sudah mengalami ketiga tahap di atas. Artinya disiplin linguistik itu sekarang ini sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah, bisa dikatakan tidak spekulatif dalam penarikan kesimpulan merupakan salah satu ciri keilmiahan, dan penarikan secara tidak spekulatif dalam kegiatan ini harus didasarkan pada data empiris, yakni data yang nyata, dan dapat diobservasikan.

Linguistik sangat mengutamakan data empiris dalam melaksankan penelitiannya, sebabnya bidang semantik tidak atau kurang mendapat perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna yang menjadi objek semantik tidak dapat diamati secara empiris.

Dalam ilmu logika secara induktif ada juga penalaran secara deduktif. Secara induktif, mula-mula dikumpulkan data-data khusus lalu dari data-data khusus ditarik kesimpulan umum. Secara deduktif, suatu kesimpulan mengenai data-data khusus namun kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum.

Ciri-ciri hakiki bahasa :

1. Karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi, artinya bagi linguistik bahasa lisan adalah yang primer, sedangkan bahasa tulisan hanya sekunder. Dalam studi bahasa secara tradisional, yang tidak mendekati bahasa seperti linguistik moderen, biasa kita dapati pernyataan-pernyataan seperti “kalimat adalah susunan kata-kata yang dimulai dengan huruf besar dan diakhiri dengan titik”.

2. Karena bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain. Pendekatan terhadap bahasa yang dilakukan oleh para peneliti dahulu tidak melihat bahwa setiap bahasa memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing.

3. Karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya. Linguistik dapat dipelajari bahasa secara sinkronik dan secara diakronik. Secara sinkronik artinya mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada masa dan kurun waktu yang tertentu atau terbatas, memiliki sifat deskriptif karena linguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pada kurun waktu yang terbatas.

Secara diakronik artinya mempelajari bahasa dengan pelbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu sepanjang kehidupan bahasa itu sendiri.

4. Karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif dan tidak secara preskriptif. Artinya yang penting dalam ling adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang dan bukan apa yang menurut si peneliti seharusnya diungkapkan.

1.2. Subdisiplin Linguistik

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan atau cabang-cabang yang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin itu dengan masalah-masalah lain.

Demikian pula pada linguistik mengingat bahwa obyek linguistik adalah bahasa, merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat.

Dalam berbagai buku teks linguistik mungkin akan kita dapati nama-nama subdisiplin linguistik seperti lingkungan umum, linguistik deskriptif, linguistik komparatif, dan sebagainya. Kita akan coba mengelompokkan nama-nama subdisiplin linguistik berdasarkan :

a. Objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu.

b. Obyek kajiannya adalah bahasa masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa.

c. Obyek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannya dengan berbagai faktor di luar bahasa.

d. Tujuan pengkajiannya apakah untuk keperluan teori belaka atau untuk tujuan terapan.

e. Teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

1.2.1. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus.

Ÿ Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum.

Ÿ Linguistik khusus adalah berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu/juga terhadap 1 rumpun atau sub rumpun bahasa.

1.2.2. Berdasarkan obyek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik.

Ÿ Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Maka studi linguistik sinkronik bisa disebut juga linguistik deskriptif, karena berupaya mendeskripsikan apa adanya pada suatu masa tertentu.

Ÿ Linguistik diakronik mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas, bersifat historis dan komparatif, oleh karena itu dikenal juga adanya linguistik historis komparatif. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa beserta dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya.

1.2.3. Berdasarkan obyek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro (dalam kepustakaan lain disebut mikrolinguistik dan makrolinguistik).

Morfologi menyelidiki struktur kata,bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya. Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan katanya di atas kata, hubungan satu dengan lainnya, serta penyusunan katanya sehingga menjadi satu ujaran.

Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Dibahas tentang tata cara pemakaian bahasa, berbagai akibat adanya kontak dua bahasa atau lebih, ragam serta pemakaian ragam bahasa itu.

Psikolinguistik subdisiplin linguistik yang mempelajari tentang hubungan bahasa dan perilaku, akal budi manusia.

Antropolinguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya.

Stilistika adalah mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra, ilmu interdisipliner antar linguistik dan ilmu susastra.

Filologi mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Filsafat bahasa subdisiplin linguistik mempelajari tentang kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik.

Dealektologi subdisiplin linguistik yang mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

1.2.4. Berdasarkan penyelidikannya linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoritis dan linguistik terapan.

Linguistik teori berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa / juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajian. Maka linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat.

1.2.5. Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional dan linguistik sistematik.

Di luar bidang atau cabang yang sudah dibicarakan di atas masih ada bidang lain, yaitu yang menggeluti sejarah linguistik. Bidang sejarah linguistik ini berusaha menyelidiki perkembangan seluk beluk ilmu linguistik itu sendiri dari masa ke masa serta mempelajari pengaruh ilmu-ilmu lain dan pengaruh pelbagai pranata masyarakat terhadap linguistik sepanjang masa.

1.3. Analisis Linguistik

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tatanan tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis dan semantik.

1.3.1. Struktur, Sistem dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure (1875 – 1913) dalam bukunya “Course de Linguistique Generale” membedakan adanya 2 jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa.

1.3.2. Analisis Bawahan Langsung

Analisis bawahan langsung sering disebut juga analisis unsur langsung adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur/konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa. Meskipun memiliki banyak kelemahan tapi analisis ini cukup memberi manfaat dalam memahami suatu satuan-satuan bahasa, dan menghindai keambiguan.

1.3.3. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Ÿ Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain.

Ÿ Analisis proses unsur menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan.

1.4. Manfaat Linguistik

Seperti yang sudah disinggung linguistik akan memberikan manfaat langsung pada mereka yang berkecimpung di dunia yang berhubungan dengan bahasa. Bagi linguis sendiri pengetahuan yang luas mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam memahami karya-karya sasta dengan lebih baik. objek penelitian linguistik itu merupakan wadah pelahiran karya sastra.

 

NARALITA KUSUMA NOVIYANI;1402408155 Oktober 17, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 3:14 pm

NAMA : NARALITA KUSUMA NOVIYANI

NIM :1402408155

KELAS : C

BAB 2. LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya, Martinet (1987:19)

2.1 KEILMIAHAN LINGUISTIK

Untuk mencapai keilmiahan, setiap disiplin ilmu harus mengalami beberapa tahap perkembangan terlebih dahulu dan pada dasarnya tiap ilmu telah melaluinya termasuk ilmu linguistik. tahapannya yaitu:

  • tahap spekulasi yaitu tahap pembicaraan mengenai sesuatu & pengambilan kesimpulan spekulatif (tanpa didukung oleh bukti empiris & dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu)

  • tahap observasi & klasifikasi yaitu tahap mengumpulkan & menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori/kesimpulan apapun.

  • tahap adanya perumusan teori yaitu tahap pemahaman masalah-masalah dasar dan pengajuan pertanyaan mengenai masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan kemudian dirumuskan hipotesis & pengujian hipotesis itu.

Kesimpulan yang dibuat berdasar data empiris (data yang nyata ada, yang didapat dari alam yang wujudnya dapat diobservasi) yang pada kegiataan ilmiah akan berlaku selama belum ditemukannya data baru yang dapat mematahkan teori tersebut.

Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitianya dan tidak dicampuri pengetahuan/keyakinan si peneliti.

Kegiatan empiris bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. kegiatan dimulai dengan mengumpulkan data empiris lalu dianalisa & diklasifikasikan dan ditarik kesimpulan umum (induktif) lalu diuji lagi dengan data empiris yang diperluas, bila kesimpulan tetap berlaku maka kedudukannya semakin kuat.

Dalam ilmu logika, ada penalaran secara induktif dan deduktif. Secara induktif, dari data khusus (premis minor) ditarik kesimpulan umum (premis mayor) sedangkan deduktif adalah kebalikannya.

Ilmu linguistik sering disebut ilmu nonemik karena sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Serta linguistik tidak pernah berhenti pada satu kesimpulan melainkan akan terus menyempurnakannya.

Linguistik mendekati bahasa, sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa yaitu:

  1. bunyi ujaran artinya bahasa lisan adalah bahasa primer sedangkan tulis hanya bahasa sekunder.

  2. bersifat unik artinya tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain karena tiap bahasa memiliki ciri khas masing-masing.

  3. suatu sistem artinya mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur yang terlepas melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan yang lainnya mempunyai jaringan hubungan (pendekatan struktural)

  4. berubah dari waktu ke waktu artinya linguistik mempelajari bahasa secara sinkronik ( dari berbagai aspeknya pada masa waktu atau kurun waktu yang tertentu/terbatas) dan secara diakronik (dengan pelbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu sering disebut sebagai historis komparatif)

  5. bersifat empiris artinya mendekati bahasa secara deskritif dan tidak preskiptif yaitu yang penting adalah apa yang sebenarnya diungkapkan seseorang (sebagai data empiris) dan bukan yang menurut ungkapan peneliti.

2.2.SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Bahasa sebagi objek kajian linguistik adalah fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan bermasyarakat yang sangat luas sehingga cabangnya/subdisiplinnya pun menjadi sangat banyak.

Penamaan subdisiplin berdasarkan kriteria/ dasar tertentu yaitu:

2.2.1 berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya (lingistik umum) atau bahasa tertentu (linguistik khusus)

2.2.2. berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu (linguistik sinkronik/deskritif) atau bahasa pada sepanjang masa (linguistik diakronik/historis komparatif)

2.2.3 berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa (linguistik mikro) atau bahasa itu dalam hubungan dengan faktor di luar bahasa (linguistik makro)

Subdisplin linguistik mikro yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantik & leksikologi sedangkan subdisiplin linguistik makro yaitu sosiolinguistik, psikolinguistik, antriopolinguistik, etnolinguistik, stilistka, filologi, dialektologi, filsafat bahasa dan neurolinguistik.

2.2.4 berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori (linguistik teroritis) atau untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (linguistik terapan)

2.2.5 bedasarkan aliran/ teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif, semantik, linguistik relasional dan linguistik sistemik.

2.3. ANALISIS LINGUISTIK

Dilakukan terhadap bahasa atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis dan semantik.

2.3.1 Struktur, Sistem dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure membedakan adanya dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan bahasa yaitu relasi sintagmatik dan relasui asosiatif.

Relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa didalam kalimat yang konkret tertentu sedang relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat.

Menurut Verhaar (1978) membagi menjadi struktur & sistem.

Struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konstituen kalimat secara linier sedangkan sistem adalah bagian-bagian kalimat tertentu dengan kalimat lainnya.

Menurut Leonard Bloomfield (1933) sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.

2.3.2 Analisis Bawahan Langsung

Sering disebut unsur bawahan langsung atau analisis bawahan terdekat (Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun satuan bahasa, entah satuan kata, frase, klausa atau kalimat.

Setiap satuan bahasa secara apriori diasumsikan terdiri dari dua buah konstituen yang langsung membangun satuan itu. walaupun analisis ini memiliki banyak kelemahan tapi ada manfaat dalam memahami satuan bahasa dan menghindari keambiguan.

2.3.3 Analisis Rangkaian Unsur & Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain sedangkan analisis proses unsur menggangap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan.

2.4 MANFAAT LINGUISTIK

Linguistik akan memberi manfaat langsung kepada mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa, seperti linguis itu sendiri, guru bahasa, penerjemah, penyusun buku pelajaran, penyusun kamus, petugas penerangan, para jurnalis, politikus, diplomat, dsb.

 

Melisa Andreani;1402408300

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 2:51 pm

Melisa Andreani

1402408300

BAB 2

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik ialah ilmu yang mempelajari bahasa sebagai objek kajiannya.

2.1 Keilmiahan Linguistik

Tahap perkembangan linguistic :

  1. spekulasi yaitu pembicaraan suatu hal dan penarikan kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif (tanpa didukung bukti-bukti)

  2. Observasi dan klasifikasi yaitu mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa tanpa memberi kesimpulan apapun.

  3. perumusan teori yaitu dimana dari data-data yang dikumpulkan lalu dirumuskan hipotesis dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhdap fakta-fakta yang ada.

Linguistik yang telah mangalami tiga tahap perkembangan ini sudah dapat dikatakan ilmiah.

    • Pendekatan bahasa sebagai bahasa dapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut :

  1. bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistic melihat bahasa sebagai bunyi.

  2. bahasa bersifat unik, maka linguistic tidak menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.

  3. bahasa adalah suatu system, maka linguistic memndang bahasa sebagaikumpulan unsure yang mana antara satu dan lainnya saling berkaitan.

  4. bahasa berubah dari waktu ke waktu.

  5. karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif.

2.2 Subdisiplin linguistik

Pengelompokan nama-nama subdisiplin linguistik berdasarkan :

  1. objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya/bahasa tertentu. Dapat dibedakan menjadi linguistic umum (mengkaji kaidah bahasa secara umum) dan linguistic khusus (mengkaji kaidah bahsa tertentu).

  2. objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu/sepanjang masa

    • linguistic sinkronik (mengkji bahasa pada masa terbatas, missal mengkaji bahasa Indonesia tahun 20-an)

    • linguistic diakronik (mengkaji bahasa pada masa tak terbatas, biasanya bersifat histories/ mengetahui sejarah structural bahasa itu serta segala bentuk perkembangannya dan perubahannya)

  3. objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu/kaitannya dengan factor luar bahasa

    • linguistic mikro (fonologi,morfologi,sintaksis,semantic dan leksikologi)

    • linguistic makro (sosiolinguistik,psikolinguistik,antropolinguistik,etnolinguistik,stilistika,filologi,dialektologi,filsafat bahasa dan neurolinguistik)

  4. tujuan pengkajiannya untuk teori/terapan

linguistic teoritis (penyelidikan hanya untuk kepentingan teori belaka), sedangkan linguistic terapan (penyelidikan untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah dimasyarakat seperti pengajaran bahasa,penyusunan buku ajar)

5. teori/aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya

2.2 Analisis Linguistik

Dilakukan terhadap bahasa yang lebih tepat disebut fonetik, fonemik, sintaksis, semantic.

2.2.1 Struktur, system dan distribusi

Bapak linguistic modern, Ferdinand de Saussure(1857-1913) dalam bukunya Course de Linguistique Generale membedakan dua relasi antara satuan bahasa, antara lain relasi sintamagnik (hubungan antara satuan bahasa dalam klimat konkret) dan relasi asosiatif (hubangan antar satuan bahasa yang tak nampak dalam kalimat).

2.2.2 Analisis bahasa langsung yaitu teknik dalam menganalisis unsur yang membangun suatu satuan bahasa, satuan kata, satuan frase, klausa bahkan kalimat.

2.2.3 Analisi rangkaian unsur dan analisis proses unsur

Analisis rangkaian unsur (setiap satuan bahasa dibentuk dari unsure-unsur lain) sedangkan analisis proses unsur (setiap satuan bahasa merupakan hasil dari suatu proses pembentukan).

2.3 Manfaat Linguistik

  • bagi linguis yaitu membantu dalam menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya.

  • Bagi peneliti,kritikus,peminat sastra yaitu membantu memahami karya-karya sastra

  • Bagi guru yaitu melatih ketrampilan berbahasa

  • Negarawan/politikus yaitu untuk memperjuangkan ideology dan menyelesaikan gejolak social.

 

Rochmat Zaenuri Noor;1402408317

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 9:15 am

Nama : Rochmat Zaenuri Noor

NIM : 1402408317

Rombel : 1

2. LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Atau lebih tepatnya telaah ilmiah mengenai bahasa manusia. Untuk memahami linguistik sebagai sebuah ilmu yang ilmiah akan dibahas pada bab ini.

2.1 KEILMIAHAN LINGUISTIK

Pada dasarnya setiap ilmu mengalami tiga tahap perkembangan antara lain sebagai berikut:

Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Pada tahap ini pengambilan kesimpulan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa prosedur-prosedur tertentu.

Tahap kedua, adalah tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengupulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apa pun.

Tahap ketiga, adalah tahap adanya perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan data empiris yang dikumpulkan. Kemudian dalam disiplin itu dirumuskan hipotesis-hipotesis, dan menyusun tes untuk menguji hipotesis-hipotesis terhadap fakta-fakta yang ada.

Disiplin linguistik dewasa ini sudah menggalami ketiga tahap di atas. Artinya disiplin ilmu linguistik sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah.

Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Itulah sebabnya, bidang simantik kurang mendapat perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna, yang menjadi objek simantik, tidak dapat diamati secara empiris; tidak seperti fonem dalam fonologi atau morfem dan kata dalam morfologi. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu, ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu. Kesimpulan ini disebut kesimpulan induktif. Secara deduktif adalah kebalikannya. Artinya suatu kesimpulan mengenai data khusus dilakukan berdasarkan kesimpulan umum yang telah ada. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum, yang lazim disebut premis mayor, yang dipakai untuk menarik kesimpulan deduktif.

Sebagai ilmu empiris linguistik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguuistik sering disebut sebagai ilmu nomotetik.

Kemudian sesuai dengan predikat keilmiahan yang disandangnya, linguistik tidak pernah berhenti pada satu titik kesimpulan; tetapi akan menyempurnakan kesimpulan tersebut berdasarkan data empiris selanjutnya.

Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini, sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa, dapat dijabarkan dalam sejumlah konsep sebagai berikut:

Pertama, karena bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya, bagi linguistik bahasa lisan adalah yang primer, sedangkan bahasa tulis hanya sekunder.

Kedua, karena bahasa itu bersifat unik, maka lingistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.

Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan, atau sebagai sistem itu, disebut pendekatan struktural. Lawannya, disebut pendekatan atomistis, yaitu yang melihat bahasa sendiri sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, yang berdiri sendiri-sendiri.

Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Karena itu pula, linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada kurun waktu yang tertentu atau terbatas. Secara diakronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu.

Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara diskriptif dan tidak secara preskriptif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut peneliti seharusnya diungkapkan.

2.2 SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Setiap disiplin ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin). Demikian pula dengan linguistik. Di sini kita akan mencoba mengelompokkan nama-nama subdisiplin linguistik itu berdasarkan :

2.2.1 Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus

Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Pertanyaan-pertanyaan teoretis yang dihasilkan akan menyangkut bahasa pada umumnya, bukan bahasa tertentu.

Sedangkan linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti bahasa inggris, bahasa jawa, atau bahasa Indonesia.

2.2.2 Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik

Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa terbatas. Misalnya mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan. Studi linguistik sinkronik ini biasa disebut juga linguistik deskriptif. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahaasa (atau bahasa-bahasa) pada masa yang tidak terbatas; bisa sejak awal kelahiran bahasa itu sampai zaman punahnya bahasa tersebut. Kajian linguistik diakronik ini biasanya bersifat historis dan komperatif.

2.2.3 Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro

Linguistik mikro mengarahkan pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau pada umumnya. Linguistik mikro mempunyai sudisiplin antara lain:

Fonologi menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa, cara terjadinya, dan fungsinya dalam sistem kebahasaan secara keseluruhan. Morfologi menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya. Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain diatas kata, hubungan satu dengan lainnya, serta cara penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran. Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun kontekstual. Sedangkan leksikologi menyelidiki leksikon atau kosa kata suatu bahasa dari berbagai aspeknya.

Linguistik makro menyelidiki bahasa dalam kaitan-kaitannya dengan faktor-faktor di luar bahasa, lebih banyak membahas faktor luar bahasanya itu daripada struktur internal bahasa. Dalam berbagai buku biasanya terdapat subdisiplin linguistik makro antara lain:

Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Psikolinguistik mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia, termasuk bagaimana kemampuan berbahasa itu dapat diperoleh. Antropolinguistik mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia. Stilistika mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bentuk karya sastra. Finologi mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Filsafat bahasa mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia, serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Dialektologi mempelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

2.2.4 Berdasrkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa di kenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, dan linguistik semantik.

Karena luasnya cabang atau bidang linguistik ini, maka jelas tidak akan bisa menguasai semua bidang linguistik itu. Tapi meskipun cabang atau bidang linguistik itu sangat luas, yang dianggap inti dari ilmu linguistik hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa, atau cabang-cabang yang yang termasuk linguistik mikro.

2.3 ANALISIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik. Semua tataran sistematika itu akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.

2.3.1 Struktur, Sistem, dan DistribusiMenurut F. De Saussure ada dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa, yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiatif. Relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkret tertentu; sedangkan relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa namun tidak tampak susunan suatu kalimat.

Hubungan yang terjadi di antara satuan-satuan bahasa itu, baik antara fonem yang satu dengan yang lain, maupun antara kata yang satu dengan yang lain, disebut bersifai sigmantis. Jadi hubungan sintagmantis ini bersifat linear, atau horison antara satuan yang satu dengan satuan yang lain yang berada di kiri dan kanannya.

Struktur dapat dibedakan menurut tataran sistematik bahasanya, yaitu menurut susunan fonetis, menurut susunan alofonis, menurut susunan morfemis, dan menurut susunan sintaksis. Mengenai semuanya akan dibahas pada bab-bab selanjutnya.

Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi, yang merupakan istilah utama dalam analisis bahasa menurut model strukturalis L. Bloomfield adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.

2.3.2 ANALISIS BAWAHAN LANGSUNG

Analisis bawahan langsung, sering disebut juga analisis unsur langsung atau analisis bawahan terdekat (Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan frase, satuan klausa, maupun satuan kalimat.

Teknik analisis bawahan langsung bermanfaat untuk menghindari keambiguan karena satuan-satuan bahasa yang terikat pada konteks wacananya dapat dipahami dengan analisis tersebut.

2.3.3 Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur (item and arrangement) mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unsur-unsur lain. Misalnya satuan tertimbun terdiri dari ter – + timbun. Jadi, dalam analisis rangkaian unsur ini setiap satuan bahasa “terdiri dari . . .”, bukan “dibentuk dari . . .” sebagai hasil dari suatu proses pembentukan.

Analisis proses unsur (item and process) menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi bentuk tertimbun adalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun.

2.4 MANFAAT LINGUISTIK

Lingustik akan memberikan manfaat langsung bagi mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa.

Bagi linguis sendiri pengetahuan yang luas mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam menyelesaikan tugasnya. Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra linguistik akan membantunya dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik.

Bagi guru, terutama guru bahasa, penetahuan linguistik sangat penting. Dengan menguasai linguistik, maka mereka akan dapat dengan lebih mudah dalam menyampaikan mata pelajarannya.

Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan dengan morfologi, sintaksis, dan semantik, tetapi juga berkenaan dengan sosiolinguistik dan kontrastif linguistik.

Bagi penyusun kamus atau leksikografer menguasai semua aspek linguistik mutlak diperliukan, sebab semua pengetahuan linguistik akan memberi manfaat dalam menyelesaikan tugas.

Pengetahuan linguistik juga memberi manfaat bagi penyusun buku pelajaran atau buku teks. Pengetahuan linguistik akan memberi tuntutan bagi penyusun buku teks dalam meyusun kalimat yang tepat, memilih kosa kata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca buku tersebut.

 

LANJAR PRATIWI;1402408035 Oktober 16, 2008

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 6:40 pm

DISUSUN OLEH :

NAMA : LANJAR PRATIWI

NIM/KELAS : 1402408035/1A

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Pada bab pertama sudah disebutkan bahwa linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.

2.1 KEILMIAHAN LINGUISTIK

Sebelum membicarakan keilmiahan linguistik ada baiknya dibicarakan dulu tahap-tahap perkembangan yang pernah terjadi dalam setiap disiplin ilmu. Pada dasarnya setiap ilmu, termasuk juga ilmu linguistik, telah mengalami tiga tahap perkembangan sebagai berikut.

  • Tahap pertama, yakni tahap spekulasi. Dalm tahap ini pembicaraan mengenai sesuatu dan cara mengambil kesimpulan dilakukan dengan cara spekulatif. Artinya, kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu. Misalnya, dalam bidang geografi dulu orang berpendapat bahwa bumi ini berbentuk datar seperti meja. Kalau `ditanya apa buktinya, atau bagaimana cara membuktikannya, tentu tidak dapat dijawab, atau kalaupun dijawab akan spekulatif pula.

  • Tahap kedua, adalah tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahap ini para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolong-golongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun.. Bahasa-bahasa di nusantara didaftarkan, ditelaah ciri-cirinya, lalu dikelompok-kelompokkan berdasarkan kesamaan-kesamaan ciri

  • Tahap ketiga, adalah tahap adanya perumusan teori. Pada tahap ini setiap disiplin ilmu berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan.

Linguistik sangat mementingkan data empiris dalam melaksanakan penelitiannya. Itulah sebanya,bidang semantik tidak atau kurang mendapat perhatian dalam linguistik strukturalis dulu karena makna, yang menjadi objek semantik, tidak dapat diamati secara empiris, tidak seperti fonem dalam fonologi atau morfem dan kata dalam morfologi. Kegiatan linguistik tidak boleh “dikotori” oleh pengetahuan si peneliti. Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengan mengumpulkan data empiris. Data empiris itu dianalisis dan diklasifikasikan. Lalu, ditarik suatu kesimpulan umum berdasarkan data empiris itu.

Kesimpulan ini biasanya disebut kesimpulan induktif. Tetapi kalau kemudian kata sangat dapat juga mewakili kata-kata seperti berhasil, pemalu dan mengecewakan, maka sebenarnya bisa ditarik dua kesimpulan yang berbeda. Pertama , kata-kata berhasil , pemalu, dan mengecewakan itu termasuk kelas ajektifa karena memenuhi kesimpulan umum yang telah ada sebelumnya. Kedua, kesimpulan umum yang trelah dibuat sebelumnya itu belum menyimpulkan hakikat ajektifa yang sebenarnya. Artinya, dapat tidaknya diawali dengan kata sangat itu bukan merupakan hakikat ajektifa yang sebenarnya. Mungkin saja ada hakikat ajektifa yang lebih hakiki.

Secara induktif, mula-mula dikumpulkan data-data khusus, lalu dari kata-kata khusus itu ditarik kesimpulan umum. Secara deduktif adalah kebalikannya. Namun, kebenaran kesimpulan deduktif ini sangat tergantung pada kebenaran kesimpulan umum, yang lazim disebut premis mayor.

Contoh: Premis Mayor : Semua mahasiswa luusan SMA

Premis Minor : Nita seorang mahasiswa

Kesimpulan deduktif : Nita adalah lulusan SMA

Jelas, kesimpulan deduktif “Nita adalah lulusan SMA” adalah tidak benar, meskipun cara penarikan kesimpulan benar dan sah. Mengapa? sebab dalam kenyataan tidak semua mahasiswa adalah lulusan SMA. Sebagai ilmu empiris lingustik berusaha mencari keteraturan atau kaidah-kaidah yang hakiki dari bahasa yang ditelitinya. Karena itu, linguistik sering juga disebut ilmu nomotentik. Ciri-ciri bahasa dijabarkan sebagai berikut:

  • Pertama, karena bahasa adalan bunyi ujaran ,maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi. Artinya bagi linguistik bahasa lisan adalah bahasa yang primer, sedangkan bahasa tulis adalah bahasa sekunder.

  • Kedua, karena bahasa itubersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa/dikenakan pada bahasa lain. Misalnya, dulu banyak ahli bahasa yang meneliti bahasa-bahasa Indonesia dengan menggunakan kerangka atau konsep yang berlaku dalam bahasa Latin, Yunani, Arab, sehingga kita kini mewarisi konsep-konsep yang tidak cocok untuuk di Indonesia, seperti konsep kata majemuk, konsep tekanan kata, dan konsep artikulus.

  • Ketiga, karena bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai unsur yang terlepas, melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan yang lain mempunyai jaringan hubungan. Pendekatan yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur yang saling berhubungan, atau sebagai sistem itu, disebut pendekatan struktural. Lawannya, disebut pendekatan atomistis, yaitu yang melihat bahasa sebagai kumpulan unsur-unsur yang terlepas, yang berdiri sendiri-sendiri.

  • Keempat, karena bahasa itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis. Linguistik dapat mempelajari bahasa secara sinkronik dan diakronik. Secara sinkronik artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya pada waktu atau kurun waktu yang tertentu atau terbatas. Studi sinkronik ini bersifat deskriptifkarena linguistik hanya mencoba memberikan keadaan bahasa itu menurut apa adanya pada kurun waktu yang terbatas itu. Secara diakronik, artinya, mempelajari bahasa dengan berbagai aspeknya dan perkembangannya dari waktu ke waktu, sepanjang kehidupan bahasa itu disebut studi historis komparatif.

  • Kelima, karena sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif dan tidak secara preskriptif. Artinya, yang penting dalam linguistik adalah apa yang sebenarnya diungkapkan oleh seseorang (sebagai data empiris) dan bukan apa yang menurut si peneliti seharusnya diungkapkan.

Contoh : – Yang benar adalah kata silakan, bukan silahkan.

  • Yang baku adalah bentuk kata mengubah, bukan merubah atau merobah.

2.2 SUBDISIPLAN LINGUISTIK

Setiap disiplan ilmu biasanya dibagi atas bidang-bidang bawahan (subdisiplin) atau cabang-cabang berkenaan dengan adanya hubungan disiplin dengan masalah-masalah lain. Misalnya ilmu kimia dibagi atas kimia organik dan kimia anorganik. Pembagian atau percabangan itu diadakan tentunya karena objek yang menjadi kajian disiplin ilmu itu sangat luas atau menjadi luas karena perkembangan dunia ilmu. Demikian pula dengan linguistik. Mengingat bahwa objek linguistik, yaitu bahasa, merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari segala kegiatan manusia bermasyarakat. Dalam buku ini kita akan mencoba mengelompokkan nama-nama subdisiplin linguistik itu berdasarkan :

  • Objek kajiannya adalah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu.

  • Objek kajiannya adalah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa.

  • Objek kajiannya adalah struktur internal bahasa itu atau bahasa itu dalam kaitannya dengan berbagai faktor di luar bahasa.

  • Tujuan pengkajiaanya apakah untuk keperluan teori belaka atau untuk tujuan terapan, dan

  • Teori atau aliran yang digunakan untuk menganalisis objeknya.

2.2.1 Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus

Linguistik umum adalah linguistick yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Sedangkan linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu, seperti bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa. Kajian umum dan khusus ini dapat dilakukan terhadap keseluruhan sistem bahasa atau juga hanya pada satu tataran dari sistem bahasa itu.

2.2.2 Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik

Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Misalnya, mengkaji bahasa Indonesia pada tahun dua puluhan, bahasa Jawa dewasa ini, atau juga bahasa Inggris pada zaman William Shakespare. Linguistik deskriptif, artinya mendeskripsikan bahasa secara apa adanya pada suatu masa tertentu. Linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa (atau bahasa-bahasa) pada masa yang tidak terbatas. Kajian linguistik diakronik ini biasanya bersifat historis dan komparatif. Tujuan linguistik diakronik ini terutama adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa itu beserta dengan segala bentuk perubhan dan perkembangannya. Pernyataan seperti “kata batu berasal dari kata watu”adalah pernyataan yang bersifat diakronik.

2.2.3 Berdasarkan objek kajiannya, apakah struktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro (Dalam kepustakaan lain disebut mikrolinguistik dan makrolinguistik)

Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal suatu bahasa pada umumnya. Morfologi dan sintaksis dalam peristilahan tata bahasa tradisional biasanya berada dalam satu bidang yaitu gramatika atau tata bahasa. Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun kontekstual. Studi linguistik mikro ini sesungguhnya merupakan studi dasar linguistik sebab yang dipelajari adalah struktur internal bahasa itu.

Sedangkan linguistik makro, yang menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan factor-faktor di luar bahasa. Semua subdisiplin itu bisa bersifat teoretis maupun bersifat terapan. Sosiolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Sosiolinguistik ini merupakan ilmu interdisipliner antara sosiologi dan linguistik. Psikolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia. Antropolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia.

Stilistika adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-bantuk karya sastra. Filologi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah satu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis. Bahan atau teks yang dikaji biasanya adalah naskah kuno atau naskah klasik. Filsafat bahasa merupakan subdisiplin linguistik yang mempelajari kodrat hakiki dan kedudukan bahasa sebagai kegatan manusia. Dialektologi adalah subdisiplin linguistik yang memepelajari batas-batas dialek dan bahasa dalam suatu wilayah tertentu.

2.2.4 Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapankan dalam kehidupan sehari-hari bisa dibedakan adanya linguistik teoretis dan linguistik terapan.

Linguistik teoretis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah -kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu. Berbeda dengan linguistik terhadap bahasa atau bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di masyarakat.

2.2.5 Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantik, linguistik relasional, dan linguistik sistemik.

Di luar bidang atau cabang yang sudah dibicarakan di atas masih ada di bidang lain, yaitu yang menggeluti sejarah linguistik. Dari uraian di atas kita lihat betapa luasnya bidang, cabang, atau subdisiplin linguistik itu. Ini terjadi karena objek linguistik itu, yaitu bahasa, memang mempunyai jangkauan hubungan yang sangat luas di dalam kehidupan manusia. Dulu sebelum ada kegiatan dengan komputer belum ada cabang linguistik yang disebut mekanolunguistik atau linguistik komputer. Meskipun cabang atau bidang linguistik itu sangat luas, yang dianggap inti dari ilmu linguistik itu hanyalah yang berkenaan dengan struktur internal bahasa, atau cabang-cabang yang termasuk kelompok linguistik mikro di atas.

2.3 ANALIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

2.3.1 Struktur, Sistem, dan Distribusi

Bapak linguistik modern, Ferdianand de Saussure (1857-1913) dalam bukunya Course de Linguistique Generale (terbit pertama kali 1916, terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit 1988) membedakan adanya dua jenis hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa, yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiatif. Yang dimaksud dengan relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat dalam kalimat yang konkret tertentu, sdangkan relasi asosiatif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat.

Ada 3 fungsi sintaksis, yaitu, subjek, predikat, dan objek, yang mempunyai hubungan yang tertentu pula. Hubungan-hubungan yang terjadi di antara satuan-satuan bahasa itu, baik antara fonem yang satu dengan yang lain, maupun antara kata yang satu dengan kata yang lain, disebut bersifat sintagmatis. Jadi, hubungan sintagmatis ini bersifat linear, atau horizontal antara satuan yang satu dengan yang lain. Louis Hjelmslev, seorang linguis Denmark, mengambil alih konsep de Saussure itu, tetapi dengan sedikit perubahan. Beliau mengganti istilah asosiatif dengan istilah paradigmatic, serta memberinya pebgertian luas.

Hubungan paradigmatik tidak hanya berlaku pada tataran morfologi saja, tetapi juga berlaku untuk semua tataran bahasa. Misalnya, kalua kalimat Dia mengikut ibunya kita bandingkan dengan kalimat Dia mengikat anjingnya, maka hubungan antara mengikut dan mengikat, dan hubungan antara ibunya dan anjingnya adalah bersifat paradigmatik. Firth, seorang linguis Inggris menyrebut hubungan yang bersifat sintagmatik itu dengan istilah struktur, dan hubungan paradigmatik itu dengan istilah system. Menurut Verhaar (1978) istilah struktur dan sistem ini lebih tepet untuk digunakan. Karena istilah tersebut dapat digunakan atau diterapakan pada semua tataran bahasa, yaitu tataran fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, juga pada tataran leksikon.

Struktur adalah susunan bagian-bagian kalimat atau kontituen kalimat secara linear. Hubungan antara bagian-bagian kalimat tertentu dengan kalimat lainnya kita sebut sistem. Jadi, fakta adanya bentuk kata kerja aktif dalam suatu bahasa menyangkut masalah dalam bahasa tersebut. Fakta bahwa objek selalu terletak dibelakang predikat dalam bahasa Indonesia adalah masalah struktur dalam bahasa Indonesia adalah masalah struktur dalam bahasa Indonesia. Sistem pada dasarnya menyangkut masalah distribusi. Distribusi, yang merupakan istilah utama dalam analisis bahasa menurut nodel strukturalis Leonard Bloomfield (tokoh Linguis Amerika dengan bukunya Language, terbit 1933), adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konstituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konstituen lainnya.

Subtitusi fonemis menyangkut penggantian fonem dengan fonem lain. Misalnya, dalam pasangan minimal dari Vs lari, kuda Vs kura, dan tambal Vs tambat. Distribusi morfemis menyangkut masalah penggantian sebuah morfem dengan morfem lain, misalnya, mengikut Vs diikut Vs terikut, daya juang Vs medan juang, dan tuna karya Vs tuna wisma. Distribusi sintaksis menyangkut masalah penggantian kata dengan kata, frase dengan frase, atau klausa dengan klausa lainnya.

2.3.2 ANALISIS BAWAHAN LANGSUNG

Analisi bawahan langsung, sering disebut juga analisis unsure langsung, atau analisis bawahan terdekat (Inggrisnya Immediate Constituent Analysis) adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konstituen-konstituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan frase, satuan klausa, maupun satuan kalimat. Misalnya, satuan bahasa yang berupa kata dimakan. Unsur langsungnya adalah di dan makan. Meskipun teknik analisis bawahan langsung ini banyak kelemahannya, tetapi analisis ini cukup memberi manfaat dalam memahami satuan-satuan bahasa.

2.3.3 Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Satuan-satuan bahasa dapat pula dianalisis menurut teknik analisis rangkaian unsure dan analisis proses unsur. Analisis rangkaian unsusr (Inggrisnya: Item-and-arrangement) mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau di tata dari unsusr-unsur lain. Misalnya, satuan tertimbun terdiri dari ter-+ timbun, satuan kedinginan terdiri dari dingin + ke-l-an. Berbeda dengan anallisis rangkaian unsure, maka analisis proses unsur (bahasa Inggrisnya: item-and-process) menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan. Jadi, bentuk tertimbun dadalah hasil dari proses prefiksasi ter- dengan dasar timbun, bentuk kedinginan adalah hasil dari proses konfiksasai kel-l-an dengan dasar dingin. Kalau bentuk membangun adalah hasil prefiksasi me- dengan bentuk dasar bangun.

2.4 MANFAAT LINGUISTIK

Seperti sudah disinggung di muka bahwa linguistik akan member manfaat langsung kepada mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan dengan bahasa, seperti linguis itu sendiri, guru bahasa, penerjemah, penyusun buku pelajaran, penyususn kamus, petugas penerangan, para jurnalis, politikus, diplomat, dan sebagainya. Bagi penerjemah, pengetahuan linguistik mutlak diperlukan bukan hanya yang berkenaan denagn morfologi, sintaksis, dan semantik saja, tetapi juga berkenaan denagn sosiolinguistik dan kontrastif linguistik. Bagi penyususn kamus atau leksikografer semua aspek linguistik mutlak diperlukan, untuk menyusun kamus dia harus mulai dengan menentukan fonem-fonem bahasa yang akan dikamuskannya.

 

Husnita Rahmani;1402408258

Filed under: BAB II — pgsdunnes2008 @ 6:23 pm

Nama : Husnita Rahmani

NIM : 1402408258

Rombel : 4

BAB 2

LINGUISTIK SEBAGAI ILMU

Linguistik adalah ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dalam ringkasan ini akan dibicarakan keilmiahan linguistik tersebut dengan segala persoalan yang berkaitan dengan label “ilmiah”. untuk bisa memahami cara kerja di dalam operasinya.

2.1. KEILMIAAHAN LINGUISTIK

Pada dasarnya setiap ilmu, termasuk juga ilmu linguistik, telah mengalami tiga tahap perkembamgan. Diantaranya

 Tahap pertama : spekulasi

Ini mengenai sesuatu dan cara mengambil keputusan dilakukan dengan sikap spekulatif. Artinya bahwa kesimpulan itu dibuat tanpa didukung oleh bukti-bukti empiris dan dilaksanakan tanpa menggunakan prosedur-prosedur tertentu.

 Tahap kedua : observasi dan klasifikasi

Para ahli di bidang bahasa baru mengumpulkan dan menggolongkan segala fakta bahasa dengan teliti tanpa memberi teori atau kesimpulan apapun. Pada saat ini cara kerja tahap kedua ini tampaknya masih diperlukan bagi kepentingan dokumentasi kebahasaan di negeri kita, sebab masih banyak sekali bahasa di Nusantara ini yang belum terdokumentasikan.

 Tahap ketiga : adanya perumusan materi

Kali ini sikap disiplin ilmu yang berusaha memahami masalah-masalah dasar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah itu berdasarkan data empiris yang dikumpulkan.

Dari ketiga tahap di atas dapat diartikan disiplin linguistik itu sekarang ini sudah bisa dikatakan merupakan kegiatan ilmiah. Jadi, kesimpulan yang dibuat pada kegiatan ilmiah hanya berlaku selama belum ditemukannya data baru yang dapat membatalkan kesimpulan itu.

Kegiatan empiris biasanya bekerja secara induktif dan deduktif dengan beruntun. Artinya, kegiatan itu dimulai dengaan mengumpulkan data empiris. Data empiris tersebut dianalisis dan diklasifikasikan. Dalam ilmu logika atau ilmu menalar selain adanya penalaran secara indulatif dan deduktif. Sebagai contoh di bawah ini bagaimana menarik kesimpulan deduktif dari premis mayor terhadap data khusus atau premis minor adalah :

Premis mayor : Semua warga Godong terkena sakit diare

Premis minor : Pak Ujang salah satu warga Godong

Kesimpulan deduktif : Pak Ujang terkena sakit diare

Mendekati bahasa dalam hal linguistik sejalan dengan ciri-ciri hakiki bahasa dapat dijabarkan diantaranya :

- Pertama : bahasa adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa sebagai bunyi

- Kedua : bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan kerangka suatu bahasa untuk dikenakan pada bahasa lain.

- Ketiga : bahasa adalah suatu sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur yang terlepas melainkan sebagai kumpulan unsur yang satu dengan lainnya mampunyai jaringan hubungan.

- Keempat : bahasa itu dapat beruna dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangaan sosial budaya masyarakat pemakainya, maka linguistik memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis.

- Kelima : sifat empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa secara deskriptif dan tidak secara preskriptif.

2.2. SUBDISIPLIN LINGUISTIK

Pembagian atau percabangan atas setiap disiplin ilmu ditentukan karena objek yang menjadi kajian disiplin ilmu itu sangat luas atau menjadi luas karena perkembangan dunia ilmu. Pengelompokan subdisiplin linguistik itu diantaranya :

2.2.1. Berdasarkan objek kajiannya apakah bahasa pada umumnya atau bahasa tertentu dapat dibedakan adanya linguistik umum dan linguistik khusus.

Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum. Sedangkan linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu.

2.2.2. Berdasarkan objek kajiannya, apakah bahasa pada masa tertentu atau bahasa pada sepanjang masa dapat dibedakan adanya linguistik sinkronik dan linguistik diakronik.

Linguistik sinkronik mengkaji bahasa pada masa yang terbatas. Sedangkan linguistik diakronik berupaya mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas.

2.2.3. Berdasarkan objek kajiannya, apakah stuktur internal bahasa atau bahasa itu dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro.

Linguistik makro mengarahkan kajiaannya pada stuktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya. Studi linguistik mikro ini sesungguhnya merupakan studi dasar. Sosio-linguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungan pemakaiannya di masyarakat. Psikolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia. Antropolinguistik adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari hubungan bahasa dengan budaya dan pranata budaya manusia. Stilistika adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan dalam bentuk-­bentuk karya sastra. Filologi adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis.

2.2.4. Berdasarkan tujuannya, apakah penyelidikan linguistik itu semata-mata untuk merumuskan teori ataukah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari biasa dibedakan adanya linguistik teoritis dan linguistik terapan.

Linguistik teoritis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa-bahasa, atau juga terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa hanya untuk menemukan kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu. Sedangkan linguistik terapan berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa atau bahasa untuk kepentingan memecahkan masalah-masalah yang terdapat dalam masyarakat.

2.2.5. Berdasarkan aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisional, linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik generatif semantif, linguistik relasional, dan linguistik sistemik.

Objek linguistik dapat dilihat begitu luasnya dalam bidang, cabang, atau subdisiplin linguistik itu sendiri. Karen luasnya cabang atau bidang linguistik ini, maka jelas tidak akan ada yang bisa menguasai semua cabang atau bidang linguistik itu.

2.3. ANALISIS LINGUISTIK

Analisis linguistik dilakukan terhadap bahasa, atau lebih tepat terhadap semua tataran tingkat bahasa, yaitu fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, dan semantik.

2.3.1. Struktur, Sistem, dan Distribusi

Dalam hubungan atau relasi yang terdapat antara satuan-satuan bahasa terdapat dua jenis hubungan, yaitu relasi sintagmatik dan relasi asosiasif. Yang dimaksud relasi sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa di dalam kalimat yang konkret tertentu, sedangkan relasi asosiasif adalah hubungan yang terdapat dalam bahasa, namun tidak tampak dalam susunan satuan kalimat. Struktur linguistik adalah susunan bagian-bagian kalimat atau konsituen kalimat secara linear. Sedangkan sistem pada dasamva menyangkuit masalah distiibusi. Disbtribusi itu sendiri dalam analisis bahasa adalah menyangkut masalah dapat tidaknya penggantian suatu konsituen tertentu dalam kalimat tertentu dengan konsituen lainnya.

2.3.2. Analisis Bawahan Langsung

Analisis bawahan langsung, adalah suatu teknik dalam menganalisis unsur-unsur atau konsituen-konsituen yang membangun suatu satuan bahasa, entah satuan kata, satuan frase, satuan klausa, maupun satuan kalimat.

2.3.3. Analisis Rangkaian Unsur dan Analisis Proses Unsur

Analisis rangkaian unsur mengajarkan bahwa setiap satuan bahasa dibentuk atau ditata dari unser-unser lain. Sedangkan analisis proses unser menganggap setiap satuan bahasa adalah merupakan hasil dari suatu proses pembentukan.

2.4. MANFAAT LINGUISTIK

Linguistik akan memberi manfaat langsung kepada mereka yang berkecimpung dalam kegiatan yang berhubungan bahasa. Antara lain :

- Bisa membantu dalam memahami karya-karya sastra, dengan lebih baik.

- Memberikan pengetahuan mengenai hubungan bahasa dengan kemasya-rakatan dan kebudayaan.

- Memberikan pengetahuan dalan pengertian-pengertian di dalam bidang tertentu memudahkan dalam menvelesaikan tugas bahasa apabila menguasai semua aspek linguistik.

- Memberikan tuntunan dalam menyusun kalimat yang tepat serta memilih kosakata.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.